A Betting Man

.

.

Sakura POV

Sepertinya kepalaku terbangun lebih dulu sebelum bagian tubuhku yang lain terjaga. Bahkan dalam mimpiku, aku bisa merasakannya tengkorakku diketuk tanpa henti, dan ini menyakitkan sekali. Dalam mimpiku, aku mengambil sebutir Tylenol dari udara dan memasukannya ke dalam mulut. Tapi sayang, hal-hal seperti itu tidak pernah terjadi di kehidupan nyata.

Aku mengerang dan berguling, tidak berani membuka mata. Aku bisa melihat bayangan sinar matahari dari balik kelopak mataku, dan merasakan panasnya di sekeliling tubuhku. Aku harus memasang tirai tebal di jendelaku nanti. Sinar matahari sialan ini harus musnah.

Aku meletakan lengan di atas mataku untuk menghalangi cahayanya. Kemudian terdengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali dari suatu tempat di luar kamar tidur, dan aku langsung terperanjat. Sambil tergesa-gesa, aku bangun dari tempat tidur dan menyipitkan mata. Aku terkejut saat menyadari ternyata aku tidak berada di kamar tidurku sendiri. Aku langsung berdiri, dan selimut terjatuh dari tubuhku. Aku terkesiap. Aku tidak pakai celana. Tidak pakai celana! Hanya ada sepotong kaos longgar yang menutupi tubuhku!

Aku kembali memeriksa dan oh, syukurlah, aku masih mengenakan celana dalam. Denyut jantungku rasanya berhenti sesaat ketika teringat peristiwa semalam. Wajahku langsung memerah dan aku malu luar biasa.

Apa aku benar-benar menghubungi Sasuke saat mabuk? Apa kemudian aku muntah saat teleponku masih tersambung dengannya? Itu hanya terjadi dalam mimpi burukku, kan? Benar, kan?

Kau salah.

Aku mengerang dan kembali ambruk ke tempat tidur, dan ingatan semalam masih terus menghantui pikiranku. Aku muntah di telinga Sasuke dan ia datang menjemputku. Lalu aku dengan marah menginterogasinya sampai ia mau berjanji untuk tidak menemui Karin lagi, walaupun aku sebenarnya cukup senang dengan itu. Namun, kemudian aku mendapat ide cemerlang untuk melemparkan diri padanya. Aku tidak berencana untuk mengulanginya lagi. Tadi malam aku sangat marah, dan aku mabuk. Aku menggunakan kesempatan itu untuk sedikit mengujinya. Ia tahu aku mabuk—aku muntah di telinganya!—jadi, kemarin itu benar-benar ujian untuk mengetahui seperti apa karakternya. Apa ia mau tidur denganku, walaupun tahu aku sedang mabuk, dan memanfaatkanku begitu saja? Ia beruntung karena menarik diri, kalau tidak aku akan menendang selangkangannya.

Tapi, sekarang aku menyesali perbuatanku. Itu cara yang cepat dan mudah untuk mengetahui apakah ia benar-benar lelaki baik-baik atau tidak, dan aku tidak menyesali itu. Aku merasa lebih baik karena tahu ia masih punya hati nurani yang terkubur di suatu tempat di dalam dirinya. Tapi, untuk apa aku melakukan itu semua? Aku tidak peduli ia orang yang baik atau tidak. Setelah pernikahan Naruto, aku tidak akan melihatnya lagi. Ia bisa meniduri siapa pun yang ia mau nantinya, aku tidak akan peduli.

Tapi, aku malu. Sisi rasionalku bahkan menggelengkan kepalanya melihatku, ia sangat kecewa. Aku melemparkan diri pada Sasuke, dan ia pasti berpikir kalau aku benar-benar bersedia menyerahkan diriku padanya di kamar mandi semalam. Aku bertingkah seperti gadis mabuk ceroboh tanpa punya harga diri. Aku bahkan rela menempatkan diriku sejajar dengan gadis-gadis lain yang menjadi teman tidurnya... hanya untuk menguji karakter pria yang membuat taruhan untuk meniduriku. Apa yang kupikirkan?

Aku kembali mendengar suara pintu terbuka dan tertutup yang diiringi suara langkah kaki, tapi Sasuke tidak masuk ke kamarku. Aku kembali berbaring di tempat tidur selama beberapa menit sambil berharap sakit kepalaku menghilang. Aku mual lagi, tapi untungnya mualku segera hilang. Saat aku berguling, memanjat keluar dari tempat tidur, aku terkejut saat melihat segelas air dan dua butir pil bewarna putih terletak di meja, di samping tempat tidur. Aku langsung meminumnya tanpa berpikir dua kali dan beranjak dari tempat tidur, kemudian aku memasang celana jinsku yang kelewat ketat. Tiba-tiba aku tersadar, aku mengenakan baju Sasuke lagi dan aku menempelkan hidungku ke lengan baju sambil menarik napas dalam-dalam. Shannaro, bajunya wangi sekali. Aku akan menjadikan wangi baju Sasuke sebagai obat mabukku.

Aku membuka pintu sambil mengintip ke lorong. Aku harap ada kamar mandi di kamar ini, jadi aku tidak perlu mengambil risiko untuk bertemu dengannya sebelum punya kesempatan memeriksa penampilanku. Aku tidak tahu penampilanku seperti apa sekarang, tapi yang kutahu pasti, mabuk semalaman tidak baik untuk kulitku. Atau rambutku. Atau mataku.

Aku tidak lagi punya waktu untuk mengkhawatirkan ini—karena aku kembali merasa mual. Aku langsung berlari menuju kamar mandi sebelum sempat memeriksa ujung lorong. Aku membanting pintu kamar mandi sampai tertutup, membuat jeruji di ventilasi bergetar, dan nyaris tidak sampai ke toilet sebelum aku muntah-muntah. Otot perutku sakit dan berteriak protes.

