A Betting Man

.

.

Sakura's POV

Melihat Sasuke basah kuyup seperti memasuki Taman Surga. Aku tahu aku berlebihan, tapi ia benar-benar menakjubkan, boleh kubilang hampir sempurna. Aku menghela napas dan kembali mengingat kemeja putih basah yang menempel ke dadanya. Ah... malam yang indah.

Aku cekikikan saat memasuki kamar mandi tamunya. Ruangan ini benar-benar rapi dan bersih, dan tidak ada gantungan handuk basah terlihat. Aku dengan cepat mengenakan pakaian Sasuke. Wangi pakaian ini seperti Sasuke—seperti wangi deterjennya—dan aku dengan segera menciumnya dalam-dalam. Kalau aku mencuri pakaian ini, apa ia akan menyadarinya?

Saat aku sedang sibuk memikirkan ide jahatku, aku melihat bayangan wajahku di cermin dan meringis. Wajahku terlihat kucel dan rambutku kusut berantakan. Aku berterima kasih pada Tuhan, karena tidak memakai make-up, bisa-bisa mataku terlihat seperti rakun di depan Sasuke. Aku membuka laci mencari sisir, dan aku terkejut, aku menemukan sebuah sisir merah muda penuh dengan rambut merah panjang.

Aku mengambil dan memelototinya, seolah-olah sisir ini hidup dan bisa merasakan aura permusuhanku.

Jadi, gigolo ini memperbolehkan pelacurnya meninggalkan barang mereka di sini? Itu menarik perhatianku—aku ingin tahu apa gadis ini sering datang ke sini. Ia berberes di kamar mandi ini... Kamar mandi tamu. Bukan kamar mandi pribadi Sasuke. Tapi, apa ini benar-benar membuatku merasa lebih baik? Aku melemparkan sisir itu kembali ke dalam laci dan segera membanting menutupnya.

Suara ketukan di pintu membuatku melompat kaget. "Sakura, kau baik-baik saja? Kau sudah menemukan handuknya?"

"Ya, aku baik-baik saja," jawabku, dan dengan cepat menyisir rambut dengan jariku. "Aku keluar sebentar lagi."

"Aku akan ke bawah, oke?" sahutnya lagi.

"Baiklah."

Jari-jariku tidak bekerja dengan sempurna, tapi aku lebih suka terlihat berantakan daripada harus menggunakan sisir itu. Setelah beberapa saat, aku berbalik dan mengumpulkan pakaian basahku yang tergeletak di lantai. Aku segera menyelipkan bra-ku di tengah-tengah agar Sasuke tidak bisa melihatnya, tapi, kemudian aku berubah pikiran, aku segera menariknya keluar dan meletakannya di atas tumpukan. Tidak akan ada yang terluka kalau aku membuatnya sedikit menderita.

Saat aku turun, Sasuke sudah kembali sibuk membersihkan dapur. Ia berbalik saat aku masuk dan terang-terangan memeriksaku dari kepala hingga ujung kaki; ia menyeringai dan aku memutar mata.

"Kau tidak pernah belajar, ya?" tanyaku. Ia mengangkat bahu, bingung. Aku memegang pakaian basahku, bra hitamku berteriak meminta perhatian, "Aku harus melakukan apa dengan pakaianku?"

Wajahnya menyeringai nakal dan dengan cepat mengangguk ke arah pintu keluar. "Lemparkan saja ke luar."

"Sasuke! Aku serius!" tegurku.

"Aku hanya bercanda, Sakura. Sini." Ia mengambil tumpukan bajuku dan aku melihatnya dengan tertarik, tatapannya terpaku pada bra-ku. Kemudian dadaku. Akhirnya, wajahku; ia menelan ludah. "Um, aku akan mengeringkannya di mesin pengering pakaian."

"Oke," jawabku dengan manis.

"Hati-hati kalau berjalan di sini," ia memperingatkanku. "Di sini licin."

"Oke."

Ia berjalan keluar ruangan dan aku segera membersihkan dapur. Tiba-tiba aku sadar, aku ternyata memang memiliki kekuatan untuk menghadapinya. Aku baru saja melihat Uchiha Sasuke, lelaki tertampan yang pernah kulihat di sepanjang hidupku—terengah-engah dan basah—dan aku tidak pingsan. Aku pasti punya kekuatan setingkat dewa. Aku bisa melakukan ini.

