A Betting Man

.

.

Sakura's POV

Aku berjalan menaiki tangga dan begitu menghilang dari pandangan Sasuke, aku langsung berlari sampai ke lantai tiga, berusaha menghilangkan kecemasanku. Saat aku sampai di apartemen, sisi rasionalku segera mengambil alih pikiranku dan sekarang mengkhawatirkan reaksi Ino. Aku tiba-tiba merasa tidak begitu yakin untuk menceritakan tentang ciuman kami. Oh, Tuhan. Apa yang harus kulakukan? Aku harus memberitahu seseorang.

Persetan dengan ini semua, aku harus menceritakannya pada Ino. Ia dan Sai akan tahu apa yang harus dilakukan berikutnya. Apa Ino sedang bersama Sai sekarang? Aku mengambil ponsel dan menghubunginya. Panggilanku berakhir di voice-mail, aku mengamuk dan meninggalkan pesan dengan panik.

"Sialan kau, Ino, jawab teleponmu! Aku sedang krisis sekarang! Berhenti menunggangi Sai dan beri dukungan moral pada temanmu. Shannaro!" Aku membanting ponselku, dadaku naik-turun setelah selesai mengomel dan marathon menaiki tangga. Tidak ada yang bisa mengatakan aku tidak olah raga hari ini.

Aku harus rileks. Aku perlu... ooohh, sake! Aku mengambil botol sake dari meja dan meneguk langsung dari botolnya.

Ponselku berdering. Telepon dari Ino, terima kasih, Tuhan.

"Apa masalahmu?" ucapnya marah segera setelah aku mengangkat teleponnya. "Aku baru saja keluar dari kamar mandi. Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi? Apa kau terluka?" Ia benar-benar panik. Bagus sekali, Sakura. Jika ada cara untuk membuat situasi lebih buruk, aku yakin akan menemukannya.

"Tidak, aku tidak terluka," aku cepat-cepat meyakinkannya.

"Lalu apa arti semua ucapanmu tadi? Aku benar-benar kehilangan kesabaranku. Kau masih bersama Sasuke?"

"Bagaimana kau tahu aku bersama Sasuke?"

"Sai mengatakannya padaku... Oh, Tuhan! Kau tidur dengannya!?"

"Tidak!"

"Jangan berbohong padaku, Haruno Sakura..."

"Aku tidak tidur dengannya! Aku hanya..." Aku merasa tidak enak menyebutnya keras-keras. "Akusedikitmenciumnya," gumamku cepat dalam satu tarikan napas.

"Kau apa? Kau bilang kau menciumnya?"

"Um, yeah."

Ia menghela napas lega dengan keras. "Oh."

"Oh?"

"Ciuman tidak apa-apa."

"Benarkah?"

Ia berhenti sejenak. "Apa kau yakin kau tidak tidur dengannya?" tuntutnya.

"Ya! Aku yakin."

"Lalu apa yang membuatmu panik?"

"Aku menciumnya, Ino!"

"Ya. Lalu?"

"Lalu!?"

"Ciuman tidak berarti apa-apa! Pernahkah kau bermain putar botol? Seven minutes in heaven—tujuh menit di surga?"

Ia tidak mengerti. "Ini bukan sejenis ciuman permainan putar botol, Ino."

"Apa kau hanya sekedar menciumnya?"

"Ya... apa lagi yang bisa kami lakukan?"

Aku hanya bisa membayangkannya memutar mata saat ia mendengus di telepon. "Banyak yang bisa kalian lakukan. Apa kalian berdua masih berpakaian lengkap?"

"Masih."

"Baiklah. Di mana kejadian itu terjadi?"

"Di luar. Aku mengantarnya ke mobil."

"Oh... jadi semacam ciuman selamat jalan?"

"Ya..."

"Baiklah. Itu tidak apa-apa."

"Apa kau yakin?"

"Tentu saja."

"Jadi, tidak ada salahnya kalau aku melakukannya lagi?" tanyaku penuh harap.

"Sakura!" Ino menegurku. "Apa ciumannya begitu dahsyat?"

