Hari Senin biasanya membawa aura kelesuan bagi tenaga kerja di sektor apa pun karena keharusan untuk kembali bekerja setelah libur. Namun, hari Senin setelah akreditasi sungguh membuat Ying sangat lesu, jauh lebih lesu daripada setelah dia menjadi panitia halalbihalal yang jatuh di hari Minggu dulu, hari seharusnya dia beristirahat. Selain karena akreditasi hari Sabtu harus ditutup dengan sebuah tragedi, dia juga baru saja menyalurkan uneg-unegnya kepada Yaya kemarin. Dia menunjukkan pesan dari Gempa di ponselnya kepada Yaya.
"Ya … apa ini tanda-tanda nggak baik? Atau hanya perasaanku aja?"
Yaya tak bisa menjawabnya. Mereka tak mencapai kesimpulan apa pun dari obrolan sesama perempuan yang ngalor-ngidul.
"Kalau Gempa memang nggak baik … setelah ini mestinya akan ada lagi tanda-tanda yang serupa, Ying."
Hanya itu nasihat dari Yaya. Ying harus mengenali tanda-tanda itu sendiri, dan dia jadi ingat pesan Papa bahwa 'waktu yang akan menunjukkannya'. Belum sampai setengah hari bekerja di unit hari Senin itu, ada panggilan telepon internal yang mencarinya. Waktu berlalu dengan sangat lambat sampai Ying agak kaget ketika menyadari bahwa saat itu belum ada jam sebelas siang.
Dokter Fang dari ICU minta Mbak Yenny menemuinya di ruangan.
Dan, lima menit kemudian, Ying sudah duduk berhadapan dengan sang dokter kepala unit perawatan intensif.
"Mbak Yenny tahu? Ada tanda-tanda dan gejala, petunjuk-petunjuk, yang wajib untuk kita kenali dan kita harus peka dengannya?"
Ying menatap Dokter Fang di depannya dengan mata melebar. Mengapa seolah dokter ini bisa tahu apa yang sedang menyibukkan pikirannya?
"Istilahnya Early Warning Score atau EWS."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BoBoiBoy (c) Monsta
The Concealed Wound (c) Roux Marlet
No material profit is gained from this work of fiction.
Slight romance: Fang x Ying, Gempa x Ying
.
.
.
.
.
Bab Lima: Bagai Langit dan Bumi
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yaya melempar usul, "Kalau kamu mau tahu: apa dia menepati kata-katanya untuk nggak menjadi lelaki yang menyakiti pasangan atau nggak … ya, kamu harus buat dia marah dulu. Kekerasan timbul dari amarah."
"Bukan ide bagus," keluh Ying. "Aku nggak suka pertengkaran, apalagi jadi pemicunya."
"Bisa aja dia bersikap manis sekarang, tapi brutal kalau ada yang bikin dia kesal?"
Ying menggeleng. "Lagian, aku nggak bisa bikin Gempa marah. Aku nggak tahu apa yang bisa bikin dia marah. Orang-orang di bagian Keuangan menyebutnya 'Orang Paling Sabar Sedunia'."
Yaya berpikir-pikir selagi Ying mengeratkan pelukannya pada boneka kucing miliknya. Taufan belum pulang kerja, jadi mereka berdua bisa duduk di sofa ruang tamu Yaya dengan santai dan nyaman.
Kecuali, isi obrolan mereka sama sekali tidak bisa disebut santai.
"Ying, kamu … coba bikin dia cemburu, kira-kira apa reaksinya?"
"Heh?!" Ying melotot pada ide barusan. "Kamu gila, Yaya? Aku bukan cewek genit!"
"Bukan gitu juga maksudku," sela Yaya sebelum Ying menyembur marah, "kamu pura-pura aja, bilang kamu suka orang lain. Lihat apa reaksinya. Main tangan sampai mukul, kah? Atau apa?"
"Kamu nyuruh aku bohong, Ya?" Ying menyipitkan mata.
"Habisnya, gimana lagi?" keluh Yaya yang juga kehabisan ide.
"Aku juga nggak mau jadi pembohong," ucap Ying keras kepala. "Pasti ada cara lain."
"Tapi kamu nggak nyaman dengan Gempa. Kalau kamu tetep lanjut, kamu membohongi dia."
