A Betting Man
.
.
Sakura POV
Samar-samar aku mendengar suara alarm. Suaranya terdengar begitu jauh, sudah seperti bisikan, yang memintaku untuk bangun.
Aku membuka sebelah mataku dan seluruh tubuhku langsung terbangun. Aku tiba-tiba merasa pegal di leherku, sakit di bahu, dan ada tubuh yang sangat hangat menekan punggungku. Sepasang lengan memelukku dengan erat, hanya lengan inilah yang menahanku agar tidak terjun ke lantai dari pinggir sofa. Dengan perlahan, napasnya meniupkan udara panas ke leherku.
Aku langsung menyadari di mana aku berada dan apa yang terjadi. Aku takut untuk bergerak, tubuh kami sangat dekat, dan aku takut gerakan sedikit saja akan langsung menbuatnya terbangunkan. Kapan aku tertidur? Hal terakhir yang kuingat adalah aku mendengar lagu iklan ramen dari televisi saat Sasuke memintaku ke pesta pernikahan bersamanya. Dan bibir lembutnya melumat bibirku saat ia memberitahu ia menyukaiku. Apa dia mengatakan yang sebenarnya?
Sebagian besar diriku berharap begitu.
Aku tidak tahu kenapa aku menginginkan lebih darinya. Pada akhirnya, ia masih membuat taruhan untuk meniduriku. Itu hal yang mengerikan untuk dilakukan, sepertinya ini tidak sesuai dengan karakternya, tapi apa aku benar-benar mengenalnya? Atau ini semua hanya sandiwara? Apa semua yang ia katakan padaku hanyalah kebohongan belaka?
Aku tidak bisa memastikan itu semua, tapi ada satu hal yang kutahu pasti: ia masih tidak jujur. Kenapa ia tidak mengakui saja taruhannya? Aku belum membongkar rahasianya, tapi segalanya akan lebih mudah kalau ia mengaku sendiri.
Aku kembali berpikir keras. Uang sepertinya bukan menjadi taruhan mereka. Sasuke kaya raya. Tapi, apa lagi yang bisa mereka pertaruhkan? Apa Sasori punya rahasia gelap Sasuke? Apa mungkin dia hanya memeras Sasuke? Tapi tidak, Naruto bilang Sasuke dengan suka rela menerima taruhan itu.
Sasuke mendesah di belakangku, memelukku lebih erat ke dadanya. Aku senang dengan posisi kami sekarang, aku bisa merasakan jantungnya berdetak di punggungku, napasnya di rambutku. Tubuhnya yang keras, hangat dan nyaman, hanya celana jinsnya yang menjadi penghalang di antara kami sekarang.
Kemudian ia bergeser, dan aku merasakan itu. Itu. Di belakangku, menusuk tepat ke celah pantatku, berjarak hanya dua inci dari zona bahaya. Oh, Tuhan, tolong selamatkan aku sekarang. Apa yang akan kulakukan? Membangunkannya? Pindah? Kalau aku bergeser sedikit menjauh, aku akan jatuh dari sofa.
Aku bisa merasakan wajahku memanas, panasnya sudah menyebar sampai ke dadaku, saat aku berdebat dalam hati dengan setiap pilihan yang tersedia. Untungnya, Sasuke membawaku keluar dari penderitaan ini saat ia melonggarkan pelukannya dan sedikit berbalik, mengarahkan itu-nya ke tempat yang jauh lebih aman.
"Mmm... Sakura?" gumamnya. Ia melepaskan lengannya dari tubuhku saat ia menggosok wajahnya.
"Ya?" tanyaku parau.
"Apa yang kau—" Ia sedikit duduk dan hampir melemparkanku keluar dari sofa, namun ia dengan cepat memelukku lagi sebelum aku terjatuh. "Jam berapa sekarang?"
Alarmku akhirnya berhenti berbunyi, tapi aku hapal jadwal alarmku berbunyi setiap pagi. "Setengah tujuh lebih sedikit."
"Oh." Ia kembali melemaskan tubuhnya ke sofa sambil menarikku ke dadanya.
"Tapi, aku harus bangun," ucapku enggan. Sekarang, setelah... gangguan... kecil tadi tidak lagi menusuk pantatku, aku bisa rileks dan menikmati hangat tubuhnya dengan nyaman.
"Jam berapa kau masuk kerja?" gumamnya di leherku. Aku bisa merasakan bibirnya mengecup kulit belakang leherku, dan bulu kudukku berdiri dibuatnya.
"Delapan," jawabku pelan.
"Lima menit lagi." Ia membenamkan wajahnya ke leherku dan lama waktu yang ia sebutkan terdengar sangat singkat.
"Oke."
