A Betting Man

.

.

Sakura POV

Minggu adalah hari untuk bermalas-malasan.

Aku tidak bisa tidur tadi malam, alhasil aku baru terbangun pukul 11 pagi. Semua itu gara-gara emosi yang kurasakan. Saat aku bangun, aku masih lelah, tapi ini masih bisa diatasi dengan dua cangkir kopi. Aku sempat bertanya-tanya apa yang akan dipikirkan Sasuke tentang sarapan bergiziku ini, dan kemudian aku memaki diriku sendiri karena memikirkannya.

Dia bilang tidak bisa.

Tidak bisa.

Berani sekali dia.

Setelah ia mengucapkan itu, aku langsung pergi. Aku berpura-pura itu bukanlah suatu masalah yang besar, dan memaksa suaraku agar tetap tenang, tapi Sasuke menyadarinya. Dia bilang apa kemarin?

Oh, ya. "Ini rumit, Sakura," dan "Ini semua terlalu cepat untukku." Ia benar-benar menginginkanku untuk memahaminya; ia hanya tidak punya kata yang tepat untuk menjelaskan semua itu.

Aku harap aku tahu apa yang sedang ia pikirkan; perubahan suasana hatinya yang tiba-tiba hanya menjadi cambuk buatku. Kenapa—kalau ia begitu bersemangatnya untuk memenangkan taruhan ini—tiba-tiba menolak permintaanku? Ia bahkan mengijinkanku ikut makan malam bersama orang tuanya. Bukankah itu lebih gawat dibandingkan dengan permintaanku?

Mungkin ia sudah menyerah. Ya, mungkin saja—aku sudah beberapa kali membuatnya kesal. Aku rasa makan malam kemarin adalah puncaknya, sekarang setelah aku memikirkannya kembali, sepertinya aku memang benar. Dan ia tidak memberi sedikitpun indikasi akan meneleponku lagi.

Aku masih merajuk saat mandi. Memikirkan kemungkinan tidak akan pernah lagi bertemu dengannya sedikit membuatku sedih. Walaupun aku tahu kebenaran tentangnya, aku masih menyukainya. Aku benar-benar menyukainya. Tapi, kenapa?

Ino akan mencambukku kalau ia tahu perasaanku yang sebenarnya. Ia tidak boleh tahu ini. Ia akan memaksaku untuk berkencanku dengan seorang teknisi komputer di kantornya. Siapa namanya? Juugo? Ia mungkin akan berbicara ini saat kencan pertama kami, "Sayang, kau membuat floppy disk-ku berubah menjadi hard drive," dan "Bagaimana kalau kita ke kamarku dan mengerjakan soal matematika: tambahkan tempat tidur, kurangi pakaianmu, bagi kakimu, dan kalikan."

Ya, Ino tidak boleh tahu. Aku belum menghubunginya, ia akan bersikeras menyuruhku membongkar rahasia Sasuke kalau ia tahu Sasuke tidak jadi menemaniku ke pesta pernikahan. Walaupun terdengar sangat menyedihkan, tapi aku belum siap untuk benar-benar memutuskan hubungan dengannya. Aku harus memikirkan semuanya matang-matang, tapi yang sebenarnya yang kubutuhkan itu adalah ketenangan pikiran. Aku butuh seharian penuh untuk menjernihkan pikiranku. Aku tahu aku hanya terpesona dengan mata dan tubuhnya. Dan ciumannya yang penuh gairah. Dan godaannya. Oh, Tuhan, aku sangat merindukan godaanya... dan ia benar-benar bisa menangani makan malam kemarin dengan baik. Padahal aku sudah mengharapkan Armageddon akan terjadi, atau mungkin tenggelamnya kapal Titanic yang kedua. Aku mengharapkan bencana.

Aku harus mengalihkan perhatianku. Untungnya, aku tidak perlu mencarinya jauh-jauh. Hinata meneleponku saat aku berpakaian—sudah lebih dari seminggu aku belum berbicara dengannya.

"Kau sudah punya gaun untuk ke pesta pernikahanku?" tanyanya padaku. Ia mengenalku dengan cukup baik karena tahu aku belum punya gaun sama sekali.

"Belum... tapi, aku sudah tahu di mana akan membelinya!" ucapku sia-sia. Ia tahu ini semua omong kosong.

"Omong kosong, Sakura. Bagaimana kalau kita bertemu di Starbucks setengah jam lagi—kita akan mencari gaun untukmu."

