A Betting Man

.

.

Sakura's POV

Aku sedikit gugup saat mengemudi ke rumah Sasuke. Aku sudah memikirkan ini sepanjang hari. Sepertinya, aku tidak jauh berbeda dengannya...

Aku berencana untuk menyelinap masuk ke rumahnya dan memasak sesuatu yang mungkin atau tidak mungkin bisa dimakan. Aku biasanya bisa memasak dengan baik, tapi dengan ketegangan sarafku sekarang, aku merasa tidak yakin lagi.

Aku sudah cukup beruntung jika tidak ditangkap polisi gara-gara ini.

Aku menyalakan musik di mobil keras-keras. Saking kerasnya, aku hampir tidak bisa lagi berpikir. Aku dibuat tuli oleh suaranya, dan walaupun aku tidak merasa lebih baik, setidaknya aku tidak bicara sendiri karena kegelisahanku.

Perjalanan menuju rumahnya terasa singkat, seolah-olah hanya butuh satu menit untuk sampai ke sini, bukan satu jam. Aku berkonsentrasi melihat GPS dan berharap tersesat agar aku bisa menghabiskan waktu satu jam lagi untuk menemukan rumahnya. Tapi, tidak ada kesalahan sedikitpun dari jalan yang kutempuh.

Aku mengecilkan volume stereo saat sampai di kompleks perumahannya. Rumah-rumah di sini sangat besar dan berhalaman luas, rerumputannya terawat sempurna. Ada banyak mobil mahal di pekarangan mereka. Kompleks ini penuh pepohonan—beberapa diantaranya bahkan sampai condong ke jalanan, menyapu mobil yang lewat, sementara yang lainnya melindungi halaman-halaman rumah dari sinar matahari dan memberikan kesan teduh.

Aku suka pepohonan. Pepohonan bewarna hijau, terang, dan ramah, memberikan kesejukan. Mereka seperti melambai ke arahku saat aku melintasinya dan aku langsung merasa lebih baik.

Aku langsung menertawakan diriku sendiri sambil mendengus keras. Apa yang salah denganku? Sejak kapan aku suka pepohonan?

Kendalikan dirimu, Sakura. Ini waktunya untuk memainkan permainanmu... dan berhenti memikirkan yang tidak-tidak.

Rumah Sasuke terlihat indah dan luas, seperti rumah lainnya di kompleks ini. Rumahnya terdiri dari dua lantai dan terkesan rapi dan bersih. Tidak ada mobil di pekarangannya, namun angka pada kotak surat menunjukkan benar ini rumahnya. Aku parkir di samping di dekat garasi yang tertutup, dan aku bertanya-tanya apakah memarkirkan mobilku di tempat terbuka seperti ini adalah ide yang bagus atau tidak. Apa ia dekat dengan tetangganya? Apa akan ada seseorang yang menelepon polisi?

Pengamatan singkatku menyimpulkan tidak ada tempat untuk menyembunyikan mobil, kecuali kalau parkir di jalanan. Dan itu akan memakan waktu. Sambil menggelengkan kepala, aku meraih kantong plastik dari mobilku dan berjalan menuju pintu depan.

Aku tidak mengetuk pintu; aku menjangkau lampu teras, dan meraba-raba di sekitar penutup kacanya, aku langsung menemukan kunci pintu. Sai lah yang mengatakan padaku letak persembunyian kuncinya. Aksiku sejauh ini sudah berjalan dengan sangat baik—namun keberuntungan yang kuperoleh tidak menenangkan detak jantungku yang kelewat cepat. Aku menarik napas dalam-dalam dan memasukan kunci ke lubangnya. Pintu terayun terbuka, seperti mengundangku masuk dalam diam. Dan aku menerima undangannya!

Alarm berbunyi dan aku segera menekan nomor yang berikan Sai, alarmnya langsung mati. Terima kasih, Tuhan.

Foyer-nya luar biasa luas dan bersih; dua jendela lebar diposisikan di kedua sisi pintu sehingga sinar matahari dapat masuk ke dalam ruangan. Ubinnya dilapisi karpet bewarna krem; aku berencana untuk melepas sepatu, namun pada akhirnya aku hanya mengangkat bahu dan berjalan melewati karpet dengan sepatu kotorku. Ruang tamu sama bersih dan rapinya—tidak ada satu benda pun yang tidak pada tempatnya. Sofanya terlihat seolah-olah hanya sebagai pajangan saja, bukan sebagai tempat duduk. Ada beberapa lukisan tergantung di dinding, tetapi tidak ada foto satupun—sedikit kontras dengan apartemenku. Rumahnya lebih seperti rumah model di majalah arsitektur daripada rumah seorang bujangan.