Aku kembali mual dan muntah, tapi tidak ada yang keluar karena tidak ada lagi yang tersisa dalam perutku. Aku mengeluarkan suara erangan paling mengerikan saat memeluk toilet seperti anakku sendiri. Aku sangat bersyukur karena Sasuke seorang pria yang sangat bersih. Air di toiletnya bahkan bewarna biru steril dan wangi seperti toilet di kamar kecil pesawat.

Aku mendengar suara ketukan di pintu, semua martabatku, semua harga diriku, hancur seketika.

Aku ingin bicara, menyuruhnya pergi, tapi aku tidak bisa menemukan suaraku. Dalam diam aku berdoa.

Oh, Tuhan... Aku janji tidak akan mabuk-mabukan lagi. Tapi, tolong, buat dia pergi. Aku mohon—

Pintu mengayun terbuka.

"Pergi," ucapku parau. Aku tidak mau melihatnya—aku tahu pandangan jijik di matanya akan membuatku mati karena malu.

Ia tidak mau mendengarkan ucapanku, tentu saja. Kapan pria pernah mendengarkan ucapan wanita? Hal berikutnya yang kutahu adalah ia sudah berada di sampingku, menyeka rambut dari wajahku dan memeganginya. Ia mengatakan sesuatu, tapi aku tidak bisa mendengarnya karena kepalaku rasanya mau pecah dan perutku masih mual.

Saat mual di perutku mereda, aku terduduk di lantai dan mengistirahatkan kepalaku di penutup toilet. Sasuke mulai menggosok punggungku dan rasanya... menyenangkan. Aku mendesah pelan.

"Kau sudah merasa lebih baik?" ia akhirnya bertanya. Aku ingin mendengus mendengar pertanyaannya. Tidak, aku tidak akan pernah merasa lebih baik lagi sekarang.

Tubuhku lemah, gemetaran dan berkeringat, setidaknya aku tidak lagi mual. "Aku baik-baik saja," gumamku.

"Aku membuatkan sesuatu untukmu," ucapnya. Aku langsung berpikir tentang makanan dan ini membuatku sakit.

"Aku tidak mau," erangku.

"Kau bahkan tidak tahu apa yang kubuatkan untukmu."

"Aku tidak bisa berhadapan dengan makanan sekarang."

"Ini bukan makanan," ucapnya. "Yah, tidak persis makanan." Ia berdiri dari lantai, menarik handuk kecil dari lemari dan membasahinya di wastafel. Tiba-tiba, air dingin membasahi leherku dan aku merasa semakin membaik. Aku mengerang keenakan.

"Kau masih mau duduk di sini?" tanyanya. Aku masih belum beranjak dari posisi memeluk toilet.

"Aku mau mandi," gumamku. Aku merasa jijik sendiri. Aku yakin penampilanku semakin parah, terutama saat Tuan Seksi ini berada di sampingku.

"Oke, tidak usah terburu-buru," ucapnya cepat. "Kau tahu di mana semua peralatan mandinya, kan?"

Aku benar-benar harus mandi dengan air dingin. Aku berhasil mengangguk pelan, dan Sasuke menjawab, "Baiklah, tapi kau harus minum dulu. Aku akan mengambilkan air untukmu." Aku masih duduk di lantai saat ia kembali dan meletakan gelas di meja westafel. Suara klik pintu kamar mandi menjadi pertanda ia sudah kembali keluar.

Muntah membuatku merasa sedikit lebih baik. Aku menggosok gigi dan meneguk setengah gelas air putih sebelum membuka baju dan melangkah ke bawah shower. Pada awalnya, aku menyalakan air dingin, tapi sensasi dinginnya menyiksaku, aku kemudian memutar kenop air menjadi air panas dan memanjakan diri selama dua puluh menit di bawah siraman air. Aku menggunakan shampo dan kondisioner yang kutemukan di lemari nya, dan aku tidak menempatkannya kembali ke tempat semula. Aku rasa permainan ini harus kembali dimulai; tidak ada lagi bersih-bersih.

Setelah selesai, aku membuka pintu kamar mandi pelan-pelan dan menjulurkan kepalaku keluar pintu. Aku tidak melihat Sasuke, dan langsung cepat-cepat berlari ke kamar tidur. Tubuhku hanya berbalut selembar handuk tebal. Sesampainya di kamar, aku langsung mengenakan pakaianku yang kemarin dan menyikat rambut. Aku mencari-cari ponselku dan menemukannya di bawah tempat tidur. Apa ini? Aku tidak kaget saat melihat selusin pesan yang kukirim pada Ino saat mabuk.

Yang membuatku kaget adalah, ada setengah lusin panggilan tak terjawab dari Rin. Benar-benar tidak sabaran. Aku punya firasat Sasuke tidak suka kalau kami berteman... dan ini menjadi alasanku untuk meneleponnya balik.

"Sakura!" jawabnya. "Aku sudah meneleponmu jutaan kali. Kau baik-baik saja?"

Aku mengernyit—jeritannya hampir membelah kepalaku menjadi dua.

"Aku baik-baik saja," jawabku meyakinkannya. "Bisakah kau sedikit mengecilkan suaramu? Kepalaku sedang sakit."

"Ooh," ucapnya, menurunkan nada suaranya. "Kau masih pusing?"

"Kau tidak?" tanyaku tidak percaya.

"Sedikit," akunya. Ia tidak terdengar pusing sama sekali dan aku iri dibuatnya. "Aku tidak terlalu pusing. Oh, tapi Kakashi punya obat penangkal mabuk terbaik. Aku bisa memberikan resepnya kalau kau mau. Atau, ooh! Aku bisa datang dan membuatkannya untukmu!" Ia berbicara dengan semangat, suaranya meninggi, membuat kepalaku semakin sakit.

"Rin..." aku mengerang.

"Oops! Maaf!" Kali ini ia berbisik. "Apa Sasuke-nii sedang bersamamu sekarang?"

Entah kenapa, mendengarnya berbisik, membuatku juga ingin berbisik. "Tidak. Dia di lantai bawah."

"Apa kau pulang ke rumahnya tadi malam dan tertidur?"

