"Jadi, gimana rapat akre-nya?"
Saat itu sudah sore di hari Rabu sebelum akreditasi. Yaya menghela napas sambil melempar dirinya di atas sofa, masih berpakaian kerja. "Mas, aku terlalu capek untuk cerita."
Taufan terkekeh geli sambil menyeduh teh hijau kesukaan sang istri di dapur kecil mereka. Rumah mereka memang didesain minimalis; jarak antara sofa tempat Yaya duduk hanya dua meter dari kubikel dapur yang juga sederhana tapi nyaman.
"Oh, iya. Gimana kabarnya gebetan si Gempa?" tanya Taufan sembari membawa dua cangkir dengan uap mengepul ke atas meja di depan Yaya.
"Kudengar mereka nge-date kemarin malam," sahut Yaya, menegakkan tubuh begitu mencium aroma minuman favoritnya. Begitu kedua cangkir panas telah berpindah ke atas meja, tangan Taufan yang terlatih memijat bahu Yaya dengan lembut.
"Cepet juga, ya," ujar Taufan setengah bersiul.
"Kelamaan, keburu disambar orang," komentar Yaya sambil menahan senyumnya. "Bukannya kamu juga gitu, Mas?"
Taufan hanya tertawa, tapi kemudian tangannya berpindah ke pinggang Yaya dan menggelitikinya. "Iya, lah. Nanti si cantik ini jadi punyanya orang lain, aku mana rela."
Sang istri kontan menghindar sambil memekik, lalu menyambar cangkir tehnya dan berdiri agar punya alasan untuk tidak digelitiki lebih lanjut. Taufan menyerah kalah sambil menyeringai, gantian duduk bersandar di sofa dengan kedua tangan.
"Menurut cerita Ying, Gempa melamarnya kemarin itu," seloroh Yaya setelah menyeruput tehnya sedikit.
"Heeeeh?" gumam Taufan, alisnya terangkat. "Kencan pertama dan langsung lamar? Memang penuh kejutan, tuh anak."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BoBoiBoy (c) Monsta
The Concealed Wound (c) Roux Marlet
No material profit is gained from this work of fiction.
.
Slight romance: Fang x Ying, Gempa x Ying
Fixed pairing: Taufan x Yaya, Hang Kasa x Satriantar, Kaizo x Kirana
.
.
.
.
.
Bab Empat: Tak Sempurna
.
Chapter warning: cardiac arrest & death in ICU
(dunno if anyone has trauma over this)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kalau waktunya tiba nanti, aku mau Yenny jadi pendamping hidupku."
Gempa tersenyum hangat saat mengucapkan itu, membuat Ying ikut tersenyum. Sinar mata Gempa yang hanya fokus pada Ying terlihat begitu lembut dan tulus.
"... aku belum cerita apa pun tentang keluargaku, ya?" Ying duluan yang bersuara kemudian, untuk beralih topik. Gempa menelengkan kepala, siap menyimak.
"Aku lahir dan besar di Solo, tinggal bersama Papa, Mama, dan Nenek, ibu dari Papa. Papaku juga apoteker, kerja di pabrik obat di Sukoharjo. Mamaku guru les matematika. Aku juga anak tunggal. Waktu TK dulu, aku hampir punya adik … tapi Mama keguguran."
"Oh …." Gempa mengangguk bersimpati.
Ying diam cukup lama setelahnya, sambil menghabiskan baksonya. Porsi Gempa sudah habis duluan. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Nggak ada keluarga yang sempurna, ya?" seloroh Gempa setelah porsi Ying juga habis. "Ayah dan ibuku, semasa mereka hidup, nggak ada hari tanpa konflik."
Ying terbelalak. "Astaga …."
"Ayahku sering mabuk. Ibuku sering kena pukul. Aku biasanya diungsikan ke rumah sepupuku. Membuatku kadang bertanya-tanya … apa ayah dan ibuku saling mencintai? Kenapa mereka menikah kalau akhirnya yang satu menyakiti yang lain? Apa ibuku bertahan tanpa bercerai karena cintanya ke ayahku? Sampai sekarang, aku nggak tahu jawabannya."
