A Betting Man
.
.
Sasuke POV
Aku berkedip menatap Rin, sepertinya aku salah dengar. "Kau apa?"
"Aku mengundang Sakura untuk ikut makan malam. Aku sebentar lagi akan balik ke Tokyo dan aku ingin lebih mengenal Sakura sebelum pergi. Aku membawa beberapa potong pakaian agar Sakura tidak perlu pulang ke Konoha untuk menggantinya," ucap Rin seolah-olah topik percakapan ini adalah hal yang paling lazim di dunia. Aku menatap Sakura, ia balik menatapku, matanya melebar waspada. "Benar, kan, Sakura?" tanya Rin meyakinkan. Ini hanya membuat Sakura semakin waspada.
"Um, yeah," gumamnya. Ia kembali menatapku. "Maaf, aku benar-benar lupa mengatakannya padamu..."
"Oh, jangan meminta maaf," sela Rin. Aku terperanjat, tidak percaya ini benar-benar terjadi. Apa gadis-gadis ini bersekongkol melawanku?
"Kau tidak keberatan, kan, Sasuke?" tanya Sakura ragu-ragu.
Apa yang akan kukatakan padanya? Tentu saja aku keberatan, Sakura. Kau ikut makan malam bersama keluargaku adalah hal terburuk yang bisa kupikirkan. Kecuali sebuah taruhan kecil yang mungkin lupa kuberitahukan padamu...
Ya, kalau aku mengatakan itu semuanya akan baik-baik saja—pikirku sinis. Aku menarik-narik rambutku, aku yakin gadis ini akan membuatku botak sebentar lagi.
Rin kembali berbicara sebelum aku bisa menanggapi. "Sasuke-nii tidak akan keberatan," ia melihatku dan Sakura secara bergantian.
"Aku tidak keberatan," jawabku. Sakura tidak terlihat yakin.
"Apa kau yakin?" tanyanya.
"Ya," ucapku cepat. "Tentu saja kau boleh ikut."
Aku memutar ulang ucapanku sendiri di kepalaku, berharap agar perkataanku dapat meyakinkanku. Berharap agar perkataanku menjadi kenyataan.
Tapi, aku keberatan. Aku tidak pernah membawa seorang gadis pun pulang untuk bertemu Bibi Keiko dan Paman Kagami. Sakura, dia seorang gadis yang menakjubkan—aku tidak bisa memikirkan gadis lain yang lebih baik untuk dibawa pulang selain dia—tapi, aku baru mengenalnya seminggu. Dan aku tidak berbicara tentang apa yang bakal terjadi kalau ia sampai tahu tentang kebenaran hubungan kami.
Oh, Tuhan, aku butuh alkohol—hidupku sudah berubah menjadi opera sabun.
Rin berbalik ke arah Sakura. "Ayo, kita ganti pakaianmu agar aku bisa memastikan semuanya cocok." Sakura menatapku lagi, tatapannya masih waspada, dan aku memaksakan diri untuk tersenyum. Mereka berjalan menaiki tangga, Rin berceloteh riang tentang salah satu gaun yang dibawanya.
Saat aku mendengar pintu di lantai atas tertutup, aku langsung menghela napas keras. Aku ingin menelepon Sai, tapi aku sudah tahu apa yang akan ia katakan: "Apa masalahnya? Kau jelas menyukai Sakura. Sudah waktunya kau membawa seorang gadis untuk makan malam bersama keluargamu... aku yakin keluargamu sudah menganggap kalau kau ini gay."
Sai tidak pernah suka dengan tindakanku. Ia mengasihi wanita, menghargai mereka, tidak pernah menunjukkan rasa tidak hormat secara terang-terangan. Sampai saat ini, aku pikir aku selalu mengikuti tindakan Sai—walaupun banyak yang tidak setuju itu. Aku tidak pernah memaksa siapa pun untuk melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan. Aku tidak pernah menekan Sakura...
Tapi, aku berbohong padanya. Aku berbohong dan mengatakan hal-hal yang ingin ia dengar, hal-hal yang membuat wajahnya memerah. Aku akan mengatakan hal-hal yang membuatnya menginginkan lebih dari apa yang kutawarkan...
Dan itu sama saja dengan tidak menghargainya.
Aku masuk ke dapur sambil menggelengkan kepala, meratapi nasibku. Mungkin aku harus memberitahunya. Mungkin, malam ini, aku akan segera memberitahunya.
Aku menuangkan segelas kecil brendi dan langsung meneguknya, ini tidak cukup untuk membuatku mabuk, tapi mudah-mudahan cukup untuk membuatku rileks. Aku menarik ponsel dari saku belakang celanaku dan melihat satu panggilan tidak terjawab dari Bibi Keiko. Kapan ponsel ini berdering?
Ia meninggalkan pesan. "Sasuke, telepon aku lagi segera setelah kau menerima pesan ini. Rin bilang ada seorang temanmu yang akan ikut makan malam bersama kita dan aku... Oh, Tuhan, aku bahkan tidak bisa berkata apa-apa sekarang. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan gadis beruntung ini... "
Oh, celaka. Aku kembali ke ruang tengah dan menelepon balik. Aku tidak bisa mendengar suara dari lantai atas, tidak peduli seberapa keras usahaku untuk menguping.
"Sasuke!" seru Bibi Keiko. "Apa itu benar, Nak? Apa kau akan membawa seseorang?"
"Bibi Keiko..."
"Oh, jangan khawatir, Sasuke. Tentu saja aku tidak akan mempermalukanmu!" Seolah-olah itu yang menjadi sumber kekhawatiranku.
"Tidak, bukan itu."
"Kalau begitu apa? Dia akan datang, kan?"
"Ya, dia datang," jawabku.
"Dia suka hibachi, kan? Rin ingin makan di restoran hibachi di pusat kota," ucap Bibi Keiko.
Aku tidak tahu apakah Sakura suka hibachi atau tidak, dan ini membuatku langsung kepikiran. Kenapa aku ingin tahu hal-hal sepele tentangnya? Tidak penting bagiku apa makanan favoritnya, tapi untuk beberapa alasan yang tidak kuketahui, ini penting buatku.
"Aku tidak tahu," jawabku jujur. "Aku tidak pernah bertanya padanya."
"Kalau begitu tanya padanya!" Bibi Keiko memarahiku. "Kalau dia tidak suka, aku yakin Rin tidak akan keberatan kita makan di tempat lain. Rin selalu memakan apapun yang ada dihadapannya, aku heran kenapa dia masih saja kurus."
"Baiklah, Bibi Keiko. Akan kutanyakan padanya."
"Oke. Apa Rin di sana?"
"Ya," jawabku.
"Bilang padanya untuk jangan terlalu menyiksa gadis malang itu. Kau tahu bagaimana adikmu," ucap Bibi Keiko.
Tentu saja aku tahu.
"Jangan khawatir, Bibi Keiko. Mereka sepertinya... sudah akrab." Oh, Tuhan, kenapa itu bisa terjadi?
"Baiklah, Nak. Aku senang mendengarnya. Telepon aku lagi kalau dia tidak suka Hibachi. Sampai nanti," ucap Bibi Keiko sebelum menutup telepon.
Tanpa suara keibuan Bibi Keiko di telingaku, keheningan kembali muncul, rasanya dingin dan keras, dan tidak ramah. Rin dan Sakura masih berada di lantai atas, melakukan hanya-Tuhan-yang-tahu-apa, dan aku tidak bisa mendengar sedikitpun suara mereka. Keinginanku sangat besar untuk menyelinap ke atas dan menemui mereka, tapi aku menahan diri.