Ia pergi selama beberapa menit; aku mulai khawatir dengan keselamatan bra-ku, tapi sebelum aku menyusulnya, ia sudah kembali sambil membawa beberapa potong handuk yang terlipat rapi. Ia meletakkan dua potong handuk di atas meja dan mulai menyekanya, mendorong sisa-sisa noda ke lantai. Aku menonton dengan wajah tertarik, bibirku mengerucut dengan lengan disilangkan. Sasuke melihat sikapku dan mengangkat alisnya.

"Apa?"

Aku segera mengangkat bahu, pura-pura tidak peduli. "Tidak ada apa-apa. Apa kau selalu membersihkan dapurmu seperti ini?" tanyaku skeptis. Air yang tidak menyerap ke dalam handuk ikut bersama noda-noda lain jatuh ke lantai. Sasuke hanya tersenyum singkat dan mengangkat bahu.

"Aku belum pernah melakukan tugas seberat ini sebelumnya—aku rasa, cara kerjaku masih perlu sedikit improvisasi."

Aku bisa melihatnya berjuang keras untuk tetap bersikap santai dengan kondisi dapurnya yang seperti ini. Aku heran, kenapa ia tidak berteriak? Kenapa ia tidak marah? Apa ini masih merupakan bagian dari tipu muslihatnya untuk berhasil meniduriku?

"Baiklah. Sebagian besar dari ini memang salahmu," jawabku.

Ia mengangkat alisnya, tapi tetap diam, ia tenggelam dalam tugasnya.

CD sudah berhenti memainkan musik. Selain suara air yang menetes di lantai, suasana di sini sangat sunyi. Aku memberanikan diri bertanya, "Kau keberatan kalau aku menyetel musik?"

Sasuke mendongak ke arahku, ia menatapku tidak percaya. "Sekarang kau bertanya?" semprotnya. Aku melompat kaget dan ia dengan cepat memberiku senyum bengkoknya; ia berpura-pura ledakan kecilnya tidak pernah terjadi, tapi aku tidak bodoh. Mungkin mengacak-acak CD-nya memang sedikit kelewatan. Oh, tunggu dulu! Ia bahkan belum melihat apa yang sudah kulakukan dengan koleksi albumnya. Aku menelan ludah, bergegas keluar dari dapur dan mengabaikan keengganannya.

Rak CD masih terbuka, beberapa CD saling bertumpukan di atas rak yang sudah tidak tersusun rapi. Aku dengan cepat memasukan CD The Beatles dan mencari kotak CD Oasis. Tapi, aku tidak bisa menemukannya; akhirnya aku langsung memasukan CD itu ke dalam kotak kosong CD The Beatles dan segera menutup rak, menyembunyikan barang bukti.

Saat aku berbalik, aku melihat Sasuke bersandar ke daun pintu ruang tengah, lengannya terlipat melihatku. Aku melompat kaget, dan meletakkan tanganku di dada.

Sasuke menunjuk ke arah rak CD. "Aku lihat kau juga melakukan operasi kecil-kecilan dengan koleksi CD-ku."

Dengan gugup, aku melirik ke belakang, dan cepat-cepat menenangkan diri dan melangkah maju, melewati Sasuke. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," ucapku mantap. Setelah berada di dapur, aku langsung berteriak, "Masih banyak yang harus dibersihkan. Kalau kau ingin aku membantumu, kau harus segera ke sini."

Aku mengernyit ngeri; ucapanku benar-benar terdengar menyebalkan, aku menghancurkan dapurnya dan bersikeras akan membantunya kalau ia ikut bekerja. Ini bukan sifatku; aku selalu membersihkan kekacauan yang kutimbulkan, selalu membayar hutang dan aku selalu meminta izin sebelum menyentuh barang milik orang lain. Aku tidak pernah menyelinap masuk ke rumah orang asing dengan skenario jahat. Aku orang baik. Tapi, Sasuke, membuatku melakukan hal-hal di luar batas kewajaran, ini salahnya, kenapa ia membuat taruhan bodoh itu.

Sasuke mengikutiku ke dapur dan kami berbincang ringan saat bekerja membersihkannya.

"Jadi, bagaimana harimu?" tanyaku santai. Ia menatapku tajam.

"Panjang."

Benar sekali, dalam ucapannya, ia menyiratkan harinya panjang karena aku. Hariku juga tidak lebih pendek, Brengsek. Aku harus bekerja, memasak dan bersih-bersih.

"Aku juga," jawabku. "Tapi, aku tetap merasa sedih mendengar bagaimana harimu."

"Tidak apa-apa, Sakura," jawabnya tanpa menatapku.

Aku memutuskan untuk menggunakan taktik baru: pura-pura tidak bersalah. Ini taktik favorit Ino saat ia mencoba mendapatkan keinginkannya atau membujuk seseorang untuk tunduk padanya—kecuali kalau orang itu aku. Ia akan langsung menghentak-hentakan kakinya ke lantai, dan mengeluarkan tatapan dingin yang dapat membekukan neraka.