Belanja gaun kedengarannya tidak menyenangkan. Bahkan, terdengar seperti penyiksaan, tapi itulah yang kubutuhkan sekarang. Sebuah pengalihan pikiran.

Hinata bertubuh cukup atletis dan staminanya tidak pernah habis. Ia bisa berjalan dengan sepatu hak tinggi selama berjam-jam tanpa merasa lelah, sedangkan aku sudah mulai menyeret-nyeret kakiku, padahal aku hanya menggunakan sneaker. Tapi, sebenarnya, kakiku sudah sakit sejak dua hari belakangan ini.

Dan tentu saja, Hinata tidak peduli.

"Shannaro, kakiku rasanya seperti habis berjalan di jarum. Apa kau mau memperlambat langkahmu?"

Ia menatapku tidak percaya. "Bisakah kau berjalan dari satu sisi mall ke sisi yang lain tanpa mendapat serangan asma? Apa kau masih menemui Rock Lee?"

Rock Lee adalah personal trainer-ku untuk... empat hari. Setelah melakukan olah raga yang penuh penyiksaan itu, aku langsung menghindari semua teleponnya dan memilih jalan yang lebih jauh menuju kantor hanya untuk menghindari tempat gym.

"Kadang-kadang. Mungkin," jawabku mengelak. Ia menaikan sebelah alisnya melihatku. "Baiklah. Aku tidak lagi menemuinya. Kau senang?"

"Untuk apa aku senang? Kau memperlambat perjalanan kita. Kalau kau masih menemuinya kau akan mampu mengikutiku."

"Hinata, ia menyuruhku push up seratus kali dalam semenit. Aku bersumpah kedua lenganku tidak bisa digerakan lagi setelahnya. Aku tidak mau melakukannya lagi," jawabku.

"Naruto dan aku jogging di sepanjang pantai setiap pagi. Bagaimana kalau kau ikut dengan kami?" tanyanya.

"Jam berapa?" tanyaku balik.

"Jam enam."

"Kau bercanda? Aku tidak bisa bangun sepagi itu," jawabku tidak percaya.

"Kami berdua harus berkerja jam delapan. Kami tidak punya pilihan lain. Dan olah raga pagi akan membuatmu merasa lebih baik," ucap Hinata.

"Tidur membuatku merasa lebih baik..."

"Tidur tiga puluh menit lebih awal. Memangnya apa lagi yang kau lakukan akhir-akhir ini selain begadang menonton tayangan ulang Lost?"

Aku sedikit tersinggung mendengar ucapannya, tapi aku tahu ia tidak bermaksud seperti itu.

"Aku melakukan banyak hal," ucapku membela diri.

Ia berpura-pura kaget. "Oh ya? Seperti apa?"

"Sebagai informasimu saja, aku keluar dua hari berturut-turut di akhir pekan ini." Ha, rasakan itu!

"Dengan siapa kau keluar akhir pekan ini?" tanyanya bingung.

"Temanku. Rin," jawabku samar.

"Rin siapa?"

"Temanku," jawabku lagi.

"Ya, aku tahu itu. Tapi, bagaimana kau bisa bertemu dengannya?"

"Um, dia itu teman dari temanku." Shannaro. Aku tidak ingin berpikir tentang ini sekarang. "Dia adik temannya pacar baru Ino."

Hinata mengerutkan keningnya saat mendengar ucapanku. "Siapa pacar Ino sekarang?"

"Namanya Sai. Mereka sudah berkencan seminggu atau lebih."

"Apa orangnya baik?" tanya Hinata.

"Ya, dia baik. Ino benar-benar menyukainya." Lalala... jangan berpikir tentang Sasuke...

"Bagus kalau begitu. Ino orangnya suka pilih-pilih. Aku bersumpah seandainya saja George Clooney mengajaknya berkencan besok, dia pasti akan melihat ada yang salah dengannya."

"Yeah, dia tahu apa yang dia mau," ucapku dengan tenang. Aku melihat sepotong gaun hitam jelek, mencoba memikirkan apapun selain dirinya.

Seorang salesman datang untuk membantu kami saat Hinata menyodorkan gaun kuning berpotongan pendek. Gaunnya cantik, begitu juga dengan gaun yang kutemukan di toko sebelumnya, tapi Hinata bersikeras agar kami "memeriksa setiap toko untuk memastikan tidak ada lagi yang lebih bagus".

