Kyoya terpaksa menemani Tsunayoshi hari ini, tetapi, ternyata itu tidak seburuk yang ia pikirkan. | "Herbivore ... diam di situ dan jangan kemana-mana." | TYL setting. 1827 hint. Hbd Hibari Kyoya.
Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira
No profit gained
TYL setting. Hint 1827.
Don't like don't read. Thank you.
Happy reading.
"Cuaca hari ini diperkirakan akan hujan deras, jangan lupa untuk membawa payung—"
Kyoya sedang sial hari ini. Perkataan presenter ramalan cuaca terngiang kembali di kepalanya. Sayangnya, dia tidak membawa payung ketika sekarang tengah hujan deras. Padahal ada pertemuan penting yang harus dihadiri. Tidak, bukan dia, namun Tsunayoshi yang sekarang sedang melirik ke arah lain karena ketakutan melihatnya.
"Hi-Hibari-san, bagaimana kalau ... kita beli payung dulu?"
Kyoya mendelik tidak suka. Membeli payung, itu artinya dia harus masuk toko. Kemudian berkerumun dengan orang-orang. Blah. Tidak akan pernah. Dia lebih suka memanggil Tetsuya untuk urusan kecil, sayangnya kini dirinya hanya berduaan dengan bos Vongola ke-sepuluh itu.
Pertanyaan bagus. Kenapa dia terjebak bersama hewan kecil ini? Seekor herbivore pula. Mengingat pribadi Kyoya, sampai kapanpun dia lebih suka melakukan segala sesuatunya sendiri. Menemani seseorang? Itu adalah daftar pertama dari urutan 'sesuatu yang paling tidak ingin dilakukan'.
Tentu saja karena bayi bertopi fedora bernama Reborn itu. Dia kalah taruhan dan harus menemani Tsunayoshi sebagai ganti Hitman itu. Bilangnya ada urusan, tapi entah benar atau tidak. Yang jelas, hal tersebut digunakan sebagai alasan agar dia bersama Tsunayoshi hari ini.
Aura menyeramkan keluar dari Kyoya sedari tadi, sehingga membuat Tsunayoshi kian ciut. Harusnya Reborn yang bersamanya hari ini, tapi entah kenapa dia mendapat kejutan berupa teror. Tsunayoshi tidak bisa melakukan apapun, tubuhnya masih gemetaran meski sudah mengenal Kyoya begitu lama.
Benar. Mereka hanya kenalan, bukan teman. Sebenarnya, agak menyedihkan. Namun Tsunayoshi juga tidak bisa memaksanya, karena Kyoya menjadi bagian dari Vongola pun, sebenarnya bukan pilihan. Dia tidak melakukan apapun untuk membujuk Kyoya menjadi penjaga awannya, oke? Itu keputusan orang lain. Meski sebenarnya, Tsunayoshi agak senang, sebab orang sekuat Kyoya berada dengannya.
Tidak, tidak. Tsunayoshi tidak naksir. Catat itu baik-baik. Orang gila mana yang akan jatuh cinta pada sosok mengerikan sepertinya? Well, I-pin termasuk, tapi itu adalah hal normal sebab dia perempuan. Kyoya itu sangat tampan meski ada galak-galaknya. Apa? Tsunayoshi tidak boleh bilang fakta?
Benar. Itu adalah fakta yang mengerikan.
Jadi, karena Kyoya sangat tampan, Tsunayoshi sekarang deg-degan. Ia tidak pernah berada sedekat ini dengan lelaki itu. Minimal jaga jarak sepuluh meter supaya aman dari tebasan tonfanya. Tsunayoshi melirik beberapa kali, sebab ketakutan masih agak menguasai dirinya. Melihat betapa tinggi Kyoya di sebelahnya, tangannya juga besar. Pula garis wajah yang tegas dengan tatapan tajam. Rambutnya juga disisir rapi, bahkan aroma tubuhnya wangi.
Ja-jangan salah paham dulu! Ini hanya karena Tsunayoshi berdiri di sebelahnya, oke? Dia jadi memperhatikan beberapa hal-hal kecil mengenai penjaga awannya. Oh, astaga. Tsunayoshi ingin mengubur dirinya sendiri karena bertingkah seperti gadis yang tengah jatuh cinta. Tapi dia tidak, oke? Itu adalah fakta, yang mana siapapun bisa melihatnya.