Aku menghela napas dan melanjutkan film untuk menghabiskan waktu. Film ini sangat menghibur, dan aku tidak menyangka Sakura akan merekomendasikan film seperti ini padaku. Ini aneh, tapi aku semakin tertarik padanya.
Aku mencoba untuk memfokuskan pikiran menonton film ini—aku benar-benar berusaha keras—tapi, sia-sia saja. Pikiranku di awang-awang. Mataku menatap layar, tapi tidak ada satu pun adegan yang bisa kumengerti, pikiranku kacau.
Film akhirnya selesai dan diulang lagi secara otomatis dari awal. Aku tidak bisa menahan senyum saat melihat adegan semak-semak kering, aku membayangkan Sakura duduk di sini, di sampingku. Suara bantingan pintu di lantai atas membuatku melompat kaget.
Rin datang berlari menuruni tangga. "Hei," sapanya acuh, ia bahkan tidak menunggu jawabanku sebelum masuk ke dalam dapur. "Aku mau minum."
Aku berdiri dan mengikutinya, ia sedang membungkuk, mencari-cari sesuatu di dalam lemari es saat aku memasuki dapur. Aku menyilangkan tanganku di dada sebelum bicara. "Rin," ucapku, menjaga agar suaraku tetap tenang, "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Ia berdiri tegak dan melirik lewat bahunya ke arahku sambil mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Maksudku adalah kau tiba-tiba menjadikan Sakura sebagai sahabat barumu. Tidak bisakah kau menungguku untuk memperkenalkannya padamu terlebih dahulu?"
Ia membanting pintu lemari es. "Aku tidak tahu apa masalahnya berteman dengan seseorang," jawabnya ketus.
"Sepertinya kau sudah kelewatan."
"Apa kau lebih suka kalau aku bersikap jahat padanya?" tanyanya.
"Kau tidak pernah berbuat seperti ini dengan yang lain," balasku.
"Yeah, tidak ada gunanya berteman dengan 'yang lain'. Aku tidak suka membuang-buang waktuku. Kau tahu itu, Sasuke-nii." Ia berjalan melewatiku sambil membawa minuman.
Apa arti ucapannya?
"Apa yang kau bicarakan?" ucapku akhirnya.
"Kalau kau tidak bisa melihatnya, Sasuke-nii, berarti kau buta. Kau harus mencari tahu sendiri. Saat kau mengerti apa maksudku, kau akan lebih menghargainya," ucapnya lagi. Ia senang bicara bertele-tele.
Ia kembali menaiki tangga, meninggalkanku sendiri, dan sekarang aku lebih frustrasi dari pada sebelumnya. Aku kembali meminum segelas kecil brendi sebelum naik ke atas untuk mengganti pakaian. Saat melewati kamar tidur tamu, aku mendengar mereka sedang cekikikan. Aku mencuci wajahku dengan air dingin dan berusaha menjinakkan rambut liarku, dan seperti biasa usahaku sia-sia. Setelah selesai, aku kembali ke bawah dan menyalakan musik sebelum duduk di sofa, aku harap musik ini dapat mengalihkan perhatianku.
Aku tidak tahu sudah berapa lama waktu berjalan. Aku mendengar suara dari lantai atas. Waktu bisa saja baru berjalan selama sepuluh menit; atau satu jam. Rasanya benar-benar sudah terlalu lama. Aku meluruskan tubuhku di sofa, dan melihat tangga.
Aku mendengar suara sebelum melihat mereka; mereka berceloteh tentang sesuatu yang tidak kumengerti, kata-katanya bercampur aduk dan terdengar asing di telingaku. Kemudian mereka secara bersamaan muncul di tangga paling atas. Mereka bersama-sama menuruni tangga dan aku berdiri untuk menemui mereka.
Napasku tertahan saat melihat Sakura. Ia tidak cantik lagi—dia... menawan. Ia mengenakan gaun biru sederhana yang membalut semua lekuk tubuhnya dengan sempurna, ujung gaunnya jatuh tepat di atas lutut, belahan dadanya sedikit kelihatan. Rambutnya mengkilap, menjuntai lembut di punggungnya. Kulitnya terlihat bersinar dan halus, aku tidak tahan untuk segera menyentuhkan. Untuk memujanya. Matanya yang ekspresif lebih terang dari sebelumnya.
"Lihat, Sasuke-nii," ucap Rin gembira, "Dia pas mengenakan gaun keberuntungku!"
Aku langsung menatapnya kaget. "Gaun keberuntungan?"
Sakura memutar matanya saat ia mempersempit jarak di antara kami. "Ini gaun yang dia pakai saat bertemu dengan Kakashi," jelasnya. "Dan hanya bertemu dengannya."
"Wow. Aku heran dia membawa gaun ini keluar dari kuil," sindirku.
"Cukup sulit sebenarnya," Rin setuju, "Tapi, ini semua ada tujuannya, jadi aku tidak menyesal."
Ada tujuannya? Ada dengannya dan komentar anehnya? Aku mendorongnya jauh-jauh dari pikiranku dan kembali menatap Sakura. Tidak ada kata-kata yang bisa mewakili apa yang ingin kuucapkan padanya sekarang.
"Kau terlihat... maksudku... wow. Kau terlihat menakjubkan."
Ia tersipu malu, dan merapikan kerutan yang tak terlihat di gaunnya. Kemudian ia bersandar ke arahku, jarak kami begitu dekat, aku bisa mencium aroma wangi rambutnya, dan ia berbisik, "Kau tidak tahu apa yang kuhadapi tadi di atas." Ia menatapku tajam, seolah-olah aku telah melemparkannya ke serigala.
Rin menelepon, tidak menghiraukan kami sedikitpun.
"Maafkan aku. Kita bisa membuat sebuah kode untuk saling menyelamatkan lain kali," ucapku tanpa berpikir panjang.
Sakura terlihat kaget. "Lain kali?"
"Um, kau tidak pernah tahu apa yang akan dilakukan Rin." Aku tergagap karena Sakura mulai merapikan kerah kemejaku.
"Kau terlihat tampan mengenakan warna ini," komentarnya tentang kemeja hitamku. Aku bahkan tidak memerhatikan apa yang kukenakan. "Warna ini membuat pandangan matamu semakin dalam."
"Aku bisa mengatakan hal yang sama dengan gaunmu," ucapku.
Ia mencemoohku. "Mataku hijau."
"Jadi?"
"Jadi... tidak ada bagusnya, seperti mata kucing," jawab Sakura.
"Jangan konyol, Sakura. Matamu indah."
Ia terlihat ragu, namun sebelum ia bisa menjawab, Rin sudah kembali berjalan ke arah kami. Sakura melepaskan tangannya dari kerahku dan menundukan kepala.
"Sakura, kau keberatan kalau kita makan di restoran hibachi?" tanya Rin.
"Oh, um, aku senang makan di restoran hibachi."
"Bagus sekali! Kita akan makan di restoran Fuji. Makanannya benar-benar enak!" sahut Rin.
"Oh, baiklah," jawab Sakura ragu.
"Tunggu sampai kau melihat tempatnya," lanjut Rin. "Ada akuarium di lantai restorannya!"
"Benarkah?" tanya Sakura.
"Ya. Luar biasa, kan? Lantainya transparan dan kau bisa berjalan di atasnya!"
"Apa lantainya terbuat dari kaca?" tanya Sakura lagi.