Salesman, dengan nama Suigetsu di name tag-nya, memerhatikanku sekilas. "Ah, ya. Aku tahu gaun yang cocok untukmu. Kami baru saja menerima kiriman gaun dari Alberto Makali." Ia menuntun kami ke belakang dan menunjukan enam potong gaun. Mata Hinata langsung menyala seperti lampu Natal.

"Dia akan mencoba semuanya," ucap Hinata penuh semangat.

Bagus sekali.

Satu setengah jam berlalu dan aku rasanya mau mati. Aku tidak lagi mencoba untuk menyembunyikan kekesalanku. Aku memberitahu Hinata, dengan seramah mungkin, kalau aku melihat satu gaun lagi, aku akan muntah. Ia memberitahuku, dengan galak, kalau aku harus menahan muntahanku sampai menit terakhir, dan aku mengatakan kalau aku masih punya seminggu lagi untuk membeli gaun.

Catatan pribadi: Jangan pernah menunjukkan tanda-tanda kalau kau tidak akan berdandan semaksimal mungkin di hari perayaan apapun yang melibatkan Hinata. Dampaknya bisa menyakitkan, bahkan lebih sakit dari pada mencoba 20-100 gaun sekaligus dengan kaki sakit.

Aku memilih gaun biru muda berpotongan pendek dengan harga yang lumayan mahal. Aku tidak tahu ada begitu banyak aturan saat membeli gaun untuk pesta pernikahan. Aku tidak boleh memakai gaun putih, hitam, merah, terlalu pendek, atau norak. Ada untungnya Hinata menemaniku berbelanja, karena aku gatal ingin membeli sebuah gaun merah cantik yang akan kupakai ke pesta pernikahannya.

Kami berjalan menuju sebuah restoran kecil yang terletak tidak jauh dari tempatku membeli gaun. Hinata memesan sangria, tapi aku belum pulih benar; mencium bau alkohol saja sudah membuatku ingin muntah.

Hinata memberitahuku setiap detail pernikahannya. Aku lebih sering mendengar ucapannya, karena aku tidak tahu banyak soal pernikahan. Sejujurnya, aku bersyukur karena ia tidak lagi tertarik membahas Ino dan pacar barunya. Ia memberitahuku dengan antusias kalau Naruto sudah menemukan band untuk resepsi pernikahan mereka.

Kami hampir selesai makan saat seseorang berjalan melewati meja kami dan kembali berbalik. Ia hampir bertabrakan dengan pelayan. Pada awalnya aku tidak memerhatikannya, sampai ia berkata, "Sakura?"

Saat aku mengangkat kepalaku, aku hampir tersedak minumanku sendiri. "Morio?"

"Oh, Tuhan, aku tidak percaya ini benar-benar kau! Lama tidak bertemu!"

Morio itu "semacam-teman-dekatku" saat kuliah. Kami berkencan beberapa kali dan hubungan kami menjadi dekat. Tapi, keluarganya tinggal di Amegakure, hampir seribu kilometer jauhnya, dan ia telah sudah memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya setelah lulus kuliah.

Ia adalah orang pertama yang benar-benar kusuka. Sudah hampir dua tahun sejak terakhir kali aku melihatnya, tapi, sekarang ia berada di sini... kenapa?

"Ya," jawabku, tiba-tiba merasa malu. "Apa yang kau lakukan di Konoha?"

"Aku sedang mencari tempat tinggal di sini." Ia menyeringai, senang saat mengatakan ini.

"Tapi, bagaimana dengan keluargamu?"

"Aku butuh perubahan," ucapnya mantap. "Aku menemukan pekerjaan yang bagus di sini dan memutuskan untuk mengambil kesempatan sekali seumur hidup. Aku masih bisa mengunjungi mereka. Dengan gajiku sekarang, aku akan bisa membeli tiket pulang."

Aku kaget mendengarnya. "Morio, itu... itu mengagumkan sekali! Selamat atas pekerjaan barumu!"

Ia tersenyum. "Terima kasih."

"Oh, ngomong-ngomong, ini Hinata," aku memperkenalkan mereka. "Hinata, Morio. Dia temanku saat kuliah dulu."

Hinata tersenyum ramah. "Senang bertemu denganmu, Morio."

Morio tersenyum pada Hinata sebelum bicara, "Kita harus segera nongkrong, Sakura. Kenalanku tidak banyak di sini. Senang rasanya melihat wajah yang familiar."

