Fanfiction dedication for the birthday of my dearest Tenten.
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Tak pernah sekalipun dia merasa rendah diri. Dia adalah kunoichi hebat dan satu-satunya yang menguasai berbagai senjata ninja, mulai dari senjata yang umum hingga senjata yang khusus digunakan oleh Rikudou Sennin. Menjadi chuunin diusianya yang baru 16 tahun. Dia juga menjadi salah satu pahlawan dari perang yang merenggut nyawa ribuan shinobi dari berbagai desa, dan yah, dia berada di antara shinobi yang selamat itu.
Tenten menatap pantulan wajahnya di kaca, kulit kecoklatan yang halus, rambut yang mulai panjang dan terkepang diujungnya, iris coklat yang cukup membuat siapapun perlu untuk melihat kearahnya dua kali. Tubuhnya yang juga tidak bisa disepelekan, mungkin ia tidak selangsing Ino, tapi setidaknya dia tinggi. Dan, lekukan pinggangnya juga tidak mengecewakan, terpahat alami dibalik qipao merah ketat dengan rok dibawahnya, sebuah pakaian ninja paling feminin yang pernah ia kenakan, pikirnya.
Tiba-tiba dia menunduk, membiarkan beberapa surai coklatnya terjatuh membingkai wajah cantiknya. Sebuah tawa kecil meluncur pelan dari bibir tipisnya.
"Astaga, apa yang baru saja kupikirkan" gumamnya. Manik coklatnya bergulir ke jendela, dengan cepat kekehan ringan sebelumnya, berganti dengan senyum muram yang sejak tadi dipasangnya. Otaknya memutar kembali ingatan beberapa hari lalu,
"Latihan gabungan?" ucap gadis itu pelan, dan sebelum Hyuuga itu dapat membalasnya, sebuah seruan bersemangat menyambar dari telinga kirinya.
"Itu benar, bunga terataiku yang manis! Bukankah itu hal yang sangat membangkitkan jiwa mudamu!? Aku bahkan sudah tidak sabar untuk melawan Sakura-san dengan tinjunya yang luar biasa! Sayang sekali Naruto-san dan Sai-san masih ada misi bersama, serta Sasuke-san yang masih dalam misi berkelananya. Tapi itu bukan masalah! Tim 7 pasti memiliki sesuatu yang menakjubkan lainnya! Mereka benar-benar hebat—"
"Cukup, Lee" pidato panjang Lee terputus oleh suara Neji yang jelas terganggu.
Tenten tersenyum kecut, sudah bukan rahasia lagi betapa berisiknya Lee—dan bagaimana itu diperparah dengan melihat dua combo Maito Guy-Rock Lee di dalam tim mereka. Apalagi saat ini dia akan melakukan latihan dengan orang yang sudah lama dia sukai, tentu dia menjadi sangat heboh. Diam-diam gadis itu melirik pada satu-satunya partner normalnya, tatapannya melembut, dia hampir tidak bisa melupakan rasa putus asa yang dia rasakan saat melihat Neji sangat dekat dengan kematian pada perang dunia saat itu. Untungnya tim medis, terutama Sakura berhasil melakukan sesuatu untuk membawanya kembali ke dunia.
Lagi-lagi hatinya tercubit dengan fakta itu, jika saja ia memiliki kemampuan yang sama seperti Sakura, ia pasti akan jauh lebih berguna untuk timnya. Jika saja ia berhasil meyakinkan Tsunade-sama sedikit lagi untuk dapat mengangkatnya sebagai muridnya, jika saja ia memiliki kontrol chakra yang lebih baik pada saat itu, jika saja. Jika saja hal itu terjadi, mungkin Neji akan melihatnya dengan baik pada pertemuan pertama mereka, bukannya merasa tidak beruntung ditempatkan dalam satu tim bersamanya. Atau mungkin, senyumnya sedikit mengendur, ia tidak akan merasa se-rendah diri ini untuk melihat timnya berlatih bersama gadis merah muda itu.
Oh, betapa pikiran ini sangat tidak pantas untuk dipikirkan, dia seharusnya merasa senang bahwa mereka akan mengembangkan skillnya bersama seseorang yang diakui taijutsunya oleh hokage ke-lima, sesuatu yang pasti akan berguna untuk mereka bertiga di masa depan. 'Sakura benar-benar hebat, bahkan seseorang seperti Lee juga mengakuinya, Aku yakin, Neji juga memikirkan hal yang sama, meski ia tidak akan mengatakannya lantang-lantang' pikir Tenten.
"—Tenten? Kau mendengarku?"
Suara baritone Neji membawanya kembali pada kenyataan, ia menoleh pada pria itu.
"Maaf Neji, aku tidak mendengarmu, bisa kau ulangi lagi?" Neji mengernyitkan alisnya sekilas, namun ia tidak mempermasalahkannya lagi.
"Kau bisa ikut kami jika kau mau, sebenarnya ini adalah latihan untuk misi kami berikutnya." Ia berkata sambil terus menatap mata coklatnya.
