Aku memeriksa ponsel untuk kesekian kalinya hari ini—tidak ada panggilan tak terjawab, kecuali kalau kau menghitung satu dari ibuku, ia meninggalkan pesan yang menanyakan apa aku pernah melihat kalung mutiaranya. Takashi, suami baru ibuku, membelinya untuk ulang tahun pernikahan mereka dua tahun lalu. Maaf, Ibu... aku juga tidak tahu.
Aku menghela napas keras. Jariku menekan nomor di ponsel sambil bertanya-tanya apa aku harus mengirim pesan lagi padanya...
Sebagian kecil dari diriku kecewa karena ia melakukan ini. Aku merasa kecewa—merasa tidak dihormati. Tapi, sebagian besar diriku merasa marah.
Sasori dan aku bertengkar hebat kemarin ketika aku mengatakan padanya, sekali lagi, kalau aku belum siap untuk tidur dengannya. Panggil aku gadis kuno, aku tidak peduli, kami baru berkencan selama dua bulan, dan aku masih tidak yakin dengan perasaanku padanya. Ia menarik, tampan, kaya, lucu, dan cerdas. Tapi apa aku benar-benar ingin bersama seseorang yang akan marah ketika aku menolak untuk tidur dengannya?
Dimana ksatria berbaju besiku—seseorang yang akan menunggu seumur hidupnya hanya untuk bersamaku? Apa dia ada? Apa dia juga sedang bertanya-tanya dimana aku berada?
Aku mulai meragukannya. Aku merasa khayalanku tentang pria seperti itu terlalu tinggi. Ini semua salah Jane Austen...
Aku tiba-tiba teringat Austen tidak pernah menikah. Apa ia juga mengalami masalah yang sama sepertiku?
Aku kembali mendesah—tampaknya mendesah berhasil menghilangkan sedikit ketegangan—dan mengangkat telepon, aku siap untuk meneleponnya. Aku dilemma antara meminta maaf atau membuat lobang baru di pantatnya. Sebelum aku sempat memutuskan hal apa yang harus dilakukan, ponsel sudah berdering di tanganku, membuatku melompat kaget.
Ini telepon dari Ino, sahabat sekaligus orang kepercayaanku. Aku senang ia menelepon—mungkin ia bisa memberiku saran.
"Hey," ia menyapaku. "Apa kau sudah menelepon Si Brengsek itu?"
Aku telah bercerita tentang insiden kecil kemarin padanya.
"Aku baru saja akan meneleponnya," jawabku. "Hanya saja, aku tidak tahu harus berkata apa..."
"Katakan padanya untuk enyah dari dunia ini."
Tuhan mencintai gadis ini. Kecantikannya seperti Aphrodite dan mulutnya sekotor pelaut. Ia benar-benar membuat pria tergila-gila karenanya.
"Kau tidak berpikir aku terlalu berlebihan, kan? Aku tidak ingin terlihat seperti orang gila..."
"Kau terlihat seperti orang gila kalau kau tidak mencampakkannya. Aku serius—telepon dia, sekarang." Benar-benar galak! Tapi, orang seperti dialah yang kubutuhkan pada saat-saat seperti ini.
"Tapi, aku tidak akan punya pasangan ke pernikahan Naruto nanti..." MENYEDIHKAN. Aku tidak perlu mendengar komentar Ino betapa menyedihkannya hidupku.
Aku mendengar napas Ino terengah-engah... dan kemudian ia diam. Tidak seperti dirinya yang biasa. Aku tahu ini lebih buruk...
Jika aku bisa memutar waktu, aku pasti sudah melakukan perjalanan ketiga puluh detik yang lalu dan membuat diriku menutup mulut.
"Sakura," ucapnya pelan, seolah-olah ia berbicara dengan orang keterbelakangan mental, "Aku akan berpura-pura kau tidak pernah mengatakan hal itu. Maksudku, kau benar-benar memilih untuk pergi ke pernikahan dengan bajingan itu dari pada pergi sendirian? Kau bercanda? Maksudku... kau benar-benar bercanda, kan?"
