A/N:

Margarita: sejenis cocktail dengan tequila sebagai alkohol utamanya.

.

.

A Betting Man

.

.

Sasuke POV

"Rin? Apa yang kau lakukan di sini?"

Ia berjalan mendekat dan mengalungkan lengannya ke leherku. "Surprise!" serunya. "Aku berkunjung ke Suna sampai akhir pekan ini!"

Aku tidak bisa menyembunyikan kekagetanku dan segera memeluknya. "Kapan kau sampai?"

"Pagi ini."

"Dan kau baru memberitahuku sekarang?" tanyaku.

"Aku ingin memberimu kejutan. Ngomong-ngomong, kau terlambat," tegurnya.

"Aku bisa pulang lebih awal kalau kau meneleponku," belaku.

"Tidak seru," sahutnya.

"Kenapa kau menunggu di luar? Kau tahu di mana kuncinya, kan?"

"Eh, aku belum lama sampai di sini dan kau tahu bagaimana aku tidak bisa berhadapan dengan segala jenis alarm. Terakhir kali aku mencoba masuk ke rumahmu, polisi datang. Lagi pula, ini hari yang bagus." Ia menyeringai malu-malu saat aku mengajaknya ke dalam. Aku membuka jas kerjaku saat ia berjalan ke ruang tengah, melihat sekeliling. Tidak banyak yang berubah sejak terakhir kali ia ke sini. "Oh, Tuhan, Sasuke-nii! Menggantung satu saja gambar di dinding tidak akan membunuhmu."

Aku menunjuk ke sebuah lukisan di dinding, lukisan abstrak karya Slazo. "Aku punya lukisan."

"Maksudku, gambar nyata," tekannnya. "Kau tahu—foto orang."

Aku mengangkat bahu. "Kau sudah pulang, belum?"

"Tentu saja sudah. Bibi Keiko menjemputku dari bandara," jawabnya. "Ngomong-ngomong, kau harus datang makan malam. Bibi memasak semua makanan favoritku!" Ia menepuk-nepuk tangannya dan meloncat kegirangan memikirkan masakan Bibi Keiko. Aku tersenyum melihatnya.

"Aku ganti baju dulu dan kita bisa langsung berangkat ke sana," jawabku sambil berjalan menuju tangga. Lalu aku tiba-tiba teringat—sial! Aku harus menelepon Karin. Aku buru-buru mengambil ponsel dari sakuku dan meneleponnya saat memasuki kamar tidurku.

"Cepat sekali," jawab Karin langsung. "Kau sudah sampai di sini?" Aku bisa mambayangkannya melihat keluar jendela, atau mungkin sudah keluar pintu. Ia terdengar bersemangat.

"Sebenarnya, aku tidak bisa datang, Karin," jawabku cepat. Anehnya, aku tidak merasa menyesal membatalkan pertemuan kami. Malah rasanya seperti ada beban berat yang diangkat dari bahuku.

"Apa? Kenapa?" Ia tidak mencoba menutupi kekecewaannya.

"Adikku tiba-tiba datang berkunjung. Kami akan makan malam bersama orang tuaku."

"Bagaimana kalau setelahnya?" Suaranya terdengar mendesak. Karin adalah seorang wanita seksi—biasanya aku akan terangsang mendengar ketidaksabarannya, tapi malam ini pikiranku sedang kacau dan mendengar suaranya hanya membuatku muak.

"Aku tidak tahu, Karin. Kita lihat saja nanti. Aku tidak tahu jam berapa aku akan pulang."

"Maukah kau meneleponku saat kau sudah selesai makan malam?" tanyanya lagi.

Aku tidak mau repot-repot membuatnya terhibur. "Aku tidak tahu. Mungkin."

Ia merengek untuk terakhir kali sebelum aku mengakhiri percakapan kami dan menutup telepon. Aku cepat-cepat mengganti baju dan keluar kamar. Lagi-lagi aku dibuat terkejut, Rin bersandar di dinding di sebelah pintu kamarku, ia menyilangkan lengannya, ekspresinya masam. Ia menatapku tidak percaya saat aku berdiri di sampingnya.

