A Betting Man
.
.
Sakura's POV
Keesokan harinya, pekerjaanku terasa membosankan. Waktu berjalan sangat lambat. Aku menghibur diri dengan memikirkan cara mempermainkan hidup Sasuke dan memeriksa ponselku, aku terobsesi dengan pesan teks darinya.
Ia tidak mengirimiku pesan, aku kecewa, tapi aku bisa membayangkan menjadi seorang CEO dari sebuah perusahaan pastilah memakan banyak waktu. Aku yakin ia tidak punya waktu duduk-duduk sambil mengirim pesan menggoda seharian.
Di sore hari, aku mendapat pesan teks dari nomor tak dikenal.
Lama-lama bercumbu dengannya, lalu katakan kau sedang haid. - Sai
Apa? Apa pria ini serius? Apa Ino yang memberinya nomorku?
Aku membalas: Bagaimana kalau dia tidak keberatan? Apa yang akan kulakukan? - Sakura
Semua pria akan keberatan. - Sai
Aku ingin berdebat dengannya, tapi aku benar-benar tidak tahu apa pria akan keberatan atau tidak dengan hal itu, aku merasa aku sudah keluar dari zona nyamanku, jadi aku mengabaikan pesan dari Sai.
Aku tidak minum obat penghilang rasa sakit saat bekerja, karena aku tahu obat itu akan membuatku sangat mengantuk dan tidak dapat berkonsentrasi. Aku menghabiskan sebagian besar hariku memijit pelan pergelangan tangan. Saat waktunya pulang, pergelangan tanganku semakin berdenyut-denyut dan hampir membuatku mati. Baiklah, aku berlebihan.
Tadi malam aku hanya minum satu tablet Percocet. Tapi hari ini, aku minum dua tablet sekaligus.
Aku memutuskan untuk memesan makan malam hari ini dan menonton Lost season empat. DVD sudah tersetel sebelum aku menelepon memesan makanan.
Aku bisa merasakan kelopak mataku semakin berat seiring berjalannya waktu. Badanku terasa ringan, aku seperti mengambang di udara. Aku merasa aneh...
Ponselku berdering. Aku hampir jatuh dari sofa untuk mengambilnya dari meja.
"Halo?" aku menjawab terengah-engah.
"Sakura? Kau baik-baik saja?"
Sasuke! Alam bawah sadarku menari gembira.
Dan kenapa aku begitu senang saat mendengar suaranya?
"Aku baik-baik saja. Bagaimana harimu, Sasuke?
"Sibuk, tapi menyenangkan. Kau?"
"Lambat dan membosankan."
"Apa yang kau lakukan sekarang?"
"Menonton Lost."
"Apa Lost membuatmu kepanasan dan sesak napas?"
Hehe... Sasuke bilang "kepanasan".
"Mungkin."
"Kau tahu, Hurley hanya memimpikan pulau itu. Itu semua hanya mimpi."
"Sasuke!" aku menegurnya sambil tertawa. "Aku tahu pasti itu tidak benar. Aku sudah menonton season empat dan aku telah melihat episode itu. Kau sudah kehilangan beberapa poin di mataku karena mencoba mengacaukan Lost."
Ia tertawa. "Aku akan mendapatkan poinku kembali. Jangan khawatir. Apa harimu lebih baik sekarang setelah menonton Lost?"
"Ya, aku rasa begitu. Apa yang kau lakukan malam ini?"
"Aku ada rapat sebentar lagi. Aku hanya ingin mendengar suara indahmu sebelum pergi rapat."
"Kau cukup piawai memainkan kata-katamu, Tuan Uchiha."
"Boleh aku menghubungimu lagi besok? Atau kau punya rencana lain?"
"Tidak, tidak ada rencana. Kau boleh menghubungiku." Aku sudah tidak sabar... mungkin seharusnya aku mengatakan aku punya rencana lain, jadi aku tidak kelihatan begitu menyedihkan. Sial! Seharusnya aku berpikir lebih panjang sebelum bicara. Tapi kemudian, aku kira aku tidak usah peduli dengan apa yang ia pikirkan. Jika aku mengikuti saran Sai, aku akan segera menjadi wanita urakan dengan kucing bau di sampingku.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan meneleponmu lagi besok. Selamat menikmati tontonanmu, Sakura."
"Terima kasih, Sasuke. Selamat menikmati rapatmu."
Ia tertawa. "Aku akan mencoba menikmatinya. Kemungkinan aku hanya akan memikirkanmu sepanjang rapat."
Oh, dasar gombal! Sangat mudah melihat bagaimana efek yang ia berikan pada wanita—dalam keadaan normal, aku juga pasti akan meleleh mendengarnya.
Setelah menutup telepon dan kembali berbaring di sofa, aku tidak bisa lagi berkonsentrasi menonton Lost. Sial! Ia membuatku kehilangan fokus. Anehnya, aku hanya bisa membayangkan wajah tampannya...
