A/N:

Confucius: atau Kong Fu Zi, adalah seorang filsuf berkebangsaan Cina yang hidup di jaman sebelum Masehi.

.

.

A Betting Man

.

.

Sakura's POV

Yang ingin kulakukan sekarang adalah bersantai di bathtub, namun segera setelah aku berendam, aku mendengar suara ketukan keras di pintu. Tubuhku menegang; siapa itu? Aku tidak menantikan siapa-siapa dan aku sudah bilang pada Ino kalau aku akan berkencan dengan TV-ku malam ini. Namun, ketukan terus terdengar dan aku segera bangkit dari bathtub, aku benar-benar kesal saat aku membungkus tubuhku dengan jubah mandi dan berjalan cepat menuju pintu.

Aku sudah bersiap-siap untuk mengomel, membiarkan Ino merasakan kekesalanku, tapi segera setelah pintunya terbuka, aku berdiri berhadapan dengan Uchiha Sasuke. Ia basah kuyup.

Aku terkesiap, seketika sadar dan menarik jubah mandiku, mengencangkan lilitannya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Suaraku terdengar menuduh.

Sasuke menyeringai licik dan aku kesulitan berdiri tegak ketika dihadapkan dengan mahluk setampan ini. "Aku datang untuk menemuimu," ucapnya. "Dan lihat, aku bawa makan malam." Ia memegang sebuah wadah penuh stroberi yang dilapisi cokelat dan sebotol sampanye.

"Makan malam?" ejekku, berusaha menjaga ekspresi, namun pada kenyataannya ovariumku sedang bersukacita saat melihatnya. Ia melangkah masuk tanpa diundang, pakaiannya meneteskan air di lantai. Kemejanya putih dan tembus pandang—aku mengerling dengan cepat. "Apa kau berenang ke sini?" tanyaku sinis.

"Berenang, berlari—apa pun akan kulakukan untuk sampai ke tempatmu," ucapnya lancar. Ketika aku menaikan alis, ia kembali serius. "Aku kehujanan, Sakura."

Aku tidak tahu sekarang hujan. Aku menutup pintu di belakangnya—saat aku berbalik, ia menatap tubuhku.

"Apa aku mengganggumu?" tanyanya.

"Ya, aku sedang mandi," jawabku.

"Oh, jangan biarkan aku menghentikanmu," balasnya.

Lancang sekali dia! Dan sombong seperti biasa, tentu saja.

"Jangan macam-macam, Uchiha," ucapku cemberut. Aku berjalan kembali ke kamar mandi, piyamaku terlipat dan menungguku di sana. Aku kira Sasuke akan menungguku di ruang tengah, tapi saat aku hendak menutup pintu kamar mandi, pintu dengan cepat terblokir oleh tangannya yang mencengkram dengan kencang. Aku tidak tahu ia mengikutiku. "Shannaro! Apa yang kau lakukan?" tanyaku, terperanjat.

"Bergabung denganmu," jawabnya dengan mudah. Pintu menutup dengan suara 'klik' pelan dan aku tiba-tiba terjebak di dalam ruangan kecil bersamanya. Matanya gelap mengundang. Aku terhanyut di dalamnya sebelum menggelengkan kepala dan melangkah pergi.

"Aku rasa tidak!" seruku.

"Jangan konyol, Sakura. Kau menginginkan ini sama sepertiku," sahutnya.

"Kau tidak tahu apa yang kuinginkan..."

Tapi jelas ia mengetahuinya, karena sedetik kemudian ia sedikit mendorongku ke meja wastafel, tubuhnya yang keras dan basah menekan tubuhku. Aku tidak bisa pergi kemana-mana, lagi pula aku juga tidak ingin kabur. Ia benar—aku menginginkan ini.

