A Betting Man
.
.
Sakura's POV
Aku membuka mata dan melihat hanya ada Sai sendirian di sini bersamaku. Oh, Tuhan... apa yang terjadi? Ia menyeringai ke arahku. Aku terkesiap dan sedikit duduk lebih tegak, aku langsung waspada.
"Apa yang terjadi?" gumamku.
Ia duduk di kursi. "Ino pergi mengambil dompetmu," ia menjelaskan. "Aku benar-benar tidak sabar ingin mereka berdua pergi dari sini. Aku harus tahu—apa kau sudah membuat Sasuke menderita?"
Aku terkejut dan melihat ke arahnya, aku tidak percaya ini.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," ucapku marah. Ino dan mulut besarnya. Sial. Aku seharusnya tahu itu.
"Ayolah, Sakura. Kau tidak perlu berbohong."
"Apa saja yang sudah dikatakan Ino padamu?"
"Sasuke membuat taruhan untuk menidurimu dan kau tahu semua itu."
Oh, Tuhan! Sebenarnya Ino berada di pihak mana? Ino kembali masuk ke ruangan tepat pada waktunya. Aku tidak sabar untuk mengutuknya. Ia tiba-tiba berhenti berjalan.
"Apa?" tanyanya bingung, tangannya memegang dompetku. Ino bolak-balik menatapku dan Sai. "Apa yang sedang terjadi?"
"Aku tidak tahu. Bagaimana kalau kau saja yang memberitahuku, Ino," cibirku.
Matanya melebar. "Kau mengatakan sesuatu!?" ia berteriak pada Sai. Sai mengangkat kedua tangannya untuk membela diri.
"Hei, hei! Jangan libatkan aku."
"Brengsek kau, Sai! Sudah kubilang, jangan katakan apapun padanya!"
"Kenapa kau memberitahunya, Ino?" aku merengek. "Sekarang semuanya hancur."
"Apa?" Sai tampak bingung. "Tidak ada yang hancur. Apa kau tidak mengerti?" Ia menatapku tak percaya. "Aku bisa membantumu."
Aku mendengus. "Kau berteman dengan Sasuke. Kenapa kau ingin membantuku?"
"Karena aku juga berteman dengan Ino. Dan setiap teman Ino adalah temanku." Sai membungkus lengan pucatnya di pinggang Ino dan menariknya merapat. Aku memutar mataku saat mendengar istilah "teman" dari ucapan Sai. "Lagi pula, Sasuke benar-benar membuatku frustasi dengan kelakuannya. Dia harus diberi satu atau dua pelajaran sekaligus. Dan aku tahu tentang taruhan itu dan... itu sangat tidak keren."
Apa pria ini serius? Aku agak menyukainya sekarang. Aku sangat tertarik dengan arah pembicaraan ini.
Sebelum aku bisa menjawab, dr. Mamura kembali berjalan masuk, ia memegang sebuah folder tipis. Itu pasti dataku. Sial. Ia membukanya saat berdiri di depanku.
"Baiklah, Nona Haruno," ia mulai berbicara, "Aku punya kabar baik. Pergelangan tanganmu tidak patah, kemungkinan besar hanya terkilir. Aku akan membebatnya dan kau harus mengompresnya dengan air es sampai bengkaknya hilang. Kau perlu menggerak-gerakkannya sesering mungkin dan beristirahatlah setidaknya dua minggu. Apa sudah jelas?" Aku mengangguk. "Kau harus membungkusnya sebelum kau mandi, aku sarankan kau meminta bantuan orang lain untuk membungkusnya. Tapi, jangan biarkan mereka membungkus terlalu erat agar sirkulasi darahmu tidak terganggu."
Ya ya.. aku tahu semua prosedur itu. Ini bukan yang pertama buatku, dan sepertinya dr. Mamura mengetahui itu. Kurasa pidato kecilnya hanya sebagai standar dan formalitas... agar aku tidak bisa menuntutnya ketika tanganku membusuk karena tidak ada sirkulasi darah berjalan saat seseorang membungkus tanganku terlalu erat. Aku ingin tahu apa itu pernah terjadi pada seseorang...