"Itu Karin?" tebaknya langsung. Dia menguping?

"Ya," jawabku sambil memperbaiki kerah kemejaku.

"Apa kau sekarang berkencan?" tanyanya.

Aku memutar mata. "Kau tahu jawabannya."

"Suatu hari nanti," ia sejenak berhenti bicara, "Rasa tidak hormatmu pada perempuan akan balik membalasmu."

Aku heran... dan sedikit tersinggung. "Aku tidak melecehkannya. Dia yang meneleponku." Ia mengekoriku saat kami berjalan kembali menuruni tangga.

"Tapi, kau mendorongnya bertindak murahan," lanjutnya. Rin tidak pernah menyembunyikan pemikirannya dariku. "Bilang saja 'Tidak', Sasuke-nii."

Aku menyeringai dan sambil bercanda mengatakan, "Kalau aku bilang begitu, aku tidak akan pernah mendapatkan kehangatan perempuan."

"Kau bisa mendapatkannya dengan cara terhormat."

"Ayolah, Rin," erangku. "Aku tidak ingin membahas ini sekarang." Kami sudah pernah membahas ini sebelumnya—waktu itu, untuk pertama kalinya, ia tidak sengaja bertemu Karin ketika Karin datang ke rumahku. Karin memperkenalkan dirinya sebagai temanku, namun Rin membuat asumsi sendiri dan tiba-tiba bersemangat. Ketika ia tahu kenyataannya, setelah Karin pulang, ia langsung berang dan menceramahiku selama satu jam.

Aku tidak suka membuat Rin kecewa, tapi jujur saja, ini bukan urusannya. Aku bahkan lebih suka kalau ia tidak tahu-menahu tentang hal ini.

Ia mendengus saat keluar rumah melalui pintu depan. Aku mengatur alarm dan mengunci pintu.

"Baiklah, Sasuke-nii," ia akhirnya mengalah, dan topik pembicaraan ditutup.

"Kau menginap di rumah malam ini?" tanyaku santai. Aku tidak melihatnya membawa satu pun barang miliknya.

"Ya," jawabnya. "Kau mau mengikutiku? Atau... nanti aku bisa memberikan tumpangan pulang," tawarnya.

"Aku akan mengikutimu saja."

Hanya butuh waktu sepuluh menit berkendara ke rumah Bibi Keiko dan Paman Kagami. Hari mulai gelap, lampu rumah mereka sudah menyala, membuat perasaanku menjadi hangat... seperti yang biasa kurasakan tiap kali berkunjung. Kami diserang aroma lezat makanan saat masuk dan Rin langsung berteriak, "Oh, Tuhan! Aromanya enak sekali! Hei Bibi Keiko, aku menemukannya!"

Rin berusia enam tahun ketika kami pertama kali tinggal bersama Bibi Keiko dan Paman Kagami. Ia begitu kebingungan karena kematian ibu kami, menangis setiap malam. Bibi Keiko atau Paman Kagami tidak pernah bersikeras agar kami memanggil mereka "Ibu dan Ayah". Mereka membawa kami tinggal bersama mereka di saat kami tidak punya orang lain, namun mereka tidak pernah berpura-pura menjadi pengganti kehilangan kami.

Bibi Keiko datang dari sekitar sudut ruangan—ia cantik, seperti biasa, rambutnya tergerai mengkilap sampai ke punggungnya. Wajahnya bersinar sambil tersenyum lebar.

"Bagus sekali, kalian sudah datang! Semuanya hampir siap." Tangan Bibi Keiko menggapai naik, meraih wajahku di antara kedua tangannya, dan mendaratkan sebuah ciuman di pipiku. "Kalian tidak keberatan mengatur meja?"

"Tentu saja tidak," celetuk Rin dan ia meraih tanganku, menyeretku ke dapur untuk mengambil piring.

