A Betting Man

.

.

Sasuke POV

Entah bagaimana caranya aku masih bisa berfungsi setelah tidur di sofa bersama Sakura dan harus menghadiri rapat jam setengah sepuluh pagi. Aku masih tidak paham dengan semua hal yang terjadi. Aku tidak lelah saat memutuskan untuk singgah ke apartemen Sakura—tidak sama sekali, tubuhku terjaga dan aku sangat gugup bahkan telapak tanganku sampai berkeringat, aku takut Sakura akan menghindariku dan menolak untuk menemuiku selamanya. Aku tidak pernah memikirkan semua hal itu sebelumnya. Tidak ada gadis yang pernah kupikirkan sebelum ini.

Tapi, Sakura—entah apa alasannya—sudah menjadi gadis terpenting dalam hidupku.

Aku memaksakan diri untuk terfokus pada materi rapat. Aku memaksakan pikiranku untuk melupakan—walaupun hanya sesaat—semua kekhawatiran yang telah melanda hidupku selama seminggu terakhir ini. Tapi, saat orang lain sedang berbicara dalam rapat, pikiranku kembali tertuju pada Sakura.

Aku membayangkan bagaimana semua situasi ini akan berbeda seandainya aku tidak mengunjungi klub malam itu. Seandainya aku tidak pernah bertemu dengan Sasori. Aku pasti tidak akan tahu dengan Sakura. Aku tidak akan mengenalnya dan aku tidak akan mencampuri kehidupannya dengan cara paling kurang ajar seperti ini. Semuanya akan menjadi lebih baik bagi Sakura.

Dan kemudian aku juga berpikir tentang bagaimana kalau seandainya aku mengajaknya berkencan dalam kondisi normal. Kami akan berkencan dengan normal dan percakapan yang terjadi akan berlangsung dengan normal tanpa ada perasaan bersalah dan takut di benakku.

Tapi, itu tidak penting lagi. Membayangkan alternatif skenario seperti itu tidak akan mengubah apa pun.

Hari ini penuh dengan rapat. Menghadapi kenyataan ini saja sudah berhasil membuat suasana hatiku menjadi pahit, karena aku sangat membenci rapat. Aku mencoba, sekali lagi, untuk mendorong Sakura keluar dari pikiranku agar bisa bekerja dengan tenang. Tapi, sekali lagi, aku tidak berhasil melakukannya.

Aku tidak punya waktu untuk pergi keluar makan siang. Aku bahkan hampir melupakan makan siangku saat asistenku, Mei, memasuki ruangan dengan membawa bento yang dibelinya dari toko lokal dan secangkir kopi. Dia tiba-tiba masuk dan meletakannya di mejaku. "Aku pikir Anda mungkin ingin makan sesuatu," ucapnya dengan baik hati. "Tidak baik melewatkan makan siang, Tuan Uchiha. Apa Anda sarapan tadi pagi?" Dia ingin mengobrol, tapi sayangnya aku tidak punya waktu untuk itu. Sambil senyum, aku mengangguk.

"Ya, Mei." Kalau kau bisa menyebut kopi sebagai sarapan. "Terima kasih."

Dia mengerti ucapanku yang menyiratkannya untuk segera keluar dan sambil tersenyum kecil, dia berjalan keluar dan menutup pintu di belakangnya.

Perutku keroncongan, protes, tapi aku ingin menyelesaikan sedikit lagi pekerjaanku sebelum berhenti sejenak untuk makan. Ponselku bergetar tanpa henti di saku, tetapi aku mengabaikannya.

Aku menyesap kopi sambil bekerja. Dua puluh menit kemudian, aku menarik bento ke arahku sambil mengambil ponsel dari saku. Aku punya empat panggilan tidak terjawab dan satu pesan voicemail. Semuanya dari Sasori.

Keningku berkerut saat melihat layar ponsel. Aku cemberut dan mengunyah bentoku selagi berdebat dalam hati apa aku sebaiknya meneleponnya balik atau tidak. Ini mengherankan karena sampai sekarang dia masih belum mencoba untuk menghubungiku lewat telepon kantor.