"Aku senang melihatmu hari ini, Sasuke," ucapku pelan. "Aku benar-benar bersenang-senang."

Perang air tadi benar-benar menyenangkan—meskipun dingin dan memalukan—tapi, aku tidak begitu yakin ia setuju dengan ucapanku. Aku ingin melakukannya lagi. Aku kesulitan menahan senyum.

"Tentu saja, Sakura, menghancurkan dapurku benar-benar menyenangkan," jawabnya sambil tersenyum.

"Jangan berkata begitu," aku cepat-cepat membalas. "Memangnya, kalau aku tidak ke sini, kau akan melakukan apa?"

"Mungkin duduk sambil bersantai di sofaku."

Aku pura-pura batuk. "Membosankan." Tapi, jujur saja, aku mungkin juga akan melakukan hal yang sama. Aku tidak bisa menilai pria ini.

"Atau mungkin, aku akan bersantai di hot tub," lanjutnya. Aku langsung berbalik menatapnya, ini menarik minatku. Hot tub?

"Kau punya hot tub?" tanyaku. Ia menyeringai melihatku yang tiba-tiba bersemangat.

"Mungkin."

"Dimana hot tub-nya?"

"Di luar, di belakang."

Tidak mungkin! Hot tub adalah alasan sempurna untuk melihat Sasuke kepanasan, setengah telanjang, dan basah—semuanya untuk kenikmatan visualku, tentu saja. Tapi, segera setelah bayangan itu muncul di kepalaku, sisi rasionalku langsung melompat-lompat, mengamuk, memberi bendera peringatan dan berteriak, "Hentikan! Hentikan!"

Aku bahkan tidak punya pakaian renang. Sial, kenapa aku tidak bisa mengantisipasi hal seperti ini akan terjadi? Tapi, pakaian dalamku juga akan menutupi tubuhku sebanyak pakaian renang, walaupun tampilannya kurang menarik...

Sisi rasionalku melotot. Ia malu melihatku. Aku harus berhenti mendengarnya, ia tidak pernah membiarkanku bersenang-senang. Kalau aku mendengarnya, malam ini aku akan menonton Lost untuk kesekian kalinya di sofaku, dan aku hanya akan berkencan dengan Ben Jerry's. Itu sebenarnya tidak terdengar payah... tapi, melihat Sasuke berendam di hot tub terdengar lebih baik. Jauh, jauh lebih baik.

Sisi nakalku langsung bicara tanpa malu-malu sebelum aku bisa menghentikannya. "Ingin berendam malam ini?"

Shannaro. Menyuarakannya dengan lantang benar-benar membuatku sadar betapa bodohnya ide ini. Kalau ia macam-macam, aku tidak akan bisa pergi kemana-mana dalam keadaan setengah telanjang.

Ia sesaat menatapku, seolah-olah berhati-hati sebelum mengambil keputusan. "Kau tidak bawa baju renang," jawabnya.

Tentu saja ia benar; sisi rasionalku bersorak-sorai penuh kemenangan, merasa lega, namun sisi nakalku serasa hampir meninggal. Aku tidak membantah ucapannya.

"Ya, benar," gerutuku. "Mungkin akhir pekan ini?"

Aku secara tidak langsung baru saja mengundang diriku sendiri kembali ke rumahnya akhir pekan ini. Ini tidak benar—sama sekali tidak benar. Tapi, sebelum aku bisa menarik ucapanku kembali, Sasuke menjawab, "Mungkin."

Mungkin? Mungkin? Itu saja? Apa yang terjadi dengannya? Ia seolah-olah berubah dari lelaki penuh birahi yang sangat putus asa ingin memenangkan taruhan bodohnya menjadi lelaki baik-baik. Ini tidak masuk akal. Apa ia sudah membatalkan taruhannya? Apa ucapanku tadi malam benar-benar membuatnya berpikir kembali? Seorang gadis hanya bisa berharap.

Semua botol rempah-rempah sudah berada di atas meja. Aku mengambil dan membawanya ke lemari dan meletakannya sembarangan, aku hanya ingin mengetesnya saja. Aku tidak repot-repot memeriksa label dan menaruhnya sesuka hatiku; aku bertanya-tanya apa Sasuke akan menyadarinya.

Hanya butuh waktu sekitar sepuluh detik sebelum ia berdiri di belakangku, ia berdiri sangat dekat, dan aku bisa merasakan panas tubuhnya. Ia mengintip lewat bahuku.