"Um, oke..."

"Berapa nomormu?" Ia menarik ponselnya dari saku dan aku menyebutkan nomor ponselku padanya. Ia kemudian meneleponku, dan segera menutup teleponnya sebelum aku punya waktu untuk mencari di mana ponselku berada. "Sekarang kau punya nomorku. Aku akan menghubungimu nanti, oke? Senang bertemu denganmu, Hinata."

Setelah ia keluar, Hinata langsung bersandar ke arahku. "Oh, Tuhan, siapa dia? Dia tampan sekali!" bisiknya seru.

"Temanku," gumamku. Wajahku terasa panas.

"Oh ya. Teman," ucapnya skeptis.

"Hinata, aku serius."

"Aku juga. Kau akan meneleponnya, kan?"

"Aku tidak tahu..."

Ia mengerang. "Tolong jangan lakukan ini padaku, Sakura. Apa kau benar-benar lebih memilih untuk menonton tayangan ulangan serial televisi dari pada itu—" Tangannya bergerak liar. Aku kembali merasa sedikit terluka, aku kecewa karena—ternyata—aku tidak semengagumkan yang kukira.

Aku hampir mendengus. Ya, benar sekali, Sakura.

Tapi, Sasuke langsung masuk ke pikiranku, dan kegelisahanku meningkat sepuluh kali lipat. Aku tidak boleh berpikir tentangnya, tapi ini hampir mustahil untuk dilakukan. Sambil mengabaikan peringatan nuraniku, aku mengambil ponsel dari tas.

Satu panggilan tidak terjawab dari Morio. Dan tidak ada apa pun dari Sasuke.

Aku menghela napas saat memasukan kembali ponsel ke dalam tas. Hinata masih menatapku penuh harap.

"Bagaimana?" tanyanya lagi.

"Tentu saja, Hinata. Aku rasa tidak ada salahnya untuk menelepon Morio."

Langit sudah gelap saat aku pulang. Kekagetanku melihat Morio sudah lama hilang, perasaan itu sekarang digantikan oleh kepahitan, sebuah perasaan yang tidak diinginkan sama sekali dan tidak bisa ditundukkan oleh musik keras atau pun kemacetan lalu lintas. Aku berbelok tajam ke tempat parkiran gedung apartemenku, membuat tasku jatuh dari kursi penumpang dan menumpahkan buku catatan kecil, make-up, permen karet, dan sampah ke lantai mobil. Aku mengumpat keras melihatnya.

Setelah mobilku terparkir, aku memiringkan tubuhku untuk menjangkaunya dan mulai meraih semua barang-barang yang terjepit di antara kursi dan laci mobil. Aku bingung saat menemukan kotak plastik tipis di antara pintu dan kursi penumpang. Ini DVD sewaan kemarin, The Green Mile.

Aku menatapnya sejenak. Bagaimana caranya DVD ini bisa masuk ke dalam mobilku? Aku mengendarai mobilku setelah kami keluar dari tempat penyewaan film kemarin, tapi aku tidak ingat membawanya bersamaku...

Aku mengangkat bahu dan memasukannya ke dalam tas, membawanya masuk ke apartemen. Aku mencuci muka dan mengganti baju, kemudian aku berdebat sendiri apa sebaiknya aku menonton tayangan ulang Lost atau tidak. Akhirnya, aku menggeleng—sialan Kau, Hinata!

Aku berjalan ke tempat penyimpanan DVD-ku, dan menelusurinya sampai menemukan Lost season berapa yang berbisik menyebut namaku. Siapa yang peduli kalau aku menontonnya lagi—siapa yang akan tahu?

Aku akan tahu, nuraniku berbisik. Aku menatap tajam perutku, seolah-olah suara imajiner menyeramkan ini berasal dari sana.

Setelah beberapa saat, aku akhirnya menyerah dan menarik keluar The Green Mile dari tasku dan membaca dengan teliti penutup belakang kotaknya. Yang pasti, ini bukan film komedi. Kami tidak pernah mendapat kesempatan untuk menonton salah satu film Sasuke kemarin... aku bisa sedikit melihat sesuatu yang dapat membuatnya tertarik. Tapi, apa itu penting sekarang? Dia menolak untuk menemaniku dan bahkan sampai sekarang belum menelepon.

