Garis Ikatan
Summary
Ikatan adalah hal yang unik, itu mampu menghubungkan sesuatu yang mustahil menjadi mungkin, seperti halnya hubungan antara manusia dari masa depan dan masa kini.
.
.
.
Disclaimer
Naruto dan Honkai: Star Rail dimiliki oleh pemiliknya masing-masing. Author hanya meminjam mereka demi kepentingan fanfic ini.
.
.
Genre
Utama: Romance
Selingan: -
.
.
Pairing
[Uzumaki Naruto x March 7th]
.
.
Dengan kedatangan pagi, maka itu berarti aktivitas baru sudah dimulai, seperti (yang terjadi) di kota ini.
Tidak hanya banyak toko mulai buka, tapi juga jalan raya maupun trotoar, sudah hampir dipenuhi kendaraan serta pejalan kaki.
Di sisi lain, kedua orang ini berjalan di jalur khusus pejalan kaki, tidak lupa dengan kondisi tangan (yang saling) bergandengan.
"Haah, pagi ini begitu cerah sekali. Benarkan, sayang?"
"Yup, dan khusus kali ini, kuakui perkiraan cuaca di berita benar."
Gadis itu terhibur.
"Hehe, ada-ada saja tingkahmu ini, Naruto."
Naruto terkekeh.
"Skor lain dariku, March."
March tertawa kecil.
Mereka adalah Naruto Uzumaki dan March Uzumaki. Sepasang pasutri muda dengan usia hubungan sudah lebih dari satu tahun.
Usut punya usut, mereka bertemu saat Naruto berada di luar negeri, tepatnya London.
Waktu itu, Naruto (yang mempunyai) status sebagai pelukis bebas, mencari inspirasi dengan berkeliling mengitari kota.
Kebetulan saat menemukan objek bagus, seekor anjing tiba-tiba menggigit bokong Naruto, alhasil itu membuatnya menjerit.
Beruntung, pemilik anjing itu datang dan meminta maaf, orang ini tidak lain dan tidak bukan adalah March.
Dari pertemuan itu, mereka menjadi akrab dan semakin dekat, sehingga pada akhirnya hubungan mereka menjadi seperti sekarang ini.
March tertawa kecil.
Naruto penasaran, merasa tertarik dengan yang ada di pikiran istrinya itu.
"Ada apa, March?"
"Ah, enggak, aku cuma teringat pertemuan pertama kita dulu." March menambahkan. "Kalau ini membuatmu lebih baik, Max sudah jarang gigit bokong orang lain lagi."
Naruto (sweatdrop).
"Geez, kau tahu saja cara mengubah moodku jadi buruk, dattebayo."
March cengengesan.
"Hehe, maaf, sayang."
Naruto menghela nafas.
Kemudian, mereka melihat sebuah restoran, lalu melirik satu sama lain.
"…"
"…"
Naruto dan March saling mengangguk.
Mereka berdua masuk ke dalam.
Seorang pelayan datang menghampiri keduanya. Dia menunjukkan senyuman.
"Mari akan saya antar tuan dan nyonya sekalian ke meja kami yang masih kosong," sahut pelayan ini dengan ramah.
Sepasang suami-istri ini tersenyum.
Setelah diantar, Naruto dan March duduk sebelum membuka daftar menu, kemudian membaca itu selama beberapa saat.
"Hmm, kau sudah menetapkan pilihanmu?" tanya Naruto.
"Sudah. Kalau kau?" tanya balik March.
Naruto tersenyum kemudian mengangkat satu tangannya.
Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka.
"Kami pesan…"
Setelah mencatat pesanan mereka, pelayan itu pergi ke arah lain, meninggalkan meja Naruto dan March.
March beralih pada Naruto.
"Ne, Naruto," panggil March.
"Ya, March?" respon Naruto.
March menyengir.
"Aku sayaaang banget ama kamu."
Naruto berkedip.
Naruto terkekeh.
"Begitu pula denganku, dattebayo."
"Tehehehe~"
Tidak perlu waktu lama.
Pesanan Naruto dan March akhirnya tiba. Mereka makan dengan bersih dan tidak berisik.