"Botol-botol ini punya slotnya masing-masing," ia memberitahuku. Aku menatapnya polos.

"Tapi, sudah ada label di tutupnya," jawabku.

"Dan label juga ada di slotnya," jawabnya lagi sambil menunjukkan label-label itu padaku. "Botol-botol ini harus tersusun sesuai dengan labelnya agar mudah untuk ditemukan."

"Aneh sekali," ucapku. "Aku ingin mengatur rempah-rempah ini sesuai caraku sendiri."

"Ya, tapi aku lebih suka dengan cara seperti ini," jawabnya, dan ia mendorongku pelan menjauh dari rak. "Biar aku saja yang menyusunnya."

Aku memutar mata. Aku berjalan menuju wastafel dan membilas sisa-sisa makanan di piring sebelum menjejalkannya ke dalam mesin pencuci piring. Aku masih tidak mengerti—ia jelas-jelas tidak senang, tapi ia juga tidak marah. Ia begitu... tenang. Tanpa ekspresi. Acuh tak acuh. Apa yang kau pikirkan, Uchiha Sasuke?

Dapur hampir bersih. Piring sedang di cuci di mesin pencuci piring, sampah sudah hilang dan meja terlihat kesat dan bersinar. Satu-satunya yang tersisa adalah lantai; aku melemparkan handuk ke bawah dan mulai membersihkannya saat Sasuke selesai menyusun rak bumbu tercintanya. Ia kemudian menarik keluar botol berisi karbol dari bawah wastafel dan mencampurkannya dengan pembersih lantai. Kami mengepel dalam diam.

Saat aku berjalan melewatinya, aku melangkah di lantai bersabun dan tergelincir; ia dengan cepat mengulurkan tangannya untuk menangkapku, aku langsung menggenggam kemejanya, dan hampir membawanya jatuh bersamaku. Sasuke membantuku berdiri sambil tertawa rendah.

"Bencana selalu mengiringimu, ya, Haruno?"

Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dariku, tangannya masih memegang erat lenganku. Tanpa sadar, aku menatap bibirnya. Aku dengan cepat mendorongnya menjauh. "Sepertinya kau yang membawa bencana untukku," gumamku.

Sasuke meletakan tangan di telinganya. "Apa? Aku bawa keberuntungan untukmu?"

"Jangan memuji dirimu sendiri, Sascakes." Ia terkekeh.

Aku memikirkan ciuman kami tadi malam. Aku memang menghalangi-halanginya dua kali semalam. Tapi, kalau ia memang ingin meniduriku, kenapa ia tidak mencoba menciumku lagi? Apa ciuman-ku mengerikan? Tentu saja tidak...

Dapur akhirnya bersih. Aku tidak percaya aku ikut membantunya bersih-bersih. Semua yang kulakukan sepertinya berbalik menyerangku. Tapi, reaksi Sasuke tidak seperti yang kuharapkan. Sial.

Mesin pencuci piring masih bekerja. Dengan helaan napas berat, Sasuke menarik kantong sampah dan mengikatnya dengan kencang. "Aku akan membawa ini keluar," ucapnya, dan tanpa menunggu jawaban, ia langsung membawanya keluar pintu.

Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi. Dapur diselimuti bau karbol dan pembersih lantai. Aku cepat-cepat mengambil Tiramisu dari kulkas dan membawanya ke ruang tengah, bersama dengan dua buah sendok. Sasuke sepertinya tidak akan menyukai ini—tapi, aku tidak peduli. Aku segera duduk di sofa, melipat kakiku, dan meletakan Tiramisu di pangkuanku. Beberapa detik kemudian, aku mendengar Sasuke kembali masuk ke dapur.

"Sakura?" panggilnya.

"Di sini."

Ia memasuki ruang tengah dan menatapku, "Oh, jadi, kau memutuskan untuk makan di sini, ya? Berniat menghancurkan ruangan berikutnya?" godanya. Aku rasa ia hanya bercanda; aku kembali memutar mata.

"Apa kau pernah membuat dirimu sendiri merasa jengkel?" tanyaku tajam.

Ia menyeringai. "Jadi, sekarang aku membuatmu jengkel?"

"Sering."

"Tapi, walaupun begitu, sepertinya kau tidak bisa menjauh dariku."

Aku terkesiap, mataku melebar. Brengsek. Seandainya saja ia hanya tahu. Aku akan membuatnya menyesal karena pernah melontarkan komentar seperti itu padaku.

Ia duduk di sampingku dan aku bergeser menjauh, aku cemberut dan marah. Senyumnya semakin lebar. "Kau marah padaku sekarang?" tanyanya.