"Katakan apa yang kau inginkan," bisiknya. Suaranya rendah, memikat—aku bisa merasakan panas napasnya di leherku saat ia bersandar lebih dekat ke arahku. Sambil berhati-hati, ia menyentuh leherku dengan ujung jarinya, perlahan menyingkirkan jubah mandiku. Aku terperanjat saat salah satu sisinya meluncur ke bawah bahuku. Ia mencium bahuku dan menggigitnya dengan lembut. Aku kehilangan fokus.

"Aku... aku..."

"Katakan, Sakura." Tangannya semakin ke bawah, dengan cekatan melepas ikatan jubah mandiku. Dalam sekejap ia membukanya dan aku merasa terekspos, telanjang di depannya. Matanya menjalari tubuhku perlahan. Hebatnya, aku tidak merasa malu saat ia melihatku seperti ini. Aku terangsang, merasa seksi dan percaya diri; aku dengan cepat menantang tatapan laparnya.

"Kau begitu cantik," ucapnya kagum. "Sekarang, katakan apa yang kau inginkan."

Wajahnya saja sudah berhasil membuatku kehilangan kendali.

"Kau," bisikku.

"Bagaimana kau menginginkanku?"

Aku sedikit malu saat menjawabnya. "Aku menginginkan semuanya."

"Tunjukkan padaku, Sakura."

Aku sedikit mendorongnya, memberiku ruang untuk berlutut di depannya—setelah sedikit meraba ikat pinggangnya, aku kemudian membuka ritsletingnya, menurunkan celana basahnya sampai ke pergelangan kaki. Boxer tidak dapat meredam tonjolan ereksinya. Dengan sebuah gerakan cepat, aku menarik turun boxer-nya dan ereksinya tepat di depan wajahku.

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mengagumi anatominya sebelum meraih dan memasukannya ke mulutku. Ia terengah-engah, kemudian mengerang dan menutup matanya, tangannya menggenggam rambutku saat aku menghisap setiap inci kejantanannya.

"Sakura," erangnya.

Aku senang bisa membuatnya seperti ini, belum lagi aku merasa birahiku memuncak. Sebelum aku sadar dengan apa yang terjadi, ia menarikku berdiri, bibirnya melumat bibirku dengan kasar dan penuh gairah. Saat kami memisahkan diri, matanya terpaku menatapku.

"Bagaimana kau menginginkanku?" tanyanya lagi, suaranya rendah dan berbahaya. Aku mengerang.

"Aku ingin kejantananmu masuk ke dalam tubuhku. Sekarang."

"Berbaliklah," ucapnya, dan aku mematuhinya. Setelah aku berdiri berhadapan dengan cermin, ia segera membuka lepas jubah mandiku, membuatku benar-benar telanjang. Aku melihatnya hati-hati melalui cermin. Tangannya yang lebar memegang bahuku, mendorongku maju mendekati meja wastafel. "Membungkuk." Suaranya serak; aku melakukan apa yang ia perintahkan, dan dalam satu gerakan cepat kejantanannya sudah masuk ke dalam kewanitaanku, aku merasa penuh. Ini bahkan lebih baik dari bayanganku dan aku mengerang keras. Ia masih menekan turun tubuhku, tubuhku dipaksa melawan meja saat ia mendominasiku. Aku belum pernah mengalami hal seseksi ini sebelumnya. Tatapannya kembali sombong saat mata kami bertemu melalui cermin.

"Apa ini yang kau inginkan?" tanyanya, suaranya masih terdengar serak. Ia tiba-tiba meraih rambutku, menarikku dari meja dan membuatku melengkungkan punggung—ini membuat hentakannya semakin dalam, dan aku larut di lautan gairah, aku hampir tidak bisa melihat, hampir tidak bisa berfokus pada apa pun selain dengan apa yang kurasakan sekarang.

Tidak butuh waktu lama sebelum aku mencapai klimaks dan mengerang keras tanpa malu-malu. Ia masih terus memompa kejantanannya keluar-masuk tanpa henti saat kami mendengar suara keras alarm dari kamar tidurku. Apa-apaan ini? Ini masih jam delapan malam. Kenapa alarmku harus berbunyi sekarang?