"A-aku yang akan beli. Hibari-san bisa tunggu sebentar? Tempatnya tidak jauh."
" ... tidak."
Terus apa?! Tsunayoshi menderita batin.
"Aku tidak mau pergi."
"Ta-tapi, Reborn bilang ini pertemuan penting dan kita harus hadir ... "
"Kita?"
Tsunayoshi merasakan tatapan sinis Kyoya nyaris membunuhnya di tempat. Sial, dia salah bicara! Memejamkan mata, Tsunayoshi bersiap menerima pukulan tonfa seperti biasa. Bu-bukannya dia masokis, ya! Tapi hal seperti ini memang sering terjadi. Sehingga Tsunayoshi hanya bisa pasrah.
" ... cepat, Herbivore."
"Ba-baik! Apa?"
Tsunayoshi melongo parah. Kyoya melepas jasnya, menempatkannya di atas kepala dan direntangkan dengan satu tangan yang lain. Tapi ia mengerti bahwa lelaki itu sebenarnya ... hanya malas membeli payung saja. Selain karena benci kerumunan, mungkin jalan ini dinilai lebih praktis.
Sayangnya, wajah Tsunayoshi keburu merah duluan. Ia mendekat dengan hati-hati dan kemudian mengikuti langkah Kyoya. Berlindung dari rinai hujan dengan jas penjaga awannya. Jarak parkiran sedikit jauh, jadi mereka harus memakai cara ini. Tuhan, kenapa tidak ada orang di markas hari ini? Bahkan trio endel Monata—maksudnya, Gianinni, Shoichi dan Spanner— pergi karena harus membeli beberapa suku cadang yang hanya ada di kota lain.
Mengapa Tsunayoshi yang harus menderita sendirian?!
Pertemuan hari ini berlangsung cukup lancar meski suasana hujan masih menyelimuti. Bahkan sampai mereka kembali, Tsunayoshi tidak berani melihat ke arah Kyoya. Dia takut digigit sampai mati oleh lelaki itu karena ... seperti yang kalian tahu. Persetan dengan status bos dan penjaga, prioritas utama Tsunayoshi adalah nyawanya sendiri. Oke?
Namun di jalan, Tsunayoshi merasakan sesuatu ketika melihat cermin pada spion. Ada sebuah mobil lain yang tampaknya sedang mengikuti mereka. Kyoya pun, tampaknya menyadari hal itu. Tsunayoshi hendak keluar, tapi sang penjaga awan melesat begitu cepat dan meninggalkan setir padanya. Sekilas, Tsunayoshi bisa melihatnya menyeringai.
Tsunayoshi kelabakan mengemudi karena terlalu tiba-tiba dalam mengambil alih. Bodi kendaraan beroda empat itu oleng sebelum akhirnya mulai stabil. Tsunayoshi memang bisa mengendarai ini, meski tidak jago-jago amat. Kenapa? Sudah jelas karena Reborn yang menyuruhnya. Dia ini dame, tahu? Tidak pernah punya inisiatif mempelajari sesuatu.
Tidak, Tsunayoshi tidak bangga atau apapun itu namanya. Tapi itu sudah merupakan sifatnya sejak dahulu dan sulit diubah. Dalam lamunan itu, Tsunayoshi merasakan roda bagian kiri tiba-tiba berhenti beroperasi. Dirinya langsung menggunakan api harapan untuk mempertahankan laju.
Ah, dia tidak suka ini. Kenapa dia harus jadi mafia? Setiap hari yang ada hanyalah ancaman terhadap nyawanya.
Tsunayoshi tidak bisa melihat bagaimana Kyoya bertarung. Tapi ... itu pasti sangat mengerikan. Jadi lebih baik ia tidak tahu. Sebab detik berikutnya, dari spion, ia bisa melihat mobil yang membuntuti mereka telah meledak. Hancur berkeping-keping tanpa sisa.
Kyoya kembali dari atas atap setelah membereskan mereka semua. Ia mendorong Tsunayoshi dan kembali mengambil alih kemudi. Sang Langit lagi-lagi hanya bisa pasrah mendapat perlakuan demikian. Setidaknya, ia aman, kan? Dari tonfa Kyoya maksudnya.