"Mmm." Tidak ada jarak sedikitpun di antara kami dan aku tidak pernah sebahagia ini. "Aku tidak ingat kapan aku tertidur," ucapnya mengantuk.
"Aku juga."
Kami berbaring seperti itu selama beberapa saat, meskipun leher dan bahuku sakit, tapi aku merasa lega dan nyaman. Aku merasa betah dan aku tidak bisa membayangkan cara lain yang lebih baik untuk bangun di pagi hari.
Kemudian alarmku kembali berbunyi. Kami berdua serentak mengeluh.
"Aku harap kita tidak harus berangkat bekerja," gumamnya, menyuarakan pikiranku.
"Aku juga berharap begitu. Jam berapa kau harus berada di kantor?"
"Sembilan tiga puluh. Aku sebaiknya pergi sekarang agar aku bisa mandi dan mengganti pakaian," ujar Sasuke.
Aku dengan enggan mengangguk dan melepaskan diri dari pelukannya dan bangkit dari sofa. Aku kemudian mulai menyisir rambutku dengan tangan sambil berharap penampilanku tidak semengerikan biasa.
Sasuke berdiri dan merapikan pakaiannya, kemudian langsung melipat selimut. Aku langsung melambaikan tangan ke arahnya.
"Tidak usah repot-repot, aku akan melemparkannya ke tempat tidurku." Aku mengambil selimut dari tangannya, dan saat aku kembali dari kamar, aku memerhatikan pakaian dan rambutnya yang kusut, dan bahkan ada bekas bantal di pipinya. Saat baru terbangun seperti ini saja ia masih terlihat sangat tampan. Aku tanpa malu-malu memeriksa penampilannya, mataku secara tidak sadar bergerak ke bawah dan pikiranku langsung membayangkan ereksinya yang menusuk pantatku beberapa menit yang lalu. Aku bisa merasakan panas mulai menjalar dari wajah ke seluruh tubuhku.
Sasuke menyadari wajahku yang memerah dan bibirnya langsung tersenyum miring dengan sombong. Aku tiba-tiba teringat dengan siapa aku berurusan dan langsung memutar mata.
"Jangan mulai," aku memperingatkannya.
Ia mengangkat kedua tangannya dengan polos. Ia masih tersenyum. "Aku tidak mengatakan apa-apa."
"Tidak ada hal baik yang pernah kau pikirkan. Ayolah, aku harus mandi." Ia terlihat kaget dan aku bertanya-tanya apa dia mengiraku mengundangnya ikut mandi bersamaku. Keparat. Jangan bermimpi. "Kau mau minum kopi atau yang lainnya sebelum kau berangkat?" tanyaku sambil berharap ini dapat memperjelas ucapanku sebelumnya.
"Um, tidak usah. Terima kasih." Ia berdeham. "Aku akan membelinya dalam perjalananku kembali ke Suna."
"Oke. Apa kau..." Aku ingin bertanya apa ia akan datang kembali, apa ia akan menelepon, apa aku akan pernah melihatnya lagi, tapi aku menyadari betapa menyedihkannya pertanyaanku dan langsung menutup mulut.
"Apa aku apa?" tanya Sasuke.
"Tidak ada. Kau yakin kau tidak butuh apa-apa sebelum kau pergi?"
Ia berpikir sejenak. "Boleh aku mendapat ciuman selamat jalan?"
Aku langsung khawatir dengan bau napasku. Apa aku akan merusak suasana kalau aku menyikat gigiku dulu?
Mungkin.
Bibirku tiba-tiba bergerak, membentuk kata-kata atas kehendaknya sendiri. "Tentu saja boleh." Shannaro, bukan ini yang seharusnya kukatakan. Jantungku berdetak tidak karuan saat ia berjalan dan berdiri di depanku, dan ini merupakan sebuah keajaiban alam ia tidak bisa mendengar detak jantungku sekarang. Kenapa ia mempengaruhiku dengan cara seperti ini?
Ia menyeka sehelai rambut dari wajahku. "Kau terlihat manis seperti ini," ujarnya.
Aku kebingungan. "Seperti apa?"
"Mengenakan piyama kusut, dan rambut berantakan."
Oh, Tuhan, apa dia serius mengatakannya? Wajahku sudah merah padam dan aku harap aku mengecek bayanganku saat berada di kamar tadi.
Sebelum aku bisa bergumam terima kasih, bibirnya sudah menekan lembut bibirku, membuatku kehilangan kata-kata. Aku mengerang dan memejamkan mata, tanganku langsung mengalung di lehernya, kemudian menarik rambutnya, dan ciuman kami semakin dalam saat lidahnya membelai lidahku. Tubuhku melekat di tubuhnya seolah-olah ini adalah ciuman terakhir kami. Masa depan kami tidak pasti; hari ini bisa saja menjadi hari terakhir, atau mungkin besok, dan aku ingin melahap hidangan lezat di depanku sebelum ia pergi untuk selamanya.