Setelah habis, keduanya minum sejenak.
[Pemirsa, pada dini hari tadi, polisi setempat….]
Pandangan sebagian orang di tempat ini tertuju pada televisi. Itu menyangkut berita yang sedang ditayangkan.
Namun, entah mengapa, Naruto dan March menatap satu sama lain dengan ekspresi serius.
[…menemukan potongan mayat di daerah sungai. Belum tentu pasti apa motif pelaku melakukan aksi keji ini, tapi dugaan tersirat…]
Setelah iklan mengganti berita ini, aktivitas semua orang kembali normal.
Semua kecuali Naruto dan March. Ekspresi keduanya masih serius.
Hal ini wajar, karena bagi mereka, apa yang mereka dengar tadi ialah…
[Blazer, pada dini hari di garis waktu kota ini, Atrocius dengan kategori B… telah merenggut nyawa seseorang yang tidak bersalah. Tugas kalian adalah mengeliminasi makhluk ini sebelum memakan lebih banyak korban. Sekian dan semoga beruntung]
"…"
"…"
Setelah membayar, mereka keluar dari restoran ini, tidak lupa berjalan berdampingan di trotoar.
"Kita akan lakukan pencarian malam ini. Gimana menurutmu?" tanya Naruto.
March mengangguk.
"Gak masalah bagiku." March menambahkan. "Dan untuk sekarang… kembali pada kencan kita."
Naruto terkekeh.
March berseri.
Pasangan ini menikmati waktu kencan mereka dengan damai.
Malam hari ini.
Naruto dan March menelusuri tempat (yang ada) di berita siang tadi. Khusus kali ini, keduanya mengenakan jam tangan khusus, masing-masing terikat di lengan kiri maupun sebaliknya.
Namun, jika ada (yang menarik) perhatian mereka, yaitu portal ungu di atas permukaan sungai. Itu tak mampu dilihat manusia normal kecuali mereka.
"Dia belum terbangun rupanya," kata Naruto.
"Um, maka dari itu, kita harus menunggu di sini," ujar March.
Naruto mengangguk pelan.
Tidak lama kemudian.
Portal ungu ini berubah warna menjadi biru.
Mereka langsung mengarahkan arloji ke sisi mulut mereka.
"Isis."
"Helios."
Suara mekanik terdengar dari masing-masing jam.
[Synchronize - Book of Element]
[Synchronize - Gauntlet of Light]
Dari ketiadaan, muncul bola cahaya pelangi di hadapan March, itu kemudian redup dan memperlihatkan sebuah buku dengan ukiran huruf kuno di bagian depan halamannya.
Sementara itu, struktur hologram menyelimuti permukaan lengan Naruto, lalu mengambil bentuk penuh berupa sarung tangan besi. Sarung tangan ini berwarna hitam dilengkapi garis-garis sinar emas.
Portal ini berubah menjadi merah.
"Dia datang," kata March.
"Ya, sudah pasti itu," jawab Naruto.
Kemudian, sosok makhluk melompat dari portal, itu mendarat di hadapan Naruto dan March.
Makhluk ini mempunyai bentuk menyerupai ikan dari zaman kuno(cek Dunkleosteus Jyamato). Menyeramkan sekaligus menjijikkan.
Naruto menyipitkan matanya.
"Dunkleosteus, huh?"
March bersiaga.
"Beri aku waktu. 10… enggak, 5 menit."
Dunkleosteus menarik pedang bergerigi dari punggungnya, itu tercipta dari struktur tulangnya sendiri.
Naruto mengangguk.
"Serahkan padaku."
Meraung, Dunkleosteus melompat ke arah mereka, pedang bergeriginya diayunkan saat itu juga. Tidak tinggal diam, Naruto langsung ikut melompat, tanpa ragu melayangkan pukulan ke wajah Dunkleosteus. Karena serangannya kurang cepat, alhasil Dunkleosteus terlempar ke tanah usai menerima pukulan Naruto.
"Burst," gumam Naruto.