"Misi? Aku tidak ingat kita punya mi—"
"Itu misi untukku, Neji, dan Sakura. Itu misi yang memerlukan 3 Jounin, dan sejak Sakura diangkat menjadi Jounin tepat setelah perang, dan aku sendiri pada 1 minggu lalu, jadi hokage-sama memerintahkan kami untuk melakukan misi itu dengan Neji sebagai ketuanya! Aku minta maaf tidak memberitahumu sebelumnya, dan juga untuk ketidakhadiranmu dalam misi kali ini." Lee membungkuk dalam-dalam. Tenten dengan cepat mengangkat tangannya ke depan dadanya, menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Tidak, maksudku jangan meminta maaf, Lee. Ini bukan salahmu! Sekarang angkat kepalamu!" Tenten menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan, "Kau sendiri tahu bagaimana saat Neji menjadi Jounin, dia jarang mendapat misi bersama kita lagi, dan karena disana kau dan aku masih sama-sama Chuunin, misi bersama masih sering kita lakukan." Tenten mengulas senyum simpul pada pria berpotongan seperti mangkuk itu, "Sekarang kau sudah menjadi Jounin, bukan lagi kewajibanmu untuk terus bersamaku dalam misi sebagai chuunin, oke? Lakukan yang terbaik kalian berdua! Sekarang pergilah berlatih! Sakura pasti sudah menunggu di tempat latihan!" ucapnya riang menepuk pundak keduanya.
"Kau tidak ikut, Ten—"
"Tidak tuan muda Hyuuga, aku akan kembali mengasah senjataku," potongnya singkat seraya mengangkat bahunya, "Sampai jumpa."
Dengan itu, kakinya segera berlalu meninggalkan dua pemuda yang masih menatap punggungnya bahkan sampai ia menghilang dari pandangan.
Tenten tersadar dari lamunannya. Jemari lentiknya bergerak mengembalikan sebuah sisir setelah sepasang cepol sudah tertata rapi diatas kepalanya. Sekali lagi menatap pantulannya dibalik cermin dan menepuk pipinya cukup keras.
"Ayolah Tenten, kau harus semangat. Ada misi yang harus kau lakukan hari ini!" katanya pada dirinya sendiri.
.
.
.
Tenten merasa cukup banyak tertawa lebih dari biasanya. Hirotaka-kun melakukan banyak aksi yang sebenarnya tidak diperlukan untuk menangkap seekor kucing. Tangannya terdapat banyak sekali cakaran dari makhluk berbulu itu, namun senyum lebar tetap setia bertengger di wajahnya yang dipenuhi lumpur. Satsuki-chan, kunoichi kecil dari tim genin yang dibawanya kali ini, merengut pada teman satu timnya tersebut. Sementara anggota lainnya hanya memutar bola matanya, lebih dari sekadar malas meladeni perilaku tidak berguna temannya.
'Dia sangat mirip dengan Neji dulu, bajingan kecil yang sombong,' pikirnya geli.
"Hideo-kun, kau tidak merasa senang sudah melaksanakan misi ini dengan baik?" Tanya Tenten perhatian. Pemuda itu hanya melirik sedikit melalui ekor matanya, tangannya masih tersilang di dadanya. Sebuah helaan nafas kasar keluar dari bibirnya.
"Bisakah kita segera pergi dari sini jika sudah selesai? Aku lelah"
"Hei! Tidak bisakah kau setidaknya merasa senang kita sudah mendapatkan kucing nakal itu? Dasar kepala merah sombong dan tidak berperasaan" sentak Hirotaka. Hideo—si Kepala merah sombong dan tidak berperasaan—segera menatap Hirotaka dengan tatapannya yang tajam. Sebelum kalimat sempat keluar, Satsuki langsung menarik tangan Hideo, mencegah sesuatu terjadi diluar kendali.
"Hei, hei, jangan bertengkar. Nanti Tenten-san marah." Ucapnya lembut, separuh karena takut, separuhnya mencoba memberanikan diri. Tenten semakin tersenyum melihatnya. Tapi kemudian ia sadar bahwa mungkin apa yang menurutnya lucu ini tidak dianggap sama pada mereka, jadi ia segera turun tangan sebelum perkelahian terjadi. Lagipula misi kelas D untuk menangkap kucing milik cucu saudagar emas, terselesaikan dengan baik.
"Cukup, sekarang kita pulang ke desa dan melaporkan kucing ini ke Hokage."
Ketiganya mengalihkan pandangan serentak ke arah Tenten, seraya menganggukkan kepalanya tegas. Kemudian berjalan dengan tenang mengikuti gadis itu.
Perjalanan singkat itu dipenuhi ocehan Hirotaka tentang bagaimana kucing itu mencakarnya, Satsuki yang mendengarkanya sambil mengelus bulunya pelan. Jangan tanyakan tentang Hideo, pemuda itu cukup pendiam selama sisa perjalanan mereka.
Iris coklatnya tiba-tiba teralihkan ke sebuah padang lapangan dengan air terjun kecil di bagian selatan desa. Tempat yang cukup tersembunyi dan tentu sangat strategis sebagai tempat latihan untuk shinobi. Namun, bukan itu fokusnya. Ia memang tidak hafal tempat latihan teman-teman seangkatannya yang lain, selain tempat latihan milik tim Guy. Tapi dengan sekelebatan merah muda dan chakra Hyuuga yang tentu saja sangat dia kenal, dia tahu persis siapa yang sedang menggunakan tempat itu untuk berlatih. 'Mereka terlihat seimbang dari ketrampilan taijutsunya, Neji pasti sama bersemangatnya seperti Lee saat berhadapan dengan lawan yang sepadan.' Ia merasakan sesuatu seperti melilit di perutnya, ia tidak yakin itu apa, tapi yang jelas ia tidak menyukainya. Ia membenci perasaan ini. Ia benci saat ia merasa begitu tidak berguna. Tidak diinginkan. Mereka begitu cocok, jika ada seseorang yang pantas bersanding dengannya, itu haruslah seseorang sekaliber Sakura. Atau, Sakura sendiri.
