A Betting Man

.

.

Sakura's POV

Oh, tidak. Ia marah. Mungkin aku menekannya terlalu jauh. Sial, apa yang harus kulakukan sekarang?

Aku berdeham pelan, tapi ia sepertinya tidak dengar. Perhatiannya seperti teralihkan, ia meletakkan kedua tangan di rambutnya yang berantakan, dan aku hampir bisa merasakan frustrasinya memancar sampai ke seberang ruangan.

Sejujurnya, aku sedikit gugup. Kuakui, ia sangat menawan dan tampan, tapi aku tidak benar-benar mengenal pria ini. Aku belum pernah melihatnya berinteraksi dengan orang lain, kecuali kalau kau menghitung pelayan kami di restoran beberapa hari yang lalu. Dan aku juga belum pernah bertemu dengan salah seorang temannya, kecuali kalau kau menghitung Sasori.

Kemudian, aku teringat Sai. Oh, terima kasih, Tuhan. Sai selalu mengatakan hal-hal baik tentang Sasuke. Sai membuatnya terlihat seperti pria baik-baik di samping sifat womanizer-nya. Dan untuk beberapa alasan yang tidak kupahami, aku percaya dengan ucapan Sai. Setidaknya, Ino benar-benar menyukainya, dan aku percaya penilaiannya.

"Sasuke," aku akhirnya berkata, "Maukah kau menolongku mengambil sakenya?"

Aku mengira ia akan berdiri dan mulai berteriak padaku. Apa yang akan kulakukan kalau ia benar-benar melakukan itu? Apa aku hanya akan tetap diam berdiri di sini... apa aku akan minta maaf?

Aku juga merasa sedikit frustrasi. Ini terlalu rumit untukku. Persetan dengan semua ini! Aku tidak akan meminta maaf.

Ia berdiri dan—aku bersumpah—ia memperbaiki celananya di depanku. Ia tidak malu-malu memperlihatkan ereksinya padaku, dan ia menatapku tajam. Ya, ia jelas tidak senang.

Tapi suaranya masih terdengar tenang.

"Tentu saja, Sakura."

Ia berjalan ke dapur. Ketika mataku menatap matanya, aku bertemu dengan tatapan sedingin es. Aku berpaling, pipiku memerah, dan aku menyibukkan diri dengan mengambil air minum dari lemari es.

Sial, ini benar-benar kejadian paling canggung dalam hidupku. Aku seharusnya menciumnya. Menciumnya selalu berada di pikiranku di sepanjang pekan ini. Dan berciuman dengannya bukan berarti aku tidur dengannya—itu tidak akan menimbulkan masalah, kan?

Ketika ia membuka sake, aku menarik ramen keluar dari oven, bau lezatnya segera memenuhi dapur. Pikiranku sejenak teralihkan.

"Mmm. Baunya enak."

Aku mendengar tutup sake diletakan di atas meja. "Kau punya gelas sake?"

Aku menghela napas dan menarik dua buah gelas sake dari salah satu lemari dapur. Pergelangan tanganku tidak lagi sakit, tapi tampaknya efek "melayang" dari pil yang kuminum telah memudar. Sasuke bahkan tidak menatapku saat ia mengambil gelas dari tanganku.

"Bisakah kau menghentikan ini?" aku akhirnya bertanya dengan jengkel.

Ia akhirnya menatap mataku, mata gelapnya tanpa ekspresi. "Menghentikan apa?"

Ya... berpura-puralah tidak tahu. Bajingan.

Aku langsung menjawab dengan berani, "Kalau kau punya sesuatu yang ingin kau sampaikan padaku, langsung saja katakan, tidak usah ditutup-tutupi."

Ia menuangkan sedikit sake ke dalam gelas dan memberikannya padaku. Aku ingin protes—saat ini aku merasa bisa menghabiskan satu botol sekaligus—tapi, aku punya hal yang lebih penting untuk kuketahui. "Kau marah padaku?"

Ia menatapku penasaran sambil meneguk sake dari gelasnya. "Kenapa aku harus marah padamu?"

Jawab dengan jujur? "Karena aku memberimu ereksi dan meninggalkanmu begitu saja."

Ia hampir tersedak sakenya.

"Jadi, itu benar?" tanyaku pahit, tidak perlu seorang yang jenius untuk mengetahuinya. Tentu saja itu benar.