Aku melihat ada sedikit ramen tersisa. Aku menutupnya dan meletakannya ke dalam lemari es sambil mendesah. "Lebih baik dari pada yang kau bayangkan."

"Tidak apa-apa kalau kau menciumnya, Sakura," ia meyakinkanku. "Ciuman bukan bagian dari taruhannya, kau tidak membiarkannya menang. Tapi, Sakura..."

"Hmm?"

"Berhati-hatilah, oke? Pria seperti dia... berbahaya untuk gadis sepertimu."

"Gadis sepertiku?" tanyaku agak tersinggung.

"Gadis baik," ia menjelaskan dengan cepat. "Gadis manis. Gadis yang menghargai dirinya sendiri."

Walaupun sedikit tersinggung, tapi Ino benar. Aku adalah seorang gadis baik-baik. Aku tidak pernah menghadiri pesta-pesta liar, mengkonsumsi obat terlarang, atau tidur dengan orang asing. Aku memiliki pekerjaan tetap dan aku belum pernah mendapat teguran. Satu-satunya kejahatanku adalah sesekali berbicara kasar... Tapi itu salah Ino; ia membawa keluar jiwa pelaut dalam diriku.

Pria seperti Uchiha Sasuke tidak akan pernah tertarik dengan gadis sepertiku. Ia sangat seksi, kaya, dan percaya diri. Ia bisa menciummu sampai kau melupakan siapa dirimu. Ia membuatku merasakan hal-hal yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Dan aku harus menikmati itu semua sebisaku, karena ia tidak akan berada di sisiku untuk waktu yang lama.

Dengan dorongan yang diberikan Ino, aku mendapat sebuah ide yang cemerlang.

Keesokan harinya, saat istirahat makan siang, sambil menunggu antrean di sebuah toko untuk membeli makanan, aku mengirim pesan pada Sai.

Maukah kau memberiku alamat Sasuke di Suna? Terima kasih. - Sakura

Beberapa saat kemudian, Sai membalas pesanku, dan kami terus mengirim pesan sampai aku kembali berjalan ke kantor.

Untuk apa? - Sai

Aku berencana untuk memberinya kejutan malam ini. - Sakura

Kau serius? Apa rencanamu? Ceritakan padaku, Haruno. - Sai

Ngomong-ngomong, aku tahu apa yang kalian lakukan tadi malam. - Sai

Apa yang kau bicarakan? - Sakura

Ino mengatakan semuanya padaku. Kau boleh memberi ciuman selamat tinggal pada kehidupan pribadimu. Oh, dan aku juga sedang makan siang bersama Sasuke sekarang. - Sai

SIAL! Apa dia tahu kau sedang berbicara denganku? - Sakura

Tidak, dia tidak tahu. – Sai

Apa kalian sedang membicarakanku? - Sakura

Mungkin. - Sai

Benarkah? Apa yang dia katakan? - Sakura

Dia bilang kau memohon-mohon padanya untuk menidurimu di parkiran. - Sai

KAU SERIUS!? - Sakura

HA-HA-HA! Tidak, aku hanya bercanda. - Sai

Sialan kau, Sai. Aku hampir menumpahkan minumanku. - Sakura

Tapi aku bisa membayangkan itu benar-benar terjadi! Aku pikir dia menyesal. - Sai

Menyesali ciuman semalam? - Sakura

Menyesali taruhan, duh. - Sai

Baiklah. Dia memang seharusnya menyesal. Apa dia tahu kau tahu tentang taruhan itu? - Sakura

Tidak - Sai

Oke. Kalian di Suna? - Sakura

Ya, hari yang tenang di tempat kerja. - Sai

Oh, baiklah. Mana alamatnya? - Sakura

Aku HARUS tahu apa yang kau rencanakan. - Sai

Untuk apa? Aku yakin kau akan mengetahui setiap detail kehidupanku dari Ino. - Sakura

Benar, tapi aku ingin sesekali menjadi yang pertama memberinya gosip. - Sai

Terlambat, dia sudah tahu. - Sakura

APA! - Sai

Hahaha. Kau payah. Sekarang beri aku alamatnya. - Sakura

Tidak dengan sikapmu seperti ini. - Sai

Jangan buat aku datang ke tempatmu. - Sakura

Kau sudah punya kucing? - Sai

Belum. Kau gila kalau kau berpikir aku akan membeli kucing hanya untuk ini. - Sakura

