A Betting Man

.

.

Sakura's POV

Aku menutup mata dan berpura-pura insiden kecil mengerikan tadi tidak pernah terjadi. Aku masih bisa mendengar suara panik Sasuke. Ia pasti mengira aku koma. Dan yah... sejujurnya, aku lebih memilih koma untuk saat ini.

Oh, Tuhan, kalau Kau mendengarkanku sekarang, tolong kasihanilah aku dan akhiri hidupku. Ini kejadian paling memalukan yang pernah terjadi dalam dua puluh empat tahun kehidupanku. Terima kasih. Amin.

Sasuke sedikit mengguncang bahuku. Aku membuka mata.

"Oh, terima kasih, Tuhan," ia bernapas lega. "Kau menakutiku. Kau baik-baik saja?"

Tidak ada yang terluka selain harga diriku. Dan pergelangan tanganku! Aku mengerang menjawabnya, aku masih terlalu malu untuk berbicara. Aku hanya ingin meleleh ke aspal dan mati.

Aku kembali berguling, tapi ia menempatkan tangannya di bahuku. "Aku rasa, itu bukan ide yang bagus, Sakura," ia memperingatkan.

"Apa?" aku bingung. Tidak ada yang sakit selain pergelangan tanganku.

"Punggungmu mungkin saja terluka. Kau terjatuh cukup keras. Aku akan menelepon ambulans—"

"Apa? Tidak!" Aku berjuang melawannya dan akhirnya berdiri. Pantat dan lutut kananku nyeri, tapi itu semua tidak sebanding dengan rasa sakit di pergelangan tanganku. Pergelangan tanganku mulai bengkak. Sasuke juga memperhatikannya.

"Pergelanganmu bengkak. Sakit?" Ia menyentuhnya dan aku merenggut tanganku.

"Tentu saja sakit!"

"Mungkin kau benar-benar harus ke rumah sakit..."

Aku mengerang dan menyadari beberapa orang telah berkumpul di sekitar kami, mereka bertanya dan memastikan aku tidak mengalami luka serius. Aku menunduk dan melihat celana jeans-ku robek di lutut dengan sedikit noda darah. Sial! celana jeans favoritku!

Sasuke meyakinkan semua orang aku baik-baik saja. Ia sudah melepas helm dan meletakkannya di jalan, aku kemudian ikut melepaskan helm dan melemparkannya ke samping. Brengsek, hal terakhir yang kuinginkan saat ini adalah sejumlah penonton yang menyaksikan saat-saat paling memalukan dalam hidupku.

Dengan tangan kiriku, aku meraih setang skuter dan berusaha mendirikannya. Semua orang melihatku, bahkan ada yang mundur beberapa langkah, seolah-olah aku akan melompat dan menjalankan sebuah aksi film laga. Sasuke cepat meraih setangnya.

"Apa yang kau lakukan?" tanyanya, suaranya berat dan marah. Aku memelototinya.

"Aku akan mengembalikan skuternya." Aku berencana untuk mendorongnya kembali ke tempat penyewaan seperti seorang pecundang. Tapi, perkataan Sasuke membuatku marah.

"Tidak. Kau tidak boleh mengendarai ini lagi."

Aku bisa merasakan pipiku memerah. "Apa maksudmu?" Ia bukan ayahku dan ia juga bukan kekasihku. Ia tidak punya hak untuk memerintahku. Aku menyipitkan mata padanya, dan ia juga balik menyipitkan matanya ke arahku.

"Kau benar-benar gila kalau kau berpikir aku akan membiarkanmu mengendari ini lagi."

Sial. Aku ingin sekali menendangnya.

Kesabaranku mulai menipis, aku siap untuk melepaskan kemarahanku dengan menendang bokongnya, tapi seorang pemuda berambut coklat muda melangkah cepat di antara kami dan mengambil skuter.

"Sebaiknya, aku saja yang mengembalikan skuter ini," ia menawarkan. Aku menolak untuk melepaskan skuter, aku benar-benar marah.

"Tidak, aku bisa mengembalikannya sendiri."

"Sakura..." ucap Sasuke memperingati. Bisakah hari ini menjadi lebih buruk lagi? Aku menatapnya, satu tangannya masih kokoh memegang skuter, ia menolak untuk mengalah. Aku yakin ini adalah hiburan yang paling menyenangkan bagi penonton di sekeliling kami.

