Nada tunggu telepon di hari Sabtu sore membuat Fang makin gelisah di kamar kos. Meski pendingin ruangan sedang dimatikan, Fang merasa sekujur tubuhnya dingin. Sampai deringnya habis, panggilan itu tidak diangkat oleh orang di seberang sambungan. Berdecak pelan, Fang menelepon sekali lagi. Baru di dering kedua, ada suara yang menjawab,

"Halo?"

Demi Tuhan, Fang sangat merindukan suara berat itu.

"Ko Kaizo?" selorohnya, suaranya gemetar.

"Ada apa, Fang?" Suara Kaizo di seberang terdengar agak tergesa.

"Ko, aku …." Fang berhenti sebentar dan menarik napas. Matanya terasa begitu panas, kacamatanya sudah dilepas. "Aku baru tahu, patah hati itu sakit banget."

Air mata akhirnya mengalir perlahan di wajah sang dokter selagi saudaranya yang lebih tua di seberang sana terdiam.

"Fang, sori …." Kaizo bersuara setelah beberapa detik hening, "bentar lagi mau ada arisan RT di rumah. Kutelepon lagi nanti malam, ya. Aku aja yang telepon."

Fang mengerjap, setetes lagi telah jatuh.

"Fang?" Kaizo menunggu tanggapannya. Nada suaranya, yang tadinya seperti merasa terganggu, kini jadi khawatir. "Fang … kalau kamu mau sambat, sambat sama Tuhan dulu. Ada kebaktian sore ini, 'kan?"

Sebuah isakan menyedihkan lolos dari mulut Fang. "Ada, jam lima, Ko. Ya, sudah. Janji, nanti malam telepon aku, ya?"

Sesudah panggilan itu diakhiri dengan janji Kaizo, Fang tak kunjung beranjak dari kursinya, dari posisinya yang duduk meringkuk sambil memeluk lutut. Di dadanya seperti ada sesuatu yang berlubang dan mengalirkan darah, tapi dia tahu ini bukanlah acute hemorrhagic shock meski efek yang ditimbulkan sama (atau lebih) menyakitkan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Author's Note #1:

Di cerita ini, Fang dan Kaizo menganut agama Kristen dan mereka adalah keturunan Tionghoa-Jepang. Panggilan Kaizo oleh Fang bukan "Abang" melainkan "Ko" atau "Koko".

.

.

.

.

.

BoBoiBoy (c) Monsta

The Concealed Wound (c) Roux Marlet

No material profit is gained from this work of fiction.

Slight romance: Fang x Ying, Gempa x Ying

.

.

.

.

.

Bab Tiga: Tersakiti oleh Cinta

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sabtu, 8 Mei 2004 | 19.57 WIB

Dari: Koko Kaizo

Baru selesai beres-beres. Aku telepon lima menit lagi, ya.

.

.

Fang membaca pesan itu sambil menggosok matanya yang pedih. Di gereja tadi, dia sudah menangis sepuasnya. Jemaat yang lain mengira dia hanya begitu terharu saat nyanyian pujian, karena hal itu bukan barang baru di komunitas mereka.

Inilah pertama kalinya Fang jatuh cinta, pertama kalinya juga dia tersakiti oleh cinta. Telepon Kaizo datang persis lima menit berikutnya, sungguh presisi yang tetap patut dikagumi dari seorang calon ayah yang juga ketua RT di lingkungannya sekarang.

"Namanya Ying alias Yenny. Dia apoteker di tempat kerjaku …."

Pembukaan dari Fang mengawali curhatan panjang kepada abangnya di kota asal mereka, Semarang. Pulsa telepon interlokal masih mahal sekali, hanya sedikit lebih murah kalau Kaizo yang menelepon karena dia punya pesawat telepon rumah dan bukannya ponsel. Seperempat jam berlalu dengan Kaizo menyimak tanpa menyela.

"Kupikir kami bisa bersama karena banyak yang sama." Fang mengakhiri ceritanya dengan embusan napas panjang.

"Apa aja yang sama?" tanya Kaizo di seberang sambungan, akhirnya bersuara.