Ying tidak tahu harus berkata apa. Dia ingin mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk bahu Gempa yang terlihat begitu kokoh menanggung semua beban hidup sebegitu rupa sejak usia belia, tapi pemuda itu sudah bicara lagi,
"Ada yang bilang, yang kayak begini itu seperti rantai dendam yang nggak ada putusnya, 'kan? Tapi, kamu tenang aja, Yenny. Aku nggak akan jadi seperti ayahku. Aku nggak akan menyakiti orang yang kucintai."
Seluruh kalimat itu membuat Ying menahan napas.
"Makasih sudah percaya padaku." Gempa tersenyum sekali lagi. "Udah jam segini. Mau pulang sekarang?"
.
.
.
.
.
Hari Rabu begitu penuh drama bagi Ying meski malam sebelumnya dia bermimpi sangat indah. Sepeda motornya mogok di tengah perjalanan singkatnya ke rumah sakit, membuatnya harus belok ke bengkel dan nyaris terlambat masuk kerja. Sebelum betul-betul mulai bekerja dan setelah mengecek jadwal rapat persiapan akreditasi, Ying mengirim pesan singkat pada ayahnya,
"Pa, motorku mondok di bengkel. Nanti ada rapat akreditasi, tolong jemput aku di RS jam lima sore, ya."
Ying tidak mau pulang sendirian sesore itu dan untuk sekali ini saja dia mau kembali menjadi putri Papa yang manja seperti di waktu sekolah dahulu. Dia mengira sudah cukup kesulitan di pagi hari. Rupanya ada pasien komplain tentang pelayanan di farmasi rawat jalan yang tidak ramah. Pasalnya, rekan kerja Ying sudah menjelaskan perihal obat racikan yang bakalan makan waktu lama dalam penyiapannya, tapi si pasien yang sudah lelah karena sakit dan terlalu lama menunggu dokter datang, bicara tancap gas dengan nada tinggi dan suara keras. Tentu saja lawan bicaranya juga menanggapi dengan keras tapi tetap berusaha sopan. Setidaknya itu yang ditulisnya dalam laporan kronologi komplain dan harus dievaluasi oleh Ying sebelum dilaporkannya lebih lanjut kepada Bu Kuputeri. Sebagai tambahannya, jumlah pasien rawat jalan di hari itu lebih ramai daripada biasanya. Ying sampai terlambat makan siang menjelang berakhirnya shift pagi dan terlambat ikut rapat akreditasi.
Dokter Fang di depan papan tulis sedang bicara tentang simulasi Code Blue untuk esok hari ketika Ying masuk ruang rapat dan menggumamkan permintaan maaf. Kuputeri, yang ada di sisi kiri ruangan, melihatnya dan memberi kode untuk duduk di dekatnya. Ying berjalan melipir tanpa suara, lalu berbisik setelah duduk,
"Maaf, Bu. Rame banget."
Kuputeri hanya mengangguk. Ying ikut menyimak arahan dari sang kepala ICU untuk bagian penutup dari penilaian akreditasi besok. Setelah semua tim surveior berkeliling dan menilai tiap-tiap bagian, termasuk HRD dan sekretariat untuk pengecekan kualifikasi staf, babak finalnya adalah simulasi Code Red alias kebakaran dan Code Blue alias kegawatdaruratan medis. Simulasi kebakaran telah di-handle oleh bagian Penunjang Umum rumah sakit seperti satpam, elektrikal, sarana-prasarana, housekeeping, yang juga melibatkan Komite Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau K3. Sedangkan, simulasi Kode Biru adalah bagiannya Pelayanan Medis, Keperawatan, dan Penunjang Medis.
"Biar nggak pada bosen dengerin saya cuap-cuap di sini, setelah ini kita bagi sesuai tim yang tadi dijelaskan Pak Tarung dan latihan untuk simulasi."