Ia sekarang tampak bimbang, wajahnya terlihat seperti campuran kemarahan, tidak percaya, dan frustrasi. "Jadi, kau tahu apa yang kau lakukan? Semua itu—" ucapnya sambil menunjuk ke arah sofa, "—semua itu disengaja?"

Sial. Aku tidak pernah menginginkan percakapan seperti ini. Diriku bukanlah seperti apa yang kupikirkan selama ini. Tidak mungkin aku bisa melakukan ini selama dua minggu—aku yakin pilihanku hanya ada: menyerah, membeku saat Sascakes menatapku dengan pandangan sedingin es, atau terbakar ketika ia melihatku dengan marah.

Pilihan terakhir terdengar lebih menggoda. Meskipun kecanggungan jelas-jelas terjadi di antara kami sekarang, Sasuke terlihat semakin seksi saat ia marah.

Aku harus berpura-pura tidak berdosa—hanya itu satu-satunya strategiku.

Aku menatap lantai. "Maafkan aku," gumamku. "Kurasa, aku tadi sedikit gugup."

Sasuke mendesah keras dan kembali meletakkan tangannya di rambut. Tanpa sadar aku menjilati bibirku. "Kenapa kau gugup, Sakura?" tanyanya, suaranya terdengar lembut.

Sekarang atau tidak selamanya. "Aku kira semua ini terlalu tergesa-gesa buatku. Kita baru berkenalan beberapa hari yang lalu..."

"Aku tidak memaksamu melakukan apa yang tidak ingin kau lakukan. Kau tahu itu, kan?" Aku kembali menatap lantai, tapi tiba-tiba ia menempatkan jarinya di bawah daguku, memaksaku menatapnya. Mata hitam pekatnya terlihat menyesal. "Aku minta maaf, oke? Hanya saja..." Ia kembali mendesah frustrasi. "Di satu saat kau duduk dipangkuanku, bernapas di leherku, dan di saat berikutnya kau langsung berlari ke dapur, aku merasa mendapat camukan dari perubahan suasana hatimu yang tiba-tiba—... Aku tidak bisa mengikutinya."

Aku mengangguk—aku kira suasana hatiku memang selalu bergerak seperti roller coaster saat bersamanya. Aku pasti juga akan mendapat perlakuan yang sama dari pria manapun kalau sifatku masih seperti ini. Dan tentu saja Sasuke yang memang sudah luar biasa sombong; aku ragu ia pernah punya masalah seperti ini sebelumnya. Ia mungkin tidak tahu apa yang harus dipikirkan.

"Maafkan aku," bisikku. Aku merasa sedikit konyol sekarang. Sepertinya aku juga memberi diriku sendiri sebuah camukan.

Ia mengernyit. "Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa, Sakura."

"Aku memberimu sinyal yang tidak jelas."

"Jadi, apa yang kau inginkan? Katakan padaku."

Aku memberinya senyuman kecil. "Kau tahu, tidak semua wanita gampangan."

Ia menyeringai dan itu membuatku lega saat melihatnya tersenyum kembali. "Jelas sekali."

"Apa yang kau inginkan, Sasuke?" aku menantangnya dan bertanya-tanya seberapa banyak hal yang akan ia ungkap. Tangannya masih di daguku; ia mengelus pipiku dengan ibu jarinya.

"Kau."

Sial, ia membuatku sulit bernapas saat ia berbicara seperti ini. "Hm?" tanyaku.

"Kau. Kapanpun yang kumau."

"Kau tahu, aku bukan salah satu dari gadis-gadis yang bisa kau tiduri setelah kencan pertama berakhir."

"Aku tahu, Sakura, tapi ini kencan ketiga kita. Dan aku tidak sedang berusaha membuatmu melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan." Aku berusaha untuk tetap diam agar aku tidak membocorkan rahasia tentang taruhan itu. Ia melepaskan daguku dan merapikan rambutku di belakang telinga. "Sekarang katakan padaku, apa yang kau inginkan, Sakura."

Apa yang ku-inginkan? Kejujuran terlontar dari bibirku sebelum aku bisa menghentikannya.

"Kepercayaan."

Aku tidak percaya dengan Sasuke. Ia baik, tampan, menawan... tapi tidak bisa dipercaya. Sudah berapa banyak hati wanita yang ia hancurkan? Aku tidak ingin mengetahuinya.