Aku melihat tangga menuju lantai dua, asumsiku mengatakan tangga itu mengarah ke kamar tidurnya. Aku merasa gatal ingin menjelajahinya—melihat rahasia kecil kotor apa yang bisa kuungkap—tapi aku menahan diri dan beranjak ke dapur. Tidak mengherankan, dapurnya juga bersih. Setidaknya, untuk saat ini. Kenakalan dalam diriku mulai mengikik.

Aku meletakan semua kantong plastik di meja dan mulai membongkar belanjaanku. Aku tidak yakin bahan makanan apa saja yang ia miliki di sini, jadi aku membawa semua bahan yang kubutuhkan. Tapi, sedikit mengintip ke lemari dapurnya tidak akan menjadi masalah...

Lemarinya benar-benar penuh. Sepertinya persediaan makanan di sini cukup untuk sepuluh orang. Oh, Tuhan. Dan semuanya diatur seperti susunan di toko kelontong: berbagai macam saus diletakan berdampingan, pasta, tepung dan baking soda. Ia bahkan memiliki rak besar khusus untuk bumbu, masing-masing slot kecilnya diberi label nama. Hmm...

Sai benar—Sasuke seorang OCD. Semuanya bersih secara tidak manusiawi dan terorganisir. Ini agak aneh—ia terlihat normal saat kami bersama. Aku membanting pintu lemarinya dan memutuskan untuk tidak memikirkan itu.

Aku memanaskan oven dan menggeledah lemari peralatan memasaknya. Untungnya, aku menemukan sebuah panci pemanggangan; aku membawa panciku sendiri, untuk berjaga-jaga siapa tahu ia tidak punya, tapi aku lebih suka menggunakan pancinya dan membuatnya kotor. Dan bagaimana kalau aku juga menggunakan rempah-rempahnya? Aku kembali membuka lemari dan mulai mengambil semua yang kubutuhkan.

Aku bersenandung kecil sambil meletakkan rempah di meja. Aku butuh musik. Aku meninggalkan dapur, dan dengan berani kembali melangkah ke ruang tengah, menjelajahi CD player. Ia punya banyak sekali hiburan di sini. Ini sedikit menakutkan. Aku mengintip ke dalam rak CD-nya, dan melihat ada ratusan CD musik tersembunyi. Aku mengamati dengan seksama dan genre musiknya juga beragam seperti iPod-nya.

CD-nya disusun menurut abjad band dan musisi. Aku terkekeh saat aku mulai menarik beberapa CD dari rak dan memasukkannya kembali secara acak. Aku meletakkan CD Cat Stevens di sebelah Pink Floyd dan The Velvet Revolver di sebelah Coldplay. Aku menarik keluar semua CD The Beatles dan mendorongnya kembali di sana-sini, tidak ada metode khusus untuk kegilaanku. Setelah aku merasa cukup puas, aku mengeluarkan sebuah CD Oasis dan setelah kesulitan mencari tahu bagaimana cara menjalankan CD player-nya, akhirnya aku bisa memasukan CD dan menyalakannya. Lagu Wonderwall memenuhi ruangan. Ini membuatku merasa jauh lebih baik.

Aku kembali ke dapur dan melanjutkan memasak. Aku membalur rempah-rempah di daging ayam, memotong dadu kentang dan sayuran, dan aku mempersiapkan beras untuk ditanak. Ketika semua sudah selesai kupersiapkan, aku mengambil bahan-bahan yang kubutuhkan untuk membuat Tiramisu—hidangan pencuci mulut paling berantakan yang bisa kupikirkan. Aku mulai memanaskan seteko kopi kental, mencampur krim, dan memasak kuning telur. Saat aku selesai mencicipi larutan kopi dengan jariku, dapur sudah sangat berantakan, seolah-olah aku memasak untuk lima puluh orang—ada banyak tetesan kopi di meja, tumpahan gula dan rempah-rempah, kulit telur, piring kotor, karton susu kosong , kulit kentang, dan urat seledri dimana-mana. Aku berdiri di tengah-tengah seperti prajurit terakhir, satu-satunya prajurit yang selamat dalam perang masak yang mematikan.

Aku merasa sedikit bersalah, tapi aku cepat-cepat menghiraukan perasaanku. Aku hanya bisa berharap Sasuke tidak terkena stroke saat melihat semua ini. Lagi pula, aku membuatkannya makan malam yang lezat.