Sakura POV

Aku masih belum mendengar kabar apa-apa dari Sasuke, dan aku sudah memutuskan untuk tidak meneleponnya. Ponselku tersembunyi jauh di dasar tasku, jauh dari pandangan, namun tidak cukup untuk keluar dari pikiranku. Butuh tenaga ekstra agar aku bisa menahan diri untuk tidak mengeceknya.

Ino meneleponku setelah aku selesai bekerja dan menuntut untuk pergi keluar minum margarita. Ia sekarat ingin tahu rincian "kencanku". Wajahku memerah hanya berpikir tentang itu, aku mencoba menolak dengan sopan, tapi Ino bukanlah seseorang yang mau menerima "Tidak" sebagai jawaban. Ia akan menggunakan segala cara.

Aku menelepon dan mengundang Naruto untuk ikut. Aku belum melihatnya akhir-akhir ini—lagi pula, aku juga ingin mendengar bagaimana persiapan pernikahannya. Ketika kami sampai di restoran, aku langsung menginterogasinya, bahkan sebelum kami duduk, agar Ino tidak bisa langsung menyiksaku. Ino mampu menahan dirinya sampai pada gelas ketiga margarita. Pada gelas keempat, ia benar-benar sudah tidak sabar lagi.

"Sakura!" Ia membanting gelas kosongnya di atas meja dan membuat semua piring kami berdenting ribut. "Kalian berdua sudah berbicara tentang makanan pembuka dan pita kursi selama setengah jam. Sekarang tutup mulutmu dan ceritakan tentang kencanmu dengan Sasuke."

Jiwa sok berkuasanya meningkat sepuluh kali lipat saat mabuk. Naruto memutar matanya dan bersandar di kursi. Untung Ino tidak lihat.

"Apa yang ingin kau ketahui?" tanyaku hati-hati.

"Kenapa kau menghidari pertanyaanku tadi siang?" ia menembak langsung.

"Bisakah kau mengecilkan suaramu, Ino? Kau mengganggu orang lain," desisku. Ia meluruskan punggungnya dan melihat sekeliling, menelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Saat ia melihat seorang pemuda menatapnya, ia langsung tersenyum menggoda dan melambaikan tangan. Pemuda itu langsung tersenyum senang.

"Ino!" Aku terkesiap, meraih pergelangan tangannya untuk mengalihkan perhatian. "Bisakah kau menghentikannya?"

"Ada apa?" Ia kelihatan bingung. "Dia satu-satunya orang yang mendengarku." Dengan anggukan kepala, ia menunjuk ke arah pemuda tadi sambil menambahkan, "Dan sepertinya dia tidak terlihat terganggu sama sekali."

"Jangan sampai aku menelepon Sai," aku memperingatkannya, meskipun aku hanya bercanda.

Ino cemberut. "Apa tersenyum pada seseorang menjadi tindakan kriminal sekarang?" tanyanya keras. Shannaro, ini tidak akan pernah berakhir.

"Biarkan saja, Sakura," sela Naruto. "Kau tahu suaranya hanya akan bertambah keras sampai dia mendapatkan keinginannya."

Ino tidak berdebat dan, berdasarkan pengalamanku, aku setuju dengan Naruto. Aku memutuskan untuk menceritakan semua yang terjadi pada mereka. Ino tiba-tiba melambaikan tangan pada pelayan kami sambil mengangkat gelasnya yang kosong untuk menunjukkan ia perlu minum lagi. Pelayan mengangguk sambil cepat berlalu dan Ino kembali menatapku.

"Oke," ucapnya sambil meraih potongan lemon di gelasnya, "Ceritakan dari awal."

"Baiklah, aku memasak ayam panggang untuknya—"

"Tidak seawal itu," ia buru-buru menyela. "Awal yang membuatmu tiba-tiba menghindari pertanyaanku tadi siang." Ia menggigit lemonnya sambil tersenyum licik.

"Kau tidak tidur dengannya, kan, Sakura?" Naruto cepat bertanya.