Ying terpekur lama mendengarnya. Yaya menatapnya kasihan. Dia tahu, sahabatnya itu sangat idealis.
"Inget, Ying. Nggak ada manusia yang sempurna, flawless. Kamu juga, aku juga. Gempa pun sama. Setiap kita punya satu-dua flaw. Tinggal, kamu bisa atau nggak, menoleransi hal itu kalau kamu mau ke jenjang yang lebih lanjut sama dia."
"Tapi, Yaya … aku nggak yakin, ini cuma salah satu flaw-nya Gempa, atau sesuatu yang lebih buruk."
"Kalau Gempa memang nggak baik … setelah ini mestinya akan ada lagi tanda-tanda yang serupa, Ying."
"Dan kamu berhasil mengenali salah satu tanda itu. Pasien ini memang sudah ada gejala sianosis sejak hari Rabu. Seandainya waktu itu kamu nggak bilang ke perawat kalau dia sesak napas, mungkin aja jantungnya udah berhenti bahkan sebelum akreditasi mulai."
Ying mengerjap, gagal berkonsentrasi pada penuturan Dokter Fang sejak dia menyebutkan istilah Early Warning Score atau EWS. Sang dokter rupanya membahas pasien yang kemarin meninggal karena henti jantungnya gagal tertolong dan Ying mengernyit, berusaha mengenyahkan kilas balik percakapannya dengan Yaya kemarin.
"Kamu udah memperpanjang hidupnya, meski tiga hari kemudian dia meninggal juga. Seenggaknya, dia masih sempat bicara dengan keluarganya sebelum berpulang."
Air mata Ying tiba-tiba menetes mendengarnya. Gadis itu terkejut sendiri, tapi dokter di depannya tersenyum prihatin.
"Kamu belum pernah bertugas di bagian rawat inap, ya?" Fang bertanya.
Ying hanya menggeleng sambil menyeka sudut matanya, terlihat malu.
"Kalau kamu udah cukup lama kerja di sini … kamu bakal tahu kayak gimana rasanya saat pasienmu sembuh dan pulang ke rumah, atau pulang ke rumah Tuhan."
Rasanya Ying ingin menangis lagi. Dia sudah menumpahkan air matanya atas tragedi pasien itu di depan Yaya kemarin. Masa dia mau menangis meraung-raung lagi, di depan Dokter Fang pula?
"Pasien pertama saya yang meninggal dunia, waktu saya masih baru di sini, bertugas di IGD. Seorang pria lansia, serangan jantung. Sampai berhari-hari kemudian, saya mimpi buruk." Fang bertutur dengan suara parau. Ying menatapnya dan menyadari bahwa mata itu berkaca-kaca. "Saya nggak bisa berhenti mikir, seandainya gini atau gitu, seandainya saya lebih ini atau itu … tapi itu semua nggak ada habisnya. Energi saya malah terkuras karena penyesalan dan malah nggak bisa nolong pasien yang lain dengan baik. Dokter juga manusia, bukan Tuhan. Manusia bisa berusaha, tapi rencana Tuhanlah yang terlaksana. Oh, maaf. Mbak Yenny agamanya apa?"
"... Saya Konghucu, Dok."
Fang mengangguk-angguk. "Yang berharga dari kematian adalah, kita jadi lebih mensyukuri kehidupan sebagai anugerah."
Ying ikut mengangguk. "Dan … mungkin kegagalan juga jadi pelajaran yang berharga untuk masa depan, Dok?"
Sang dokter tersenyum. "Benar. Pelajaran untuk masa depan."
Ying juga tersenyum sedikit. Entah mengapa, hatinya terasa lebih ringan dengan percakapan ini. "Saya baru dengar istilah EWS itu tadi, Dok."
"Oh, ya? Tanda-tandanya dibagi jadi enam kelompok." Ying bisa melihat binar yang mendadak muncul di mata lawan bicaranya, begitu menggebu untuk mengajarinya. "Laju pernapasan, saturasi oksigen dalam darah, suhu tubuh, tekanan darah, denyut nadi, dan terakhir respons kesadaran pasien."
"Waaah," seloroh Ying, tertarik.