Aku tidak ingin bicara dengannya. Ini hal yang mengerikan, terlibat percakapan dengan Sasori, adalah hal yang harus dihindari. Tapi, aku tahu pasti, dia akan meneleponku lagi kalau dia tidak segera mendapat kabar dariku.

Aku mengirimkan sebuah pesan, berharap agar dapat menenangkannya.

Aku sedang bekerja, tidak bisa bicara sekarang. -Sasuke

Ponselku bergetar beberapa detik kemudian.

Baiklah, aku hanya memeriksa keadaan. Aku harap ada laporan kemajuan. -Sasori

Mungkin kau sebaiknya memeriksa keadaan di akhir minggu ke-3. -Sasuke

Selama itu, ya? -Sasori

Aku bilang juga apa. Dia mungkin mengenakan sebuah sabuk pengaman. Menemukan tempat untuk melepaskannya nyaris mustahil. -Sasori

Aku tidak mengerti dengan apa yang dia bicarakan. Aku tidak menjawab pesannya sambil berharap dia sudah cukup mendapatkan apa yang dia inginkan dan meninggalkanku sendirian selama beberapa hari. Tapi, tentu saja aku tidak seberuntung itu.

Kau tidak sedang mempermainkanku, kan? Kau berlagak sombong waktu itu. Sepertinya kalau kau benar-benar ingin menidurinya, itu sudah terjadi sekarang. -Sasori

Aku menatap layar ponsel dengan jijik dan berharap Sasori berada di sini sekarang agar aku bisa memberinya pelajaran. Aku benci kekacauan yang sudah kubawa masuk sendiri ke dalam hidupku. Tapi, aku lebih membenci Sasori.

Aku menahan diri untuk mengetik balasan.

Tapi, dia mengirim pesan lagi. Isinya semakin memprovokasiku.

Tidak ada jawaban? Aku tahu itu. Kau seharusnya tidak membuat taruhan sebesar itu kalau kau tidak cukup jantan untuk menepatinya. -Sasori

Aku tahu aku seharusnya tidak melakukan ini. Aku tahu di suatu tempat, di relung hatiku, ini salah. Tapi, tanganku menyambar ponsel atas kemauan mereka sendiri. Mereka mengetik jawaban, dan mereka menekan tombol kirim.

Seperti yang kukatakan sebelumnya, dia itu hanya sekadar taruhan. Paling lama ini semua akan berakhir hari Sabtu. Setelah itu kau bisa berhenti menggangguku dan menjauh dari kehidupan kami selamanya. -Sasuke

Aku langsung menyesal saat pemberitahuan "Pesan Terkirim" muncul di layar ponsel. Tapi, sudah terlambat untuk menariknya kembali.

Sakura bukan sekadar taruhan. Tidak lagi.

Butuh beberapa menit bagi Sasori untuk membalas pesanku. Tapi, saat pesannya masuk, aku langsung memasukan ponsel ke laci mejaku, berharap dapat menutupi dan menyembunyikan pembicaraan kami, dan mungkin menyembunyikan kejadian-kejadian di minggu ini selamanya.

Kita lihat saja nanti. -Sasori

Aku masih murung, bahkan sepulang bekerja, kondisi ini diperparah saat Karin menghubungiku.

Aku tidak menjawab telepon darinya. Apa yang akan kukatakan padanya? Setelah bunyi 'bip' terdengar dari teleponku, aku dengan ragu mendengarkan pesan voicemail-nya.

"Hei, Sasuke. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu sekarang tapi, jujur saja, aku sedikit khawatir. Kau tiba-tiba menjauhiku, kau tidak pernah meneleponku balik, dan sekarang sepertinya kau menghindari teleponku. Apa yang terjadi?

"Aku hanya menelepon untuk menanyakan kabarmu. Aku merindukanmu. Kau boleh meneleponku kembali malam ini... aku tidak peduli selarut apa. Mudah-mudahan aku segera mendengar kabar darimu?"

Ucapan terakhirnya lebih terdengar seperti pertanyaan.

Pesannya berakhir persis sebelum aku menekan tombol hapus.

Aku benar-benar merasa mual setelah mendengarkan pesannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku—apa mungkin aku sakit secara emosi?