Ia berkedip dan mencari-cari sesuatu di wajahku. Aku ingin tahu apa yang ia cari—pikiran apa yang ia sembunyikan di matanya? Apa aku terlalu jujur dan banyak bicara? Hatiku mulai berdetak gelisah saat menunggu jawabannya...

"Kepercayaan," ucapnya mengulang perkataanku. Ia sudah menurunkan tangannya. "Kau tidak percaya padaku?"

Tidak. "Aku tidak tahu."

Ia tidak terlihat marah atau tersinggung. Ia tampak... menyesal? Apa mungkin ia benar-benar merasa bersalah dengan perbuatannya?

"Aku minta maaf telah membuatmu merasa seperti itu, Sakura," ucapnya. Aku memperhatikannya lekat-lekat, ia tidak mencoba membujukku. Ia tahu aku tidak percaya padanya, tapi ia juga tidak menepis kenyataan itu.

Ia tidak bisa dipercaya... dan ia tahu itu.

Ia meminum seluruh sake di gelasnya dalam satu tegukan cepat dan kembali mengisinya. Aku melihatnya dari dekat, menganalisa setiap gerakannya, sebelum bergerak ke sampingnya untuk mengambil mangkuk. Pikiranku benar-benar kacau. Sebagian besar diriku ingin segera melompat ke pelukan pria tampan ini sebelum ia pergi. Aku tahu ia tidak akan selamanya berada di sisiku. Tapi kemudian, sisi rasionalku melambaikan bendera peringatan, mendesakku untuk mundur sebelum aku terluka.

Tidak masalah bagiku untuk berhubungan seks di luar pernikahan. Tapi, aku tidak mau bercinta hanya untuk mencari kesenangan. Aku butuh kepercayaan dan komitmen.

Aku menuangkan ramen ke mangkuk dalam keheningan. Suasana kembali canggung. Aku tidak tahu harus berkata apa untuk membuat ini menjadi lebih baik.

"Mungkin kita bisa menonton Lost."

Ia tersenyum ramah padaku. "Tidak apa-apa kalau kau mau melanjutkan Grease."

"Aku lebih suka Lost. Dan kau bilang kau tidak suka Grease."

Ia mengangkat bahu. "Tidak juga."

"Baiklah kalau begitu. Kita berdua suka Lost. Menonton Lost lebih masuk akal."

"Tentu saja, Sakura. Tapi, apa pun yang ingin kau tonton tidak masalah untukku."

"Sasuke!" teriakku. "Berhenti mengatakan hal-hal seperti itu hanya untuk menyenangkanku. Karena saat ini, itu sama sekali tidak membuatku senang."

Sasuke tampak bingung pada awalnya, kemudian ia menyeringai. "Apa kau ingin aku berdebat dengan semua keputusanmu?"

"Aku lebih suka kau menyuarakan pendapatmu sendiri."

"Aku membawa film horor, kau ingat?"

"Ya, dan aku menolak untuk menontonnya. Kau juga bisa menolak sesuatu."

"Baiklah, aku menolak Grease."

"Bagus, aku sarankan kita menonton Lost."

"Aku pikir akulah yang menyarankan Lost."

Aku tersenyum. "Kau benar-benar ahli dalam berdebat."

"Itu bukan satu-satunya keahlianku." Ia mengedipkan mata dan aku terkesiap.

"Dasar mesum! Apa kau pernah berpikir tentang hal lain?"

"Kadang-kadang," jawabnya. Ia masih tersenyum nakal. Aku memutar mata, mencoba untuk tidak tersenyum, dan berjalan ke sofa.

"Ayo kita makan di ruang tengah." Sasuke menaikkan alisnya tapi mengikutiku. "Kenapa?" tanyaku. "Ada yang salah dengan makan di ruang tengah?"

"Aku tidak mengatakan apa-apa," Sasuke cepat meyakinkanku.

"Tapi, kau memikirkan sesuatu."

"Tidak, aku tidak memikirkan apa-apa."

"Ya, kau memikirkan sesuatu."

"Tidak."

"Kau tahu, sofa adalah tempat paling nyaman di kebanyakan rumah. Dan akan lebih nyaman makan di sini ketika hanya ada beberapa orang." Aku duduk dan mengatur posisi. Sasuke duduk di sampingku, jarak kami berdua begitu dekat, kaki kami bersentuhan. Aku sama sekali tidak keberatan—aku suka menyentuhnya. Aku tidak sabar untuk duduk di pangkuannya lagi...