Aku mengangguk sopan, aku sudah tidak sabar agar ia segera menyelesaikan pekerjaannya agar aku dan Sai bisa melanjutkan percakapan kami. Dr. Mamura kemudian membebat pergelangan tanganku dan meletakkan kantong es di atasnya. Perawat tadi datang kembali, ia tersenyum ke arahku. Aku malu saat teringat bagaimana aku meringkuk ke tubuh Sasuke dan bibir kami hanya berjarak beberapa senti. Dan yang paling menggangguku adalah aku benar-benar berpikir—walaupun hanya sesaat—bagaimana rasanya berciuman dengannya. Aku terlalu dekat dengan seorang pria yang jelas-jelas berbahaya... aku harus lebih berhati-hati.
Perawat itu kemudian menyerahkan resep penghilang rasa sakitku, ia mengulangi instruksi yang sama, dan aku diperbolehkan pulang. Segera setelah kami keluar dari ruangan, Ino dan Sai segera berbalik menatapku.
"Jadi, apa kau sudah mau menceritakan apa yang terjadi?"
"Yeah, Sakura. Kami berdua sudah sekarat mendengar ceritamu. Aku benar-benar sudah tidak tahan untuk menelepon Sasuke dan menyuruhnya bercerita langsung padaku," ucap Sai. Aku memutar mata.
"Ini benar-benar kejadian paling memalukan dalam hidupku. Aku lebih suka untuk tidak mengingatnya kembali sekarang atau... untuk selamanya."
Senyuman Sai menghilang. "Apa?" tanyanya tak percaya. "Jangan bilang kau tidak mau menceritakannya pada kami."
"Sai, dia akan memberitahu kita kalau dia mau," Ino menegurnya lalu berbalik ke arahku. "Tapi, Sakura... Apa Sasuke yang melakukan ini padamu? Apa dia menyerangmu?" Nadanya sangat serius—mataku terbelalak.
"Apa? Ino, tidak. Dia tidak menyerangku."
Sai tampak tersinggung. "Kau benar-benar berpikir dia akan menyerangnya?" tanyanya terperangah.
"Sial. Aku benar-benar tidak tahu," Ino kembali marah. "Dia membuat taruhan itu. Dan menurutku, dia bisa saja menyerang Sakura."
"Aku tahu dia memang tidak pernah menghargai wanita. Tapi, dia bukan pemerkosa," pungkas Sai.
Mereka terus berdebat sampai kami tiba di mobil Ino—Sai tanpa banyak bicara segera duduk di kursi belakang. Aku benar-benar tertarik dengan pria ini... aku mulai melihat kenapa Ino sangat menyukainya. Tapi, apa masalahnya dengan Sasuke?
"Ini hanya dugaanku saja. Aku tidak menuduhnya," ucap Ino kembali.
"Tapi, kau ingin menuduhnya. Aku tahu itu."
"Yeah, tentu saja aku ingin menuduhnya. Maksudku, baru satu hari Sakura berada sendirian dengannya dan pergelangan tangannya hampir putus. Apa yang mereka lakukan saat berkencan sampai-sampai tangannya terkilir?"
Sai membungkuk dan menepuk bahuku. Aku perlahan-lahan berbalik dan menatapnya tajam, aku merasa jengkel, aku tahu apa yang akan ia katakan. "Aku tidak tahu," ucapnya menggodaku. "Sakura, apa yang terjadi? Kau yakin tidak ada kontak fisik?" Ia mengangkat alisnya penuh arti.
Ino mencemooh keras. "Seks seperti apa yang bisa mematahkan tangan seseorang?"
"Kau jelas belum pernah melakukan bangin' sex."
"Benarkah?" Ino meliriknya. "Karena tadi malam menurutku benar-benar—"
"Ino!" sanggahku.