"Sakura, lepaskan skuternya. Kita akan ke rumah sakit." Suaranya terdengar tenang. Aku ingin tahu apa ia hanya menggertakku.

"Aku bisa pergi sendiri ke rumah sakit," balasku. "Aku bawa mobil ke sini." Beberapa dari penonton kami telah berlalu, tapi masih ada empat orang yang terus menonton. Cukup. "Apa ada yang bisa kami bantu?" aku membentak mereka. Mereka akhirnya mulai bergerak menjauh dan menatap mengejekku. Aku kembali melihat Sasuke. "Ini, ambil skuter bodoh ini," geramku sambil mendorongnya ke arah Sasuke. Pemuda berambut coklat tadi segera menangkapnya.

Aku bergegas berjalan ke mobilku. Sasuke mengikutiku. Dan skuternya telah terlupakan.

"Sakura, bisakah kau berhenti? Ada apa denganmu? Apa ada yang salah di otakmu?"

Brengsek! Apa ia selalu bicara seperti ini dengan setiap gadis yang ingin ia tiduri?

"Aku tidak suka dengan caramu memerintahku, Sasuke," ucapku, jauh lebih tenang kali ini. Aku terus berjalan. Sasuke sudah berada di sampingku.

"Apa yang kau bicarakan?" tanyanya kaget.

"Aku bukan anak kecil dan aku bukan tanggunganmu. Asal kau tahu saja, aku tidak berencana untuk mengendarai skuter itu lagi. Tapi, apa masalahmu kalau aku memang akan mengendarinya?"

Ia berhenti berjalan di belakangku, tampaknya ia terlalu kaget untuk terus bergerak. Aku berbalik dan menghadapnya, menunggu penjelasan.

"Kau serius?" tanyanya tidak percaya. "Apa kau membenturkan kepalamu? Maksudku, kau tadi ada di sana, kan? Kau sadar, kan, kalau kau hampir membunuh kita berdua?" Kata-katanya penuh sindiran. Brengsek.

Aku memutar mata dan kembali berjalan. Mungkin rencana kecilku tadi adalah sebuah kebodohan. Aku ingin mencekiknya sekarang.

"Sakura, tunggu." Ia berlari kecil mengejarku.

"Tidak."

"Dengar, aku minta maaf, oke? Tapi, kau benar-benar membuatku stres. Aku tidak menyukai skuter dan aku pikir lehermu patah."

"Aw... kau manis sekali," ucapku datar.

"Sial. Sakura, berhenti." Ia berdiri di hadapanku. "Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak mencoba untuk bertengkar denganmu. Coba kau tempatkan dirimu di posisiku sekarang. Apa yang akan kau lakukan saat aku terluka parah dan masih ingin mengendarai skuter itu?"

"Aku tidak akan mengendarai—" aku mulai berbicara, tapi ia memotongku.

"Aku tahu, aku tahu. Tapi, tadi aku kira kau akan mengendarainya. Aku minta maaf, oke?"

Ia memberiku tatapan mata tak bersalah. Aku yakin ia selalu mendapatkan keinginannya.

Aku mendesah keras. "Baiklah. Aku memaafkanmu. Lagi."

Ia tersenyum bengkok dan aku merasa kemarahanku berkurang. "Terima kasih. Boleh aku mengantarmu ke rumah sakit sekarang?"

"Aku akan langsung pulang dan mengompres tanganku," jawabku. Ia kaget.

"Kau serius? Tanganmu bisa saja patah."

"Percayalah, Sasuke. Aku punya banyak pengalaman dengan hal-hal seperti ini dan aku tahu pasti tanganku tidak patah."

"Entah kenapa itu tidak membuatku terkejut," gumamnya. Aku hanya mengangkat bahu. "Tapi, aku akan merasa tenang kalau kau tetap pergi ke rumah sakit."

"Aku sudah dewasa, Sasuke. Aku bisa membuat keputusanku sendiri."

"Apa kau selalu keras kepala seperti ini?"

"Biasanya memang begitu. Apa itu mengganggumu?"

Ia tampak seolah-olah akan mengatakan sesuatu, lalu tiba-tiba ia berubah pikiran. "Tidak."

"Bagus. Kita bisa berteman baik." Aku menepuk punggungnya dan terus berjalan. Ia mengikutiku, tentu saja.

"Asal kau tahu saja," ujarnya, "Aku juga keras kepala. Dan luar biasa gigih. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian sampai kau pergi ke rumah sakit."