Oh sial! Apa aku baru saja mengatakan lagi? Aku benar-benar harus berhenti berpikir seperti ini.

"Kau mau aku menyetel DVD-nya?" tanya Sasuke.

"Oh yeah!" seruku. Aku benar-benar lupa. "Silakan."

Aku menatap pantatnya saat ia berdiri di depan televisi, seperti yang ia lakukan padaku. Aku tidak keberatan dengan tindakannya tadi—itu memberiku sedikit percaya diri. Dan bagaimana mungkin aku tersinggung saat aku duduk di sini, tanpa tahu malu menatap pantatnya dan—mari kita jujur—membayangkannya telanjang?

Sejak kapan hormonku menggila seperti ini? Apa Sascakes memiliki kekuatan semacam itu terhadap diriku?

Ia menyetel DVD dari episode pertama dan kami menonton dalam keheningan yang nyaman. Ia kembali duduk dekat denganku. Pikiranku kembali melayang saat teringat bagaimana rasanya duduk di pangkuan Sasuke, sebuah tonjolan keras menekanku ketika aku merasakan tangan kencangnya dan menghirup aromanya...

Sasuke bertanya padaku tapi aku tidak menyimak. "Hah?" gumamku.

"Aku bertanya, bagaimana menurutmu tentang pendatang baru?"

"Siapa?" butuh beberapa detik untuk menyadari ia sedang berbicara tentang Lost. "Oh! Ya, aku kira mereka biasa-biasa saja." Ia mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?"

"Apa kau menontonnya? Kau kelihatannya sedang tidak fokus."

"Um, aku baik-baik saja," gumamku. "Hanya saja pergelangan tanganku sedikit sakit." Rasa sakit mulai kembali merayap, aku tidak benar-benar berbohong.

"Kau sudah mengompresnya akhir-akhir ini?"

"Tanganku tidak bengkak lagi..."

"Sini," ucapnya sambil mengulurkan tangan. "Biar aku lihat." Aku menaruh tanganku di atas tangannya dan ia berhati-hati melepas kaitan perban sebelum membukanya. Aku tidak bisa memikirkan apa-apa selain sensasi sentuhan tangannya, walaupun ia hanya menyentuh lenganku.

Ia meletakkan perban di atas meja. Tanganku terlihat berkerut dan kotor akibat bekas balutan perban—aku sedikit malu membiarkannya melihat ini. Tapi, kemudian ia meletakkan tanganku di atas pangkuannya dan mulai menggosoknya dengan lembut, sentuhannya halus dan menenangkan... dan aku tidak mau menarik tanganku. Mataku sedikit terpejam dan ia terkekeh.

"Apa kau merasa lebih baik?"

Tidak salah lagi, pikirku.

"Rasanya seperti berada di surga," ucapku. Aku akan mengatakan apa pun yang kau inginkan... asalkan kau tidak berhenti...

"Kau mau aku memijat punggungmu?"

Seluruh tubuhku menegang saat alarm waspadaku menyala. Aku dilema—ya, aku ingin ia memijat punggungku. Aku ingin tangannya di seluruh tubuhku. Tapi, apa ini benar-benar ide yang bagus?

"Um, aku tidak tahu..."

"Aku tidak menggigit, Sakura. Aku janji," ucapnya menyeringai. Wajahku memanas saat memikirkan ia akan menggigitku... oh, Tuhan. Kalau saja ia tahu...

"Baiklah. Tapi, aku tidak akan melepaskan bajuku!" Aku menunjuk wajahnya dengan penuh ancaman dan menantangnya untuk berdebat. Ia memutar matanya.

"Aku tidak pernah memintamu melakukan itu. Ayo, sini, duduk di depanku."

Ia membuka lebar kakinya dan menepuk sofa di depannya, mengundangku untuk duduk di sana. Sial, aku akan duduk di antara kakinya, dan aku sudah tidak sabar.

Aku bergerak perlahan—hati-hati—agar aku tidak tampak terlalu bersemangat. Saat aku sudah duduk di depannya, Sasuke mulai mengumpulkan rambutku dan meletakannya di atas bahuku sebelah kanan. Merasakan jari-jarinya menjalar di punggungku membuatku menggigil.

"Kau kedinginan?" tanyanya pelan.