Aku berbaring di sofa, berjuang melawan gelombang mual, keringat jatuh dari keningku, dan keinginan untuk menelepon balik Karin sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiran. Aku rasa aku tidak bisa melakukannya, sekalipun kalau memang itu yang kuinginkan.

Beberapa menit berlalu dan mualku akhirnya mereda. Sempat terlintas di pikiranku, ini semua karena makananku yang tidak beres, tapi aku tahu, ini tidak benar.

Aku tetap berbaring di sofa. Dengung lembut suara televisi membawa pikiranku untuk menjelajah, mempertimbangkan Sakura dan Sasori, dan Rin dan Kakashi—mereka semua secara tidak langsung terlibat dalam taruhan yang seharusnya tidak pernah terjadi. Aku tidak makan malam. Aku tidak lapar.

Aku tidak tahu jam berapa sekarang saat aku berjalan menaiki tangga. Suasana di luar sudah sangat gelap. Ponsel tergenggam erat di tanganku.

Aku duduk di tempat tidur dan menarik rambutku dengan putus asa. Aku kemudian meletakan tangan di wajahku, siku di lututku, dan terus berpikir. Aku merindukan sesuatu. Dan rasa rindu ini tidak bisa ditahan lagi.

Aku merindukan suaranya. Aku ingin mengucapkan selamat tidur padanya. Tanpa pertimbangan lebih lanjut, aku mengangkat ponsel dan menekan nomor teleponnya.

Dia menjawab beberapa saat kemudian. Suaranya terdengar serak karena tertidur, dan aku dengan cemas melirik jam di meja samping tempat tidurku. Sekarang pukul 21.47.

"Hei, Cantik," sapaku. "Apa aku mengganggumu?"

Aku mendengar suara gemerisik. "Tidak, aku menonton TV."

Empat kata sederhana itu, saat diucapkan dengan suaranya, berhasil menenangkan pikiranku. Kata-kata itu berhasil membuat hariku menjadi menyenangkan. Kata-kata itu membuat perasaan mual sebelumnya terlupakan, seolah-olah suaranya memiliki kekuatan untuk menyembuhkanku.

o0o

Sakura POV

Hari berikutnya, pekerjaanku berjalan dengan lancar. Aku makan siang di ruanganku. Tidak ada telepon dari Sasuke atau pun Morio. Kemudian, dengan mengandalkan sedikit keberuntungan, aku berhasil melarikan diri dari kantor sepuluh menit lebih awal.

Baru lima menit aku sampai di apartemenku, seseorang sudah mengetuk pintu. Jantungku berdebar—aku pikir itu Sasuke—dan aku berjalan perlahan-lahan ke arah pintu, aku tidak ingin terlihat terlalu bersemangat.

"Siapa?" tanyaku keras.

"Ini aku, Sasuke." Suara itu terdengar tidak wajar, nadanya tinggi, seperti suara perempuan yang dibuat-buat, sudah jelas ini suara laki-laki. Sambil mengerutkan kening, aku berjinjit dan mengintip keluar melalui lubang pintu, aku memutar mata saat melihat Sai berdiri di depan.

Aku merenggut membuka pintu. "Apa yang kau—" Aku berhenti bicara, tubuhku membeku ngeri saat melihat Sai memegang kandang hewan yang cukup besar untuk ditempati anjing berukuran sedang. Namun, tidak ada anjing di dalam, hanya ada seekor kucing super besar yang sedang menggeram marah.

"Hei, Sakura," sapa Sai. Dia berjalan masuk melewatiku sambil membawa kucing yang terlihat kebingungan itu. Suara mengeong sedih langsung memenuhi apartemen kecilku.

Aku membanting menutup pintu. "Um, apa itu?" aku menuntut jawaban.

"Itu," ucap Sai sambil menempatkan kandang di lantai, "punya nama. Namanya Ursula. Dan selama tiga hari ke depan dia akan menjadi sahabat barumu. Dan juga teman baru Sasuke, jangan lupa itu."

Aku mulai menggelengkan kepala dengan panik. "Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak. Aku sudah bilang padamu aku tidak mau berurusan dengan kucing."

"Ayolah, Sakura. Dia seorang penyendiri."

"Kau bercanda? Apa kau benar-benar ingin melakukan ini?" tanyaku tidak percaya.