Kenapa tidak? Itu ide yang bagus. - Sai

Apa yang akan kulakukan dengan kucing itu saat semua ini berakhir? Aku akan terjebak dengan kucing bau. - Sakura

Pasang iklan di koran - Sai

Tidak. - Sakura

LAKUKAN ITU! - Sai

TIDAK MAU! - Sakura

Sasuke benar, kau menyebalkan. - Sai

APA!? - Sakura

HA-HA-HA. Kau mudah dibuat marah. - Sai

Kau tidak lucu. - Sakura

Tidak sedikit pun? - Sai

Tidak. Sekarang, beri aku alamatnya dan ganggu orang lain. - Sakura

Apa yang akan kau lakukan? Kau berencana untuk kembali menciumnya? - Sai

Itu bukan urusanmu. Dan aku ingin memasak makan malam untuknya... di rumahnya. - Sakura

Sebuah kejutan makan malam? - Sai

Ya. - Sakura

Aku akan memberikan alamatnya padamu, kalau kau berjanji untuk kembali memberinya pelajaran. - Sai

Duh. - Sakura

Dia juga butuh ciuman lagi. Aku pikir dia sedikit pucat sekarang. - Sai

Duh duh. - Sakura

1405 Sand Park - Sai

Terima kasih banyak. - Sakura

Beri dia pelajaran - Sai

Sasuke's POV

Sai sudah memesan tempat untuk kami makan siang di sebuah restoran. Aku duduk di seberangnya dan langsung meraih menu. Aku melihat dua botol bir, satu masih terisi penuh, terletak di atas meja. "Apa ini?" tanyaku curiga.

"Uh, bir. Memangnya botol ini terlihat seperti apa?" tanyanya, ia memandangku heran seolah-olah aku sudah gila.

"Aku sedang bekerja, Sai. Aku tidak bisa minum alkohol."

"Kau bosnya. Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan."

"Tidak seperti itu."

"Tentu saja seperti itu. Kalau tidak, apa gunanya kau jadi bos?"

Seorang pelayan melihatku datang dan ia segera menghampiri kami untuk menanyakan pesanan. Aku segera memesan air mineral dan Sai memutar matanya saat pelayan itu pergi.

"Oi, tidak pernah ada yang mabuk karena sedikit minum bir," protesnya.

"Ya, aku tahu," jawabku pendek. Ia mengambil botol dari sisi mejaku dan meneguk birnya, menenggak setengah isinya. Pelayan kembali dengan air mineralku saat Sai bersendawa keras. Menjijikkan. Si Pelayan mengerutkan kening melihatnya dan sedikit melangkah mundur, mungkin takut melihat Sai.

Sai segera sadar dan meletakan botolnya. "Maaf," ucapnya mengingat sopan santun. Tapi, ia tidak terlihat malu. Sai tidak pernah merasa malu.

"Um, tidak apa-apa," jawab pelayan, wajahnya memerah. Ini mengingatkanku pada Sakura dan aku sedikit tersenyum memikirkannya. "Anda siap untuk memesan makanan?"

Kami berdua mengangguk; saat kami selesai menyebutkan pesanan, ia bergegas pergi lagi, sepertinya ia tidak ingin berlama-lama di meja kami. Pelayan lain menghidangkan roti kering dan Sai mengambil potongan terbesar, ia menatapku lama sambil mengunyah.

Aku memecahkan keheningan. "Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Ino?"

Matanya berbinar hanya dengan mendengar nama Ino. Sai biasanya tidak pernah bergerak begitu cepat saat berhubungan serius dengan seorang gadis. Mereka biasanya pergi berkencan beberapa kali sebelum ia mau menceritakannya pada siapa pun.

"Benar-benar sempurna!" jelasnya antusias. "Kami makan malam berdua Senin lalu setelah pulang kerja, dan aku benar-benar menikmati waktuku bersamanya."

"Kau tidak menduganya?"