Aku tidak bisa berpura-pura dengannya.
"Bukan itu yang kukatakan. Aku hanya menyampaikan keluhanku—"
"Baiklah, keluhanku adalah kau masih belum mencampakkan Si Sampah itu. Telepon dia, sekarang. Dan telepon aku lagi setelahnya, aku ingin mendengar ceritamu." Ia menutup telepon.
Aku memelototi ponselku. Sial, ia benar. Aku harus melakukan ini.
Aku langsung menelepon sebelum kembali berubah menjadi pengecut. Teleponnya berdering sekali, dua kali... empat kali, kemudian voicemail. Aku marah—apa bajingan ini benar-benar menghindariku?—Dan kemudian, aku meninggalkan pesan.
"Halo, Sasori." Caraku menyebut namanya, seolah-olah aku menyebut sebuah kata kotor. "Segera telepon aku. Kita harus bicara." Aku menutup telepon tanpa mengucapkan selamat tinggal—Ha! Aku bisa melakukannya!
Aku rasa tidak ada yang bisa kulakukan sampai ia menelepon lagi. Aku beranjak dari tempat tidur dan membuat sandwich tuna dengan ekstra acar. Aku menonton Lost and Happy Days sebelum tertidur di sofa, sekantong keripik kentang terletak di dadaku. Ino menelepon lagi, tapi percakapan kami hanya sebentar, karena aku belum punya kabar untuk dilaporkan.
Aku memutuskan untuk beranjak tidur ke kamar dan melupakan Sasori—mungkin ini adalah kejadian putus paling mudah dalam sejarah.
Tapi, aku masih merasa tidak tenang. Aku mungkin akan merasa lebih baik kalau aku memberinya sumpah serapah. Aku benci saat ia berpikir ia lebih baik dariku, brengsek.
Aku mengganti baju, menyikat gigi dan mencuci muka. Begitu kepalaku menyentuh bantal, ponsel langsung bergetar di meja. Aku cepat-cepat mengambilnya dan memeriksa nomor—ini dia.
Hmphf. Ia akhirnya menemukan keberanian untuk meneleponku kembali, hah? Aku menjawab, "Halo." Aku mengucapkan salam dengan tidak antusias—aku tidak ingin ia berpikir kalau aku senang mendapat teleponnya.
"Hei, Sakura," jawabnya. Ia terdengar... bosan? "Maaf, aku tidak mengangkat teleponmu tadi. Aku sedang sibuk."
"Apa ada alasan kenapa kau memutuskan untuk meneleponku di tengah malam begini?" tanyaku sinis.
"Ini belum tengah malam, Sakura... Sekarang masih 21.45." Sial. Aku lupa. Tidak melakukan apa-apa sepanjang hari membuatmu lupa waktu.
"Yah, tapi aku sudah bersiap untuk tidur."
"Baiklah kalau begitu... Aku akan meneleponmu besok."
"Tunggu!" Ia berhenti sejenak. "Aku rasa kita perlu bicara, Sasori." Aku mendengarnya mendesah.
"Baiklah," ucapnya berlambat-lambat dan terdengar disengaja. "Aku rasa hubungan kita tidak berjalan dengan lancar, Sakura. Aku pikir..." Ia mendesah frustrasi. "Aku pikir mungkin kita sebaiknya berpisah dan mencari orang lain."
Tunggu dulu...apa?
"Apa?"
"Aku pikir kita berdua menginginkan hal yang berbeda," ia melanjutkan perkataannya. "Perpisahan mungkin akan menjadi hal terbaik untuk kita berdua."
Aku bisa merasakan panas di wajahku. Aku marah. Berani sekali dia!?
"Tunggu sebentar—kau putus denganku... lewat telepon?"
"Aku sebenarnya tidak mau seperti ini—"
"Apa ini karena aku tidak mau tidur denganmu?"