"Aku pikir kita sudah sepakat untuk melakukan ini. Kau tahu, memberi pelajaran pada Sasuke." Sai berjongkok dan membuka kaitan di pintu kandang. Aku kira kucingnya akan langsung kabur ketakutan, mungkin langsung berlari menuju kolong tempat tidur—atau ke bawah tempat cuci piring, atau ke mana pun yang dia mau—tapi, gerakan sedikit saja sepertinya sudah cukup untuk menyiksanya. Kucing itu berjalan tertatih-tatih melewati pintu kandang, telinganya bergerak hati-hati, kaki-kakinya yang besar nyaris tak terlihat di bawah perutnya. Seolah-olah tubuhnya masih kurang besar, bulunya yang putih panjang memberikan kesan seperti beruang kutub kecil.

Perutnya terseret di lantai saat dia berjalan lambat keluar, dia kemudian duduk tidak lama setelah itu untuk menarik napas. Dia melihat ke arah kami berdua, mata sipitnya menatap kami dengan hati-hati.

"Kau lihat, Sakura? Ini Ursula," ucap Sai. Dia menggendong Ursula dan aku menatap ngeri saat tubuhnya membentang sebelum kaki belakangnya terangkat dari lantai. Tinggi kucing itu hampir setengah dari tinggiku. Sai menarik kucing itu ke dalam pelukannya seperti bayi raksasa berbulu.

"Apa-apaan ini, Sai? Dari mana kau menemukannya? Apa dia salah satu korban percobaan ilmiah?"

Mata Sai membelalak memelototiku. "Jaga ucapanmu. Tidak semua mahluk hidup bisa punya tubuh yang seksi," ucapnya serius sambil menggaruk telinga belakang Ursula. Ursula berbaring di tangannya seperti boneka tanpa tulang. "Seorang temanku sedang mengunjungi rumah orang tuanya dan dia butuh seseorang untuk merawat Ursula. Ibunya alergi kucing," jelasnya.

"Dan seseorang yang dia maksud itu adalah... kau, kan?"

"Ya. Tapi, ini semua berjalan dengan sempurna. Kita seperti mendapat berkah langsung dari Tuhan," ucap Sai semangat.

"Siapa yang menamainya Ursula?" tanyaku.

"Anaknya. Dia penggemar Little Mermaid," jelas Sai.

Aku sama sekali tidak heran dia menamai kucing ini Ursula dan bukan Ariel.

"Aku pikir aku tidak cukup kaya untuk memberinya makan," protesku dengan masam. Ursula melihatku dengan tatapan kosong dari lengan Sai, dia sekarang sudah menimang-nimangnya. Ini mengerikan.

"Oh, jangan khawatir. Aku punya semuanya di mobil. Ini, aku akan membiarkan kalian berdua sendirian untuk berkenalan." Sai meletakan kembali Ursula di lantai dan berjalan melewatiku.

"Sai, aku tidak mau! Kau tidak boleh meninggalkannya bersamaku!" protesku, tapi dia sudah keluar.

Keheningan yang tidak menyenangkan menyelimuti ruangan saat Sai menghilang. Ursula menatap ke arahku; aku balik menatapnya. Kami menatap tajam satu sama lain.

"Kau tidak akan tinggal di sini," ucapku. Ursula berkedip malas.

Sai datang kembali dengan sebuah tas besar berisi makanan kucing dan sebuah litter box paling besar yang pernah kulihat. Dia dengan cepat meletakannya di lantai dan keluar kembali sebelum aku bisa memulihkan kekagetanku, sambil bergumam tentang kucing. Dia kembali lagi dengan sekantong pasir dan tas popok bayi yang penuh dengan mainan kucing. Semuanya terjadi begitu cepat, sampai-sampai aku tidak bisa memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.

"Di mana kamar mandimu? Litter box-nya harus diletakan di sana." Sai sudah berjalan menuju lorong sebelum aku bisa menghentikannya.

"Sai!" desisku. "Kau tidak bisa melakukan ini! Apa yang akan dipikirkan temanmu kalau dia tahu kau meninggalkan kucingnya bersama orang asing!"