Sebuah ketukan di pintu menyela lamunanku dan aku cepat-cepat berdiri. Pintu tidak terkunci, seperti biasa—aku benar-benar perlu berlatih untuk menjaga keselamatanku ketika aku sendirian—aku mengintip melalui lubang pintu dan melihat seorang pria paruh baya memegang sebuket besar bunga.
Sial... apa itu untukku? Aku membuka pintu dan pria itu menyambutku dengan wajah datar.
"Nona Haruno Sakura?" tanyanya.
"Ya..."
"Aku punya kiriman untuk Anda." Ia mengulurkan buket bunga yang cukup berat—buketnya penuh dengan bunga lili stargazer merah dan mawar putih. Aku menempatkannya di meja dapur dan melihat kartu kecil mencuat di atasnya—aku tidak sabar untuk membacanya. Pria pengantar bunga itu masih berdiri di depan pintuku.
"Silakan tanda tangan di sini, Nona," ucapnya lagi sambil menyodorkan clipboard dengan selembar kertas di atasnya. Aku menandatanganinya dengan cepat dan segera mengunci pintu.
Aku tahu bunga ini pasti dari Sasuke. Siapa lagi? Terakhir kali aku menerima bunga adalah saat aku lulus kuliah dan itupun dari ayahku, tapi bunganya juga tidak datang dalam vas.
Penciumanku diserang oleh aroma harum bunga lili saat membuka kartu.
Bunga cantik untuk seorang wanita cantik. Aku memikirkanmu sepanjang hari. -Sasuke.
Cantik. Aku mengulanginya dalam hati. Sasuke sepertinya menyukai kata itu... ia mengucapkannya cukup sering. Dan aku juga menyukainya, terutama ketika kata itu meluncur dari bibir sempurnanya.
Aku berpikir untuk mengirimnya sebuah pesan "terima kasih" tapi ia mungkin sedang sibuk rapat seperti yang ia katakan sebelumnya... apa ia benar-benar rapat? Atau mungkin ia sedang berkencan dengan wanita lain? Aku menghela napas dan menggelengkan kepala, aku berharap lebih dari apapun juga, ia bisa dipercaya.
Aku tidak mendengar kabar dari Sasuke di hari berikutnya. Aku bertemu dengan Naruto saat istirahat makan siang dan menceritakan semua hal baru yang terjadi padanya, dimulai dengan pergelangan tanganku yang terkilir. Ia tidak senang mendengarnya, lebih tepatnya, ia tidak heran.
"Kau memang pengemudi yang mengerikan," ia merenung sambil menggelengkan kepalanya. Mataku melebar kaget.
"Itu tidak benar! Aku tidak merusak skuternya terakhir kali aku mengendarainya bersamamu. Aku pikir ada yang salah dengan skuter kemarin."
"Skuter? Atau pengemudinya?"
Aku menunjuk wajahnya dengan kentang goreng. "Jangan buat aku menghajarmu, Uzumaki."
Seorang pelayan datang mengisi ulang minuman kami.
"Jadi, kapan kau akan bertemu dengannya lagi?" tanya Naruto.
"Aku kira, akhir pekan ini. Hei—apa mereka bilang sesuatu tentang persyaratan taruhannya?"
Ia menggeleng meminta maaf. "Tidak. Mereka masih membicarakanmu saat berjalan keluar. Mungkin mereka membicarakannya di luar."
Tentu saja. Sial. Aku hanya ingin tahu, tapi tampaknya satu-satunya orang yang mengetahui informasi rahasia itu hanyalah Sasuke dan Si Setan—err, Sasori.
"Mencurigakan sekali," gerutuku. "Mungkin mereka bertaruh satu miliar yen? Kau juga akan ikut taruhan, kan, kalau hadiahnya sebesar itu?"
Naruto menatapku tidak percaya. "Jadi, kau pikir mereka milioner? Dan kenapa kau tiba-tiba peduli dengan apa yang mereka taruhkan? Dan untuk menjawab pertanyaanmu... tidak, aku tidak akan melakukannya."
Aku mengejeknya. "Pembohong."
"Aku akan mengkhianati Hinata."
"Anggap saja kau belum memiliki Hinata."
"Oh. Jawabannya tetap tidak."
"Kenapa?"
"Karena, taruhan seperti itu tidak benar, Sakura," jawabnya kesal. "Anggap saja mereka benar-benar bertaruh satu miliar yen, kau tidak keberatan mereka menjadikanmu sebagai objek taruhan?"
"Hmm..." aku berpikir sejenak. "Kalau Sasuke memberiku setidaknya setengah dari uang itu... yeah, aku tidak keberatan."
"Orang lain akan menganggap itu prostitusi."
"Tidak bisa dibilang prostitusi kalau aku tidak tahu tentang hal itu."