"Mmm, dia juga Chinese dan sama-sama tenaga kesehatan," gumam Fang, yang mulai merasa pusing karena kebanyakan menangis. Fang tahu, menghirup terlalu banyak oksigen karena terisak-isak bisa membuat sakit kepala, tapi dia tak bisa menahannya. Hanya abangnya seorang yang tahu sisi lemah sang dokter jaim yang satu ini. "Sama-sama berkacamata, tapi itu nggak penting sebetulnya."

"Apa lagi?" Kaizo bertanya.

Fang tertegun ditanya begitu. Benar juga, dia belum banyak tahu tentang Ying.

"Tentang keluarganya? Agamanya? Pandangan politiknya? Visi hidupnya?" desak Kaizo.

"Ko … jujur aja, aku mengenalnya baru-baru ini. Aku cuma tahu dia tinggal bersama neneknya dan nama daerah rumahnya …."

"Dan kamu jatuh cinta hanya dalam baru-baru ini?"

Fang melempar pandangannya ke langit-langit kamar. Pertanyaan Kaizo lama-lama jadi interogatif dan menyudutkannya. "Apa jatuh cinta harus ada definisinya?"

"Denger, Fang. Mungkin karena kamu belum pernah ngalamin jatuh cinta. Tapi, kalau kamu beneran cinta sama perempuan ini … perasaanmu nggak akan berubah meski tahu dia bersama orang lain. Doakan yang terbaik untuknya, juga mohon rahmat Tuhan untuk bisa menerima."

"Koko minta aku ikhlas aja, gitu?" Fang bersuara putus asa.

"Hmm, bukan gitu. Ibarat bunga yang cantik, kalau kamu sayang bunganya, apa akan kamu petik biar selalu ada di tanganmu? Atau, kamu biarkan bunganya hidup biar bisa terus kamu pandangi?"

Fang memutar bola mata. "Ko, kayaknya aku udah pernah denger kotbah pendeta yang semacam ini, deh."

Kaizo terkekeh kecil di seberang. "Gini, lho. Kamu tahu sendiri, aku dan Kira banyak banget perbedaannya. Dan, kami akhirnya bisa bersatu."

"Ah," gumam Fang, matanya mendarat pada sebuah kartu pos yang dikirimkan sang abang beberapa bulan lalu, di atas meja tulisnya. Kartu itu menampilkan pemandangan Pantai Kuta yang indah di Pulau Bali, tempat Kaizo dan istrinya, Kirana, menghabiskan bulan madu mereka. "Gimana kabarnya Mbak Kira?"

"Dia sehat," sahut Kaizo, dan Fang bisa merasakan abangnya itu tersenyum sembari menjawab. "Anak kami nanti kayaknya laki-laki."

"Wah, calon keponakan pertamaku." Fang ikut tersenyum sedikit.

"Fang. Intinya yang mau kubilang adalah: nggak selamanya yang banyak persamaannya itu bersatu, dan yang banyak perbedaannya nggak bisa bersatu."

Senyum Fang agak memudar. Ada setitik nada pahit dalam suara Kaizo barusan. Ayah mereka dahulu menentang hubungan Kaizo dengan Kirana yang seorang Jawa meski seagama, sedangkan ibunda lebih lunak sikapnya meski awalnya juga menentang. Ada alasannya Kaizo baru menikah di umur 39, karena restu dari orang tuanya sendiri sangat sulit didapatkan. Sampai sang ayah meninggal karena penyakit jantung, beliau tidak merestui Kaizo menikah dengan Kirana. Ibunda akhirnya mau merestui, baru tahun lalu. Tak buang waktu, mereka pun menikah dengan pemberkatan di gereja dan dua kali resepsi: yang pertama sesuai adat keluarga Kaizo, yang kedua adat keluarga Kirana. Hubungan sang ibu dengan menantunya juga membaik dan kini mereka tinggal satu rumah di Semarang. Kaizo tentu tak tega membiarkan ibunda tinggal sendirian sementara Fang tinggal di Solo.

"Koko dulu, gimana caranya bertahan?" tanya Fang.

"Maksudnya?"

"Bertahan … tetap sama Mbak Kira, meski Ayah menentang. Bertahan … meski tersakiti oleh cinta yang nggak dapat restu."

Kaizo terdiam sejenak. "I guess … that's what true love really means."