Sai mengabaikanku dan melanjutkan pembicaraan mereka, "Oh, percayalah, Sayang. Kau belum melihat apa-apa."
Aku tidak tahan lagi. Sai sama sombongnya dengan Si Bajingan Sasuke! Tapi, Ino termakan omongannya. Wajahnya tampak sedikit memerah dan kepanasan... Oh, Tuhan! Aku harus segera keluar dari mobil ini sebelum mereka menepi dan mulai melakukan itu di kursi belakang.
Untungnya pantai dekat dengan rumah sakit. Aku tidak bisa keluar dari mobil ini dengan cepat. Saat aku bergegas kembali ke mobilku dan Sai bersiul memanggil, "Tidak apa-apa kalau kami ke tempatmu nanti? Aku ingin berbicara denganmu tentang Sasuke."
Aku harus bekerja pagi-pagi besok dan aku harus segera tidur, tapi rasa ingin tahuku memohon untuk berkata "ya". Aku perlu tahu apa yang terjadi antara Sai dan Sasuke. Kenapa Sai mengatakan Sasuke perlu diberi pelajaran dan kemudian membelanya? Apa mereka benar-benar berteman atau... apa?
Hanya ada satu cara untuk mencari tahu.
"Ya, tentu saja."
Ia menyeringai. "Bagus sekali. Kami akan ke sana satu jam lagi." Ia cepat masuk ke dalam mobil dan membanting pintu.
Satu jam? Itu artinya mereka... oh, Tuhan...
Aku berhenti di apotek untuk menukar resepku dengan obat dalam perjalanan pulang. Sudah hampir pukul 20:00 saat Sai dan Ino tiba di apartemenku, dan sementara menunggu mereka, aku sudah mengganti baju dengan piyama, memakan dengan rakus keripik kentangku, dan mengirim pesan pada Sasuke.
Asal kau tahu saja, tanganku cuma terkilir, sama sekali tidak patah. Sudah kubilang, kan? ;-) – Sakura.
Aku tersenyum saat mengirim pesan itu, aku bertanya-tanya apa ia sudah berada di Suna sekarang. Hanya butuh berkendara satu jam dari Konoha ke Suna, jadi mungkin ia sudah dekat. Apa ia bertemu dengan wanita lain di sana? Apa ia akan bercinta dengan seseorang malam ini? Aku meyakinkan diriku sendiri kaalu aku tidak peduli. Aku punya mantra baru: Aku tidak peduli... Aku tidak peduli... Aku tidak peduli... Tapi jujur saja, aku selalu teringat bagaimana ia mengajakku berkencan, bagaimana aku membawa kekacauan di kencan kami, bagaimana sifat lembutnya ketika aku disuntik, dan bagaimana kalau alasannya bergegas untuk kembali ke Suna hanya untuk bercinta dengan orang lain? Padahal ia baru saja memanggilku "Cantik"! Baiklah... aku benar-benar tidak suka memikirkan semua ini.
Dia bisa saja menidurimu malam ini, alam bawah sadarku menjerit. Tapi, akal sehatku segera menimpali. Yang benar saja! Kau hanya sebuah taruhan. Kau ingat itu, kan?
Aku mengerang frustrasi. Ia memang terlihat sombong, tapi ia juga tidak terlihat seperti seorang bajingan. Lagi pula, pria tampan mana yang tidak sombong? Oh, sial. Aku juga akan sombong kalau aku jadi dia.
Semuanya akan jauh lebih mudah ketika ia membuatku jengkel. Godaannya akan jauh lebih mudah untuk ditolak. Jika ia mencoba untuk menciumku lagi, aku takut aku akan segera menyerah atau tiba-tiba terbakar.
Aku sekilas bertanya-tanya, apa yang akan terjadi kalau aku tidak tahu tentang taruhan itu. Apa aku sudah menyerah dan tidur dengannya sekarang? Apa sekarang ia sedang mengumpulkan kemenangannya dari Si Brengsek Sasori sementara aku terisak sendirian sambil memakan es krim di kamar tidurku? Tentu saja tidak! Aku bisa mengontrol diriku dengan baik.
