A Betting Man
.
.
Sasuke's POV
Ponselku berbunyi sekali... dua kali... dan tiga kali. Apa-apaan ini? Aku mengerang dan berguling ke samping, menabrak sebuah tubuh hangat. Seorang wanita. Ia sedikit bergerak tapi tidak terbangun.
Butuh beberapa saat untuk mengingat dimana aku berada. Selimut ini baunya berbeda—seperti parfum—dan terlalu banyak sinar matahari masuk dari jendela. Kamarku tidak pernah seterang ini. Aku kembali menoleh ke samping dan melihat seorang wanita berambut cokelat kusut dan berkulit pucat.
Si Rambut Cokelat—siapa namanya? Hanna, Hikari, Hoshi, Hachiko... sial, aku tidak ingat. Aku tahu namanya berawal dengan huruf H. Oh, Tuhan, aku harus keluar dari sini.
Aku menyelinap keluar dari selimut sehati-hati mungkin dan mulai mengenakan pakaian. Si Rambut Cokelat tidak bergerak lagi—sepertinya ia kecapekan. Ponselku sudah di saku—aku ingin memeriksa pesan masuk, melihat siapa yang mengirim pesan sepagi ini, tapi sebuah suara dalam kepalaku berteriak untuk keluar secepat mungkin dari sini dan memeriksanya nanti. Aku tidak pernah berdebat dengan alam bawah sadarku.
Udara terasa lembab ketika berada di luar. Aku mengembuskan napas lega, dan kembali bernapas dengan tenang. Aku cepat menyadari aku tidak tahu sedang berada dimana sekarang—aku tahu ini masih di Konoha, dan aku berada di kompleks gedung apartemen mewah bertingkat—aku mulai berjalan sambil mencari tahu di mana ini dan kemudian memanggil taksi setelah beberapa saat. Hal terakhir yang kuinginkan adalah Si Rambut Cokelat menjulurkan kepalanya keluar jendela dan menyergapku melarikan diri.
Aku memeriksa pesan-pesan masuk saat berada di dalam taksi. Pesan pertama berasal dari Sakura dan aku menyeringai dibuatnya—ia mengirimkan alamatnya. Hanya itu saja. Tidak ada ucapan 'aku tidak sabar untuk kencan kita besok' atau 'aku sudah tidak sabar menunggumu'. Bahkan ia tidak mencantumkan namanya.
Tidak apa-apa. Sasori sudah mengatakan padaku kalau ia memang sedikit jual mahal. Tapi, ada satu hal yang aku tahu pasti tentang wanita, mereka semua sama—lakukan sedikit usaha untuk mendapatkannya, lalu suapi mereka dengan sedikit omong kosong, dan mereka akan berada di tanganmu dalam waktu singkat. Namun, sepertinya Sasori punya masalah dengan gadis ini, memalukan sekali karena ia sudah benar-benar putus asa untuk menidurinya. Sasori bilang padaku Sakura mengenakan sebuah sabuk penjaga kesucian atau apapun itu. Tapi, harus kuakui—gadis manapun yang menolak Sasori, biasanya dengan senang hati beranjak ke pangkuanku.
Dua pesan lainnya berasal dari dua gadis yang berbeda, keduanya dikirim tadi malam, mereka bertanya dimana aku berada. Kemudian tiga pesan terakhir, dikirim secara berturut-turut, berasal dari Sasori.
Kau sudah menidurinya? - Sasori
Hei, jangan mengacuhkanku karena aku benar. - Sasori
Ayo bayar. - Sasori
Oh Tuhan, Si Dewa Keparat ini benar-benar menjengkelkan. Aku tidak segera membalasnya, tapi sebelum aku menutup pesannya, ia sudah mengirimku satu pesan lagi.
Aku mengerti sekarang. -Sasori
Aku segera membalas pesannya.