"Itu tidak akan menjadi masalah, Sakura," ucapnya meyakinkanku. "Percayalah, dia bersyukur karena bisa menemukan orang yang mau merawat kucingnya." Dia berhenti bicara sesaat. "Tunggu sebentar—apa kau akan membawanya ke rumah Sasuke? Kalau iya, aku tidak mau berepot-repot menyiapkan semuanya di sini."

"Tidak, kau tidak perlu berepot-repot sama sekali, karena kau akan membawanya kembali bersamamu," ucapku.

"Kau bercanda? Wajah Sasuke akan terlihat menakjubkan saat dia melihat Ursula. Dia bahkan tidak suka kucing kecil!"

"Mungkin sebaiknya kau saja yang membawa kucing ini ke rumah Sasuke dan menyiksanya sendiri," ucapku marah. Aku cemberut saat Sai menuangkan pasir ke dalam litter box, dia jelas-jelas mengabaikanku. "Apa kau mendengarkan ucapanku?"

"Sakura, kau terlalu berlebihan," ucap Sai dengan tenang. "Ini semua untuk memberi Sasuke pelajaran. Itu, kan, yang kau inginkan?"

"Ada cara lain untuk memberi pelajaran pada Sasuke," sahutku.

"Kita sudah membicarakan ini. Aku tidak tahu kenapa kau sangat kaget. Aku sudah bilang kemarin—"

"Aku sudah bilang aku tidak mau kucing! Kau tidak mendengarkanku! Kenapa semua laki-laki itu sama saja," sanggahku.

Dia bergumam pelan saat debu pasir mengisi kamar mandiku yang kecil; kami berdua batuk-batuk dan melambaikan tangan di depan wajah kami untuk membersihkan udara.

"Ya, ampun, Sai," gerutuku. "Kucing tidak butuh pasir sebanyak itu. Litter box-nya sudah seperti bak pasir." Aku menyalakan kipas angin, dan berusaha untuk tidak membayangkan tumpukan kotoran yang akan dihasilkan Ursula.

"Kita perlu untuk menunjukkan pada Ursula di mana litter box-nya," ucap Sai, mengabaikanku lagi. Semua protes yang kuhujamkan padanya seperti jatuh di telinga orang tuli saat ia menggendong Ursula dan meletakannya ke dalam litter box. Ursula berjinjit di sekeliling litter box sebelum berjalan keluar dari kamar mandi.

Kami mengikutinya ke dapur dan Sai mengeluarkan secarik kertas dari saku belakangnya. Dia membukanya dengan gelisah, matanya berkedip-kedip melihatku. "Ini adalah daftar... eh, kebutuhannya. Aku akan menempelkannya di kulkasmu." Dia meletakan daftar itu di bawah magnet.

"Daftar kebutuhannya?" tanyaku kaget.

"Ya, kau tahu. Ada beberapa hal sederhana yang harus kau ketahui untuk merawat kucing." Dia memeriksa jam tangannya. "Oh! Aku benar-benar harus pergi. Aku seharusnya bertemu dengan Ino sepuluh menit yang lalu."

Aku tahu dia berbohong. Ponselnya akan terus berdering kalau dia membuat Ino menunggu.

"Sai, aku tidak yakin dengan ini—"

"Setidaknya, jaga dia untuk malam ini saja. Sasuke akan ke sini, kan?" tanyanya.

Rasa ingin tahuku mengalahkan semuanya. "Bagaimana kau bisa tahu? Apa dia mengatakan sesuatu padamu?"

"Tentu saja. Aku harus pergi sekarang. Ino akan marah. Kau dan Ursula jaga diri baik-baik." Dia berjalan terburu-buru keluar pintu dan membanting menutupnya.

Aku segera berjalan menuju kulkas dan membaca daftar kebutuhan Ursula, ketakutan menimpa perutku seperti batu seberat lima ton. Daftar itu ditulis tangan, tulisannya rapat dan tidak rapi, namun ada begitu banyak informasi yang berhasil menutupi seluruh kertas.

Cara Merawat Ursula:

Ursula makan empat kali sehari; sarapan, makan siang, makan malam, dan sebelum tidur. Dia hanya mau makan setelah makanannya cukup lembut, jadi kau harus mencampurkan makanannya dengan susu dan biarkan sebentar. Kalau Ursula "menangis" di malam hari, beri dia makan lagi.