Ia mengernyitkan keningnya saat ia memikirkan pertanyaanku, kedua sikunya bersandar di atas meja saat ia meneguk bir. "Tidak, tidak juga. Hanya sedikit... aneh, aku kira mungkin karena gadis-gadis yang biasa kutemui seperti harimau kelaparan di atas kasur—dan bodoh—atau sangat-sangat cerdas, tapi berhubungan seks dengan mereka seperti berhubungan seks dengan boneka karet."

Aku mendengus. "Kau pernah mencoba berhubungan seks dengan boneka karet?"

Ia melambaikan tangannya acuh. "Terserahmulah. Kau tahu maksudku. Ino memiliki semuanya, dia seperti paket lengkap, dia adalah gadis pertama yang memiliki semua itu yang pernah kutemui dalam beberapa tahun belakangan ini. Aku pikir aku jatuh cinta padanya."

"Kau belum melamarnya, kan?" tanyaku sambil menaikan sebelah alis dengan penuh rasa ingin tahu.

"Tentu saja belum. Aku bukan aktor drama romantis kacangan. Setidaknya aku perlu waktu satu minggu."

Aku hampir tersedak roti. "Kau benar-benar sudah berpikir untuk melamarnya?" Sai baru kenal gadis ini selama empat hari... sama seperti aku kenal dengan Sakura. Aku bahkan tidak bisa membayangkan untuk menikah sekarang.

Ia kembali melambaikan tangannya dan tidak menyangkalnya. Sai bukanlah orang yang pernah lari dari komitmennya—tidak, Sai lebih baik dari itu.

Ia mengalihkan perhatiannya padaku. "Jadi, bagaimana dengan kau dan Sakura?" tanyanya. Ia sabar menunggu tanggapanku, tapi ia sedikit tersenyum geli. Aku tidak mengerti perubahan suasana hatinya.

Aku mengangkat bahu. "Bagaimana dengan kami?"

"Apa yang terjadi di antara kalian berdua?"

"Tidak ada..."

"Omong kosong. Kau menghabiskan waktumu bersamanya, ini baru pertama kalinya aku melihatmu menghabiskan waktu sebanyak ini dengan seorang gadis. Kau akhirnya mau berhubungan serius dengan seseorang?"

"Tidak," jawabanku terdengar tidak meyakinkan.

"Lalu apa? Dia tidak mau denganmu?" Sepertinya ia berusaha menahan senyum. Kenapa ia menganggap ini lucu?

"Tidak, bukan seperti itu," gumamku sedikit tidak nyaman. "Aku baru mengenalnya selama empat hari..."

"Kau tahu namanya?" ia menyelaku. Aku bingung mendengar pertanyaannya.

"Tentu saja. Namanya Sakura."

"Kalau begitu kau tahu lebih banyak tentang dia daripada kebanyakan gadis yang pernah kau tiduri."

Aku sedikit terkejut dengan tuduhannya, tapi sebelum aku menanggapi, pelayan kembali menyela dengan menempatkan makanan di depan kami. Pelayan itu beranjak dari meja kami untuk mengambilkan bir lagi untuk Sai. Sai segera menyantap makanannya seolah-olah percakapan kami tidak pernah terjadi.

"Apa maksudmu?" tanyaku segera.

Ia mendongak dari makanannya dan menatapku kosong. "Apa?"

"Tentang aku tidak mengingat nama gadis-gadis yang kutiduri. Aku ingat nama-namanya." Aku sedikit berbohong. Aku ingat beberapa nama—tapi terus terang saja, ada beberapa nama yang aku tidak perlu repot-repot untuk mengingatnya. Untuk apa? Apa mereka ingat namaku?

Gadis yang kutiduri selalu menginginkan hal yang sama dengan apa yang kuinginkan. Aku tidak pernah memaksa mereka. Terkadang, aku bahkan tidak perlu melakukan apa-apa. Aku bukan satu-satunya pihak yang bersalah di sini.

"Nama siapa yang kau ingat?" tanyanya ingin tahu.

Aku segera berseru, "Karin."

Ternyata jawabanku tidak memuaskannya. "Itu hanya karena kau menidurinya lebih dari satu kali."

"Jadi?"