Tiramisu sudah berada di kulkas dan ayam sudah berada di oven, aku mulai menanak nasi. Aku memikirkan koleksi CD-nya. Apa aku keterlaluan? Orang waras mana yang bertindak seperti itu? Ia akan tahu ada sesuatu yang tidak beres saat ia melihatnya. Sambil menghela napas, aku menutup beras dan berjalan kembali ke ruang tengah untuk memperbaiki kerusakan yang kutimbulkan. Hari mulai gelap; aku tahu ia akan segera pulang. Aku semakin gugup.

Tolong jangan marah. Tolong jangan marah.

Aku hanya ingin membuatnya sedikit terkejut, tapi kalau wajahnya tiba-tiba memerah dan urat keningnya mulai berdenyut, aku akan cepat-cepat keluar dari sini, seperti seekor anjing pengecut. Oh, Tuhan. Aku harap ini bukanlah ide yang buruk. Ini tidak semenyenangkan yang kukira—ini hanya membuatku panik. Shannaro! CD-nya semakin susah diatur karena tidak lagi berurutan.

Rasanya aku baru setengah jalan memperbaiki susunan CD-nya saat aku mendengar suara pintu depan terbuka. Ada enam CD di tanganku. Aku panik mencari-cari huruf C dan M, dan aku merasa seperti seekor keledai bodoh yang tidak kompeten. Jantungku sudah mau copot, tapi sebelum aku bisa bereaksi apa-apa—menghancurkan barang bukti—ia sudah berjalan ke ruang tengah. Aku sangat cemas, aku bahkan tidak bisa menikmati ketampanannya dalam balutan setelan jas; yang bisa kulihat sekarang adalah ekspresi bingungnya saat ia berkata, "Sakura?" Ia berhenti di ambang pintu, seakan-akan takut mendekat. Aku pasti terlihat seperti rusa buruan yang tertangkap. "Aku sudah mengira itu mobilmu. Apa yang kau lakukan di sini?"

Ia tidak terlihat senang atau bahagia atau marah—mungkin belum. Hanya... bingung.

Aku meletakan CD di bawah dan mengangkat tanganku tinggi-tinggi ke udara. "Surprise!" teriakku sambil tersenyum lebar. Ia hanya menatapku selama semenit, tercengang. Sial. "Aku ingin memberimu kejutan seperti yang kau berikan padaku beberapa hari yang lalu. Aku membuatkanmu makan malam! Kau mau lihat?" Aku bergerak mendekat dan berdiri tepat di depannya; aku takut untuk menyentuhnya, takut urat nadinya pecah.

Ia mengernyitkan alis. "Kau memasak makan malam?"

"Ya. Kau tidak mencium wanginya?"

"Bagaimana caranya kau bisa masuk?" tanyanya, mengabaikan pertanyaanku.

Aku melihat ke bawah, malu-malu. "Um... Sai sedikit membantuku."

"Sai?" Sejenak, ia terlihat bingung; kemudian tiba-tiba ia seperti mendapat pencerahan dan mendesah. "Sai membantumu," ulangnya.

"Ya." Aku masih menatap lantai seperti anak kecil yang menunggu hukuman.

"Apa yang kau lakukan dengan CD-CD itu?" tunjuknya.

"Um, aku hanya melihat-lihat."

"Aa."

Ia melepaskan jas dan menggantungnya. Ia masih tidak terlihat senang, dan aku memang tidak mengharapkan itu. Tapi, aku sedikit mengintip melihatnya, ia terlihat lezat dalam balutan kemeja putih dan dasi biru—tiba-tiba, aku merasa ini layak untuk dilakukan. Aku bertanya-tanya apa aku bisa mengambil beberapa fotonya, sebagai 'cindera mata' saat ini semua berakhir.

Ia menatapku sambil melepas dasi, ekspresinya kosong. Oh, Tuhan, ia seksi sekali... Aku menatapnya terang-terangan. Bibirnya tiba-tiba membentuk seringaian.

"Kau melihat sesuatu yang kau suka?"

Aku berkedip cepat dan berpaling. "Um, tidak," bohongku. Senyumnya semakin melebar; meskipun aku merasa malu, aku merasa lega.

Lalu aku ingat dengan kondisi dapur.

"Jadi, kau memasak makan malam, ya?" tanyanya sambil lalu. "Apa yang kau masak?" Ia berjalan ke dapur dan aku panik.

"Tunggu sebentar, belum—" Ia masuk sebelum aku bisa menghentikannya. Ia membeku, korban perang memasak telentang di hadapannya. Aku menelan ludah saat menyelesaikan kalimatku. "—selesai."

Oh, tidak. Tolong kasihanilah aku.

Sasuke's POV

Tarik napas, Uchiha. Tarik. Napas. Dalam-dalam.