"Tidak, aku pikir itu terbuat dari plastik. Tapi benar-benar keren. Benar, kan, Sasuke-nii?"
Aku kaget saat ia tiba-tiba menanyaiku. "Um, yeah. Tempatnya benar-benar bagus."
Rin dan Sakura mengangguk, seolah-olah aku mendeskripsikan restoran itu dengan sempurna.
"Baiklah, aku harus pulang," ucap Rin. "Aku harus mengganti pakaianku dan kita akan bertemu di sana. Jam enam, kan?"
"Benar," aku setuju, dan ia berjalan keluar melewati pintu depan. Sakura dan aku berdiri dalam diam di ruang tengah, kami hanya berjarak sekitar tiga inci, namun udara dingin seperti berseliweran di antara tubuh kami. Ia melihatku dengan tatapan bersalah.
Ya, benar, Sakura. Kau tahu apa yang kau lakukan.
"Dari skala satu sampai sepuluh, seberapa marah kau sekarang?" tanyanya.
Apa?
"Sebenarnya, aku benar-benar tidak tahu apa yang kurasakan sekarang. Tapi, kalau boleh jujur... delapan."
"Delapan?" Matanya melebar. "Itu cukup tinggi." Aku mengangguk. "Biar kujelaskan padamu, skala sepuluh adalah tingkat kemarahan yang paling tinggi yang pernah kau rasakan seumur hidupmu," jelasnya.
"Sakura, apa maksudmu bertanya seperti ini?"
"Belum terlambat bagiku untuk pulang," jawabnya. "Rin tiba-tiba memintaku untuk ikut dan aku tidak punya waktu untuk memikirkannya... lalu kau bilang kau belum pernah menonton The Big Lebowski, dan itu benar-benar membuatku kaget. Aku seharusnya memberitahumu..."
"Ya, benar," ucapku.
"Maaf. Aku tahu ini perkara besar untukmu..."
"Apa maksudmu?" tanyaku.
"Kau tidak pernah membawa pulang seorang wanitapun ke rumahmu."
"Kau di rumahku sekarang."
"Kau tahu maksudku," jawab Sakura.
"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" Aku benar-benar penasaran.
Ia terlihat bingung. "Um... Rin sedikit memberitahuku..."
Aku mendesah. Oh, Tuhan. "Apa ada sesuatu yang belum dikatakan Rin tentangku padamu?" tanyaku, sedikit terlalu keras—aku rasa, dan Sakura terlihat kaget.
"Tidak, maksudku ya. Maksudku, aku tidak tahu?" Saat aku tidak menanggapinya ia langsung menambahkan, "Aku masih bisa pulang kalau kau mau." Ia terlihat kesal sekarang. "Aku tidak ingin memaksakan diri masuk ke dalam keluargamu."
"Ini tidak bisa disebut dengan memaksakan diri kalau kau diundang, Sakura," ucapku, sama kesalnya dengan Sakura. Di kehidupan mana seorang adik mengundang pacar kakaknya untuk ikut makan malam pertama bersama orang tuanya? Tiba-tiba tubuhku memucat, aku tertangkap basah oleh pikiranku sendiri. Pacar?
Ini semakin membuatku bingung. Aku tidak bisa menyelesaikan satu masalah sebelum dibombardir oleh jutaan masalah lain.
Untungnya, Sakura tidak bisa melihat kepanikan dalam pikiranku. "Kau jelas tidak mau aku ikut."
Sial sial sial sial. "Aku tidak pernah mengatakan itu."
"Tapi, itu tersirat di ucapanmu." Ia menyilangkan lengannya, menantangku.
"Kalau aku tidak mau kau ikut, aku akan menyuruhmu pulang sekarang."
"Kalau kau sekasar itu, aku pasti akan tetap ikut hanya untuk membuatmu kesal."
Oh, Tuhan, ada apa dengan gadis ini! "Kau ingin aku mengatakan apa, Sakura? Ya, ini semua baru untukku. Kau akan menjadi gadis pertama yang kuperkenalkan pada Bibi Keiko dan Paman Kagami. Jadi, aku minta maaf kalau sikapku tidak memenuhi standarmu." Aku yakin kekesalanku sudah menyebar ke seluruh ruangan sekarang.
"Aku tidak punya standar," jawabnya galak. "Yang kuminta hanyalah kau menunjukkan sedikit saja kejujuranmu. Aku lelah dengan permainan tebak-tebakan sialan ini."
"Kau mau aku bicara jujur? Baiklah, ini semua terlalu cepat buatku," jawabku. Kenapa aku berubah menjadi pengecut sialan seperti ini?
"Lihat, kan? Bicara jujur itu tidak terlalu sulit. Jadi, kau ingin aku ikut atau tidak? Jawab dengan jujur."
Aku menghela napas dan menarik-narik rambutku. Aku seharusnya mengatakan yang sebenarnya sekarang, sebelum ia bertemu dengan keluargaku. Kalau aku mengatakan padanya aku tidak ingin ia bertemu dengan orang tuaku, ia mungkin tidak akan pernah kembali. Kalau aku membiarkannya pergi, itu berarti aku kalah taruhan. Kalau aku kalah taruhan...
Telepon tiba-tiba berdering dan membawaku keluar dari lamunan. Ia menarik keluar ponsel dari tasnya dan melihatku sambil meminta maaf. "Ini ibuku," jelasnya. "Sebentar." Ia menjawab teleponnya dan berjalan keluar dari ruangan.
Aku menghela napas. Aku akan mengajaknya makan malam. Aku akan melihat kemana arah semua ini berjalan dan mungkin, mungkin saja, aku akan berpikir jernih malam ini. Aku akan bisa menghadapi kekacauan ini besok. Aku tidak punya banyak waktu untuk duduk dan berpikir karena semua ini terjadi begitu cepat. Sakura terlibat dalam hidupku lebih dari apa yang kuharapkan.
Ia kembali memasuki ruang tengah dan terlihat lebih rileks, seolah-olah ibunya baru saja mengirim energi positif lewat telepon. "Maaf," ucapnya. "Kadang-kadang ibuku sering mengobrol lama."
Aku mengibaskan tangan. "Tidak apa-apa."
"Jadi, apa kau sudah memutuskannya?"
"Ya. Aku ingin kau ikut makan malam denganku, Sakura. Aku minta maaf sudah bertindak kurang ajar."
Ia terlihat kaget saat mengambil langkah mendekatiku. Aku cukup dekat untuk menciumnya; aku ingin sekali menciumnya. Tapi, kalau ada satu hal yang tidak pantas kuterima, itu adalah Sakura. Tidak bibirnya, tidak rasanya, dan tidak wanginya. Bahkan tidak perhatiannya, dan yang pasti tidak ciumannya atau kasih sayangnya.
"Tahu tidak, sebaru apapun semua ini untukmu, kau ternyata tidak terlalu payah," ucapnya. "Dan aku sedikit melemparkan diriku padamu tadi malam. Aku tidak berpikir jernih—untuk apa itu—tapi, terima kasih karena kau tidak bertindak macam-macam."
Aku mengerutkan keningku, bingung. "Sakura, kau mabuk," ucapku mengingatkannya. Apa ia berpikir aku akan berhubungan seks dengannya saat ia mabuk seperti itu?
"Aku tahu," ucapnya singkat. Ia memeriksa jam di ponselnya. "Ngomong-ngomong, kita sebaiknya berangkat sekarang. Mungkin saat kita kembali kita bisa menonton satu filmmu, kalau tidak terlalu malam."