Seketika, aura keemasan menyelimuti permukaan tubuh Naruto, memberikan lonjakan energi (yang membuatnya) terdorong cepat ke arah Ostius. Menyadari adanya serangan, Ostius 'tenggelam' ke tanah, alhasil pukulan Naruto hanya mengenai tanah saja. Retakan kecil tercipta dari pukulan lelaki itu.
Naruto mengamati sekitar, dan melihat ada sirip 'berenang' menghampirinya, lalu lenyap begitu saja.
"…"
Banyak ujung tombak mencuat keluar dari tanah. Namun, Naruto menghantam tinjunya ke bawah, menghancurkan semua tombak sebelum bisa melukainya. Tidak hanya itu, Naruto sempat 'menarik' Dunkleosteus dari dalam tanah, kemudian melemparnya ke atas.
Seketika, cincin api muncul dan mengikat Ostius di udara, membakar makhluk ini hingga tanpa sisa.
"Daaaan misi kita selesai."
Naruto menyadari March telah berada si sampingnya.
"Ya, kau benar."
[Completed]
[Completed]
Helios dan Isis lenyap dari kenyataan.
Naruto menguap pelan.
Merasa diperhatikan, dia beralih ke samping, dan melihat March memperhatikan dirinya dengan senyuman.
"Err, ada apa, March?"
March masih tersenyum.
"Enggak, aku cuma berpikir kau sudah jadi Blazer yang berdedikasi tinggi dalam setahun ini."
Naruto terdiam.
Blazer adalah sebutan untuk pembasmi makhluk perusak waktu yang bernama Atrocius. Mereka kebanyakan berasal dari masa depan.
Hanya saja untuk kasus Naruto, dia sedikit unik, karena dirinya merupakan Blazer dari masa kini.
Namun, proses yang dilalui lelaki itu untuk merubah eksistensinya menjadi Blazer, dapat dikatakan tidak mudah.
"Yah, kalau dipikirkan lagi… kau mungkin ada benarnya juga." Naruto menambahkan. "Dan jangan melihatku dengan tatapan itu, March, aku gak keberatan hidup seperti ini."
March meringis.
"Meski kau bilang begitu… jika saja aku lebih kuat waktu itu…"
Naruto mengerti ke mana arah pembicaraan ini.
Enam bulan yang lalu, tepatnya waktu mereka masih bertunangan, Naruto mengajak March pindah ke Jepang kala itu. March menerima ajakan itu karena merasa tertarik.
Setelah berkemas, mereka pergi melalui pesawat, dan pada awalnya perjalanan ini terlihat damai saja.
Akan tetapi, tidak disangka akan ada Atrocius menyerang, alhasil March terpaksa melawan makhluk itu di atas pesawat.
Melalui perjuangan berat, March berhasil mengalahkan makhluk tersebut.
Namun, hal ini harus dibayar dengan kematian Naruto, yang berusaha melindungi seorang anak kecil dari salah satu serangan monster itu.
March yang awalnya dilanda perasaan depresi, merasa kaget saat Naruto tiba-tiba bangkit lagi, bahkan tanpa ada bekas luka sama sekali di tubuhnya.
Namun, keduanya langsung menyadari sesuatu, atau lebih tepatnya objek yang terikat di tangan kanan Naruto. Objek itu adalah [Timeline Cross], benda yang mempunyai fungsi memanipulasi garis waktu, dan penyimpanan data berbagai hal, seperti senjata misalnya.
Maka mulai hari itu hingga sekarang, Naruto memulai pertarungannya sebagai Blazer baru, tentunya dibantu oleh March yang kesenangan bukan main.
Naruto menghela nafas.
"March."
"Ya-mmph?!"
March dikejutkan dengan aksi suaminya.
Meski begitu, dia tidak protes, dan mencium balik dengan gembira.
Setelah cukup, keduanya berhenti berciuman, dan salah satu dari mereka berkata.
"Kau gak perlu menyalahkan dirimu lagi, paham? Yang berlalu biarkanlah berlalu.
"Terlebih lagi, aku sudah cukup puas dengan hidupku yang sekarang, baik sebagai Blazer, atau…"
Naruto tersenyum simpul.
"…menjadi teman hidupmu, untuk sekarang dan selamanya."