Fang meneruskan, "Skor lebih dari lima, risiko kematian makin tinggi. Ini cara menilai tingkat kegawatan dari tanda-tanda vital."
"Pastinya tenaga medis di ICU dan IGD harus paham soal ini, ya, Dok?"
"Betul. Kalau di IGD, ada istilah triage, pengelompokan pasien yang masuk ke IGD berdasarkan berat-ringannya kasus dan harapan hidup. Termasuk tadi, pengenalan tanda-tanda EWS."
.
.
.
.
.
Senin siang itu, Ying mengakhiri jam kerjanya dengan hati yang lebih cerah. Berdiskusi dengan Dokter Fang tadi rupanya memberinya penghiburan meski mereka sama-sama prihatin pada apa yang telah terjadi. Ying lupa bertanya apakah Fang ditegur atasan karena gagal menolong pasien saat ada tim penilai akreditasi. Kalau melihat sikapnya, mungkin saja tidak.
Saat Ying sudah hampir pulang, rupanya masih ada satu pasien yang hendak mengambil obat. Dia duduk di depan loket serah-terima obat, anehnya pakaiannya tampak familier.
Ying agak terkejut mendapati orang itu rupanya Gempa. Dia sudah mengenakan seragam karyawan tetap yang bahannya sama dengan Ying, bukan lagi baju putih-hitam seperti karyawan dalam masa orientasi.
"Halo," sapa Gempa dengan senyumnya yang biasa. "Aku mau ambil obatnya ibu kosku."
"Oh, siapa namanya?" Ying segera pasang mode formal karena memang masih pekerjaannya. Gempa menyebutkannya dan Ying mencari obat milik pasien yang dimaksud. Setelah ketemu, Ying mulai menjelaskan aturan pakai dan fungsi obat, yang ditanggapi Gempa,
"Udah, dicek aja, gapapa. Dijelasin juga aku nggak begitu mudeng, hehe."
Ying mengangkat alis sambil membolak-balik buku obat si pasien. "Obat rutin, ya?"
"Iya. Si Ibu sudah paham, kok."
"Oke, deh." Ying menunduk dan mengecek obat-obatan itu, sedangkan Gempa tidak ikut menunduk untuk melihat obatnya melainkan mengamati si apoteker. Ying paham sekarang. Gempa selalu memandanginya lekat-lekat dengan senyum yang lembut, itulah mengapa Ying merasa begitu dicintai olehnya. Dia senang mendapatkan perhatian seperti itu dari Gempa.
Tapi, kenapa ada pesan yang seperti itu di ponselnya …?
Ying mendongak tiba-tiba, membuat Gempa agak tersentak. "Gempa, pulang kerja ini, kamu ada waktu?"
.
.
.
.
.
"Aku ikut sedih tentang hari Sabtu kemarin."
Ying menatap Gempa yang duduk di hadapannya, dengan masing-masing satu gelas jus tomat di atas meja di antara mereka.
"Kamu tahu?" Ying agak takjub.
"Temenku yang di ICU ada cerita."
"Kamu ada temen di ICU?" Ying terbelalak lagi.
"Iya, cleaning service-nya ICU. Dia tetangga kosku, hehehe."
Ying termenung sebentar. "Pasiennya udah sianosis sejak hari Rabu. Kondisinya emang udah jelek."
Gempa menelengkan kepalanya sedikit. "Sianosis itu apa?"
Ying menimbang-nimbang jawaban. "Pernah denger warna cyan?"
"Biru?" Gempa mengernyit sedikit.
"Iya. Cyanosis itu, orang jadi kebiru-biruan, di bagian bibir terutama."
"Kayak orang dicekik?" Gempa bertanya lugas.
Ying meringis. "Bisa jadi. Soalnya, penyebabnya, pasokan oksigen di badan berkurang. Itu karena pasien ini sakit autoimun, dia rawan kena infeksi pernapasan, jadilah begitu."
"Oooh …." Gempa manggut-manggut. Parasnya tampak berpikir keras.
"Udah, nggak usah dipikirin lagi," seloroh Ying yang merasa geli.
"Hehe, nggak nyandak juga otakku," balas Gempa. Dia menyedot jusnya sedikit. "Jadi, Yenny mau bicara apa?"