Keduanya kembali ke markas dengan selamat setelah itu. Meski mobil itu sedikit hancur ... baiklah, itu tidak sedikit. Tetapi Tsunayoshi yakin para teknisi akan segera memperbaikinya begitu mereka kembali dari urusan mencari suku cadang.
"Hibari-san, sudah mau pergi?"
Tsunayoshi mendadak bertanya selepas mereka turun. Membuat Kyoya jelas menyipitkan mata tidak suka. Tsunayoshi gemetaran, ia tidak tahu mengapa mendadak sksd begini dengan penjaga awannya. Mungkin ... hanya merasa sayang bahwa waktu mereka sudah berakhir?
"A-aku punya teh di tempatku, maksudku, aku ingin berterima kasih pada Hibari-san."
Tsunayoshi memainkan tangannya, merasa was-was akan penolakan. Tapi, setidaknya ia telah berusaha bicara pada Kyoya. Reborn bilang, sesekali dia juga harus memperkuat hubungan dengan penjaganya. Masalahnya, ini Hibari Kyoya. Tsunayoshi tidak berharap banyak.
Kyoya hanya diam. Herbivore ini, padahal dia tampak ketakutan kala melihatnya. Matanya terus melirik ke arah samping dan gestur jarinya tidak jelas. Tapi masih bisa berbicara seperti itu? Bukannya Kyoya suka menakuti seseorang, dia bahkan tidak melakukan apa-apa. Kenapa ... Tsunayoshi selalu setakut itu padanya? Ia tidak mengerti. Ada perasaan tidak nyaman dalam hatinya.
"Hn. Terserahmu saja."
Tsunayoshi mendadak riang. "Ba-baiklah, akan aku antar ke tempat Hibari-san nanti! A-aku pergi dulu!"
Kyoya melihat hewan kecil itu berlari dengan sangat cepat. Ah, sudahlah. Lagipula itu hanya teh, bukan? Dia juga tidak membencinya.
Kyoya berdehem pelan sebelum akhirnya pergi juga.
Tsunayoshi membawakan teh bubuk yang ia dapatkan dari Haru beberapa hari lalu. Syukurlah benda ini berguna ... sebentar, apa?
Tsunayoshi ingin memukulkan kepalanya sendiri ke tembok akibat pikiran itu.
Tidak, Tsunayoshi! Ini bukan modus! Sadarlah! Cuma ucapan terima kasih pada Hibari-san! Begitu katanya dalam hati.
Tsunayoshi menampar pipinya sendiri. Kenapa dia harus segugup ini? Karena Kyoya menakutkan? Atau karena dia tampan?
Plak! Tsunayoshi mencoba menyadarkan dirinya dengan tamparan mandiri. Dia pasti sudah gila! Kyoya memang rupawan, tapi apa perlu dia sampai fanboyingan?
Tsunayoshi sedikit gugup ketika menuju markas Kyoya. Dia itu suka kesendirian, jadi tempatnya pun terpisah dari yang lain. Tsunayoshi tidak ada hak melarangnya, tapi kadang berpikir apakah Kyoya tidak merasa ... kesepian? Hanya ada Kusakabe Tetsuya yang biasanya berada bersamanya. Tapi hari ini, lelaki itu juga sedang dalam misi lain dan baru kembali besok.
Pria berambut cokelat itu akhirnya sampai di tempat Kyoya yang bernuansa Jepang. Sangat asri dan terlihat begitu alami. Membuat orang-orang betah menatap. skeneri di tempat ini. Tsunayoshi menarik napas, sebelum akhirnya mengetuk pintu ruangan penjaga awannya pelan.
"Permisi, Hibari-san."
"Masuk."
Tsunayoshi menggeser pintu, kemudian melihat Kyoya yang ternyata sudah berganti baju. Ia tengah duduk sembari membaca sebuah buku. Tsunayoshi tidak berani mendekat, ia hanya duduk di dekat pintu dan menyerahkan tehnya.
"I-ini tehnya, Hibari-san ... a-aku minta maaf kalau mengganggu. Kau pasti sangat sibuk."