Memutuskan untuk segera berlalu, ia segera mempercepat langkahnya menuju kantor hokage sebelum keberadaannya disadari oleh mereka, terutama oleh dia. Beruntung para genin itu tidak bertanya apapun terkait perubahan kecepatan lari mereka.
'laporkan ini, lalu pulang' gumamnya dalam hati.
.
.
.
Tenten mengucapkan beberapa kata perpisahan untuk tim genin yang ia pimpin barusan. Mereka melambaikan tangan pada Tenten saat mereka mulai berjalan menuju rumah masing-masing. Gadis itu masih di depan gerbang kantor Hokage, sampai akhirnya sepasang kaki jenjang itu mulai menyeretnya kembali ke apartemen kecilnya di ujung jalan. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan Neji yang berlatih bersama Sakura, entah kenapa hal itu membuatnya sakit. Ia masih yakin bahwa itu perasaan yang wajar sehingga ia menjadi lebih termotivasi untuk bisa maju dan berkembang seperti gadis gulali itu. Tapi kemudian perasaan itu tidak membaik selama berhari-hari kemudian. Mungkin saat ini pemuda itu sadar jika ia menghindarinya selama beberapa hari ini. Ia tidak bermaksud seperti itu, hanya saja tidak ada hal yang bisa mendeskripsikan perasaannya, ia hanya merasa tidak nyaman dengan gagasan bahwa Neji menghabiskan waktunya dengan Sakura. Itu saja.
"Ah, bodohnya aku. Tentu saja karena aku tahu Lee menyukai Sakura, sehingga aku takut kalau-kalau Neji juga menyukai Sakura. Ia akan menjadi rival yang tidak seimbang untuk Lee." Gumamnya geli. Menggelengkan kepala seraya tersenyum bodoh, Tenten kembali melanjutkan perjalanannya.
Tiba-tiba terdengar suara ringan perempuan yang sangat familiar untuknya, dibarengi oleh suara lainnya yang jauh lebih berat. Mereka berjalan pelan dari arah berlawanan, tertutupi oleh beberapa pejalan kaki yang melintas. Ini adalah blok tempat orang-orang berkumpul untuk membeli makanan maupun sekedar berbincang ringan di kedai yang terletak di sepanjang jalan. Memudahkan gadis itu untuk segera melesat pergi tanpa sempat bertegur sapa dengan dua orang yang baru saja terlintas di pikirannya.
Ia melarikan diri
Dengan tangan mencengkram dadanya lebih erat dari biasanya. Sesak.
Jelas bukan karena ia mengkhawatirkan Lee.
.
.
.
Pukul 21.00, tepat tiga jam dari waktu seharusnya ia menyelesaikan misi. Pada kondisi biasanya, ia tidak suka untuk menunda waktu istirahatnya, apalagi sampai tiga jam. Dalam kurun waktu itu, dia pasti sudah selesai membersihkan diri, menyiapkan makan malam, lalu makan malam, membaca beberapa majalah senjata, lalu pergi tidur. Tapi apa yang baru saja ia lakukan? Tenten mengusap wajahnya kasar, membawa kakinya menaiki tangga menuju apartemennya sendiri.
"Kau baru pulang?" sebuah suara baritone mengejutkannya, segera saja ia mendongak, hanya untuk bertemu dengan iris seputih mutiara di depannya. Pemuda itu berdiri tepat di depan apartemennya. Untuk sesaat ia membeku di hadapannya.
"Uh…iya" jawabnya kemudian, ia berhasil menemukan suaranya. Iris coklatnya segera bergulir ke arah lainnya, menolak untuk hanyut dalam bola mutiaranya.
"Sudah berapa lama kau disini? Kau tahu aku selalu meletakkan kunci di bawah keset, kau bisa langsung masuk jika kau mau," Tenten berkata tanpa sekalipun menatap matanya, kini ia disibukkan dengan kunci untuk membuka pintunya.
"Tenten"
"Hm?" ia masih kesulitan membuka kuncinya, entah kenapa tangannya terasa licin dan sedikit bergetar.
"Tenten,"
"Apa Neji? tunggu sebentar ya, aku akan membuka pintu—" perkataannya terhenti saat sebuah tangan menggenggam tangannya sendiri tepat diatas kunci pintunya. Gadis itu berhenti, tanpa sadar jantungnya berdegup kencang saat ia merasakan nafas pemuda itu di lehernya. Punggungnya nyaris membentur dada bidang Neji saat ia berjalan mendekat kearahnya. Ia dapat merasakan surai panjang Neji membelai bahunya, pemuda itu menundukkan kepalanya.
"Kau menghindariku." Ia berbisik pelan nyaris tersapu angin. "Kenapa?"
Getaran pada tubuhnya semakin meningkat, ia bahkan merasa kakinya sangat lemas sekarang. Astaga apa ia terlalu banyak menggunakan chakra hari ini? Tidak tentu saja.
"Huh? Tidak, Neji. Kau bicara apa?" ia memaksakan sebuah tawa sambil terus berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman telapak tangan Neji yang jauh lebih besar darinya.
"Kau bahkan menolak untuk menatap mataku saat ini. Apa… apa aku melakukan kesalahan?" suaranya masih sehalus bisikan, namun terasa lebih getir saat ini. Dengan cepat Tenten memutar tubuhnya menghadap ke arah Neji. Gerakan yang tiba-tiba itu membuat tangan Neji terlepas dari tangannya.
"Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa, tolong jangan berfikir seperti itu." Tenten mengulas senyum simpul, tapi tetap mengalihkan pandangnya ke arah lain. "Masuklah, aku akan membuatkanmu teh panas." Tawarnya pada pemuda itu.
Sebuah jeda mengapung diantara keduanya, Neji masih mencoba menanyakan yang sebenarnya, tapi sepertinya Tenten tidak akan mengatakan apapun lagi. Ia menghela nafas lagi. Tidak ada hal yang bisa ia lakukan selain masuk ke apartemennya.
.
Iris Amethystnya tak sekalipun lepas dari gerak tubuh gadis itu saat ia berjalan mondar-mandir dari lemari penyimpanannya, lalu menuju meja dapur, mengambil ketel yang berisi air panas untuk dituang ke sepasang gelas yang sudah diisi teh hijau sebelumnya. Menambahkan sedikit gula lalu mengaduknya, menimbulkan bunyi denting pelan yang menenangkan pikiran.
Tenten bukan gadis yang lembut, adalah pikiran hampir semua orang yang menemui gadis itu. Perilakunya yang tomboy dan jarang menambahkan polesan di wajahnya yang sering dilakukan gadis seusianya untuk mempercantik diri. Rambut yang hampir tak pernah lepas dari sanggul kembarnya, cukup menjelaskan bahwa pemiliknya adalah orang yang efisien dan membenci segala sesuatu yang merepotkan.
Tapi Neji bukanlah bagian dari orang-orang itu. Bahkan, saat ini ia menemukan bahwa gestur memutar sendok dalam gelas berisi teh dapat begitu menarik perhatiannya lebih dari apapun.
"Tehmu, Neji" Tenten meletakkan gelas itu di hadapannya. Menggumamkan terimakasih, ia mulai menyesapnya sedikit. Begitupula Tenten. Keheningan kembali menyelimuti keduanya.
"Jadi—"
"Jadi—" keduanya terperanjat saat mengucapkan kelimat itu bersamaan. Tenten terkekeh ringan, "Kau duluan, Neji"
"Tidak, kau duluan saja" jawabnya cepat.
Tenten meringis pelan, tangannya melingkari gelasnya sendiri, mengulum bibirnya sejenak sebelum bersuara.
"Bagaimana pelatihannya? Apakah menyenangkan?"
"Hn, biasa saja"
"Hanya itu? Mustahil, kau berlatih taijutsu dengan salah satu pengguna yang luar biasa, seharusnya ada sesuatu yang membuatmu terkesan dengan itu!" ucapnya tegas.
"Yah, itu hanya latihan. Untuk meningkatkan kemampuan. Bukan berarti aku belajar sesuatu dari awal lagi." Neji mengangkat sebelah alisnya, tampak bingung. Seolah ia bertanya reaksi apa yang kau harapkan dariku?
Tenten menatapnya tak percaya, bagaimana mungkin itu biasa saja saat ia saja tadi terlihat bersemangat saat latihan. 'Yah, walaupun mungkin pemuda itu juga menunjukkan wajah yang sama saat berlatih bersamaku, sih'. Itu berarti selama ini Neji menganggap latihan mereka sama 'biasa saja'nya dengan latihan dengan Sakura. 'Tapi, mereka pulang bersama juga tadi. Ia dan Neji juga kerap pulang bersama setelah latihan selesai' pikirnya kecut. Tidak salah lagi, ia tentu saja memperlakukan perempuan sama baiknya seperti itu.
"Kau kehilangan fokus lagi" kali ini Neji benar-benar menatap matanya dengan tatapannya yang tajam, "Tenten bisakah kau berhenti menghidariku? Jelaskan sebenarnya kau kenapa?"
Tenten tertegun, lalu berdehem untuk membersihkan tenggorokannya. Ia menenangkan dirinya sejenak, sebelum membalas tatapan mata yang tersorot penuh kearahnya.
"Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak menghindarimu. Kenapa kau berfikir begitu?"
"Kalau begitu, aku harap kau punya alasan yang bagus mengapa tadi kau berlalu begitu saja dari lapangan latihan. Lalu, saat perjalanan pulang, aku melihatmu memutar arah begitu kau melihatku dekat denganmu. Jangan mengelak, kau tahu aku memiliki jangkauan yang cukup jauh, apalagi hanya untuk mendeteksi chakramu." yang terlampau familiar bagiku, lanjutnya dalam hati.
"Aku harus segera melaporkan misi kepada hokage."
Kali ini giliran Neji yang tertegun, "Misi? Kenapa kau tidak memberitahukan apapun pada—"
"Oh ayolah Neji, berhenti mempersulit sesuatu. Itu hanya misi kelas D untuk menemani tim genin menemukan seekor kucing. Apa aku harus melaporkan semuanya padamu? Walaupun itu misi yang sangat mudah?" setiap kata yang meluncur dari bibirnya terasa tajam, bahkan ia mulai merasakan gejolak marah yang entah bagaimana membakar dadanya, "Lalu, tadi, aku belum makan malam. Jadi aku berfikir untuk mampir ke kedai untuk mengisi perutku. Apa aku benar-benar harus melaporkan ini juga padamu?" intonasi suaranya memelan, namun tidak mengurangi ketajaman setiap kata yang ia keluarkan.
"Tenten, kau tahu bukan itu yang aku bicarakan disini." Kalimatnya menajam, "Aku tidak tahu mengapa kau sulit sekali ditemui akhir-akhir ini. Jadi begitu aku merasakan chakramu di dekat lapangan tadi, aku berfikir untuk mengejarmu tapi kau sudah melarikan diri, begitu juga saat dijalan." Iris amethystnya melembut.