Suaranya menggelegar, semakin keras dan bertambah keras. Sasuke menatapku melalui cermin. "Apa kau akan mematikannya?"

Tapi, ia tidak membiarkanku bergerak. Sambil meraba-raba, aku merentangkan tangan berusaha menggapai alarm, dan kemudian menjatuhkan semua botol di meja wastafel, botol logam hairspray-ku jatuh ke lantai dengan dentangan keras...

Mataku langsung terbuka, walaupun aku tidak menyadari mataku tertutup. Semuanya gelap; butuh beberapa saat sampai aku menyadari aku sedang berada di kamar tidurku, di tempat tidurku. Alarm masih berbunyi, jeritannya memekakkan telinga.

Dengan napas memburu, aku mematikannya. Semua barangku terjatuh ke lantai, termasuk lampu mejaku. Semuanya tiba-tiba sepi. Sedikit cahaya bulan mengintip melalui tirai jendela.

Napasku terengah-engah, seolah-olah aku baru saja lari maraton... atau baru saja melakukan seks gila-gilaan di kamar mandi. Shannaro, memangnya kau bisa orgasme dalam tidurmu? Aku tidak pernah berpikir ini bisa terjadi, tapi, di sinilah aku berada, aku baru saja mengalami orgasme terbaik yang pernah kurasakan. Semuanya berkat Uchiha Sasuke, yang bahkan tidak berada di sini. Aku bahkan tidak menyentuh tubuhku sendiri... sial, aku harus mendokumentasikan ini di buku harianku. Tapi, aku tidak menulis buku harian!

Sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulainya.

"Oh, Tuhan... Kau tidur dengannya!"

Aku tersedak saladku. Butuh waktu semenit untuk memulihkan diri. "Apa? Tidak," gerutuku.

Ino mendesis di telepon. "Jangan berbohong padaku. Aku bisa mengetahuinya."

"Ino, aku bersumpah, aku tidak berhubungan seks dengannya semalam." Tidak secara teknis.

"Lalu kenapa suaramu seperti itu?"

"Seperti apa?" tanyaku bingung... dan sedikit malu... dan sangat kagum. Oh Tuhan, Ino seperti Yoda yang memiliki pengetahuan baru.

"Suaramu terdengar seperti kau habis berhubungan seks," jelasnya.

"Bagaimana seseorang bisa terdengar seperti habis berhubungan seks?"

"Dengar, aku bisa merasakan hal-hal seperti itu. Ini bukan sesuatu yang bisa diajarkan. Jadi, kau berhubungan seks dengannya atau tidak?" tanyanya menuduh.

"Ino! Tidak!"

"Kau yakin?"

"Ya, Ino. Aku pikir aku akan ingat kalau melakukan hal seperti itu," jawabku jengkel.

"Kau bersumpah?"

"Ino!"

"Baiklah, baiklah. Aku percaya kata-katamu, aku rasa," ucapnya keras kepala. "Walaupun kau terdengar sangat mencurigakan. Jadi, apa yang kalian lakukan tadi malam?"

"Kami hanya nongkrong. Aku membuat makan malam," jawabku.

"Uh. Apa kau menghancurkan dapurnya seperti yang kita rencanakan?" tanyanya.

"Umm... ya."

"Sebelum atau setelah kalian berhubungan seks?" tanyanya lagi.

"Brengsek kau, Ino—"

"Tenang, tenang. Ini hanya lelucon." Tidak, ini bukan lelucon, aku kenal nada suaranya. Sial. "Jadi, apa yang terjadi?" Ia memancing informasi. Saladku, yang hampir tidak tersentuh, sudah berada di ujung meja. Pekerjaanku santai kemarin, namun pekerjaanku tiba-tiba menumpuk setelah aku pulang dua jam lebih awal. Akibatnya sekarang, aku makan siang di mejaku, mengejar ketinggalan. Ino meneleponku empat kali berturut-turut sebelum akhirnya aku menyerah dan menjawabnya.