"Ya," jawabku ketus. "Dan asal kau tahu saja, kau tidak semenarik itu." Bohong, semua ini hanya kebohongan.

"Tapi, kau pikir aku sedikit menarik?" tanyanya, masih tersenyum.

"Tidak," ini responku yang paling cemerlang.

"Ucapanmu menyiratkan kau berpikir seperti itu."

Aku mengabaikannya dan membuka tutup wadah tiramisu. Tanpa menawarinya, aku langsung mengambil sesendok besar dan mengerang keras. "Mmm, enak sekali," ucapku dengan mulut penuh. Ia mungkin berpikir aku serakus babi, tapi aku tidak peduli. Ia menatapku saat aku memakan sesendok lagi.

"Kau akan memakan semuanya sendiri?" tanyanya geli. Wadah ini besar, cukup setidaknya untuk dua orang Sai.

"Mungkin." Aku kembali memakan tiramisu.

"Hmm." Sasuke tidak berdebat; ia melihatku lekat-lekat.

"Kenapa, Sasuke?" tanyaku. "Kau mau?" Aku menyendok tiramisu dan meletakannya di depan mulut Sasuke. Ia melihatnya sesaat sebelum berkedip memandangku; saat ia membuka mulutnya, aku dengan cepat membalikan arah sendok ke mulutku dan memakannya. Mata Sasuke melebar kaget saat aku tertawa geli.

"Kau pikir itu lucu, ya?" tanyanya, suaranya terdengar rendah, dan sebelum aku bisa berbuat apa-apa, ia sudah menyambar wadah tiramisu dari pangkuanku.

"Hei!"

Ia dengan mudah mengambil sendok dari tanganku, dan masih dalam keadaan kaget dan putus asa, aku langsung merangkak ke atas tubuhnya, berusaha mengambil wadahnya kembali. Ia merebahkan tubuhnya di sandaran tangan sofa dan menjauhkan wadah dari jangkauanku sambil menggigit potongan besar tiramisu. Krim berlepotan di bibirnya dan aku tidak bisa menahan tawaku.

"Ada krim di wajahmu," ucapku.

"Ya, aku yakin kau ingin menjilatinya dari bibirku," ejeknya. Shannaro! Wajahnya menyeringai sombong.

"Jangan sampai aku mengeluarkan jurus ninjaku," ucapku memperingatinya. Ia tertawa keras sebelum menyuap kembali sesendok besar tiramisu ke dalam mulutnya; aku melihatnya seperti elang yang penuh birahi, sadar dengan tubuh kerasnya berada di bawahku. Jadi, mungkin saja aku hanya berpura-pura menginginkan tiramisu lebih dari seharusnya... apa ini bisa disebut dengan kejahatan?

"Ada apa, Sakura?" tanya Sasuke dengan suara dimanis-maniskan. "Kau mau tiramisunya? Ini, buka mulutmu, kapal terbangnya akan mendarat..." Ia menggerakan sendok seperti pesawat dan aku memukul tangannya.

"Kau menyebalkan." Aku kembali duduk di ujung sofa dan berpura-pura merajuk.

"Ayolah, Sakura. Jangan sedih... Aku menyisakannya untukmu." Sasuke bergeser lebih dekat ke arahku dan menunjuk pipi kirinya, di dekat mulutnya yang berlepotan krim. Ia meletakan wadah di atas meja kopi, memberiku kesempatan untuk merebutnya, tapi sisi nakalku kembali muncul tiba-tiba—ia segera meraih wajah Sasuke dan menjilati krim di wajah tampannya. Aku rasa mataku dan mata Sasuke melebar bersamaan.

Shannaro! Apa aku benar-benar melakukan ini?

Tidak ada gunanya menyangkal... Aku memejamkan mata dan mengerang, menikmati rasa krim tiramisu. Harus kuakui, krimnya terasa lebih nikmat saat aku menjilatinya dari wajah Sasuke. Ketika aku membuka mata, aku melihatnya sedang menatapku penasaran, wajahnya masih berada di tanganku.

Aku tidak tahu harus melakukan apa—dalam dunia sempurna, aku akan langsung meleleh ke dalam bantal sofa dan menghilang. Aku baru saja melakukan hal konyol, aku ingin benar-benar lenyap sekarang.

Mungkin aku sebaiknya melepaskan wajahnya... yeah, ide yang bagus, Haruno.

Sasuke kembali menyeringai. "Bagaimana rasanya?" tanyanya.

Aku menaikan alis tapi ikut permainannya. "Sedikit sombong untuk seleraku."

Aku masih belum melepaskan wajahnya.