Suara tawa serentak mengudara setelah Dokter Fang mengucapkan itu.
"Bagi yang baru datang, bisa tanya temannya satu tim atau bagian, ya." Sorot di balik kacamata bergagang ungu itu hinggap sebentar pada Ying, sebelum dilanjutkannya kalimat, "Sepuluh menit lagi, silakan Bapak-Ibu semua menuju titik kumpul sesuai arahan."
Ying buru-buru kasak-kusuk dengan atasannya, yang menjelaskan cepat informasi apa saja yang ketinggalan diketahuinya. Ying akan standby di ICU pada awal penilaian untuk aspek penunjang ICU di Kamis pagi dan di hari Sabtu siang untuk membantu simulasi Kode Biru.
"Lha, memangnya saya bantu apa buat simulasi, Bu?" Ying mengernyit. Pasalnya, meski semua staf rumah sakit telah mendapat pelatihan untuk penanganan henti jantung atau cardiac arrest, petugas farmasi tetap bukan tenaga medis dan hanya bisa melakukan teknik pijat jantung yang paling dasar. Dokter dan perawat lebih mampu dan terlatih untuk itu, dan itulah yang pastinya mau dilihat oleh tim surveior.
"Bantu bawain troli emergensinya aja ke dekat tim Kode Biru."
"Saya nggak diminta akting jadi keluarga pasien atau apa, 'kan, Bu?"
"Nggak, kok."
Jadi, sepuluh menit berikutnya, Ying telah siaga di dalam ICU. Dia cukup berjaga-jaga di dekat troli besar berisi obat-obatan life-saving dan endotracheal tube berbagai ukuran, serta mendorong troli itu saat dibutuhkan nanti. Troli yang dimaksud saat ini ada di depan bilik pasien nomor tujuh di ICU, jadi Ying sempat melihat juga pasien yang tengah terbaring di sana. Seorang perempuan yang masih tampak muda. Dia mungkin sebaya Ying atau lebih tua sedikit, kurang jelas karena wajahnya dipasangi ventilator untuk membantu pernapasan. Pasien itu sedang sadar dan menatap Ying di kejauhan. Tertarik oleh rasa simpati, Ying mendekati papan besar di dekat pintu untuk mengecek diagnosis dan obat-obatan apa yang diterima si pasien. Rupanya penyakit autoimun yang menyerang ginjal dan pasien itu sempat demam tinggi setelah menjalani cuci darah. Dari hasil lab, diduga ada infeksi. Ying menengok sebentar ke tempat tidur itu dan melempar senyum sopan. Dia tidak bisa mendekati pasien karena yang boleh masuk hanya perawat atau dokter ICU yang memakai baju khusus. Tiba-tiba, dilihatnya gadis yang terbaring itu menggerakkan tangannya, menepuk-nepuk ranjang beberapa kali. Matanya berkedip-kedip cepat.
Mata Ying melejit ke arah monitor tanda vital. Bergegas didekatinya salah satu perawat ICU dan bicara, "Mbak, pasien bed 7 kayaknya sesek napas."
Perawat itu segera menuju bilik nomor tujuh dan mengecek. Saat itu, latihan simulasi Kode Biru telah dimulai dan Ying mengikuti arahan. Ketika semua sudah selesai dan Ying akan pulang, dia menyempatkan diri menengok pasien bed 7 dan mendapati gadis itu tertidur, monitor tanda vitalnya tampak stabil. Ying menghela napas lega.
Tak terlalu lama lega itu berlangsung karena rupanya Papa belum datang menjemput di belakang RS, yang jadi akses keluar-masuk karyawan. Dikirimnya pesan singkat, Ying akan menunggu di depan RS di tepi jalan raya yang lebih ramai, karena dari situ akan lebih mudah untuk Papa menjemput. Sekitar dua puluh menit Ying berdiri di situ, memandangi lalu lintas yang makin padat menjelang Magrib, serta warung-warung makan di seberang jalan yang juga mulai buka.