Lamunanku segera buyar ketika pintu apartemenku terayun membuka, aku melompat kaget. Ino melenggang masuk bersama Sai yang membawa sekotak pizza.
"Kami membawa makanan," ucap Sai. Oh, Tuhan, kenapa suaranya begitu keras? Pita suaranya pasti sebesar paus.
"Oh, bagus sekali," ucapku sambil mengabaikan keripik kentangku. Aku mengeluarkan piring kertas dan soda dari lemari es. Sai meletakkan pizza di atas meja di depan televisi. Ia kemudian duduk di sebelah Ino dan aku duduk di seberang mereka.
Selama beberapa menit, kami makan dalam diam. Tentu saja, kedamaian ini tidak berlangsung lama.
"Kau sudah siap untuk memberitahu kami?" tanya Sai.
Aku menghela napas. Setidaknya, jika aku memberitahu mereka sekarang, mereka akan berhenti menggangguku. Aku menceritakan seluruh kisah memalukan tadi, aku menghilangkan bagian dimana aku kehilangan konsentrasi saat merasakan sesuatu yang mengeras di balik celana Sasuke, aku mengaku pada mereka aku kehilangan kendali saat akan berbelok. Ternyata, penderitaanku sangat lucu bagi mereka. Sai tidak bisa berhenti tertawa dan berseru, "Oh, Tuhan! Andai saja aku bisa melihat wajahnya!" lagi dan lagi.
Setelah beberapa menit kemudian, aku melemparkan topping jamur padanya. "Diam kau, Sai! Sekarang kau sudah mendapatkan ceritaku. Mana ceritamu?"
Alisnya berkerut kebingungan. "Apa maksudmu?"
"Bagaimana kau bisa mengenal Sasuke dan apa kau sudah mengatakan padanya kalau aku tahu tentang taruhan itu?"
"Tentu saja tidak! Aku belum mengatakan apa-apa padanya. Kau pikir aku bodoh?"
"Aku pikir pria akan selalu saling mendukung satu sama lain. Bukankah kau sahabatnya? Kenapa kau tidak mengatakan itu padanya?"
Sai menatapku seolah-olah aku sudah gila, dan mungkin ia benar. Aku bahkan tidak yakin lagi tentang kewarasanku. Semua kejadian di akhir pekan ini benar-benar membuatku bingung.
"Tidak," Sai meyakinkanku. "Seorang sahabat akan segera mengambil kesempatan untuk mengacaukan hidup sahabatnya."
"Berapa umurmu? Empat belas?"
Ia tampak tersinggung. "Umurku dua puluh tujuh. Dan aku akan mengatakan hal itu padanya kalau kau mau..." ia terdiam.
Oh sial! Apa yang kupikirkan?
"Tidak!" aku cepat berseru. "Bukan itu maksudku. Aku hanya sedang mencoba menilaimu."
Ino menyela, "Kau tidak akan bisa menilai Sai."
"Oh, rupanya kau sudah banyak belajar, Sayang?" Sai membungkus lengannya di bahu Ino dan Ino mengangkat bahu, jelas terlihat di wajahnya kalau ia sedang jatuh cinta.
Aku memutar mata.
"Pokoknya," Sai melanjutkan, "Aku ingin membantumu."
"Membantuku bagaimana?"
"Membantumu mengacaukannya."
Ino menyeringai jahat. "Aku pikir ini luar biasa, Sakura."
"Oke..." jawabku tidak yakin. Aku belum memikirkan rencana untuk membuat Sasuke menyesal. "Apa rencanamu?"
"Baiklah," Sai mulai bicara. Aku bisa melihat sebuah kilatan licik di matanya—aku sedikit takut dengan ide apa yang akan kudengar. "Hal pertama yang harus kau ketahui tentang Sasuke adalah dia sedikit OCD. Dia benar-benar menyukai kebersihan. Jadi, semakin kau terlihat berantakan ketika berada di dekatnya, semakin baik."