Semakin banyak waktu yang kuhabiskan dengannya berarti semakin sedikit waktu untukku berpikir, tapi saat ia menatap ke arahku dengan tatapan yang tak berdosa, aku tidak bisa menolak permintaannya. "Tentu, Sakura." Apapun yang kau mau.
Keluargaku sudah menunggu saat kami sampai di restoran. Rin bergegas menemui kami, bahkan sebelum kami masuk ke dalam; ia segera melingkarkan lengannya ke lengan Sakura sambil berkata, "Bagus, kau sudah di sini! Ayo lihat ikannya!" Kami berjalan ke jembatan transparan, hak sepatu mereka berbunyi saat kami menapakan kaki di jembatan plastik untuk melihat ikan-ikan yang sibuk berenang di bawah.
Bibi Keiko tersenyum lebar saat kami sampai di meja. "Rin, setidaknya biarkan Sakura duduk dulu," tegurnya. Bibi Keiko dan Paman Kagami berdiri untuk menyambut kami, mereka tersenyum hangat pada Sakura yang tersipu malu dan terlihat tidak nyaman.
"Sakura, senang bertemu denganmu," sapa Paman Kagami sambil sedikit menganggukan kepalanya. Bibi Keiko membuat kami berdua terkejut, ia memeluk Sakura—aku belum pernah melihatnya memeluk siapa pun yang bukan keluarga.
"Um, aku juga senang bertemu dengan kalian semua," ucap Sakura gagap. Semua orang tersenyum, perhatian mereka terfokus pada gadis cantik berambut merah muda di meja kami ini. Tidak ada yang menyadari keberadaanku di sini.
"Rin sudah bercerita banyak tentangmu. Aku sedikit kaget waktu dia bilang kau akan datang..." Mata Bibi Keiko berkedip ke arahku dan aku menahan eranganku. "Tapi, aku sangat senang kau datang. Jadi, bagaimana kalian berdua bisa bertemu?"
Sakura melihatku ragu, seolah-olah ia khawatir akan mengucapkan hal yang salah. Kemudian tiba-tiba, ia mendapat kepercayaan dirinya sebelum berkata, "Kami bertemu di sebuah tempat yang bagus di Konoha. Dia mengajakku berdansa." Ia sengaja menghilangkan detail kalau kami bertemu di klub.
"Oh ya, Sasuke memang senang berdansa. Pernahkah kau melihatnya bermain piano?"
Sakura langsung menatapku. "Tidak, kenapa? Apa dia jago?" Mereka membicarakanku seolah-olah aku tidak berada di sini. Ini akan menjadi malam yang panjang.
Aku buru-buru membersihkan tenggorokan. "Bibi Keiko, dia tidak ingin mendengarkan itu."
"Kau tidak masuk akal, Sasuke. Dia bertanya, kan?"
Sebelum aku bisa menjawab, pelayan datang untuk mengambil pesanan minuman kami, tapi segera setelah ia meninggalkan meja, mereka kembali melanjutkan pembicaraan. Bibi Keiko bersandar mendekati Sakura, seakan ingin berbagi rahasia—seolah-olah mereka sudah berteman baik.
"Dia selalu merendahkan dirinya," Bibi Keiko melanjutkan, "Tapi, kau harus mendengar permainannya. Dia benar-benar luar biasa."
"Ya, dia juga bisa mengarang lagu," sambung Rin, dan Sakura menaikan alisnya.
Paman Kagami, seolah-olah merasakan kesengsaraanku, membungkuk dan berbisik, "Mereka akan segera membunuhmu."
Para wanita masih sibuk bicara, seolah-olah kami para pria tidak berada di sini; terlibat dalam percakapan di antara Bibi Keiko dan Rin, Sakura sepertinya tidak punya waktu untuk berpikir. Ketidaknyamananku semakin bertambah saat mereka mengungkapkan detail kehidupanku, namun aku berhasil tersenyum dengan tenang setiap kali Sakura melirik ke arahku.
Aku akhirnya berhasil mendapatkan perhatiannya. "Apa kau mau sushi, Sakura?" Saat menyebutkan sushi, Rin terlihat seperti akan pingsan di tempat duduknya. Ada apa dengannya?
"Oh, tentu saja," jawab Sakura. Ia bersandar ke arahku untuk membaca menu dan aku bisa mencium bau parfumnya. "Apa yang kau suka?" Ia begitu dekat, terlalu dekat... peganganku di pulpen semakin mengencang.
"Aku suka semuanya," jawabku, "Kau bisa memesan apa pun yang kau mau."
Ia bersandar semakin dekat, matanya menatapku, dan bahu kami bersentuhan. "Boleh aku berbagi sushi denganmu?" tanyanya dengan manis.
Berbagi sushi! Aku belum pernah berbagi sushi.
"Tentu saja."
Ia tersenyum puas dan bersandar kembali ke tempat duduknya, aku menghembuskan napasku. Aku bahkan tidak sadar kalau aku menahan napas. Sial. Kenapa ia bisa membuatku merasa seperti ini? Aku mengambil gelasku dan langsung meminumnya sampai habis. Aku menyadari Rin sedang mengawasi kami dengan saksama; aku mengerutkan kening dan cepat berpaling.
Pelayan datang untuk mengambil pesanan kami. Pasangan lain duduk bersama kami, mengelilingi tempat pemanggangan hibachi, kursi mereka terletak di paling pojok. Mereka masih muda dan sedang dimabuk cinta; sambil tersenyum malu-malu, mereka menyapa kami sebelum duduk, kursi mereka sangat berdekatan, hampir tidak ada ruang di antaranya.
Sup dan salad dihidangkan di depan kami saat Bibi Keiko masih terus mengobrol dengan Sakura. Aku merasa sedikit kasihan padanya, aku tidak tahu proses-pertemuan-dengan-orang-tua akan seberat ini. Untungnya, Sakura berhasil menangani semuanya, ia menjawab pertanyaan dengan sedikit malu-malu. Bibi Keiko benar-benar menyukainya.
Akhirnya, Paman Kagami berhasil menyela masuk dalam percakapan mereka. "Jadi, di mana kau bekerja, Sakura?"
"The Konoha Times," jawabnya. Paman Kagami menaikan alisnya penasaran, ia tertarik.
"Oh? Apa yang kau kerjakan di sana?"
Sakura mendeskripsikan pekerjaannya sampai ia diinterupsi oleh kedatangan seorang Chef. Chef Jiraiya, begitu ia memperkenalkan dirinya, ia meminta kami untuk menyebutkan bagaimana steak kami ingin dipanggang. Saat pandangan matanya jatuh melihat Sakura, ia langsung tersenyum.
"Gadis Cantik, kau ini ingin ayammu dipanggang bagaimana?"
Sakura kaget saat tiba-tiba ditanya. "Umm..."
"Rare? Oke!" Chef tersenyum lebar, ia sepertinya gembira dengan upayanya melucu. Sakura tersipu malu—ia masih terlihat sedikit gugup—Bibi Keiko dan Paman Kagami tersenyum hangat dan tertawa melihat reaksinya.
Chef Jiraiya kemudian melanjutkan, "Gadis Cantik, di mana suamimu? Kau terlalu cantik untuk sendiri..." Ia kemudian menatapku dengan ekstresi terkejut berlebihan. "Oh! Kau suaminya! Suami, kau harus menjaga Gadis Cantik sebelum dia dibawa kabur orang lain! Banyak pria yang akan merebut Gadis Cantik!"