Sembari menunggu, Ying merasa dirinya seperti diawasi orang, tapi tak kelihatan siapa-siapa yang mengamatinya. Orang-orang di warung seberang sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan kiri-kanan Ying sepi. Mungkin hanya perasaannya saja. Saat mobil sang Papa terlihat dari belokan, perasaan lega itu kembali.
"Macet," ujar Papa singkat, menjelaskan alasan keterlambatannya.
"Papa juga baru pulang dari kantor?" Ying agak kaget melihat ayahnya masih memakai seragam kerja. Setahunya, jam kerja Papa sampai jam empat sore saja. Sedangkan ini sudah jam setengah enam kurang sedikit.
"Iya. Nggak tahu ada demo atau konvoi partai itu di Jembatan Bacem tadi. Udah tahu sempit, eh, malah gelar lapak di situ."
"Pemilu bersih pertama, sih, ya," balas Ying sambil menguap.
"Ha ah," sahut Papa. "Besok akreditasi?"
"Iya, Pa."
"Istirahat yang cukup. Kemarin habis jalan-jalan, capek, 'kan?"
"Papa udah diceritain Mama?" selidik Ying.
"Dia temen kerjamu, namanya Gempa."
"Mama cerita apa aja?"
"Udah semuanya."
Sang ayah dan putrinya itu sama-sama terdiam. Papa masih fokus pada jalanan di depannya.
"Papa … nggak apa-apa?" gumam Ying perlahan.
"Nggak apa-apa apanya?"
"Gempa itu orang Jawa dan dia Islam, Pa."
Ayah Ying itu melirik dari balik kacamata. "Papamu ini juga sepersekian persen orang Jawa, kok. Nggak masalah beda suku dan agama."
Tanggapan itu membuat Ying kembali tersenyum.
"Yang penting, ya, Ying … dia jujur dan setia."
"Iya, Pa." Ying juga berharap dan cukup optimis bahwa Gempa memang seperti itu meski baru mengobrol dengannya satu hari. Dia akan coba bertanya pada Yaya.
"Dan yang paling penting … yang kamu juga harus waspadai," Papa menjeda sebentar, "dia punya role model yang nggak baik, terutama ayahnya."
Ying mengangguk setuju.
"Kalau dia bener-bener orang baik, dia nggak akan biarkan dendam dan luka itu terulang. Terlepas dari apa yang dia bilang tentang dirinya sendiri. Orang bisa aja sugar-coating biar tampak sempurna, apalagi di depan gebetan atau pacar."
"Gimana caranya aku bisa tahu kebenarannya, Pa?" Untuk pertama kalinya Ying memikirkan itu. Keputusannya untuk bercerita pada Mama memang tepat, karena dia memang perlu nasihat.
"Waktu yang akan menunjukkannya."
Kalimat Papa yang terakhir membuat Ying betul-betul termenung. Namun, ternyata Papa belum selesai.
"Yang paling penting, Ying …."
"Bukannya tadi sudah yang paling penting?" Ying mengernyit heran.
"Ada lagi. Ini yang terpenting di antara semua yang paling penting."
Ying mengulum senyumnya. Papa memang kadang suka bercanda dengan majas hiperbola, tetapi sepertinya kali ini bukan candaan yang biasa.
"Jangan bikin keputusan besar di saat kamu sedang mabuk."
.
.
.
.
.
Malam itu, setelah Ying selesai membaca lagi persiapannya untuk besok, Gempa mengirim pesan:
'Halo, tadi lembur, ya?'
Ying mengangkat alis, lalu mengingat-ingat sebentar sebelum sadar bahwa dia sendiri yang bercerita ke Gempa kalau Rabu sore ada rapat akreditasi.
Ying membalas: 'Iya, nih. Tiga hari ke depan bakalan capek banget, terus hari Minggu aku mau main sama teman.'