"Aku tidak pernah mengatakan itu, Sakura. Aku mohon, jangan menuduhku yang tidak-tidak."
"Oh ya, benar, benar sekali. Aku yakin kalau aku tidur denganmu kemarin, kau tetap akan memutuskanku sekarang, kan? Atau mungkin kau akan tidur denganku sekali lagi sebelum putus denganku?"
"Sakura—"
"Ino benar," lanjutku gusar. "Kau bajingan. Aku seharusnya sudah memutuskanmu berminggu-minggu yang lalu." Aku segera menutup telepon. Bajingan...
Aku merasa sedikit cemas. Ia tidak kembali meneleponku untuk meminta maaf... atau memohon-mohon maaf dariku. Dan ini sedikit memalukan, sebagian kecil diriku berharap ia melakukannya... dan ini hanya membuatku lebih marah. Aku segera mengirim pesan ke Ino.
Kau seharusnya senang sekarang. Hubunganku sudah berakhir.
Aku tidak menceritakan detailnya—aku panik mengumpulkan harga diriku yang tersisa sedikit.
Ino membalas pesanku: Itu baru gadisku ;-)
Seandainya saja ia tahu.
Naruto dan Ino membawaku ke sebuah klub malam dihari berikutnya. Mereka bilang ini untuk membantuku melupakan Sasori. Membantuku untuk 'menenggelamkan kesedihan', kalau boleh jujur, kesedihanku lebih terasa seperti marah yang panas membara. Pada gelas keempat minumanku, aku sudah melupakan semua tentang Sasori. Baiklah, aku berbohong, aku baru bisa melupakan sebagian besar tentang Sasori.
Aku bukanlah seorang gadis pecinta kehidupan malam. Aku lebih suka dengan buku-bukuku. Aku menikmati malam yang tenang di rumah dengan segelas anggur dan berkencan dengan novel. Dan aku sebenarnya lebih memilih menonton acara televisi daripada berada di sini.
Aku sadar kalau aku tidak memiliki kehidupan yang menarik, tapi itu cocok untukku. Aku nongkrong dengan Ino dan Naruto, aku berbelanja, aku memasak, aku menghabiskan waktu dengan keluargaku. Aku tidak pernah berhubungan terlalu serius dengan seorang pria, mungkin karena aku belum menemukan seseorang yang benar-benar membuatku nyaman.
Aku selalu dekat dengan Naruto. Kami tumbuh dewasa bersama. Teman baiknya, Kiba dan Shino, selalu menggodaku tanpa ampun karena kehidupan cintaku yang benar-benar minim. Ini adalah alasan utama kenapa aku begitu mengharapkan Sasori untuk hadir di pernikahan Naruto bersamaku—aku ingin membuktikan pada semua orang kalau aku bisa mendapatkan pria tampan manapun kalau aku mau.
Kenapa aku harus melakukan ini? Jujur saja, aku tidak tahu. Aku hanya ingin mereka menutup mulut dan mengakui kesalahpahaman mereka terhadapku.
Tapi, aku tidak yakin mereka benar-benar salah paham tentangku...
Musik dari klub ini terdengar keras dan gelap, meja terasa lengket karena tumpahan cocktail. Aku berkeringat setelah berdansa—Ino menyeretku ke lantai dansa, dan aku bersenang-senang. Sungguh menakjubkan efek dari sedikit alkohol.
Aku bergegas ke kamar kecil. Saat aku kembali, aku melihat Naruto tampak sedikit tertekan, dahinya berkerut. Ketika aku menanyainya, ia menarikku ke samping, ke tempat yang sedikit lebih tenang—meskipun masih tetap memekakkan telinga. Ia menempatkan bibirnya tepat di telingaku dan berteriak, "Aku punya berita buruk—tapi, kau jangan marah."
Oh, tidak. "Ada apa?"
"Sasori di sini."
Sial. Tapi, tunggu dulu—ini bisa jadi berita baik! Mungkin aku bisa menyumpah-nyumpah langsung di hadapannya...