"Aku mengambil banyak misi." Jawabnya datar dan tenang. Seolah badai ketegangan yang sempat bergemuruh tadi, lenyap begitu saja. Neji baru akan membuka mulutnya sampai gadis itu membungkamnya kembali "Dan sebelum kau menembakiku dengan pertanyaan 'kenapa'mu yang tak berujung itu, aku akan dengan senang hati menjelaskan bahwa aku perlu ini untuk meningkatkan kemampuanku dan peluangku untuk naik tingkat menjadi jounin. Apa kau puas sekarang?"
Neji masih menatapnya dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya, namun tak ada kalimat apapun yang keluar dari bibirnya. Gadis itu memutus kontak matanya, menghembuskan nafas yang tanpa sadar ia tahan sejak tadi, bahunya turun, ia dapat merasakan tangannya kembali bergetar namun sekuat tenaga ia menahannya. Ia bukan orang yang lemah, ia tidak akan meneteskan satu tetespun air mata di hadapan rekan satu timnya tersebut.
"Dengan menjadi jounin, aku tidak akan lagi membebani kalian berdua untuk terus menemaniku dalam misi. Kalian bisa memilih partner kalian sendiri, tanpa merasa bersalah karena meninggalkanku, —m-maksudku, tentu saja partner yang sesuai dengan kapasitas kalian berdua, kau dan Lee." Ujarnya pelan, kini ia mulai beranjak dari tempat duduknya, mengambil gelasnya dan Neji yang sudah kosong untuk bergerak menuju wastafel. "Lagipula itu tidak buruk bukan? Sejak dulu kau mengharapkan untuk memiliki seseorang yang setingkat denganmu untuk menjadi anggota tim mu, yah, aku tahu aku sudah banyak berkembang sejak Genin, tapi hei! Ini Sakura! Seorang Haruno Sakura, heroine dalam perang dunia shinobi! Bahkan ia yang menyelamatkanmu waktu itu Neji. Aku yakin itu bukan misi yang mudah dengan menempatkan kalian bertiga, jounin jenius, di tim yang sama."
Masih belum ada jawaban apapun dari lawan bicaranya, ia kembali melanjutkan untuk mencairkan suasana. Tangannya penuh sabun saat ia meremas busa pencuci piring itu.
"Nee, kau belum menceritakan soal Lee, bagaimana dia? Apakah masih seheboh dulu saat bertemu dengan cinta pertamanya? Semoga ia tidak mengacau dan membuatmu maupun Sakura kewalahan, meski aku tidak yakin." Sebuah kekehan ringan meluncur begitu saja, membayangkan rekan anehnya itu sangat bersemangat saat berlatih dengan Sakura. Ia bersenandung saat gelas terakhir sudah ia keringkan di handuk yang menggantung. Tak lama, ia mematikan kran air dan memutar tubuhnya menghadap seseorang seharusnya masih duduk di kursi meja makannya.
Gadis itu terperanjat saat merasakan tubuhnya tak kurang dari sepuluh senti di hadapannya. Iris coklatnya bahkan tak berani untuk sekadar mendongak untuk bertemu manik amethyst miliknya, tangannya terangkat setinggi dadanya, menahan berat pria itu saat ia mencondongkan tubuh ke depan, menjulurkan kepalanya, melewati wajahnya, dan berakhir di telinganya. Tenten tercekat, tanpa sadar menahan nafasnya, ia memejamkan matanya.
Neji memandangi gadis di bawahnya, ia sangat ingin merengkuhnya, membawanya ke dalam pelukannya, membisikkan kata bahwa ia sangat ingin membawanya pada setiap misi yang ia ambil, terlepas dari apapun perbedaan tingkat mereka, bahwa ia menikmati setiap waktu yang ia habiskan bersama gadis itu baik saat latihan maupun saat tidak ada kegiatan yang berarti, bahwa ia berharap bisa menggantikan posisi Sakura dengannya, ia mengakui kemampuan gadis merah muda itu tentu saja, tapi jika itu berarti membuat Tenten merasa terasingkan, ia akan dengan senang hati pergi mencari kucing bersama gadis itu, daripada melakukan latihan gabungan yang hampir membuatnya gila karena Tenten jadi menjauhinya. Tanpa sadar Neji mengencangkan rahangnya, bagaimana bisa gadis itu masih mengingat ucapan bocah laki-laki sombong yang bahkan tidak bisa berfikir dengan jernih pada saat itu. Jika ia diberi kesempatan untuk kembali ke masa awal pembentukan tim genin mereka, ia pasti akan melakukan perkenalan dengan benar kali ini.
Alih-alih melakukan semua hal yang berputar di kepalanya, Neji menjatuhkan kepalanya ke pundak kecil Tenten.
"Neji? Kau baik-baik saja?"
"Kau?"
Tenten mengerjap, tidak paham dengan kalimat Neji. "Huh?"
"Bagaimana denganmu?" jemarinya bergerak dari pinggiran meja ke arah pinggang rampingnya, menyentuhnya selembut kapas. Tenten terdiam, tak ada satupun dari mereka yang bersuara, sampai akhirnya kalimat Neji menggantung kembali di udara. "Apa kau baik-baik saja?"
Hancur sudah pertahanan gadis itu.
Ia menunduk saat merasakan bulir panas mengalir di pipi putihnya.
"Tidak, aku, aku," mencoba menghentikan isakan yang terdengar konyol, ia bergerak menghapus air matanya yang terus menetes.