"Tidak, aku baik-baik saja," aku meyakinkannya. Kemudian tangannya memegang bahuku dan ia mulai memijatnya. Tidak ada kata untuk menggambarkan kebahagiaan yang kurasakan saat ini. Mataku langsung bergulir dan terpejam, aku sangat bersyukur ia tidak bisa melihat wajahku.

Aku mengerang saat ia memijat tempat yang tepat. Sasuke terkekeh sekali, tapi pada saat ini aku tidak peduli. Aku hanya bisa berfokus pada tangannya yang membuatku merasa lebih baik... dan fakta bahwa ia belum, bahkan tidak sekalipun, mencoba melakukan semacam trik licik padaku. Aku ingin tahu apa ia benar-benar merasa bersalah...

Aku tidak cukup dekat untuk merasakannya, tapi aku yakin ia sedang ereksi. Aku segera memperbaiki situasi dengan bergeser mundur, dan bersandar di dadanya. Seluruh tubuhnya menegang dan tangannya berhenti bergerak di pundakku. Aku pikir ia juga berhenti bernapas.

Dan ya, ia sedang ereksi.

"Sakura," ucapnya memperingatkanku. "Kau membuat ini semakin sulit."

Aku bergumam minta maaf dan kembali bergeser ke depan. Setidaknya aku berhasil memecahkan misteri kecilku.

"Oh, Tuhan," gumamnya pelan. "Apa yang kau lakukan padaku?"

"Aku hanya mencoba untuk duduk lebih nyaman," aku berbohong. Tangannya mulai memijatku lagi. "Mmm. Ini benar-benar terasa menyenangkan."

"Kau yakin kau tidak ingin melepas bajumu?" ia bertanya polos.

"Ya, Sascakes, aku yakin." Aku memutar mata, meskipun ia tidak bisa melihatnya.

"Hmm... aku mulai suka saat kau memanggilku Sascakes."

"Benarkah?" Aku terkejut dan memutar kepalaku melihatnya. Ia menyeringai, matanya penuh candaan. "Baguslah, karena aku tidak berencana untuk berhenti memanggilmu seperti itu."

"Aku tahu, Sakura," ia meyakinkanku dan mendorong bahuku agar aku kembali melihat ke depan. Episode satu Lost sudah berakhir, layar kembali menampilkan menu utama. "Jadi, apa aku boleh memberimu julukan konyol?"

"Kau tidak cukup pintar," ejekku. Tangannya berhenti memijat pundakku.

"Benarkah?"

"Aku hanya bercanda, Sascakes. Jangan diambil hati."

"Apa yang harus kulakukan padamu?" ia merenung. Tangannya kembali bekerja dan bergerak turun di punggungku, tangannya hampir menyentuh sisi geliku—aku menggeliat menjauh walaupun ia belum sempat melakukan apa-apa. "Ada apa?" tanyanya polos. Terlalu polos.

"Jangan coba-coba memulainya lagi, Sasuke, atau aku bersumpah kau akan menyesal."

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Haruno. Aku hanya sedang berusaha memberi pijatan terbaik dalam hidupmu..."

"Kesombonganmu mencakup semua hal, ya?" Aku berdiri dan kembali duduk di sebelahnya. Aku hanya bisa menanggung sedikit sentuhan dari pria ini sebelum aku benar-benar terbakar.

"Apa artinya itu? Aku tidak sombong," ucapnya. Ia tampak tersinggung. Aku tidak peduli sedikit pun—seseorang perlu mengempiskan egonya sedikit. Dan tampaknya tidak seorangpun mau melakukan tugas itu.

"Kesombonganmu cukup untuk memuatmu berpikir aku akan tidur denganmu pada—oh, mari kita lihat—kencan ketiga," tantangku.

"Ini tidak masuk akal," ujarnya.

"Omong kosong!"

"Aku tahu temanmu, Ino, sudah tidur dengan Sai, bahkan sebelum mereka pergi berkencan."

Sial! Bagaimana ia tahu tentang itu? Ino sialan. "Apa Sai memberitahumu?" tanyaku terperanjat.

"Dia tidak perlu memberitahuku. Ino bersamanya sepanjang hari dan mereka tidak pernah meninggalkan rumah Sai."

Aku menyilangkan lengan dengan gusar. "Itu tidak berarti apa-apa."

"Apa kau sudah bertanya pada Ino?"

