A Betting Man

.

Ia menuntunku ke lantai dansa, membimbingku di antara kerumunan tubuh yang berkeringat panas. Tangannya menggenggam erat tanganku. Tiba-tiba ia berhenti dan berbalik ke arahku, dada kami hampir bertabrakan. Aku mengangkat kepala dan menatap mata hitam pekatnya, yang sekarang menatap tajam mataku.

Aku merasa pipiku memerah malu. Apa yang terjadi...? Tidak ada seorangpun pernah membuatku seperti ini sebelumnya. Ia menyeringai. Bisakah ia melihat pipiku memerah di tempat gelap seperti ini?

Tiba-tiba, ia menarikku ke tubuhnya, dan aku terkejut. Tangan kanannya masih menggenggam tanganku saat ia mulai bergerak, dan ia meletakkan tangan kirinya dipinggulku—dan membawaku berdansa. Ia pedansa yang hebat.

Sasuke tidak pernah memutus kontak mata denganku. Aku ingin melihat sekeliling, mencari Ino, tapi aku tidak bisa melepas pandanganku darinya. Matanya telah menjeratku. Ia seperti predator, dan aku mangsanya.

Aku kehilangan sedikit keseimbangan dan hampir tersandung tumitku sendiri—tapi sebelum aku bisa menjauh darinya, ia sudah mencengkeramku lebih kuat, menarikku kembali ke tubuhnya. Aku kembali merasa malu, dan melihatnya menahan tawa.

Aku berjinjit dan mendekatkan bibirku ke telinganya sambil berkata, "Sudah kubilang, aku bukan pedansa yang baik."

Aku menarik napas dan mencium bau musk dan rempah-rempah dan bau khas lelaki. Ia sangat wangi. Aku menjilati bibirku tanpa sadar...

"Kau berdansa dengan baik," jawabnya, caranya berbicara terdengar menggoda. Apa ia sedang berusaha merayuku dengan cara ini? Aku pikir memang begitu—lagi pula, ia juga sedang menjalankan misinya. Aku tidak boleh lupa itu. "Percayalah Sakura, aku sudah memerhatikanmu berdansa dari tadi. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darimu."

Wow. Dasar tukang tipu... aku yakin ia sering mengucapkannya. Ia pasti bukan seorang pemula di permainan ini.

"Terima kasih," gumamku. Aku ragu ia mendengarnya.

"Aku tidak pernah melihatmu di sini sebelumnya—Kau sering datang ke sini?"

"Tidak juga. Hanya beberapa kali."

"Aku rasa, itu baik buatku. Kalau tidak, seseorang pasti sudah merebutmu sekarang."

Dasar bajingan... Baiklah, dua orang bisa bermain di sini.

Aku mengangkat bahu. "Kurasa, aku tidak mudah untuk direbut." Ia mungkin sudah terhasut dengan apa yang dikatakan Sasori tentangku sekarang.

Sebelum ia menjawab, seseorang menubrukku dari belakang. Aku berbalik untuk memelototi orang itu dan aku melihat orang itu adalah Ino. Ia masih berdansa dengan seorang pria berkulit pucat dengan rambut gelap. Ino mengedipkan matanya padaku dan membuat gerakkan dengan mulutnya, "Oh my god..." Ucapannya mengacu pada Sasuke.

Aku menyeringai dan kembali berbalik ke arah Sasuke, aku mendapatinya bertukar pandang dengan lelaki berkulit pucat itu, mereka saling menyeringai. Apa mereka saling kenal? Menarik sekali...

Aku kembali berjinjit, dan meletakkan bibirku sedekat mungkin dengan telinganya. "Kau kenal dia?"

"Ya, dia teman baikku."

Oh, Tuhan. Apa Sasori juga melibatkan Ino dalam taruhan kecilnya? Aku harus memperingatkan Ino...

Setelah berdansa beberapa lagu, kami berdua berkeringat dan terengah-engah. Ini sedikit... 'panas'. Aku tidak benar-benar ingin berhenti, aku menikmati momenku bersentuhan dengan pria asing ini, tapi Sasuke punya ide lain. Ia meraih tanganku dan menarikku ke bar. Aku tidak melihat Naruto maupun Sasori di sana.

"Boleh aku membelikanmu minuman?" tanyanya, ia berdiri sangat dekat denganku. Pikiranku berkecamuk. Oh tidak... apa yang selalu dikatakan Ino tentang menerima minuman dari orang asing? Apa ia sebegitu jahatnya untuk... membiusku... untuk bisa meniduriku dan memenangkan taruhan ini?

Aku berdiri sangat dekat dengannya, dan aku pasti bisa melihat jika ia mencoba menyelipkan sesuatu. Alam bawah sadarku masih berteriak untuk tetap waspada.

"Baiklah. Aku ingin air mineral saja," jawabku sopan.

Ia mengangguk dan menyebutkan pesananku ke bartender—ia meraih segelas air dari bartender dan langsung menyerahkannya padaku. Aku mengawasinya seperti elang, dan tidak melihatnya menyelipkan apa-apa.