"Tapi kau tahu tentang hal itu."
Aku mendesah keras. "Naruto! Kita sedang berpura-pura ini dalam keadaan normal, keadaan di mana aku tidak tahu tentang taruhan mereka dan kau tidak memiliki tunangan. Dan demi, Tuhan! Berhentilah mengatakan omong kosong 'itu salah, itu tidak benar, Tuhan akan menghukumku' dan akui kau akan melakukannya demi satu miliar yen."
Ia tampak terkejut. "Apa maksud semua ini?" tanyanya.
Pipiku memerah, aku tiba-tiba merasa malu. Apa aku sedang mencoba mencari alasan untuk membenarkan tindakan Sasuke? Sial. Aku menginjak zona berbahaya.
Ganti topik. Ganti topik!
"Kau tahu siapa yang punya kucing bau?"
"Apa?" Alisnya mengerut bingung. "Untuk apa?"
"Teman Sasuke, Sai, menyarankanku mencari kucing bau untuk mempermainkan hidupnya."
"Kenapa? Karena dia tidak suka kucing bau?"
Aku mengangkat bahu. "Aku rasa begitu."
"Oh, Tuhan, Sakura. Tidak ada yang suka kucing bau."
"Dengar—kau kenal seseorang yang punya kucing atau tidak? Aku harus segera pergi, jam istirahat makan siangku sudah hampir berakhir."
Ia menggeleng. "Tidak. Mungkin kau bisa mencarinya di tempat penampungan hewan. Tempat itu selalu bau. Atau lihat di koran, selalu ada iklan kucing gratis di sana."
"Terima kasih," gumamku tanpa ekspresi, aku akan melakukan apa saja untuk mempermainkan Sasuke. Aku tahu Sai akan punya ide-ide baru lagi. Tapi, apa yang akan kulakukan dengan kucing itu setelah semua ini berakhir? Aku ragu Sasuke akan mau memeliharanya. "Bagaimana rencana pernikahanmu?"
"Masih terus berjalan. Band pilihan Hinata untuk pernikahan kami batal, jadi dia membiarkanku memilihnya."
"Oh, bagus! Kau sudah menemukan band-nya?"
"Sudah, tapi Hinata menolak pilihanku. Dia masih punya dua hak veto lagi untuk menolak pilihanku."
Naruto yang malang. Aku hanya bisa menggelengkan kepala dan tertawa, karena begitulah Hinata, oh, Tuhan, betapa aku sangat mencintainya.
Aku sudah tidak sabar untuk segera sampai ke apartemenku sepulang kerja. Aku benar-benar butuh obatku—pergelangan tanganku terasa terbakar! Aku kembali menelan dua tablet sekaligus.
Aku merasa hidupku sangat menyedihkan saat aku merenungkan apa yang harus kulakukan malam ini. Menonton Lost lagi... atau memeriksa tontonan lain di televisi? Oh, Tuhan! Aku butuh kehidupan sosial.
Aku memutuskan untuk menonton siaran televisi. Ponselku sudah di tangan untuk mengantisipasi telepon dari Sasuke. Aku masih perlu berterima kasih padanya untuk bunga yang ia kirimkan.
Aku kembali merasa melayang ketika obatnya mulai bekerja, kelopak mataku mulai terasa berat. Aku tertawa terbahak-bahak melihat iklan ramen—iklannya benar-benar lucu dan mengingatkanku pada Naruto! Untungnya, pergelangan tanganku perlahan-lahan mulai membaik.
Ponselku berdering dan aku merasa linglung.
"Hulloo?"
"Sakura?" Sasuke menjawab. "Kau mabuk?"
"Tidak!" aku tertawa. "Aku minum obat penghilang rasa sakit. Aku minum dua sekaligus."
Ia terdiam sejenak dan aku mendengarnya mendesah. "Ah—aku mengerti. Pergelangan tanganmu masih sakit, ya?"
"Ya. Aku hanya bisa menimum Aleve di tempat kerja. Tapi, itu tidak banyak membantu."
"Kau sudah mencoba Tylenol?"
"Aku tidak mau minum Tylenol."
"Kenapa?"
"Kakekku meninggal karena gagal hati."
"Tylenol tidak berbahaya, asalkan kau tidak mengkonsumsinya terlalu banyak. Apa obat yang kau minum?"
"Percocet."
Ia berhenti sejenak. "Kau tahu, kan, ada kandungan Tylenol di Percocet?"
Apa? Benarkah? Brengsek. Aku merasa seperti orang idiot sekarang.
"Kau serius?" aku mengerang.
"Ya, Sakura."
"Aku menelan dua sekaligus. Apa aku akan mati?"
Ia terkekeh. "Tidak, Sakura. Apa di kemasannya tertulis kau boleh minum dua?"