"Tidak! Aku tidak tahu apa yang dia bicarakan." Aku cemberut menatap Ino—tidak mungkin aku pernah menyebutkan mimpi seksku pada siapa pun.

"Jadi, apa yang kau lakukan?" tanya Ino. Segelas margarita ditempatkan di depannya dan ia segera menyerangnya.

Aku belum memberitahu Naruto kami sudah mencium. Aku tiba-tiba merasa sangat malu—aku menyesal mengundangnya ikut. "Kami, umm... kami berciuman." Suaraku terdengar sangat pelan, tidak mengherankan Naruto bersandar ke arahku, alisnya berkerut.

"Apa?" tanyanya.

"Kami berciuman," ucapku keras. Matanya terbelalak kaget dan aku bisa merasakan wajahku memanas.

"Kau berciuman?"

"Itu bukan masalah besar, Naruto..." cicitku.

"Bukan masalah besar apanya! Apa yang kau pikirkan?" tuntutnya.

Serahkan saja pada Naruto, ia selalu mencoba untuk melindungiku.

"Apa kau pikir dia akan tahan bersamaku selama dua minggu kalau aku tidak menciumnya?" tanyaku membela diri. Ino bolak-balik menatap kami sambil perlahan-lahan menyesap margarita-nya. Seolah-olah ia menikmati tontonannya.

"Kau tahu, aku tidak keberatan dengan ini sebelumnya, tapi sekarang aku tidak lagi berpikir ini ide yang bagus," tegas Naruto.

"Kenapa kau tidak memercayaiku?" Aku melirik tajam Ino, berharap mendapat dukungan darinya. "Ino percaya padaku."

Ino mengangguk, setuju denganku. Sudah jelas ia mabuk.

"Aku hanya tidak ingin melihatmu terluka," ucap Naruto cemberut.

"Naruto, aku tidak bodoh. Aku tahu dia membuat taruhan..."

"Yeah, Naruto," timpal Ino, "Kami mempermainkannya. Menyenangkan sekali, kan!" Ia berbalik menatapku. "Oh, aku punya ide bagus! Kau harus meneleponnya dan rayu dia lewat telepon. Buat dia merasa kegerahan dan kemudian tutup teleponnya. Dia tidak akan punya pilihan selain masturbasi." Ino kelihatan sangat senang dengan idenya sendiri. Aku memutar mata dengan dramatis—aku? Menggoda? Memangnya kita tinggal di dunia mana?

Ketika aku tidak bergerak untuk menelepon, Ino menatapku galak. "Apa kau akan meneleponnya?"

Aku menaikan alis. "Aku rasa tidak."

"Apa? Kenapa tidak?" tuntutnya.

"Aku tidak punya bakat penggoda dalam tubuhku, Ino," terangku.

"Yang benar saja, Sakura." Ia memutar matanya. "Kau tidak melihat dirimu dengan jelas."

Dan kau jelas-jelas sedang mabuk. Aku mengabaikannya, ini ide yang buruk sekalipun saat ia tidak mabuk—tiba-tiba ia merebut tasku dan mengobrak-abrik isinya. Aku mencoba, dengan sedikit usaha, mengambilnya dari Ino dan ia dengan mudah menghindari seranganku. Aku segera duduk, tidak ingin membuat keributan di meja kami.

"Ini. Telepon dia!" seru Ino. Minumannya tumpah ke segala arah saat ia menyodorkan ponsel padaku—ia nyaris membuat kami semua mandi margarita. Aku mengambil ponsel dari tangannya dan meletakkannya hati-hati di atas meja.

"Ino, kau mabuk," jawabku.

"Tidak! Aku baru saja mulai minum. Telepon dia sekarang!" Tanpa memberiku kesempatan menjawab, ia sudah merenggut ponselku lagi. "Sini, biar aku saja yang menekan nomornya."