"..."
Semburat merah muda nampak di pipi gadis itu. March tersenyum lebar.
"Um, aku mengerti."
Lelaki itu puas mendengarnya.
"Bagus."
March teringat sesuatu.
"Em, Naruto."
"Ya?"
"Kau ingat kejadian saat kau menerima [Timeline Cross]?"
Naruto mengangguk.
"Mustahil aku melupakan itu." Naruto menambahkan. "Maksudku, alasan mengapa aku bisa kembali dari kematian, itu karena [Timeline Cross] memutar ulang waktuku agar aku bisa hidup lagi, kapan saja, dan di waktu mana saja, bukan?"
March mengangguk.
"Soal itu, baru-baru ini aku menerima pesan dari orang tuaku di masa depan, dan bilang kalau mereka lah… yang mengirimkan itu padamu," ungkap March.
"Huh? Bentar... apa?"
"Y-Yeah, aku juga terkejut, tapi mereka menjelaskan kalau ini demi kebahagiaanku jadi… begitu."
Naruto mengelus dagunya.
"Itu… masuk akal, kalau boleh aku jujur," kata Naruto.
"Dan… satu hal lagi."
"Apa itu?"
March tampak canggung.
"Karena daftar Atrocius yang kumiliki sudah semakin sedikit, kemungkinan besar setelah tugasku selesai, aku akan kembali ke masa depan. Maka dari itu…"
"Oh, aku akan ikut."
"…eh, kau serius?"
Naruto mengangkat bahu.
"Orang tuaku meninggalkanku di panti asuhan. Bahkan setelah mereka wafat saat aku sudah berusia 5 tahun, kerabat atau relasi keluargaku gak ada yang mau menampungku.
"Jadi, jika diberikan pilihan antara hidup denganmu di masa depan atau tetap berada di era ini, aku lebih memilih pilihan pertama tentunya."
Merasa senang, dia memeluk Naruto, seerat yang dirinya bisa.
Kemudian, March mengangkat wajahnya sebelum menunjukkan senyum lebar.
"Kau gak akan nyesal tinggal di masa depan! Aku berani jamin itu!"
Naruto terkekeh.
"Aku bisa melihatnya, sungguh."
March ekspresinya cerah.
"Ehehehe~"
END
A/N: Helllooooo reader-san sekalian! Gimana one-shot kali ini? Menyenangkan? Membosankan? Letakkan komentar kalian di tempat seharusnya :D
Meskipun gak main game nya, tapi author suka dengan penampilan karakter di game ini, terutama March, jadinya ya tanpa babibu author buat saja oneshot nya :D
Terakhir…
Sampai jumpa di fanfic one-shot berikutnya :D
{Racemoon: Sign-out}
.
.
.
Millenium City.
Seperti namanya, kota ini merupakan kota futuristik dengan segala kelebihan teknologinya, meliputi sektor mesin, makanan, dan lain-lain.
Di salah satu sudut kota, tepatnya restoran, seorang pria sedang memeriksa layar hologram biru (yang menampilkan) daftar menu. Dia mengamati keluarganya dan memastikan pesanan mereka lagi.
"Cuma ini saja?"
Anak dan istrinya mengangguk.
Puas, dia menggeser layar yang membawanya ke menu pembayaran, kemudian mengetik sejumlah angka beserta melalui layanan apa dirinya akan membayar.
Selesai, keluarga ini melihat layar hologram tersebut berubah menjadi ikon panah, itu bergerak mengikuti arus ikon panah lain dari meja berbeda. Mereka 'pergi' ke server pusat restoran ini.
"Ayah," panggil sang anak.
"Ya, Nak?" respon ayahnya.
"Aku punya masalah dengan penemuan armor Mark-II milikku, bisakah ayah membantuku nanti?"
Sang ayah terkekeh, mengelus kepala putranya.
"Nanti kita kerjakan setelah makan. Ibumu juga akan ikut bantu tentunya, benarkan?"
"Yah, kenapa enggak?"
Ekspresi putra mereka tampak cerah.
"Aku senang punya orang tua seperti kalian."
Naruto dan March tertawa kecil.