Suami? Wajah Sakura semakin memerah dan aku juga sama tidak nyamannya. Paman Kagami dan Bibi Keiko benar-benar menikmati pertunjukan kecil ini, dan Rin membungkuk sambil berbisik keras, "Aku rasa ada yang naksir Sakura!" Ia menunjuk-nunjuk ke arah Chef.
Chef Jiraiya mendengarnya. "Oh! Aku senang memberikan hadiah pada orang yang kutaksir!" Ia memotong bawang berbentuk hati dan membakarnya di atas hibachi, dan aku tidak tahu bagaimana caranya ia bisa membentuk api sehingga menyala seperti hati. "Bawang lebih enak dari cokelat!"
Sakura tersenyum dan kemudian cekikikan. Matanya bertemu tatapanku. "Kau belum pernah memberiku bawang berbentuk hati," ucapnya.
Paman Kagami langsung bicara. "Sasuke!" tegurnya. "Kau belum pernah memberi Sakura bawang berbentuk hati?"
Rin dan Bibi Keiko terkejut. "Apa? Kau belum pernah?"
Bahkan pasangan sialan yang duduk di pojokan juga ikut bergabung. "Aku bahkan memberi Temari bawang berbentuk hati di kencan pertama kami. Apa yang salah denganmu?"
Tiba-tiba tujuh pasang mata melihat ke arahku, mereka semua menunggu jawaban. Sakura menyeringai lebar sekarang.
"Ooh, tidak pernah memberi bawang berbentuk hati," ucap Chef Jiraiya sedih. "Dia akan meninggalkanmu sekarang, Suami. Gadis cantik, carilah pria sejati dengan lemari penuh bawang."
Tiba-tiba aku merasa keberanianku muncul entah dari mana. Aku mengambil tangan Sakura dan mencium punggung tangannya sambil berkata, "Sakura, kalau memang bawang yang kau inginkan, aku akan membelikanmu seluruh bawang yang ada di Suna. Tidak, seluruh bawang yang ada Jepang."
"Aww," bisik Rin. "Lihat, kan? Dia romantis!"
"Apa kau akan memotongnya berbentuk hati untukku?" Sakura bertanya penuh harap. Saat aku mengangguk, ia tersenyum manis dan membungkus lengannya di pinggangku, menekan tubuhku ke tempat duduk, dan ia bergeser lebih dekat seolah-olah termakan oleh bualanku. Jarak tubuhnya membuat jantungku berdetak lebih cepat.
"Lihat, kan? Bawang membuat seeemuanya menjadi lebih baik," ucap Chef Jiraiya sambil memasak.
Sakura tidak bergeser menjauh, ia masih menempel di sisiku saat Chef Jiraiya selesai memasak makanan kami dan menyajikannya di piring. Ia memberi ekstra bawang di piring Sakura sambil berseru, "Bawang untuk Gadis Cantik, hmm?" Sushi kami dihidangkan tidak lama setelah itu; Chef Jiraiya membungkuk hormat setelah ia membersihkan tempat pemanggangannya. Sebelum ia undur diri, ia menunjukku dengan spatulanya. "Kau harus memberi Gadis Cantik bawang dan apa pun yang dia inginkan, kau dengar aku, Suami? Dia layak mendapatkan yang terbaik. Dia terlalu cantik untuk kau biarkan pergi." Wajah Sakura kembali memerah, tapi ia berterima kasih padanya sambil malu-malu. Dalam hati, aku memutar mata, bersyukur dia sudah pergi dan tidak lagi mencoba merayu gadisku dengan keahliannya memanggang bawang.
Aku tertangkap basah oleh monologku sendiri. Gadisku? Dari mana datangnya itu?
Sakura bersandar ke arahku untuk mengambil kecap dan payudaranya pelan-pelan menggosok lenganku. Aku teringat pada malam kami di sofa, kami berciuman sambil bertelanjang dada dan aku merabanya... payudaranya terasa begitu lembut dan kenyal di tanganku...
Sial! Kenapa dia tidak meminta tolong padaku untuk mengambilkan kecap? Dia kembali bersandar ke tempat duduknya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Apa kau mau wasabi di kecapmu?" tanyanya.
"Um, sedikit saja." Aku diam-diam bergeser memperbaiki celanaku saat ia mencampur wasabi.
"Kenapa sekarang mereka tidak memberi tomat sebanyak biasanya," Rin mengeluh dari seberang meja.
"Oh, ini, Sayang. Kau boleh mengambil tomatku." Bibi Keiko suka tomat, tapi ia meletakannya ke piring Rin.
Sambil menghela napas, aku kembali melihat makananku, berharap ini dapat mengalihkan perhatianku dari pikiran-pikiran aneh. Tiba-tiba, sepotong sushi melayang di depan bibirku.
"Sasuke, tuna pedasnya benar-benar enak. Cobalah!" ucap Sakura.
Pikiranku kembali ke malam itu... ke tiramisu. Tuhan, bunuh aku sekarang. Tidak ingin menghindari tawarannya, aku membuka mulutku dan ia menyuapiku sushi. Aku melihat mata Rin terpaku menatap kami, ia meneliti setiap gerakan kami. Ia tersenyum kecil dan berpaling saat aku menangkap tatapannya.
"Enak, kan?" tanya Sakura.
"Mmm. Ini enak," aku setuju.
"Kau benar-benar melakukan pekerjaan memilih makanan dengan baik." Ia mengedipkan sebelah matanya padaku dan aku rasanya mau mati.
"Jadi, Sakura, kau bilang pekerjaanmu copy editor?" Paman Kagami bertanya, dan Sakura menjawab dengan sebuah anggukan. "Apa sebenarnya yang kau lakukan? Apa itu sama dengan editor buku?"
Sakura menggeleng dan menjelaskan run-down pekerjaannya, ia mengoreksi kesalahan tata bahasa dan juga mengedit berita agar sesuai dengan margin koran, termasuk menambahkan header dan catatan kaki.
"Pengetahuanmu sepertinya cukup luas," Paman Kagami kagum. "Kau diminta untuk membaca segala sesuatunya sebelum dimuat di koran."
Sakura mengangkat bahu. "Banyak hal yang menyedihkan yang harus kubaca. Aku benci membaca tentang orang-orang yang dibunuh dan meninggal dalam kebakaran... tapi, tentu saja berita semacam itu selalu dimuat di halaman pertama agar menarik perhatian banyak orang. "
"Apa kau pernah berpikir untuk menjadi editor buku? Setidaknya kau bisa berfokus pada hal yang kau sukai," lanjut Paman Kagami.
"Sebenarnya, aku lebih senang menulis." Ia terlihat malu saat mengatakan ini dan aku tidak tahu kenapa. Ini informasi menarik, sedikit informasi tentang dirinya yang belum kuketahui sebelumnya.
"Kenapa tidak kau lakukan itu?" tanya Paman Kagami lagi.
"Aku sudah memikirkannya, tapi dunia menulis cukup kompetitif—aku tidak yakin aku sudah bekerja di dunia menulis cukup lama atau melakukan banyak hal untuk membuktikan diriku sebagai penulis yang sebenarnya. Ditambah lagi, aku mungkin akan terjebak menulis ideku sendiri dan tidak bisa melanjutkannya." Ia mengucapkan bagian terakhir dengan masam.
"Kita semua harus mulai dari suatu tempat," ucap Paman Kagami. "Lihat saja Sasuke. Pekerjaan pertamanya adalah menjadi petugas foto kopi di perusahaan saat dia berusia enam belas tahun."