"Benarkah? Tapi, kau terlihat benar-benar menikmatinya..."

Tutup mulutmu, Uchiha. Tanpa peringatan apa-apa, aku bersandar ke arahnya dan membungkam bibirnya dengan bibirku. Aku memejamkan mata; aku tidak lagi berpikir, aku hanya merasakan dan menikmatinya. Aku bisa mencium lelaki tampan ini semauku. Aku bahkan mendapat restu dari seorang Yamanaka Ino. Aku juga sudah bilang pada Sai aku akan mencium Sasuke lagi... dan Haruno Sakura tidak pernah berbohong. Kecuali, di saat-saat tertentu, tentu saja.

Sasuke membeku sesaat, tapi sebelum aku bisa memikirkan reaksinya, ia sudah balas menciumku, matanya terpejam rapat saat ia menciumku lebih dalam. Lidahnya masuk ke dalam mulutku dan ia terasa seperti tiramisu—hangat dan manis. Tanganku bergerak pelan dari wajahnya dan mencengkeram rambutnya, tangan kanannya mencengkeram pinggulku dan tangan kirinya menyelinap ke punggungku, menarikku semakin dekat.

Setiap inci tubuhku menginginkan ini; aku sudah membayangkan menciumnya lagi, berkali-kali, sejak kami berciuman di luar apartemenku.

Sebelum aku sadar apa yang terjadi, ia dengan lembut mendorongku ke belakang, bibir kami hanya berpisah sesaat. Ia berbaring di atasku, lututnya berada di antara kakiku. Bibirnya meninggalkan bibirku untuk melakukan perjalanan ke daguku, rahangku, ke tulang selangkaku, setiap sentuhan dan hisapannya begitu lembut dan membuat bulu kudukku meremang. Dan tanganku—seperti biasa, mereka menolak untuk meninggalkan rambut Sasuke.

Bibirnya dan tangannya semakin bergerak ke bawah; bergerak dari leherku. Ia menopang tubuhnya dengan siku, dan satu tangannya menarik turun leher bajuku; setiap tempat yang ia cium seperti terbakar. Tangan satunya bergerak ke ujung bajuku, sesaat ia terlihat seperti memikirkan sebuah keputusan—sampai akhirnya, tangannya menghilang dari pandangan, masuk ke dalam bajuku, menggosok lembut kulit dan perutku.

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari aku tidak memakai bra; tangan Sasuke sudah mengusap lembut sisi payudaraku, menggodanya dengan buku-buku jarinya. Setiap sentuhannya membuatku semakin sulit berpikir, tapi aku harus tetap fokus—aku harus tahu kapan saatnya untuk berhenti.

Tanganku menjalar di punggungnya, merasakan otot dan lengannya. Aku ingin kemejanya lepas, sekarang. Dengan sebuah gerakan canggung, aku menarik kemejanya dan ia terkekeh sebelum mengangkat tangan kanannya dari tubuhku dan melepaskan kemejanya. Ini lebih baik. Tanganku berjalan di kulit keras dan hangatnya.

Bibirnya kembali mencium bibirku. Aku bergeser di sofa, mengangkat pinggulku agar posisi kami lebih nyaman, dan aku tidak sengaja menyentuh ringan pangkal pahanya; ia mengerang ke dalam mulutku, suaranya membuat perutku tergelitik aneh.

Tangannya sudah berada di luar bajuku sekarang. Ia menarik ujung bajuku ke atas, dan aku ingin kulit kami saling bersentuhan. Tapi, apa benar ini ide yang bagus? Memperlihatkan dada telanjangku pada lelaki yang hanya menginginkan satu hal dariku sepertinya bukan pilihan yang cemerlang. Tapi, oh ,Tuhan, caranya menyentuhku...

Jarinya mengelus bagian bawah payudaraku dan semua pikiran rasionalku sudah terbang keluar jendela. Tanganku bergerak di dadanya, merasakannya dan menjelajahinya, saat ia dengan lembut menggigit daun telingaku. Aku mengerang keenakan, dan saat ia menarik ujung bajuku sampai ke atas payudaraku, aku langsung duduk, membiarkannya melepaskan bajuku.

Tanpa sehelai benang pun yang menutupi badanku, aku merasa rentan dan terekspos; aku memiliki dorongan yang sangat besar untuk membungkus lengan di atas dadaku, menyembunyikan diri, tapi sebelum aku bisa bertindak lebih jauh, Sasuke berbisik, "Kau sangat cantik."