Aku menjawabnya dengan ragu, "Um, ya, sepertinya begitu."

"Aku benar-benar minta maaf, Sakura. Aku tidak tahu kau muntah-muntah di kamar kecil semalam."

Aku mengerang mengingatnya. Dalam lima puluh tahun ke depan, saat aku mengingatnya, aku masih akan merasa malu. "Jangan ingatkan lagi," gumamku menyedihkan.

"Apa yang akan kalian lakukan hari ini?" bisiknya.

"Aku tidak tahu. Aku muntah-muntah tadi pagi," bisikku kembali.

"Kau yakin kau tidak ingin aku datang membuatkan ramuan untukmu? Aku bersumpah obat penangkal mabuk dari Kakashi benar-benar manjur."

"Sasuke bilang dia membuatkan sesuatu untukku. Tapi, aku tidak tahu itu obat atau bukan..."

"Obatnya tidak akan seampuh obatku," ucapnya yakin.

"Tidak apa-apa, Rin."

"Tahu tidak, kami akan keluar makan malam bersama paman dan bibiku hari ini. Kau sebaiknya ikut!"

Astaga. Sasuke akan kehilangan akal kalau aku ikut menemui keluarganya... dan, ironisnya, ide ini terdengar semakin menggiurkan. Ini akan menunjukkan padanya kalau...

Tapi, aku juga ragu.

"Aku tidak tahu, Rin," jawabku. "Aku tidak tahu apa Sasuke sudah siap untuk itu."

Rin mendengus. "Dia harus siap," balasnya. "Kalau kita menyerahkan semua ini padanya, dia tidak akan pernah mengambil langkah selanjutnya. Lagi pula, aku yang mengundangmu."

"Tapi, aku tidak punya pakaian bersih di sini. Aku tinggal di Konoha," protesku.

"Oh, jangan khawatir. Aku punya banyak pakaian di sini. Aku akan membawakan sesuatu untukmu siang ini."

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu, aku terkesiap sebelum buru-buru berbisik, "Sasuke mengetuk pintu, aku akan meneleponmu lagi nanti," dan menutup telepon. Aku bergegas berjalan menuju pintu dan membukanya. Sasuke mengenakan kaos putih berlengan panjang, dan celana jins biru gelap, rambutnya berantakan. Ia membawa segelas minuman kental bewarna kekuningan.

"Kau baik-baik saja di sini?" tanyanya santai. "Kau tidak keluar-keluar."

"Oh, ya. Aku baik-baik saja." Aku menatap minuman di tangannya dengan waspada, berharap itu bukan untukku. Tapi, aku tahu pasti, minuman itu untukku. "Apa itu?"

"Sahabat barumu," jawabnya sambil mendorong gelas ke arahku. Aku segera mendorongnya menjauh.

"Aku tidak mau meminumnya," protesku.

"Kau tidak boleh menilai minuman ini sebelum mencobanya," sahut Sasuke.

"Aku akan muntah lagi."

"Coba minum dulu," ucapnya.

"Tidak."

"Sakura..."

Oh, Tuhan, aku senang mendengarnya mengucapkan namaku. Terutama saat nada suaranya terdengar penuh ancaman.

"Baiklah, aku akan meminumnya satu teguk. Kalau rasanya tidak enak, aku tidak akan meminumnya lagi. Aku rasa perutku belum bisa menerimanya."

"Coba saja," dengusnya. Aku perlahan-lahan mengambil gelas dari tangannya dan membauinya. Minuman ini lebih encer dari smoothie. Aku mencicipinya sedikit, dan rasanya... enak. Benar-benar enak!

Aku tidak bisa mengontrol ekspresiku, Sasuke tersenyum lebar, matanya membara menatapku. Ia terlihat puas dengan dirinya sendiri.

"Kau suka?" tebaknya. Aku memutuskan untuk mematahkan kesombongannya.

"Tidak juga," ucapku acuh. Ia menjawabku dengan senyuman lebar, ia tahu aku berbohong. Dan aku tiba-tiba ingin membuang minuman ini dan melompat memeluknya seperti wanita gila. Tapi, tentu saja aku tidak melakukannya. Aku sadar kami masih berdiri di ambang pintu dan tiba-tiba aku merasa canggung. Haruskah aku mengundangnya masuk ke dalam? Ke dalam kamar tamu miliknya?

Ia menyelamatkanku dari kesulitan. "Um, aku punya sereal dan lainnya di bawah kalau kau mau makan." Ia tiba-tiba terlihat kikuk, dan aku menduga ini bukan rutinitas normal baginya. Berapa banyak wanita yang mendapat kehormatan tinggal semalaman dan bergabung dengannya untuk makan siang di keesokan hari?

"Tidak, terima kasih," aku meyakinkannya. "Aku sebaiknya tidak makan dulu." Aku mengangkat gelas ke arahnya, untuk menunjukan ini lebih dari cukup. "Minuman apa yang kau buat ini?" tanyaku.

"Itu campuran pisang, susu, dan madu."

Aku mengangkat sebelah alisku. "Itu saja?"

"Kurang lebih."

"Apa ini akan mengurangi pusingku?"

"Aku rasa begitu. Jus tomat sebenarnya juga akan membantu, tapi aku tahu kau tidak akan mau meminum campuran pisang, susu, tomat dan madu."

Aku mengangguk. "Pemikiran yang bagus, Sascakes." Ia tampak sedikit rileks saat aku menyebut julukannya.

Kecanggungan masih mengiringi kami saat menuruni tangga. Aku merasa seperti penyusup di rumahnya, seperti tamu yang tidak diundang yang tidak mau pulang-pulang. Aku ingin tahu ia berpikir apa tentangku. Mungkin aku benar-benar membuatnya jengkel; tapi itu masuk akal mengingat semua hal yang telah kulakukan padanya sampai sejauh ini.