Itu disampaikan Ying karena barangkali Gempa ingin menghabiskan akhir pekan bersamanya, tapi dia sudah punya agenda sendiri lebih dahulu. Rupanya, tanggapan Gempa agak di luar dugaan:
'Teman cewek atau cowok? Ke mana?'
Kali ini, Ying betulan mengernyit membacanya. Diketiknya balasan dengan nada bercanda,
'Mau tahu aja~'
Ying berpindah duduk di atas tempat tidurnya sambil melanjutkan percakapan daring itu.
.
Gempa: Pelit, ih :(
Ying: Aku mana ada teman cowok. Itu, lho. Orang HRD, Yaya. Kamu pasti kenal dia. Dia sahabatku sejak SMA.
Gempa: Ooh, Yaya? Tahu, dia istrinya sepupuku.
Ying: Iya, Mas Taufan, 'kan?
Gempa: Iya :O Kamu juga kenal Mas Taufan?
Ying: Gimana nggak kenal? Aku ikut semua persiapan dan upacara nikahan mereka.
Gempa: Terus, kamu besok itu jalan ke mana sama Yaya?
Ying: Ke rumahnya aja, girls' talk :) Udah cukup keponya?
Gempa: Hehe, maaf. Aku, 'kan, cuma mau tahu kamu pergi sama siapa dan ke mana, biar tenang :D
Ying tidak membalas pesan itu sampai lama sambil duduk merenung, teringat nasihat Papa sore tadi. Gempa mengiriminya satu pesan lagi,
'Selamat istirahat, Yenny-ku :3 Semoga mimpi indah :)'
Lagi-lagi, Ying tersenyum. Ini pertama kalinya pesan dari pemuda itu mengandung emotikon hati.
'Selamat istirahat juga, Gempa :)'
Ying pergi tidur dengan keyakinan bahwa mimpi indah telah menantinya lagi sebelum terpikir … apa benar tadi Gempa menyebut namanya dengan kata ganti kepemilikan? Ponsel Ying sudah dimatikan untuk menghemat baterai, jadi dia tak bisa mengecek ulang.
Yah, wajar kalau orang memanggil pacarnya dengan possessive adjective seperti itu, 'kan?
.
.
.
.
.
Akreditasi di hari Kamis dan Jumat telah berhasil dilalui dengan lancar. Tersisalah hari Sabtu, dengan penilaian pada segelintir unit Penunjang Umum seperti Laundry dan Sanitasi yang memang diagendakan terakhir disurvei, lalu penutup acara adalah dua simulasi kode darurat rumah sakit.
Simulasi Kode Merah sedang berlangsung dan kini tim simulasi Kode Biru tengah bersiap di ICU, tak terkecuali Ying. Dia ikut merasa tegang karena alarm kebakaran betulan dibunyikan meski sudah ada informasi bagi pasien dan pengunjung melalui pengeras suara seantero rumah sakit bahwa hal itu hanya simulasi, sehingga tidak perlu panik. Dari rekaman video langsung di tempat kejadian yang adalah lapangan parkir yang dikosongkan, Ying melihat sendiri kobaran api rekaan itu dipadamkan menggunakan APAR oleh petugas berhelm merah. Ying menatap layar televisi dengan pandangan menerawang.
"Mbak Yenny. Bentar lagi kita mulai, ya."
Suara seseorang menyentakkan Ying dari lamunan. Dokter Fang ada di sebelahnya, berseragam khusus petugas ICU. Rautnya serius dan dia juga terlihat agak tegang.
"Oh, iya, Dok."
"Ini akreditasi pertamamu, ya?" seloroh Fang sambil ikut menengok ke layar.
"Iya, Dok."
"Rileks aja. Tugasmu di sini cukup menunjang kami."
Ying tersenyum kaku karena dia tetap merasa tegang. "Terima kasih, Dokter."