"Ino!" Aku hampir melemparkan diriku ke seberang meja mencoba mengambil ponselku darinya. Ia berhasil mengelak dari seranganku lagi—walaupun mabuk, ia sangat lentur. Aku menatap tajam Naruto. "Apa kau akan duduk diam di sana dan membiarkannya melakukan ini?" teriakku padanya.

Ia mengangkat tangan, menyerah. "Kau tahu aku tidak bisa berbuat apa-apa saat dia mabuk."

Ino menyeringai penuh kemenangan, dan sebelum aku tahu apa yang terjadi ia sudah menyodorkan ponsel di wajahku lagi.

"Sudah berdering," bisiknya keras. Shannaro.

"Ino!" Aku hampir terserang jantung koroner dan mati. Aku sudah hampir menutup telepon dan bersiap memberi alasan 'oh-tasku-pasti-tidak-sengaja-menekan-nomormu' ketika aku mendengar suara seorang wanita menjawab. Jariku membeku di atas tombol end, aku terkejut. Pria bajingan.

Aku meletakkan ponsel ke telingaku dan menjawab dengan galak, "Halo?"

Gadis ini sepertinya tersinggung. "Siapa ini?" tanyanya.

"Siapa ini?" tanyaku balik.

Ia tidak senang mendengar nadaku. Bagus sekali. "Aku yang bertanya duluan," jawabnya.

Aku pikir ini pasti salah satu teman tidur Sasuke. Aku sangat marah, dan yang ingin kulakukan sekarang adalah mengacaukan malamnya. Aku langsung berkata, "Aku pacar Sasuke."

Ada sebuah keheningan mengikuti ucapanku. "Pacar?" gadis itu akhirnya bicara. "Dia bilang dia tidak punya pacar."

"Kalau begitu, dia berbohong," ucapku licik. "Kami sudah seminggu berpacaran." Aku menyadari betapa bodohnya aku setelah kata-kata itu meluncur dari mulutku. Naruto menahan tawa di balik telapak tangannya, dan aku memelototinya—ini sama sekali tidak lucu. Aku marah. Ino menatapku, mulutnya ternganga, sama herannya denganku.

"Oh," jawab gadis itu, dan ia mendesah keras.

"Ya, ya, asal kau tahu saja, dia berbohong padamu," lanjutku masam.

"Oh!" Dia terdengar terkejut. "Aku bukan pacarnya. Aku adiknya."

Tiba-tiba aku merasa ditimpuk batu seberat lima ton. Kemarahanku perlahan-lahan digantikan dengan keterkejutan. "Adiknya?"

"Ya, aku Rin. Apa ini Karin?"

Tunggu dulu!

"Karin?" Aku kembali bersiap mengamuk. Ia terkesiap.

"Oh sial, aku minta maaf. Aku bersumpah, aku kadang-kadang tidak berpikir sebelum bicara. Tapi, aku sempat berpikir suaramu juga tidak terdengar seperti Karin..." Ia terdengar panik. Aku mendengar suara laki-laki di belakangnya—aku tidak yakin apakah itu suara Sasuke atau bukan, tapi ia segera menjawab pertanyaan yang tak terucapkan untukku. "Ini Sasuke. Aku minta maaf, oke?" Aku sudah mendidih.

"Halo?" Suara Sasuke terdengar hati-hati; aku ingin tahu apa ia mendengar ucapan Rin.

"Siapa Karin?" tuntutku segera. Ia terdiam sesaat.

"Temanku," Sasuke menjawab pelan.

"Lalu kenapa adikmu berpikir seorang gadis yang mengaku sebagai pacarmu adalah Karin?" Biasanya, aku tidak akan pernah bilang kalau aku mengaku sebagai pacarnya—karena itu jelas tidak akan terjadi—tapi, aku sangat marah, sampai-sampai aku tidak peduli lagi. Aku membanting uang di atas meja dan segera melangkah keluar dari restoran agar aku tidak mengganggu pengunjung lain karena kemarahanku. Ino dan Naruto terdiam melihatku, mata mereka melebar ketakutan.