Ah, cinta sejati? Betapa frase dua kata itu membuat hati Fang bergetar. Apakah yang dirasakannya terhadap Ying adalah cinta sejati?

"Kalau kamu sendiri ragu-ragu, bawa dalam doa," ucap Kaizo lagi, seolah bisa membaca pikiran adiknya. "Tuhan pasti beri kamu yang terbaik di waktu yang terbaik."

Fang kembali tersenyum sembari mengamini dalam hati. "Makasih, Ko."

"Udah lega?"

"Udah."

"Syukurlah. Sana sikat gigi, cuci muka, berdoa sebelum tidur."

"Aku udah bukan anak kecil," gerutu Fang, tapi senyumnya masih ada.

Kaizo tertawa sekali lagi. Fang merasa hangat hanya dengan mendengar tawa itu. "Titip salam buat Budhe Ratna, ya."

"Besok pagi, 'kan? Udah malem, ini."

"Iya, lah, besok pagi."

"Oke. Dah, nanti bayar teleponnya kemahalan."

"Nanti kamu ikut bayar, ya."

"Heh. Koko jahat!"

"Becanda, Fang. Oh, ada satu lagi yang mau kubilang sebelum kututup teleponnya."

"Apa itu?"

Nasihat terakhir dari Kaizo yang mengutip filosofi orang Jawa adalah: Sebelum janur kuning melengkung, masih bisa ditikung!

.

.

.

.

.

"Filmnya bagus."

Sambil berjalan keluar dari gedung bioskop sore itu, Ying mendongak kepada pemuda yang lebih tinggi di sampingnya, matanya berbinar di balik kacamata. "Iya, bagus! Kamu paling suka bagian apa?"

"Mmm, sori, aku tadi sempat ketiduran waktu nonton," sahut Gempa sambil tersenyum kecut, tampak merasa bersalah.

"Ketiduran?" Ying terbelalak. Saking intensnya dia sendiri menikmati adegan action di film barusan, dia sampai tak sadar orang di sebelahnya sempat tidur. Padahal banyak suara tembak-tembakan dan kebisingan lainnya, masa Gempa betulan tidur tadi?

"Iya. Tahu-tahu, penjahatnya udah ketangkep, aja." Gempa mengusap belakang kepalanya dengan salah tingkah. "Maaf, jadi nggak bisa diskusi film, deh."

Ying tertawa kecil. "Kamu habis begadang?"

"Iya. Aku nyambi kerjaan lain di luar RS."

"Oh, ya?" Mereka sudah sampai di parkiran sepeda motor. "Kerja apa?"

"Nge-freelance jadi editor Solopos."

"Oh, Solopos?" Dahulu Ying juga pernah jadi wartawan siswa di sana, sewaktu sekolah ….

"Kalau nggak salah, kamu pernah nulis di Solopos, Yen?"

Ying mengernyit kecil. "Kok, tahu?"

"Aku pernah lihat fotomu di arsip redaksi. Tapi karena namanya lain, aku jadi ragu."

"Oh, iya. Aku pakai nama Cina-ku."

"Berarti, kamu jago nulis, dong?"

"Biasa aja." Ying menahan senyumnya. "Kamu editor, apa nggak lebih jago nulis?"

"Tugasku cuma mencari dan membetulkan salah ketik, hehehe. Ngomong-ngomong, kita jadi makan, 'kan?" tanya Gempa saat mereka meraih helm masing-masing.

"Jadi, lah. Udah laper, nih."

Senin siang kemarin, Ying dan Gempa bertukar nomor, lalu Selasa sore adalah agenda jalan-jalan pertama mereka. Ying tidak mau di hari Rabu karena Kamisnya adalah hari akreditasi dan akan ada rapat sampai sore untuk mematangkan persiapan akhir. Yang agak membuat heran, rupanya bagian Keuangan tidak terlibat (atau hanya pejabat struktural saja) dalam akreditasi, makanya Gempa tampak begitu santai menghadapi rangkaian acara itu. Kalau dipikir-pikir, penilaian akreditasi memang dari segi pelayanan medis oleh dokter dan perawat serta bagian penunjang medis yang di antaranya ada Instalasi Farmasi. Bagian Keuangan tidak ada di aspek mana pun dalam penilaian, meski sesungguhnya rumah sakit tidak akan berjalan tanpa uang.