Bulu Ursula harus disisir setiap hari, kalau tidak, bulunya akan kusut dan akan ada banyak bulu kucing di seluruh perabotanmu. Kalau bulu Ursula rontok terlalu banyak, kemungkinan Ursula kurang makan. Beri dia makan lagi.

Kalau Ursula mencakar-cakar perabotanmu, berarti dia ingin perhatian. Kau dapat mencoba untuk bermain dengannya menggunakan mainan kucing yang sudah kusiapkan di dalam tas. Kalau itu tidak berhasil, beri dia makan lagi.

Di saku kecil di sebelah kanan tas ada mainan yang diisi cat-nip. Gunakan mainan itu hanya dalam keadaan darurat. Pastikan untuk segera menyiapkan makanan yang sudah lembut karena cat-nip membuat Ursula kelaparan dan kau harus memberinya makan lagi.

Pastikan kau segera membersihkan kotorannya setelah Ursula menggunakan litter box. Dia tidak akan mau masuk ke dalam litter box kotor dan akan buang air di belakang sofa atau di bawah tempat tidurmu kalau kotaknya tidak bersih. Kalau litter box-nya bersih, tapi dia masih buang kotoran di belakang sofa, itu berarti Ursula minta perhatian—cobalah bermain dengannya atau beri makan lagi.

Ursula suka spageti, baik itu mentah maupun sudah dimasak. Kau sebaiknya tidak meninggalkan spageti di sembarangan tempat, karena kalau Ursula memakannya, perutnya akan sakit. Tapi kalau kau menangkapnya sedang mencari spagetimu, berarti dia kelaparan. Beri dia makan lagi.

Di ujung kertas terdapat nomor telepon dalam keadaan darurat.

Siapa yang orang ini? Apa berat badannya juga seribu kilogram seperti kucingnya? Dan jenis keadaan darurat apa yang mungkin terjadi dengan binatang sepasif ini? Aku menghela napas dan memutar mata. Saat aku mengangkat kepala, aku melihat Ursula sedang berjuang untuk mengangkat tubuh gemuknya naik ke sofa.

"Jangan pikir kau bisa seenaknya melenggang di sini dan mendapat semua kenyamanan," ucapku. Ursula mengabaikanku, ia terengah-engah sambil terus berusaha naik. Aku akhirnya berjalan dan membantunya berdiri, dan ini hampir membuatku patah pinggang.

Tuhan, bantu aku.

Pada pukul tujuh malam, Ursula dan aku telah sepakat untuk saling menghindar. Atau mungkin hanya aku yang menghindarinya, ia masih belum beranjak dari tempatnya di sofa. Aku mencampurkan seporsi besar makanan kucing dengan susu seperti yang diinstruksikan, tapi Ursula belum menyentuhnya sama sekali dan makanannya sudah berubah menjadi segumpal agar-agar berbau menyengat. Aku segera masuk ke kamar tidurku selama satu jam berikutnya untuk menghindari kucing dan bau yang menyebar di seluruh ruangan.

Sasuke belum menelepon, tapi aku masih ingat dia bilang dia akan mampir. Bukankah seharusnya dia mengkonfirmasi rencananya dengan meneleponku hari ini? Mungkin dia berubah pikiran—aku terus melawan keinginan untuk meneleponnya dan menyibukan diri dengan membaca buku untuk membunuh waktu.

Beberapa menit kemudian aku mulai mengantuk. Aku sudah membaca buku ini berkali-kali. Akhirnya, aku menyeret tubuhku kembali ke ruang tengah dan duduk di kursi malas. Saat Ursula berbaring, dia memakan tempat lebih dari setengah sofa. Dia bahkan tidak bergerak sama sekali saat aku membuat secangkir kopi dan duduk.

"Apa kau tidak punya tempat tidur?" tanyaku padanya. Telinganya berkedut. "Kau tidak boleh mengambil seluruh sofa. Kau harus berbagi." Sekali lagi, dia mengabaikanku. Aku menyesal membantunya naik ke sofa. Ia seolah-olah bisa merasakan keberuntungannya saat ini dan menolak turun untuk berjaga-jaga kalau ia tidak bisa kembali lagi.