Bisakah kau tinggalkan aku sendiri? Kita tidak pernah sepakat untuk aku harus menidurinya tadi malam. - Sasuke
Apa rencanamu? - Sasori
Bukan urusanmu. - Sasuke
Baiklah, aku harap rencanamu berhasil. Semoga beruntung—kau membutuhkan banyak keberuntungan di sini. - Sasori
Aku menghela napas kesal dan berdebat sendiri untuk membalas apa, akhirnya aku sadar itu hanya akan menghabiskan waktu dan mengantongi ponselku kembali.
Aku sudah sampai di alamat yang diberikan Sakura padaku pukul 18.55. Ia tinggal di sebuah kompleks apartemen kelas menengah di pusat kota, bangunannya kokoh dan tidak berlebihan. Kau bisa melihat pemandangan bagus dari sini. Aku memarkirkan mobil, dan bersiap naik untuk menemuinya, tapi sebelum aku mematikan mesin mobil, aku sudah melihatnya berdiri di dekat tempat duduk di depan pintu masuk gedung.
Ia mengenakan gaun merah tua ketat dengan sepatu hak tinggi dan sebuah dompet kecil di genggamannya. Rambut pendeknya tergerai indah. Aku keluar dari mobil dan ia tersenyum ketika melihatku, wajahnya memerah saat mengalihkan pandangannya ke lantai.
Ia benar-benar cantik—aku bisa mengerti sekarang kenapa Sasori berusaha keras untuk menidurinya. Cahaya remang-remang dari klub tadi malam tidak membawa keadilan untuk paras cantiknya. Taruhan ini akan menjadi hal yang paling memuaskan dalam hidupku kalau aku berhasil memenangkannya.
Aku berjalan ke sisi penumpang mobil, ia berjalan ke arahku, dan aku membukakan pintu untuknya.
"Halo, Sakura," sapaku sambil memberikan senyum terbaikku—cara ini biasanya selalu berhasil mempengaruhi gadis-gadis. Tidak terkecuali Sakura. Ia tersipu malu—lagi—dan dengan cepat membuang mukanya. "Kau terlihat cantik."
"Terima kasih," gumamnya dan meluncur masuk ke kursi penumpang. "Kau juga tidak terlihat jelek."
Aku menyeringai menutup pintu, dan berjalan kembali ke kursi pengemudi. Aku mengenakan celana panjang hitam dan kemeja biru gelap dengan dasi dan jas. Ini adalah jenis pakaian yang terlalu sering kukenakan.
Ia menatap tangannya. Ia terlihat gelisah.
"Kau mau memilih lagu?" tanyaku, berharap dapat meredakan kegelisahannya.
Ia menarik napas dalam-dalam, berpikir, dan kemudian menatapku. "Tentu saja," jawabnya sedikit tersenyum. Aku mengambil iPod dari dudukannya lalu menyerahkannya pada Sakura.
Selagi ia memilih lagu, aku berkata, "Jadi, Ichiraku, kan?"
"Ya."
"Kau pernah ke sana sebelumnya?"
"Belum, tapi aku sudah lama ingin mencobanya."
"Aku pikir kau akan menyukainya. Mereka memiliki anggur terbaik di Jepang. Dan pemandangan di sana juga indah."
Ia mengangguk. "Kau punya cukup banyak lagu di sini. The Beatles... Pitbull... Bach?"
"Itu semua tergantung suasana hatiku," aku menjelaskannya dengan mudah. "Bach salah satu favoritku. Musiknya... menenangkan."
Ia kembali mengangguk. "Menenangkan... aku rasa aku butuh sedikit ketenangan sekarang. Ini." Ia menyerahkan kembali iPod ke tanganku dan aku meletakkannya di dudukan, aku sudah siap mendengarkan sebuah melodi lembut dari Bach—tapi yang terdengar adalah sebuah lagu bertempo cepat dan suara berat seorang pria...