"Kami perang air," jawabku kemudian.

Ia bingung. "Perang air?"

"Ya—dengan selang wastafel."

"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanyanya lagi.

"Aku memukul pantatnya dengan lap piring."

Ia tertawa histeris. Aku beralih ke surat-suratku sambil tersenyum kecil, tapi tidak ada gunanya—aku bukan multi-tasker yang baik.

"Whooa, Sakura. Kau selalu berhasil melakukan taktik baru, ya? Tapi, apa yang dia lakukan saat melihat dapur? Kau menghancurkannya, kan?"

Aku merasa sangat jahat membahas ini dengan Ino, namun ini sangat menyenangkan dan aku tidak peduli.

"Dia benar-benar tenang saat melihatnya," ucapku, terperanjat. Aku sedikit memelankan suara, berhati-hati agar percakapanku tidak terdengar oleh rekan kerja lainnya. "Maksudku, aku tahu itu membuatnya jengkel, tapi dia tidak marah atau melakukan apapun." Aku baru saja mengaku ini membuatku senang dan frustasi.

"Benarkah? Aku yakin, itu pasti akting," timpalnya.

"Aku kira juga begitu."

"Inti dari misi kita melakukan ini adalah untuk membuatnya jengkel dan menyesal dengan apa yang sudah dia perbuat," ia mengingatkanku. "Jadi, kalau dia terlihat jengkel, itu artinya misi kita sukses. Apa kau langsung pergi dan membuatnya membersihkan dapurnya sendiri?" tanyanya penuh semangat.

Aku ragu, hampir takut untuk memberikan jawaban. "Aku... um... aku sedikit membantunya bersih-bersih," cicitku. Aku berharap ia tidak mendengarku—aku harap ia terkena serangan amnesia mendadak dan melupakan semua ini.

Kemudian keheningan pendek mengikuti jawabanku, dan aku tahu harapanku sia-sia.

"Apa maksudmu kau membantunya bersih-bersih?" Ia berhati-hati mengucapkan kata-katanya.

Aku menghela napas dan mulai menarik tumpukan kertas dalam upaya sia-siaku untuk mengalihkan perhatian, mudah-mudahan, aku tidak perlu menanggapinya. "Kau tahu apa maksudnya," jawabku pelan.

Ia mendengus keras, "Kenapa kau melakukan itu?"

"Aku tidak tahu."

"Kau tidak tahu?" tanyanya tidak percaya.

"Tidak, Ino. Aku. Tidak. Tahu."

"Kau boleh bersikap seperti ini sekarang, Sakura. Kau jengkel karena kau melakukan kebodohan tadi malam." Suasana hatinya sudah berubah 180 derajat, dan aku tidak kaget. Aku bahkan belum menceritakan tentang aktivitas kecil kami di sofa tadi malam... dan sekarang, aku yakin aku tidak akan pernah menceritakan itu padanya, bahkan sekalipun aku sedang sekarat.

"Kalau kau lupa, Ino, aku juga punya tujuan sendiri di sini. Aku ingin membawanya ke pesta pernikahan bersamaku. Aku tidak mencoba menakut-nakuti agar ia segera kabur dariku," bisikku tajam.

"Dia tidak akan kabur. Dia mencoba memenangkan taruhannya," ia mengingatkanku.

"Kita bahkan tidak tahu apa yang dia pertaruhkan. Kalau ini memang tentang uang atau hal bodoh lainnya, ia bisa saja langsung mengatakan 'persetan dengan ini semua' dan melanjutkan hidupnya," jawabku.

"Dari apa yang kudengar dari Sai, dia cukup kaya. Kau benar-benar berpikir ini tentang uang?" tanyanya ragu.

