a/n:
Cosmopolitan atau cosmo: sejenis minuman beralkohol dengan vodka sebagai cairan alkohol utamanya.
.
.
A Betting Man
.
.
Sakura POV
Sasuke tidak meneleponku besoknya. Jujur saja, aku berharap ia bermohon-mohon di kakiku sekarang, tapi aku tidak seberuntung itu. Aku tidak yakin dengan apa yang ada dipikirannya, tapi aku masih sedikit kesal dengannya dan aku tidak mau repot-repot mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Sekarang hari Jumat—akhir pekan—dan walaupun ia sudah bilang akan berkunjung ke Konoha, namun aku belum mendengar kabar darinya. Dan ini tidak luput dari perhatianku. Aku tidak tahu apa ia benar-benar akan datang atau tidak. Mungkin ia sudah muak denganku... mungkin ia sudah menyerah.
Tapi, aku belum selesai dengannya. Belum, sama sekali—nuraniku cekikikan tanpa henti. Malam ini aku akan bersenang-senang. Aku akan mendapat sekilas kisah kehidupan Sasuke dari adiknya sendiri. Kalau aku beruntung, aku akan mendapat banyak informasi tentangnya.
Aku menerima pesan setelah makan siang, dan aku malu sendiri karena berharap pesan itu dari Sasuke. Dengan cemberut, aku mengecek layar ponsel—ini dari Sai.
Ino bilang padaku, Sasuke kembali bersikap bajingan. Aku minta maaf. -Sai
Isi pesannya terdengar tulus, tidak seperti Sai yang biasa. Dengan penasaran, aku membalas: Aku tidak pernah mengharapkannya bersikap lebih baik. -Sakura
Dia benar-benar orang baik, hanya sedikit... keterbelakangan mental kalau berurusan dengan masalah pergaulan. -Sai
Aku tersenyum membacanya. Sebelum aku bisa menanggapi, Sai sudah kembali mengirim pesan: Aku rasa kau cocok dengannya. Aku pikir dia sudah mulai merasa sedikit bersalah. -Sai
Bagus kalau begitu, memang seharusnya dia merasa bersalah. -Sakura
Sai tidak membalasnya. Aku tidak yakin apa ia sibuk atau lupa dengan percakapan kami, tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Pikiranku terfokus pada pertemuanku dengan Rin malam ini. Aku agak cemas, tapi aku tidak tahu kenapa.
Aku segera pulang setelah selesai bekerja dan bersiap-siap. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk berdandan; rambutku tergerai lurus, aku mengenakan celana jins ketat dan sepatu hak tinggi dengan blus longgar. Aku menikmati makanan cepat saji di perjalanan.
Setelah sampai di Suna, aku menelepon Rin dan memintanya untuk memberi petunjuk arah menuju klub yang ia maksud. Ia sudah sampai di sana, sepertinya sudah tidak sabar ingin bertemu denganku. Saat jarakku semakin dekat, sarafku menegang sepuluh kali lipat. Perutku berpilin.
Sekarang masih pukul setengah delapan malam, tapi tempat ini sudah penuh. Sepertinya ini adalah klub favorit di Suna. Aku berjalan melewati tubuh-tubuh yang berkeringat, musik yang menggelegar dan lampu remang-remang. Sulit untuk membuat jalan, dan meskipun Rin sudah mengatakan ia mengenakan gaun biru dan berada di dekat bar, aku mulai khawatir tidak akan menemukannya.
Tapi ketakutanku segera mereda; aku melihat seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut pendek gelap sedang menyesap minuman bewarna-warni. Ia bersandar ke meja bar dan sepertinya ia juga mencari-cari seseorang. Matanya bertemu denganku dan untuk sesaat kami saling berpandangan, tak satu pun dari kami bereaksi. Tapi, gaunnya memberitahuku gadis ini adalah dia, dan aku melangkah mendekat. Ia tersenyum saat jarak kami semakin dekat.
"Apa kau Rin?" tanyaku, dan ia menyeringai.
"Kau pasti Sakura!"
Ia sangat antusias, senyumnya sangat lebar. Aku tersenyum, dan mengulurkan tangan untuk bersalaman, tapi ia membuatku kaget, segera setelah ia meletakan minumannya di atas meja bar, ia langsung memelukku erat. Aku dengan canggung membalas pelukannya, mataku melebar, sampai ia melepaskanku.
Ia mengambil minumannya lagi, sama sekali tidak canggung dengan situasi ini. "Aku sangat senang akhirnya bisa bertemu denganmu," ucapnya.
"Um, yeah. Aku juga." Aku tidak tahu harus berkata apa; aku merasa canggung. Matanya sangat mirip dengan Sasuke, begitu juga dengan hidung dan dagunya. Dia sangat cantik, dan ini sama sekali tidak mengejutkanku.
"Kau cantik," ucapnya tiba-tiba, dan wajahku memerah panas. "Kau mau minum?"
Segelas minuman sepertinya ide yang bagus... lagi pula, aku ingin bersantai. Rin melambaikan tangannya untuk mendapatkan perhatian bartender dan aku dengan segera memesan cosmo.
Ia kembali melihatku. "Jadi," ucapnya santai, "Bagaimana kau bisa bertemu dengan Sasuke-nii?"
"Um, aku bertemu dengannya di klub," akuku.
"Oh. Jadi, kau sering keluar malam?"
"Tidak juga. Itu pertama kalinya aku keluar setelah beberapa lama..." Tiba-tiba aku terpikir, "Apa Sasuke tahu kita di sini?"