Kami memisahkan diri dengan enggan, bibirnya berkali-kali mengecup singkat bibirku, sebelum mengecup pipiku dan ia mundur beberapa langkah.
Aku tidak ingin dia pergi, tapi ini tidak mungkin. Kami berdua harus bekerja. Aku merasa marah pada diriku sendiri karena merasakan ini.
"Aku harus pergi," ucapnya, dan aku senang mendengar keengganan dalam suaranya. Aku mengangguk dan mengantarnya ke pintu. "Maaf sudah menghancurkan sofamu," ucapnya.
"Aku menghancurkannya bersamamu," candaku.
"Ini tempatmu. Kau bisa menghancurkannya sesukamu."
"Kau benar." Aku tiba-tiba bergegas menyuruhnya keluar, tidak sabar untuk melihatnya pergi, tidak sabar untuk menghilangkan perasaan ini. "Aku benar-benar harus mandi atau aku akan terlambat ke kantor," ucapku tidak sabar.
Ia menatapku sejenak. "Aku pergi sekarang," ucapnya sinis. Saat berada di ambang pintu, ia langsung berkata, "Maaf karena sudah menunda-nunda waktumu. Aku tidak ingin kau terlambat." Aku tidak terlalu yakin apa aku benar-benar mendengar nada terluka di dalam suaranya atau ini hanya pikiranku saja, tapi ini membuatku merasa tidak enak hati. Aku menarik kaosnya, menghentikannya sebelum ia pergi.
"Sasuke, bukan itu maksudku," aku mencoba menjelaskan. Tapi, bagaimana mungkin aku bisa membuatnya mengerti dengan apa yang kurasakan? "Aku harap kau tidak harus pergi," ucapku sambil melangkah ke arahnya untuk mengecupnya. Aku bermaksud untuk memberi ciuman singkat, tapi responnya terlalu bersemangat dan membuatku kehilangan kendali. Aku menariknya mendekat, melahap bibirnya dengan rakus, dan beberapa saat kemudian, kami memisahkan diri dan aku merasa jengkel. "Aku harus pergi," ucapku, nada suaraku terdengar seperti menegur efek yang ia berikan padaku. Aku yakin ia tahu apa yang ia lakukan, dasar bajingan. Kemudian aku teringat sesuatu. "Tunggu sebentar, aku akan segera kembali." Aku menghilang ke dalam apartemenku dan dengan cepat mengambil filmnya. Aku mendorong kotak DVD ke dadanya.
"Sampai nanti," ucapku sambil berhati-hati menjaga jarak kami sekarang. Pria ini berbahaya, dan senyum bengkoknya mengungkapkan kalau ia sadar dengan apa yang kulakukan.
"Baiklah, Sakura. Aku akan meneleponmu nanti, oke?" ucapnya ragu, ini tidak seperti biasa. Ia selalu penuh percaya diri.
"Oke," ucap setuju, dan aku tidak bisa menyembunyikan senyum gembiraku.
Saat ia berjalan menjauh, aku menyelinap kembali ke dalam apartemen dan butuh segenap tenaga untuk menjagaku tidak meleleh ke pintu.
Ini akan menjadi hari yang panjang.
Bekerja mampu mengalihkan pikiranku. Ino menghubungiku dan kami akhirnya memutuskan untuk bertemu sore ini. Ia selalu menghabiskan waktu kosongnya bersama Sai akhir-akhir ini, walaupun aku bahagia untuknya, tapi aku juga merasa sedikit iri. Sai sepertinya pasangan yang sempurna untuk Ino, hubungan mereka begitu sederhana dan mudah, tidak terhalang oleh rahasia dan taruhan. Kenapa itu tidak bisa terjadi padaku? Sasuke, pria pertama yang kutaksir setelah sekian lama, adalah pria yang seharusnya kubenci sampai mati. Tapi, di sinilah aku sekarang, tertarik dengan apa yang tidak bisa kumiliki dan kuinginkan.
Kenapa semuanya harus begitu rumit?
Aku tersadar dari lamunanku ketika menerima telepon dari Morio. "Hei, Sakura. Aku hanya ingin tahu apa kau punya rencana saat makan siang hari ini? Bagaimana kalau kita bertemu?" sapanya ceria. Aku kaget mendengar ucapannya.
"Um, aku..." Apa seharusnya aku tidak makan siang dengannya? Apa penting aku berpikir seperti itu? Kita bisa berteman, kan? "Tentu saja, Morio," jawabku. "Kau mau makan siang di mana?"
"Kau sering makan di mana, Sakura?"
Oh, astaga... "Di kafe kecil di ujung jalan kantorku. Top Hat Cafe."