Sakura langsung melihat ke arahku, wajahnya berseri-seri. "Benarkah? Kami juga punya seorang anak remaja sebagai petugas foto kopi di kantor—aww, setelah dipikir-pikir, dia mirip Sasuke!" Ia tersenyum lebar, menikmati kegelisahanku. Aku berdeham.
"Terima kasih, Paman," ucapku sinis, sambil mengalihkan perhatian ke makananku lagi.
"Kau tidak perlu malu menjadi petugas foto kopi, Sasuke," ucap Bibi Keiko. "Seperti kata pamanmu, setiap orang harus memulai dari suatu tempat. Dan lihat dimana kau sekarang!"
"Aku tidak pernah mengatakan kalau aku malu menjadi petugas foto kopi," jawabku.
"Oh, tidak," Rin menyela, "Sasuke-nii begitu gembira saat dia mendapatkan pekerjaan itu. Percayalah, Sakura. Dia memakai dasi saat bekerja. Dia bahkan meminta Bibi Keiko untuk menyetrikanya."
Oh, Tuhan!
"Rin!" aku menatapnya tajam.
"Apa? Itu memang benar."
"Rin, hentikan. Kau mempermalukannya di depan Sakura," tegur Bibi Keiko.
Bunuh. Aku. Sekarang.
Aku tidak tahu seperti apa raut wajahku sekarang, tapi yang pasti wajahku memerah. Aku benar-benar cemas ingin mengetahui apa yang Sakura pikirkan tentangku.
Dan kemudian Sakura menempatkan tangannya di lututku. Aku melihat ke bawah, dan langsung membeku saat memerhatikan tangannya semakin lama semakin menjalar ke atas pahaku...
Sakura bahkan tidak menatapku, ia bersikap seolah-olah tidak melakukan apa-apa.
"Itu bisa saja lebih buruk," samar-samar aku mendengar suara Rin. "Pekerjaan pertamaku adalah menjadi penindik telinga di mall."
Sakura tampak tertarik, tangannya masih di pahaku. Aku mencoba untuk mengabaikannya. "Kedengarannya menyenangkan," ucapnya.
"Memang menyenangkan... sampai aku menindik jariku sendiri. Lihat, aku masih punya bekas lukanya." Rin bersandar ke meja, memperlihatkan tangannya pada Sakura. Tiba-tiba, tangan Sakura meninggalkan pahaku, hawa dingin mengambil tempatnya. Ia memeriksa tangan Rin, dan meringis saat melihat bekas lukanya.
Kemudian tangannya kembali ke pahaku... dan beberapa entitas tubuhku sepertinya bersorak sorai, bersuka cita.
Entah bagaimana, percakapan bergeser ke pekerjaan Paman Kagami di rumah sakit. Sakura membuat pembicaraan yang mengesankan, pertanyaannya tepat dan masukan yang ia berikan selalu benar. Aku bisa melihat ia sudah berhasil merebut hati Paman Kagami dan Bibi Keiko. Dan tentu saja, Kakashi masuk ke dalam pembicaraan, dan Rin tidak bisa berhenti membicarakannya.
Kami sedang bercerita tentang pengalaman menarik Paman Kagami di rumah sakit saat Sakura menyenggolku. Ketika aku melihatnya, ia menganggukan kepalanya ke arah pasangan tadi. Mereka duduk sangat dekat, dan benar-benar mengabaikan orang lain, perhatian mereka hanya terfokus satu sama lain saat berbicara dengan suara lirih sambil tersenyum kecil.
"Pria itu akan melamarnya malam ini," Sakura berbisik di telingaku, napasnya hangat di kulitku.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Kau tidak lihat cara pria itu menatapnya? Mereka dimabuk cinta." Sakura sedikit mendesah, aku tidak tahu kenapa ia berbicara seperti ini. Saat pasangan itu akan beranjak pergi, mereka sedikit melambaikan tangan pada Sakura sambil tersenyum malu-malu.
Beberapa saat kemudian, aku undur diri ke kamar kecil. Aku kaget saat melihat pria tadi berdiri di depan cermin dan ia sedang mengusap kotak cincin beludru, ia terlihat tegang.
Sakura benar. Tapi, bagaimana dia bisa tahu? Dia pasti melihat kotak cincinnya...
Pria itu mengangkat kepalanya saat aku masuk, ia sedikit rileks saat menyadari orang yang masuk hanyalah aku. Hanya si pria bawang. "Hei," ucapnya sambil memasukan kotak cincin ke dalam saku jaketnya.
"Hei," sapaku balik. Aku berdebat apa sebaiknya aku menanyakan tentang cincinnya atau tidak. "Apa kau baik-baik saja?"
"Hah? Oh, yeah. Aku baik-baik saja." Dia tidak terlihat baik-baik saja.
"Aku tahu ini sebenarnya bukan urusanku, tapi temanku bilang kau akan melamar seseorang hari ini."
Ia terlihat kaget. "Siapa yang bilang?"
"Um, gadis yang bersamaku. Sakura."
Ia terkekeh gugup. "Entah dia itu seorang pembaca pikiran atau mungkin karena keringatku yang mengucur sudah sebesar butiran jagung." Aku tersenyum mendengarnya. "Maaf, aku benar-benar gugup. Restoran ini tempat pertama kami berkencan. Setelah ini kami akan berjalan-jalan ke pusat kota. Di situlah aku akan melamarnya." Ia memercikan air dingin dari wastafel ke wajahnya saat berbicara.
"Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Kalian berdua terlihat sangat bahagia," ucapku.
Dan apa urusanku memberikan jaminan seperti itu padanya?
"Terima kasih."
Saat aku sudah menyelesaikan urusanku di kamar kecil, pria itu masih berdiri di depan wastafel. Ia masih berusaha menenangkan dirinya dengan menarik napas dalam-dalam. Ia menatapku lewat cermin.
"Gadis itu," ia mulai berbicara, "Kau bilang dia temanmu?"
"Oh, eh... ya. Ini rumit," ucapku enggan. Ia mendengus.
"Hubungan apa yang tidak rumit?" Aku mengangguk setuju dan ia melanjutkan. "Tapi, aku melihat caramu menatap gadis itu saat juru masak merayu dan bercanda dengannya. Mungkin kau harus berbicara dengannya."
Saat aku membasuh tangan dengan sabun di wastafel aku mengulangi ucapanku, "Ini rumit."
Ia meringis sebelum berbicara. "Aku mengerti. Tapi, tidak ada yang terlalu rumit untuk seseorang yang kau pedulikan. Kau akan selalu ada untuknya. Kau pernah jatuh cinta?" tanyanya.
Aku menatap matanya dari cermin. "Belum."
Ia mengangkat alisnya. "Ya, aku rasa kau benar," ia setuju. "Kau akan tahu kalau kau sudah mengalaminya. Jatuh cinta sudah membuat hidupku jungkir balik. Hanya dia satu-satunya yang bisa kupikirkan. Orang lain sama sekali tidak menarik bagiku." Ia mendengus. "Gila, kan? Aku tidak pernah berpikir kata-kata ini akan keluar dari mulutku, tapi dia benar-benar membuatku menjadi pria yang lebih baik."
Aku terdiam dan sedikit mengerutkan kening saat merenungkan ucapannya. Sebelum aku bisa menjawab, ia sudah menarik tisu dari dispenser dengan berisik.