Kepalaku masih sakit. Aku duduk di sofa dan menopangkan kakiku di atas meja—Sasuke menatap lama kakiku sebelum diam-diam mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Aku perlahan-lahan menyesap minumanku, memaksa diriku untuk bersantai. Aku ingin terlihat rileks, seolah-olah berada di rumahnya membuatku merasa nyaman.

Aku tidak tahu apakah usahaku berhasil atau tidak. Ia menghilang ke dapur dan aku menyalakan TV. Beberapa menit kemudian ia duduk di sampingku sambil menghela napas.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan hari ini?" tanyaku santai.

Ia menggosok wajahnya. Ia terlihat lelah. "Aku akan makan malam dengan keluargaku," ucapnya. "Dengan Rin." Matanya berkedip melihatku.

Aku bertanya-tanya apa sebaiknya aku mengatakan padanya kalau Rin mengundangku ikut. Jantungku mulai berdetak kencang, aku menimbang-nimbang akan seperti apa reaksinya. Aku tidak ingin ia panik... aku merasa gugup.

Aku tiba-tiba berubah menjadi pengecut.

"Kedengarannya menyenangkan." Aku meneguk cepat minumanku, mencoba menutupi tanganku yang gemetaran. Kenapa ia bisa memberikan efek seperti ini padaku? Ini gila.

"Ya," ia setuju tanpa sadar. "Kalian berdua sepertinya akrab."

"Siapa, aku dan Rin?" tanyaku polos.

"Ya."

"Ya, dia gadis yang baik," jawabku.

"Apa yang kau lakukan di Suna tadi malam?" tiba-tiba ia bertanya.

"Nongkrong dengan Rin." Sudah jelas, kan?

"Dia meneleponmu?"

"Dia meneleponku untuk meminta maaf," jelasku.

"Minta maaf untuk apa?" tanyanya penasaran.

"Dia memanggilku Karin."

"Oh." Dan ia terdiam. Ha! Babak pertama dimenangkan oleh Tim Haruno.

"Ya, um... maaf aku meneleponmu saat mabuk," aku meminta maaf dengan canggung. Aku masih merasa sangat bodoh, terutama karena muntah di telinganya. Kemudian, aku mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya kuucapkan "Tahu tidak, sewaktu kau menutup teleponku tadi malam, aku pikir kau melakukannya karena kau jijik denganku. Aku pikir kau... sudah bosan denganku."

Sasuke terkejut melihatku. "Aku menelepon Rin," ia membela diri, seolah-olah aku tidak tahu itu.

"Aku tahu."

"Sakura, aku rasa tidak seorang pun pria waras akan bosan denganmu," ucapnya serius. Oh, kau membuatku tersipu malu, Tuan Sascakes.

Aku tidak yakin apakah ia benar-benar tulus berbicara seperti ini atau ia hanya ingin melancarkan akal bulusnya untuk memenangkan taruhan. Sebagian diriku tidak ingin tahu kebenarannya. "Um, terima kasih," ucapku pelan.

Ia menempatkan tangannya di lenganku dan aku bisa merasakan... getaran... yang sama merasuki tubuhku. Rasanya seperti tergelitik. Aku tidak pernah merasakan ini lagi semenjak guru Sejarah SMP-ku menggendongku ke ruang kesehatan saat pergelangan kakiku terkilir. Dan ini membuatku kaget. Aku naksir Uchiha Sasuke. Shannaro.

Tapi, gadis manapun akan naksir dengannya. Dia tampan dan dipersenjatai dengan senyum yang menawan. Gender kami yang malang tidak akan berdaya melawan jenis amunisi ini... dan ini menakutkan, karena aku tahu ia mampu melakukan apa saja. Syukurlah Naruto mendengar percakapan mereka tentang taruhan itu, kalau tidak aku sudah tewas.

"Aku serius," lanjutnya. "Jangan pernah meragukan dirimu, Sakura. Oke?" Aku hanya tersenyum lemah menanggapi. Ia kembali bertanya dengan ragu, "Kau ingin melakukan sesuatu hari ini?"

Perutku sudah kosong, aku sudah mandi, dan sekarang aku sedang duduk di sofa sambil menyesap obatku. Ia bertanya-tanya apa yang akan kami lakukan, begitu pula denganku.

Aku berpikir sejenak, mengulangi mantraku. Apa yang akan Ino dan Sai lakukan... Apa yang akan Ino dan Sai lakukan...

Oh, Tuhan, aku harap mereka ada di sini memberikan saran. Aku merasa tersesat tanpa ada dua orang konspirator yang memasokan ide-ide gila mereka padaku setiap lima detik. Mungkin kalau aku menelepon Ino dan memberinya kabar terbaru, ia akan mengirimkan saran lewat pesan setiap saat.

Tapi, aku tidak bisa melakukannya sekarang. Ponselku berada di lantai atas, bermil-mil jauhnya. Sekarang, aku sendirian.

"Kita bisa menonton film," saranku. Film apa yang dibenci semua pria... aha! Chick flick! "Oh! Aku dengar di Suna ada bioskop yang menayangkan film-film lama. Aku sudah lama ingin sekali menonton film He's Just Not that into You." Aku berkata jujur; Sasori akan jatuh mati sebelum ia pergi menontonnya.

Sasuke terlihat bingung. "Tentang apa itu?"

"Oh, itu tentang gadis-gadis yang menyukai pria dan mereka tidak bisa membaca tanda-tanda kalau pria itu tidak menyukai mereka." Shannaro. Aku sepertinya baru saja mendeskripsikan hidupku sendiri padanya. Tapi tunggu dulu, aku tidak seperti mereka—aku tahu Sasuke tidak menyukaiku.

Sasuke mengernyitkan wajahnya—dan ia akan terlihat sangat menggemaskan kalau saja aku sedang tidak mengkhawatirkan reaksinya—dan ia setuju. "Oke."

"Bagus kalau begitu. Biar aku ambil ponselku untuk melihat jadwal tayangnya." Aku langsung berlari menaiki tangga sebelum ia bisa menjawab, aku sudah tidak sabar ingin menelepon Ino.