Ying belum menyentuh jusnya sendiri dan tak segera menjawab. Dia memainkan jemari tangannya sebentar dan Gempa menantinya dengan sabar. "Aku mau tahu … apa yang menarik dalam diriku sehingga Gempa suka padaku?"
Gempa juga tidak langsung menjawabnya. Mereka bertukar pandangan sejenak, sebelum raut wajah si pemuda bersinar-sinar. "Yenny itu … lembut hati. Aku sering lihat kamu bicara ke pasien … kayak, hmm ... penuh kasih banget, gitu."
"Gitu, ya?"
"Iya, gitu."
Ying diam lagi dan menghindari tatapan mata lawan bicaranya. Gempa mengernyit lagi, tampaknya mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tak beres.
"Gempa … aku mau kita udahan aja."
Begitu kalimat tak terduga itu mengudara, Gempa sempat membisu, menatap Ying lamat-lamat. "Kenapa?" tanyanya pada akhirnya.
Ying mengumpulkan segenap keberaniannya untuk mengucap, "Aku nggak nyaman denganmu."
Gempa tak segera menanggapi. Suaranya rendah dan datar waktu bicara lagi, "Apa karena aku orang Jawa?"
Ying tersentak dan segera menggeleng. "Bukan gitu."
Berikutnya, pertanyaan beruntun meluncur dari mulut si pemuda, "Apa karena aku bukan tenaga kesehatan? Karena aku cuma lulusan SMA? Karena besaran gajiku di bawahmu?"
"Gempa … dengerin aku dulu."
"Aku mendengarkan."
Diberi kesempatan, giliran Ying yang malah jadi speechless. Gempa tersenyum samar sambil menatapnya dengan sorot terluka.
"Karena … aku nggak sesempurna Dokter Fang?" seloroh si pemuda.
Ying melotot. "Mana ada? Siapa yang ngebanding-bandingin kamu dengannya?"
"Banyak," sahut Gempa sambil mengalihkan pandangan. "Aku dengar banyak hal, Yen. Aku punya kenalan di banyak unit kerja. Yah, kebanyakan bukan tenaga kesehatan. Orang-orang juga udah tahu, Putri Mulan yang baik hati ini akhirnya nggak jadian sama The Perfect Prince of ICU, tapi sama Mas-mas Kasir yang Nggak Penting. Jangan menyangkal, kamu pun pernah kepikiran ini, 'kan? Kamu pernah dicomblangin dengannya. Jangan-jangan, kamu jadi suka dia karena dicomblangin?"
Ying sangat tak suka mendengarnya. "Aku nggak pernah bilang aku suka Dokter Fang …."
Gempa tidak bicara lagi, wajahnya memerah, dan kalimat Ying menggantung di situ. Tidak, Ying tidak menyukai Fang dalam artian tertarik dengan lawan jenis. Dia cukup menyukai sosok Dokter Fang dan kagum karena profesionalismenya, tidak lebih dari itu.
Namun, tak bisa dipungkiri. Dalam pikirannya pun, Ying juga membanding-bandingkan Fang dengan Gempa. Percakapannya dengan Fang selalu nyambung soal medis, yang sulit dipahami orang awam seperti Gempa. Sikap dan tingkah laku si dokter yang sangat berjiwa penolong dan bertanggung jawab, membuatnya bisa disebut keren. Dilihat dari segi apa pun, Fang dan Gempa itu bagaikan langit dan bumi. Akan tetapi, justru karena satu hal …
"... aku nggak mau punya pasangan seperti dia." Ying terlambat menyadari bahwa air matanya menetes. Gempa terbelalak, rautnya yang tadi tampak tersinggung dan marah, menjadi merasa bersalah melihat Ying menangis. Pemuda itu mengerjapkan mata, napasnya memburu.
"Yenny … maaf." Kalau Ying tidak sedang dilanda emosi, dia akan bisa melihat betapa paniknya Gempa.
Ying menggeleng. "Aku nggak bisa. Aku nggak mau punya pasangan Chinese."
Pengakuan itu sungguh tak terduga untuk Gempa. Ying melepas kacamatanya lalu menutup wajahnya dengan kedua belah tangan, menangis tersedu dan berusaha meredam suaranya. Rumah makan dengan teras terbuka itu tidak ramai di jam segini, tapi justru suara Ying bisa terdengar sampai ke ruangan dalam kalau tidak ditahan.