Neji merengkuhnya dengan kuat sekarang, membenamkan wajah gadis itu di bahunya. Meyakinkannya bahwa ia ada disini, dan akan selalu seperti itu.
"Itu bukan perasaan yang seharusnya kumiliki, aku tahu. Tapi, dia memiliki semuanya, Neji. Orang tua yang menyayanginya, menjadi murid Tsunade-sama saat aku berusaha keras untuk mendapatkan posisi itu, menjadi pahlawan perang dengan semua rekam jejak menakjubkannya, dan, dan disaat aku berfikir aku masih bisa menahannya," Tenten menarik nafas panjang, dalam upaya mencegah isakannya keluar, "Dia, kalian, misi bersama," tangisannya semakin kencang, ia menggigit bagian dalam bibirnya. "Tidak bisakah dia menyisakan sedikit harga diri untukku? Tidak adakah? Apa karena, itu hanya aku? Seseorang yang tidak pantas menerima kebanggaan apapun?"
Tenten menumpahkan semuanya di baju Neji, semua pikiran jahat yang tidak seharusnya berada di otaknya setelah bertahun-tahun berteman baik dengan kunoichi medis kebanggaan Tsunade itu. Ia bahkan tidak sadar berapa lama ia menangis, gadis itu yakin matanya membengkak dan baju Neji pastilah sangat basah sekarang. Tapi, meski begitu tangan lembut Neji masih setia mengusap punggungnya. Ia juga merasakan bagaimana bibirnya menyapu puncak kepalanya dengan sentuhan seringan bulu angsa. Pemuda itu memang tidak pandai dalam berkata-kata, ia lebih suka menunjukkan kepeduliaannya dengan perilakunya. Seperti yang ia lakukan saat ini.
Neji merasakan bahunya memberat, saat dia melirik sedikit dari balik bahunya, ia menyadari bahwa Tenten tertidur. Ia pasti sangat lelah hari ini, baik fisik maupun mental. Dengan perlahan ia mengangkat gadis itu menuju tempat tidur miliknya di dalam kamar. Ia menaruhnya dengan hati-hati diatas bantal, sangat pelan supaya ia tidak bangun. Setelah itu ia mengambil selimut dan menyelimutinya. Manik amethystnya menatap sosok yang tertidur itu dengan tenang, menangkap bagaimana guratan kecil terbentuk di dahinya, sisa air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Jemarinya bergerak untuk menyekanya, lalu kembali menatapnya dengan tenang. Kamarnya hening dan gelap, hanya disinari oleh cahaya bulan yang menyorot lurus dari jendelanya. Neji mengambil sebuah kursi kecil di sebelah nakas, dan duduk tepat di pinggir tempat tidur Tenten. Memejamkan matanya sejenak, sebelum bibirnya bergumam pelan,
"Aku tahu kau memperhatikan sejak tadi, Lee"
Seorang pemuda berambut seperti mangkok, tampak menyembul dari balik pintu kamar. Senyum bodoh yang selalu dipasangnya, menghilang entah kemana. Raut wajahnya tidak bisa ditebak, tapi yang jelas, suasana hatinya sepertinya tidak baik.
"Aku benar-benar teman yang buruk, 'kan?" Lee berkata pelan, "Aku bahkan tidak memahami perasaan teman satu timku sendiri."
Manik bulatnya mengedar ke sekeliling ruangan, terdapat beberapa gulungan misi dari berbagai kategori, mulai D, C, B, hingga A. Beragam jenis senjata berserakan di lantai kamarnya, beberapa pakaian misi tergantung begitu saja di gantungan. Lee yakin bahwa itu adalah baju yang belum kering setelah ia cuci dari misi sebelumnya, dan besok ia akan mengambil misi berikutnya secara beruntun. Sekali lagi ia memusatkan perhatiannya pada rekannya di atas tempat tidur, terdapat beberapa bekas luka dan juga memar di sepanjang tangan dan kakinya, kantung mata tebal yang bersarang di bawah matanya. Bagaimana bisa ia melewatkannya selama ini.
Hening menyelimuti mereka lagi. Tak ada satupun dari mereka yang bersuara. Rock Lee, pemuda yang berdiri di depan pintu, tetap setia mematung di tempatnya. Ia memang berniat mengunjungi Tenten untuk mengajaknya makan malam di Ichiraku seperti biasanya, namun karena beberapa hari ini ia sibuk menyempurnakan latihan gabungannya bersama Neji dan Sakura, ia baru sempat meluangkan waktu sekarang. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu masuk yang terhubung dengan ruang makan, telinganya mendengar sebuah isak tangis, dan saat ia mendekat untuk mendengarnya lebih jelas. Lee sadar bahwa temannya sedang tidak baik-baik saja.
Terdengar helaan nafas lembut yang membuyarkan lamunan Lee, ia menatap Neji. Pemuda itu memaku pandangannya pada Tenten. Sudah dari lama ia menyadari bahwa kedua temannya ini memendam perasaan satu sama lain, tapi keduanya sama-sama bungkam. Oh, itu sangat menyebalkan kau tahu? Melihat dua temanmu yang sama-sama keras kepala, namun juga gengsi. Mungkin nanti setelah misi, ia akan mengatur rencana untuk membenturkan kepala mereka saat latihan. Siapa tahu itu berhasil.