"Aku sedang di kamar kecil dan mendengarnya bicara..." Naruto melanjutkan. "Dia berbicara tentangmu."
Naruto memperhatikan reaksiku dengan hati-hati. Mungkin, ia mengharapkan aku meledak? Aku mengangkat alis. "Oh...?"
Ia hanya mengangguk.
"Lalu? Apa yang dia katakan?"
Ia tampaknya enggan memberitahuku. "Sebenarnya, ia sedang bersama temannya. Sasori bercerita kalau ia tidak berhasil menidurimu, tapi kemudian temannya berkata kalau dia tidak pernah gagal untuk meniduri gadis manapun, dan Sasori membuat taruhan dengannya kalau dia juga tidak akan bisa menidurimu..."
Aku benar-benar... dipermalukan. Dasar bajingan! Aku tidak percaya ini. Aku tahu ia berbohong tadi malam. "Aku tidak mengada-ada, Sakura," lanjutnya... Ha!
Dan apa yang dilakukan Naruto? Apa ia hanya berdiri di sana dan menguping tanpa rasa malu?
"Kenapa kau tidak mengatakan sesuatu padanya?" teriakku. "Pernahkah kau mendengar ungkapan 'bela sahabatmu'?"
"Aku sedang..." ia terlihat malu. Aku memutar mata. Semua pria benar-benar menyedihkan. "Aku memberitahumu agar kau tidak jatuh dalam perangkapnya. Aku akan menendang pantatnya kalau ia menyentuhmu, Sakura." Ia mencoba terdengar tangguh dan mengancam.
Percakapan ini sepertinya menyadarkanku. Aku siap untuk pergi dari tempat ini. "Dimana Ino?"
"Aku pikir dia sedang berdansa..."
"Baiklah, aku mau pulang."
"Jangan biarkan ini merusak malammu, Sakura. Ayo, bersenang-senang lagi! Aku akan membelikanmu minuman..."
Aku menghela napas. "Belikan aku dua gelas."
"Siap, Komandan!" Ia menyeringai dan berjalan ke bar.
Aku duduk kembali di meja lengket tadi, berhati-hati menjaga sikuku untuk tidak menyentuhnya, aku sedang mempertimbangkan untuk kembali berdansa. Aku akhirnya melihat Ino—ia berdansa di tengah-tengah lantai dansa dengan seorang pria tampan. Setidaknya, aku pikir ia tampan. Tapi, aku rasa Ino juga berpikir begitu, ia tidak akan berdansa dengan pria itu kalau tidak tertarik dengannya. Aku merasa tidak enak untuk bergabung. Mungkin aku bisa mengajak Naruto untuk berdansa. Tunangannya, Hinata, sedang berada di luar kota menghadiri sebuah konferensi. Ia tahu kami sudah berteman selama bertahun-tahun—dan hanya berteman. Ia memahami hubungan kami dan tidak pernah cemburu.
Oh, Tuhan, aku mencintai gadis itu. Naruto tidak akan bisa mendapatkan gadis yang lebih baik darinya.
Aku merasa ada seseorang berdiri di belakangku, jarak kami begitu dekat, aku bisa merasakan panas memancar dari tubuhnya. Aku pikir itu Naruto dan aku langsung berbalik, siap untuk menyambar minumanku... hanya saja aku berhadapan dengan sepasang mata hitam legam. Matanya lebih gelap dari kegelapan malam.
Aku memerhatikan wajah tampannya. Rahangnya tajam dan kuat, rambutnya yang berantakan sewarna dengan matanya. Ia mengenakan jeans dan kemeja hitam.
Aku menatapnya sejenak, bingung dengan ketampanannya. Apa manusia biasa bisa setampan ini? Aku tidak pernah tahu ini bisa terjadi... Aku menyadari mulutku sedikit terbuka dan cepat-cepat menutupnya.