Ada sesuatu dalam pengakuan Ying yang membuat hati Gempa bergetar. Ada sesuatu di masa lalu Ying yang membuatnya bisa berucap seperti itu. Apa pun itu, ini malah peluang yang baik untuk Gempa … dia yang sudah dengar semua rumor dan tadinya merasa sampai kapan pun tak akan pernah 'menang' jika dibandingkan dengan dokter ICU itu, tiba-tiba punya tiket emas dalam genggaman.
"Yenny … aku minta maaf. Tolong kasih aku kesempatan untuk perbaiki kesalahanku."
Gempa begitu ingin menyentuh tangan Ying, mengelus pundaknya yang bergetar hebat, membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang … tapi dia berkonflik dengan dirinya sendiri karena Ying belum sah menjadi pasangannya di mata agama. Seharusnya dia bahkan tidak boleh pacaran. Tak ada siapa pun yang bisa dimintainya nasihat soal ini, karena Gempa sudah belajar untuk berdiri di atas kaki sendiri sejak lama sekali.
Ying sudah berhenti menangis, tapi isaknya masih tersisa. Wajahnya begitu merah, mata sipitnya bengkak. Dia menatap Gempa dengan sorot nanar, yang mulai bicara lagi,
"Tolong beri tahu aku, apa yang bikin kamu nggak nyaman denganku?"
.
.
.
.
.
Sebetulnya, Senin pagi itu juga muram bagi Fang di ICU. Dia memang sudah curhat pada abangnya sekali lagi, juga mendapat tepukan hiburan dari seorang lagi di rumah kosnya, tapi tetap saja penyesalan dan rasa bersalah masih ada. Apalagi tragedi kemarin harus terjadi di depan mata tim penilai akreditasi. Fang tidak terlalu kaget ketika dia dan Dokter Iwan dipanggil oleh jajaran direksi.
Bukan teguran yang mereka terima, melainkan apresiasi. Mereka berdua sebagai dokter jaga di ICU telah mengusahakan yang terbaik, bahkan bisa tetap tenang dalam kondisi yang sulit. Tim penilai akreditasi juga memandang hal itu baik dan tidak akan memengaruhi keseluruhan penilaian.
"Dokter Iwan, Anda boleh kembali. Dokter Fang, tunggu di sini sebentar."
Rekan sejawat Fang itu mengangguk untuk pamit, lalu keluar dari ruangan. Dokter Koko Ci, sang direktur medis, bicara pada Fang,
"Ini sudah bulan Mei. Kamu masih mau nyoba PPDS tahun ini?"
Fang tersentak kecil ketika atasannya membicarakan Program Pendidikan Dokter Spesialis. Dia menyahut, "Rencananya begitu, Dokter. Saya belum menyerah jadi dokter bedah."
"Kenapa pengen jadi dokter bedah?"
"Itu … cita-cita saya sejak masih kecil."
"Cita-cita yang nggak berubah sampai dewasa?"
Fang menggeleng dan tersenyum singkat. Dokter Koko Ci yang mungil itu mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Biar kuperjelas, Dokter Fang. Yayasan memandangmu berpotensi menjadi salah satu pimpinan. Apa kamu mau studi S2 Manajemen Rumah Sakit, dibiayai oleh yayasan?"
Tawaran emas itu sudah berlalu beberapa jam ketika, entah oleh dorongan apa, Fang menelepon unit farmasi rawat jalan untuk mencari Ying. Meski sangat berterima kasih dan merasa dihargai, Fang serta-merta ingin menolak tawaran itu tadi, tapi Dokter Koko Ci, yang tahu gelagatnya, memintanya untuk tidak menjawab sekarang dan memertimbangkannya baik-baik. Dari kabar yang pernah didengarnya dan fakta-faktanya, serta yang disampaikan secara tersirat oleh sang direktur medis tadi, para dokter yang disekolahkan oleh pihak yayasan itu akan dikader untuk menjadi direktur atau petinggi yayasan di kemudian hari. Maka dari itu, bidang manajemen rumah sakit maupun public health menjadi fokus utama studi lanjutan mereka.