Saat sampai di kamar, aku langsung menghubungi Ino, tapi kemudian aku cepat-cepat menutup teleponnya. Shannaro! Bagaimana kalau Sasuke mendengarku meneleponnya? Itu tidak boleh terjadi. Sebagai gantinya, aku langsung mengetik pesan.

Celaka—aku ada di kandang singa sekarang. Apa yang harus kulakukan? -Sakura

Aku mengakses internet dan melihat jadwal film. Setelah menemukan film yang kucari, aku menerima pesan balasan. Tidak mengherankan, balasanku berasal dari Sai, bukannya Ino. Oh Tuhan, apa Ino pernah pergi ke mana saja tanpa Sai sekarang?

Apa kau tidur dengannya? -Sai

Tidak! Kau bercanda? -Sakura

Lalu kenapa kau menghabiskan malam di rumahnya? -Sai

Bagaimana caranya kau bisa tahu aku menghabiskan malam di rumahnya? -Sakura

Aku seorang Confucius. Kau ingat? Aku mengetahui segalanya. -Sai

Aku menggeleng. Ino tidak bisa menutup mulutnya. Aku heran ia belum membocorkan segalanya pada Sasuke sekarang.

Jadi, apa yang kau lakukan? Apa kau sudah punya kucing? -Sai

Tidak, Sai. Aku sudah bilang kalau aku tidak akan membeli kucing. -Sakura

Kita bahas ini nanti. Untuk saat ini tinggalkan saja barang-barang cewek di kamar mandinya. Semakin kotor semakin baik. -Sai

Kotor? -Sakura

Kau tahu kan... barang kotor apa maksudku. -Sai

Aku akan bilang pada Ino kalau kau mengatakan ini. -Sakura

Dia sedang duduk di sini. -Sai

Bilang padanya untuk membalas pesanku. -Sakura

Dia bilang dia sedang mengeringkan kukunya yang tidak berguna sekarang. -Sai

Pfft... kuku yang tidak berguna. Tepat sekali. Aku tidak pernah mengerti obsesinya dengan hal-hal semacam itu.

Rin mengundangku makan malam bersama keluarganya malam ini. -Sakura

Oh, sial! Itu JENIUS. Apa kau butuh bantuanku? -Sai

Rasanya aku mengirim pesan ini pada Ino, bukan kau. -Sakura

Apa Sasuke tahu kau akan ikut? -Sai

Umm... tidak. Apa menurutmu aku sebaiknya menerima undangan Rin? -Sakura

Tentu saja kau harus menerimanya. -Sai

Haruskah aku takut? -Sakura

Suara ketukan di pintu membuatku melompat kaget. Shannaro... aku benar-benar lupa waktu! Dia mungkin mengira aku sedang memeluk toilet lagi. Aku segera menyelipkan ponselku ke dalam saku belakang celana, dan membukakan pintu.

"Hei," sapaku. Aku sesak napas dan aku tidak tahu kenapa... Aku kira semua rencana licik ini membuatku gila.

"Hei," balas Sasuke. "Kau baik-baik saja? Tidak sakit lagi, kan?"

Aku tahu itu.

"Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya berpikir film ini mulainya jam dua; kalau kita cepat-cepat ke sana, kita masih bisa menontonnya."

Kami masuk ke dalam mobilnya. Aku merasa kotor memakai pakaianku, aku bersumpah bisa mencium bau asap rokok di kainnya. Dan hak sepatuku semakin menyakiti kakiku yang sudah sakit.

Tapi sayangnya, tidak ada yang bisa kulakukan sekarang. Aku berharap Rin membawakanku pakaian yang lebih nyaman untuk malam ini. Aku masih belum mengatakan apapun pada Sasuke kalau Rin akan datang ke rumahnya... atau aku akan ikut makan malam dengannya. Astaga. Memikirkannya saja sudah membuatku gugup.

"Aku akan mengantarmu mengambil mobil setelah menonton film," tawar Sasuke. Aku mengangguk cepat.

"Baiklah." Keheningan merayap di antara kami. Aku tidak suka ini. "Ceritakan sesuatu tentangmu padaku," pintaku.

Sasuke melirikku. "Apa yang ingin kau ketahui?"

"Aku tidak tahu. Apa pun yang ingin kau ceritakan padaku," ucapku sambil mengangkat bahu. "Aku merasa aku tidak tahu apa-apa tentangmu." Ia menggeser posisi duduknya, terlihat tidak nyaman. Aku memutuskan untuk memulai. "Apa warna favoritmu?"

Ia menatapku penuh tanya. "Um, biru, aku rasa."

"Bagus. Apa film favoritmu?"

Ia berpikir sejenak. "Aku rasa tidak ada," akunya.

"Apa? Bagaimana mungkin kau tidak punya satu pun film favorit?"

"Aku tidak terlalu sering menonton film," jawabnya.

"Tapi, pasti ada beberapa film yang kau suka."

"Aku tidak terlalu memikirkannya," ucapnya.

"Pikirkan sekarang," jawabku gusar. Ia tersenyum melihatku.

"Terlalu susah, maaf," ucapnya. "Tapi, aku menyukai The Pianist."

"The Pianist? Aku belum pernah menontonnya," akuku.

"Benarkah? Kita harus menyewanya. Filmnya tentang seorang pianis Yahudi yang berjuang bertahan hidup di Perang Dunia II," jelasnya.

"Kedengarannya menyedihkan."

"Benar."

"Aku tidak suka film sedih," ucapku.

Saat berhenti di lampu merah, ia menatapku. "Lalu film apa yang kau suka, Nona Haruno?"

Hanya butuh waktu satu detik untuk menjawabnya. "Ada terlalu banyak film yang kusuka. Beberapa orang berpikir itu film bodoh, tapi, mereka membuatku terhibur. Mereka membuatku tertawa." Aku meliriknya; mata Sasuke sudah beralih kembali melihat jalan.

"Sebutkan saja," ucapnya.

"Super Troopers. Monty Python and The Holy Grail. Old School. The Big Lebowski."