Ia juga memesan air mineral untuk dirinya sendiri. Ia berkeringat, dan aku bisa melihat sedikit keringat berjalan turun di lehernya. Dan aku mendadak berkeinginan untuk menjilatnya...

Tunggu sebentar... apa? Tidak, Sakura! Aku memarahi diriku sendiri. Aku butuh pikiran jernih agar bisa menjalankan rencanaku untuk dua minggu ke depan.

Ia meletakkan gelasnya, yang sekarang hampir kosong, di bar.

"Apa kau tinggal di sini, di Konoha?" tanyanya padaku.

"Ya... Tidak jauh dari sini." Sial! Kenapa aku mengatakan ini padanya? Aku yakin ia akan segera mencari tahu tempat tinggalku...

Ia menyeringai. "Bagus sekali." Benarkah? "Apa kau ingin keluar berkencan denganku kapan-kapan?"

Sebagian dari diriku—bagian yang waras dan rasional—berteriak menyuruhku pergi sebelum hal bodoh terjadi. Tapi bagian lain dari diriku, memberi dorongan dan mendesakku untuk mengiyakannya. Dan aku tidak pernah melihat bagian ini dari diriku sebelumnya...

Aku tersenyum genit. Genit!

"Sebenarnya ada sebuah restoran di dekat sini yang sudah lama sekali ingin kudatangi—Ichiraku?" Ichiraku adalah restoran mahal yang terletak di dermaga. Aku sengaja memilihnya.

"Aku pernah ke sana," jawabnya, tidak terpengaruh dengan pilihanku. "Tempatnya sangat bagus. Boleh aku menjemputmu besok malam?"

Sial. Setidaknya aku bisa mendapatkan makan malam gratis dari kesombongannya.

"Hmm... Jam tujuh?"

"Baiklah," jawabnya sambil tersenyum bengkok. Aku harus mengalihkan pandanganku—itu satu-satunya caraku untuk bertahan. Aku menatap gelas yang masih berada di genggamanku. Aku ingin tahu apa Sasori menonton kami dari sudut kegelapan sekarang.

"Bisa kau memberitahuku dimana alamatmu?"

"Oh... tentu saja." Aku mengambil serbet di bar, tapi aku tidak punya pulpen. Aku sudah akan melambaikan tangan ke bartender, namun Sasuke menghentikanku.

"Di sini saja—berapa nomor teleponmu?" Ia menarik ponselnya keluar. "Aku akan meneleponmu agar kau punya nomorku dan kau bisa mengirimkan alamatmu padaku."

Ia benar-benar besar kepala—bagaimana kalau aku tidak akan pernah mengirimkan alamatku padanya? Aku memberinya nomorku. Ia mengetiknya sambil menyeringai. "Baiklah."

Aku melihat ke sekeliling dan menemukan Ino dan Naruto sedang duduk di sebuah meja. Naruto pasti sudah memberitahu Ino tentang apa yang terjadi, mereka berdua melotot marah padaku sekarang. Aku tidak ingin mereka mengacaukan ini—aku harus segera menjelaskannya.

"Aku benar-benar harus kembali ke teman-temanku," ucapku. "Terima kasih untuk dansanya dan err... airnya."

Sasuke tertawa. "Tidak masalah. Senang bertemu denganmu, Sakura."

Aku suka caranya menyebut namaku. Astaga...

"Aku juga."

"Sampai jumpa besok malam, kalau begitu?"

"Ya, besok." Aku tersenyum dan tidak sabar menunggu kencan kecil kami besok.

Aku berjalan pergi. Aku bisa merasakan matanya mengiringiku. Ino terlihat gusar, begitu aku duduk ia sudah langsung membungkuk dan mendesis, "Apa-apaan itu, Sakura?"

Aku mencoba membela diri. "Aku bisa menjelaskan," jawabku buru-buru. Naruto menggelengkan kepalanya tak percaya.

"Ya, cepat jelaskan," Ino mengomel. Ia menyilangkan lengannya dan bersandar, menungguku bicara. Perasaan was-was kembali menyergapku.

"Aku akan menjelaskannya di taksi. Kalian siap untuk pergi?" Aku kembali meneguk air minum... aku mohon, jangan ada racun di dalamnya... tapi tidak mungkin itu terjadi. Aku melihat sendiri bartender menuangkan airnya.

"Ya," Ino mendengus sambil berdiri. "Aku perlu tahu apa yang ada di pikiranmu."

Kami bertiga berjalan ke luar dan memanggil taksi. Kami menjejal masuk—Naruto duduk di depan, Ino dan aku di belakang. Ino segera menerkamku.

"Jelaskan, Haruno."

Astaga... beri aku sedikit ruang untuk bernapas. Aku berhati-hati menatap pengemudi taksi, bertanya-tanya apa aku siap berbagi kegilaan dan kekacauan hidupku dengannya di sini.

"Baiklah, Naruto mengatakan padaku tentang... yah, itulah... kau sudah tahu... tentang Sasori. Dan aku tiba-tiba berpikir... aku mungkin bisa sedikit bermain-main dengan pria tadi. Jadi, aku bisa punya pasangan ke pernikahan nanti..."