Aku mengangguk. Tampaknya tidak terlalu berbahaya.
"Dia benar-benar tidak suka binatang. Binatang terlalu berantakan untuknya. Jadi, kalau kau bisa membeli kucing dan meninggalkannya di rumah Sasuke, itu akan sangat bagus. Sebaiknya kau segera mendapatkan kucing bau dan berkutu."
Aku terkesiap. "Aku tidak akan membeli kucing hanya untuk ini! Kau menganggap ini terlalu serius."
"Kau ingin bersenang-senang atau tidak?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Aku tidak tahu."
"Ayolah, Sakura," Ino mendesak. "Kapan lagi kau punya kesempatan untuk mengacaukan hidup pria setampan Sasuke?"
Sai mengangguk cepat. Aku menatap mereka dengan gusar dan menyilangkan lenganku.
"Semuanya terdengar berlebihan dan apa yang kita rencanakan sekarang kelihatannya benar-benar salah."
"Lebih salah mana, membuat taruhan untuk menidurimu atau menjalankan rencana kita?"
Ino benar. Sial. Sasuke benar-benar layak diberi pelajaran.
Sai melanjutkan pembicaraan, "Dia benar-benar senang mengendalikan semua hal. Dia memiliki aura bos sejati. Jadi, idemu untuk mengendarai skuter tadi benar-benar jenius. Aku yakin ia panik."
Aku mengangkat bahu. Ia benar-benar panik...tapi aku tidak bisa menyalahkannya. Aku pasti akan melakukan hal yang sama jika menjadi dia.
"Kau harus mengambil kendali sebisamu, Sakura. Dan dia juga tidak pernah membawa seorang wanita pun ke rumah untuk bertemu orang tuanya, jadi ayo kita susun rencana agar dia membiarkanmu bertemu mereka..." Sai terdiam sambil merenung. Aku tersedak pizza.
Sasuke sudah berumur dua puluh tujuh tahun dan ia tidak pernah membawa seorang wanita pun ke rumah orang tuanya?
"Apa?" seruku sambil terbatuk. "Tidak pernah?"
Sai mengangkat bahu meminta maaf. "Dia benar-benar bukan seorang pria yang suka berkomitmen," jelasnya.
"Memangnya kenapa?" tanyaku keras.
"Aku kira, dia punya alasan sendiri. Dan itu benar-benar bukan urusanku untuk menceritakannya. Aku minta maaf."
Oh menarik sekali...
"Dan kau yakin aku bisa mengacaukannya dengan cara seperti ini?" aku bertanya untuk memastikan.
"Tentu saja. Tidak ada alasan untuk mempermainkan perasaan orang lain seperti yang sudah dilakukan Sasuke. Sebenarnya, aku tidak peduli dengan apa yang akan kau lakukan, asalkan kau berhasil memberinya pelajaran," Sai terdengar hampir putus asa. Bagaimana aku bisa membantahnya?
"Kau membuatnya terdengar seperti dia harus diterapi," ucapku.
"Tidak, hanya saja..." Sai tiba-tiba terlihat frustrasi. "Ah, sudahlah. Pokoknya, dia tidak peduli dengan komitmen. Tapi, dia sebenarnya orang yang baik. Dia mungkin adalah orang yang paling tidak egois di dunia."
"Lalu kenapa dia berteman dengan Sasori? Orang baik tidak akan bergaul dengan orang-orang seperti Sasori."
"Kau bergaul dengan Sasori," Ino cepat menunjukku.
"Itu berbeda. Aku tidak tahu bagaimana Sasori. Sasuke jelas tahu... dan dia sepertinya mirip dengan Sasori."
"Aku tidak terlalu mengenal Sasori," jelas Sai. "Tapi, aku bisa memastikan mereka bukan teman baik."