Pipiku memerah; aku tidak tahu apa ia mengatakan ini pada setiap gadis yang ia tiduri, tapi tidak diragukan lagi, perasaanku hangat saat mendengar suara erangannya. Ia menunduk dan mendaratkan ciumannya tepat di antara payudaraku, sebelum mengisap lembut kedua putingku bergantian, membuatnya semakin mencuat dan mengeras. Ia kemudian menggigit bagian bawah payudaraku. Napasku langsung bergetar.

Bibirnya bergerak ke bawah, melewati pusarku, dan menuju pinggang celanaku. Saat ia memasukan sebuah jarinya ke dalam celanaku, aku semakin gugup—ini sudah terlalu jauh. Dengan napas gemetar aku memanggil namanya. "Sasuke?"

Kedua alisnya naik saat melihat ke arahku. "Ya, Sakura?"

Aku tidak pernah merasakan konflik ingin-dan-tidak-ingin sehebat ini sebelumnya.

Aku tidak tahu harus berkata apa padanya; aku ingin menciumnya lagi, tapi aku tidak ingin ia meniduriku. Ia terlalu mengendalikan situasi ini. "Kemarilah," ucapku pelan, menarik rambutnya dengan lembut, dan dia kembali naik ke tubuhku sampai bibir kami kembali berciuman.

Aku tidak berpengalaman dalam berhubungan seks, tapi aku tahu kalau kami terus melanjutkan ini, maka aku harus mengontrol diri. Dengan sedikit dorongan canggung, aku menyuruhnya berbaring di sofa, dan aku bergerak ke atasnya. Adrenalinku masih terpompa—tapi, sarafku sudah sedikit tenang. Kalau aku bisa mengikatnya dan menyentuhnya tanpa ia bisa bergerak dan tidak mengambil keuntungan dari situasi ini, aku pasti akan melakukannya.

Aku melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan padaku, aku menciuman rahang dan bergerak ke lehernya. Leher dan rahangnya sedikit ditumbuhi janggut, membuat kulitku terasa geli dan keenakan. Tanganku menjelajahi setiap inci dadanya, ia meraih pinggulku, menarikku semakin dekat. Ia menekankan tubuhku ke kejantanannya yang mengeras dan mengerang; perutku kembali terasa menggelitik.

Aku kembali bergerak ke atas tubuhnya, aku mencium, mengisap, memberi gigitan kecil di dadanya dan berharap aku melakukan ini sesempurna yang ia lakukan. Saat aku mencium bibirnya, aku merasakan tangannya bergerak ke dalam celanaku, meletakannya tepat di atas pantat telanjangku, saat ia semakin menekankan tubuhku ke selangkangannya, kami berdua langsung mengerang, merasakan kenikmatan.

Ketika pinggulnya mulai bergerak menekanku, aku tahu sudah saatnya untuk berhenti. Aku bisa merendam kakiku ke air, tapi aku tidak bisa langsung melompat ke dalamnya—pada akhirnya aku hanya akan merasa kedinginan dan kosong. Aku akan dimanfaatkan, dan merasa kesepian dan dikecewakan.

Aku menarik diri dan menatap Sasuke—matanya sangat gelap, penuh nafsu. Keadaan ini membuatku semakin sulit untuk menarik lembut tangannya dari tubuhku; ia dengan cepat menarik kedua tangannya keluar dari celanaku.

Ia tidak akan senang dengan apa yang akan kuucapkan. Aku tidak senang dengan apa yang kuucapkan.

"Aku rasa sebaiknya kita berhenti." Aku terengah-engah, berusaha membangun pertahanan menunggu argumennya.

Matanya mencari-cari sesuatu di mataku saat ia mengusap ibu jarinya di pipiku, menyeka rambut dari wajahku. Aku terkejut saat ia dengan cepat mengangguk. "Baiklah," ucapnya pelan.

Ia membungkuk dan kembali mencium bibirku dengan lembut. Mataku segera terpejam saat bibir kami bertemu.

Aku masih terkejut. Baiklah? Hanya itu saja? Tidak ada argumen? Tidak ada pemaksaan?

Kami duduk perlahan-lahan, dan kembali memasang pakaian. Aku harap aku bisa memikirkan alasan logis agar ia tidak memasangnya lagi, tapi, malam sudah semakin larut. Aku harus melakukan perjalanan panjang kembali ke Konoha dan besok harus bekerja.

Suasana terasa canggung saat kami duduk bersebelahan. Ia sekarang sudah melihatku setengah telanjang, tapi ini tidak terdengar semengerikan sebelumnya. Tapi, tetap saja masih terdengar sangat salah. Satu-satunya hal baik yang terjadi dalam situasi ini adalah kami masih bisa bercumbu saat kami berdua berada di neraka.