Sebagai seorang staf keuangan, Gempa juga menghitung uang kembalian dengan teliti saat di bioskop tadi. Dia bersikeras untuk bayar sendiri-sendiri baik makan malamnya maupun menonton filmnya, meski Ying sempat menawarkan untuk membayari bioskop karena dia setengah memaksa Gempa memilih genre action. Dalam hal berkendara (yang agak lucu sebetulnya), Gempa mengusulkan agar Ying naik kendaraan sendiri, jadi mereka berdua bermotor berdampingan bukan berboncengan. Saat mengobrol lebih lanjut di warung makan yang mereka sepakati malam itu, Ying tahu alasannya.

"Sebetulnya, pacaran itu dilarang di agamaku," ujar Gempa sambil meniup-niup kuah bakso yang masih panas.

"Terus?" selidik Ying yang juga belum makan karena terlalu panas.

"Ada yang namanya taaruf atau perkenalan."

"Dua pihak keluarga bertemu, ya?"

Gempa mengangguk, terlihat senang karena Ying sudah tahu. "Karena Yenny bukan Islam, mungkin perlu cara yang berbeda soal ini."

"Tahu aja aku bukan Islam?"

"Kamu nggak bisa baca tulisan Arab, sih. Dan aku nggak pernah lihat kamu salat," kata Gempa sembari menyendok suapan pertamanya.

"Tulisan Arab—kertas lagu di halalbihalal itu dulu?" Ying ikut mulai makan dengan terheran-heran.

"Iya. Itu pertemuan pertama kita, 'kan?"

Senyum Ying terbit sambil menyantap baksonya. Diliriknya Gempa yang juga masih tersenyum sembari makan.

"Ngomongin taaruf. Aku juga nggak mau tiba-tiba, out of the blue, didatengin orang tuamu, sih," seloroh Ying setengah bercanda.

"Oh. Orang tuaku udah nggak ada," balas Gempa sambil menyendok lagi.

Kalimat itu membuat Ying tersentak. "Eh? Ma-maaf … turut berduka."

"Nggak apa-apa," ujar Gempa, masih tersenyum, namun dengan sisa kepedihan di sinar matanya. "Udah lama, kok. Ayahku meninggal waktu aku SD. Ibuku waktu aku SMA."

"... kamu punya saudara?"

Gempa menggeleng. "Aku anak tunggal."

"Oh." Ying jadi tak bisa berkata-kata. Gempa meneruskan kisahnya,

"Lulus SMA, aku kerja serabutan di Jakarta. Nggak ada biaya kuliah, buat makan aja susah. Habis itu, aku sempat gabung ke organisasi nonpemerintah yang membantu para pengungsi di Afganistan." Mata Gempa terlihat menerawang sambil bercerita. "Di sana, aku belajar sedikit soal kesehatan, psikologi, dan bahasa Inggris. Lalu, setelah balik ke Jakarta, aku dapat info ada lowongan kerja di rumah sakit di Solo yang menerima lulusan SMA."

"Wow," komentar Ying saking takjubnya.

"Kayaknya orang-orang bagian Keuangan kenal banget denganmu," ujar Gempa lagi, "karena selalu ada yang tahu tentangmu kalau aku bertanya."

Ying makin takjub. "Kamu nanya-nanya orang tentang aku?"

"Iya, terutama Mbak Siti, hehe. Dan … aku juga dengar rumor yang satu itu."

"Hah? Rumor apa?"

"Bahwa ada dokter di ICU yang tertarik padamu? Atau dicomblangkan denganmu? Entah mana yang benar, tapi isunya santer banget."

Ying menunduk, tidak suka mendengar hal itu lagi. Gempa agaknya melihat perubahan rautnya dan bicara lagi,

"Orang-orang suka nggosip tanpa tahu kebenarannya, pasti bikin kesel, ya?"

"Iya, lah," sahut Ying sambil melanjutkan makan.

Gempa menatap lawan bicaranya yang sedang menyeruput kuah bakso. "Yenny," panggilnya perlahan. Ying mendongak menatapnya dan Gempa melanjutkan,

"Jujur aja, aku … aku udah lama … suka kamu."

Keduanya saling tatap. Senyum Ying merekah lagi, membuat Gempa ikut tersenyum.