Lay where you're laying, don't make a sound
I know they're watching, they're watching
All the commotion, the kiddie like play
Has people talking, talking
Sex on Fire oleh Kings of Leon. Apa-apaan ini? Aku melihat Sakura dan ia menatap lurus ke depan, ke jalanan, ia mengangguk-anggukkan kepalanya sedikit dengan seringai kecil di bibirnya. Aku tidak bisa untuk tidak tersenyum—sepertinya memenangkan taruhan ini jauh lebih mudah dari pada yang kupikirkan.
"Sex on Fire?" aku bertanya padanya, aku merasa sangat geli dan sedikit tertarik.
Ia tersenyum lebar. "Ini salah satu lagu favoritku."
"Aku mengerti."
"Kau bilang aku bisa memilih lagunya. Dan lagu ini ada di iPod-mu."
"Aku tahu, aku tahu." Aku berharap, lebih dari apa pun, tahu apa yang ia pikirkan...
Ichiraku tidak terlalu jauh dari apartemennya. Aku berhasil mendapatkan reservasi, terima kasih, Tuhan—hal terakhir yang kuinginkan untuk memulai hal... ini... adalah membawanya berkencan ke tempat yang bukan menjadi pilihannya. Aku memarkirkan mobil dan keluar membukakan pintu untuknya, aku meraih tangannya dan membantunya berdiri. Saat tangan kami bersentuhan, ada sebuah perasaan aneh menjalariku... sebuah kehangatan lambat mengendap di dadaku. Aneh sekali. Aku juga merasakan ini di klub tadi malam, tapi aku berpikir itu hanya karena aku terlalu banyak minum dan mulai merasakan hal-hal aneh.
Pandangan mataku menjalari sekujur tubuhnya, aku menyukai cara sutra merah membalur tubuhnya dan memperlihatkan sedikit dada atasnya—hanya sedikit sekali belahan dadanya terlihat. Gaunnya sederhana dan menarik, membuatku berpikiran yang tidak-tidak. Tubuhnya bagus. Mudah-mudahan tidak butuh waktu lama sampai aku bisa melihatnya, menjelajahi tubuhnya...
Ichiraku adalah salah satu restoran berbintang lima di Konoha. Restoran ini terletak di dermaga, dan menyajikan pemandangan yang spektakuler. Aku tidak terkejut Sakura memilih tempat ini—ia bukanlah gadis pertama yang memilih restoran mewah, terutama setelah mereka tahu aku mampu membayar makanan di tempat seperti ini, tapi Sakura adalah salah satu dari sangat sedikit wanita yang dapat menemaniku ke tempat ini.
Kebanyakan wanita hanya ingin bersenang-senang denganku di tempat tidur.
Kami duduk dan diberikan menu. Seorang pelayan datang untuk menerima pesanan kami, ia adalah seorang gadis muda yang cantik, dan wajahnya memerah saat menatapku—Sakura memperhatikan reaksinya dan melihatnya hati-hati.
Aku beralih ke Sakura. "Kau mau minum anggur?"
"Ya," jawabnya.
"Pinot Noir? (1)" ia mengangguk, dan aku memesan dua gelas. Si Pelayan cepat-cepat mengambilkan pesanan kami.
Sakura segera mempelajari menu di hadapannya. Aku sudah pernah makan beberapa kali di sini sebelumnya—aku sudah tahu apa yang kuinginkan—aku memutuskan untuk mengamati Sakura, memperhatikan caranya menggigit bibir bawahnya saat ia membaca.
Ia tiba-tiba melirikku, dan menangkapku yang sedang memerhatikannya. Mukanya kembali memerah.
"Ada apa?"
Aku tersenyum. "Tidak ada apa-apa. Kau sudah tahu ingin pesan apa untuk hidangan pembuka?"
"Lobster dan kepiting celup kedengarannya enak."
"Kau benar. Aku sudah pernah mencobanya."
"Oh, benarkah? Apa lagi yang enak? Kau sepertinya sering datang ke sini."
"Favoritku sebenarnya adalah The Ichiraku's Pupu Tower (2)."