Ino memutar matanya. "Apa kau hanya memikirkan itu? Punya pasangan ke pernikahan?"

"Tidak! Maksudku, punya pasangan ke pesta pernikahan mungkin akan menyenangkan..."

"Apa kau akan tidur dengannya?"

"Ino! Kau bercanda? Kau kenal aku."

"Ya, tapi aku tidak pernah berpikiran kau akan melakukan hal seperti ini!"

"Apa masalahnya? Aku hanya akan membiarkannya membelikanku makan malam beberapa kali, bersikap seolah-olah aku tertarik padanya. Kemudian setelah pernikahan, aku akan menendangnya ke pinggir jalan, ke tempat di mana ia seharusnya berada."

"Aku hanya tidak ingin melihatmu terluka, Sakura."

Aku memutar mata. "Jangan khawatir, Ino. Aku tahu bagaimana orang seperti dia... aku tidak cukup bodoh untuk membiarkan diriku terikat padanya. Ini hanya untuk bersenang-senang."

Ino tidak terlihat yakin. Ia menatap tangannya, berpikir... dan kemudian ia tiba-tiba tersenyum lebar. "Kau benar! Kau bisa bersenang-senang dengannya. Kau harus memesan makanan paling mahal di menu! Kau sudah tahu kemana kau akan pergi dengannya?" Kami merasa seperti remaja kembali—Ino berlonjak-lonjak di kursinya dan Naruto memutar matanya.

"Aku rasa ini ide bukan yang bagus," gerutunya.

"Aku sudah merencanakan semuanya," Aku memberitahu mereka dan merasa sedikit jahat. "Kami akan makan malam di Ichiraku... itupun kalau ia bisa mendapat reservasi. Aku tidak tahu. Dan jangan khawatir, Naruto. Ini hanya untuk dua minggu. Aku bisa menjaga diriku sendiri."

"Kalau dia menyentuhmu, segera beritahu aku. Aku tidak akan ragu-ragu menendang bokongnya."

"Aku akan segara memberitahumu," Aku berjanji sambil menyeringai. Aku kembali merasa yakin dengan rencanaku—dan rencanaku tampak jauh lebih baik dengan dua teman terbaikku di sini memberi dukungan. Ini akan sangat menyenangkan.

"Ichiraku—pilihan bagus! Aku baru sekali ke sana. Dan sangat mudah mengeruk isi dompetnya di sana." Ino menyetujui pilihanku.

Aku menyeringai dan menyikutnya. "Jadi, bagaimana denganmu dan Si Pucat?"

Ino menaikkan alis. "Si Pucat?"

"Pria yang berdansa denganmu tadi."

"Oh! Namanya Sai. Dia benar-benar keren—Aku memberinya nomor teleponku." Ia tersenyum lagi, tampak malu-malu. Ini sangat tidak biasa—ia tidak pernah terpengaruh oleh seorang pria dan ia jarang memberikan nomor teleponnya, ia lebih memilih untuk mengambil nomor telepon mereka sebagai gantinya. Dengan begitu, jika ia berubah pikiran di pagi hari, ia bisa langsung membuang nomor mereka dan melupakannya.

Whoa—Sai pasti punya karisma tersendiri. Aku benci untuk mengacaukan harinya, tapi sebagai teman, aku tidak punya pilihan lain. Semua ini kulakukan untuk melindunginya dari perbuatan jahat Sasori. Ia layak untuk diperingatkan.

"Aku benci mengatakan ini, Ino, tapi dia berteman dengan Sasuke. Jadi... berhati-hatilah, oke?"

Ia terlihat bingung. "Siapa Sasuke?"

"Sasuke... pria itu..." aku baru sadar aku belum mengatakan namanya pada mereka.

"Oh!" Ia terlihat sedikit panik, tapi dengan cepat menenangkan dirinya kembali dan memaksa senyuman. "Tidak apa-apa," ia meyakinkanku. "Aku juga bisa menjaga diriku sendiri."

Taksi bergerak ke arah tempat tinggalku terlebih dahulu. Aku keluar dan masuk ke dalam lift, menuju apartemenku. Apartemenku kecil dan nyaman, dengan furnitur senada dan banyak lukisan di dinding. Aku suka lukisan—lukisan adalah satu-satunya hal efektif yang dapat menutupi rasa kesepianku di sini. Kesepian yang selalu berteriak padaku—"Sakura, kau sudah berumur dua puluh empat tahun. Kenapa kau masih belum menemukan pasangan yang cocok untukmu?"

Aku memeriksa ponsel dan melihat sebuah pesan dari Sasuke. Ia mengirimnya beberapa waktu yang lalu—mungkin tepat setelah aku memberinya nomor.

Simpan nomorku, Cantik. Aku akan menjemputmu besok malam jam tujuh tepat, kirimkan saja alamatmu. - Sasuke

Aku tersenyum geli—aku sudah tidak sabar dengan 'kencan' kami—dan mengirim alamatku padanya sebelum melempar ponselku ke meja dapur.

Aku berjalan menuju kamar, dan langsung tidur.

o0o

to be continued

o0o