"Oh, tidak," ia dengan cepat meyakinkanku sambil tertawa kecil. "Aku tidak bilang padanya. Apa kau bilang padanya?"
"Tidak."
"Bagus. Dia tidak tahu kalau begitu." Ia tersenyum malu-malu melihatku. "Maaf, dia kadang-kadang menyebalkan. Dia benar-benar menguliahiku semalaman setelah menutup teleponnya." Rin memutar matanya.
Aku terkejut mendengar informasi ini... dan sangat tertarik, tentu saja. "Dia bilang apa?"
Rin mengangkat bahu. "Oh, dia bilang aku tidak boleh lagi menjawab teleponnya." Ia kembali memutar mata. Sepertinya hanya ini yang mau ia bocorkan. Aku harus menggali lebih dalam...
"Bagaimana dengan Karin?" tanyaku. Aku tidak tahu informasi apa yang kuharapkan akan terungkap. Aku hanya ingin... sesuatu, shannaro!
Ia terlihat bersalah saat bicara. "Dengar Sakura, tentang itu... aku benar-benar minta maaf," ucapnya.
"Aku sudah bilang tidak apa-apa," ucapku cepat. Aku ingin ia tahu, ia tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. "Kami baru berkencan seminggu. Jadi, Rin, kalu dia sudah selingkuh, aku ingin tahu tentang itu sekarang... Kau mengerti, kan, maksudku? Sebelum semuanya berjalan terlalu serius." Aku berdiri gelisah saat mengucapkan ini dan Rin sepertinya ragu-ragu, pikirannya terpecah.
Akhirnya, ia mendesah. "Sakura, aku menyukaimu," ucapnya. Aku menunggu dengan sabar sampai ia melanjutkan. "Tapi Sasuke-nii, orangnya... sulit. Aku belum pernah melihatnya punya pacar sebelum ini." Ini kedengarannya tidak bagus. Ia kembali mendesah keras. "Dengar, apa kau pernah punya firasat tentang sesuatu?"
Aku tidak yakin dengan apa yang ia bicarakan, tapi aku yakin ia menghindari pertanyaanku.
"Aku tidak tahu," aku menjawab sambil mengangkat bahu. Ia kelihatan murung, jelas terlihat kalau ia sedang berdebat dengan pikirannya sendiri.
Aku kembali membawa pembicaraan kami ke topik semula. "Jadi, dia meniduri Karin, Rin?" Aku bertanya blak-blakan.
Matanya sedikit melebar karena pertanyaan tidak senonohku. Ia terlihat malu saat menjawab—malu karena Sasuke? "Dia berencana untuk bertemu dengannya tadi malam," akhirnya Rin mengaku.
Aku tahu itu. Aku tidak ingin marah—aku ingin berpura-pura kalau aku sudah mengantisipasi ini—tapi upayaku sia-sia. Aku bisa merasakan kemarahanku menggelegak, rahangku mengeras, dan dadaku terasa sesak. Dengan sebuah gerakan cepat, aku langsung menegak habis cosmo-ku sebelum memesannya lagi. Rin melihatku sedikit kasihan.
Aku ingin mengatakan padanya kalau ini bukan masalah—mengatakan padanya aku tidak peduli—tapi, aku tidak bisa melakukannya. Aku menggigit bibir, takut-takut kalau aku mengucapkan satu kata saja, aku akan mengeluarkan sumpah-serapah ke seluruh orang yang berada di sini.
Kenapa aku membiarkan Sasuke memengaruhiku seperti ini? Dasar bajingan.
"Sakura..." Rin dengan lembut meraih pergelangan tanganku, berharap untuk mengalihkan perhatianku. "Aku minta maaf. Tapi, dia tidak bertemu dengannya." Ucapannya tidak membuatku merasa lebih baik. Tidak, tidak sedikit pun. Rin kembali mendesah. "Tahu tidak, aku sebenarnya ingin membenci Sasuke-nii karena ini, tapi, aku tidak bisa. Dia selalu kesulitan untuk dekat dengan orang lain, Sakura. Dia tidak pernah membiarkan orang lain untuk dekat dengannya. Aku tahu kau tidak paham maksudku, tapi... dia bukan orang jahat, aku berani bersumpah."
Yeah, yeah. Percakapanku sebelumnya dengan Sai kembali berputar dalam pikiranku dan aku ingin memutar mata karena ucapan mereka sama. Kalau memang dia seorang pria baik-baik, lalu kenapa dia membuat taruhan pada seorang gadis tidak bersalah sepertiku?
Bartender menyerahkan cosmo-ku yang kedua dan aku langsung menegaknya habis. Rin dan bartender mengangkat alis mereka saat melihatku—aku sudah bisa merasakan efek dari alkohol yang kuminum.
"Lagi?" tanya bartender. Aku mengangguk dan ia mengambil segelas lagi sambil tersenyum geli.
"Sakura?" Rin terdengar khawatir. "Kau baik-baik saja? Mungkin kau sebaiknya minum pelan-pelan."
Pelan-pelan? Dia beruntung aku belum minum gelas yang keempat sekarang.
"Aku baik-baik saja, Rin." Ucapanku keluar seperti paksaan. "Terima kasih sudah memberitahuku."
Ia kelihatannya tidak senang. "Apa kau akan meninggalkan Sasuke-nii?"
Aku mengangkat alis. Apa dia serius? "Kau akan meninggalkannya, kan, kalau jadi aku!" bentakku. Ia terlihat canggung, jelas tidak mengharapkan reaksi seperti ini dariku.