"Kedengarannya menarik. Jam berapa kau makan siang?"
"Sekitar 12.30," jawabku.
"Baiklah, ini kencan. Sampai nanti."
Aku menutup telepon dengan bingung. Ini kencan? Maksudnya kencan sungguhan? Aku kira itu tidak masalah—aku bisa berkencan dengan siapapun kalau aku mau. Aku boleh berkencan dengan seseorang. Lagi pula, Sasuke dan aku tidak resmi berpacaran. Tidak setelah akhir pekan ini...
Aku menggeleng untuk menjernihkan pikiranku dan kembali mencoba bekerja. Pikiranku, walau bagaimanapun caranya, selalu kembali memikirkan Sasuke, kemudian Morio, dan aku merasa gelisah karena situasi ini.
Aku kaget saat teleponku berbunyi, menandakan sebuah pesan masuk. Ini dari Sai.
Kau bertemu Sasuke tadi malam? -Sai
Kenapa dia bisa tahu ini?
Mungkin. Kau menguntitku? -Sakura
Tidak, aku menguntit Sasuke. -Sai
Oh. -Sakura
Aku punya ide lain, tapi kita harus bertemu untuk membahasnya. Aku juga memikirkan nama untuk geng kita "She/He-Man Player Hater Club". -Sai
Aku cekikikan saat melihat ponsel di pangkuanku dan kemudian cepat-cepat melihat sekeliling sambil mengontrol diri.
Kedengarannya sangat berirama. Apa aku harus membuat kaos untuk geng kita? -Sakura
Aku hanya bercanda. -Sai
Aku hanya mencoba untuk ikut berkontribusi. -Sakura
Oh, aku juga sudah menemukan kucing gendut untukmu. Kucingnya sangat besar, kandangnya harus dipesan khusus. -Sai
Kepalaku langsung menghantam meja dengan bunyi keras.
Morio sudah menungguku saat aku sampai di kafe. Ia mengenakan kemeja kuning pucat dengan dengan celana khaki yang nyaman. Morio adalah seorang pria tampan, ia bisa saja memesona setiap gadis yang beruntung. Entah kenapa ia memilihku; dan entah kenapa ia juga memilih untuk meninggalkanku.
Aku sangat terluka saat ia meninggalkanku. Aku tidak akan menyangkalnya—dan bodohnya aku, aku benar-benar membuat kadar gulaku sangat tinggi saat ia pergi dengan melahap seluruh es krim di toko lokal. Teman dari teman dari teman-temanku bahkan tahu aku patah hati. Tapi, aku bertahan. Sudah lebih dari setahun aku tidak memikirkannya.
Tapi sekarang dia di sini, mencoba untuk... apa? Menebus kesalahan? Mengambil tempat yang sudah lama kami tinggalkan?
Aku bingung.
Senyumnya melebar saat ia berdiri dan menarik keluar kursi untukku. Setelah kami duduk, ia bergeser ke depan, mencondongkan tubuh ke arahku.
"Hei," ucapnya. "Aku senang kau menerima tawaranku. Aku harap kau tidak keberatan, aku memesan soda untukmu."
Aku tidak tega untuk mengatakan padanya kalau aku hanya minum air putih sekarang. Ya, air putih, alkohol dan anggur. Oh, jangan lupa sake.
"Terima kasih." Ia memberiku menu, dan aku segera membacanya.
"Jadi, Sakura," ucapnya santai. "Apa yang telah kau lakukan sekarang? Sudah lama kita tidak bertemu."
"Aku lulus kuliah, akhirnya. Aku bekerja di The Konoha Times sekarang."
Ia kaget. "The Konoha Times? Mengagumkan sekali! Jadi, menjadi jurnalis adalah hal yang paling kau idam-idamkan selama ini?"
Aku terdiam mendengar ucapannya. Dari ekspresinya sekarang, aku rasa ia langsung menyadari kesalahan kata-katanya.
"Aku sebenarnya, um... editor."
"Oh." Ia kehilangan kata-kata dan menggaruk-garuk sisi lehernya. "Aku pikir kau ingin menjadi seorang jurnalis," ucapnya lagi.
"Ya. Tapi, saat aku melamar pekerjaan, mereka hanya membuka lowongan untuk editor. Tapi, aku menyukai pekerjaanku. Ini bisa menjadi pengalaman untukku." Aku tidak tahu kenapa aku harus menjelaskan preferensi pekerjaanku kepadanya. Kenapa semua orang sepertinya punya masalah dengan pekerjaanku sebagai editor? Ini adalah pekerjaan yang menarik. Sial. Tidak semua orang bisa mendapatkan pekerjaan idaman mereka saat lulus kuliah.
"Bagus," ujarnya. "Selama kau menyukai pekerjaannya."