"Kita harus pergi sekarang," gumam Neji pelan. Tanpa menunggu jawaban Lee, ia segera melangkahkan kakinya keluar ruangan setelah membenarkan selimut Tenten. Pemuda berpotongan mangkok itu mengangguk pelan, tapi sebelum menyusul Neji, ia sedikit membenahi gulungan dan beberapa senjata yang berceceran tanpa menimbulkan suara yang akan membangunkan rekannya. Setelah itu ia menatap sekali lagi pada Tenten,
"Kau kunoichi yang hebat, Tenten. Tolong jangan menganggap rendah dirimu. Bagaimanapun, aku lebih suka mengerjakan misi denganmu, dengan rekan satu timku. Meski Sakura hebat, tetap saja kunoichi tim Guy adalah kau, Tenten." Lee terkekeh pelan. Senyumnya mengembang selama beberapa saat. Kemudian ia berbalik dan menutup pintu kamarnya pelan.
Lee dan Neji berjalan keluar dari tempat tinggal Tenten, setelah mengunci pintu mereka segera kembali ke tempat masing-masing. Besok pagi mereka sudah harus pergi untuk menjalankan misi terkutuk itu. Semoga saja bisa cepat selesai.
Pintu telah tertutup. Setetes air mata kembali jatuh dari pelupuk matanya, diikuti sebuah helaan nafas.
.
.
.
Beberapa bulan kemudian,
Suara bermacam proyektil tajam berdentingan di udara. Seorang shinobi spesialis senjata tengah melakukan sesi latihan solonya lagi kali ini. Rekan satu timnya masih dalam perjalanan pulang dari misi rank-S. Tidak ada yang tahu apa saja yang mereka hadapi disana. Gadis itu berharap bahwa semuanya baik-baik saja, baik rekan satu timnya maupun gadis merah muda favorit Lee itu. Jika sesuai dengan jadwal kepulangan mereka, seharusnya mereka tiba 2 hari lagi, tepat di depan gerbang perbatasan Konoha.
Cuaca hari ini cukup dingin, terlihat asap putih mengepul seiring dadanya yang naik turun untuk menstabilkan detak jantungnya yang meningkat karena latihannya barusan. Tenten menghentikan sesi latihannya, kakinya berjalan menuju ke bawah pohon rindang tempat ia meletakkan tasnya. Mengambil salah satu gulungannya, dan mulai mengeluarkan sebuah botol minum. Ia menghabiskan airnya sambil terus bersenandung, manik coklatnya kini menatap ke arah langit. Awan putih bergerak perlahan di sepanjang cakrawala.
"Sebentar lagi pasti hujan, mungkin sebaiknya aku pulang." Gumamnya sembari membereskan senjata yang berserakan di sepanjang lapangan latihan.
Ditengah kegiatannya mengumpulkan peralatannya, kepalanya memutar lagi kejadian beberapa bulan lalu di apartemennya. Momen dimana ia menumpahkan semua perasaannya yang menumpuk selama ini. Oh astaga, itu benar-benar memalukan. Ditambah fakta bahwa Lee juga mendengarnya. Ia tidak bisa lebih malu lagi dari ini. Tenten sebenarnya yakin bahwa Lee tidak menyadari dia masih setengah bangun saat mendengar kalimat terakhirnya sebelum dia benar-benar pergi. Tapi, tetap saja,
"Mereka berdua mendengarku menangis dengan konyol. Dengan alasan yang lebih konyol lagi." Mencoba untuk tidak meringis atas kebodohannya, Ia kembali memunguti senjatanya. "Untung saja aku tidak mengatakan apapun tentang bagaimana aku tidak nyaman melihat Sakura bersama Neji," ia merasa pipinya menghangat, sial.
Tenten hendak mengambil kunai terakhir yang ia jatuhkan di dekat sungai, sampai sebuah suara benar-benar membuat jantungnya merosot ke perut.
"Memangnya kenapa denganku dan Sakura?"
Kami-sama telan dia sekarang juga.
"A-ah Neji, senang melihatmu lagi. Bagaimana dengan misinya? Sukses?" Tenten mengambil waktu sebelum berbalik ke belakang, ke tempat seorang pemuda berdiri dengan penampilan yang tidak bisa dibilang baik. "—Oh astaga! Kau sudah ke rumah sakit? Bagaimana bisa kau berdiri disini sementara kau punya beberapa luka yang harus ditangani!?" cecar Tenten panik. Tunik putih yang biasa digunakan Neji hampir kehilangan warnanya oleh warna darah yang sudah mengering, dahi yang dibalut perban, dan beberapa bagian lainnya.
Neji mendengarnya, tapi menolak mengalihkan pandangannya sedetikpun dari Tenten. Amethystnya menusuk tepat di iris madu milik gadis itu.
"Itu sudah ditangani dengan baik," jawabnya mengacu pada beberapa luka di tubuhnya, "—oleh Sakura selama misi berlangsung" lanjutnya kemudian. Iris amethystnya tidak melewatkan apapun, termasuk sinar matanya yang meredup sesaat setelah ia menyelesaikan ucapannya. Sebuah seringai tipis, sangat amat tipis, menarik ujung bibirnya.
"Ah, syukurlah kalau begitu. Sekarang, lebih baik kau pulang ke kompleks Hyuuga dan membersihkan diri, lalu istirahat. Tidak ada yang harus kau lakukan setelah ini, bukan?"
"Sebenarnya ada"
Tenten mengerutkan kening. Tidak biasanya setelah misi Tsunade-sama akan memberikan misi lagi.
"Misi lagi?"
"Apakah di matamu aku hanya orang yang hidup untuk misi dan tidak melakukan hal lainnya?"
Gadis itu mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Ok, pasti Neji telah membentur sesuatu yang sangat keras selama perjalanan.
"Entahlah?"