Sasuke menyeringai. "Kau suka The Big Lebowski?"

"Ya," jawabku.

"Aku tidak pernah tahu film semacam itu bisa membuat wanita tertarik."

"Apa kau pernah menontonnya?" tanyaku.

"Sedikit."

"Apa? Sedikit? Maksudmu kau belum pernah menonton keseluruhan filmnya? Baiklah, hentikan mobilnya sekarang," teriakku. Sasuke terlihat bingung. "Apa kau mendengar ucapanku? Putar mobilnya!"

"Tapi, bagaimana dengan film yang ingin kau tonton?"

"Kita akan menyewa The Big Lebowski sekarang. Ini sebuah tragedi karena kau belum pernah menontonnya. Untungnya, aku cukup baik untuk memperbaiki keadaan ini," tukasku.

"Tapi—" Sasuke tampak ragu. Aku baru saja mengambil alih kendali, memerintah seenaknya. Aku yakin ia tidak tahu harus berpikir apa sekarang.

Aku tegang, sedikit mabuk dengan kekuatan yang kumiliki. "Tidak ada tapi-tapian. Sekarang putar mobilnya sebelum aku mengambil alih setir mobil."

Sasuke masih terlihat ragu, tapi ia menyeringai.

Aku tertawa dan memutar mata. "Di mana tempat penyewaan film terdekat?"

"Aku tidak tahu," ucapnya polos. "Aku sudah lupa..."

Aku menyipitkan mata melihatnya. "Kalau kau menyayangi hidupmu, kau akan segera mengingatnya," ancamku.

"Kalau tidak apa? Kau akan mengambil alih setir mobilnya?"

"Kenapa kau masih belum memutar mobil?" tuntutku.

"Ada banyak kendaraan, Sakura! Aku tidak bisa langsung berputar."

"Kau lebih parah dari nenekku. Putar saja mobilnya dan semua orang akan berhenti," ucapku lagi.

"Kau gila?"

"Gila untuk The Big Lebowski. Lihat, sudah sepi! Ayo, ayo, ayo!" Sasuke hanya duduk diam dan terlihat benar-benar terhibur. Jalanan kembali ramai, kesempatan untuk memutar mobil lenyap sudah. "Apa yang kau lakukan?" rengekku.

"Sakura," ucap Sasuke dengan tenang, seolah-olah ia berbicara dengan anak kecil, "Aku tidak ingin kita terbunuh gara-gara The Big Lebowski."

"Kalau ada film yang layak untuk membuat kita terbunuh, The Big Lebowski-lah filmnya."

"Kau serius?" tanyanya tidak percaya.

"Tentu saja."

"Jadi, apa ini artinya kau akan menonton The Pianist?"

"Apa? Tidak," sanggahku.

"Hei, aku sudah setuju untuk menonton The Big Lebowski..."

"Aku sudah bilang aku tidak suka film sedih," protesku.

"Tapi, itu filmnya bagus," ucap Sasuke.

"Apa kau mau memijat punggungku?"

Sasuke menatapku tidak percaya. "Kau serius?"

Aku meletakan tangan di bahuku dan menggosoknya untuk meyakinkan Sasuke sambil mengerutkan kening. "Punggungku sakit," ucapku sambil cemberut. Begitu pula kakiku—mungkin ia akan memijatnya juga nanti.

Sasuke menarik napas dalam-dalam, matanya menatapku. Tatapannya begitu dalam, bersungguh-sungguh. Penuh... arti? Aku merasa terekspos.

Sambil menggigit bibir, aku berpaling darinya. Ia menghela napas. "Kau mau menonton The Pianist, kan?"

Aku mengangguk. Aku akan menonton film itu, tidak peduli apapun yang terjadi, hanya karena aku ingin memahami salah satu film favoritnya.

Kami berpisah di tempat penyewaan film, aku mencari The Big Lebowski, Sasuke mencari The Pianist. Filmnya tidak tertata dengan baik dan butuh waktu lama untuk menemukannya. Saat The Big Lebowski sudah berada di tanganku, aku melihat Sasuke, ia masih mencari-cari film. Aku kembali berjalan ke bagian komedi.

Aku menemukan Office Space, satu lagi film yang harus ditonton. Aku tidak yakin apakah Sasuke sudah pernah menontonnya atau belum, tapi aku rasa ia akan senang menontonnya karena ia bekerja dikantoran. Aku mengambil kotak film Office Space dan membawanya menuju Sasuke.

"Apa yang kau cari?" tanyaku. Ia sudah memegang The Pianist di tangan kanannya, dan sebuah film yang tak kukenal di tangan kiri. Ia segera menempatkannya kembali di rak saat melihatku.

"Tidak ada, hanya melihat-lihat saja. Kau sudah selesai?"

"Sudah. Apa kau sudah pernah menonton Office Space?" tanyaku.

Sasuke mengerutkan kening, mengambil film dariku dan memeriksa sampulnya. "Belum."

Aku menarik napas berlebihan. "Oh, Tuhan, Sascakes. Kau benar-benar tidak tahu hiburan—apa yang kau lakukan sebelum bertemu denganku? Sekalipun kita tidak menonton Office Space hari ini, tapi berjanjilah padaku kau akan menontonnya nanti."

"Waktuku tidak cukup untuk menonton setiap film komedi yang pernah dibuat," jawabnya sambil menahan senyum.

"Ada beberapa hal, seperti dua film komedi jenius ini, yang layak mendapatkan waktu luangmu." Aku mengangkat kedua film itu sambil melambai-lambaikannya.

"Kalau begitu, aku juga boleh memilih satu film lagi," ucapnya. Tanpa menunggu jawabanku ia sudah berkeliaran mencari-cari film. Aku menghela napas dan mengikutinya. Setelah beberapa menit berlalu, ia bertanya, "Bagaimana menurutmu film Stephen King?"

Aku mengerutkan kening. "Aku tidak suka film horor."