Ia kemudian tersenyum lebar, wajahnya terlihat cerah saat ia menganggapku bercanda. Aku hanya bisa menatapnya—senyumnya indah... tunggu sebentar, ia mengolok-olokku?
"Kenapa?" tanyaku, siap membela diri.
"Ucapkan lagi," pintanya.
"Ucapkan apa lagi?"
"Pupu."
Ia memang mengolok-olokku. Setidaknya ia memiliki rasa humor—aku suka ini. Dan ia tidak cekikikan bodoh dengan setiap kata yang kuucapkan—aku juga menyukai ini. Aku memutuskan untuk menggodanya.
"Aku tidak mau," jawabku. "Aku pikir, kau sudah cukup bersenang-senang dengan memperolokku."
"Ayolah... aku mohon? Kau harus mengucapkannya lagi sewaktu kau memesannya."
Seorang pelayan menyela dengan mengantarkan anggur kami. Saat ia bertanya tentang hidangan pembuka, aku menjawab, "Kami pesan lobster dan kepiting celup."
"Apa Anda sudah siap memesan hidangan utama atau masih butuh beberapa saat lagi?"
Aku melihat Sakura—ia terlihat benar-benar kecewa dengan pesananku. Ketika ia menyadari aku sedang menunggunya untuk memutuskan hidangan utama, ia segera duduk tegak dan berkata, "Oh, Tuhan, nanti saja. Aku belum pernah ke sini. Aku butuh beberapa menit lagi."
"Tentu saja," jawab pelayan dan ia bergerak menjauh.
Sakura menyesap anggur, matanya menatapku. "Ini tidak adil," ujarnya. "Aku benar-benar menginginkan hidangan pupu itu."
Aku tersenyum. "Sekarang kau mengucapkannya."
"Mengucapkan apa?" ia bertanya polos.
"Kau tahu apa."
"Maksudmu pupu? Aku sudah mengucapkannya sebelum ini. Itu terdengar... aneh... saat kau yang mengucapkannya."
Aku menyela. "Aneh? Aneh bagaimana?"
Ia mengangkat bahu dan kembali membaca menu. "Aku tidak tahu."
Ia bertanya pendapatku untuk hidangan utama dan akhirnya ia memutuskan untuk memesan Live Maine Lobster. Seorang pelayan kembali mengambil menu kami dan kami tidak tahu harus melakukan apa. Sakura mengambil serbet kain, matanya menatap ke bawah. Aku benci keheningan yang tidak nyaman seperti ini. Waktunya untuk menjalankan sihirku...
"Jadi, Sakura." Aku mencondongkan tubuh ke arahnya, berusaha untuk menunjukkan aku tertarik. "Apa pekerjaanmu?"
Ia dengan perlahan mengangkat wajahnya dan menatapku. "Aku seorang copy editor untuk The Konoha Times," jawabnya. Aku sudah tahu ini—ini salah satu dari beberapa informasi yang kuperoleh dari Sasori di klub tadi malam.
"The Konoha Times—pekerjaanmu berat juga."
Ia mengangkat bahu. "Aku menyukainya. Aku suka mengedit."
"Sudah berapa lama kau bekerja di sana?"
"Lebih dari setahun."
"Bagaimana dengan orang tuamu?"
Ia menatapku hati-hati. "Bagaimana dengan mereka?"
"Apa pekerjaan mereka?"
Ia merenung sejenak sebelum kembali meraih serbet... "Ibuku tinggal di Kiri bersama suaminya Takashi. Dia sedikit selebor, dia senang melakukan banyak hal, tapi tidak pernah serius. Aku pikir sekarang dia sedang mengikuti kursus terapi pijat..." ia mengerutkan hidungnya, mencoba mengingat.
"Ibu dan ayahmu sudah bercerai?"
"Ya."
"Bagaimana dengan ayahmu? Apa pekerjaannya?"
"Dia seorang kepala polisi di Oto."
