Happy Birthday My Detective!
Kuroba Kaito x Kudo Shinichi
Detective Conan fanfiction by Virgo Takao14
.
.
.
"Apa kalian benar-benar harus mengerjakannya di rumahku?" seorang pemuda yang baru saja turun dari tangga menghampiri dua gadis yang tengah duduk di sofa sambil mengerjakan tugas mereka.
"Tentu saja! Kalau ada kau, tugas kita bisa selesai lebih cepat. Iya kan, Ran?" kata gadis berambut pendek yang malah bertingkah seperti tuan rumah.
Gadis bernama Ran itu mengangguk. "Maaf ya, Shinichi. Habisnya kalau aku dan Sonoko saja yang mengerjakannya, kami tidak akan bisa selesai tepat waktu."
Shinichi menghela napas dan mengangguk. "Terserah deh," balas Shinichi dan kemudian bergabung bersama kedua temannya itu untuk mengerjakan tugas.
Selama beberapa jam, ketiganya hanya fokus dengan tugas mereka. Hingga akhirnya Sonoko merasa bosan dan memilih untuk istirahat sebentar. Ia memandang sekeliling dan menyadari sesuatu.
"Tumben Kuroba tidak ada. Biasanya dia selalu di sini setiap kami datang," Sonoko mempertanyakan sosok pemuda yang setaunya adalah teman Shinichi dan mampir hampir setiap hari ke rumahnya.
"Entahlah. Aku jarang melihatnya belakang ini. Katanya sih dia sibuk dengan sekolahnya," jawab Shinichi dengan tangan yang masih sibuk menulis. Ia tidak bisa bilang bahwa Kaito mungkin saja sibuk mempersiapkan strategi untuk pertunjukan Kaitou KID yang berikutnya.
"Tapi kami bertemu dengannya kemarin," kata Ran yang langsung menarik perhatian Shinichi. "Iya, kan, Sonoko?"
Sonoko mengangguk. "Saat kami pergi berbelanja kemarin kami melihatnya sedang berjalan dengan seorang wanita. Sepertinya lebih tua dari kita, tapi dia cantik sekali!"
Shinichi mengernyit mendengar perkataan Sonoko. "Siapa wanita itu?" tanyanya meminta jawaban.
"Kami menghampiri mereka saat itu. Aku bertanya, apa wanita itu pacarnya, tapi Kuroba-kun menyangkalnya. Aku sih tidak yakin jika kenyataannya begitu. Karena wanita itu bahkan menggandeng lengannya dan berbicara dengan begitu manis padanya," jawab Ran. Ia sedikit bingung saat tiba-tiba raut wajah Shinichi berubah. "Shinichi, ada apa?" tanyanya, merinding melihat aura hitam mengelilingi pemuda itu.
Shinichi menggeleng dan menarik napas dalam. Ia mencoba menenangkan diri, meskipun pensilnya hampir saja patah karena ia memegangnya terlalu keras. "Lalu, apa lagi yang terjadi?"
Sonoko mencoba mengingat-ingat. Ia kemudian berseru. "Ah! Dia bilang untuk tidak memberitahumu. Dan kami memberitahumu..." katanya lemah setelah baru saja menyadari kesalahannya.
"Kenapa juga ya, dia harus menyembunyikannya darimu? Apa dia ingin memberimu sebuah kejutan makanya kau tidak boleh tau?" tanya Sonoko bingung. Ia sudah tidak merasa bersalah lagi pada Kaito karena melanggar janjinya.
"Apa pun yang dia lakukan itu bukan urusanku!"
Ran dan Sonoko tersentak saat Shinichi menaikkan nada suaranya sambil menekankan pensilnya ke meja hingga patah. Kedua gadis itu pun memilih untuk tidak lagi melanjutkan obrolan mereka.
.
"Kaitou KID baru saja meninggalkan pesan bahwa ia akan muncul besok malam, tepatnya pada 3 Mei jam 11 malam. Kali ini, ia akan mengincar sebuah permata milik Suzuki Jirokichi yang baru saja ia bawa pulang dari Eropa. Permata ini..."