Ada sesuatu yang dimasak di atas kompor; lampu oven menyala dan panci pemanggangan terlihat bersinar dari dalamnya. Tapi, aku tidak bisa menikmati itu semua. Pikiranku hanya terfokus pada makanan tumpah, wadah kosong dan piring kotor di tengah dapur. Aku bahkan tidak bisa melihat permukaan meja dapur; permukaannya seperti menghilang, siapa yang tahu ada berapa banyak lapisan kotor di bawahnya.

Bagaimana ini bisa terjadi? Segerombolan anak berusia empat tahun tidak akan membuat kekacauan separah ini.

Sakura tidak mengatakan apa-apa, meskipun aku bisa merasakan kehadirannya di belakangku. Aku memejamkan mata dan perlahan menghitung mundur dari sepuluh sampai nol di kepalaku dan memaksakan diri untuk tetap tenang. Saat aku membukanya, Sakura sudah berada di depanku, wajahnya terlihat waspada.

"Aku akan membersihkannya," ucapnya. Suaranya kecil. Gugup. Aku menghela napas dan menekan tanganku ke wajahku, ke rambutku, mencoba menghilangkan sedikit ketegangan. Ini tidak boleh membuatku marah.

"Tidak apa-apa," aku meyakinkannya, meskipun aku memaksakan senyum. Aku tidak akan bisa tidur malam ini sampai dapur bersih. Aku tidak akan bisa berkonsentrasi pada apa pun sampai ini bersih.

Aku tidak berhak marah padanya. Kalau bukan karena aku, ia tidak akan berada di sini, meskipun seharusnya Sai memberitahuku terlebih dahulu. Aku tidak tahu apa yang harus kupikirkan saat melihat mobilnya terparkir di halamanku—ada satu juta skenario terlintas di benakku, namun semuanya berakhir dengan pertanyaan sama: "Apa yang dia lakukan di sini?"

Aku mulai bertanya-tanya apa yang telah kulakukan sampai-sampai berakhir di situasi ini. Tidak ada gadis lain yang seberani ini; dan tidak ada gadis lain yang pernah dilayani Sai sampai sejauh ini. Tapi, ini aneh, aku baru saja menghabiskan hariku untuk memikirkan apakah aku sebaiknya tidak usah lagi menemuinya atau bagaimana. Tampaknya, Sakura sendiri yang membuat keputusan itu untukku.

Keheninganku semakin membuatnya gugup.

"Berapa lama lagi makanannya selesai?" tanyaku sambil lalu, dan kali ini aku pikir suaraku sedikit lebih tenang. Ia sedikit rileks.

"Um, aku hanya perlu—oh sial, nasinya!" Ia melesat menuju kompor dan membuka tutup periuknya; uap melambung tinggi. Aku sedikit terhibur saat ia sibuk menusuk-nusuk nasi dan mengaduknya sambil mengutuk pelan. "Shannaro, semuanya hangus," ucapnya. Ia menjauhkan periuk dari kompor dan mulai mencari-cari sesuatu di lemari.

Aku bertanya setelah beberapa saat, "Boleh aku membantumu mencari sesuatu?"

"Aku perlu piring atau mangkuk atau apapun." Aku mengambil sebuah piring dan melihatnya mencoba mengikis nasi yang sudah hangus. Lapisan kerak tebal berada di dasar periuk; baunya tengik, bewarna cokelat kehitaman, dan tidak mau lepas.

Sakura melirikku, bingung. "Ini seharusnya tidak terjadi," ia meyakinkanku. Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku.

"Maksudmu, kau tidak bermaksud membuat nasinya hangus?" tanyaku, berpura-pura tidak tahu. Ia memutar matanya sambil menahan senyum.

"Hei, tutup mulutmu. Aku jago memasak."

Aku mengangkat kedua tanganku, menyerah. "Aku tidak pernah bilang kau tidak jago memasak." Kau hanya berantakan.

"Kau berpikir seperti itu." Ia mulai menggosok periuk dengan sendok dan aku merasa ngeri.

"Sebaiknya kau merendamnya dengan air," saranku.

Ia mencemooh dan menempatkan periuk di wastafel sebelum mengisinya dengan air panas dan sabun. "Lihat, kan? Aku akan tahu itu, kalau aku tukang masak yang payah, aku belum pernah menghanguskan apapun sebelum ini. Dan kau, jelas mengetahui semua itu." Ia menggodaku lagi; ia sepertinya tidak pernah puas.

Aku tersenyum. "Oh, yeah? Siapa yang sombong sekarang?"

Ia terkejut dan menoleh melihatku. "Aku tidak sombong!"

"Ya, kau sombong."

"Hanya orang sombong yang begitu yakin dengan hal itu."

"Jadi, sekarang kau bilang aku sombong lagi?" ucapku terperanjat.