"Aku harus pergi. Aku tidak bisa membiarkannya menunggu terlalu lama," ucapnya.
Sebelum ia keluar, aku bertanya, "Siapa namamu?"
Ia berhenti berjalan. "Shikamaru."
"Senang bertemu denganmu, Shikamaru. Aku Sasuke. Semoga berhasil malam ini."
Ia tersenyum dan menjabat tanganku. "Terima kasih, Sasuke. Semuanya akan berjalan dengan baik... kalau memang itu ditakdirkan untuk terjadi, pasti ada jalan." Ia berjalan keluar, engsel pintu berderit berisik di belakangnya.
Pelayan memberi kami beberapa kotak untuk membawa pulang makanan. Kali ini, Sakura tidak bisa menghabiskan semuanya, tapi bukan berarti ia tidak mencoba. Bahkan saat ia menuangkan makanan ke dalam kotak, ia masih sempat memasukan beberapa potong ayam dan brokoli ke dalam mulutnya sambil mengeluh, "Oh, Tuhan, kalau aku makan lagi aku akan meledak."
Aku berusaha keras untuk diam, tidak mengomentari.
Semuanya memeluk Sakura sambil mengucapkan sampai jumpa. Rin lah yang paling emosional.
"Aku akan kembali ke Tokyo hari Senin," gumamnya di bahu Sakura. Ia memeluk Sakura erat-erat, seolah-olah hidupnya bergantung di sana. "Tapi, akan kuusahakan untuk pulang lagi secepatnya. Mungkin Kakashi akan ikut dan kau bisa bertemu dengannya! Dia datang di malam sebelum Natal tahun lalu."
"Rin, satu-satu, Nak. Sekarang baru bulan Agustus," Paman Kagami bijak menyela. Ia berbalik melihat Sakura. "Senang bertemu denganmu, Sakura. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi secepatnya."
Sakura tersenyum sopan. "Tentu saja."
"Kau punya nomorku, kan, Sakura? Tetaplah berhubungan denganku," ucap Rin sedih.
Rasanya waktu berjalan terlalu lama sampai akhirnya kami masuk ke mobilku. Sakura benar-benar tenang—tidak seperti biasanya; ia memasang sabuk pengaman dan meletakan kedua kotak makanan di pangkuannya sambil melamun.
"Makan malam berjalan dengan baik," ucapku. "Atau setidaknya lebih baik dari yang kuperkirakan. Mereka benar-benar menyukaimu."
Ia menatapku penuh tanya. "Apa kau pikir mereka tidak akan menyukaiku?"
"Bukan begitu. Sejujurnya, aku tidak tahu harus berpikir apa. Aku tidak pernah memperkenalkan mereka ke salah satu pacarku sebelumnya."
Aku bahkan tidak menyadari apa yang baru saja kuucapkan sampai Sakura berkata, "Pacar?"
Aku tertangkap basah karena lidahku sendiri. Apa yang kupikirkan? Ucapan itu tiba-tiba saja terlontar keluar. "Tidak, aku uh... maksudku... gadis yang dekat denganku." Aku bisa merasakan wajahku memanas dan aku bersyukur karena suasana di dalam mobil ini gelap. Mata Sakura menatapku tajam.
"Tahu tidak, kebanyakan orang menganggap gadis yang dekat dengan mereka adalah pacar," ucapnya.
Sial.
"Sakura—" Aku menghela napas, tapi ia dengan cepat mengangkat tangannya dan menyela.
"Jangan khawatir, Sasuke. Aku mengerti. Kita baru kenal seminggu. Ini terlalu cepat, aku juga berpikir begitu."
Terima Kasih, Tuhan.
"Tapi, orangtuamu sepertinya memang menyukaiku," ucapnya puas.
Aku menyeringai melihatnya. "Kau selalu berbicara tentang betapa besarnya kepalaku, tapi sepertinya kepalamu juga tidak lebih kecil."
"Yang benar saja! Kepalamu sangat besar, aku kaget kepalamu bisa masuk ke dalam mobil," tukasnya.
"Aku heran kepalamu bisa muat di dalam restoran," timpalku.
"Aku heran kepalamu bisa muat di parkiran."
Aku tertawa dan menggelengkan kepala. "Kau tidak bisa dipercaya, Nona Haruno."
"Begitu juga denganmu, Sascakes."
Setelah diam beberapa saat, aku kembali berbicara, "Kau tidak pernah bilang padaku kalau kau ingin menjadi penulis."
Ia melirikku. "Kau tidak pernah bertanya."
"Pernahkah kau menulis sebelumnya?" tanyaku.
Ia mengangkat bahu. "Hanya menulis jurnal dan hal-hal kecil lainnya. Aku menulis beberapa artikel saat kuliah. Kebanyakan hanya untuk bersenang-senang."
"Kau harus melakukannya," ucapku.
"Menjadi penulis?"
"Kenapa tidak?" tanyaku lagi.
Ia kembali mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Jujur saja, aku sedikit takut karena semua orang mungkin akan membenci tulisanku. Aku tidak pernah menulis untuk benar-benar dibaca siapa pun sebelumnya," tekannya.
"Kau seorang editor, kau tidak mungkin terlalu payah," ucapku.
"Beberapa editor punya penglihatan yang bagus saat mengedit, tapi mereka payah saat diminta merangkai dua kata secara bersamaan," koreksinya.
"Apa kau tipe editor yang seperti itu?"
"Tidak. Ya. Aku tidak tahu. Aku tidak terlalu memikirkannya..."
Aku menatapnya, berharap agar ia bisa mengerti ketulusanku. "Kau tidak akan pernah tahu kalau kau tidak mencobanya, Sakura," ucapku. "Kau mau mencobanya, kan?"
Ia menundukan wajahnya, melihat tangannya sejenak dan kemudian memberiku senyuman kecil yang penuh dengan keraguan. "Aku kira."
"Benar?"
"Mungkin."
"Aku ingin kau berjanji padaku kalau kau akan mencobanya, Sakura."
Ia mengerutkan keningnya, bingung. "Kenapa?"
"Karena kalau kau berjanji, kau akan lebih termotivasi untuk melakukannya," jawabku.
Ia terdiam sejenak. "Kenapa kau begitu peduli padaku?" tanyanya.
"Kau pantas untuk melakukan hal yang kau senangi, Sakura," jawabku. "Kau tidak boleh puas dengan pilihan kedua." Saat ia tidak merespon, aku bertanya, "Jadi, apa kau berjanji?"
"Aku tidak tahu, Sasuke..."
"Itu bukan sikap yang akan membuatmu menjadi seorang penulis," ucapku.
Ia mendesah dan berkata, "Baiklah, aku janji akan mencobanya."
Aku tersenyum mendengar ucapannya. "Bagus."
Sepertinya perjalanan kembali ke rumahku terlalu singkat. Kami sampai sebelum aku menyadarinya, dan Sakura akan kembali ke rumahnya di Konoha. Aku sedikit kecewa memikirkan ini.
"Ini sudah larut. Aku sebaiknya langsung pulang. Perjalananku masih panjang," ucapnya sambil tersenyum kecil untuk meyakinkanku kalau ini bukan masalah besar.
"Tidak apa-apa kalau kau mengemudi selarut ini?" tanyaku. "Kalau kau terlalu lelah, kamar tidur tamuku selalu tersedia untukmu..."
Tiba-tiba aku menyadari, untuk pertama kalinya, aku mengundang seorang gadis menginap di rumahku. Apa yang kupikirkan?