Aku menggonta-ganti saluran televisi selama beberapa menit dan hampir melompat kaget saat ponselku berdering. Aku cepat-cepat menjawabnya, dan menghela napas lega saat aku melihat layar yang bertuliskan nama Sasuke.

"Hei, Sakura. Apa kau tidak kemana-mana malam ini?" tanyanya. Aku otomatis menyeringai saat mendengar suaranya dan kemudian aku memutar mata dengan muram saat menyadari betapa konyolnya aku.

"Um, yeah. Aku tidak kemana-mana." Aku memaksakan suaraku agar terdengar santai. "Apa kau akan datang?" tanyaku.

"Ya." Dia berhenti bicara sesaat. "Aku akan sampai di sana sekitar lima belas menit lagi."

Lima belas menit lagi! Aku menyeringai seperti orang bodoh.

"Kau sudah berada di dekat Konoha?" tanyaku perlahan, pura-pura tidak peduli.

"Uh, tidak juga." Dia tertawa canggung. "Aku sudah dekat dengan apartemenmu. Aku hanya ingin memastikan kau tidak kemana-mana malam ini."

"Baiklah. Sampai nanti." Aku tidak bisa menahan senyum saat bicara, semoga saja dia tidak menyadarinya.

Setelah ia mengucapkan sampai nanti, aku langsung merapikan apartemenku. Aku menarik selimut dari bawah tubuh Ursula dan dan melipatnya dengan rapi sebelum meletakannya di sandaran sofa. Aku mencoba membujuk Ursula untuk menyingkir dari sofa dengan memegang semangkuk makanan yang berbau busuk di bawah hidungnya. Tapi, dia masih bergeming. Aku akhirnya menyimpan mangkuk makanannya di dalam kamar mandi dan menutup pintu, dan kemudian sedikit membuka pintunya agar Ursula bisa masuk ke litter box. Aku sedang mencuci piring saat teringat beberapa hari yang lalu, aku dengan sengaja menghancurkan rumah Sasuke untuk membuatnya jengkel. Sekarang aku membersihkan rumahku dalam rangka mengantisipasi kedatangannya. Apa yang kulakukan?

Ini membingungkan. Aku bahkan tidak tahu apakah apartemenku seharusnya dibersihkan atau tidak! Sambil menghela napas, aku menyelesaikan kegiatan bersih-bersihku ini, dengan alasan bersih-bersih memang harus dilakukan. Apalagi sekarang.

Aku bersih-bersih sampai gila sambil menunggu Sasuke tiba. Aku tahu aku seharusnya tidak usah terlalu bersemangat untuk menyambut kedatangannya. Ini hanya akan membuatku sakit hati di kemudian hari.

Tapi, aku juga tahu, saat ini aku tidak peduli dengan perasaan yang kurasakan.

Akhirnya terdengar suara ketukan di pintu.

Aku menghitung sampai sepuluh di dalam hati, dan perlahan-lahan berdiri dan menjawab panggilannya setenang yang kubisa. Aku membukakan pintu dan napasku terhenti saat melihatnya, walaupun dia hanya berpakaian santai—baju kaus abu-abu dan celana jins. Aku tiba-tiba menyadari kalau aku jarang melihatnya dalam pakaian kasual dan dia terlihat tampan menggenakannya. Lagi pula, dia memang terlihat tampan mengenakan apapun.

Aku menatapnya terlalu lama. Cukup lama sampai membuatnya tersenyum sombong.

Aku tidak mau repot-repot mengomentari kesombongannya saat ini. Aku beranjak ke samping agar ia bisa masuk.

"Hei, Cantik," sapanya. Julukan itu jatuh dari bibirnya dengan mudah.

"Hei."

Dia membungkuk untuk menciumku, "ciuman singkat" seperti tertulis di gerakan cepatnya, tapi gerakannya terlalu cepat bagiku, bibirnya menekan keras bibirku, tekanannya membuatku tersandung ke belakang. Aku langsung menggenggam kemejanya di saat yang sama saat ia meraih pinggulku untuk menahanku agar tidak jatuh. Meskipun kekacauan ini terjadi, bibir kami tetap saling bersentuhan, aku cekikikan di bibirnya, dan aku bisa merasakan senyumnya melawan bibirku.