"Dia tidak menikah lagi?"
"Tidak. Dia tidak terlalu suka... bersosialisasi."
Aku mengangguk dan menyesap anggur—Sakura mengambil kesempatan ini untuk bertanya, "Bagaimana denganmu? Apa pekerjaanmu?"
"Aku CEO di Uchiha Financial Group di Suna."
Ia hanya... menatapku. Ekspresinya tidak terbaca. Lalu ia diam-diam mengangkat gelas anggur ke bibirnya dan menyesapnya dengan sangat cepat. Aku duduk diam, mengamatinya dengan cermat, menunggu tanggapannya.
Ia membersihkan tenggorokannya dan menatap gelas—gelasnya hampir kosong.
"Jadi, hmm... CEO," jawabnya.
"Ya."
"Apa CEO selalu pergi ke klub malam di waktu luang mereka? Itu terlihat sangat tidak profesional." Ia sekarang menatapku dengan jijik. Apa aku melakukan kesalahan? Ia kembali meneguk sisa anggurnya.
"Kau mau lagi?" tanyaku, mengacu pada gelasnya yang kosong.
Ia mengangguk. "Ya."
Aku memanggil pelayan dan memesan dua gelas anggur lagi. Makanan pembuka datang sebelum anggur kami datang, dan kami mulai makan dalam diam. Sakura adalah orang pertama yang kembali bicara.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku."
Sial... Aku memutar otak, mencoba mengingat pertanyaannya... oh benar, tentang klub malam.
"Maksudmu tentang klub?" Ia mengangguk, dan aku mengangkat bahu tidak peduli. "Itulah sebabnya kenapa aku datang ke Konoha... untuk menjaga keprofesionalitasanku. Dan sebenarnya, Sakura," aku kembali mencondongkan tubuhku ke arahnya dan berbicara lembut, "karena aku adalah pemilik perusahaan, jadi aku bebas melakukan apa saja yang kuinginkan."
Aku mendengarnya menarik napas dalam dan bersandar menjauh dariku. Ia kembali menatapku hati-hati. Dia terlihat... gugup?
"Baiklah," ia tergagap, "Aku kira kau benar." Ia kembali meneguk anggurnya... sial, ia harus pelan-pelan minum anggur sebelum aku harus membawanya keluar dari sini.
Beberapa menit kemudian makanan kami datang. Sakura segera menyantap hidangannya, seolah-olah itu adalah makanan terakhirnya. Harus kuakui, sangat menyenangkan melihat seorang wanita memakan sesuatu selain salad.
"Jadi," ucap Sakura, "Kau tinggal di sini? Atau di Suna?"
"Dua-duanya."
"Dua-duanya?" Aku mengangguk. "Jadi, kau berkendara bolak-balik? Kenapa kau tidak memesan kamar hotel saja di sini?"
Aku tersenyum sopan dengan ketidaktahuannya. "Aku merasa lebih nyaman kalau memiliki apartemen sendiri. Lebih terasa seperti rumah."
Ia mengangguk paham. "Jadi, bagaimana dengan orang tuamu?"
Aku sedikit tegang mendengar pertanyaannya—aku tidak ingin mengungkapkan kekacauan dalam hidupku. Tidak dengannya. Tapi aku juga tidak bisa benar-benar menghentikannya, atau ia tidak akan percaya padaku.
Sakura mengawasiku tajam, tidak diragukan lagi, ia merasa bingung dengan reaksiku. Aku menghela napas. "Aku sebenarnya diadopsi."
"Baiklah..." ucapnya perlahan. Nadanya kembali cepat berubah santai. "Jadi, bagaimana dengan orang tua angkatmu?"
"Ibu angkatku, Keiko, adalah seorang dekorator interior. Dan ayah angkatku, Kagami, adalah seorang dokter."
"Dokter apa?"
"Bedah."
"Apa kau punya saudara?"
"Ya, aku punya seorang adik perempuan."