"Terserah kau mau berbuat apa. Aku akan mengabaikanmu."

"Mungkin kau bisa mengabaikanku. Tapi, mungkin juga tidak." Aku mendengar gemericing kunci. Ia memegang kunci mobilku di udara, melambai-lambaikannya di depanku. Ia tampak sangat puas. Bagaimana bisa?

"Dari mana kau mendapatkan kunciku?" geramku. Aku meraihnya dan ia dengan cepat merenggutnya ke luar jangkauanku.

"Kau meninggalkannya di atas meja," jawabnya santai.

"Kenapa kau tidak bilang?"

"Untuk apa? Ini menguntungkanku."

"Sasuke, aku bersumpah demi Tuhan, aku akan—"

"Kau akan apa?" ia menyeringai dan aku tersadar kami sudah mencapai mobilnya. Mobilku terparkir tidak jauh dari sini. Ia membukakan pintu penumpang dan berdiri di sana, menungguku masuk. "Sakura, aku bisa membuat ini menjadi sulit atau mudah. Tapi bagaimanapun caranya, kita berdua tahu bagaimana ini akan berakhir."

Bajingan ini begitu sombong. Aku harus mulai menulis pidato perpisahan agar aku bisa mengingat semua hal yang pernah ia lakukan padaku sampai semua ini berakhir.

"Kau tahu," ucapku, aku mengalah dan masuk, "Kau sangat menjengkelkan." Senyumnya semakin melebar saat ia menutup pintu mobil.

Sasuke's POV

Sial. Kejadian barusan benar-benar berada di posisi teratas dari 'kencan paling gila sepanjang masa'. Aku tidak percaya kami bisa terjatuh dari skuter. Dan di sinilah aku sekarang, mengantar pasangan kencanku ke rumah sakit.

Aku melihat ke arahnya. Ia menunduk sambil mengelus-elus pergelangan tangannya yang bengkak dan mulai membiru. Apa ia serius berpikiran untuk tidak usah ke rumah sakit? Aku tidak peduli apa yang ia katakan, tulangnya mungkin retak. Apa ia serius berpikiran bisa menyetir mobil dengan tangan seperti itu? Apa ia gila?

Ia melihatku. "Apa?" tanyanya pedas.

"Tidak ada apa-apa," jawabku sambil tersenyum kecil. "Aku hanya berpikir, ini pertama kalinya kencanku berakhir di rumah sakit."

Ia mendengus dan aku kembali tersenyum. Meskipun aku sedang frustasi, tapi, bukankah ini... lucu? "Ini bukan pertama kalinya aku berakhir di rumah sakit saat berkencan," ia menegaskan.

"Kau benar-benar kikuk, Haruno."

Ia memutar matanya.

"Bagaimana caranya kau bisa berakhir di rumah sakit saat berkencan?"

"Waktu itu, hak sepatuku patah dan aku jatuh dari tangga. Pergelangan kakiku terkilir."

Mataku melebar takjub. "Seharusnya ada papan peringatan terpasang di kepalamu. Kalau saja aku tahu dari dulu, aku tidak akan membiarkanmu mengendarai skuter."

Ia mengangkat bahu. "Mengendarai skuter itu menyenangkan. Semua orang menyukainya."

"Aku tidak menyukainya," jawabku. Satu-satunya yang menyenangkan ketika ia mengendarai skuter adalah saat aku memeluk erat tubuhnya dari belakang—tubuhnya hangat dan rambutnya sewangi bunga sakura. Dan tentu saja, kejantananku mengeras karena menempel dekat dengan pantatnya. Aku bersumpah, kejantananku tidak pernah puas dengan kehangatan wanita. Dan aku bisa memastikan itu tidak akan mendapatkan seorang wanitapun malam ini. Tidak ketika aku harus mengantarkan Sakura ke rumah sakit, dan aku tidak tahu sampai berapa lama ia akan tinggal di sana.

"Kalau begitu, apa yang kau suka, Sasuke?" tanyanya. Ia terdengar jengkel.

"Aku tidak tahu. Mungkin berjalan santai di sepanjang pantai. Makan malam romantis. Dan semua hal yang aman."

"Terdengar sangat klise dan membosankan. Bagaimana kalau pasangan kencanmu benar-benar bodoh? Apa yang akan kau lakukan? Apa kalian berdua akan saling menatap dalam mata masing-masing di bawah cahaya bulan sampai kau mati kebosanan?"