Shinichi mematikan TV meskipun berita yang ia tonton belum berakhir. Ia meremas bantal sofa dan kemudian melemparnya dengan kesal. "Tidak akan kubiarkan dia lepas kali ini."
.
"Bagaimana dengan penjagaan di pintu keluar? Apa? Cepat tambah lagi orang di sana! Aku sudah memberitahu jalan mana yang mungkin akan dipilih KID, pastikan kalian mempelajarinya dengan baik. Perhatikan juga kerumanan penggemarnya, dia bisa saja membaur dengan mereka setelah mengambil permatanya. Jangan sampai lengah!"
Inspektur Nakamori tidak bisa menatap Shinichi dengan kening yang berkerut. "Ada apa dengannya? Dia bahkan lebih bertekad untuk menangkap KID daripada aku." Bagi Inspektur Nakamori, seseorang yang seharusnya bertingkah seperti itu adalah dirinya, bukan detektif SMA itu.
"Inspektur, mohon kerja samanya malam ini," kata Shinichi menghampiri Inskpektur Nakamori.
"Kau biasanya tidak berapi-api seperti ini," kata Inspektur Nakamori pada detektif muda itu. "Kau terlihat seperti mau menangkap pacarmu yang selingkuh saja."
Mendengar perkataan sang Inspektur, Shinichi malah terlihat makin berapi-api. Ia kemudian meninggalkan Inspektur Nakamori dan kembali memeriksa tempat.
Setelah hampir sampai di waktu yang ditentukan, semua petugas polisi telah berbaris menjaga cincin dengan permata biru itu. Shinichi pun tidak sekali pun lengah dan terus waspada. Saat ia tengah sibuk memprediksi dari mana KID kali ini muncul, lampu tiba-tiba mati.
Semua orang menjadi sibuk. Inspektur Nakamori langsung memerintahkan para petugas untuk mengamankan permata tersebut. Namun, hanya dalam hitungan detik, lampu kembali menyala.
Semua orang terfokus pada tempat yang seharusnya menyimpan permata biru itu. Shinichi mengeram saat permata itu sudah tidak lagi berada di tempatnya.
Tepat setelah itu, sosok berjubah putih berdiri di beranda di lantai dua. Shinichi dapat melihat jelas senyum kemenangan di wajahnya.
"Sial! Dia menyamar menjadi salah satu penjaga!" kutuk Inspektur Nakamori kesal.
"Malam ini sepertinya kau tidak bekerja dengan baik, Detektif," ucap Kaitou KID yang dapat terdengar oleh semua orang di dalam ruangan.
Bukannya merasa terprovokasi, Shinichi malah balas terkekeh kecil. Ia menampilkan senyum kemenangan yang sama seperti KID. "Khawatirkan dulu dirimu sebelum bicara."
Tepat setelah mengatakan hal itu, beberapa petugas ternyata sudah berdiri di belakang sang pencuri. Terkejut, KID langsung melompat dan terbang dengan hang glider miliknya. Namun, kesialannya tidak berhenti sampai di sana. Langit-langit ruangan yang terbuka lebar langsung tertutup. KID sungguh tidak bisa menemukan jalan keluar.
Saat Shinichi akhirnya bisa tersenyum lebar karena KID tidak punya pilihan lain selain mendarat, saat itu juga lampu kembali mati dengan satu jentikan jari sang pesulap.
Shinichi segera berlari ke tempat di mana KID tadi berdiri. Hampir sampai, Shinichi tiba-tiba merasakan seseorang menahannya. Tangannya ditahan dan ia terpaksa berhenti.
"Kau bersemangat sekali malam ini, Shin-chan."
Tepat setelah berbisik pada sang detektif, Kaitou KID menghilang di tengah asap. Lampu pada akhirnya kembali menyala beberapa saat setelah KID menghilang tepat di dekat Shinichi.
"Kemana dia? Apa dia menyamar menjadi salah satu dari kita lagi?" Inspektur Nakamori langsung mencubit setiap orang yang berada didekatnya.