Kalau aku jujur dengan diriku sendiri, aku tahu Sasuke akan bertindak seperti ini. Seharusnya aku tidak peduli. Aku tidak boleh membiarkan kemarahanku mengendalikan situasi.
Tapi, kenapa rasanya begitu sakit?
"Aku rasa begitu," Rin akhirnya mengaku. Ia terdengar kecewa. "Maaf, Sakura. Aku tidak ingin dia menyakitimu, itu sebabnya aku mengatakan semua ini padamu. Aku adik yang jahat." Sekarang ia terlihat sangat sedih. Oh, bagus sekali, Sakura.
Aku rasa aku harus menghiburnya. Lagi pula, bukan salahnya juga kakaknya seorang bajingan.
"Kau bukan adik yang jahat, Rin," ucapku sambil menghela napas. "Hanya saja... ini membuatku kesal. Tapi, hubungan kami secara teknis belum eksklusif," akuku. "Sebenarnya, aku bukan pacarnya. Aku bilang begitu hanya karena aku kesal ada seseorang seperti Karin menjawab teleponnya..." Aku merasa sangat bodoh, tapi Rin sama sekali terkejut mendengarnya.
"Aku juga akan melakukan hal yang sama," ucapnya.
Aku tersenyum kecil. "Terima kasih."
Bartender menyerahkan segelas cosmo lagi padaku dan menawari Rin minuman lagi. Aku minum lebih pelan, berharap dapat mengurangi ketegangan dan tidak berakhir dengan tersungkur di lantai.
Aku iseng-iseng berpikir apa yang akan dilakukan Rin kalau aku bercerita tentang taruhan itu. Secara teknis, ia masih orang asing, masih tidak bisa diprediksi. Ia bisa saja membantuku, seperti Sai, atau ia akan segera memberitahu Sasuke tentang semua ini. Rin tidak akan senang, aku yakin itu... tapi apa ia setuju dengan semua permainan yang kulakukan?
Tapi, itu hanya akan membuat Sasuke terlihat semakin bajingan di mata Rin. Semarah apapun aku padanya, aku tidak akan melakukan itu pada Sasuke. Pada Rin.
Aku masih menutup mulutku. Kami berlama-lama di bar, dan ini memberikan kami akses yang lebih mudah untuk memesan minuman. Aku punya firasat akan minum banyak sebelum malam berakhir. Aku ingin tahu apa Rin punya rekomendasi hotel yang bagus di sekitar sini; aku sudah merasa sedikit pusing dan malam baru saja dimulai.
"Jadi..." Rin menatapku gugup. Setelah menghabiskan gelas ketiga cosmo-ku, aku mulai merasa sedikit lebih baik. "Apa kau pikir aku... gila... kalau aku memintamu untuk memberinya kesempatan lagi?"
Aku ingin tertawa mendengar pertanyaannya. Dalam keadaan normal, aku akan menjawab ya, aku akan berpikir dia sangat gila. Tapi, malam ini—atau dalam seminggu ini—tidak ada hal yang normal terjadi di hidupku.
Tapi, aku tidak mengatakan semua ini pada Rin. Aku malah menanggapi rasa ingin tahunya. "Dan kenapa aku harus memberinya kesempatan lagi?" Aku tertarik mendengar alasannya, tapi ia terlihat frustrasi saat menjelaskan.
"Aku punya firasat. Ini... ini aneh, aku tahu itu. Tapi, aku percaya dengan firasatku. Apa kau tidak pernah punya firasat tentang sesuatu?" Ia terlihat sangat putus asa, berharap aku bisa memahaminya. Aku memutuskan untuk menghiburnya sedikit.
"Aku rasa pernah. Maksudku, kadang-kadang aku bangun tidur dan punya firasat kalau hari itu akan menjadi hari burukku... dan kemudian ternyata hari itu benar-benar hari burukku." Contoh yang menyedihkan, tapi mata Rin menyala saat mendengar ucapanku.
"Benar! Tepat sekali!"
Aku tidak yakin apa maksudnya dengan firasat. Ia tidak tahu tentang hubungan kami, tapi aku yakin, kalau ia tahu, semuanya akan berbeda. Tapi, aku sadar ini menjadi keuntungan buatku. Dengan cara ini, aku bisa melanjutkan permainanku dengan pikiran jernih. Rin akan dengan senang hati memberikan informasi padaku tanpa curiga.
"Jadi," Rin dengan bersemangat kembali melanjutkan, "Kau sedikit mengerti dengan apa yang kukatakan, kan?"
Aku tersenyum hanya untuk menenangkannya. "Ya." Ia dengan sabar menunggu jawabanku untuk pertanyaan sebelumnya. "Dan ya, aku akan memberinya kesempatan lagi."
Ia menjerit sebelum memelukku erat. Ia dan sasuke seperti siang dan malam.
"Bagus sekali, Sakura." Ia menunjuk gelas kosongku. "Mau minum lagi? Kali ini biar aku yang bayar."
Minum lagi? Aku sama sekali tidak keberatan.
Semakin malam klub semakin penuh. Kami beberapa kali berdansa bersama—Rin menolak untuk berdansa dengan pria lain, ia bilang ia hanya mau berdansa dengan kekasihnya, Kakashi, yang berada di Tokyo. Aku memerhatikan tingkahnya dan ikut menolak tawaran berdansa dengan orang lain dan berpura-pura aku tidak tertarik pada siapa pun, kecuali Sasuke. Ia bercerita tentang sekolahnya, tentang Kakashi, tentang Tokyo; aku menceritakan tentang pekerjaanku, tentang orang tuaku, tentang Naruto dan Ino, dan sedikit tentang pernikahan.