"Ini bukan... itu... Oh, Tuhan, Sakura, ini rumit," desisnya. "Tapi, aku bisa menjelaskannya."

"Ayo jelaskan," ucapku dingin.

"Karin itu gadis yang dulu pernah kudekati..."

"Dulu?" selaku.

"Ya..."

"Kau berpacaran dengannya?" tanyaku.

"Tidak."

"Kau menidurinya?"

Ia sesaat berhenti bicara. "Sakura..."

"Hanya itu yang ingin kuketahui." Aku menutup mata dan mengambil napas dalam-dalam. Aku tidak peduli... Aku tidak peduli... Aku tidak peduli... Dia hanya permainan... hanya tipuan...

"Aku sudah lama tidak bertemu Rin. Dia pikir kami masih dekat. Sakura, aku bersumpah aku belum pernah menemuinya sejak aku bertemu denganmu."

Aku memutar mata. Yang benar saja! Jadi, dia tidak lagi meniduri gadis bernama Karin ini selama berapa lama? Seminggu?

Aku merasa bimbing antara memaafkannya—dan terus melanjutkan permainan konyol ini—atau langsung menyebutkan tentang taruhannya sekarang. Tapi, kemudian ada sebuah percikan jahat dalam diriku. Kalau aku ingin menyebutkan tentang taruhan, aku harus berhadapan langsung dengannya. "Baiklah."

Ia terkejut. "Baiklah?"

"Ya, Sasuke, baiklah," ucapku manis. "Kalau kau bilang kau tidak lagi menemuinya, aku percaya padamu." Aku kagum dengan perubahan suasana hatiku yang tiba-tiba ini.

Ia menghela napas lega. "Syukurlah."

"Aku akan membiarkanmu bergabung kembali bersama adikmu," ucapku cepat.

"Kau yakin tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.

"Ya, Sasuke." Aku harap ucapanku tidak terdengar terlalu dipaksakan. "Aku akan bicara lagi denganmu nanti."

"Hn, oke."

Kami menutup telepon; saat aku kembali ke dalam restoran, aku melihat Ino dan Naruto masih duduk di meja sambil mengobrol. Mereka mungkin sedang membicarakanku. Ino sudah memegang segelas penuh margarita lagi—oh, Tuhan! Aku segera menyelipkan ponsel jauh ke dalam tasku, di tempat di mana ia tidak akan menemukannya dan berjalan mendekat.

Saat Ino melihatku, matanya langsung melebar. Aku duduk tanpa mengucapkan apa-apa, tapi ia dengan cepat mulai memburuku. "Oh, Sakura! Apa itu tadi? Apa yang jawaban telepon pelacurnya?"

Aku mengangkat bahu, pura-pura tidak peduli. "Itu adiknya. Tapi, adiknya menyebut aku salah satu dari pelacurnya."

"Tidak mungkin!" Aku mengangguk. "Dia memanggilmu pelacur?" tanyanya kaget.

"Tidak, tapi dia bertanya apa aku Karin," jawabku.

"Siapa itu Karin?" tanya Ino keras, suaranya terdengar di seluruh restoran. Ia terlihat marah saat mengobrak-abrik tasnya. "Persetan dengan semua ini, aku akan menelepon Sai."

"Lupakan saja, Ino," ucapku tenang.

"Dia tidak bisa tidur dengan gadis-gadis lain saat dia mencoba menidurimu," jelasnya.

Aku memutar mata, tapi tetap berusaha mengurangi emosinya. "Dia bilang dia tidak lagi menidurinya."

"Ya, dan dia pria yang jujur," cemoohnya.

"Apa yang akan kau katakan pada Sai?" tanyaku.

"Aku akan mengatakan kepadanya untuk menendang pantat Sasuke." Ia menarik ponselnya keluar dan mulai menelepon.

"Ino! Hentikan!" Aku meraih paksa ponselnya—kali ini aku berhasil. Ia sepertinya siap untuk meledak.

"Apa yang kau lakukan?" gerutunya.