"Apa yang dia lakukan?"
"Dia sedang kuliah di bidang fashion. Dia ingin menjadi seorang desainer."
"Dimana tempat kuliahnya?"
Aku tidak suka ini... Aku lebih suka semua perhatian berbalik padanya. Dia bertanya tanpa henti—dan aku tidak bisa menjawabnya asal-asalan.
"Di Tokyo. Bagaimana denganmu? Kau punya saudara?"
"Tidak. Aku anak tunggal. Bagaimana kau bisa kenal Sai?"
Oh, Tuhan, ia benar-benar tidak mau berhenti bertanya... tunggu sebentar... "Bagaimana kau bisa kenal Sai?"
"Aku tidak mengenalnya, tapi dia bersama teman baikku sepanjang malam."
"Siapa? Si Pirang?"
Sakura melotot ke arahku. Ini sedikit... lucu. Membuatnya marah bisa sangat menyenangkan...
"Namanya Ino," jawabnya galak. Ia kemudian kembali menatapku penuh harap. "Jadi?"
"Kami sudah berteman sejak SMA," jawabku. Ia tampaknya puas dengan jawabanku, lalu ia kembali mencurahkan perhatiannya ke piringnya. Ia hampir menyeka bersih piringnya.
"Kau bilang ibumu dari Kiri dan ayahmu berada di Oto—apa yang membawamu ke Konoha?"
"The Konoha Times," jawabnya cepat. "Dan aku tidak ingin terlalu jauh dari ayahku."
Aku mengangkat alis. "Kau dan ibumu tidak terlalu akrab?"
"Tidak, tidak, bukan begitu, kami akrab," ia meyakinkanku. "Tapi, sekarang ia memiliki Takashi dan sering berpergian... dan ayahku... dia tidak punya siapa-siapa..." Ia tiba-tiba terlihat tidak nyaman, dan ini menarik perhatianku. "Aku tak tahu," gumamnya lagi.
"Aku mengerti," jawabku.
Seorang pelayan datang kembali untuk mengumpulkan piring kami dan Sakura memesan segelas anggur dan sepotong Chocolate Lovers. Hidangan penutup untuk dimakan berdua. Ia terlihat santai sekarang—ia kembali duduk bersandar dan menepuk-nepuk perutnya sambil mengeluh kekenyangan. Tapi, saat hidangan penutupnya datang, matanya kembali melebar.
"Sial," ucapnya keras, sampai-sampai tamu yang berada di meja sebelah kami tampak tersinggung, "Aku pikir aku sudah mati dan pergi ke surga kue."
Aku tertawa. "Mungkin kau harus mencobanya dulu. Kau tahu—jangan pernah menilai kue dari hiasan dan bentuknya." Aku menyerahkan sendok padanya, tapi ia membuatku kaget. Sakura segera duduk tegak, kemudian mencondongkan tubuhnya, dan mencelupkan jarinya di krim cokelat. Dia meletakkan jari di antara bibirnya dan mengerang, kemudian menghisap keras jarinya, matanya terus menatapku.
Oh, Tuhan...
Sial, gadis ini bisa diajak bersenang-senang. Aku yakin ia liar di tempat tidur. Aku sangat bersyukur ia menolak Sasori, karena aku tidak akan pernah rela mendapatkan bekas Sasori. Bagaimana mungkin ia bisa berakhir dengan pria seperti Sasori?
"Oh, Tuhan," erangnya lagi. "Ini sangat enak." Ia kembali meminum Pinot Noir. "Kau tidak mau mencicipinya?" tanyanya polos.
Aku berdehem dan duduk tegak, celanaku mengetat dan aku merasa tidak nyaman dengan ereksiku. Sial, aku harus tenang. Pikirkan sesuatu yang menjijikkan... Sasori... Sasori... Jiraiya... jari kaki berbulu Sai...