Oh sial, aku sudah menonton koleksi DVD-ku lebih dari seratus kali. Apa salahnya menonton ini? Mungkin film ini bagus. Dan mungkin, kalau memang kenyataannya film ini bagus, aku tidak akan mengembalikannya, biarkan saja Sasuke membayar dendanya. Ya, biar dia tahu rasa.

Aku memasukan DVD film ke dalam DVD player, lalu mengambil minuman dari dapur, dan duduk di sofa sambil melemparkan selimut di tubuhku.

Sudah satu jam film berputar, aku benar-benar terpesona dengan serangan mendadak dari Billy the Kid. Aku tertarik, aku ingin tahu apa yang John Coffey lakukan sehingga ia bisa berakhir di tempat seperti ini.

Empat puluh lima menit kemudian aku tidak mau berkedip, karena aku takut untuk melewatkan satu adegan saja.

Satu jam kemudian aku merasa benar-benar tertekan. Aku menangis tersedu-sedu sambil mengutuk Sasuke karena merekomendasikan film menyedihkan seperti ini; dan kemudian aku mengutuk diriku sendiri karena menontonnya. Dan Sasuke bahkan tidak di sini!

Aku kembali memeriksa ponselku sambil berharap aku tidak mendengar ada pesan masuk. Tentu saja itu tidak terjadi; kesedihanku dengan cepat berubah menjadi kemarahan.

Hidupku berjalan dengan masuk akal sebelum taruhan bodoh dan semua "rayuan" ini terjadi. Memang benar aku tidak punya kehidupan yang paling menarik di dunia, tapi aku bisa menerimanya. Aku menikmati tayangan ulang Lost setiap Jumat malam. Hanya karena Hinata bilang tayangan itu membosankan, bukan berarti hidupku juga kurang memuaskan dari hidupnya.

Aku terdiam sejenak sebelum mengangkat ponselku dan mencari nomor Sasuke. Aku tak tahu apa yang kulakukan.

Panggilanku masuk ke voicemail-nya. Beberapa detik berlalu sampai aku akhirnya meninggalkan pesan.

"Hei Sasuke, ini Sakura. Aku hanya ingin memberitahumu kalau kau meninggalkan The Green Mile di mobilku. Aku pikir kau ingin mengembalikannya... jadi, um, telepon aku lagi. Mungkin saat kau berada di Konoha, kau bisa datang mengambilnya." Tiba-tiba aku kembali merasa terharu dan suaraku pecah. Aku berusaha untuk menyembunyikannya. "Dan um... aku menontonnya. Sudah kubilang padamu aku tidak suka film sedih. Tapi, um... ya. Sampai nanti."

Aku masih terisak saat berjalan ke kamar mandi, tapi aku pikir emosi yang kurasakan sekarang tidak ada hubunganya dengan film tadi. Aku tidak tahu kenapa aku merasa seperti ini, tapi yang jelas aku benar-benar... sedih. Sistem hormonku pasti sudah rusak; memikirkan Sasuke yang akan pergi untuk selamanya meninggalkan rasa pahit di mulutku. Aku tidak ingin dia pergi, aku hanya ingin dia menjadi normal. Mungkin kalimat yang lebih tepat adalah aku ingin dia menyukaiku. Dan hanya aku.

Tapi, bagaimana caranya dia bisa merasakan itu? Semua tindakan yang kulakukan selalu membuatnya jengkel, memaksakan diriku masuk ke keluarganya dan membobol rumahnya. Tapi, dia juga lebih jahat dariku, dia membuat taruhan itu. Aku mendengus—pasangan seperti apa kami ini? Ini akan menjadi cerita yang menarik untuk diceritakan pada anak-cucuku kelak. Aku menggelengkan kepala saat melihat cermin.

Aku seharusnya menonton Lost.

Aku membilas wajahku dan mencoba untuk menghapus jejak air mata. Setiap air mata yang berhasil kuhapus, pasti akan digantikan dengan yang baru. Tapi, sialnya, aku merasa lebih baik saat menangis. Aku bisa merasakan stresku terangkat dari bahu; aku merasa lebih ringan.

Saat aku sudah selesai membersihkan wajahku, memasukan film kembali ke dalam kotaknya, dan bersiap-siap untuk tidur. Aku merasa sedikit lebih baik, meskipun aku masih terlihat berantakan. Mataku merah dan bengkak, wajahku bernoda bekas air mata. Sambil menghela napas, aku menyelip ke bawah selimut dan mencoba untuk tidur.