Dengan pandangan bertanya-tanya, Sasuke berkata, "Jadi, biar kuluruskan ini... Kau hanya suka film yang penuh candaan murahan dan hanya berisi sebaris dialog?"

Aku terkesiap. "Candaan film ini tidak murahan!"

"Kau perlu mengembangkan sayapmu," ucapnya sungguh-sungguh.

"Aku suka film yang berakhir bahagia." Aku kembali cemberut.

"Sedikit variasi dalam hidup tidak akan membunuh siapa pun. Ini," ia mengambil film dari rak, "Film ini tidak terlalu mengerikan. The Green Mile. Filmnya bagus."

"Tentang apa?" Aku melirik kotak filmnya dan melihat Tom Hanks.

"Itu tentang sekelompok sipir penjara yang bekerja di bagian tahanan yang akan dihukum mati."

Aku mengerutkan hidung. "Kedengarannya serius."

Ia mengambil film itu dari tanganku sambil tersenyum lebar. Aku tiba-tiba merasakan dorongan untuk menciumnya, dan menghilangkan senyum itu dari wajahnya. Tapi, aku berusaha keras mengontrol hormon sialan ini. Melemparkan diri sekali padanya itu memalukan; melakukannya lagi dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam hanya membuatku bertingkah seperti pelacur.

"Aku rasa kau harus menonton dan melihatnya sendiri," jawabnya, dan kami bersama-sama berjalan menuju kasir.

Kami setuju untuk mengambil mobilku dan mengobrol santai dalam perjalanan. Kami sedikit membahas film dan kemudian aku bertanya pada Sasuke apakah ia mengenal kekasih Rin, Kakashi. Sasuke bilang mereka sudah beberapa kali bertemu untuk makan malam selama liburan. Aku mengamatinya saat ia berbicara tentang Rin. Jelas terlihat ia menyayangi adiknya, dan aku bertanya-tanya sedekat apa sebenarnya hubungan mereka. Usia mereka terpaut beberapa tahun—apa mereka dekat saat tumbuh dewasa? Tentu saja mereka dekat, ibu mereka meninggal, memaksa mereka untuk tinggal bersama wali mereka saat masih anak-anak.

Aku sempat bertanya-tanya apa yang terjadi pada Ayah Sasuke. Baik dia maupun Rin tidak pernah menyebut tentang ayah mereka. Mungkin mereka tidak pernah mengenalnya.

Aku tiba-tiba sadar, ternyata aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang pria yang duduk di sampingku ini. Dia seperti kotak yang penuh misteri. Apa aku akan membukanya, mengungkap apa yang ada di dalamnya? Aku tidak terlalu berharap; walaupun aku akan dengan senang hati ingin mengungkap misterinya, tapi aku tahu waktu kami terbatas. Akhirnya, kebenaran akan terungkap juga. Akhirnya, permainan ini akan berakhir.

Kami berpisah saat sampai di mobilku. Aku mengikutinya ke rumah dan tiba-tiba lapar. Setelah mual dan sakit kepala hilang, perutku protes minta makan.

Ia keluar dari mobil setelah mengambil film. Ia mempersilakanku memasuki rumah terlebih dulu dan menempatkan tangannya di punggungku. Aku kembali merasakan sensasi menggelitik, seperti aliran listrik menjalar di sekujur tubuhku.

"Kau mau aku membuatkan kita makanan untuk makan siang?" tawarku. Sasuke sesaat menatapku ngeri. Aku yakin ia sedang mengingat kembali keadaan dapur di malam sebelumnya.

"Biar aku saja," ia dengan cepat meyakinkanku. "Bagaimana kalau kau menyalakan DVD player?"

"The Big Lebowski?" tanyaku.

"Ya."

"Baiklah," ucapku. Ia menghilang ke dapur dan aku berjalan ke televisi. Aku mengintip koleksi CD-nya, dan ternyata ia sudah menyusun ulang semuanya. Aku memutar mata—berapa lama waktu yang ia habiskan untuk memastikan semuanya sudah sesuai urutan? Terlalu lama—pikirku. Tapi, aku membiarkannya saja kali ini, takut kematianku akan segera datang karena bermain-main dengan koleksi CD-nya lagi.

"Tidak apa-apa kalau kita makan sandwich?" tanyanya dari dapur.

"Uh, ya, tidak apa-apa."

"Kau mau topping apa?" tanyanya lagi.

"Kau punya apa?" tanyaku balik.

Aku memasukan DVD film saat ia menyebutkan daftar topping yang ia miliki. Karena tidak dapat mengingat semuanya, aku berjalan ke dapur. Ia sedang memotong-motong sayuran, perhatiannya terfokus; ia tidak mendengarku masuk dan untuk sesaat aku hanya memerhatikannya, mencatat gerak-geriknya dan mengamati otot-ototnya meregang dan menegang saat ia meraih sesuatu. Pemandangan yang menakjubkan...

Tiba-tiba ia berbalik, dan melompat kaget saat melihatku berdiri di sana. "Oh, Tuhan!" serunya. "Apa yang kau lakukan?"

Aku berpura-pura tidak bersalah. Tidak mungkin aku mengaku kalau aku baru saja memerhatikan gerak-gerik tubuhnya dari ambang pintu. "Datang untuk melihat apa yang sedang kau lakukan. Aku sudah menyalakan DVD-nya." Ia tersenyum lebar, tapi aku mengabaikannya dan mendekat, kami hanya berjarak beberapa inci sekarang.

"Kau mau apa saja di atas sandwich-mu?"

Aku memilih bahan-bahan yang tersebar di depan kami sambil ikut membantu. Aku kecewa karena tidak menemukan keripik kentang.

"Aku tidak pernah melihat seseorang makan sandwich dengan keripik kentang," ucapnya. "Lagi pula, keripik kentang tidak sehat."

"Jadi?"

"Jadi, aku tidak mau memasok rumahku dengan makanan yang tidak sehat seperti itu."

"Lalu apa yang kau jadikan sebagai camilan?" tuntutku.