"Aku tidak tahu," jawabku.

"Kenapa seseorang yang begitu kaya akan membuat taruhan demi uang? Ini tidak masuk akal," lanjutnya.

"Kecuali kalau orang itu busuk," sahutku.

"Apa kau pikir dia busuk?" tanyanya.

"Tidak, aku tidak tahu. Mungkin sedikit..."

"Sai pikir ini bukan masalah uang," ujarnya.

"Lalu, apa yang mereka pertaruhkan menurut Sai-yang-tahu-segalanya?" tanyaku sinis.

Ino tidak terpengaruh dengan sikapku. "Dia tidak tahu. Dia sama bingungnya seperti kita."

"Hmm."

"Kenapa Naruto tidak mengikuti mereka sampai ke lorong?" renungnya.

"Benar! Apa yang salah dengannya? Apa yang ada di pikirannya? Seharusnya dia membantuku mengorek informasi," timpalku.

"Dasar pria," ia mendengus. Aku setuju.

"Memangnya apa lagi yang bisa kita bicarakan sekarang?" tanyaku jengkel. "Lagi pula, Sai juga bukan seorang Confucius yang tahu segalanya. Bisa saja taruhan bodohnya adalah uang."

Ino tertawa keras dan kemudian dengan cepat berdehem. "Maaf, aku baru saja membayangkan Sai menjadi Confucius," akunya. "Lucu sekali."

Aku juga tertawa. "Ya, benar."

Ino kembali berkata, "Sai bilang, kalau seorang gadis merokok, gunakan pelumas saat berhubungan seks."

Aku hampir melolong tertawa, beberapa orang melirik melihatku. Sial, aku tidak bisa bicara tentang ini di sini, bahkan sekalipun ini adalah jam makan siangku.

Sambil tertawa, Ino sudah bersiap untuk memberitahuku lelucon lain. "Sai bilang—"

"Hentikan, Ino!" Aku tertawa. "Aku masih di kantor."

"Kenapa kau masih di kantor?"

"Pekerjaanku menumpuk, jadi aku makan siang di kantor."

"Oh," adalah respon sederhananya. Ia melanjutkan pembicaraan. "Jadi, selain bersih-bersih, apa saja yang kalian lakukan tadi malam?"

"Tidak ada," jawabku polos. Mungkin terlalu polos, karena ia tidak memercayainya.

"Ceritakan sekarang." Shannaro.

"Ino, aku sedang bekerja," bisikku mendesak.

Ia mendengus. "Kau tidur dengannya!"

"Tidak!"

"Lalu apa?" desaknya lagi.

"Tidak ada apa-apa, benar-benar tidak ada apa-apa. Aku akan menceritakannya padamu nanti."

"Yang benar saja. Kalau memang tidak ada apa-apa, kau bisa memberitahuku sekarang," ucapnya.

"Aku harus pergi..."

"Tidak. Ceritakan sekarang." Benar-benar pemaksa!

"Tidak ada apa-apa!"

"Sakura..." Nadanya terdengar seperti sebuah peringatan.

"Baiklah, aku tidak bisa membicarakan ini di sini. Aku harus pergi. Aku akan memberitahumu nanti. Bye." Tanpa memberinya kesempatan untuk menanggapiku, aku langsung menutup telepon, me-nonaktifkannya, dan memasukannya ke dalam laci. Beberapa menit kemudian aku benar-benar malu dengan diriku sendiri dan memeriksa setiap artikel. Tidak ada kesalahan.

Kenapa aku begitu bersemangat untuk mendengar kabar dari Sasuke? Aku terus meyakinkan diriku sendiri ini karena aku sedang bosan, tapi itu tidak benar—aku sibuk bekerja di sini. Bahkan, sekalipun ia memang meneleponku, aku ragu aku akan punya waktu untuk sekedar mengobrol.