Upayaku sia-sia. Aku berbalik dan gelisah, aku tidak bisa beristirahat, tidak bisa menjernihkan pikiranku bahkan untuk satu menit saja. Akhirnya aku bangun dari tempat tidur dan kembali ke ruang tengah sambil membawa selimut, aku harap pikiranku dapat teralihkan dengan menonton iklan konyol dan tayangan serial lama.

Terdengar suara ketukan di pintu. Tubuhku langsung membeku sambil bertanya-tanya siapa yang datang berkunjung selarut ini?

Ketukan kembali terdengar di pintu, kali ini suaranya lebih keras. Aku beranjak dari sofa, menyeka wajahku, dan bergegas ke pintu. Aku berjinijt untuk mengintip melalui lubang pintu; napasku langsung berhenti saat melihat siapa tamuku.

o0o

Sasuke POV

Aku merasa tidak normal karena memikirkan seseorang sampai seperti ini—memikirkannya sepanjang waktu, terobsesi dengan setiap detail kehidupannya dan bertanya-tanya apa yang terjadi kalau kami bertemu dalam situasi yang berbeda.

Apa aku akan mengenal Sakura kalau aku tidak membuat taruhan? Mungkin tidak. Aku mungkin tidak akan pernah mencoba untuk mendekatinya dalam situasi normal—bukan karena ia tidak layak untuk dikejar, tapi karena sudah jelas keinginan kami berbeda.

Dia seorang gadis tradisional. Sayangnya, aku bukan seorang pria tradisional. Ini sudah menjadi nasib burukku.

Aku memutuskan untuk menenangkan diri hari ini. Setelah kejadian tadi malam, aku pikir aku akan kalah taruhan. Melihatnya terluka setelah aku mengatakan aku tidak bisa menemaninya ke pesta pernikahan benar-benar membuatku goyah. Ia ingin tahu alasannya; dan apa lagi yang bisa kukatakan padanya? Aku bisa saja mengatakan hal yang sebenarnya, tapi itu akan mengakhiri segalanya. Ia mungkin akan menamparku—aku benar-benar layak mendapatkan ini—sebelum menyuruhku untuk menjauh darinya.

Aku tidak akan pernah lagi melihatnya. Aku akan kalah taruhan. Walaupun Sakura pantas mendapatkan yang terbaik, tapi aku pria yang egois.

Aku tidak siap membiarkan itu semua terjadi. Aku berbohong, atau setidaknya membentengi kebenaran, dengan mengatakan semua ini terlalu cepat dan aku perlu waktu untuk berpikir. Ia menerima jawabanku—setidaknya, secara lisan—tapi, aku tahu ia kecewa. Ia pergi secepat kilat setelah meyakinkanku kalau ia mengerti dengan dilema yang kurasakan dan akan menghubungiku lagi besok. "Aku cuma kecapean, Sasuke," ucapnya. "Aku tidak ingin membahasnya lagi."

Sudah ribuan kali aku memikirkan untuk meneleponnya hari ini. Aku menghabiskan waktuku di rumah Bibi Keiko dan Paman Kagami hari Minggu ini untuk melepas rinduku bersama Rin sebelum ia berangkat menuju Tokyo besok pagi. Tentu saja Rin ingin berbicara tentang Sakura.

"Aku benar-benar menyukainya, Sasuke-nii. Bibi Keiko juga. Jadi, setidaknya kau tidak perlu mengkhawatirkan keluarga kita akan membencinya. Apa kau pikir dia akan datang makan malam keluarga kita sebelum Natal? Aku rasa Kakashi juga akan ikut."

"Demi Tuhan, Rin. Aku baru mengenalnya seminggu," jawabku tidak habis pikir.

Ia mendesah tidak sabar. "Aku sudah bilang, Sasuke-nii. Dia berbeda, aku bisa merasakannya. Dia akan tetap bersamamu, selama kau tidak berbuat macam-macam." Kalau saja dia tahu. "Untungnya, kau punya aku untuk membantu mengarahkanmu," tambahnya.

Ya, terima kasih banyak—pikirku sinis.

Setelah menghabiskan sepanjang hari bersama keluargaku, aku memeluk Rin sebelum mengucapkan selamat jalan dan pulang setelah makan malam. Aku membuang waktu sekitar setengah jam di rumahku sebelum memutuskan untuk menginap di Konoha malam ini. Aku tidak terlalu sering menginap di sana dan, meskipun ini kedengarannya gila, tapi aku rasa rumahku di sana akan membawaku lebih dekat dengannya. Kenapa aku harus menyiksa diriku dengan cara seperti ini?