"Menghentikanmu melakukan kebodohan. Tidak penting bagiku kalau dia meniduri gadis-gadis lain," jawabku, dan nuraniku langsung berteriak: Ya, itu penting. Ini membuatku kesal dan menyakiti perasaanku. Tapi, aku tidak akan mengatakannya pada orang lain.

"Ya, itu penting," jawab Ino, dan ia menoleh menatap Naruto, berusaha mendapatkan dukungannya. "Naruto, bilang padanya aku benar."

Naruto kelihatan tidak senang diikutsertakan dalam percakapan kami. Ekspresinya mengatakan 'aku bilang juga apa'. "Jangan libatkan aku," ucapnya pelan.

Aku merasa perlu untuk menegaskan beberapa hal padanya. "Tidak masalah kalau dia tidur dengan orang lain," ucapku marah. "Karena aku tidak akan tidur dengannya."

"Ya, dan kau tidak berguna, kau tahu itu, Naruto?" Ino dengan cepat menambahkan. Naruto hanya mengangkat bahu. "Oke, kita perlu menyusun rencana baru. Kau terlalu baik—"

"Ino, bisakah kita tidak membahasnya malam ini?" tanyaku. Semua ini benar-benar membuatku kelelahan. Aku datang kesini untuk minum margarita dan bersantai, dan omong kosong ini menghasilkan efek sebaliknya.

"Baiklah," ia akhirnya mengalah. "Tapi, aku akan bilang tentang ini pada Sai. Dan kau harus mentraktirku segelas margarita."

Aku memeriksa ponselku saat berada di dalam lift. Ada sebuah pesan datang dari Sakuke—isinya singkat, dan sederhana.

Maafkan aku. - Sasuke

Aku mengerutkan kening saat membacanya. Maaf untuk apa? Maaf karena menjadi pria brengsek? Menjadi gigolo? Aku memilih untuk melemparkan ponselku kembali ke dalam tas dengan cemberut.

Aku sangat terluka, dan aku tahu aku tidak akan pernah bisa tidur malam ini, namun aku masih mencobanya. Aku bersiap-siap untuk tidur dan masuk ke bawah selimut, aku tergoda untuk menenggak beberapa butir NyQuil dan segera tertidur pulas. Setidaknya, itu bisa memastikanku untuk tidak bermimpi berhubungan seks dengan Sasuke... shannaro, mimpi seks! Aku berguling sambil mengerang.

Aku terkejut saat ponselku tiba-tiba berdering di meja samping tempat tidurku. Pikiranku langsung menuju Sasuke. Shannaro! Tidak mungkin aku bicara dengannya di saat-saat seperti ini.

Aku kembali berguling untuk mengambil ponsel dan menyipitkan mata menatap layar. Sebuah nomor tak dikenal yang berasal dari luar kota muncul di sana. Walaupun aku tahu ini bukan nomor Sasuke, tapi kegelisahanku tetap saja belum kunjung reda.

"Halo?" jawabku.

Terdengar suara wanita dari seberang sana. "Apa ini Sakura?"

"Siapa ini?" Aku duduk sedikit lebih tegak di tempat tidur, merasa bingung.

"Ini Rin."

"Rin? Adiknya Sasuke?"

Ia terkekeh pelan. "Ya."

Aku bingung. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan. "Um, oke. Hai," ucapku canggung.

"Hai, Sakura," sahutnya. Ia tidak membuang-buang waktu untuk langsung ke inti pembicaraan. "Dengar, aku meneleponmu untuk meminta maaf. Aku tidak bisa tidur memikirkan kejadian tadi."

"Bagaimana kau mendapatkan nomorku?" tanyaku mengabaikannya.

"Oh, aku mendapatkannya dari ponsel Sasuke-nii saat dia tidak melihat."

Ah. Itu masuk akal... sedikit.

"Oh oke."

"Jadi, yeah," ia melanjutkan, "Aku tidak bermaksud memanggilmu... Karin. Aku sama sekali tidak berpikir."