Kyoya meletakkan bukunya. "Tidak juga."
Kyoya melihat herbivore itu masih ketakutan. Astaga, dia kenapa sebenarnya? Entah mengapa pemandangan tersebut membuatnya tidak suka.
"Buatkan tehnya sekalian."
"Eh? Apa?"
Tsunayoshi tidak tuli. Tetapi ia merasa harus mendengar kalimat repetisi supaya meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak salah dengar. Kyoya menatap sinis, kemudian membaca bukunya lagi.
Berarti ... Tsunayoshi tidak salah dengar.
"Ta-tapi, aku buruk dalam melakukan sesuatu ... lalu, bagaimana kalau tidak cocok dengan Hi-Hibari-san?"
Perempatan imajiner muncul di kening Kyoya. Kesal karena herbivore itu terus-menerus merasa payah. "Kamikorosu."
"Hieeee! Ja-jangan, Hibari-san! Akan segera aku buatkan! Segera!"
Tsunayoshi membawa teh bubuknya ke ruangan lain. Intuisinya bilang dapur ada di sekitar sini. Beruntunglah karena kata hatinya memang tepat dan bisa diandalkan untuk saat-saat terjepit seperti ini. Ia harus membuat tehnya seenak mungkin kalau tidak mau dikamikorosu!
Tsunayoshi tidak pernah membuat teh, omong-omong. Ini adalah kali pertamanya. Laki-laki memang payah berurusan dengan dapur, bukan? Dia juga, tanpa kecuali. Tsunayoshi benar-benar ingin menangis sekarang karena terjebak di situasi ini.
Tsunayoshi baru menyadari dia akan membuat teh hijau ketika melihat warna bubuknya. Oh, apapun itu, semoga saja rasanya sesuai dengan selera si prefek. Tsunayoshi menyelesaikannya sebaik mungkin, kemudian membawakannya pada Kyoya yang menunggunya.
Aduh ... bayangan Kyoya yang menunggunya ..
Plak!
Tsunayoshi menampar pipinya sendiri lagi. Hari ini dia benar-benar hampir hilang kendali hanya karena wajah tampan si penjaga awan. Sadarlah, Tsunayoshi! Dia itu cuma menunggu teh buatanmu! Begitu ia berkata pada dirinya.
Akhirnya setelah mengumpulkan segenap keberanian, Tsunayoshi mengantar teh buatannya. Kyoya masih membaca buku saat ia kembali membuka pintu. Tsunayoshi meletakkan gelas di meja dekatnya dan segera mundur dalam radius aman sebelum kena tonfa. Kalau rasa tehnya buruk ... setidaknya dia sudah bersiap lari duluan. Hari ini dia hanya ingin cepat-cepat istirahat setelah semuanya.
Kyoya meletakkan bukunya. Ia meraih gelas yang dibawakan Tsunayoshi. Herbivore itu sudah ancang-ancang mau kabur, huh? Kyoya jadi ingin sedikit bermain dengannya sekarang karena tertarik. Tanpa sadar ia pun menyeringai.
"Herbivore ... diam di situ dan jangan kemana-mana."
UAPAAAA?! Tsunayoshi seriosa ... di dalam hati. Ingin menolak permintaan itu, tapi tubuhnya tidak mau bergerak sama sekali. Perintah Kyoya seperti sudah tertanam di dalam dirinya dan tidak bisa dibantah. Auranya memang sangat luar biasa. Apa karena dia adalah penjaga terkuat? Bisa saja.
Kyoya meminum tehnya usai melihat Tsunayoshi masih bergeming dari posisinya. Ia menyeruput pelan, begitu pelan hingga membuat waktu berjalan kian lama. Sementara Tsunayoshi sudah berkeringat dingin sembari menunggunya. Lelaki itu menunduk, tidak berani melihat ke arah Kyoya.
Sang Awan mendengkus. Tidak ia sangka itu benar-benar mengganggunya. Tsunayoshi masih tetap berperilaku sama; ketakutan melihatnya, bahkan setelah sepuluh tahun lamanya mereka kenal. Benar, mereka cuma kenalan ... jadi kenapa Kyoya memikirkannya sekarang? Ia juga tidak tahu.