Aku mengangguk, perlahan-lahan menyadari ia tidak bisa melihatku. "Ya. Ada tulisan yang mengatakan 1 atau 2 tablet."
"Kau akan baik-baik saja."
"Aku sudah menerima bunga darimu," ucapku mengganti topik pembicaraan. "Bunganya benar-benar cantik. Wangi apartemenku seperti taman bunga sekarang." Aku tertawa.
"Bunga cantik untuk seorang wanita cantik," ucapnya, mengutip kalimat di kartu. Aku ingin tahu apa ia sendiri yang memilih bunga itu atau asistennya.
"Apa kau tahu bunga apa saja yang kau kirimkan padaku?"
"Tentu saja, Sakura. Aku yang membelinya."
"Benarkah? Apa saja bunganya."
"Lili merah dan mawar putih."
Sial. "Kerja yang bagus. Kau kembali memperoleh satu poin di mataku."
Ia tertawa. "Kau seharusnya mendapatkan satu kiriman lagi hari ini."
Oh, Tuhan. Aku seharusnya mengatakan padanya untuk berhenti membelikanku barang-barang, tapi untuk apa? Ia membuat taruhan terhadapku. Apartemenku layak dipenuhi bunga!
"Bunga lagi?" tanyaku hati-hati.
"Mungkin."
Seseorang mengetuk pintu. Kiriman untukku! Sial, dia benar-benar ahli dalam melakukan ini. Sasuke tampaknya juga mendengar ketukan pintu... kami berdua terdiam.
"Apa kau mau membukanya?" ia akhirnya bertanya.
Aku berdehem dan berdiri dari sofa. "Um, yeah. Apa itu kiriman untukku?"
"Mungkin. Apa kau menunggu seseorang?"
"Tidak. Baiklah, tunggu sebentar?"
"Oke."
Dengan ponsel masih di telingaku, aku membuka pintu dan terkesiap. Yang mengetuk adalah Sasuke! Wajahnya dihiasi senyum bengkok, ponsel di telinga, dan sebuah kantong di tangan satunya. Yang bisa kulakukan adalah menatapnya, tapi yang kuinginkan adalah melompat memeluknya dan menjilat wajahnya.
"Bagaimana?" ucapnya sambil menyeringai. "Kau suka kirimanmu?"
Sasuke's POV
Sakura menatapku sambil tercengang, dan aku tidak bisa menahan diri untuk memuji diriku sendiri karena telah mengambil langkah tepat untuk datang ke sini.
Kemudian, ia menutup teleponnya dan menatapku dengan mata mengantuk, dan sedikit tersenyum seperti orang mabuk. Aku menyadari ia sedang melayang, aku sudah memperhatikan hal itu melalui telepon kami dan hampir lupa! Gadis ini membuat segalanya tidak mungkin.
"Sasuke," ucapnya keras. "Apa yang kau lakukan di sini? Aku pikir kau akan ke sini lagi akhir pekan."
Aku sedikit mengangkat bahu dan tersenyum malu-malu saat mematikan ponselku. "Aku tidak bisa jauh darimu," ucapku cepat. "Kau terkejut?"
"Yep." Ia kembali menyeringai.
"Boleh aku masuk?"
Ia terlihat ragu-ragu. "Oh! Ya, um, masuklah." Ia menutup pintu saat aku masuk dan mulai menarik-narik kantong di tanganku. "Apa ini?"
"Ramen dan sake."
"Ramen? Untukku? Kau membelinya? Dimana?" Ia mencoba mengambil kantong dari tanganku.
"Pelan-pelan... Ramennya perlu dipanaskan. Dan aku membelinya di sebuah restoran di Suna."
"Baiklah," ucapnya, ia akhirnya berhasil mengambil kantong dari tanganku. Ia membawanya ke dapur dan meletakkan ramen dan sake di meja. "Aku akan menghangatkannya di oven."
Aku memandangi apartemennya, apartemennya kecil tapi nyaman. Ada sebuah sofa besar mewah dengan banyak bantal di tengah ruangan. Ada beberapa lukisan di dinding dan beberapa rak—aku melirik ke rak terdekat dan melihat foto Sakura bersama pria pirang dari bar. Mereka masih sangat muda di foto itu, mungkin berusia sekitar sepuluh tahun. Ia juga memiliki beberapa batang lilin dan rak penuh DVD. Sebuah buket bunga terletak di meja dapur dan hampir memenuhi seluruh meja. Dan seperti yang Sakura katakan, aku bisa mencium bunga itu dari jarak beberapa meter jauhnya.
"Apa ini?" Aku menoleh melihat Sakura memegang film yang kubawa. Ia memeriksa judulnya.
"Mungkin kita bisa menonton film. Tapi, tidak apa-apa kalau kau tidak mau."
"Tidak," selanya, "Menonton film sepertinya ide yang bagus. Psycho... The Exorcist... The Shining?" Ia menaikkan sebelah alisnya sambil menatapku.