"Hei, kau yang pertama kali bilang."

"Kali ini," ejekku.

"Apa maksudmu 'kali ini'? Aku hanya bilang kau sombong saat kau memang benar-benar sombong. Dan itu biasanya terjadi di sepanjang waktu."

Aku menyeringai menatapnya. Bagaimana caranya ia bisa membuatku tersenyum sambil berdiri di dapur yang sudah hancur ini? Aku tidak tahu. Aku mengubah topik pembicaraan, meskipun masih tetap bercanda. "Jadi, bagaimana dengan makanan lainnya, Sakura? Apa masih bisa dimakan?"

Ia memelototiku. Aku bersandar di meja dan melihatnya meraih sarung tangan dan membuka pintu oven. "Ini sudah matang," ucapnya menyindir. Aku sekilas melihat oven dan menemukan potongan besar ayam bewarna cokelat sempurna. Wanginya berembus melewati oven dan berhasil mengalahkan bau hangus nasi.

"Ayo, sini, biar aku yang mengangkatnya," tawarku. Panci pemanggangnya terlihat berat dan aku khawatir ia akan menyakiti pergelangan tangannya lagi jika ia mengangkat beban berat. Ia tampaknya memikirkan hal yang sama dan menyodorkan sarung tangan ke dadaku.

"Silakan."

Aku menarik ayam dari oven, meletakannya di atas kompor, dan mematikan semua peralatan. Baunya lezat dan terlihat menggoda. Untungnya ada kentang dan sayuran di pinggir ayam panggang—tampaknya nasi tidak terlalu penting.

Sakura berdiri dekat di sampingku, tubuh hangatnya menyentuh tubuhku. Ia mulai menusuk ayam dengan pisau dan garpu, mencari-cari permukaan yang belum matang. Ia tidak menemukannya dan langsung tersenyum.

"Semuanya sudah selesai."

Aku mengangguk dan mengambil piring dari lemari. Aku melihat mesin pembuat kopi sudah kotor dan masih ada kopi yang tersisa; ada garis cairan yang sudah membeku berwarna hitam di atas meja. Butiran gula berkilauan dan terlihat lengket. Apa ia membuat kopi? Kenapa berantakan sekali?

"Kau membuat kopi?" tanyaku, berusaha untuk tetap santai. Ia melihat ke arah sumber kekacauan.

"Um, aku membuat hidangan pencuci mulut," jawabnya ragu-ragu.

Benarkah? Tampaknya ia sudah merencanakan ini sebelumnya.

"Apa yang kau buat?"

"Tiramisu."

"Aa."

"Kau seharusnya mendinginkannya semalaman," ucapnya menjelaskan dengan canggung. "Tapi, eh, aku tidak pernah melakukan itu. Sama saja enaknya." Ia menarik pisau dari rak dan menyerahkannya ke tanganku. "Kau mau memotong ayamnya?"

Aku mengangguk dan mencuci tangan, kemudian mengambil pisau dan mulai bekerja, berusaha mengalihkan perhatianku ke potongan ayam dan berusaha keras untuk mengabaikan kekacauan di belakangku. Sakura mengatur meja di ruang makan. Saat aku selesai, aku berjalan menuju gudang dan mengambil sebotol Pinot Blanc. Aku masih berusaha memahami situasi ini; aku benar-benar senang melihat Sakura, namun sebuah suara di pikiranku melarang untuk menikmati kehadirannya. Ia seharusnya berada di Konoha sekarang sambil menonton Lost atau bersama dengan seorang pria baik-baik. Kalau ia tahu apa yang kulakukan, ia tidak akan pernah ingin datang ke sini.

Ia menungguku di ruang makan, saat aku masuk, tatapan kami bertemu dan kami saling tersenyum. Rasa bersalahku meningkat sepuluh kali lipat.

"Aku akan membuka anggurnya," jelasku. Ia mengangguk; setelah botolnya terbuka, aku menuangkan anggur ke dalam gelas dan duduk.

Ia diam saat meletakan potongan ayam di piring kami. Setelah selesai, ia bertanya, "Apa kau marah?"

Aku memikirkan pertanyaannya baik-baik. Apa aku marah karena kondisi dapurku? Atau, apa aku marah karena ia menyelinap masuk ke rumahku ketika kami baru saja berkenalan kurang dari seminggu? Aku tidak yakin pertanyaannya mengarah kemana—mungkin keduanya—aku berusaha bersikap santai.

"Marah kenapa?"

Ia mendesah. "Aku merasa kejutan ini salah."

"Bagaimana bisa?" tanyaku ingin tahu.