Mungkin ini karena orgasme dahsyat yang diberikannya di mimpiku tadi malam—ya, sepertinya ini lebih masuk akal. Orgasme itu lebih intens dari apapun yang pernah kualami dalam kehidupan nyataku, dan ini menyedihkan sekali. Dan juga menakutkan. Merindukan Sasuke karena mimpi-orgasme adalah hal yang sangat, sangat berbahaya.

Sambil menghela napas pasrah, aku kembali mencoba untuk fokus bekerja. Aku harus melupakan ini sebelum bertemu atau berbicara dengannya lagi.

Sasuke POV

Setelah Sakura pulang tadi malam, aku segera masturbasi. Dua kali. Kemudian sekali lagi pagi ini.

Oh, Tuhan.

Aku membiarkan semuanya berjalan kelewat batas tadi malam. Aku mengakui itu; aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau kami tidak akan melakukan apa-apa, namun logikaku punya kecenderungan untuk terbang keluar jendela saat seorang gadis seperti Sakura menjilati bibirku dan mengerang di dalam mulutku. Kalau saja ia tidak menghentikanku, aku mungkin akan menidurinya di sana, di atas sofa. Kejantananku sakit menahan birahi; ini seharusnya bisa berjalan dengan mudah. Taruhan akan berakhir—sebagian besar kehidupanku akan kembali normal. Bahkan, mungkin akan lebih baik.

Tapi, ia menghentikanku.

Setelah kembali dari rapat keduaku hari ini, asistenku menyampaikan pesan. "Ada seseorang yang menelepon Anda saat rapat, Tuan Uchiha. Peneleponnya Tuan Akasuna Sasori. Dia bilang ini sangat penting dan mendesak, dan dia berpesan agar Anda segera meneleponnya balik." Ia memberiku nomor telepon.

Apa-apaan ini?

"Terima kasih, Mei." Ia mengangguk dan berjalan keluar ruangan.

Apa lagi yang ia inginkan sekarang? Kemungkinan besar ia hanya ingin mengecek, melihat kemajuanku—memastikan apakah aku sudah menyerah atau belum. Aku menggeleng dan mengabaikan pesannya—aku ragu ia akan mengatakan sesuatu yang mendesak. Aku tidak ingin berbicara dengannya sekarang.

Tapi, beberapa menit kemudian, suara Mei terdengar melalui jaringan interkom.

"Ya, Mei?" sahutku.

"Tuan Uchiha, ada telepon lagi dari Tuan Akasuna Sasori. Apa Anda ingin aku menghubungkannya ke telepon Anda?"

Aku mendesah. "Ya, baiklah." Mungkin kalau aku menjawabnya, ia akan segera meninggalkanku sendiri. Aku dengan cepat menjawab. "Uchiha Sasuke." Suaraku parau dan terdengar pendek, seperti yang sering kulakukan saat sedang kesal.

"Hei, apa kabar?" tanyanya santai.

"Aku sedang bekerja, Sasori. Apa yang kau inginkan?"

Ia tidak terpengaruh dengan nada bicaraku. "Senang mendengar kabar darimu," jawabnya.

"Sasori..."

"Jadi, aku kira semuanya tidak berjalan dengan lancar?" tanyanya penuh arti. Aku mengeluh dalam hati; aku benar-benar tidak ingin mendengarnya menertawakanku. Aku sama sekali tidak ingin membahas Sakura dengannya.

"Semuanya baik-baik saja," jawabku.

"Ini sudah hampir seminggu. Kau punya waktu dua minggu lagi. Kalau tidak..."

"Aku tahu, Sasori. Aku harus kembali bekerja. Aku akan sangat menghargaimu kalau kau menghilangkan nomor ini—aku punya ponsel," ucapku.

"Aku tahu, tapi kau tidak mau mengangkat telepon dariku," adalah jawabannya.

"Aku punya alasan. Aku bekerja," jawabku lagi.