"Tidak, dia sudah tidak ada lagi di sini," kata Shinichi dengan raut kesal. "Hanya ada dua tempat yang memungkinkannya untuk kabur sekarang." Shinichi pun mulai menjelaskan kemana KID berkemungkinan besar akan pergi.
Setelah mendengar analisis singkat Shinichi, Inspektur Nakamori langsung memberi instruksi kepada para petugas untuk berpencar ke dua lokasi yang telah diperkirakan oleh Shinichi sebagai tempat KID akan muncul.
Berkali-kali laporan datang, mengatakan bahwa mereka menemukan KID, tapi ia lagi-lagi kabur. Tapi melihat bagaimana KID begitu kewalahan hari ini, Inspektur Nakamori merasa puas. Ternyata tekad Shinichi tadi itu sungguhan.
Cukup lama permainan kejar mengejar antara polisi dan KID terjadi, hingga tanpa sadar Shinichi sudah tidak terlihat di mana pun. Ternyata ia sudah pergi menuju tempat yang ia yakini seratus persen bahwa KID berada di sana. Dan ia punya alasan tersendiri untuk tidak mengatakannya pada polisi.
"Sepertinya Kaitou KID begitu kesulitan malam ini," kata Shinichi setelah ia tiba di salah satu ruangan yang berada di lantai atas. Ia menatap pemuda berjubah putih itu dengan senyum kemenangan.
Kaito sama sekali tidak terkejut dengan kedatangan detektif SMA itu. Ia terkekeh pelan sambil berjalan mendekati Shinichi. "Kau sepertinya sangat ingin aku tertangkap," ucapnya dan tetap mendekati Shinichi meskipun sudah tidak ada jarak lagi yang tersisa diantara mereka.
Dengan sebuah senyum lebar di wajahnya, Kaito mengangkat tangannya dan melingkarkannya di pinggang Shinichi. "Kalau sampai aku tertangkap, kau bisa kehilangan kekasihmu malam ini," bisiknya di telinga Shinichi.
Shinichi tertawa pelan. Ia menatap lurus pada kedua mata Kaito yang menatapnya dengan lembut. Ia tau bahwa Kaito akan segera memberinya sebuah ciuman, dan sebelum hal itu terjadi, ia sudah lebih dahulu menjauhkan diri. Shinichi melepaskan dirinya dari pelukan sang kekasih.
"Ada apa?" tanya Kaito kecewa karena gagal mencuri ciuman dari Shinichi.
"Kau tidak penasaran kenapa aku ingin sekali menangkapmu malam ini?" Shinichi bertanya dengan wajah serius seolah sedang menginterogasi Kaito.
"Karena kau merindukanku?"
"Karena aku marah padamu!"
Kaito terkejut saat tiba-tiba Shinichi menaikkan nada suaranya. "Kau marah karena apa?"
"Ke mana saja kau selama seminggu ini?" Shinichi membalas pertanyaan dengan pertanyaan.
"Aku kan sudah bilang, aku harus mempersiapkan banyak hal untuk aksiku malam ini."
"Dengan seorang perempuan?"
"Tentu saja! Eh? Pe-perempuan? Apa maksudmu?" Kaito mengerjap bingung. Namun Shinichi menangkap raut panik di wajahnya. Ditatap begitu intens oleh Shinichi, Kaito sampai tidak bisa untuk menatap Shinichi secara langsung.
"Jadi kau memang bersama seorang perempuan." Shinichi memberikan sebuah senyum lebar. Senyum yang mampu membuat Kaito merinding dan yakin bahwa ia akan kehilangan nyawanya kapan saja.
"Shin-chan, ini hanya salah paham. Biarkan aku menjelaskannya padamu," kata Kaito mencoba menenangkan Shinichi. Ia melihat sekilas pada jam tangannya untuk memastikan waktu saat ini.
11:57
"Apa lagi yang mau kau jelaskan? Kau mau memberitahuku setiap detail kencan kalian?" Shinichi malah makin kesal. Ia sama sekali tidak menurunkan nada suaranya saking kesalnya.
"Shin-chan, kumohon, jangan marah dulu," Kaito meminta dengan sangat. Ia mencoba untuk menggenggam tangan Shinichi, tapi kekasihnya itu menolak.