"Aku menyukainya," ucapku angkuh.
Pelayan menyela pembicaraan canggung kami untuk mengambil pesanan. Untungnya, saat ia pergi, percapakan kami jauh lebih ringan.
"Jadi, aku pikir aku sudah menemukan tempat tinggal yang cocok untukku di pusat kota," ucapnya. "Lingkungannya ramah. Banyak pepohonan, dan sangat dekat dengan taman. Aku pikir kau akan menyukainya."
Aku bertanya-tanya dalam hati apa pentingnya buatku. Kami tidak lagi bersama.
"Senang mendengarnya," ucapku sambil tersenyum.
"Apa kau mau datang melihatnya nanti sore?" tanyanya penuh harap. Seluruh tubuhku langsung membeku saat memikirkan alasan untuk menolak ajakannya.
"Aku eh... aku harus bertemu Ino hari ini."
"Ino? Kau masih berteman dengannya?" tanya Morio.
"Ya, masih."
Ia mengangguk serius. "Bagaimana kabarnya?"
"Baik. Dia dekat dengan seseorang akhir-akhir ini. Mereka sepertinya cocok," jawabku.
"Senang mendengarnya. Apa kau menyukai pria itu?"
"Sejauh ini, ya." Ini sudah terpola secara permanen di otakku. Kalau aku berbicara tentang Sai, aku akan otomatis memikirkan Sasuke. Oh, Tuhan...
Saat memikirkan Sasuke, aku merasa bersalah karena makan siang bersama Morio. Tapi, kenapa aku harus merasa bersalah? Aku tidak melakukan sesuatu kesalahan. Sasuke bahkan punya rencana untuk bertemu Karin dan melakukan... itu. Itu jauh lebih buruk.
Aku mengerutkan kening dan menyesap minumanku dengan cepat.
"Kau baik-baik saja?" tanya Morio.
Aku berdeham. "Aku baik-baik saja."
Ia sepertinya tidak percaya dengan jawabanku. Setidaknya, ia tidak memaksaku untuk menjelaskan. "Jadi, bagaimana denganmu?"
Aku menatapnya penuh tanya. "Bagaimana denganku?"
"Apa kau dekat dengan seseorang?"
Sial, aku tidak mau membahas ini. Secara teknis, aku masih lajang. Sasuke dan aku belum berkomitmen satu sama lain. Apalagi kalau aku memikirkan taruhan dan semua hal lain.
Morio menatapku, menunggu jawabanku dengan sabar.
"Um, tidak juga," ucapku ragu. "Aku sudah beberapa kali berkencan dengan pria ini tapi tidak lebih dari itu." Aku berharap, jauh di dalam hatiku, aku bisa menjawab pertanyaan ini dengan mantap. Aku berharap keadaanku dan Sasuke berbeda; dan Sasuke dan aku bisa lebih dari sekarang.
Sepertinya ada yang salah denganku.
Morio terlihat senang. "Aku juga," ucapnya gembira. Tubuhnya masih condong ke arahku, memberiku seluruh perhatiannya, dan aku merasa tidak nyaman di bawah pengawasannya yang seperti ini.
Pelayan mengantarkan makanan kami. Aku belum pernah bersyukur seperti ini karena disela pelayan, terutama saat Morio terpaksa untuk bersandar kembali ke tempat duduknya dan berpaling saat pelayan menempatkan piring di depannya.
Aku melahap hidanganku seperti makan makanan terakhirku di dunia, aku benar-benar memfokuskan pandangan ke piring di depanku untuk menghindari tatapan Morio.
Setelah beberapa saat, Morio kembali bicara. "Jadi, aku sudah tahu kau beberapa kali berkencan dengan seseorang... tapi, bagaimana kalau, mungkin, kau mau makan malam bersamaku minggu ini?" Ia menatapku hati-hati dan cepat menambahkan, "Maksudku, aku tahu ini sudah lama dan keadaan tidak lagi seperti dulu setelah aku pergi. Tapi, percayalah, Sakura, aku juga terluka, sama seperti yang kau rasakan."
Aku ingin mendengus saat mendengar ucapannya. Dia yang meninggalkanku! Kalau dia terluka, itu salahnya sendiri!
Aku bimbang ingin mengatakan sesuatu yang sinis dan jahat atau menerima penyesalannya dan menerima ajakan kencannya. Morio pria yang baik—begitu perhatian, ramah dan sangat peduli denganku. Belum lagi dia seorang pria yang tampan. Kalau ada yang berhak mendapatkan kesempatan kedua, Morio lah orangnya.
Tapi, ada sesuatu yang menahanku. "Morio, aku ingin melangkah pelan-pelan untuk saat ini," ucapku ramah. "Mungkin, sebaiknya kita berteman saja saat ini."