"Astaga! Bukankah kau ini bos-nya? Kau bisa melakukan apa saja yang kau inginkan."

Kenapa semua orang berpikir aku bisa menjalankan perusahaan sambil duduk santai tanpa melakukan apa-apa seharian? Oh, Tuhan...

"Selamat tinggal, Sasori," ucapku ketus.

"Baiklah, baiklah," ia mengalah. "Jangan lupa memberitahu perkembangannya padaku."

Aku menutup telepon tanpa membalas ucapannya. Sasori memang pengganggu ulung—apa yang membuatnya berpikir untuk meneleponku di tempat kerja dan membicarakan ini? Ia seharusnya bisa menunggu sampai malam tiba.

Aku sudah gatal untuk menelepon Sai sepanjang hari ini. Aku tidak sabar untuk menghajar bajingan itu. Aku sudah meneleponnya tadi malam, tapi, seperti yang sudah kuperkirakan, ia tidak menjawabnya. Teleponku langsung tersambung ke voicemail dua kali—aku tidak mau repot-repot meninggalkan pesan. Aku ingin mendengar langsung alasan-alasannya.

Sekitar jam makan siang, aku akhirnya punya kesempatan untuk meneleponnya.

"'Ellow," jawabnya riang. Aku tidak kaget, karena ucapan salam tidak biasa selalu datang darinya.

"Apa yang merasuki pikiranmu kemarin?" tanyaku langsung ke inti permasalahan. Ada jeda singkat sebelum ia menjawab.

"Bolehkah aku bertanya apa maksudmu?" tanyanya.

"Kau tahu apa maksudku, Sai. Hanya kau satu-satunya orang yang bisa memberi Sakura letak kunci rumahku dan kode alarm tanpa meminta izin terlebih dahulu," tukasku.

"Siapa, moi?" Ia berpura-pura bodoh, mengulur-ulur waktu.

"Apa yang kau pikirkan?" ulangku lagi.

Ia berubah serius, dan menarik napas panjang. "Aku tidak tahu. Dia bilang dia ingin memberimu kejutan."

"Aku bahkan belum seminggu mengenalnya," aku mengingatkannya.

"Ya... dia berteman dengan Ino," ucapnya singkat. Seolah-olah berteman dengan Ino akan menyelesaikan masalah.

"Kau juga mengenalnya kurang dari seminggu."

"Apa kau tidak merasa senang saat pulang ke rumah dan melihat seorang wanita cantik sudah menunggumu dan makan malam sudah siap?" tanyanya tidak sabar.

"Dia menghancurkan dapurku," aku menjelaskan dengan jengkel. "Dia juga menyusun ulang koleksi CD-ku."

"Oh, Tuhan, malang sekali nasibmu," gumamnya sinis. Sebelum aku bisa berkomentar apa-apa, ia segera menambahkan, "Tahu tidak, aku pikir Sakura adalah gadis terbaik untukmu."

Aku kebingungan. "Apa maksudmu?"

"Dia jelas-jelas membuatmu terganggu—lebih sering dari apa yang kupikirkan—tapi, kau masih menemuinya," jelasnya.

"Kau tidak tahu itu," balasku.

"Jadi, kau tidak menemuinya lagi?" tanyanya.

"Aku... ya, aku masih menemuinya..." Untuk saat ini, setidaknya. Aku tidak bisa melupakan kejadian tadi malam, belum lagi dengan semua masturbasi yang kulakukan hanya dengan memikirkannya.

"Lihat, kan," ujarnya puas. "Aku harus pergi. Aku bahkan belum mengambil istirahat makan siangku—ini hari yang sibuk."

"Kau belum kuampuni," ucapku kesal.

"Aku memang belum meminta maaf."

"Tepat sekali."

"Peace, bro."