Ia menatapku geli, matanya berkilauan saat ia berusaha menahan tawa. Aku merasa malu. Aku tidak yakin apa yang ia inginkan. Sebelum aku sempat menanyainya, ia membungkuk ke telingaku. Aku bisa merasakan panas napasnya ketika ia berbicara, "Hei, aku Uchiha Sasuke. Maukah kau berdansa denganku?" Kata-katanya sederhana, namun sangat lambat dan menggoda...
Aku menarik napas dan bersandar, berusaha menenangkan diri. Pria ini... Makhluk setampan ini... ingin berdansa denganku?
Aku melirik ke arah bar dan segera melihat Naruto. Matanya melebar menatap kami, dan segera setelah matanya bertemu dengan mataku, ia cepat-cepat membuat gestur mengiris leher dengan tangannya. Sebuah peringatan.
Aku mengerti maksudnya. Pria ini adalah teman Sasori...
Aku sangat kecewa. Siapa yang tahu Sasori punya teman-teman yang tampan seperti pria ini? Teman berwajah tampan yang berbahaya untukku. Sasuke masih menatapku, ia menunggu dengan sabar. Ia tidak tahu kalau aku sudah tahu tentang taruhan kecilnya. Aku tidak yakin apa aku harus menerima atau menolak tawarannya untuk berdansa.
Aku memutuskan memilih pilihan kedua. "Aku tidak benar-benar bisa berdansa," akuku.
Ia mengangkat bahu. Senyum bengkok menghiasi wajahnya, dan aku terkesiap. Ia benar-benar tampan.
"Aku melihatmu berdansa sebelumnya," ia berbicara ke telingaku lagi. "Kau terlihat jago."
Aku sejenak melihat sekeliling... apa yang harus kulakukan, apa yang harus kulakukan? Tiba-tiba aku melihat Sasori di bar. Ia bicara dengan seorang bartender, menertawakan sesuatu. Ia kemudian meneguk birnya, dan kemarahan baru hinggap dalam diriku.
Si Brengsek itu. Melihatnya saja sudah membuat kemarahanku terpancing. Aku tidak percaya ia membuat taruhan ini! Tiba-tiba, aku mendapat sebuah ide. Aku yakin ia akan terkejut ketika melihatku jatuh dalam perangkapnya... tentu saja, aku tidak akan pernah tidur dengan pria ini. Pertahanan diriku kuat—dan aku masih bisa mempertahankannya.
Aku bertanya-tanya berapa lama Uchiha Sasuke bersedia menunggu untuk meniduriku. Sasori hanya bertahan dua bulan... bisakah Sasuke bertahan dua minggu saja agar aku bisa mengajak seorang pria tampan ke pernikahan Naruto? Dan mungkin aku juga bisa sedikit bersenang-senang dengannya.
Baiklah, Uchiha Sasuke. Aku ikut permainanmu. Aku sedikit menyeringai, kagum pada kecemerlangan ideku sendiri. Ia kembali mencondongkan tubuhnya ke arahku.
"Kau belum bilang siapa namamu," ujarnya. Oh Tuhan, suaranya...
Aku berkedip—tenang , Sakura! Kenapa ia bisa mempengaruhiku seperti ini? "Haruno Sakura," ucapku, suaraku gemetar.
Ia tersenyum, dan senyumannya sekali lagi mengambil napasku. "Baiklah, Sakura. Bagaimana kalau kita berdansa?" Ia mengulurkan tangannya padaku.
Aku melirik sekali lagi ke arah Sasori, dan keputusanku sudah bulat. Aku berdiri dan meletakkan tanganku di atas tangannya—ada sebuah sensasi aneh saat tanganku menyentuhnya. Aku belum pernah mengalami ini sebelumnya.
Aku tersenyum pada Sasuke, mencoba mengumpulkan percaya diriku. Di suatu tempat, di belakangku, Naruto berdiri dengan mulut ternganga. Aku akan bercerita semua padanya nanti—untuk sekarang, aku sedang menjalankan sebuah misi.
"Tentu saja."
o0o
to be continued
o0o