"Aku minta maaf, Haruno," jawabku sinis. "Seharusnya aku membawamu bungee jumping kemarin. Aku tidak tahu kau suka kegiatan yang menantang adrenalin. Mungkin seharusnya kau mematahkan kedua tangan dan lehermu tadi."

Oh, Tuhan, gadis ini selalu punya sindiran yang tidak ada habisnya, aku sulit untuk mengontrol ucapanku padanya. Aku harap aku tidak membuatnya jengkel... lagi.

"Tentu saja tidak, Sascakes," ucapnya sambil memutar mata. "Aku tidak suka kegiatan yang menantang adrenalin. Skuter tidak berbahaya."

"Ya, skuter berbahaya. Terutama saat kau yang mengendarainya."

Ia mengabaikanku. "Lagi pula, sudah kukatakan padamu, tanganku tidak patah."

"Bagaimana caranya kau bisa tahu?"

"Rasanya berbeda. Rasanya sama-sama sakit, tapi patah tulang akan lebih sakit lagi."

"Jadi, kau pikir kau sudah ahli membedakan mana yang patah dan mana yang bukan setelah mengalami patah tulang beberapa kali?"

Ia memelototiku. "Ini pertama kalinya aku menyakiti pergelangan tanganku yang ini."

"Baiklah kalau begitu," ucapku sambil mengangkat bahu. "Aku kira kita akan segera mengetahuinya dalam beberapa menit lagi." Aku memarkirkan mobil di parkiran dekat pintu masuk rumah sakit. Sakura mulai tertawa.

"Pernahkah kau ke rumah sakit ini?" tanyanya skeptis. "Beberapa jam tampaknya lebih akurat."

Saat kami berjalan ke dalam, aku menelepon ayahku, tapi asistennya yang menjawab, ayahku sedang melakukan operasi saat ini. Benar-benar menyebalkan, kalau tidak, ia bisa langsung datang dan kami akan selesai dalam waktu satu jam.

Kami melapor di meja depan. Sakura tidak dapat menulis dengan pergelangan tangannya yang terluka, aku mengisi formulirnya sementara ia berdiri di sampingku, menyebutkan data pribadinya. Ia melihatku menulis dan akhirnya berkata, "Tulisanmu rapi sekali."

Aku tidak yakin ia menghina atau memujiku. Aku merasa kesulitan membedakannya. Aku menjawab hati-hati, "Terima kasih."

Ia mengangguk. "Tulisanmu tidak seperti tulisan laki-laki," tambahnya. Ia sedikit menyikutku dan menarik bajuku. "Kau yakin kau laki-laki? Aku bahkan tidak yakin kau ini laki-laki setelah dua hari mengenalmu."

Apa ia serius? Aku mencondongkan tubuhku lebih dekat dengannya dan berkata pelan. "Bagaimana kalau kau membuktikannya malam ini?"

Ia cepat mengalihkan pandangan matanya dariku, pipinya memerah. Aku benar-benar tidak bisa memahami gadis ini. Aku akan membayar berapapun untuk mengetahui apa yang ia pikirkan sekarang.

Beberapa saat kemudian ia berdehem membersihkan tenggorokannya. "Kau bilang kau harus kembali ke Suna."

"Benar sekali."

Ia mengangkat bahu. "Kalau begitu, lain kali saja," ucapnya malu-malu. Matanya terus menolak melihatku.

Apa ia serius? Atau ia bermain-main denganku lagi? Aku tidak pernah tahu apa maksud dari gadis ini. Ia membuatku sedikit frustrasi, aku berdiri tegak dan kembali mengisi formulirnya.

Seorang petugas mengambil formulir dan bertanya, "Apa Anda sudah punya dokter di sini sebelumnya, Nona Haruno?"

"Belum."

"Bisakah dia diperiksa oleh dr. Uchiha?" tanyaku sopan. Mata Sakura melebar.

"Itu tergantung dengan dokter yang sedang piket," jawabnya. "Silakan duduk di ruang tunggu," ucapnya sambil menunjuk ruang tunggu. "Nanti ada seorang perawat yang akan mengecek tekanan darahmu dan lainnya."

Aku menghela napas kecewa. Aku mendengar Sakura menghela napas lega saat kami berjalan ke ruang tunggu. Ia menatapku,"Aku tidak butuh ayahmu di sini!" bisiknya.