Aku menatap tanganku, tiba-tiba merasa malu. "Aku sebaiknya pulang," ucapku pelan.

Sasuke mendesah. "Ini sudah larut. Apa kau yakin kau bisa menyetir sekarang?"

"Tidak apa-apa. Aku tidak cape."

Ia mengangguk, sambil menyisir dengan jari rambut berantakannya. "Baiklah."

Aku bertanya untuk mengobati rasa penasaranku, "Kau masih akan datang ke Konoha akhir pekan ini, kan?"

Ia tersenyum ringan, namun terlihat dipaksakan. Aneh sekali...

"Itu rencanaku," jawabnya.

Ia mengambil pakaianku dari mesin cuci—walaupun aku ingin mengenakan pakaiannya sampai ke rumah, tapi aku mengurungkan niatku dan berjalan ke kamar mandi atas untuk mengganti pakaian. Pakaianku sekarang terasa kering dan hangat tapi tidak terasa nyaman.

Aku meninggalkan sisa tiramisu untuknya—aku sudah membuat hidangan pencuci mulut ini terlalu sering—dan ia mengantarkanku berjalan ke mobil. Kami sedikit berlama-lama di sana, tidak satu pun dari kami tahu harus berkata apa. Ia menjejalkan kedua tangannya ke saku celana sedangkan aku menyilangkannya di dada.

Aku berpikir untuk kembali meminta maaf tentang kekacauan di dapurnya—menyelinap ke rumahnya—tapi, itu akan bertentangan dengan rencana awalku datang ke sini. Aku tetap diam, tiba-tiba merasa terpesona dengan jalanan di bawah kakiku.

"Terima kasih sudah memasak makan malam," akhirnya Sasuke bicara. "Itu cukup... mengejutkan." Aku tidak bisa menahan senyum.

"Tidak masalah," jawabku. "Kalau kau benar-benar menikmatinya, aku akan melakukannya lagi kapan-kapan."

Ia menyeringai. "Mungkin lain kali di tempatmu saja."

"Tapi, dapurmu jauh lebih bagus," rengekku, dan ia terkekeh.

"Hati-hati, Sakura."

"Baiklah."

"Maukah kau mengirimku pesan atau meneleponku saat kau sampai di apartemenmu?"

Aku menaikan alis. "Kenapa?"

"Agar aku tahu kau sampai dengan selamat," ucapnya, seolah-olah ini sudah jelas. "Ini sudah larut."

Aku tidak bisa menghentikan diriku untuk tidak bertanya-tanya apakah sikapnya memang seperti ini dengan semua gadis penghangat tempat tidurnya. Tapi, menurut Sai, ia jarang mengingat nama lengkap seseorang. Tapi, secara teknis, aku juga bukan gadis penghangat tempat tidurnya... dan itu tidak akan pernah terjadi.

"Tentu saja, Sasuke," jawabku sambil tersenyum. "Selamat malam." Aku ingin tahu apa ia akan menciumku sebagai ucapan selamat tinggal. Aku menolak untuk berinisiatif lagi. Kalau aku melakukannya, ini akan menjadi yang ketiga kalinya—3 : 0, perbandingan ini tidak membuat perasaanku menjadi lebih baik.

Ia membukakan pintu mobil dan aku masuk ke dalam, menutupi kekecewaanku di balik senyuman palsu. Kenapa dia tidak menciumku? Dan kemudian aku tersadar... Kami tidak akan berhubungan seks di sini, di jalan masuk rumahnya, jadi apa gunanya? Ia tidak peduli dengan ciuman. Ia tidak peduli denganku.

Pemikiran ini membuat perasaanku tidak nyaman. Aku menghindari tatapannya, takut gerak-gerikku akan membongkar semuanya.

Kemudian, dengan pintu mobil masih terbuka, ia membungkuk dan mencium keningku dengan lembut. "Selamat malam, Sakura," bisiknya, dan ia bergerak untuk mencium bibirku sekali, dua kali, dan tiga kali—ciuman cepat, tanpa melibatkan lidah, tapi terasa sempurna. Aku menyeringai saat ia menarik diri dan ia tersenyum melihat reaksiku sebelum menutup pintu mobil dengan tenang. Aku sedikit melambaikan tanganku melalui jendela, aku tidak yakin ia bisa melihatku, dan perlahan-lahan keluar dari halamannya.

Aku melamun dalam perjalanan pulang, pikiranku terlalu sibuk untuk menyalakan radio. Aku sudah menantikan kunjungannya di akhir pekan ini, dan aku tahu ini salah, tapi aku tidak lagi peduli.

o0o

to be continued

o0o