Saat jam menunjukan pukul sepuluh malam, aku tidak bisa lagi mengingat sudah berapa gelas yang kami minum. Aku pikir Rin juga sama. Kami berdua kelewat mabuk, dan melakukan tindakan bodoh di lantai dansa, tapi ini sangat menyenangkan karena kami berdua sama sekali tidak peduli. Rin akhirnya menemukan sebuah meja kecil di sudut klub sementara aku memesan minuman lagi. Aku memberi terlalu banyak tip pada bartender sambil mengatakan padanya kalau ia membuat cosmo terbaik se-Jepang, dan tersandung saat berjalan menuju tempat kami.
Rin menerima minumannya dengan penuh antusias dan kemudian bersikeras mencicipi minumanku, lalu berseru, "Oh! Ini cosmo terbaik di dunia!"
Aku memutuskan, saat ini juga, aku mencintai gadis ini. Aku memikirkan cara untuk membuat Sasuke mabuk, dan memintanya menikahiku ke kapel terdekat, agar aku bisa menjadikan Rin saudaraku untuk selamanya.
Dalam keadaan mabuk, aku membuat pengakuan padanya. "Rin, aku benaaaar-benaaaaar menyukai kakakmu."
Ia membalas ucapanku, "Aku tahu, dia juga benaaaaar-benaaaaar menyukaimu."
"Tidaaaak. Dia tidak menyukaiku."
"Sakura, percayalah padakuuuuu... Kalau kau melihaaaatnya setelah aku berbicara denganmuuu, kau akan tahu persis apa yang kubicarakan." Ia hampir terjatuh dari kursinya saat bicara.
"Dia hanya menginginkan satu hal," aku merengek.
"Ya, Sakuraaa, tetapi semuanya akan berubah. Aku punya fi-ra-sat, kau ingat?" Ia mengeja agar aku bisa memahaminya.
"Fi-ra-sat-mu bisa saja salah."
"Tidak, Sakura, firasatku selaaalu benar."
Kami berdua tertawa.
"Aku menyukaimu, Rin."
"Aku benar-benar menyukaimu, Sakura."
"Aku harus buang air kecil," ucapku tiba-tiba.
"Oke. Aku akan pergi memesan cosmo. Ini benar-benar enak."
Ada antrian di kamar mandi. Aku menunggu dan kembali memikiran pengakuan yang baru saja kulakukan tentang Sasuke dan sikapnya. Kenapa ia tidak bisa menjadi pria normal, pria romantis? Pria yang tidak membuat taruhan seperti itu pada wanita manapun. Aku benar-benar marah. Tapi, aku beruntung—pikirku dengan sinis. Kalau ia tidak setuju melakukan taruhan ini, pasti ia sudah pergi dengan seorang gadis cantik sekarang.
Saat aku sudah selesai melakukan urusanku, aku melihat Rin masih berdiri di meja bar berusaha mendapatkan perhatian bartender yang tampaknya sedikit kewalahan menghadapi kerumunan yang tiba-tiba muncul. Aku berjalan mundur, kembali ke lorong sepi, aku dengan spontan mengambil ponsel dan tanpa banyak berpikir mencari nomor telepon Sasuke.
Ia menjawab setelah dering kedua.
"Sasuke," sapaku. Suaraku terdengar seperti wanita yang baru saja disuntik botox dan mengkonsumsi terlalu banyak obat penghilang rasa sakit. Aku langsung bertanya, "Kenapa kau tidak menyukaiku?"
Oh, Tuhan... bahkan dalam keadaan mabuk, aku tahu aku akan menyesali ini besok.
"Sakura?" Ia terdengar bingung.
"Ya, Sasuke, ini Sakura," jawabku marah. "Bukan Karin, tapi aku tidak akan terkejut kalau kau sedang bersamanya sekarang."
"Sakura, kau di mana?" tanyanya cepat, mengabaikan ledakan kecilku.
"Di klub."
"Apa kau mabuk?"
"Tidak, Sasuke," aku berbohong dengan jengkel. "Sekarang jawab pertanyaanku."
"Kau tidak masuk akal, Sakura. Dengan siapa kau sekarang?"
"Aku sedang bersama seorang pria yang benar-benar menyukaiku," aku kembali berbohong. Aku mati-matian ingin membuatnya marah.
"Sakura, katakan padaku, dengan siapa kau sekarang," ucapnya kasar, tidak ada lagi omong kosong di nada suaranya. Aku sedikit ngeri saat menyadari hanya ada satu jawaban yang akan membuatnya marah selain mengatakan aku sedang bersama pria lain. Dan tentu saja, ini jawaban yang sebenarnya.
Dengan malas-malasan dan tersenyum mabuk aku menjawab, "Aku bersama adikmu, Sasuke. Rin."
Ada jeda di pembicaraan kami, dan aku tahu ia pasti marah. Maksudku, siapa yang tidak akan marah? Sebagian diriku senang ia hanya berada di telepon dan tidak langsung berada di sini. Bahkan nurani mabukku masih bisa menyadari ini.
Rasanya waktu sudah berjalan begitu lama sebelum ia kembali bicara. "Apa maksudmu kau bersama adikku?"
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku sudah bersamanya seeeemalaman... dia lucu." Aku harus bersandar ke dinding agar tidak jatuh. Ruangan sepertinya berputar dan perutku bergejolak... dan ini tidak ada hubungannya dengan memikiran Sasuke dan Karin yang sedang bersama. Tidak sepenuhnya, setidaknya.