"Itu pembicaraan antar wanita—dengan kata lain 'bukan urusanmu'."

Ia nyengir ke arahku. "Sudah kubilang."

Aku cemberut. "Yeah... kebetulan saja aku sedikit lebih tradisional dari Ino. Dan Minggu tidak dapat dihitung sebagai kencan, karena aku menghabiskan sebagian besar waktuku di rumah sakit."

"Koreksi—dalam hal ini, Minggu seharusnya dihitung sebagai dua kali kencan."

"Kenapa aku harus membicarakan ini denganmu?"

"Karena kau menyebutku sombong."

"Kau memang sombong."

"Apa kau ingin memulai lagi percakapan ini?"

Kami saling menatap tajam, sofa ini sudah seperti arena pertandingan. Kemudian, secara bersamaan, kami tertawa terbahak-bahak.

Ini sama kacaunya dan lucu.

Saat kami mulai tenang, aku menawarkan untuk memulai episode lanjutan Lost, tapi Sasuke menolak dengan sopan.

"Aku harus kembali ke Suna malam ini," jelasnya. "Mungkin sebaiknya aku pulang sekarang."

"Oh, oke. Aku akan menemanimu berjalan ke bawah." Aku berdiri dan bergerak untuk memasang sendalku.

"Kau tidak perlu melakukan itu, Sakura."

"Tidak apa-apa."

"Lalu siapa yang akan mengantarmu kembali ke atas?"

Aku memutar mata. "Sasuke, aku selalu berjalan sepanjang waktu di tempat ini sendirian."

"Kau benar-benar tidak harus melakukan itu. Itu tidak aman."

"Ini adalah salah satu apartemen paling aman di Konoha. Aku akan baik-baik saja."

"Kau benar-benar tidak tahu bagaimana caranya membiarkan orang lain merayumu, ya?" tanyanya menggodaku.

Aku menyeringai. "Tidak."

Ia kembali memasang perban di pergelangan tanganku. Kami menggunakan lift meskipun apartemenku hanya berada di lantai tiga. Tidak ada orang lain selain kami; lift terasa sunyi dan tertutup dan mengintimidasi. Kami bahkan tidak berpandangan satu sama lain ketika turun. Apa yang membuat ketegangan seksual terasa begitu tinggi?

Saat kami berjalan keluar, aku bertanya dengan santai, "Apa aku harus bersiap-siap menunggu kejutan kunjungan lagi minggu ini?"

Ia tersenyum. "Kau tidak suka?"

"Tidak, aku suka."

"Aku senang mengunjungimu, Sakura. Aku harus melihat dulu bagaimana pekerjaanku minggu ini. Kalau terlalu sibuk, aku mungkin tidak bisa mengunjungimu."

Aku mengangguk dan berharap wajahku tidak terlihat sekecewa perasaanku. Ini aneh, aku menikmati kehadirannya. Aku bertanya-tanya apa ia juga merasakan hal yang sama atau sudah sangat ingin menyingkir dariku. Tapi, ia tampaknya menikmati kencan kecil kami—setidaknya sebelum aku berlari ke dapur.

Kenapa, oh kenapa kau seorang womanizer, Sascakes?

Tapi, aku rasa jika ia tidak membuat taruhan itu, kami tidak akan pernah bertemu. Atau mungkin kami akan bertemu dalam keadaan normal, namun peluangnya akan sangat kecil. Apa ia akan mendekatiku tanpa taruhan?

Tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang. Semua sudah terjadi.

Aku menghela napas.

"Yah, aku bersenang-senang malam ini," ucapku. Kami telah sampai di pintu keluar—aku berpikir ia mungkin tidak akan membiarkanku menemaninya berjalan sampai ke luar gedung. "Terima kasih sudah datang mengunjungiku. Dan terima kasih ramennya."

Ia berbalik menatapku sambil tersenyum miring. "Aku juga bersenang-senang malam ini. Dan aku sekali lagi meminta maaf padamu tentang kejadian sebelumnya—aku benar-benar bajingan."

Aku mengangkat bahu. "Memang, tapi kurasa itu gara-gara kesombonganmu." Aku menyeringai agar ia tahu aku tidak bermaksud serius.

Ia cemberut. "Kau mau mulai lagi, ya?"

"Tidak malam ini." Aku berpura-pura menguap dan mendorongnya ke arah pintu. "Aku sudah lelah. Kau harus pergi." Aku mengusirnya dan ia terkekeh.