Dari awal, Kyoya juga tidak mengerti mengapa dirinya bergabung dengan Vongola. Ia hanya tertarik pada kekuatan, tidak lebih. Namun Tsunayoshi benar-benar pandai membuatnya kesal. Ia selalu tersenyum ketika bersama yang lain, jadi mengapa tidak bila berada bersamanya? Kyoya bukan hantu, tahu?
Teh Kyoya akhirnya tandas juga. Meski lama, Tsunayoshi tidak keberatan. Paling penting ia bisa pergi setelah ini. Tsunayoshi kemudian bertanya dengan nada cemas.
"Hi-Hibari-san, bisa aku kembali sekarang?"
"Tidak."
"Ke-kenapa?" Tsunayoshi tidak paham apa maunya si prefek Namimori itu.
"Pokoknya tidak."
Kyoya tahu sedang tidak ada orang di markas. Mereka semua tengah pergi, seperti sebuah anomali saja. Tapi setidaknya, ia tahu bahwa Tsunayoshi sebenarnya tidak punya alasan untuk pergi. Bagi hewan kecil sepertinya yang kehilangan kawanan, lalu masuk ke sarang karnivora ...
Kyoya menyeringai dan itu tampak menyeramkan sekali bagi Tsunayoshi. Apa ia ujung-ujungnya tetap kena kamikorosu juga? Menyedihkan.
"Siapkan boxmu, ayo kita bertarung."
"EEEEHHHH?!"
Entah sudah berapa kali Tsunayoshi jantungan hari ini. Tindakan Kyoya benar-benar di luar nalar dan perkiraannya. Tetapi insting Tsunayoshi memberitahu, bahwa Kyoya memang sedang ingin bertarung. Bahkan sudah mengambil box miliknya.
"Kenapa?" Kyoya menatap tajam. "kau tidak mau?"
"Ke-kenapa aku harus melawan Hibari-san? A-aku ... maksudku ... aku tidak suka bertarung ... "
"Wao ... berani sekali kau membantahku, herbivore."
Inilah hal yang menarik dari Sawada Tsunayoshi. Membuat Kyoya makin ingin melawannya. Herbivore dalam penyamaran, begitu ia menyebutnya. Tsunayoshi bukanlah hewan kecil meski penampilannya seperti itu. Kyoya harus tahu siapa di antara mereka yang lebih kuat. Naluri bertarungnya sudah tidak bisa dihentikan.
"A-aku tidak membantah Hibari-san! Aku tidak suka bertarung, itu saja! La-lagipula Hibari-san sangat kuat ... "
Kyoya menatapnya, "Kau pikir aku kuat?"
Tsunayoshi berapi-api, "Te-tentu saja! Hibari-san sangat kuat, tampan dan keren! Me-menurutku begitu ... "
Tsunayoshi tidak percaya ia mengatakannya. Dia benar-benar sudah gila! Kenapa rasanya seperti ia tengah melakukan konfesi kepada Skylark di depannya? Ah, kenapa pipinya juga ikut terasa panas sekarang? Apa yang terjadi pada dirinya?
Kyoya agak ngehang. Ia tahu Tsunayoshi bukanlah satu-satunya orang yang berpikir bahwa ia memang kuat. Tetapi, keren dan tampan? Wao, Kyoya tidak menyangka akan mendengar yang itu. Tsunayoshi bahkan malu-malu, sampai wajahnya memerah begitu. Melihatnya membuat Kyoya sedikit gemas karena tampak sangat imut.
"Aku tidak tahu selama ini kau menatapku seperti itu, Sawada Tsunayoshi."
Tsunayoshi makin menjadi. Ia panik dan kemudian segera berdiri. "Pe-permisi, Hibari-san! A-aku benar-benar harus pergi! Uwahh ... malunya ... !"
Herbivore itu lari terbirit-birit sambil menutupi wajahnya. Kabur dari pemangsanya. Kyoya hanya diam, tidak berniat mengejarnya. Bukan gayanya juga. Namun ia tidak bisa berhenti memikirkan pujian yang diberikan Tsunayoshi untuknya.
Kyoya tersenyum kecil. "Keren dan tampan, huh?"
Ternyata orang seperti Kyoya juga suka dipuji demikian.