"Ada apa?" tanyaku polos. "Kau tidak suka film horor?"
Aku yakin modusku sangat mencolok dengan membawa film horor. Apa lagi yang bisa kukatakan? Film horor bekerja dengan baik kalau kau ingin wanita memelukmu.
"Aku bukan penggemar film horor," ucapnya dengan tegas dan memasukan film itu kembali ke dalam tas. Oh... "Tapi aku yakin, aku punya film yang akan kau suka." Ia beranjak ke rak DVD-nya, dan aku tanpa malu-malu melihat pinggulnya saat ia berjalan. Aku tahu, ia tidak bisa melihatku.
"Mari kita lihat..." ucapnya sambil memindai judul. Ia tiba-tiba mulai mengambil film secara acak. Aku melihat beberapa judul... Dirty Dancing, Clueless, Sense and Sensibility...
Sial! Apa dia serius merekomendasikan film chick flick? Ia lebih memilih film itu daripada film horor? Yang benar saja!
Ia tampaknya menemukan satu film yang membuatnya senang, karena ia berbalik ke arahku sambil tersenyum lebar. "Bisakah kita menonton film ini?" tanyanya, ia memeluk film itu di dadanya. "Ini film favoritku sepanjang masa."
Aku sedikit takut bertanya.
"Film apa itu?" tanyaku hati-hati. Tidak masalah buatku, karena aku tahu, apapun pilihannya, aku akan mengatakan "ya". Ia memperlihatkan kotak DVD-nya padaku sambil menyeringai seperti maniak.
Grease.
Oh Tuhan, bunuh aku sekarang.
Aku memaksakan senyum. "Tentu saja, Cantik. Tidak masalah buatku."
"Terima kasih," ucapnya tulus. Ia berjalan ke arahku; berjinjit dan mencium pipiku, dan ini benar-benar membuatku kaget. Setuju dengan film pilihannya merupakan keputusan terbaik yang kubuat sejauh ini. Ia cekikikan sambil berjalan kembali ke dapur dan bertanya, "Apa kau sudah pernah menontonnya?"
"Sebagian," jawabku jujur. Ia terlihat sangat gembira malam ini... oh ya, pengaruh obat penghilang rasa sakitnya. Aku selalu lupa, meskipun perban di pergelangan tangannya terlihat mencolok. "Apa pergelangan tanganmu masih sakit?" tanyaku.
"Tidak lagi." Ia menatapku dan kembali tersenyum, ia tersenyum tanpa alasan, atau karena suatu alasan yang tidak kuketahui. Tapi kegembiraannya menular; ia terlihat lucu seperti ini. Seperti anak kecil ketika mendapat hadiah di malam Natal.
"Baiklah."
Ia mulai sibuk di dapurnya. "Kau mau minum sake sekarang?"
"Mungkin kau seharusnya mendinginkannya sebentar," saranku. "Sakenya baru saja mengalami satu jam perjalanan di mobil."
"Oke," ia setuju. "Kau mau minum yang lain? Aku punya soda, jus, bir dan... air."
Aku tersenyum. "Daftar minumanmu cukup menarik."
Ia mengangkat bahu. "Aku biasanya minum air kecuali kalau aku ingin bersantai, aku minum bir." Ia kembali cekikikan, seolah-olah ia baru saja mengatakan lelucon yang sangat lucu. "Jadi? Kau mau minum apa?"
Aku menggeleng. "Tidak usah. Terima kasih."
"Terserahmulah." Ia menarik keluar sebotol bir dan membungkus ujung bajunya di sekitar tutup botol untuk membukanya. Dia meneguknya dengan cepat.
"Hati-hati," aku memperingatkannya, aku langsung ingat ia tidak suka diberitahu apa yang harus dilakukan. "Kau seharusnya tidak mencampurkan alkohol dengan Percocet."
"Ya, Sascakes," jawabnya sambil tertawa.
"Sakura..."
"Sascakes..." ia mengolok-olokku dengan menirukan nada suaraku.
Dia menggodaku!
Aku tersenyum. "Apa yang akan kulakukan dengan mulut pintarmu?"
"Aku bisa memikirkan banyak hal yang bisa kau lakukan dengan mulutku," jawabnya, matanya berkilat nakal. Ia melihat ke arahku dari balik bulu matanya. Ini sangat erotis dan membuat pikiranku melayang. Sial. Apa ia benar-benar mengatakan itu?
Perubahan suasana hatinya sangat cepat. Dalam satu menit, ia akan membanting pintu di wajahku dan di menit berikutnya, ia siap membawaku ke kamar tidurnya. Aku tidak pernah tahu di mana aku harus berdiri saat bersamanya. Ini sangat menarik sekaligus membuat frustasi.