Ia mengangguk cepat. "Aku mengerti," ucapnya meyakinkanku. "Itu mungkin ide yang lebih bagus." Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Aku terkejut saat ia meletakkan tangannya di atas tanganku dari seberang meja. "Asal kau tahu saja, Sakura, aku sudah kembali sekarang. Dan aku tidak akan ke mana-mana lagi. Jadi, kalau kau butuh sesuatu dariku, jangan sungkan-sungkan untuk menelepon."
Aku tersentuh dengan ucapannya. Shannaro—kenapa semua pria pintar merayu? Dari mana mereka belajar?
"Terima kasih," gumamku, dan ia menarik tangannya dari tanganku.
"Kau bercanda? Ini tidak memperumit keadaan, ini malah menyederhanakannya. Tendang saja Si Sasuke Tukang Bohong itu dari hidupmu dan kembali ke Morio. Kau sudah bersenang-senang dengan Sasuke dan sekarang dia akan kalah taruhan." Ucapan Ino terdengar tajam dari seberang telepon.
"Aku tidak tahu apa aku masih menyukai Morio atau tidak," gerutuku. Aku baru selesai memarkirkan mobilku di depan gedung apartemen—kami cekcok di telepon selagi aku masuk ke dalam.
"Kau dulu menyukainya. Aku masih ingat dengan jelas, kau sangat, sangat menyukainya," ucapnya lagi.
"Itu dulu. Aku sudah dewasa sekarang," timpalku.
"Dewasa, Sakura?" tanyanya jengkel. "Kau bermain permainan konyol dengan seorang pria—"
"Teman baik pacarmu," ucapku menyelanya.
"—yang hanya ingin tidur denganmu. Setidaknya Morio pria baik-baik."
"Siapa bilang aku harus memilih mereka? Mungkin aku masih ingin melajang," timpalku.
"Dan melakukan apa? Mati sendirian bersama sembilan puluh ekor kucingmu?" ucapnya tajam.
"Buka pintunya, Ino-Babi. Aku sudah di sini."
Pintu mengayun terbuka dan kami menutup ponsel bersamaan.
"Aku tidak punya seekor kucing pun," gerutuku. "Dan aku juga tidak berencana untuk memelihara satu pun." Ia bergerak ke samping saat aku memasuki apartemennya.
"Bisa kau bilang itu pada Sai? Dia membuatku gila karena terus berbicara tentang bagaimana caranya membujukmu agar kau mau memelihara seekor kucing untuk sandiwara kecil ini," ucapnya sambil memutar mata.
"Aku sudah mengatakan itu kepadanya. Dan ada apa denganmu? Terakhir kali kita bicara, kau dengan senang hati memberikanku ide-ide gilamu. Sekarang kau seperti berusaha melindungiku dari semua itu," ucapku heran.
Ia menyilangkan lengannya, ekspresinya keras. "Kau jatuh cinta dengannya," ucapnya tanpa basa-basi. "Dan aku tidak suka itu."
Aku kaget dan mencoba untuk terlihat tersinggung. "Aku tidak jatuh cinta padanya," bantahku.
"Omong kosong. Kau sudah punya seorang pria tampan untuk kau ajak ke pesta pernikahan nanti, kau tidak lagi membutuhkan Sasuke. Tapi, kau menolak untuk membiarkannya pergi," ucap Ino.
"Rencana kita adalah untuk membuatnya tersiksa!"
"Ya, berpelukan di sofa kedengarannya mengerikan. Kita beruntung Sasuke masih hidup sekarang," ucapnya. Aku seharusnya tidak usah menceritakan itu.
"Itu tidak direncanakan," ujarku membela diri. "Aku sudah melakukan semua hal yang kau sarankan, aku bahkan ikut makan malam bersama orang tuanya."
Ia meletakan jari telunjuknya di dadaku. "Kalau kau ingin menyiksanya, kau buat dia tidur di lantai." Ia mengetuk-ngetuk dadaku di tiap kata yang ia ucapkan, dan aku terpaksa melangkah mundur.
"Aku tidak bermaksud untuk ketiduran."
"Ya, dan aku yakin kau juga tidak sengaja 'tersandung' ke bibirnya sebelum dia pergi. Hanya tinggal waktu kapan kau akan 'tersandung' ke penisnya."
Astaga, Ino bisa sangat menyebalkan kadang-kadang.
Aku tidak merespon. Jujur saja, aku merasa kalau ia baru saja memukul perutku keras-keras. Aku kehilangan kata-kata.
Ia menyadari ekspresi terlukaku dan ekspresinya langsung melembut. "Sakura, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk menyebalkan seperti ini." Aku mendengus, tapi ia mengabaikanku. "Aku hanya mengkhawatirkanmu."