"Pertama-tama, kau membuatku menghanguskan nasinya." Ah! Aku membuka mulut untuk berdebat tapi ia dengan cepat memotongku. "Dan kedua, kau sepertinya agak kesal saat melihat dapur. Apa kau marah?"

"Haruskah aku marah?" aku cepat-cepat bertanya. Ia menatapku dari seberang meja.

"Ini tidak masuk akal."

"Aku tidak marah saat melihat dapurnya, Sakura. Hanya... terkejut."

"Oh. Baiklah. Memang itu tujuanku," jawabnya puas, ia mengigit makanan dan aku melihat bibirnya membungkus garpu. Ia memergokiku menatapnya dan menyeringai. "Kau melihat sesuatu yang kau suka?" tanyanya, menggunakan kata-kata yang sama dengan yang kugunakan sebelumnya.

Aku tersenyum dan beralih ke makanan sendiri. "Sebenarnya, iya."

Ia menaikan alis. "Oh? Maukah kau menceritakannya?"

"Sebaiknya aku tidak menceritakannya, Sakura. Ini demi kebaikanmu juga."

Wajahnya merona merah dan ia menurunkan tatapannya. Ini memang aneh, tapi aku senang karena aku bisa membuatnya seperti ini.

Aku menggigit potongan ayam. Tidak mengherankan, rasanya lezat. Aku memuji masakannya; nasi benar-benar tidak diperlukan dan aku juga bilang begitu padanya. Ia tersenyum penuh syukur.

"Terima kasih. Maaf aku sudah menghancurkan rumahmu."

"Hei, kau akan membersihkan semuanya setelah kita makan, kan?" aku tersenyum agar ia tahu aku hanya bercanda—sedikit bercanda. Aku akan membantunya, atau melakukannya sendiri, aku tidak akan meninggalkan dapur dalam kondisi seperti itu. Cukup sulit untuk berkonsentrasi pada makanan ketika kekacauan ada di balik dinding. Tidak mungkin aku bisa tidur.

"Aku punya prinsip 'aku memasak, kau bersih-bersih'," jawabnya dengan mudah.

"Benarkah?" Asumsiku ia hanya beranda, tapi walaupun demikian, aku tidak peduli; karena apapun yang terjadi, aku akan menggosok dapurku sampai bersih. Aku tidak pernah berencana untuk menghabiskan malam seperti itu, tapi aku kira aku memang pantas mendapatkannya.

"Mm hmm."

Ada jeda singkat di pembicaraan kami.

"Jadi," aku mulai berbicara, "Kau bersekongkol dengan Sai."

Ia tersedak makanannya dan aku tidak menyangka ia akan bereaksi seperti ini. Aku tidak yakin apakah ini hanya kebetulan atau ia benar-benar terkejut dengan ucapanku. Aku berdiri dan menepuk punggungnya. Wajahnya mulai berubah merah.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku cemas.

Ia mengangguk dan menyesap anggurnya dengan cepat. "Aku baik-baik saja," jawabnya tergagap. "Aku hanya tersedak." Ia menyeka air mata yang keluar dari matanya. Saat aku melihatnya sudah bernapas normal, aku kembali duduk. "Um, yeah," jawabnya. "Aku bilang padanya tentang kejutan ini dan dia memberiku alamatmu. Apa kau marah?" Ia menatapku hati-hati.

"Aku sudah bilang, aku tidak marah."

"Apa kau marah dengan Sai?"

"Tidak. Tapi, sekarang kau yang masuk ke rumahku, mungkin berikutnya pembunuh berantai..."

"Berikutnya?" Ia tampak tersinggung. "Apa maksudmu 'berikutnya'?"

Sial. "Aku tidak tahu, Sakura. Hanya itu yang terlintas di kepalaku," jelasku dengan bodoh. Ia mendengus pelan dan kembali menyantap makanannya, jelas tidak senang. "Kau tahu, kan, bukan itu maksudku," lanjutku.

"Aku tidak tahu apa-apa." Ia mengunyah makanannya dengan tenang. Aku tahu ia marah.

Aku menggeleng, tapi tidak berusaha untuk membujuknya. Untuk apa? Ia benar; menyangkalnya hanya akan membuat kesalahanku bertambah.

Saat kami selesai makan malam, aku menahan napas dan memberanikan diri kembali ke dapur. Perasaanku tidak berbeda saat melihatnya untuk pertama kali, meskipun sekarang aku tidak lagi terkejut. Sakura mengikutiku dari belakang, benar-benar tenang dengan semua kekacauan ini. Ia memukul punggungku, kebiasaan yang sama dengan Sai, dan berkata, "Sepertinya kau punya banyak kerjaan." Aku menatapnya yang sedang tersenyum lebar.