Aku mengangkat alis penuh arti. "Benarkah? Kau mau mendemonstrasikannya?"
Ia tersipu malu, salah satu sifatnya yang sangat kusukai. Ini menunjukkan kerentanan yang tersembunyi dalam diri seorang gadis yang biasanya galak dan selalu mempertahankan dirinya. Aku tahu ia membenci sifatnya pemalunya, dan itu membuatnya semakin menarik bagiku.
Ia membersihkan tenggorokannya. "Uchiha Sasuke!" serunya. "Aku mulai berpikir kau tidak pernah harus benar-benar berusaha mendapatkan sesuatu di dalam hidupmu."
"Sebaliknya, Haruno Sakura. Aku selalu bekerja sangat keras untuk mendapatkan semua yang kumiliki sekarang."
Ia menatapku serius, ekspresinya tak terbaca. Akhirnya ia berkedip dan menunduk. "Senang mengetahuinya," jawabnya. "Kau mau menonton film?"
Aku tidak berencana untuk menonton film apapun.
"Tentu saja."
"Kau yakin kau tidak mau minum?" Ia menunjuk lagi ke arah dapur, bir masih di tangannya.
"Ya."
Ia menyetel DVD sementara aku duduk di sofa. Ia membungkuk, memberiku pemandangan yang spektakuler. Apa ia melakukan ini dengan sengaja? Ia melihat ke belakang dan menangkapku menatap pantatnya. Brengsek!
"Kau lihat sesuatu yang kau suka?" ia bertanya blak-blakan. Aku berpura-pura tidak bersalah.
"Maksudmu?"
"Oh, jangan berpura-pura. Kau menatap pantatku!"
Sial. Ketahuan.
"Yah, pantatmu memberikan pemandangan yang bagus," akuku. Ia memutar matanya dan bergerak untuk duduk di sampingku. Masih ada jarak sekitar dua kaki di antara kami.
"Kau tahu," ia mulai berbicara sambil menekan remote memulai film, "Kalau kau tidak tampan, aku sudah akan menendangmu keluar karena berkomentar seperti itu."
Aku terkejut. Ia berpikir aku tampan? Ini adalah pujian paling tulus pertama darinya.
"Jadi, kalau aku jelek aku sudah akan mati, ya, sekarang?" tanyaku dengan tenang.
"Yep."
"Kau pernah mendengar tentang inner beauty?"
Ia menatapku skeptis dari sudut matanya; lalu mencemooh. "Tentu saja pernah," jawabnya. "Lagi pula, kau juga terlihat bagus di sofaku. Seperti aksesoris... seperti bantal mewah."
"Kau membandingkanku dengan bantal?" aku berpura-pura tersinggung.
"Seperti bantal mewah," ia menjelaskan, dan tiba-tiba mulai tertawa histeris. Ia segera membenamkan wajah merahnya di salah satu bantal. Aku tahu ini pengaruh dari obat penghilang rasa sakit, tapi aku tidak bisa menahannya; tawanya menular dan aku ikut tertawa.
Ia memulai filmnya, kemudian menghentikannya selama dua menit untuk pergi mengambil minum ke dapur—seolah-olah ia belum menonton film ini sejuta kali—dan ketika ia duduk kembali, aku melihat ia sedikit lebih dekat denganku. Kalau aku menggeser kakiku ke kiri, sedikit saja, kakiku akan menyentuh kakinya. Aku menggeser kakiku, aku ingin tahu hal pintar apa yang akan ia lakukan untuk menghalangiku, tapi ternyata ia diam saja.
Kami menonton dalam keheningan. Sakura tidak pernah mengalihkan matanya dari televisi; aku mencoba untuk tidak mengernyit ngeri setiap kali lagu baru mulai dinyanyikan.
"Aku sudah lama tidak menonton film ini," ia akhirnya berkomentar. "Apa lagu favoritmu?"
"Lagu favorit?"
"Ya. Di film ini..."
"Aku tidak begitu ingat semua lagu di film ini."
"Tutup mulutmu!" ia berseru sambil menampar lututku. Aku menyeringai; ia cukup lucu seperti ini. "Aku tidak bisa melupakan lagu-lagu ini walaupun aku mencobanya. Ingin tahu lagu favoritku?"
"Um, ya..."
"Tunggu sebentar, aku percepat. Tapi, nanti kita harus mulai lagi dari awal dan melihat keseluruhan filmnya."
Oh, Tuhan. Ia mengambil remote, seperti menjalankan sebuah misi, dan mulai memilah-milah adegan. Aku tidak peduli dengan lagu favoritnya di Grease. Semua lagunya sama-sama mengerikan.
Ia kembali menekan remote ketika menemukan lagu favoritnya. Lagu favoritnya berada di salah satu adegan di mana semua gadis hanya menggunakan pakaian dalam, melompat-lompat dan bernyanyi di tempat tidur. Ia bisa saja memilih adegan yang lebih mengerikan.