"Aku mengerti. Kau sudah tidak sabar untuk menyingkirkanku?"

"Ya, semacam itulah. Ada sepuluh acara yang harus kutonton. Ini akan menjadi malam yang sangat panjang."

Ia menyeringai. "Semoga berhasil, Sakura."

"Terima kasih."

"Mimpi indah, Sakura. Aku akan meneleponmu lagi."

Dengan sebuah kecupan cepat di pipiku, ia berbalik pergi, dan aku secara mental menghukum diriku sendiri. Pikiranku seolah-olah terbagi, mereka sedang berperang—satu bagian, bagian yang tertekan secara seksual, marah dan mencakar perjalanan menuju kebebasan. Tampaknya hanya dengan melihat Sasuke, mereka berhasil bangun dari tidur lelap selama bertahun-tahun.

Sisi yang lain, sisi yang jauh lebih rasional, kini sedang memegang bendera peringatan di tangan mereka masing-masing, mereka melambaikannya dengan histeris, berusaha menarik perhatianku.

Ini adalah keputusan yang sulit, tapi sisi rasionalku benar—aku harus mendengarkan mereka. Tapi, kalau aku sedikit memberi kepuasan pada sisi seksualku yang sedang tertekan, mungkin mereka akan pergi?

Keberanian dalam diriku, yang dikendalikan oleh sisi seksualku, tidak diragukan lagi sudah meledak sebelum aku bisa menghentikannya. "Sasuke, tunggu!"

Sasuke berbalik untuk melihatku, kedua alisnya terangkat. Aku melangkah keluar pintu dan berjalan tergesa-gesa menemuinya.

"Ada apa?" tanyanya sedikit cemas.

Aku menggeleng. "Tidak ada apa-apa," aku meyakinkannya. "Hanya saja—aku seharusnya melakukan ini dari tadi, Sasuke." Aku meraih kerah bajunya, menariknya ke arahku dan menangkap bibirnya dengan bibirku. Matanya terbelalak kaget, tapi ia dengan cepat mengendalikan situasi dan memejamkan matanya; tangannya menjalar di punggungku dan menarikku lebih dekat ke tubuhnya. Tanganku melakukan apa yang mereka inginkan sejak pertama kali bertemu Sascakes... mereka merayap di dadanya, merasakan setiap inci tubuhnya, dan akhirnya berhenti di rambut lembutnya.

Aku sedikit membuka bibirku dan Sasuke mengambil kesempatan, lidahnya melesat dengan cepat dan membelai lidahku. Aku mengerang, dikelilingi oleh sentuhan dan baunya yang wangi membuatku linglung. Jari kakiku meringkuk. Ciuman ini cukup... menggairahkan... dan ketika ia akhirnya menarik diri, napasku terengah-engah dan aku merasa lemah, seolah-olah aku baru saja lari maraton.

Aku tidak pernah melakukan ciuman yang begitu... intens.

Sasuke juga terengah-engah sama sepertiku, dan ini membuatku merasa sedikit lebih baik. Tapi, wajahku kembali memerah saat tatapanku bertemu dengan tatapannya, aku tiba-tiba merasa malu karena baru saja melemparkan diri padanya seperti ini.

"Wow," ucapnya sambil tersenyum.

Yeah, wow, tepat sekali.

Aku harap aku tidak membuat kesalahan besar. Aku perlu berkonsultasi dengan Ino... oh, Tuhan, ia tidak akan senang mendengar ini. Tapi, aku tidak tidur dengan Sasuke. Aku tidak melakukan kesalahan! Apa salah ketika kau sesekali punya keinginan untuk dikecup oleh seorang pria tampan?

Aku harus menjauh dari sini. Aku bisa merasakan kepanikanku yang sedang merambat.

"Terima kasih sekali lagi, Sasuke," ucapku, wajahku terasa terbakar. Aku berjinjit dan mengecup singkat bibirnya sekali lagi untuk yang terakhir kali, sebentar—kenapa tidak? Kami baru saja bercumbu panas di parkiran ini selama lima menit. Satu kecupan singkat tidak akan menyakiti siapapun. "Hati-hati. Aku akan masuk."

Aku berbalik dan berjalan perlahan. Butuh energi ekstra untuk membuatku tidak kembali lagi berlari keluar dan mengejarnya.

o0o

to be continued

o0o