Namun, dengan demikian pula, kalau Fang memilih jalur manajerial ini, kemungkinan besar dia tak akan bisa melanjutkan pendidikan dokter spesialis. Selamanya dia hanya akan jadi dokter umum.
Namun, sekali lagi … Fang teringat akan motivasinya mula-mula memilih profesi dokter, lalu alasan dia memilih rumah sakit di Solo satu ini, yang jauh dari rumahnya sendiri. Lagipula, jika dia memilih mendaftar PPDS lagi dan diterima tahun ini, itu artinya dia harus resign dari rumah sakit ini … dan tidak akan lagi bertemu dengan gadis yang dicintainya. Setelah dia nanti menjadi dokter bedah lima tahun lagi, dia harus mengikuti banyak prosedur kalau mau bekerja di tempat ini lagi, dan apakah Ying masih bekerja di sini saat itu tiba?
Dengan mengambil studi S2, masa depan Fang sudah jelas berada di jalur manajerial dan dia akan mengabdi di rumah sakit yang sama sampai usia pensiun nanti. Fang tidak terlalu memikirkan perbedaan gaji yang diterima dokter umum manajemen versus dokter spesialis bedah. Percakapan singkatnya dengan Ying tadi telah membuatnya mengambil keputusan besar.
Setelah shift kerjanya berakhir siang itu, Fang berjalan menuju kantor HRD yang sepi. Petugas-petugasnya sudah pulang, tersisa dua orang yang masih berberes. Oh, dia mengenali salah satu staf HRD yang bernama Yaya.
"Mbak Yaya, kalau saya mau ambil S2 Manajemen RS, prosedurnya gimana?" tanya Fang, to the point.
Yaya dan temannya sama-sama tertegun sejenak. "O-oh, Dokter bisa isi formulir dulu. Sebentar, saya ambilkan."
Fang menunggu, teman Yaya mempersilakannya duduk. Sepertinya kantor HRD kemarin dibabat habis-habisan oleh tim penilai akreditasi. Banyak berkas bertumpuk-tumpuk yang menunggu untuk dikembalikan ke rak. Formulir yang diminta pun disodorkan kepadanya dan Fang mempelajarinya sebentar. Teman Yaya pamit pulang duluan, Yaya pun sudah beres-beres untuk pulang. Agaknya tumpukan berkas itu tak bisa diselesaikan dalam sehari.
"Apa saya bawa pulang aja formulirnya? Besok saya kembaliin?" tanya Fang, cukup tahu diri bahwa sudah waktunya pulang.
"Boleh, Dokter. Silakan saja."
"Sudah mau tutup, ya, kantornya. Maaf, saya kemepetan ke sini."
"Nggak apa-apa, Dok. ICU rame, ya?"
Fang tersenyum sekilas dan membereskan tasnya sendiri. Saat itu, Yaya menerima telepon di ponselnya.
"Ying? Oh, iya. Gapapa. Hati-hati, ya."
Ketika Yaya mengakhiri panggilan itu, ternyata Fang masih di sana, menatapnya penuh selidik.
"Ying itu … Yenny? Apoteker rawat jalan?"
Yaya terbelalak. "I-iya, Dok."
"Kalian berteman baik?"
"Ya." Yaya mengernyit. Bagaimana Fang bisa tahu nama asli Ying?
"Sejak di RS ini atau sebelumnya, kalau boleh tahu?"
"Sejak kami SMA."
"SMA, ya …." Fang menghitung cepat dalam pikirannya. "Saya boleh nanya sesuatu, Mbak Yaya?"
"Apa, Dok?"
"Kalau Mbak Yenny asli Solo, kemungkinan besar dia juga ada di kota ini waktu kerusuhan Mei '98 terjadi … bener, nggak?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
bersambung.
.
.
.
Author's Note:
Bab ini penuh drama, bikin penulisnya lelah sendiri wkwk
Cerita ini akan ditamatkan di bab 7 atau 8 kalau kepanjangan.
Nantikan bab berikutnya, Bab 6: Luka yang Tidak Diakui!
Terima kasih sudah membaca. Kritik dan saran sangat diterima!
[25 Mei 2023]