Aku mengangkat bahu. "Dia satu-satunya dokter yang bisa kupercaya."

Kami menghabiskan waktu sepuluh menit di ruang tunggu sebelum seorang perawat meminta kami mengikutinya ke ruangan nomor lima. Ruangannya kecil dengan sebuah tempat tidur, sebuah kursi, sebuah monitor jantung, dan sebuah televisi berukuran dua puluh inci terpasang tinggi di dinding.

Sakura mendesah keras dan melompat ke tempat tidur. Tidak ada bantal di atasnya. "Ini dia..." gumamnya—aku tidak perlu bertanya apa maksudnya. Ia berbalik ke arahku. "Aku seharusnya menelepon Ino. Boleh aku meminjam ponselmu?"

"Tentu saja." Aku menarik ponselku dari saku dan menyerahkannya pada Sakura.

"Ooh, baik sekali," ia berkata sambil menyeringai. Ia mulai menekan layar dengan tangan kirinya dan akhirnya berbicara, "Hai, Ino... Tidak, ini nomor Sasuke." Ia berhenti sesaat. "Tidak, Ino. Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang." Matanya menatap mataku tajam. Hmm... menarik sekali... "Aku sedang berada di rumah sakit, aku menyakiti pergelangan tanganku sendiri... Tidak, ceritanya panjang, aku akan memberitahumu nanti." Ia kembali berhenti berbicara sesaat. "Sasuke harus kembali ke Suna, bisakah kau menjemputku sebentar lagi?" Ia mendengarkan jawaban Ino. "Tidak, dia yang mengantarku ke sini. Mobilku masih terparkir di dekat pantai. Nanti aku telepon lagi setelah mereka selesai mengobati tanganku." Ia berhenti bicara. "Oke, terima kasih. Bye."

Ia menutup telepon, tapi tidak langsung menyerahkan ponselku kembali, ia malah membuka-buka konten ponselku. Apa-apaan itu!? Aku dengan cepat meraih ponsel dari tangannya. Ada terlalu banyak pesan yang tidak boleh ia baca—atau boleh kubilang, ada banyak pesan yang dapat membuatnya jijik denganku. Aku harus ingat untuk menghapusnya malam ini.

Ia tampak terkejut. "Ada apa?" tanyanya.

"Ada banyak hal pribadi di sini," gumamku.

Ia menatapku skeptis. "He-eh. Hal-hal pribadi seperti apa, Sascakes?"

"Kenapa kau memanggilku seperti itu?"

"Seperti apa?"

"Sascakes."

Ia mengangkat bahu. "Sascakes punya karakter."

"Tapi, itu bukan namaku."

"Mirip."

Seorang perawat datang. Ia segera mengecek tekanan darah Sakura. Ia kemudian mengambil pergelangan tangan kanannya. "Sakit?"

"Ya."

"Dalam skala satu sampai sepuluh, dengan sepuluh sebagai tingkat kesakitan terburuk yang pernah kau rasakan. Berapa kau menilai pergelangan tanganmu?"

"Tujuh," jawab Sakura cepat. Ia mungkin terbiasa dengan ini.

"Apa sakit saat kau menggerakkannya?"

"Ya."

"Bagaimana saat aku menyentuhnya?"

"Ouch! Ya!"

"Baiklah, aku akan mengambilkan kompres untukmu. Dr. Mamura akan segera datang."

Ia segera meninggalkan ruangan dan kami sendirian lagi. Sakura menoleh padaku. "Kau tidak perlu menemaniku."

Aku terkejut. "Apa? Aku tidak meninggalkanmu sendirian di sini."

"Ino akan segera datang."

"Kau bilang kau akan meneleponnya lagi setelah kau selesai di periksa."

"Tidak, ia bilang ia akan sampai ke sini dalam waktu setengah jam. Jadi, kau bisa pergi."

"Jangan konyol, Sakura," aku mengejeknya. "Aku tidak akan meninggalkanmu."

Dr. Mamura masuk. Ia adalah seorang pria jangkung dengan bahu lebar terbungkus jas putih. Ia tersenyum lebar melihat Sakura, dan kembali menyentuh pergelangan tangannya seperti yang dilakukan perawat tadi. "Sepertinya, kita perlu me-rontgen-nya," sahut dr. Mamura. "Tapi, untuk sementara, aku akan memberimu obat penghilang rasa sakit." Ia kemudian pergi secepat ia datang.