Aku mengambil kunci mobil dan berangkat.

Rapat pertamaku dimulai jam setengah sepuluh besok pagi, jadi aku tidak perlu berada di kantor sebelumnya. Ini akan memberiku banyak waktu untuk tidur dan kembali ke Suna di pagi hari, kan?

Tidak ada lagi yang masuk akal. Aku menolak untuk menelepon gadis itu, berusaha untuk tidak memikirkannya, tapi aku berada di kota yang sama dengannya hanya untuk memberiku secuil kepuasan ini. Aku masih berdebat sendiri tentang apa sebaiknya aku menelepon atau tidak di sepanjang perjalanan. Aku berhasil menolak hasratku dan memutuskan untuk memberi jarak dengannya.

Tiba-tiba, lima belas menit sebelum memasuki kota, ponselku berdering. Sambil melaju di jalan raya, aku menarik ponselku dari saku dengan kikuk—panggilan ini sudah berdering tiga kali—dan memeriksa caller ID.

Ini telepon darinya.

Aku membeku menatapnya. Pikiranku langsung dirasuki sejuta skenario, aku takut ia akan berteriak padaku atau lebih buruk lagi bersikap tidak acuh. Apa yang ia inginkan? Situasi sekarang tidak baik-baik saja, aku bisa merasakannya.

Saat aku bersiap-siap untuk mengangkat telepon, dering ponselku berhenti. Aku segera meneleponnya kembali, tapi langsung terhubung ke voicemail-nya. Mungkin dia meninggalkan pesan untukku... beberapa saat kemudian teleponku kembali berbunyi, kecurigaanku benar.

"Hei Sasuke, ini Sakura. Aku hanya ingin memberitahumu kalau kau meninggalkan The Green Mile di mobilku. Aku pikir kau ingin mengembalikannya... jadi, um, telepon aku lagi. Mungkin saat kau berada di Konoha, kau bisa datang mengambilnya. Dan um... aku menontonnya. Sudah kubilang padamu aku tidak suka film sedih. Tapi, um... ya. Sampai nanti." Suaranya terdengar pecah di akhir pesan. Hampir terdengar seolah-olah ia... menangis?

Aku tertegun. Apa ia menangis gara-gara film? Atau gara-gara aku?

Bagus sekali, Sasuke. Kau berhasil. Seolah-olah membuat taruhan itu bukan hal terburuk di dunia... dan sekarang kau berhasil membuatnya menangis.

Aku akan gila, aku yakin itu. Aku langsung keluar dari jalan raya utama dan berbelok ke kiri. Tekadku sudah bulat; aku akan menemui Sakura.

Lima belas menit kemudian, aku sudah berdiri di depan pintu apartemennya. Semuanya tenang; tidak ada seorangpun di lorong. Aku tidak bisa menenangkan deburan jantungku saat aku mengetuk pintu.

Aku menunggu sebentar, tidak ada jawaban. Aku mengetuk sedikit lebih keras dan berpikir mungkin dia sudah tidur. Tapi, ini baru lima belas menit sejak ia meneleponku.

Apa benar dia berada di sini? Mungkin dia meneleponku dari tempat lain. Pikiran ini membuat perasaanku bercampur antara lega dan kecewa.

Dan kemudian pintu mengayun terbuka.

Sakura berdiri di depanku mengenakan piyama, rambutnya acak-acakan, matanya merah dan bengkak. Sudah jelas dia menangis. Dia sepertinya kaget melihatku.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya parau.

Aku tertegun. Apa yang aku lakukan di sini?

Sambil gelisah, aku menjawab, "Aku menerima pesanmu. Kau kedengarannya sedang bersedih."

Ia menggeser kakinya dan menyilangkan lengan di depan dadanya, ia tidak mau melihatku. "Yeah... filmnya benar-benar menyedihkan."

"Aku minta maaf. Aku bahkan tidak tahu film itu ada bersamamu..."

Kemudian ia seperti tidak bisa lagi menahan perasaannya. Air mata diam-diam mulai meluncur di pipinya; ia terburu-buru menyeka wajahnya tapi itu tidak bisa menghentikan aliran air mata.