Aku senang ia sudah selesai menyeramahiku, tapi dadaku masih terasa sakit karena ucapannya benar dan aku baru saja melewati hari yang melelahkan. "Aku bisa membuat keputusan sendiri," ucapku cemberut. "Aku sudah dewasa."
"Aku menyayangimu, Sakura. Tapi, kalau dia menyakitimu, aku harus memotong kemaluannya. Dan aku tahu kau tidak mau itu terjadi." Nada suaranya benar-benar serius dan aku tidak bisa menahan senyumku, meskipun suasana hatiku sedang murung.
"Aku sebenarnya senang mendengar jaminan keamanan darimu," akuku.
"Bagus. Kau tahu, kan, aku tidak mencoba untuk mendikte hidupmu?"
"Aku tahu," jawabku.
"Aku hanya ingin kau membuat keputusan yang bijaksana," lanjutnya.
"Aku tahu batasanku, Ino."
"Aku tahu itu."
Untungnya, Ino mengubah topik pembicaraan kami. Ia bercerita tentang Sai dan bagaimana ayahnya mendesak untuk menyuruhnya datang berkunjung. Ia mengeluh selama lima belas menit tentang restoran favoritnya yang memasak burger pesanannya terlalu matang dua kali berturut-turut. Kemudian ia menjelaskan, secara rinci, kalau kami tidak akan makan hamburger lagi di sana.
Kami tidak lagi membahas Sasuke atau Morio dan aku benar-benar bersyukur. Aku merasa tidak lagi bisa berpikir dengan logis sekarang.
Sekarang aku sendirian, terjebak dengan pikiranku, aku semakin merasa sedih. Aku masuk ke apartemenku, berganti pakaian, dan melakukan hal yang biasa kulakukan—apalagi kalau bukan menonton Lost?
Sial.
Aku mencoba untuk fokus menonton, tapi pikiranku sepertinya sedang mengembara. Aku memikirkan Morio dan Sasuke.
Morio adalah seorang pria baik hati. Ia selalu memperlakukanku dengan hormat, mengantisipasi setiap kebutuhanku. Ia juga bergaul dengan teman-temanku.
Dan kemudian Sasuke, pria yang bahkan aku sendiri tidak tahu kenapa aku menyukainya. Ia penuh perhatian, mungkin ini alasannya—ia mampir kemarin malam saat ia tahu aku sedang marah. Dan ia menghormatiku—tidak, tidak, coret ini dari daftar alasanku. Membuat taruhan seperti itu sama sekali tidak menghormatiku. Sial.
Kenapa aku menyukai Sasuke? Ini membuatku frustrasi—aku tahu aku tidak boleh merasakan ini, tapi aku tidak bisa menghentikannya. Aku berbaring di sofa, sambil membenamkan wajahku, dan mengerang keras. Mungkin Ino benar. Ini baru seminggu dan aku sudah jatuh cinta padanya.
Aku berbaring seperti ini—telungkup di sofa—sampai aku tertidur. Ponselku akhirnya berdering, dan aku tidak tahu sudah berapa lama aku tertidur. Aku curiga yang menelepon ini adalah Morio, sambil menggerutu aku duduk dan meraba-raba ponselku di meja kopi.
Aku kaget saat melihat nama Sasuke di layar ponsel. Naruniku bahkan menari bahagia.
"Hei, Cantik," sapanya. "Apa aku mengganggumu?"
Aku sangat lelah, aku hampir tidak bisa membuka mata, tapi aku sangat senang saat berbaring di sofa dengan ponsel di telingaku. Suaranya seperti penenang untuk hari melelahkan ini.
"Tidak, aku menonton TV," ucapku, terlalu lelah untuk membuat aktivitasku terdengar kurang menyedihkan. Astaga, kapan aku tidak menonton TV akhir-akhir ini?
"Bagus kalau begitu. Aku baru saja—aku baru saja memikirkanmu dan ingin mengucapkan selamat malam padamu." Suaranya terdengar aneh, seolah-olah ia mengalami kesulitan untuk mengartikulasikan apa yang sebenarnya ingin ia katakan.
"Apa kau sedang di rumah?" tanyaku.
"Ya."
"Sendirian?" Aku tidak tahu kenapa aku bertanya seperti ini—ucapan ini langsung terlontar keluar dari mulutku sebelum aku bisa menghentikannya.
"Ya," ulangnya, nadanya terdengar yakin sekarang. Aku tidak bisa menghentikan senyumku saat mendengar pengakuannya. Aku senang karena ia tidak bermalam di rumah pelacurnya saat ia tidak bersamaku.
"Bagus."
Ia mendesah keras dan tiba-tiba aku merindukan kehadirannya. Aku ingin ia di sini, memelukku di sofa. Aku ingin merasakan napas panasnya di punggungku, bukan di telepon.