11:58
"Baiklah, kau bisa mendengarkanku nanti, tapi sekarang kau harus ikut denganku," kata Kaito yang kini mencoba membawa Shinichi untuk ikut dengannya.
Namun bukan Shinichi namanya kalau tidak keras kepala. Ia masih terus mengomel tanpa mau mendengarkan Kaito.
11:59
Kaito makin terlihat panik saat melihat jam tangannya. "Aku harus memaksamu, Shinichi."
"Wh— Kaito! Turunkan aku!" perintah Shinichi saat Kaito tiba-tiba saja menggendongnya. Ia berteriak makin kencang saat kekasihnya itu berlari menuju jendela. "Kaito!"
"Tidak ada waktu lagi!"
00:00
"Eh?" Shinichi bingung sekaligus terkejut saat semuanya tiba-tiba menjadi gelap. Bahkan saat Kaito membawanya terbang, Shinichi menyadari kalau bukan hanya satu gedung saja yang mati lampu, melainkan juga gedung-gedung tinggi lainnya yang berada tidak jauh dari tempat mereka. "Kaito, kau mau membawaku ke mana?" tanya Shinichi bingung.
Kaito tersenyum. Ia terbang sedikit lebih jauh lagi dan kemudian mendarat di atap sebuah gedung. "Lihatlah ke sana," tunjuk Kaito pada beberapa bangunan yang kini mati lampu total. "3... 2... 1!"
Shinichi yang tidak mengerti apa-apa cukup terkejut saat beberapa lampu dari gedung-gedung itu menyala. Setelah menyala selama dua detik, lampunya kembali mati. Namun, sekali lagi, beberapa lampu kembali menyala dan kemudian mati setelah dua detik. Shinichi terdiam dengan wajah kagum.
Ia tau kenapa Kaito perlu membawanya kemari sekarang. Gedung-gedung yang gelap itu seolah menjadi sebuah layar LED besar. Lampu-lampu yang terlihat menyala di lantai dan jendela yang acak itu sebenarnya membentuk sebuah huruf yang hanya bisa dilihat jika kita berdiri di tempat yang tepat. Dan Shinichi mendapatkan semua hurufnya.
O - TA - O - ME
Setelah pesannya tersampaikan, gedung-gedung itu kembali menyala seperti sebelumnya. Begitu singkat, tapi Shinichi merasa begitu spesial. Ia segera menoleh ke arah Kaito dengan senyum di wajahnya.
"Kau menyukainya?" tanya Kaito yang sudah melingkarkan lengannya di pinggang Shinichi. "Kau harus menyukainya. Aku bekerja mati-matian untuk pertunjukan sepuluh detik ini. Aku kesulitan sekali untuk membuatnya menyala di waktu yang tepat." Kaito berbicara dengan nada manja.
Shinichi tertawa gemas dengan tingkah Kaito. Dengan senyum lebar di wajahnya, Shinichi memeluk Kaito dan kemudian memberikan kecupan manis di pipi kekasihnya. "Aku sangat menyukainya. Arigatou, Kaito."
Kaito ikut tersenyum dan menghujani Shinichi dengan kecupan-kecupan di wajahnya. "Kau lupa dengan hari ulang tahunmu, kan?" tebak Kaito yang langsung dijawab dengan sebuah anggukan oleh Shinichi. "Sudah kuduga. Itu karena kau terlalu sibuk dengan kasus-kasusmu itu."
"Dan ada alasan lainnya," sambung Shinichi. "Kekasihku membuatku kesal hingga aku hanya bisa memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa menangkapnya."
Kaito terkekeh pelan melihat Shinichi yang masih kesal. "Kau pasti tau seberapa sulitnya membuat kejutan ini. Aku membuat ucapan selamat ulang tahun dengan lima gedung hanya untukmu, lho! Aku harus menyiapkannya matang-matang, makanya aku tidak punya waktu denganmu." Kaito memasang tampang bersalah.
"Dan tentang perempuan itu?" tanya Shinichi menaikkan alisnya menuntut jawaban.