Dalam sekejap, aku sudah berada di sisinya dan ia berada dalam pelukanku. "Sakura, apa yang terjadi?" tanyaku khawatir. Ia memelukku erat sambil terisak di dadaku. Tubuhnya terasa hangat dan pas di tubuhku.

"Aku hanya... aku tidak bisa... Aku merasa sangat emosional sekarang, Sasuke. Semuanya berantakan."

"Shh, Sakura. Tidak apa-apa. Apa kau mau menceritakannya padaku?" bujukku dengan lembut.

"Tidak... tidak malam ini," ucapnya yakin. "Aku tidak ingin membicarakannya sekarang."

"Baiklah, kapanpun yang kau mau, Sakura. Apa kau sudah tidur?"

"Aku mencoba untuk tidur," isaknya. "Tapi, aku tidak bisa tidur. Aku menonton TV lagi."

"Kemarilah." Aku membimbingnya menuju sofa. Apartemennya gelap, hanya diterangi cahaya redup dari televisi. Ada selimut di atas sofa, ia membungkus tubuhnya sebelum duduk di depanku, tangannya menggenggam tanganku.

Ia sedikit menarik tanganku. "Apa kau tidak mau duduk?" tanyanya. Ia menarik kembali selimut dari tubuhnya, mengundangku, dan aku duduk di sampingnya. Ia kemudian merapat ke sisiku. "Kau seharusnya meneleponku dulu," ucapnya.

"Aku tahu. Aku sudah memikirkan itu sepanjang hari ini. Aku hanya—aku sedang memikirkan beberapa hal," aku mencoba menjelaskan.

"Oh." Suaranya terdengar pelan. Sial. Seharusnya aku meneleponnya.

"Kemarilah." Aku mendorong bahunya, mendesaknya untuk berbaring, sebelum aku berbaring di sampingnya, di sofa. Punggungnya menekan dadaku, rambutnya di hidungku. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku merasa terpecah; rasanya seperti tubuhku berjalan ke dua arah yang berbeda, masing-masing setengah bagian menginginkan hal yang berbeda. Di satu sisi aku ketakutan setengah mati; di sisi lain aku ingin dekat dengannya, dan menginginkan lebih.

Tiba-tiba Sakura memutar tubuhnya dan berhadapan denganku. Aku menghela napas puas saat menariknya semakin dekat, mencium keningnya, dan pipinya yang berurai air mata, dan kemudian bibirnya, mulut kami tertarik seperti magnet. Ciuman ini lembut, tidak tergesa-gesa, dan begitu menjanjikan. Aku ingin menghapus semua tindakan yang pernah kulakukan padanya.

Aku meletakan keningku di keningnya dan satu menit berjalan dalam keheningan.

"Aku tidak tahu kenapa aku sangat menyukaimu," bisiknya di dalam kegelapan malam. Aku bisa merasakan napasnya di pipiku, panas napasnya menyerap ke dalam kulitku ketika ucapannya menyerap ke dalam pikiranku.

"Aku juga tidak tahu kenapa kau menyukaiku," jawabku sambil berbisik. Aku menunggu ia bertanya apa maksudku—apa yang membuatku berpikir seperti ini—tapi, ia tetap diam.

"Sasuke?"

"Hmm?"

"Kenapa kau datang ke sini?"

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mencari tahu jawabannya. "Karena aku juga benar-benar menyukaimu." Aku menariknya semakin dekat dan aku bisa merasakan tubuhnya rileks dalam pelukanku.

Beberapa menit berlalu. Aku tahu aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya.

"Sakura?" bisikku sambil bertanya-tanya apakah dia sudah tidur atau belum.

"Hm?"

"Apa kau... ada orang lain... apa ada orang lain yang mengajakmu ke pesta pernikahan?"

Aku merasa tubuhnya sedikit membeku dalam pelukanku, tapi ia tidak bergerak. "Tidak ada," gumamnya di dadaku. Aku tidak dapat menyangkal kalau aku benar-benar merasa lega.

"Apa kau... masih ingin pergi bersamaku?" tanyaku lagi.

Ia sedikit bergerak, dan mengangkat wajahnya untuk melihat wajahku. "Apa kau mau menemaniku?" tanyanya hati-hati.

"Ya. Maksudku, kalau kau tidak keberatan," jawabku.

Ia sedikit mengangguk dan tersenyum kecil. Rasanya aku ingin melompat-lompat kegirangan. "Baiklah."

o0o

to be continued

o0o