"Di klub mana kau, Sakura?" tanyanya dingin. Kalau saja aku tidak tiba-tiba mual, aku akan mengucapkan sesuatu yang cerdas, membuatnya kembali marah, tapi aku takut aku akan terkapar di sini, di lantai lorong. Sebuah erangan menderita keluar dari bibirku. Sasuke terdengar khawatir, "Sakura?"
"Aku harus... aku harus..." Masih ada antrian menuju kamar kecil... sial! Dalam keadaan putus asa aku segera berlari menuju tempat sampah terdekat, dan segera mengeluarkan sisa-sisa makan malam dan cosmopolitan yang kuminum. Aku menggenggam erat ponselku dan juga tempat sampah, dan sepanjang pengetahuanku, Sasuke masih berada di telepon, mendengarku mengosongkan isi perutku lagi dan lagi.
Muntahanku sepertinya tidak mau berhenti. Orang-orang yang berjalan melewatiku di lorong, menatapku dengan jijik. Wajahku berkeringat, aku gemetaran, dan yang paling penting, aku mempermalukan diriku sendiri.
Sasuke sudah menutup teleponnya saat aku meletakkan ponsel kembali ke telingaku. Aku bisa membayangkannya memasang wajah jijik saat mendengar kekacauan tadi. Aku rasa dia muak denganku—ya, itu sebabnya ia menutup teleponnya. Jadi, ia tidak perlu lagi membuat alasan untuk mengakhiri ini. Karena, seperti yang sudah dikatakan Sasori, tidak ada satu hal pun tentangku yang layak untuk diperjuangkan.
Mataku rasanya perih dengan air mata tertahan saat aku berjalan menuju kamar kecil, berharap untuk dapat sedikit membilas mulutku sebelum kembali menuju ke tempat Rin berada.
o0o
Sasuke POV
Aku meringis saat mendengar Sakura muntah. Aku tidak tahu ia berada dimana sekarang. Aku bisa mendengar suara musik, suara tawa orang lain... ada jeda singkat dan aku bertanya-tanya apa ia sudah selesai.
"Sakura?" tanyaku hati-hati. Dan ia kembali muntah. Sambil menghela napas, aku menutup telepon, karena aku tahu aku tidak akan mendapatkan informasi apa-apa darinya.
Apa yang sedang terjadi? Dia bersama adikku? Bagaimana? Kenapa? Aku hanya bisa menyimpulkan ini sebagian besar adalah ulah Rin. Dengan jengkel, aku segera mencari nomornya di ponselku, aku tahu ia tidak akan pergi kemana-mana tanpa ponselnya.
Saat ia menjawab, aku langsung tahu ia sama mabuknya seperti Sakura. Aku bisa merasakan darahku mendidih.
"Rin, apa yang sebenarnya terjadi?" aku menuntut jawabannya. Ada suara musik keras di tempatnya berada dan kerumunan suara orang lain.
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," timpal Rin. "Ada apa?"
"Rin, di mana kau?" Suaraku terdengar rendah. Aku mengambil kunci mobil, bersiap untuk pergi menuju kemanapun mereka berada. Aku tahu klub favorit Rin di sini... ia sering mengunjungi tempat itu. Aku pikir aku akan langsung ke sana sampai ia memberitahuku.
"Aku... aku di klub, Sasuke-nii. Di mana kau?"
"Aku akan datang menjemputmu."
"Tidak! Tidak boleh!" Ia marah dan menjerit keras di telepon.
"Persetan dengan tidak boleh. Apa kau bersama Sakura?"
Ada jeda sebelum ia bicara kembali, "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
"Aku baru saja meneleponnya dan, kebetulan, musik yang terdengar dari teleponnya sama dengan musik yang sedang bermain di tempatmu sekarang. Apa kau tahu dia sedang muntah-muntah sekarang? Apa kau bersamanya?"
Ia terdengar khawatir. "Benarkah? Dia uhh... dia ke kamar kecil. Dia bilang dia mau buang air kecil."
"Di mana kau, Rin?"
"Kami di Sharingan."
"Aku akan sampai di sana dalam sepuluh menit." Aku menutup telepon tanpa menunggunya menanggapiku. Saat aku sampai di klub, aku cepat-cepat mencari tempat parkir, tapi setelah berjalan mendekati pintu masuk, aku melihat Rin dan Sakura sedang duduk di pinggir jalan di luar. Sakura memegangi kepalanya, wajahnya tersembunyi di pangkuannya sendiri, sementara Rin menggosok punggungnya. Mereka berdua terlihat mabuk parah.
Rin melihat ke arahku dengan gelisah. Sakura tidak bergerak; aku bahkan tidak yakin ia masih sadar.
Ada sejuta hal yang ingin kukatakan pada Rin—kali ini ia benar-benar keterlaluan—tapi, aku hanya bisa berfokus pada Sakura yang merosot di trotoar sekarang. Dan ia marah padaku. Tentang Karin. Perutku berpilin penuh penyesalan saat aku berjongkok, menyeka rambut dari wajahnya. Matanya tertutup, pipinya basah. Apa dia menangis? Ia menghindari sentuhanku, menjauhkan wajahnya dariku.
Aku meraih lengannya dengan lembut, berharap dapat mengangkatnya dari trotoar. Terima kasih, Tuhan, Rin masih terjaga. Seberapa banyak dia minum?