"Tidak apa-apa," ucapnya. "Sekarang baru pukul sembilan."
"Apa kau yakin?"
Ia tertawa kecil. "Ya, Sasuke. Aku yakin. Tapi, terima kasih sudah menawariku kamar tidur tamumu lagi."
Kami keluar dari mobil dan ia menyodorkan kotak makanan padaku. "Ini bisa menjadi makan siangmu besok," ucapnya; ia terdengar sedikit gugup.
"Terima kasih," gumamku. "Kau mau mengambil pakaianmu?"
"Ya. Aku juga akan mengganti pakaianku dan meninggalkannya di sini untuk diambil Rin."
Aku mempersilakannya masuk dan ia menghilang menaiki tangga. Saat ia mengganti pakaian, aku melepaskan jaket dan membuka kancing atas kemejaku. Aku tiba-tiba teringat belum menceritakan pada Sakura tentang Shikamaru.
Aku mendengar langkah kakinya di tangga sebelum aku melihatnya. "Aku lupa memberitahumu, Sakura, tapi tadi aku berbicara dengan Shikamaru di kamar kecil."
"Siapa?"
"Pria yang duduk di meja kita saat makan malam," jelasku.
"Oh! Apa yang kalian bicarakan?"
"Dia bilang dia akan melamar gadis itu malam ini."
Ia tersenyum, seluruh wajahnya seperti bersinar, dan ia berjalan mendekatiku. "Benar, kan! Aku bilang juga apa."
Ia mengenakan pakaiannya tadi malam, rambutnya sekarang berantakan, tapi kegembiraan yang terpancar dari wajahnya, membuatnya terlihat lebih cantik dari sebelumnya.
"Ya, kau benar. Apa kau melihat cincinnya?" tanyaku.
"Tidak. Tapi, apa kau melihat cara mereka saling berpandangan? Aku bisa langsung tahu kalau gadis itu pusat kehidupannya."
"Dia kelihatannya sangat bahagia," ucapku.
"Bagus. Aku ingin tahu apa yang mereka lakukan sekarang... Menurutmu apa mereka sedang menelepon semua orang yang mereka kenal?"
"Mungkin saja atau mungkin melakukan sesuatu yang lebih intim," jawabku tanpa berpikir. Mata Sakura melebar kaget, tapi ia sepertinya tidak marah.
"Dasar pria," ucapnya sambil tersenyum. "Selalu saja berpikir tentang itu."
Aku tersenyum. "Maaf."
Kami sejenak saling berpandangan. Tas sudah tergenggam di tangannya, dan tiba-tiba Sakura mendesah. "Aku menggantung gaun Rin di lemari," ucapnya. "Dan aku juga meletakkan sepatunya di sana."
"Terima kasih."
"Aku harus pergi."
Aku menatap bibirnya. Bibirnya terlihat penuh dan lembut dan menggodaku. Bibirnya seperti memanggilku, bukan untuk yang pertama kalinya malam ini. Kalau aku tidak melakukannya sekarang, kesempatanku akan lenyap.
Aku tidak pernah punya keinginan sebesar ini sebelumnya untuk mencium seseorang. Dengan spontanitas, aku mengambil kesempatan. Aku tahu ini egois, tapi aku tidak bisa menahannya.
"Sakura?" Aku melangkah mendekatinya. Sakura melihat ke arahku, namun ia tidak berpindah tempat.
"Ya?"
Sepertinya kata-kata berikut diucapkan oleh orang lain. Aku mendengar ucapan itu, tapi aku tidak merasa pernah mengucapkannya. Lidahku bergerak sendiri, getaran di tenggorokanku lah yang menjadi pertanda bagiku kalau aku yang mengucapkannya.
Wajahku semakin dekat dengannya sekarang; kata-kataku hanya berupa bisikan. "Boleh aku menciummu, Sakura?"
Sebuah senyuman kecil menghiasi bibirnya. Tanpa menunggunya menjawab, aku langsung menekankan bibirku dengan lembut ke bibirnya, aku hanya memberi sedikit tekanan, jadi ia bisa menghindar kalau ia tidak menginginkannya. Untungnya, itu tidak terjadi; ia melangkah mendekatiku, menghilangkan jarak sempit di antara tubuh kami, dan meletakan tangannya di dadaku. Aku menciumnya dengan lembut sekali, dua kali, dan kemudian pada ciuman yang ketiga, ia sedikit membuka bibirnya, dan aku mendorong lidahku masuk.
Aku meletakkan tangan di pinggulnya dan menariknya mendekat. Ia merespon dengan erangan lembut saat ciuman kami semakin panas, jari-jarinya menarik rambutku, sementara tangan kirinya mengepal kemejaku. Ciuman manis dan lambat berubah menjadi lapar, kami sepertinya menginginkan lebih, lebih, dan lebih...
Ia menghentikan ciuman kami terlalu cepat, napasnya terengah-engah. "Temanku akan menikah akhir pekan depan," ia menarik napas, dan aku kembali menciumnya, sepertinya aku tidak akan pernah puas. Ia dengan rakus membalas ciumanku sebelum melepaskan diri untuk menambahkan, "Aku ingin tahu apa kau mau menemaniku."
Ucapannya hanya terdengar samar-samar di telingaku saat aku kembali menciumnya, rasa dan wanginya melumpuhkan kemampuanku untuk berpikir.
"Akhir pekan depan?" gumamku di bibirnya, kata-kata yang kuucapkan sudah terlupakan dan tak berarti lagi.
"Ya." Aku mencium pipinya, rahangnya, lehernya... kemudian Sakura tiba-tiba menghentikanku dengan menempatkan kedua tangannya di kedua sisi wajahku. "Sasuke?"
"Ya?" napasku terengah-engah.
"Apa kau mau menemaniku?"
Saat aku melihatnya, aku merasakan berat dari tiap kata yang ia ucapkan padaku, kata-katanya sungguh jelas dan sedikit menakutkan. "Ke pernikahan temanmu?" aku mengulangi pertanyaannya. Sebagian besar alasannya karena aku ingin mengulur-ulur waktu, mencoba untuk membuat otakku berpikir apa yang sedang terjadi.
Ibu jarinya mengusap lembut pipiku, kemudian bibirnya memberi ciuman singkat di bibirku. "Ya."
Aku sadar dengan situasi ini, sadar dengan gadis cantik ini dan sadar dengan apa yang ia minta dariku. Akhir pekan depan... satu minggu dari sekarang. Apa kami masih akan terus berhubungan dalam seminggu ke depan? Apa dia akan tahu kebenarannya?
Aku harus mengatakan semuanya sekarang. Jantungku berdetak cepat hanya karena berpikir tentang itu. Mata emeralnya menatapku dengan sabar. Ia menanti jawabanku.
Kenapa kau berubah menjadi pecundang, Uchiha Sasuke?
Aku balas menatapnya dan pertahananku runtuh. Aku tidak tahu apa yang harus kupikirkan, apa yang harus kukatakan. Aku ingin menciumnya, memujanya dirinya, membawanya ke atas dan membuatnya meneriakan namaku lagi dan lagi saat ia mencapai klimaks... dan aku ingin berlutut dan memohon meminta maaf padanya karena sudah membuat taruhan itu... taruhan yang sama yang membawaku bertemu dengannya. Apa aku akan mengenalnya kalau tidak karena taruhan itu?
Ia masih menunggu jawabanku dengan sabar.
"Sakura, aku—"
"Ya, Sasuke?"
"Aku tidak bisa."
o0o
to be continued
o0o