Perawat tadi kembali muncul, tangannya penuh dengan alat-alat medis. "Nona Haruno, aku akan memberimu obat penghilang rasa sakit," ucapnya sambil mengeluarkan sebuah suntikan.

Sakura tiba-tiba menjadi pucat, dan ini sedikit lucu. Tapi, aku merasa kasihan padanya. Ia tampak ketakutan.

"Apa kau yakin? Maksudku, tanganku tidak sesakit itu..."

"Ini hanya sebuah jarum kecil, Nona Haruno. Nanti rasa sakitmu akan hilang."

Sakura menatapku, seolah-olah menungguku membuat keputusan untuknya. "Kau sudah dewasa. Ingat?"

Napasnya gemetar. "Ya. Aku bisa melakukannya." Ia memegang tanganku. "Maukah kau memegang tanganku?"

"Tentu saja." Aku menggenggam tangan kirinya dan ia mencengkeram kuat tanganku.

"Aku sebenarnya akan menyuntikmu di lengan itu," ucap perawat dengan nada simpati.

"Brengsek," Sakura mengomel, melepaskan tanganku. Ia benar-benar tertekan. Aku mengambil kursi dan memindahkannya ke sebelah kasur, aku mencondongkan tubuhku sedekat yang kubisa ke arahnya dan kemudian mengalungkan lenganku dengan lengan kanannya, aku berhati-hati menghindari pergelangan tangannya. Ia sedikit tenang, tapi ketika perawat menyentuh lengannya, ia kembali tegang.

Ketika perawat mengangkat suntikan, Sakura segera membenamkan wajahnya di bahuku, matanya tertutup rapat. Kepalanya dekat dengan wajahku dan aku kembali menghirup wanginya—bunga sakura. Aku sudah yakin sekarang.

Perawat segera menyuntik Sakura dan ia melompat. Ia... gemetaran? Tidak bisa dipercaya. Ia tidak keberatan ketika pergelangan tangannya patah, tapi ia berubah seperti anak kecil ketika disuntik. Aku menggosok-gosok rambutnya untuk menenangkan.

"Kau bisa melakukannya, Sakura," bisikku lembut. "Dia hampir selesai."

Sakura mengangguk, wajahnya masih berada di bahuku. Beberapa detik kemudian, perawat menarik jarum suntiknya. "Sudah selesai," ia mengumumkan dengan gembira.

Sakura mendesah. "Oh, terima kasih, Tuhan." Ia meluruskan wajahnya; wajah kami hanya berjarak beberapa inci. Dan, seperti malam sebelumnya, ia segera menarik mundur wajahnya. Ia kemudian berdehem. "Um, terima kasih." Wajahnya memerah sekarang.

Aku tersenyum. "Tidak masalah," ucapku. Lengan kami masih bertautan; tak satu pun dari kami yang menarik diri, hanya ada keheningan canggung di antara kami sekarang. Setelah beberapa saat kemudian, Sakura mulai mengantuk dan menutup matanya.

"Rasanya aneh," ucapnya.

"Apa?" Aku ingin tahu apa ia merujuk pada posisi kami saat ini.

"Obatnya."

"Oh."

Sakura tertawa kecil. Perawat tadi segera pergi dan seorang pemuda memasuki ruangan sambil mendorong sebuah mesin putih besar. "Maaf, Tuan," ucapnya sopan. "Bisakah Anda menunggu di luar sebentar? Kami akan me-rontgen-nya."

Aku mengangguk sambil menarik lenganku dari Sakura dan melangkah keluar ruangan. Aku terkejut mendapati Sai dan Si Pirang sudah berada di luar ruangan. Ino menyilangkan lengannya, bibirnya mengerucut, sementara Sai berdiri di sampingnya menyeringai seperti kucing.

Ino memelototiku, tapi tidak mengatakan apa-apa. Apa masalahnya?

"Hei," sapaku santai.

Sai menepuk-nepuk punggungku. "Oi, Sasuke. Kencan yang hebat, ya? Apa yang kau lakukan padanya?"

Aku memutar mata. "Tidak ada, Sai. Ini kecelakaan. Aku yakin Sakura akan menceritakan semuanya."