"Jadi, dia tidak masuk hitungan."

Pelayan kembali dengan membawa bir untuk Sai. Perasaanku mulai gusar, ketika pelayan pergi lagi aku langsung berbicara padanya, "Terserah apa pun yang ingin kau katakan."

"Kenapa kau tiba-tiba tersingung begini?" tanya Sai menantang. "Kau tak pernah peduli sebelumnya."

Aku mendesah keras. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Tapi, berbicara dengan Sakura—tentang "kepercayaan"—benar-benar membuatku sadar aku telah bersifat bajingan padanya. Gadis-gadis lain hanya ingin meniduriku seperti aku ingin meniduri mereka. Tapi, Sakura menginginkan lebih. Ia bukanlah gadis yang bisa kau tiduri dan kau tinggalkan begitu saja, dan ia tidak pernah mencoba mendekatiku. Dia korban dan aku predatornya.

Sasori telah mengacaukan hidupku. Jika aku kalah taruhan, aku hancur. Jika aku menang, maka aku menghancurkan Sakura.

Sebagian dari kekacauan ini adalah kesalahan Sai. Kalau ia tidak menyeretku ke klub malam waktu itu, maka ini tidak akan pernah terjadi. Kalau ia tidak memaksaku minum empat shot wiski, aku mungkin akan berpikir rasional malam itu.

Aku ingin bercerita padanya tentang taruhan itu untuk mengetahui pandangan dari sisi orang lain. Tapi, Sai bermulut besar dan ia pasti akan segera memberitahu Ino. Dan Ino gila jika ia tidak segera memberitahu Sakura.

Mungkin aku seharusnya menjauh dari Sakura sekarang. Membiarkan Sasori menang tidak akan menjadi hal yang paling buruk di dunia... tidak, itu tidak benar, aku mungkin akan menghabiskan waktu dua puluh tahun ke depan di penjara karena membunuhnya. Hanya memikirkannya menang membuat perasaanku tidak nyaman. Tapi memikirkannya kalah, dan apa artinya itu bagi Rin, membuat perasaanku hangat dan lega.

Pikiranku belum pernah begitu berkecamuk seperti sekarang.

Aku menghela napas, nafsu makanku benar-benar sudah hilang. "Mungkin aku harus menjauh darinya mulai sekarang."

Sai menatapku kaget. "Apa?"

"Dari Sakura. Mungkin aku harus berhenti menemuinya."

Sai tidak tahu alasanku—ia tidak akan mengerti. "Tapi, kupikir kau menyukainya." Suaranya terdengar sedikit meringis.

Benar sekali, Sai. Karena aku menyukainya. Kalau dia gadis yang menyebalkan, mungkin aku tidak akan peduli aku akan menyakitinya.

"Dia gadis yang baik, Sai. Dan kau tahu, aku tidak pernah mau berhubungan serius." Belum lagi kalau Sakura tahu tentang taruhan itu. Apa yang akan terjadi? Ia mungkin akan memotong kemaluanku. Memikirkan itu saja sudah membuatku bergidik.

"Jadi, kau menyukainya atau tidak?" tanyanya lagi.

"Ya, Sai. Aku menyukainya."

"Menyukainya? Atau sangat menyukainya? Itu berbeda, tahu tidak. Aku menyukai pelayan kita. Aku sangat-sangat menyukai Ino."

"Aku menyukainya, Sai," jawabku jengkel. "Dia menarik, dia lucu. Aku bisa mengobrol sepanjang hari bersamanya."

Ia juga cantik... menawan... ia mampu mempertahankan dan menjaga dirinya. Ia memberitahuku apa yang ia inginkan...

Harus kuakui, aku belum pernah bertemu gadis lain seperti Haruno Sakura sepanjang hidupku.

Apa aku pernah berpikir tentang hal lain selain bayangannya berbaring di bawah tubuhku, tentang bagaimana rasanya ketika kulit kami bersentuhan, dan napas hangatnya di bibirku? Tidak. Akankah aku merasa seperti sampah bajingan teregois di dunia, setelah semua ini berakhir?

Ya.