"Sejak halalbihalal?" tanya Ying.

"Iya. Sejak saat itu."

"Aku … juga sama, sejak saat itu," imbuh Ying malu-malu.

Gempa nyaris menahan napas mendengar tanggapan timbal balik itu. Mendadak, kuah bakso yang baru matang tadi tak ada apa-apanya dibandingkan panas yang membara di tubuhnya sekarang.

"Kalau sudah sejak saat itu … kenapa kamu baru deketin aku sekarang?" tanya Ying, mencari-cari kebenaran di sorot mata Gempa.

"Aku ..." Gempa mengalihkan pandangannya sedikit, sebelum kembali menatap Ying lurus-lurus, "... minder."

"Minder?" Ying mengerutkan dahi.

"Dari seragammu, kelihatan kalau kamu punya gelar sarjana, sedangkan aku hanya lulusan SMA. Kamu juga sudah karyawan tetap, sedangkan aku masih baru. Dan lagi …." Gempa agak ragu melanjutkan, tapi Ying masih menunggu. "Dan lagi, ada rumor yang tadi itu. Sainganku seorang dokter, pejabat struktural pula. Aku makin merasa nggak layak."

"Tapi, sekarang kamu tahu kebenaran di balik rumor itu." Ying menatap Gempa lekat-lekat, yang balas mengangguk. Keduanya sama-sama tersenyum, sinar mata saling bertemu tanpa lepas sampai semenit kemudian.

"Kalau waktunya tiba nanti, aku mau Yenny jadi pendamping hidupku."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

bersambung.

.

.

.

Author's Note #2:

Gempa, apa itu tadi lamaran? Aww~ /plak

Eh, Pak RT Kaizo kasih nasihat ke Fang betul banget, ya XD

Ada pairing baru di bab ini, Kaizo x Kirana. Bukan pairing utama, tapi berhubungan erat dengan cerita. Nantikan bab berikutnya, Bab 4: Tak Sempurna!

Oh, masih ada tambahan sedikit untuk bab 3 di bawah ini.

Terima kasih sudah membaca. Kritik dan saran sangat diterima!

[18 Mei 2023]

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ying pulang ke rumah jam delapan malam di hari Selasa dengan perut kenyang dan terutama hati senang. Dilihatnya sang Mama masih mengajar les privat matematika pada anak tetangga di ruang tamu, jadi Ying memasukkan sepeda motornya ke garasi pelan-pelan. Papa dan Nenek sedang menonton televisi di ruang tengah.

Secara praktis, tadi itu Gempa melamarnya. Ya, ampun! Ying tahu ini amat sangat terlalu cepat, tapi dia tak bisa menahan diri untuk senang bukan kepalang. Dia belum mengiyakan maupun menolak, karena Gempa juga paham Ying butuh waktu. Malam ini, Ying berniat akan menceritakan tentang Gempa pada Mama, yang selalu menjadi tempatnya curhat sejak kecil.

Ying bisa melihat dari sinar mata Gempa bahwa orang itu jujur. Selain itu, Mbak Siti (saat ditanya Ying) juga berpendapat Gempa pemuda yang baik. Ditambah lagi, Gempa ada hubungan keluarga dengan sahabat Ying, Yaya. Dia akan mencoba mencocokkan cerita Gempa dari suami Yaya, tapi saat ini pun dia sudah cukup percaya bahwa Gempa tidak mengarang-ngarang.

Ada satu lagi kisah hidup Gempa yang jadi perhatian Ying. Orang tua Gempa, sebelum keduanya meninggal, rupanya tidak harmonis, dalam artian ayahnya sering melakukan kekerasan pada istrinya karena mabuk. Gempa bercerita bahwa dia kadang-kadang mengungsi ke rumah sepupunya waktu masih kecil.

"Ada yang bilang, yang kayak begini itu seperti rantai dendam yang nggak ada putusnya, 'kan? Tapi, kamu tenang aja, Yenny. Aku nggak akan jadi seperti ayahku. Aku nggak akan menyakiti orang yang kucintai."

Gentleman, banyak pengalaman, mandiri, tulus hati. Kurang sempurna apa lagi, sih, Gempa?! Ying seratus persen yakin dirinya akan mimpi indah malam itu.