Aku pulang bekerja sedikit terlambat hari ini, pukul enam lewat. Aku belum mendengar kabar dari Sakura sepanjang hari ini, dan aku merasa kecewa. Bahkan beberapa pesan singkatnya yang penuh sindiran akan membuat hariku jauh lebih menyenangkan. Seharusnya, aku mengirim pesan padanya... tapi, aku tidak melakukannya. Kenapa aku masih belum melakukannya?

Aku sadar aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Sebagian diriku berpikir aku seharusnya menghubunginya, sementara sebagian lainnya berpikir untuk memberi jarak agar aku bisa memikirkan semuanya dengan tenang. Aku memutuskan untuk mengikuti saran yang terakhir. Aku bahkan tidak meneleponnya dalam perjalanan pulang. Aku tidak berencana untuk meneleponnya sama sekali.

Kemudian ponselku berdering, dan untuk sesaat aku benar-benar berharap ini dari Sakura. Kemudian aku merasa bodoh; "Karin" muncul di caller-ID. Ia adalah salah satu dari sangat sedikit perempuan yang sering menjadi teman tidurku—kami berteman, tapi lebih seperti kenalan yang saling menyetubuhi di setiap ada kesempatan. Tapi, ia menginginkan ini sama sepertiku—ia menganggap komitmen adalah suatu penghinaan—sama sepertiku. Aku menghela napas berat dan menjawab.

"Halo?"

"Hei, Sasuke," ucapnya di telepon. "Apa kau sudah pulang bekerja?"

"Um, yeah."

"Kau mau ke rumahku malam ini?" tanyanya.

Satu-satunya hal yang kusuka dari Karin adalah ia tidak suka berbasa-basi. Ucapannya selalu langsung ke inti permasalahan. Namun, malam ini, aku ragu. Tapi, kenapa? Karin itu gampangan—tidak perlu pertanyaan, tidak ada permainan. Aku tidak perlu repot-repot berpikir tentang bagaimana cara menolaknya atau menghindarinya. Dan dengan semua ketegangan seksual yang kuperoleh dari Sakura, aku rasa aku bisa menggunakannya sebagai pelampiasan...

Tapi, kemudian aku kembali berpikir. Sakura. Apa dia yang menjadi alasan kenapa aku tiba-tiba merasa bersalah dengan keinginanku berhubungan seks? Untuk menginginkan sesuatu yang selama ini selalu kulakukan?

Aku merasakan suatu sensasi yang ganjil. Tapi, aku tidak terlalu peduli dengan semua itu, dan aku tahu, satu-satunya cara untuk menyingkirkan perasaan ini adalah dengan menaklukkannya.

"Tentu saja, Karin," ucapku cepat, terlalu bersemangat untuk meyakinkan kami berdua. "Aku akan pulang sebentar ke rumah dan segera ke rumahmu."

Ia tidak lagi repot-repot mengundang dirinya ke rumahku. Aku tidak suka membawa gadis-gadis ke rumahku, dan ia tahu aturan yang tidak tertulis ini—kami sudah membahasnya berkali-kali.

Ia mendesah di telepon. "Baiklah, Sasuke. Jangan buat aku menunggumu terlalu lama." Ia menutup telepon.

Aku merasa cemas dan aku tidak tahu kenapa. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Aku berbelok ke halaman rumahku dan melihat... mobil? Lagi? Perasaanku tidak enak, sejuta pikiran berpacu di benakku, sekaligus aku mempersiapkan diri untuk melihat Sakura lagi.

Butuh waktu lebih lama bagiku untuk menyadari ini bukan mobil Sakura. Belum lagi seorang gadis bertubuh kurus ramping yang duduk di atas kap mobil sedang tersenyum lebar padaku saat aku merapatkan mobil. Keterkejutanku segera larut, digantikan dengan perasaan senang menyambutnya.

"Rin?" aku meluncur keluar mobil, aku tidak bisa menahan senyumku saat ia melompat turun dari kap mobilnya untuk menyambutku. "Apa yang kau lakukan di sini?"

o0o

to be continued

o0o