Aku mengangkat bahu, pura-pura tidak peduli. "Tidak apa-apa selama kau menemaniku."

"Tidak, aku pikir sebaiknya aku pulang saja."

"Benarkah?" tanyaku sambil mengangkat alis. "Makan dan pulang. Begitu, ya?"

Ia menggeliat dan menggosok perutnya; ujung bajunya sedikit naik, sedikit memperlihatkan kulit mulusnya. Aku diam-diam mengintipnya, mencoba agar tidak ketahuan, tapi sepertinya aku adalah orang paling sial di dunia. Sakura terkesiap.

"Kau benar-benar tukang intip, ya?" tuduhnya.

Aku mendengus dan mulai mengumpulkan piring kotor. "Kau seharusnya berkaca sebelum bicara." Aku menumpukan piring di wastafel, sebelum menangani permukaan meja yang lengket. Butuh waktu semalaman untuk membersihkan kekacauan ini. Aku menggeleng, masih tidak percaya dengan kenyataan hanya butuh satu orang untuk membuat dapur seberantakan ini.

"Maksudmu apa?" tanyanya.

"Itu artinya kau tukang intip."

"Tidak!"

Sakura ikut mengumpulkan piring dan sampah. Kami saling mengolok-olok sambil bekerja.

"Kau benar-benar tukang intip, Sakura. Bahkan aku melihat matamu tidak fokus dan aku pikir kau juga sedikit meneteskan air liur..."

Tiba-tiba ada bunyi 'pop' keras dan paha belakangku terasa menyengat. Sebenarnya tidak sakit, tapi itu membuatku kaget dan melompat. Aku berbalik dan melihat Sakura sedang memutar lap piring, bersiap untuk menyerang lagi. Wajahnya sedikit menunduk, tatapannya berbahaya; aku berhasil menghindari serangan berikutnya. Lap piring itu menampar udara, bunyi 'pop' kembali menggema di dapur.

"Argh! Apa yang kau lakukan?" tanyaku sambil menjaga jarak darinya. Sakura tertawa, matanya cerah dan hangat.

"Kenapa, Sascakes? Sakit?" Ia memasang wajah sedih, tapi aku tahu pasti, ia hanya mengolok-olokku.

"Sakura, sebaiknya kau menyerahkan lap piring itu padaku sekarang," ucapku memperingatkan. Senyumnya semakin melebar.

"Aku tidak mau, Sasuke," jawabnya.

"Aku tidak bisa bersih-bersih kalau kau masih memegang lap itu, Sakura. Kau punya waktu lima detik."

Ia mencemoohku. "Kalau aku tetap tidak mau?"

Aku mengabaikannya. "Lima." Ia kembali memutar lap piring, mata emeralnya menatap mataku. "Empat." Masih terus memutar. "Tiga." Memutar, memutar, dan memutar. "Dua." Ia menyerang kakiku; tapi aku sudah mengantisipasi serangannya, aku langsung menyalakan air dingin di wastafel, dan menyemprotnya dengan selang kecil. Air dingin langsung membasahi wajahnya dan ia menjerit.

"Argh! Shannaro!" Bukannya menghindar, ia malah menyergapku, lap piring terlupakan, dan ia meraih tanganku yang masih mencengkeram selang. Ia mencoba mengambil selang dariku, tapi aku lebih kuat; air terus menyemprot dadanya, wajahnya, udara dan dinding.

"Lepaskan!" teriakku sambil tertawa.

"Tidak!"

"Sakura!"

Ia berhasil memutar tanganku, air membasahi wajahku. Kemudian kompor. Lalu lemari es. Kami berdua menolak untuk mengalah.

"Gencatan senjata!" ia mulai berteriak. "Gencatan senjata!"

"Kau duluan!"

"Tidak mau! Dalam hitungan tiga!"

"Satu..." aku mulai menghitung.

"Dua..." lanjutnya.

"Tiga!"

Ia melepaskan tanganku dan melangkah mundur. Sesaat air masih menyemprot dari selang sebelum aku mematikannya. Kami berdua basah kuyup, dan napas kami tidak beraturan. Air menetes dari setiap permukaan dapur. Semua rempah dan gula yang tumpah sudah tersapu air. Kami berdiri di genangan air di tengah dapur.

Sakura terlihat seperti baru saja selesai berenang. Air menetes dari rambutnya yang basah berantakan dan pakaiannya menempel di tubuhnya. Aku bisa melihat putingnya mencuat; tanpa sadar aku terpaku menatapnya. Kejantananku mulai mengeras, aku semakin merasa tidak nyaman dengan celana basahku. Sakura menyadari titik fokusku dan terkesiap, ia buru-buru menutupi dadanya dengan kedua lengannya. Aku masih punya sopan santun dan merasa malu.