Ingin sekali rasanya Kaito mencubit pipi Shinichi karena gemas melihatnya cemburu. "Aku tidak bisa melakukannya sendirian, jadi aku mendapatkan bantuan dari dua orang yang mendukung ideku ini. Dan salah satunya mau langsung turun ke lapangan denganku."
"Siapa?"
"Kau mengantarkan mereka ke bandara tadi pagi."
Shinichi terdiam sebentar untuk memikirkan perkataan Kaito. Orang yang ia antarkan ke bandara hanya keduanya orang tuanya, tidak ada siapa-siapa lagi. Shinichi berseru dan kemudian menghela napas. "Dan apakah Ibu menyamar hingga Ran dan Sonoko sampai tidak mengenalinya?"
Kaito mengangguk. "Katanya sih, dia mau terlihat seperti pasangan SMA."
Shinichi menggeleng dan memaklumi tingkah Ibunya, dan Shinichi pada akhirnya tidak bisa menahan tawa. Ia mengalungkan lengannya pada pundak Kaito saat kekasihnya itu terus memberikannya kecupan manis di wajahnya. Shinichi pun sudah sepenuhnya menjatuhkan dirinya dalam pelukan Kaito.
Kaito akhirnya memberikan ciuman terakhir di bibir kekasihnya. Ia mencium Shinichi begitu lama dan begitu dalam. Setelah ciuman mereka berakhir, Kaito menatap lembut ke dalam manik shappire kekasihnya. "Happy birthday, mon amour."
Shinichi tersenyum dan memberikan ciuman manis di pipi Kaito. "Apa yang bisa aku katakan lagi sekarang? Kau benar-benar sialan. Kau sudah membuatku marah sampai mengutukmu berkali-kali. Tapi sekarang aku terlalu bahagia hingga lupa bagaimana caranya marah padamu."
Kaito melepaskan pelukannya hanya untuk mencubit gemas pipi Shinichi. Ia tertawa ketika Shinichi protes dan mendorong tangannya. "Kalau begitu ayo kita pergi sekarang. Tidak ada yang bisa kita lihat lagi sekarang."
Shinichi mengangguk setuju. "Tapi kau harus mengembalikan dulu apa yang kau curi, Kaitou KID."
Kaito mengangkat alisnya dan tersenyum. "Hm, aku akan mengembalikannya sekarang."
Namun, bukannya mengeluarkan permata yang ia ambil, Kaito malah mengangkat tubuh Shinichi. Ia sama sekali tidak mempedulikan Shinichi yang protes dan menyuruhnya untuk menurunkannya. Kaito langsung saja membawa Shinichi terbang seperti sebelumnya.
Shinichi pun hanya bisa menghela napas dan melingkarkan lengannya pada pundak Kaito. Saat ia menikmati penerbangannya dengan Kaito, Shinichi menyadari sesuatu. Kaito tidak membawanya ke tempat dimana mereka keluar tadi. Kalau apa yang Shinichi pikirkan tidak salah, maka Kaito kini terbang mendekati sisi lain menara dimana Inspektur Nakamori dan petugas polisi lainnya berada.
"Kaito! Kau mau membawaku ke mana?" tanya Shinichi panik. Ia tidak bisa turun begitu saja di depan para polisi, kan.
Tidak menjawab, Kaito hanya tersenyum misterius. Ia tidak peduli pada Shinichi yang terus menyuruhnya untuk putar arah. Ia bahkan dengan berani terbang di atas para penggemarnya. Sepertinya ia sama sekali tidak takut jika ada yang akan menyadari kalau dia sedang membawa seseorang bersamanya. Yah, sekali pun ada yang sadar, tidak mungkin mereka tau jika yang ia bawa adalah Kudo Shinichi.
"Kaito! Turunkan aku sekarang!" perintah Shinichi yang berkali-kali mencubit lengan Kaito.
Sedangkan Kaito hanya tertawa gemas melihat reaksi pacarnya itu. "Baiklah, Tuan Putriku."
Namun pada akhirnya, Kaito tetap terbang semakin mendekati tempat Inspektur Nakamori berada. Shinichi pun langsung memukul Kaito memintanya untuk tidak membawanya ke sana. Tapi Kaito sudah lebih dahulu mengeluarkan bola asap membuat Inspektur Nakamori dan petugas yang ada di sana tidak melihat kedatangannya.