Sakura duduk tegak dan menyeringai saat lagu dimulai. Aku menggosok dagu dan mencoba untuk tertarik.
Sial, aku seharusnya bercukur pagi ini...
"Sasuke, kau melihatnya?"
Aku kembali melihat televisi dengan cepat. "Ya," jawabku berbohong.
"Perhatikan bagian ini baik-baik," ia mendesak. "Ini favoritku. Kau melihatnya? Sasuke! Kau melihatnya?"
"Oh, Tuhan, Sakura, ya. Aku melihatnya."
Ia tiba-tiba meniru Stockard Channing, membentangkan lengannya dengan dramatis saat mereka bernyanyi bersama. "Elvis, Elvis! Let me be! Keep that pelvis far from me!" Ia menyelesaikan lagu dengan histeris. Aku menggeleng geli dengan tingkahnya.
"Aku pikir aku harus menyembunyikan sisa obatmu," komentarku.
"Kau bersenang-senang karena melihatku seperti ini," jawabnya.
"Kau yakin tidak ingin menonton Psycho?"
Ia tiba-tiba seperti tersadar. "Kau tidak menyukai Grease? Aku bukan pembaca pikiran, Sasuke. Kau seharusnya memberitahuku." Ia mencolek pinggangku dan aku tersentak. Ia ternganga. "Kau penggeli?"
Sial. "Tidak."
Ia mencolekku lagi. "Kau yakin?"
"Sakura..."
"Apa?" Ia kembali mencolekku. Aku segera meraih tangannya, membungkus lenganku di pinggangnya, dan menariknya ke atasku. Ia jeritan kaget. "Sasuke!"
"Apa?" aku bertanya polos, dan membalikkan posisi kami, sekarang aku berada di atasnya, menekannya di antara bantal, menjebaknya, dan aku bertanya pelan, "Aku pikir pertanyaan paling penting sekarang adalah apa kau penggeli, Nona Haruno?"
Napasnya terengah-engah saat ia berjuang melepaskan diri dariku. "Tidak!" ia meringis. "Aku menyerah!"
"Kau tidak boleh menyerah."
"Aku benar-benar menyerah."
"Beri aku satu alasan kenapa aku tidak boleh menggelitikimu."
Ia masih terbaring di bawahku dan tampaknya sedang berpikir. "Karena kau orang baik dan punya rasa kasihan?" ia bertanya perlahan, tidak yakin. Ia tidak memalingkan matanya dariku. Wajah kami hanya berjarak beberapa inci, hidung kami hampir bersentuhan. Ini persis bagaimana aku menginginnya...
"Apa itu yang kau pikirkan tentangku?" tanyaku, suaraku sangat rendah. Sangat menyenangkan bermain-main dengannya. Ia menelan ludah dan mengangguk.
"Itu yang kuharapkan."
Aku kembali mencondongkan tubuhku, menempatkan bibirku begitu dekat dengan telinganya, aku yakin ia pasti bisa merasakan napasku saat aku berbicara. "Aku pikir kau keliru." Ia bergetar dan tetap diam. Apa aku akhirnya berhasil membuat Si Galak Haruno Sakura kehabisan kata?
"Aku pikir kau hanya penuh dengan bualan."
Tidak, aku rasa tidak.
Aku menggelitiki pinggangnya, jeritannya memekakkan telinga, dan ia berjuang dan menggoyangkan tubuhnya di bawahku sampai ia berhasil keluar dari tanganku dan terjatuh ke lantai dengan bunyi keras. Ia berdiri cepat dan tanpa sengaja menendang meja dengan lututnya saat ia berlari ke dapur.
"Sasuke! Jangan pernah menyerang wanita seperti itu! Tidakkah ibumu mengajarimu sopan santun?"
Aku berguling di sofa, kembali ke posisi duduk, dan mencoba untuk tidak mengerutkan kening ketika ucapannya mengirimkan euforia yang tidak menyenangkan buatku. Aku mencoba untuk tidak memikirkan ibuku... setiap hal kecil yang mengingatkanku padanya hanya membuat nyeri perasaanku. Itu bukan sesuatu yang ingin kukenang—tidak di sini, tidak sekarang.
Aku memaksakan senyum, mencoba menghilangkan pikiran itu. "Maaf," ucapku pendek.
Ia menatapku curiga dari balik meja dapur. "Ada apa?"
Sial. "Tidak ada apa-apa." Aku mengambil remote di lantai sambil berharap ini dapat mengubah topik pembicaraan. "Tidak apa-apa kalau aku mematikan film ini?" Mereka sudah mulai bernyanyi lagi. Sakura mengalihkan pandangan matanya dariku ke televisi, mata hijaunya melebar.
"Tidak! Kita harus menontonnya dari awal." Ia mulai berjalan ke arahku, mungkin untuk merebut remote-nya.