"Ayo, Sakura. Sudah waktunya untuk pulang," bujukku. Ia mengerang tapi berdiri dengan goyah, memegang erat lengan dan kemejaku untuk menjaga keseimbangannya. Matanya terbuka tapi ia tidak mau menatapku; ia terlihat pucat.
"Aku rasa dia minum terlalu banyak," ucap Rin gugup. Tidak salah lagi.
"Apa yang dia lakukan di Suna?" Aku menjaga suaraku tetap pelan, tapi masih ada kemarahan yang tersirat.
"Waktu dia bilang dia akan datang, aku pikir dia tinggal di sini. Aku baru tahu dia tinggal di Konoha malam ini, Sasuke-nii. Aku bersumpah."
"Dan kenapa kau mengundangnya ke sini? Kau bahkan tidak mengenalnya."
"Aku ingin bertemu dengannya..." jawabnya lemah.
Aku mendesah. Rin selalu memaksakan dirinya masuk ke dalam hidupku, urusanku, bagaimanapun caranya. Seharusnya aku tidak kaget lagi.
Sakura tidak bisa berjalan lurus dan membuat perjalanan ke mobil menjadi canggung. Aku berpikir untuk menggendongnya, untuk menghemat waktu. Saat kami mencapai mobil, aku membantunya masuk ke kursi penumpang dan memasangkan sabuk pengaman. Matanya kembali tertutup dan ia masih belum mengenaliku.
Perjalanan kembali ke rumah paman dan bibiku berlangsung canggung dan diam. Rin duduk gelisah di kursi belakang, hampir tidak sadarkan diri. Tapi, ia masih sempat bersandar ke depan dan menyeka rambut Sakura dari wajahnya sambil bertanya apa ia baik-baik saja; Sakura mengangguk lemah menanggapi dan kemudian semuanya kembali diam.
Saat Rin turun, ia langsung menjulurkan kepalanya melalui jendela pintu mobilku yang terbuka dan berkata, "Aku tahu kau marah padaku, tapi aku hanya melakukan ini demi kebaikanmu."
Sambil tersenyum kaku, aku mengangguk. "Tidak apa-apa, Rin."
"Apa yang akan kau lakukan dengannya?" tanya Rin sambil menunjuk Sakura.
Apa yang dia pikirkan? Memangnya apa yang akan kulakukan pada Sakura? Mengantarnya ke tempat penampungan sampah? Membuangnya ke sungai?
"Aku akan membawanya pulang." Bukan hanya perjalanan panjang menuju Konoha, tapi memikirkan untuk meninggalkan Sakura sendirian dalam keadaan seperti ini, membuatku resah.
Rin mendesah. Ia kelelahan, aku tahu itu, dan dengan satu gerakan cepat ia maju dan mencium pipiku sambil bergumam, "Terima kasih, Sasuke-nii," lalu ia berjalan menjauh.
Tidak ada musik di dalam mobil. Hanya ada aku dan Sakura, keheningan, dan pikiran kacauku. Aku tidak tahu apa yang membawaku ke situasi ini—Sakura bertemu keluargaku tanpa sepengetahuanku. Ini sudah keluar dari zona nyamanku.
Aku ingat percakapan kami tadi malam, lewat telepon, saat ia menyebut dirinya sebagai pacarku. Aku belum punya pacar lagi semenjak kelas empat SD, tapi hubungan kami tidak lebih dari sekedar pegangan tangan dan berbagi snack-ku di sekolah. Dan mendengar Sakura mengucapkan itu keras-keras membuatku kaget. Bahkan merasa tidak nyaman.
Sakura adalah gadis yang cantik. Ia cerdas, memiliki orientasi dalam berkarir, lucu, dan kadang-kadang galak. Dan ia bisa membuatku tahu dimana posisiku, tidak pernah ada hal yang membosankan saat aku berada di dekatnya.
Kalau aku akan berhubungan serius dengan seorang wanita, wanita itu harus seperti Sakura. Dan mungkin suatu hari itu akan terjadi; mungkin suatu hari aku akan punya dorongan yang cukup untuk berhubungan serius dengan seseorang.
Sakura mulai bergerak di sebelahku, dan ini mengalihkan perhatianku. Saat aku melihatnya, ia sedang mengintip ke arahku dengan mata mengantuk.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya padaku. Suaranya terdengar parau.
"Mengantarmu pulang," jawabku.
"Aku harap aku tidak mengganggu kencanmu," ucapnya sinis. Ia kembali menyandarkan kepalanya ke kursi dan menutup matanya.
Sial. Bahkan dalam keadaan mabuk dan hampir tak sadarkan diri, ia masih bisa bertingkah sinis. Aku berusaha menahan senyum.
"Kalau maksudmu kencanku dengan The Walking Dead, ya, aku menyesal mengatakan ini, tapi kau memang menggangguku," jawabku.
Ia diam; aku bertanya-tanya apa ia sudah jatuh tertidur, tapi beberapa saat kemudian ia menguap dan berguling canggung di kursinya, berusaha melawan sabuk pengaman, dan menghadap ke jendela. "Terserah," omelnya. Aku tahu ia tidak mempercayai ucapanku, meskipun memang itu kenyataannya. Aku ingin tahu apa saja yang Rin katakan padanya semalaman.
Beberapa menit kemudian kami sampai di rumahku. Sakura masih terjaga dan ia buru-buru tersandung keluar dari mobil sambil bergumam pelan saat ia berdiri dengan goyah. Aku segera keluar dan berjalan ke arahnya untuk membantunya.
"Aku pikir kau mengantarku pulang," keluhnya.
"Ini pulang. Pulang ke rumahku."