Berikutnya, tim surveior tiba di ICU. Simulasi Kode Biru pun dimulai. Seorang perawat menjatuhkan manekin di tengah lorong ruang tunggu ICU. Seorang satpam mendekatinya dan mengecek denyut nadi dan napas, meneriakkan kode biru, dan memulai prosedur. Bantuan Tim Kode Biru datang. Ying mendorongkan troli emergensi ke dekat para petugas yang berjibaku melakukan resusitasi jantung-paru pada manekin. Tentu saja mereka pakai manekin, karena pijat jantung sungguhan pada orang yang pura-pura pingsan bakal sakit sekali. Dan, mana mungkin orang sehat disetrum pakai defibrilator?
Seperti simulasi Kode Merah, sepertinya simulasi yang ini juga akan berakhir dengan lancar. Tim surveior tampak puas dan menulis-nulis di kertas pada clipboard masing-masing. Ying mau tak mau ikut menyaksikan Dokter Fang yang memimpin tim kecil simulasi pertolongan itu, melakukan pijat jantung berkualitas dan memberikan instruksi demi instruksi dengan cepat dan tenang.
Saat si manekin sudah akan dipindahkan karena denyut jantungnya dianggap sudah kembali, sesuatu berbunyi beep. Singkat tapi begitu nyaring sampai semua orang menoleh ke sumber suara. Dokter Fang merogoh sebuah pager dari sakunya dan tiba-tiba lari ke arah ICU, masih menyempatkan diri berseru pada semua yang ada di situ,
"Ada Kode Biru sungguhan di dalam ICU!"
Para perawat bergegas menyusul lari hanya sedetik setelah ketua tim mereka berlari. Ying dan yang lain ikut masuk ke ICU, dengan Ying dibantu salah satu surveior untuk mendorong troli emergensinya lebih cepat. Ketika Ying melihat lampu darurat bed mana yang menyala, itu adalah pasien bed 7! Keluarga si pasien, yang menunggu di luar, mendadak histeris dan menjerit-jerit ketika tahu apa yang terjadi. Tirai bagian dalam bilik nomor tujuh ditutup oleh perawat dan si pasien, perempuan muda itu, sudah dibantu RJP lebih dahulu oleh Dokter Iwan yang giliran berjaga di ICU selama akreditasi.
"Saturasinya drop!"
"Epinefrin!"
"ETT nomor enam!"
Yang ini sama sekali bukan simulasi. Ying merasa darahnya tersirap, tangannya gemetaran sambil membukakan troli emergensi. Perawat yang lebih cekatan segera menyambar segala obat dan alat yang diperlukan dari dalam situ.
Ying mencari kursi dan duduk sambil berkeringat dingin. Kedua kakinya lemas. Ketegangan yang nyata dan kepanikan yang hakiki ikut melandanya meski bukan dirinya yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Ying bisa melihat sendiri monitor itu tetap bergaris lurus sekuat apa pun Dokter Fang dan yang lain berusaha. Usaha mereka tetap sama baiknya dengan waktu simulasi tadi, hanya saja Tuhan berkehendak lain.
Dokter juga hanya manusia yang tak sempurna.
Pasien itu pada akhirnya tetap tidak tertolong.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
bersambung.
.
.
.
Author's Note:
Yang meninggal ini OC, ya :"( oh, Papa Ying di sini juga OC :D
Waktu ngetik bab ini, Roux terngiang-ngiang lagunya D'Masiv yang judulnya Jangan Menyerah:
"Tak ada manusia yang terlahir sempurna. Jangan kau sesali segala yang telah terjadi."
Ada yang notis ketidaksempurnaan apa saja dari tiap tokoh di sini?
Ngomong-ngomong, Roux baru sadar nggak bisa insert tanda kurung sudut di sini tapi bisa di dua platform lain :") gagal deh emotikon hati-nya Gempa huweee
.
Nantikan bab berikutnya, Bab 5: Bagai Langit dan Bumi!
Terima kasih sudah membaca. Kritik dan saran sangat diterima!
[21 Mei 2023]