Aku mengambil potongan kecil, berharap itu dapat menenangkanku sedikit. Sakura mengawasiku dari dekat, seringai kecil muncul di bibirnya—Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan untuk dapat masuk ke dalam pikirannya sekarang. Apa yang sedang ia pikirkan?
"Bagaimana?" tanyanya sambil tersenyum lebar. Ia mengambil sendok dan kembali memakan kue.
"Mmm hmm," aku mengerang, dua orang bisa bermain di permainan ini. Aku mencondongkan tubuh ke arahnya, memelankan suara, dan berkata, "Rasanya sangat... orgasmik."
Ia menahan napas dan wajahnya memerah. Ia kembali meminum anggurnya—menghabiskan sisanya.
"Kau ingin segelas lagi?" tanyaku sambil menaikkan alis. Mungkin aku harus membelikannya sebotol untuk dirinya sendiri. Ia cepat-cepat menggeleng.
"Tidak, aku pikir sudah cukup."
Kami berdua kembali memakan kue cokelat sampai pelayan datang memberikan tagihan dan aku membayarnya. Selagi menunggu kartuku, Sakura mengambil sebuah gigitan besar kue dan sedikit cokelat berlepotan di sudut bibirnya. Ia sengaja membiarkannya di sana.
Aku berkeinginan untuk menjilatinya. Mungkin kami bisa sedikit bersenang-senang dengan cokelat nanti...
Apa ia mau tidur denganku malam ini? Ia tampaknya tertekan secara seksual... pertama-tama lagu pilihannya dan kemudian foreplay dengan kue cokelat. Apa kemenanganku semakin dekat?
Lidahnya tiba-tiba keluar, menjilati cokelat di sudut bibirnya, aku berkedip cepat dan berpaling sebelum aku ketahuan menatapnya lagi.
Pelayan mengembalikan kartuku. Aku memberinya tip dan kami beranjak keluar restoran. Malam terasa dingin—segera setelah kami melangkah keluar, angin dingin menyerang kami. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya, berjuang untuk menyeka rambut dari wajahnya, dan aku menyadari ia hanya memakai gaun tipis, pendek, tanpa lengan.
Aku melepaskan jasku dan menyerahkannya pada Sakura. "Ini," ucapku.
"Aku tidak kedinginan," ia menolak, dan menggigil.
"Kau pembohong yang payah, Sakura."
Ia memutar matanya dan meraih jasku—aku melangkah ke belakangnya, membantunya memasangkan jas. Jasku kebesaran untuknya—ia hampir terlihat telanjang, gaunnya hanya menyembul sedikit di ujungnya. Ini adalah pemandangan yang menggoda—membuat imajinasiku berputar liar.
"Nanti juga akan hangat di dalam mobil," ia terus berdebat. Untuk apa? Aku tidak tahu... ia sudah mengenakan jasnya. Aku sudah menang.
"Pria macam apa yang membiarkan pasangannya menggigil kedinginan?"
"Pria biasa," jawabnya segera. Kami mencapai mobil dan aku membukakan pintu penumpang untuknya.
Aku masuk ke dalam dan dengan cepat menyalakan mesin dan menyalakan pemanas. "Kalau begitu, kau belum pernah berkencan dengan seorang pria sejati."
Ia mengangkat bahu. "Tergantung pada definisimu tentang pria sejati."
"Oh? Dan bagaimana kau mendefinisikannya?"
Ia menyeringai licik. "Pria sejati tidak akan pernah membiarkan seorang wanita makan terlalu banyak dan minum-minum dalam satu kali duduk."
Aku tertawa. "Kau benar. Lagi pula kau juga tidak terlihat seperti wanita biasa," aku menggodanya.
"Atau mungkin aku terlihat seperti seorang wanita menyedihkan. Tergantung bagaimana kau melihatnya."
"Aku kira aku harus memakai celana longgar di makan malam kita berikutnya."
"Berikutnya?" Ia mengangkat kedua alisnya penuh rasa ingin tahu. "Kau percaya diri sekali."