"Bagaimana kalau kau bertanya pada Sasuke tentang Sasori?" Ino memberi saran pada Sai. "Tapi, kau harus berhati-hati. Bilang saja aku mengatakan padamu kalau Sakura dulu pernah berkencan dengan Sasori."
Sai tidak terlihat yakin. "Aku akan mencobanya..."
Pergelangan tanganku mulai berdenyut lagi. Aku berdiri mengambil obat dan melirik cepat ponselku. Sasuke tidak membalas pesanku. Padahal, aku kira tadi aku akan mendengar ponselku berbunyi. Aku merasa sedikit kecewa dan cepat-cepat mendorong perasaan ini keluar dari benakku.
Malam sudah larut. Sai masih mengunyah sepotong pizza saat mereka berjalan keluar pintu. Ia meyakinkanku ia akan terus memikirkan hal-hal gila lain yang bisa kulakukan pada Sasuke.
Aku menggosok gigi dan mencuci muka. Aku mulai merasa lelah dan mengantuk akibat obat yang baru saja kuminum. Ketika aku berbaring, aku mendengar ponselku berdering di meja dapur dan perutku terasa jungkir-balik seperti anak berusia empat belas tahun... sial! Aku buru-buru mengambil ponsel.
Kau benar, seperti biasa. Kau perlahan mulai membuat ego-ku runtuh. - Sasuke
Aku membawa ponselku ke kamar tidur dan membalas pesannya sambil berbaring.
Seseorang harus bertindak untuk mengecilkan ego-mu. Ego-mu terlalu besar. - Sakura
Kau pikir aku egois? - Sasuke
Mungkin... - Sakura
Bagaimana mungkin aku tidak egois? Apalagi setelah berkencan dengan wanita-wanita cantik sepertimu... - Sasuke
Wanita-wanita cantik? Kau berkencan dengan lebih dari satu wanita hari ini? Aku pikir hanya aku teman kencanmu hari ini. - Sakura
Aku memarahi diriku sendiri karena aku terdengar cemburu. Aku tidak cemburu, sialan!
Percayalah, Sakura. Kau benar-benar membuatku sibuk hari ini. Aku tidak akan bisa menangani orang lain selain kau hari ini. - Sasuke
Apa maksudnya? Pesan teks selalu terkesan ambigu, meskipun aku yakin aku juga membuatnya bingung dengan pesan yang kukirim, dan aku juga yakin ia pasti sedang menggumamkan pesanku dengan suaranya yang menggoda.
Aku anggap itu sebagai pujian. Aku senang berpikir kalau aku adalah satu-satunya orang yang bisa melukai ego-mu. - Sakura
Percayalah, kau memang satu-satunya. - Sasuke
Kau besok kerja? - Sasuke
Ya, aku sebaiknya tidur. - Sakura
Aku juga. Aku sudah tidak sabar untuk melihatmu lagi. - Sasuke
Kapan kau akan kembali ke Konoha? Akhir pekan depan? - Sakura
Mungkin. Aku biasanya sibuk di hari kerja. - Sasuke
Aku terkejut ketika merasakan diriku sedikit... kecewa? Aku harus segera memintanya untuk menemaniku ke pesta pernikahan. Aku akan melakukannya akhir pekan ini... dan jika ia mengatakan tidak, maka aku tidak akan lagi bertemu dengannya.
Sial, bahkan memikirkan kemungkinan itu terjadi, sudah membuatku sangat kecewa.
Baiklah, sampai bertemu lagi... - Sakura
Aku bertanya-tanya berapa banyak wanita asing yang pernah ia tiduri. Mungkin saja mereka bukan orang asing... mungkin mereka lebih seperti "teman tidur"-nya.
Aku sudah tidak sabar. Selamat malam, Cantik. - Sasuke
Selamat malam, Sasuke. - Sakura
Aku meletakkan ponsel di meja samping tempat tidurku dan berpikir ini adalah yang terbaik. Ya, semakin jauh jarak kami—semakin sedikit waktu yang akan kuhabiskan bersamanya.
o0o
to be continued
o0o