"Maaf," gumamku sambil cepat berpaling.

Sakura yang masih terkesiap langsung menjawab, "Sudah kubilang, kau ini memang tukang intip."

Aku tidak bisa menahan senyum. Selama pita suaranya tetap utuh, tidak akan pernah ada momen yang membosankan saat ia berada di dekatku.

Aku kembali mengangkat selang untuk menggodanya, tapi aku tidak menyalakan airnya. Ini baru peringatan. Matanya melebar melihatku.

"Kita baru saja sepakat untuk gencatan senjata," ia tegas mengingatkanku.

Air menurunkan selang. "Anggap saja ini sebagai pelajaran gratis untukmu, Sakura."

"Pelajaran? Kau sama basahnya denganku," protesnya.

Ucapannya membuat pikiranku melayang, membayangkan puting dan anatomi lain di tubuhnya. "Benar. Kau juga membanjiri dapurku."

"Koreksi: kau yang membanjiri dapurmu sendiri."

"Kau yang memulainya."

"Kau mengolok-olokku."

Aku mengangkat alis, tidak percaya. "Kau menyebutku tukang intip. Dua kali."

Ia mendesah keras, menggeser kakinya. Air bergerak di bawah. "Kau punya... kemeja atau kaos atau sesuatu yang bisa kupakai?" Ia menunjuk ke arah dadanya, lengannya masih terkunci rapat. Aku menyeringai melihatnya.

"Aku lebih suka melihatmu seperti ini."

"Sasuke!" Ia melototiku.

"Tenang, Primadona. Aku akan mengambilkan baju untukmu." Ia bergerak ke samping saat aku melewatinya dan aku tidak bisa menahan senyum. Dapurku telah hancur, dua kali—bencana di dalam bencana—tapi ajaibnya, aku sama sekali tidak marah.

Ia melihatku dengan ragu-ragu dari tengah dapur. "Kau ikut?" tanyaku. "Ada kamar mandi di atas, kau bisa menggunakannya."

"Um, yeah." Ia perlahan-lahan mengikutiku. Ia berkata saat kami setengah jalan menaiki tangga, "Aku minta maaf tentang dapurmu."

"Eh—aku pikir, sebenarnya aku tidak butuh dapur."

Ia cekikikan; dan aku tersenyum.

Kami mencapai puncak tangga. Aku masuk ke kamarku untuk mengambil pakaian, aku tidak mengundangnya masuk atau menyuruhnya menungguku. Sebenarnya, ini bukan masalah besar, tapi aku tidak tahu harus bersikap seperti apa, karena itu aku memilih diam. Tidak mengherankan, ia berdiri di ambang pintu, matanya dengan hati-hati menilai kamarku.

Aku menarik keluar sebuah celana dan t-shirt dari laci lemari pakaian. Aku segera keluar kamar kurang dari semenit.

"Kamar mandi ada di ujung sana," ucapku sambil menunjuk. "Ada handuk juga di lemarinya." Ia mengangguk dan mengambil pakaian dari tanganku. Saat ia berjalan menjauh, aku langsung masuk ke kamarku dan menutup pintu.

Ereksiku semakin mengeras, dan aku merasa semakin tidak nyaman. Menyedihkan sekali mengingat betapa mudahnya aku terangsang—hanya dengan melihat Sakura berpakaian basah aku hampir mencapai klimaks. Aku mungkin tidak akan berdaya kalau melihatnya telanjang... tapi, bukan berarti aku akan melihatnya telanjang. Sial, aku masih belum tahu. Aku harus membuat keputusan. Mungkin yang terbaik sekarang adalah menjauh dari Sakura untuk beberapa hari ke depan. Itu akan memberiku waktu untuk berpikir.

Aku membuka resleting celanaku, memberi ruang untuk penisku yang menegang. Ini tidak cukup. Aku harus melakukan sesuatu untuk menyelesaikan 'masalah'-ku, tapi waktuku tidak banyak. Aku sepertinya benar-benar telah berubah menjadi orang mesum. Aku diam-diam masturbasi memikirkannya, padahal ia hanya berjarak beberapa meter dariku...

Aku sudah memutuskan tidak akan mendekatinya lagi. Setidaknya, tidak malam ini; tidak sampai aku punya waktu untuk memilah-milah masalahku. Sambil menghela napas, aku cepat-cepat membuka pakaian dan tanpa mengeringkan tubuh terlebih dahulu, aku langsung mengenakan celana jins dan kemeja yang kuambil dari lemari pakaian.

o0o

to be continued

o0o