Shinichi sebenarnya terlalu bingung harus berbuat apa. Apalagi Kaito tiba-tiba saja menurunkannya dan pergi begitu saja. Dengan memberikannya sebuah ciuman terakhir, tentu saja.
Shinichi sedikit terbatuk-batuk. Ia mengibaskan tangannya untuk menghilangkan asap yang tebal itu.
"Detektif, kau ada di sana?" Suara Inspektur Nakamori terdengar dari dalam asap putih yang mengganggu pandangan itu.
Shinichi menyahut. "A-ah... Ya, aku baru kembali setelah mengejar Kaitou KID. Sepertinya dia datang ke sini untuk mengembalikan permatanya." Shinichi akhirnya bisa berjalan mendekati Inspektur Nakamori karena asapnya telah hilang.
"Apa kau yakin jika dia datang untuk mengembalikan permatanya?"
Dengan anggukan Shinichi sebagai jawaban, Inspektur Nakamori pun langsung berlari menuju tempat dimana permata itu seharusnya di simpan. Namun yang ia temukan hanya etalase kosong. Permata itu tidak ada di sana.
Kening Shinichi berkerut karena bingung. Seharusnya Kaito sudah mengembalikan permatanya tadi. Apa kekasihnya itu lupa dan membawanya begitu saja?
Baru saja Shinichi ingin berlari menuju tempat permata itu seharusnya berada, ia berhenti seketika. Sesuatu yang tidak nyaman tiba-tiba terasa dari dalam jasnya. Ia segera merogoh kantong dalam jasnya dan terkesiap. Sejak kapan Kaito memasukkan permata itu ke sakunya?
Shinichi tidak langsung memberitahu Inspektur Nakamori tentang hal itu karena ia juga menemukan sebuah catatan di sana. Catatan yang sekilas saja ia baca sudah berhasil membuatnya memerah hingga ke telinga.
"Hei, kau kenapa?" tanya Inspektur Nakamori karena Shinichi tiba-tiba terdiam sambil mebutup wajahnya.
Menggeleng, Shinichi menjawab bahwa ia tidak apa-apa. Setelah menatik napas panjang dan memasang tampang datar, Shinichi akhirnya menyerahkan permata yang ditinggalkan Kaito padanya. Ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Inspektur Nakamori tentang bagaimana ia bisa mendapatkan permata itu. Shinichi langsung pergi begitu saja setelah menyerahkan permata itu. Ia segera keluar sambil menyimpan dengan rapi catatan yang ditinggalkan Kaito. Catatan yang penuh dengan kata-kata norak tapi berhasil membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
.
Aku kembalikan permata ini karena ini bukanlah apa yang aku cari. Lagipula, aku sudah memiliki permata yang hanya ada satu-satunya di alam semesta. Bukan sebuah, tapi seorang yang lebih berharga daripada harta karun. Seorang yang lebih bersinar terang daripada matahari. Seorang yang lebih manis daripada madu. Seorang yang aku cintai setulus hatiku. Seseorang yang hari ini berulang tahun. Selama memiliki dia, aku akan selalu menjadi pria yang memiliki permata paling indah yang pernah ada.
Kaitou KID
.
FIN
.
.
A/N
Otanjoubi omedetou Shinichi! ^^~ /telat sehari gak papa lah ya/ setelah sekian lama akhirnya aku muncul lagi di fandom DC... /yah... gak lama-lama amat sih, baru Maret kemarin publish cerita mas Akai sama Mas Amuro.../
Buat ulang tahunnya Kaito juga bikin satu cerita... entah bakal selesai tepat waktu atau nggak, soalnya banyak banget ceritaku yang lagi on-going ataupun yang baru mau mulai ditulis, TAPI aku lagi males banget nulis! /maaf TMI/
Sekian aja deh, buat cerita kali ini... Makasih buat yang udah mampir dan semoga suka ya^^ jumpa lagi di ulang tahunnya Kaito ya^^~
See you!
Virgo