"Dia terlihat seperti gadis berkualitas menurutku," Sai menyuarakan pendapatnya dengan mulut penuh makanan. "Selama kepribadiannya baik, dia akan berharga seperti emas."

Hal-hal sangat sederhana bagi Sai. Aku iri padanya.

Ponselnya berbunyi dan ia menariknya dari saku, ia dengan cepat membaca pesan dan mengetik balasan. Ia meletakan ponselnya di atas pangkuannya setelah itu.

Sai kembali berbicara padaku. "Dengar, aku tahu berhubungan serius dengan seorang wanita sulit untukmu. Tapi, rasanya akan benar-benar menyenangkan ketika kau menemukan orang yang tepat. Berhubungan serius akan membuatmu memiliki seseorang untuk diajak bicara dan menjadi tumpuanmu saat kau mengalami kesulitan. Dan jika gadis itu benar-benar gadis yang tepat, dia akan setia bersamamu tidak peduli apapun yang terjadi, asalkan kau tidak melakukan sesuatu yang terlalu gila, seperti tiba-tiba berubah menjadi pembunuh berantai. Belum lagi, kau juga bisa berhubungan seks kapanpun yang kau mau." Ponselnya kembali berbunyi, dan ia dengan cepat menyambarnya seperti anak kecil mendapat hadiah di hari Natal. Itu pasti dari Ino.

Aku membiarkan kata-katanya meresap, namun itu tetap saja hanya kata-kata. Aku telah melihat dampak negatif memiliki hubungan serius. Aku melihat, secara pribadi, apa yang dilakukan "hubungan serius" pada orang tuaku.

"Ikuti saja kata hatimu," Sai menambahkan. "Itu yang biasa kulakukan."

Sai kembali melahap makanannya. "Kau tahu, Ino bilang Sakura baru saja putus dengan seorang pria bernama Sasori. Sakura pernah menceritakannya padamu?"

Sai menatapku penuh rasa ingin tahu dan aku merasa kegelisahanku memuncak. Tapi, tentu saja ini pengetahuan umum bagi Sai dan Ino. Aku rasa, aku akan lebih khawatir jika mereka tidak membicarakan hal ini.

"Um, tidak," gumamku, tiba-tiba merasa tidak nyaman. Aku bergeser di kursiku dan menyibukkan diri dengan makananku. Sai masih sibuk dengan ponselnya, setengah perhatiannya berada di tempat lain.

"Hmm. Yeah, dia bajingan, itu yang kudengar," ucapnya sambil lalu.

"Kau mengirim pesan pada Ino?" tanyaku sambil berharap untuk mengalihkan topik pembicaraan. Ia dengan cepat melihat ke arahku dan terkejut.

"Umm... ya."

"Katakan padanya aku bilang 'hai'."

Sai mengangguk. "Oke. Tentu saja." Ia kembali mengetik pesan. Ketika ponselnya kembali berbunyi, "Ino juga bilang 'hai'. Jadi kapan kau akan menemui Sakura lagi?"

"Um, aku tidak tahu..." Aku merasa aku harus menggali lubang dan masuk ke sana untuk memikirkan semua kesalahanku padanya untuk seratus tahun ke depan. Bagaimana mungkin aku membiarkan ini menjadi sangat rumit? "Mungkin akhir pekan ini," jawabku lagi.

"Ino bilang kalian berdua ciuman," ucapnya tanpa curiga.

Benarkah? Itu berarti Sakura menceritakan semuanya pada Ino...

Aku mengangkat bahu. Aku tidak ingin membocorkan semua rincian kehidupanku pada Sai saat ini. Mengingat bagaimana caraku bertemu dengan Sakura, semuanya terasa salah.

Bukan berarti ada sesuatu yang salah dengan ciuman kami. Aku belum pernah berkeinginan untuk mencium seseorang selain Sakura. Ciuman menurutku tidaklah nyaman, tapi mencium Sakura... berbeda. Menyenangkan. Menggairahkan.

Sakura adalah gadis pertama yang pernah kucium sepenuh hati dan benar-benar ingin kucium lagi. Aku belum puas dengan ciuman semalam. Memikirkan ini saja sudah membuatku takut.

o0o

to be continued

o0o