Aku kembali berbaring di tempat tidur. "Oh. Ya, itu bukan masalah besar," bohongku dengan santai.

"Tidak, tidak," ia cepat-cepat membantah. "Itu masalah besar. Aku yakin kau pasti berpikir aku ini menyebalkan."

Aku memutuskan untuk bercanda dengannya, meskipun aku tidak tahu orang macam apa dia dan bagaimana ia akan bereaksi. "Ya, mungkin sedikit menyebalkan."

Aku mendengarnya menarik napas dalam-dalam. "Aku rasa aku pantas menerimanya."

"Ini hanya lelucon, Rin," jawabku.

"Oh."

Sebuah jeda panjang dan canggung mengikuti ucapannya. Aku tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan padanya.

"Dengar," akhirnya ia bicara, "Apa artinya Sasuke-nii untukmu?"

Aku kaget mendengar ucapannya. "Apa maksudmu?"

"Maksudku, apa kau benar-benar menyukainya? Aku benci melihat gadis-gadis terluka karenanya, Sakura... dan kau seperti gadis yang baik. Aku yakin itu."

Seandainya saja ia tahu bagaimana hubungan nyataku dengan Sasuke, ia mungkin akan muak dengan kami berdua. Untung saja ia tidak tahu.

"Ya, aku menyukainya," jawabku. Aku pikir tidak ada gunanya menceritakan taruhan itu padanya, biar saja ia berlari ke Sasuke dan menyuruhnya mengungkapkan semuanya. "Kau pikir dia akan menyakitiku?" tanyaku penasaran.

Ia mendesah. "Sasuke-nii punya kehidupan yang sulit, Sakura." Menarik sekali... "Dia biasanya tidak pernah berhubungan dengan seorang wanita untuk waktu yang lama. Dia tidak akan mengakuinya, tapi aku pikir itu ada pengaruhnya dengan kematian ibu kami."

Aku tiba-tiba merasa senang karena informasi akan segera terungkap dalam waktu dekat ini. Aku ingin tahu setiap detail kenapa Sasuke bersikap seperti ini.

"Apa maksudmu?" tanyaku dan berharap agar aku tidak terdengar terlalu bersemangat.

"Apa dia sudah mengatakan sesuatu tentang ini?"

"Belum..."

Ia kembali mendesah dan tiba-tiba merubah topik, membuatku kecewa. "Jadi, apa yang kau lakukan akhir pekan ini? Aku ingin bertemu denganmu."

Shannaro. Ia tidak mau memberitahuku.

"Aku tidak tahu," jawabku jujur.

"Kau ingin pergi keluar besok malam? Ada sebuah klub malam kecil di sini. Sasuke-nii akan membantu Bibi Keiko memindahkan barang besok—dia mendesain ulang ruang keluarga." Siapa Bibi Keiko? "Tapi," lanjutnya sebelum aku bisa menjawab, "Dia mungkin tidak akan senang kalau tahu aku meneleponmu. Atau mengotak-atik ponselnya... tapi kau tahu, aku adiknya. Aku harus menyeleksi pacarnya."

Aku tertawa. "Apa kau mencoba membuatku gugup?" tanyaku. Tidak masalah dia setuju denganku atau tidak—lagi pula, aku tidak punya masa depan dengan Sasuke.

"Tidak, tidak, tidak!" jawabnya cepat. "Aku sudah bilang—aku tahu kau gadis yang baik, dan firasatku biasanya tidak pernah meleset."

Aku tidak tahu bagaimana ia bisa punya perasaan seperti itu padaku, ia bahkan belum pernah bertemu denganku. Tapi, ia sepertinya gadis yang baik dan jelas tidak setuju dengan perilaku Sasuke. Aku penasaran semarah apa Sasuke saat ia tahu aku dan adiknya nongkrong bersama di belakangnya.

Aku tidak bisa menahan senyum saat memikirkannya. "Baiklah," aku setuju. "Kedengarannya menyenangkan."

o0o

to be continued

o0o