"Aku tidak akan tidur denganmu."
Aku agak terkejut mendengar pernyataannya. "Aku punya kamar tamu," ucapku marah.
"Baiklah."
Aku membantunya masuk ke dalam rumah, menaiki tangga dan menuju kamar tidur. Ia menghentikanku, dan bersikeras ingin menyikat giginya, aku langsung mengantarnya ke kamar mandi dan memberinya sikat gigi baru. Saat ia menyikat gigi, aku langsung menuju kamarku untuk mengganti pakaian, karena aku juga akan segera tidur setelah ia masuk kamar. Aku memberinya waktu beberapa menit, tapi ia tidak kunjung keluar kamar mandi; lampu masih menyala, tapi tidak terdengar suara apapun. Aku akhirnya mengetuk.
"Sakura? Kau baik-baik saja?"
Diam.
"Sakura?"
Tidak ada suara apa pun. Aku mulai cemas.
"Aku masuk," teriakku sambil berdoa ia tidak sedang melakukan apa-apa, aku mendorong pintu kamar mandi sampai terbuka. Aku melihatnya duduk di toilet yang masih tertutup. Sambil mengantuk, ia menggosok wajahnya dengan tangan... jelas sekali, ia masih terbangun. Untuk sesaat, aku takut ia sudah tertidur di lantai. Apa ia hanya menghindariku?
Aku masuk ke dalam, meninggalkan pintu terbuka di belakangku. "Sakura? Kau baik-baik saja?"
Ia melihat ke arahku. Wajahnya pucat, namun pipinya memerah. Matanya menyipit menghalau cahaya. Ia terlihat berantakan.
Dan ia masih menghindariku.
"Sakura..." Aku kembali bicara, tapi tiba-tiba ia menyela.
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
Aku terkejut dan bingung... "Pertanyaan apa?" tanyaku.
"Kau tahu apa."
"Tidak, Sakura, aku tidak tahu apa," jawabku jujur. Aku tidak tahu maksudnya.
"Kenapa kau tidak menyukaiku?"
Ah, ya... pertanyaan itu. Tapi, kenapa dia bisa berpikir aku tidak menyukainya? Apa ini sebabnya ia memusuhiku sepanjang malam?
"Apa yang membuatmu berpikir begitu?" tanyaku.
Pertanyaanku membuatnya marah. "Karena di suatu hari kau mengisap payudaraku dan bertemu dengan... pelacur itu... di hari berikutnya."
Sial. Semua yang kulakukan hanyalah menggali kuburanku sendiri lebih dalam dan semakin dalam lagi. Aku tidak ingin menyakiti Sakura, tapi semua yang kulakukan hanya membuatnya sakit. Aku sadar bertemu dengan Karin saat semua ini sedang berlangsung bukanlah ide yang bijaksana. Sakura membantu membuatku sadar kalau penilaianku penuh dengan omong kosong... tapi, apa lagi yang bisa kulakukan? Aku bisa saja mengatakan padanya kalau aku tidak menyukainya, menyuruhnya pulang besok, dan tidak akan pernah lagi menemuinya. Aku bisa menyelesaikan taruhanku dan menyakitinya dengan cara seperti itu... atau aku bisa saja bercerita tentang taruhanku dan menyakitinya dengan cara seperti itu. Apapun yang kulakukan hanya akan berujung dengan melukai Sakura, sementara aku berdiri di sini memamerkan sikapku yang bajingan. Tidak ada pilihan yang mudah.
Saat bertemu dengan Sasori, dalam keadaan mabuk, aku keliru mengira semua ini akan berjalan dengan mudah. Tidak pernah terpikir olehku gadis yang ia maksud akan seperti... Sakura. Bagaimana caranya gadis seperti Sakura berakhir dengan pria sepertinya? Dan mereka berkencan selama tiga bulan?
Aku seharusnya tidak membuat taruhan dengan gadis manapun, tidak peduli bagaimana kepribadian mereka. Ibuku mungkin akan berguling marah di kuburannya kalau sampai ia tahu. Tapi, saat itu aku sedang mabuk dan dalam keadaan cemas mencari cara untuk membantu adikku.
Sakura jelas tahu rencanaku dengan Karin—aku harus berterima kasih pada Rin karena ini—dan tidak ada gunanya berbohong sekarang. "Aku tidak tahu, Sakura," ucapku pelan. Aku bersandar ke wastafel, menyesali perbuatanku. "Aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu." Aku menarik-narik rambutku, berharap bisa menarik semua omong kosong ini keluar dari hidupku.
Sakura tetap diam. Sikunya bersandar di lututnya dan ia menatap tangannya.
"Aku minta maaf," ucapku akhirnya. Aku minta maaf untuk banyak hal, dan sebagian besar untuk hal yang tidak ia ketahui. "Aku kira pertanyaan yang sebenarnya adalah kenapa kau menyukaiku?"
Ia mendengus. "Aku tidak menyukaimu."
Aku layak mendapatkan itu.
"Oke," ucapku pelan.
"Kau tidak menghormati wanita," tambahnya marah.
"Aku tahu."
"Apa kau akan melakukannya lagi?" tanyanya.
Aku mengerutkan kening. "Melakukan apa?"
"Menemui... nya."
Aku ingin mengatakan ya; aku ingin melihatnya kabur sambil berteriak dan mengamuk, membuatnya marah sampai-sampai ia tidak ingin berbicara denganku lagi. Mungkin dengan cara itu, semua akan mudah untuknya.
Tapi, lidahku berbicara sebelum aku bisa berpikir. "Tidak."