"Bukankah kau lebih suka menonton Lost?" aku mengusulkan. "Aku belum melihat semua episode di season empat."
"Jadi, kau tidak suka Grease?" tanyanya curiga.
"Tidak juga."
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?"
"Karena kau ingin menontonnya."
Ia memutar matanya. "Dan mereka bilang, wanitalah yang sulit dimengerti." Ia meraih remote dariku, tapi aku segera menariknya menjauh dari jangkauannya. Ia menyipitkan mata.
"Apa kita akan menonton Lost?" aku bertanya sambil menyembunyikan remote di belakang punggungku.
"Aku bisa mendapatkan remote itu kalau aku benar-benar menginginkannya, Sasuke," ancamnya.
"Ayo ke sini dan ambil remote-nya."
"Apa kau menantangku?"
"Apa kau menerima tantanganku?"
Ia menatapku penuh ancaman dan aku balik menatapnya, aku menolak untuk mengalah. Lalu ia bergerak ke arahku dan membuatku terkejut ketika ia duduk di pangkuanku, ia meletakkan masing-masing lututnya di sisi pahaku, dan mengangkangiku. Sial! Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, wajah kami hanya berjarak beberapa inci. "Sebaiknya kau menyerahkan remote itu sekarang, Sasuke. Ini demi kepentinganmu juga."
Aku tidak setuju, Sakura.
Aku langsung ereksi dan ia duduk tepat di atasnya. Ambil pakaian kami dan aku akan berada di dalamnya...
Butuh seluruh tenaga untuk menjaga tanganku tetap berada di belakang punggungku—menjaga remote sialan ini jauh dari jangkauannya. Aku ingin tahu sejauh mana Sakura akan bertindak.
Aku menelan ludah, berusaha untuk tidak meledak saat ia sedikit bergeser di pangkuanku.
"Kau benar-benar tidak mengenalku, kalau begitu," jawabku. "Aku hampir tidak pernah melakukan apa pun demi kepentinganku sendiri."
Ia menyeringai melihatku. "Aku mengenalmu cukup baik, Sasuke."
Ia meletakkan tangannya di pundakku dan perlahan-lahan meluncur turun ke tanganku, merasakannya, dan aku tahu tujuannya adalah remote yang kugenggam. Genggamanku mengencang. Ia kembali bergeser di pangkuanku, dan dari senyum di wajahnya, aku yakin ia tahu apa yang sedang ia lakukan.
Wajahnya sudah benar-benar dekat dengan wajahku saat tangannya mulai menjalar semakin ke bawah lenganku. Napas manisnya menerpa pipiku ketika tangannya berhasil menggenggam ujung remote. Ia menariknya, tapi sia-sia saja.
"Aku rasa tidak, Haruno," ucapku dengan suara pelan. "Kau benar-benar berpikir aku akan melepaskannya dengan mudah?"
Aku tidak bisa melihat wajahnya sekarang; ia menyembunyikannya di bahuku sambil bersandar dan memelintir tangannya untuk kembali menarik remote.
"Aku bersedia melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang kuinginkan," ucapnya.
"Benarkah?"
Hidungnya meluncur di leherku, lalu bergerak perlahan sampai ke belakang telingaku, menyentuh rambutku. Ia menghirup napas dalam-dalam, dadanya naik menekan dadaku. Sial. Apa ia serius melakukan ini?
Hidungnya kembali meluncur di sepanjang rahangku, hampir menyentuhnya, sampai wajahnya kembali berhadapan denganku lagi. Ia menatapku dengan mata membara, bibirnya begitu dekat denganku...
Aku bersandar ke depan, berharap untuk akhirnya dapat mencium bibir ranumnya, tapi kemudian bibirku hanya bersentuhan dengan kulit halus pipinya saat ia tiba-tiba memalingkan kepala ke samping. Hampir seketika, timer oven berbunyi. Dengan napas berat, ia berusaha berdiri dari pangkuanku dan berjalan menuju dapur sambil bergumam, "Aku harus mengeluarkan ramennya."
Aku menghela napas dan melemparkan remote ke samping sebelum menarik frustasi rambutku. Apa ia sengaja berbuat seperti ini? Kenapa ia melakukan ini? Apa ia juga seperti ini saat bersama Sasori? Selalu menggoda tanpa ampun lalu—
"Sasuke, maukah kau menolongku mengambil sakenya?" tanyanya, mengganggu pikiranku. Ia menatapku takut-takut, kemudian mata hijaunya melebar prihatin melihatku. Sambil menghela napas, aku berdiri dan memperbaiki celana jeans-ku. Aku benar-benar melakukannya di depannya, tanpa malu, jadi ia bisa melihat sendiri apa yang telah ia lakukan padaku.
"Tentu saja, Sakura."
o0o
to be continued
o0o