"Aku tidak tahu. Aku tidak terbiasa makan camilan. Aku lebih memilih buah," jelasnya, "Dan popcorn saat menonton film."

"Jadi, kau pikir popcorn itu sehat?" tanyaku ragu.

"Sehat kalau tidak diberi mentega."

Aku kaget. "Kau membeli popcorn tanpa mentega?" Mulutku ternganga. Sasuke tersenyum lebar melihatku, dan aku tidak tahu apa yang lucu dengan kekejaman ini. Tidak ada makanan ringan? Popcorn tanpa mentega? Dia bercanda?

Apa ini sebabnya kenapa ia begitu tampan? Karena kurangnya asupan lemak tidak sehat? Ini sesuatu yang harus kupertimbangkan nanti.

"Kau akan kaget melihat betapa bagusnya kondisi tubuhmu saat kau makan makanan sehat," ia memberitahuku. Ia masih geli melihatku.

"Aku merasa baik-baik saja," protesku.

"Benarkah?"

"Baiklah, mungkin tidak untuk hari ini," ucapku, "Tapi, aku merasa baik-baik saja biasanya."

Ia menunjukan padaku tempat penyimpanan popcorn tanpa menteganya dan aku segera menggeledah isi lemarinya sampai aku menemukan kantong yang ia maksud. Aku memasukannya ke dalam microwave sambil memerhatikannya seperti elang sampai popcorn-nya selesai mengembang. Aku sering menghanguskan popcorn. Setelah itu, aku membantu Sasuke membereskan dapur sebelum mengambil minumanku, sandwich dan sekantong popcorn dan membawanya sekaligus ke ruang tengah tanpa menoleh lagi ke belakang. Aku bisa merasakan matanya mengikutiku.

Aku duduk di sofa dan menyelipkan kaki di bawah pangkuanku. Aku tahu Sasuke tidak suka melihatku makan di ruang tengah, apa lagi tanpa seizinnya, tapi aku pikir, memang itulah tujuannya. Kalau aku mengendap-endap saat ia berada di sampingku, lalu untuk apa aku di sini?

Ia berjalan dalam diam, dan duduk di sebelahku. Aku kaget ia tidak mengatakan apa-apa.

Mulutku terbuka—aku sudah gatal ingin mengucapkan sesuatu padanya, mendengar respon galak darinya—tapi, aku dengan cepat menutupnya kembali. Aku tidak ingin bertengkar. Tidak sekarang. Aku mengambil remote dan memulai film.

"Kau akan menyukai film ini," janjiku. "Karakter John Goodman benar-benar lucu."

Ia mengangguk. "Aku sudah tidak sabar." Kami mengunyah sandwich dan menatap layar televisi dalam diam. Kredit pembukaan menayangkan semak-semak kering yang bergerak tertiup angin saat narator berbicara; Sasuke menonton dengan tidak tertarik selama beberapa saat sebelum ia menyeringai. "Wow, semaknya lucu sekali," godanya. Aku memukul lengannya.

"Sshhhh! Kau harus mendengarkan ini."

Film terus bergulir. Sasuke berkomentar di sana-sini, namun kemudian aku melihatnya tertawa. "Kata 'fuck' akan tertanam di otakku saat film ini berakhir," ucapnya datar.

"Aku tahu. Bukankah itu bagus?"

Ia melirik ke arahku. Melihat senyum di wajahnya, aku tahu ia menikmati film ini. Dan kenapa tidak? Film ini benar-benar mengagumkan.

Kami berbagi popcorn sambil menonton, kantongnya terjepit di antara tubuh kami sebagai penyangga. Setiap kali tanganku menyentuhnya, sensasi familiar menjalar di sepanjang lenganku, menyebar di tubuhku, dan menetap di hatiku. Aku ingin menciumnya lagi, merasakan bibirnya menyentuh bibirku, merasakan napasnya di kulitku, tapi aku tidak berani. Aku masih bertanya-tanya kenapa ia belum menciumku.

Bel pintu berbunyi di tengah-tengah film. Pada awalnya, aku penasaran siapa yang datang, namun kemudian tiba-tiba seluruh tubuhku membeku.

Itu pasti Rin. Ia membawa pakaian untukku. Oh, sial!

Sasuke menghentikan film sambil mengomel, "Siapa itu?" dan berdiri untuk membukakan pintu. Jantungku berdetak seperti palu di dadaku dan aku yakin jantungku akan meledak sebentar lagi.

Oh, Tuhan. Rin akan memberitahu Sasuke kalau aku ikut makan malam. Sasuke akan marah. Selamat tinggal, The Big Lebowski... selamat tinggal, The Dude, selamat tinggal semuanya. Aku berpikir untuk melarikan diri lewat pintu belakang sebelum salah satu dari mereka kembali ke sini. Tapi sayangnya, aku masih membeku di sofa, lumpuh karena ketakutanku.

Rin, terlihat segar dan cerah seperti musim semi, datang berlari masuk ke ruangan sambil membawa tas. Ia tersenyum saat melihatku duduk di sofa.

"Sakura! Kau sepertinya sudah sehat," ujarnya. Sasuke mengikutinya dari belakang, tangannya menarik-narik rambutnya—kebiasaan yang kuperhatikan dari dulu.

"Um, yeah. Benar," cicitku. Aku rasa Rin belum mengatakan apa-apa pada Sasuke—ia masih terlihat tenang.

"Ini bajunya," ucap Rin sambil meletakan tas di pangkuanku. "Aku membawa beberapa potong baju dan celana kalau kau tidak suka dengan pilihanku. Tapi, gaun yang kupilihkan akan terlihat luar biasa untukmu."

"Rin," ucap Sasuke, "Kami hanya menonton film. Aku rasa Sakura tidak perlu gaun untuk menonton."

Rin mengangkat kepalanya melihat Sasuke. "Tentu saja tidak, Sasuke-nii. Aku mengundangnya ikut makan malam bersama kita malam ini." Aku menatapnya ngeri. "Apa Sakura belum memberitahumu?"

o0o

to be continued

o0o