"Kau janji?"
Katakan tidak, Sasuke... menjauh darinya... selesaikan ini...
Bayangan untuk menyakitinya, membuatnya marah dan tidak mau melihatku lagi, membuatku sakit. Perasaan ini mengejutkanku. Kalau dia Karin, atau gadis lain, aku akan segera menyelesaikan ini tanpa berpikir dua kali.
"Ya, Sakura. Aku janji."
Ia dengan cepat berdiri dari toilet dan membuatku kaget, matanya menyala. Aku belum pernah melihatnya seperti ini. Ia berdiri tepat di depanku, ekspresinya begitu... bergairah. Ia begitu dekat sehingga dadanya menyentuh dadaku.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanyanya, ia menatapku lama. Ia mengharapkan sesuatu dariku. Aku tidak tahu apa.
"Apa maksudmu?" tanyaku kaget. Ia tiba-tiba bersandar dan menciumku, ciumannya seperti orang kelaparan, tubuhnya menabrak tubuhku, dan gairah saat merasakan tubuhnya membuatku melangkah mundur ke wastafel. Botol sabun dan perlengkapan lainnya jatuh berdentangan di lantai.
Tangan Sakura berada di bajuku, ia mencengkeramnya dengan kasar, dan lidahnya memaksa masuk ke bibirku. Bertentangan dengan keinginanku, aku bisa merasakan penisku mulai mengeras saat ia semakin mendorong tubuhku dengan tubuhnya. Untuk sesaat, aku balik menciumnya, hilang dalam kenikmatan yang ia tawarkan, tapi kemudian dengan tekad bulat, aku membebaskan diri dari ciumannya. Ia tercengang sesaat, mulutnya segera menciumi leherku, ia menggigit dan menghisap kulitku yang sensitif. Mataku terpejam saat mengerang, "Sakura... apa yang kau... kita harus... kita harus berhenti."
Ia tidak menjauh. Satu tangannya bergerak menjauh dari bajuku, bergerak ke rambutku. Aku memegang erat meja wastafel, bertekad untuk tidak menyentuhnya agar aku tidak melakukan hal yang tidak senonoh saat ia dalam keadaan mabuk seperti ini.
Dan ia mengabaikanku... lagi.
"Sakura..." ucapku parau.
"Ada apa?" Napasnya terdengar berat, bibirnya kembali menciumku. Aku mulai tidak tenang saat tubuhku meresponnya, kejantananku mengeras dan lidahku menyentuh lidahnya. Namun, pikiranku berteriak untuk segera menjauh, menyuruhnya untuk segera tidur—untuk menempatkan dinding di antara kami. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan sekarang, tapi aku tahu pasti, ia sedang mabuk.
"Bukankah ini apa yang kau inginkan?" ia bernapas di bibirku.
Ya. Benar sekali.
"Kau mabuk," hanya itu yang bisa kuucapkan diantara ciuman kami.
"Tidak lagi." Omong kosong, dan kami berdua tahu itu, tapi ia masih terus menyerang bibirku. Ia meraih bagian depan celana jinsku dengan satu tangannya, dan meraba-raba mencari kancingnya, dan aku langsung memegang tangannya, menghentikan tindakannya. Ia bingung; dengan napas terengah-engah ia berkata, "Ada apa, Sasuke? Ini yang kau inginkan." Ia tidak lagi bertanya padaku kali ini. Ia memberitahuku.
"Kau mabuk," ucapku, sama-sama kehabisan napas. Ia menggeleng dengan sungguh-sungguh dan bersandar ke depan untuk menciumku lagi, tapi aku menggunakan seluruh tenaga yang kumiliki untuk menjauhkan wajahku dan mendogakan kepala. Ciumannya jatuh di rahangku.
"Aku tidak mabuk," tegasnya. Tangannya yang bebas meninggalkan rambutku dan membuat perjalanan menuju jinsku, ia ingin melanjutkan aktivitasnya tadi. Aku dengan mudah menangkap tangannya dan memegang erat kedua tangannya.
"Tidak, Sakura," ucapku tegas. "Kita tidak akan melakukan ini."
Suara napas kami bergema memenuhi kamar mandi. Ia melihat ke arahku, tubuhnya dengan santai bersandar padaku. Ia tidak lagi berjuang melawanku dan aku akhirnya melepaskan tangannya. Ia langsung menyeka rambut dari wajahnya, mengangguk cepat sambil melangkah mundur, dan ia terlihat... senang? Lega?
"Oke," ia setuju. "Yang mana kamarku?"
Dengan lega, aku berjalan menuruni lorong menuju kamar tamu, melihatnya saat ia masuk ke dalam. "Aku akan membawakan baju tidur untukmu," ucapku.
Ia berjalan ke pintu saat aku kembali, dan aku menempatkan pakaian di tangannya. Ia melihatku ragu sambil menggigit bibir bawahnya, seakan-akan ia menahan sesuatu yang ingin ia ucapkan. Bibirnya sedikit membengkak dan memerah karena ciuman kami, dan aku menahan diri untuk tidak menciumnya lagi.
Tapi ia mabuk, dan meskipun dia lah yang melemparkan dirinya padaku, aku tidak ingin melakukan hal yang tidak senonoh padanya.
"Selamat malam, Sakura," ucapku. Aku membungkuk dan mencium keningnya sebelum aku berjalan menuju kamarku. Dinding sudah ditempatkan di antara kami, seorang gadis cantik sudah aman, jauh dari jangkauanku.
o0o
to be continued
o0o