Neji membuang nafasnya kasar, perlahan ia berbalik untuk pulang. Tenten berniat mencegahnya dan mengatakan bahwa ia hanya bercanda, tapi suara Neji mengambang lirih,
"Aku ingin mengajakmu makan malam." Lirih, sangat lirih, hingga seperti bisikan. Tubuhnya masih menghadap belakang, menolak bertemu pandang dengan gadis bercepol dua yang menatapnya kaku. Rona merah menjalar dengan cepat di sepanjang kulit pucatnya, bahkan ia merasakan panas hingga ke belakang telinganya.
Tenten membeku, masih memproses apa yang baru saja didengar telinganya. Dia berharap dia salah dengar sehingga ia akan menyalahkan imajinasinya yang tidak seharusnya merealisasikan mimpi siang bolongnya. Tapi melihat rona merah menjalar sampai belakang telinga pemuda itu. Jelas ia tidak salah dengar, ya, ini bukan salah telinganya. Tapi salah Hyuuga bodoh itu, dan kalimatnya yang tidak lebih bodoh darinya.
"Apa, Neji? Bisa kau ulangi?" Tenten, apa kau bisa lebih pintar lagi dalam mengajukan pertanyaan? "N-Neji, kau—"
"Bunga mudaku yang indah! Tenten! Oh, kau sungguh tidak akan percaya bagaimana aku bisa melewati misi yang penuh semangat masa muda ini!" seseorang berlari dengan posisi handstand tak jauh dari mereka berdua. Suaranya yang menggelegar memecah suasana damai beberapa saat lalu. Neji memejamkan matanya untuk menahan gejolak melemparkan tinju lembutnya pada setiap titik chakra di tubuh Lee, sedangkan Tenten melepaskan tawanya melihat pemandangan itu.
Saat pemuda nyentrik berpakaian spandex hijau sampai di hadapan mereka berdua, Tenten menyadari bahwa penampilannya tidak jauh berbeda dari Neji. Kotor, berdebu, dan penuh noda darah yang sudah mengering. Hatinya menghangat, seulas senyum simpul terbit di bibirnya.
Mereka baru saja sampai, dan langsung bergegas menemuinya. Bahkan tidak terlihat tanda-tanda bahwa mereka membersihkan diri sama sekali.
Iris coklatnya bergulir pada Neji, bertanya-tanya mengapa pemuda itu bisa sampai terlebih dahulu sebelum Lee. Padahal Ia sangat yakin bahwa Neji bukan orang yang suka terburu-buru seperti rekannya yang lain. Tanpa sadar rona merah samar menghiasi pipinya, namun senyum masih setia terpatri di bibirnya.
"Jadi, bagaimana kabarmu saat kami tidak ada? Apakah kau merindukan kami, Tenten?" Tanya Lee antusias seperti biasa.
"Tentu saja aku merindukan kalian!" senyumnya tergantikan oleh seringai nakal di bibirnya, "Kau bisa bayangkan seberapa sepinya padang latihan ini tanpa push-up 1000x mu itu, Lee."
Pemuda itu memasang wajah bangga dan pose 'nice guy' andalannya, "Yosh! Untuk merayakan kembalinya aku dan Neji dari misi penuh semangat masa muda itu, kita akan makan malam bersama!"
Neji memelototkan matanya tidak terima, dia baru saja akan menyemburkan protesnya, sebelum Tenten kembali memotongnya.
"Bukan hanya itu," ucap kunoichi itu dengan seringai lebar di bibirnya, kedua rekannya menatapnya dengan dahi berkerut, bertanya-tanya maksud kalimatnya barusan. Jemari kurusnya bergerak ke arah salah satu gulungan yang ada di dalam tasnya dan menyerahkannya pada Neji. Menunggu dengan sabar bagaimana reaksi keduanya.
Terdengar tarikan napas tercengang dan dengusan lega seseorang lainnya.
"KAU BERHASIL TENTEN!" pekik Lee heboh, air mata sudah mengalir histeris seperti air terjun dari mata bulatnya.
"Aku tahu kau pasti akan mendapatkanya cepat atau lambat," Neji mengulas senyum tipis di bibirnya. Sarat akan perasaan bangga.
Di tangannya terdapat satu gulungan berisi surat rekomendasi Jounin yang dengan jelas menyematkan nama Tenten di dalamnya.
Tenten masih tersenyum lebar dan bergegas memeluk rekannya satu per satu, mendaratkan kecupan ringan di pipi mereka masing-masing.
"Jadi? Bagaimana dengan makan malam? Aku yang traktir."
"Tenten! Kau memang bunga terataiku yang paling manis! Aku mencintaimu!" dan dengan itu Lee berlari dengan semangat sambil meneriakan semangat masa muda serta kawannya yang baru saja mendapat kebanggaan atas posisi barunya. Tenten kembali terkekeh melihatnya.
Kemudian, irisnya kembali melirik pada pemuda yang masih setia berdiri di sampingnya. Manik amethyst itu juga meliriknya, keduanya berpandangan untuk beberapa saat sampai seringai Tenten kembali muncul.
.
.
.
"Jangan khawatir, aku yakin makan malam kita berikutnya tidak menerima tamu siapapun"
"Tentu saja. Karena aku yang akan memastikannya sendiri"
Perlahan namun pasti tangan besar Neji bergerak untuk menggenggam tangan mungil yang menggantung di dekatnya. Lalu keduanya mulai berjalan menyusul Lee, sebelum pemuda itu membuat kekacauan lebih besar lagi.
.
.
.
Fin!
Mind to RnR? Or… do you miss me? ehehe