"Aku hanya berharap," aku mengoreksi dan tersenyum ringan padanya. Ia tampak terkejut pada awalnya, tapi dengan cepat kembali santai dan membalas senyumku.
Kami mencapai apartemennya dan aku memarkirkan mobil. Ia mulai melepaskan jasku, tapi sebelum ia menanggalkannya—atau mengucapkan selamat tinggal—aku sudah mematikan mesin dan melangkah keluar dari mobil. Ia terlihat kaget saat melihatku melalui kaca.
Ia semakin terkejut ketika aku membukakan pintunya. Aku menjulurkan tanganku padanya—ia hanya menatapnya, seolah-olah tanganku adalah hal yang mengerikan.
"Apa yang sedang kau lakukan?" ia bertanya, matanya membelalak. Apa masalahnya?
"Tentu saja aku harus mengantarmu ke apartemenmu."
"Kau tidak perlu melakukannya..."
"Ayolah, Sakura. Memangnya pria macam apa aku ini? Aku tidak akan membiarkanmu membeku di perjalanan menuju apartemenmu, dan aku benar-benar membutuhkan jas itu sebelum aku kembali ke Suna besok."
Ia terlihat ragu, tapi akhirnya menempatkan tangannya di tanganku. "Kau akan kembali ke Suna?" ia bertanya dan melangkah keluar dari mobil.
"Seorang pria harus bekerja, kan?"
Ia tidak merespon, dan kami berjalan berdampingan ke lobi depan apartemennya, aku masih menggenggam tangannya. Ia tiba-tiba terlihat tegang. Aku tidak tahu kenapa. Aku setengah berharap ia mendorongku menjauh segera setelah kami melangkah masuk, tapi ia membiarkanku menemaninya naik tangga, ke pintu apartemen berlabel '2303'. Sesampai di sana, ia berbalik menatapku dan melepaskan jas.
"Baiklah, ini apartemenku," ia bergumam, mendorong jas ke dadaku. "Terima kasih untuk makan malamnya. Hmm—aku akan meneleponmu?"
Ia menemukan lelucon dalam kata-katanya sendiri, ia menyeringai miring ke arahku. Sial. Suasana hati gadis ini berubah-ubah dengan cepat.
"Ya," jawabku.
"Baiklah. Hmm, aku akan masuk."
Sekarang ia terlihat putus asa untuk melarikan diri dariku. Mungkin ini adalah permasalahan Sasori—sial, aku harus berhenti memikirkannya.
Sakura sudah akan berbalik untuk pergi, tapi aku menghentikannya. Ia tidak akan mengundangku masuk, aku tahu itu, tapi aku perlu melakukan sesuatu... "Sakura." Ia berhenti dan menatapku. "Aku benar-benar bersenang-senang malam ini. Terima kasih kau sudah mau keluar untuk makan malam bersamaku." Ia mengangguk dan aku mencondongkan tubuhku ke arahnya, perlahan-lahan, bertanya-tanya apakah aku seharusnya mencium pipi atau bibirnya... bibirku sudah berjarak beberapa sentimeter dari bibirnya... dan aku bisa merasakan sensasi aneh di bibirku. Ia berhenti bernapas—membeku. Aku mencondongkan tubuhku semakin dekat...
Dan tiba-tiba ia pergi, ia menarik mundur wajahnya dengan cepat. "Baiklahakuharuspergiterimakasihbye." Ia berkata cepat dan membanting pintunya di wajahku.
Apa... yang... terjadi...
o0o
to be continued
o0o
(1) Pinot Noir: (baca: Pee-no N'war) adalah minuman beralkohol yang berasal dari anggur merah. Warnanya merah pekat, hampir kehitaman. Pinot Noir sendiri berasal dari bahasa perancis.
(2) The Ichiraku's Pupu Tower: sebenarnya makanan pembuka andalan dari The Palisade Seattle. Terdiri dari teriyaki tenderloin, garlic shrimp, dan crab cakes.