"Aku mengalami hari yang buruk," akunya. Aku mengerutkan kening.
"Kau ingin menceritakannya padaku?"
"Ini hanya tentang pekerjaanku. Pekerjaanku ini benar-benar membuatku tertekan kadang-kadang." Aku merasa ada sesuatu yang masih ingin ia katakan. Akhirnya, ia tertawa. "Aku tidak bermaksud menelepon untuk mengeluh padamu. Kau bisa—aku... aku pikir kau bisa membuatku merasa lebih baik dan aku sedang memikirkanmu."
Aku kembali terkejut mendengar kata-katanya. "Hariku juga melelahkan," ucapku.
"Benarkah? Kenapa?"
Aku memikirkan pertanyaannya, dan aku langsung menyadari kalau aku tidak bisa mengungkapkan hal sebenarnya. "Um... pekerjaanku dan lainnya," ucapku malu-malu.
"Ya," ucapnya setuju.
"Aku sedikit merindukanmu," aku diam-diam mengaku, seolah-olah kata-kata ini juga membuatku kaget. Aku sudah merindukannya sepanjang hari ini.
"Aku pikir aku juga sedikit merindukanmu," ucapnya ringan, dan aku bisa mendengar lelucon dalam ucapannya. Aku menyeringai seperti orang bodoh, wajahku sudah kembali menempel di sofa, dan aku tidak bisa memahami alasan di balik perasaan senangku ini.
"Tidak ada kunjungan kejutan malam ini?" tanyaku sambil berusaha untuk tidak terlalu berharap.
"Sayangnya, tidak ada. Aku pulang terlambat hari ini dan harus masuk kerja pagi-pagi besok."
"Jadi, kunjungan kejutannya besok?" tanyaku.
"Hmm." Ia berpura-pura berpikir. "Kau harus memujiku dulu dan mungkin aku akan menghadiahkanmu dengan kunjunganku."
"Ha! Apa yang harus kulakukan? Memuji kepala besarmu lagi?"
"Apa kau menyiratkan kalau kau sudah memujinya?" tanyaya.
"Tergantung. Apa kau menganggap itu sebagai pujian?" timpalku.
"Apa menurutmu bagus kalau aku punya kepala besar?" tanyanya lagi.
"Tidak."
"Lalu kenapa aku harus menganggapnya sebagai pujian?" tanya Sasuke.
Aku tertawa. "Aku tidak tahu. Aku mengantuk. Dan kepalamu begitu besar, kadang-kadang itu menghalangi penglihatanku dan aku tidak bisa memikirkan hal lain untuk dikatakan."
Ia tertawa. "Apa kau baru saja membuat lelucon baru? Lelucon kepala besar?"
Aku cekikikan, mungkin ia sudah menganggapku gila. "Saking besarnya kepalamu, kau butuh kode area tersendiri. Dan karena kepalamu sangat besar, saat kau diculik, orang lain harus mencetak dua halaman koran untuk memuat fotomu."
"Ya, ya," Sasuke terkekeh. "Kau berhasil membuat poinmu—kau memenuhi standar menjadi seorang pelawak."
"Tidak ada yang standar tentangku," sindirku.
"Sudah lama aku tahu itu."
"Apa yang kau bicarakan, Sascakes? Kau tidak berpikir aku ini standar?"
"Sakura, kau jauh, jauh melampaui standar dalam apa pun yang kau lakukan," ia meyakinkanku. "Dan itu bukan hal yang buruk."
Aku senang mendengar ucapannya. Senang dan mengantuk dan benar-benar gembira karena akan segera bertemu dengannya lagi. Aku kira aku harus kembali bermain-main dengannya, meskipun skema ini tidak lagi terdengar semenyenangkan dulu. Tapi, aku harus melakukannya. Ino benar. Menyiksanya atau membiarkannya pergi.
"Hmm. Itu sebabnya kenapa aku sangat mengagumkan," jawabku mengantuk. Ia mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba suaranya terdengar jauh, seperti seseorang yang berbicara padaku melalui jendela mobil tertutup. Aku bisa mendengar suaranya; aku hanya tidak bisa mengerti apa yang ia ucapkan.
Aku tahu aku harus mengakhiri telepon kami sebelum aku menyerah dan tertidur, tapi aku tidak bisa melakukannya. Kata-katanya menenangkanku, sekalipun ia hanya menggodaku, dan ia berhasil membuatku merasa tenang setelah hari melelahkan yang kulalui.
"Tidurlah, Cantik." Suaranya perlahan menghilang. Sekarang hanya ada kegelapan di sekitarku, suaranya kemudian terdengar lagi, membawaku hanyut ke dalam tidur. "Sampai jumpa besok."
o0o
to be continued
o0o