"Tentu saja, tentu saja," balasnya. "Hei, ini akan menjadi sebuah cerita lucu untuk diceritakan pada anak-anak kalian nanti." Ia mengedipkan matanya padaku dan aku menahan diri untuk tidak cemberut—Si Brengsek ini tahu itu bukan sifatku. Anak-anak? Aku bahkan belum berpikir untuk memiliki anak sekarang.

"Apa dia baik-baik saja?" Ino menggerutu.

"Ya. Dia baru saja diberi obat penghilang rasa sakit—ia bersikeras tangannya tidak patah."

"Ya, aku melihatmu memeluknya saat dia disuntik. Kalian tampak sangat... akrab." Ia mengucapkan kata terakhir seperti mengucapkan kata kotor. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan gadis ini. Aku tidak tahu apa masalahnya.

"Ngomomg-ngomong, namaku Sasuke," ucapku sambil mengulurkan tangan. Ia segera menjabat tanganku.

"Ino. Dan asal kau tahu, Sasuke, aku mengawasimu dengan kedua mataku setiap saat." Ia menunjuk matanya dengan dua jari sebelum mengarahkannya ke mataku.

Sial... apa ini yang menjadi pangkal masalah Sasori? Seorang sahabat psikopat yang selalu menghalang-halanginya tiap kali ia mencoba merayu Sakura? Sai hanya berdiri di sana, ia masih menyeringai, menikmati hal ini.

Ketika pemuda tadi meninggalkan ruangan, kami semua kembali masuk. Sakura mengantuk berat—ia terlihat antara sadar dan tidak sadar. Ino meraih selimut dan menyelimutinya.

Sakura membuka satu matanya dan melihat Ino dan Sai. "Hei, Teman-Teman," ucapnya tenang sambil tersenyum lebar. Ya, ia pasti merasa lebih baik.

"Sakura, apa yang terjadi?" tanya Ino galak.

"Aku akan menceritakannya nanti," erang Sakura. "Aku mengantuk. Aku butuh energi ekstra untuk menceritakan semuanya."

Aku melihat ponselku—hampir pukul 18:00, aku harus pulang sebelum kembali ke Suna. Sakura kembali menutup matanya, ia tampak kelelahan. Ino dan Sai berbisik-bisik.

Aku berjongkok di depan Sakura, wajahku berada dekat dengan wajahnya. Aku menyentuh lembut pipi mulusnya. Matanya terbuka dan menatapku.

"Tidak apa-apa kalau kau kutinggalkan dengan Ino dan Sai?" tanyaku pelan.

Ia mengangguk pelan, matanya tidak meninggalkan mataku. "Aku sudah bilang dari tadi, kalau kau boleh pergi."

"Dan aku juga sudah bilang, kalau aku tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini."

Ia mendesah, terlalu lelah untuk berdebat denganku. "Ya, Sasuke. Kau boleh pergi. Aku akan baik-baik saja."

Aku tersenyum. "Aku akan meneleponmu besok."

"Baiklah. Maukah kau mengambilkan dompetku di mobilmu dan memberikannya pada Ino?"

"Tentu saja." Aku berdiri dan mencium lembut pipinya—matanya tertutup ketika bibirku bersentuhan dengan kulitnya, ia mendesah pelan. "Sampai jumpa, Cantik," bisikku. Ia melihatku berjalan menjauh, Ino mengikutiku ke mobil untuk mengambil dompet Sakura. Aku merasa tidak enak meninggalkan Sakura sendirian dengan Sai—mudah-mudahan Si Brengsek itu tidak mengganggunya.

Ino sepertinya ingin mengatakan sesuatu padaku. Tapi, ia terus mengunci rapat mulutnya. Ia mengambil dompet dengan anggukan singkat dan berterima kasih sebelum menghilang kembali ke rumah sakit.

Ponselku berbunyi saat aku dalam perjalanan menuju Suna. Aku membacanya saat berhenti di lampu merah. Sebuah pesan dari Sakura.

Asal kau tahu saja, tanganku cuma terkilir, sama sekali tidak patah. Sudah kubilang, kan? ;-) –Sakura.

Aku tersenyum saat menyelipkan kembali ponsel ke saku. Aku tidak pernah bertemu dengan gadis seperti Sakura sebelumnya. Aku yakin aku akan terus mengingat kencan ini untuk waktu yang lama.

Dan aku pasti tidak akan pernah melihat skuter dengan cara yang sama lagi.

o0o

to be continued

o0o