"Sambutan kedatangan yang menarik, kan?" godaku, tapi ia langsung membungkamku dengan ciuman panas.

Beberapa saat kemudian ia meletakan keningnya di keningku. "Aku sudah memikirkan ini sepanjang hari," akunya. Aku mendeteksi sedikit keragu-raguan di matanya saat ia menatapku. Ini emosi yang masih menjadi teka-teki bagiku.

"Aku juga," ucapku. Sepanjang hari, sepanjang minggu—apa ada bedanya?

Dia menciumku lagi dan aku gembira. Akhirnya, kami tampak seolah-olah bisa berciuman tanpa ada keraguan yang selalu mengintai di sudut ruangan. Ini adalah perasaan yang luar biasa karena aku bisa menciumnya dengan liar seperti ini. Aku melakukan apa yang selalu ibuku katakan—living in the moment, hiduplah untuk saat ini—dan pada saat ini yang ingin kulakukan hanyalah berciuman dengan Uchiha Sasuke sampai ia tidak bisa bernapas.

Ino tidak akan menyetujui ini. Aku beruntung karena dia tidak di sini. Dan aku tidak akan mengungkapkan sesi ciuman kecil ini kepadanya—tidak boleh, tidak setelah kemarin.

Sasuke mencium keningku dan melangkah mundur. Aku mengerutkan keningku saat udara dingin mendadak menerpa kulitku.

"Apa kau sudah makan malam?" tanyanya. Aku menyadari, mungkin untuk pertama kalinya, aku belum makan malam sampai saat ini dan aku lapar. Mengantisipasi kedatangannya sudah membuat pikiranku sibuk sehingga pikiran untuk makan tidak pernah terlintas di benakku.

"Belum," jawabku. "Kau ingin memesan makanan?" Aku tidak bisa memikirkan hal lain yang lebih menarik daripada menghabiskan malam dengan Sasuke di sini. Mungkin kami bisa menonton film. Dan berciuman...

"Ya, ide yang bagus," jawabnya. "Kau mau makan apa?"

Aku mengambil beberapa menu dari laci dapur dan kami memutuskan untuk memesan masakan Cina. Aku menelepon restoran Cina sambil berdiri di dapur; Sasuke berjalan menuju ruang tengah dan aku menyaksikan tubuhnya membeku. Sambil mengerutkan kening, aku menutup telepon.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku.

"Ya," ucapnya gelisah. "Um, apa itu?" Aku melihat ke arah sofa dan kemudian langsung tersadar. Tentu saja dia mengacu pada raksasa malas yang mengambil alih perabotanku. "Kau punya kucing?" lanjutnya.

"Oh! Um, aku hanya menjaganya untuk beberapa hari," jelasku. "Dia kucing temanku. Namanya Ursula. Dia sangat... eh—ramah."

"Siapa yang ramah? Temanmu atau kucingnya?"

"Kucingnya."

"Oh." Dia menatap Ursula selama beberapa saat dan masih tidak mau beranjak dari tempatnya berdiri. "Kau... kau baik sekali mau menjaga kucingnya," ucap Sasuke.

"Um, yeah. Mereka... akan melakukan hal yang sama untukku," ucapku berbohong dengan kikuk. "Oh ya, restorannya bilang mereka akan mengantarkan makanannya setengah jam lagi. Kau mau menonton TV?"

Sasuke mengangguk dan kami berjalan menuju ruang tengah. Dengan Ursula mengambil alih tempat setengah dari sofa berarti tidak ada cukup ruang bagi kami berdua untuk duduk di sana. Salah seorang dari kami harus duduk di sofa kecil.

Dan jelas, itu tidak akan terjadi.

"Ursula, kau harus geser," ucapku sambil menyenggol tubuhnya sedikit. "Kau ingat apa yang kukatakan sebelumnya tentang berbagi?"

Sasuke melihatku dengan ekspresi geli. "Siapa yang memberinya nama Ursula?" tanyanya.

"Oh, eh... temanku. Maksudku, putrinya." Aku terus berusaha mendorong Ursula, mencoba untuk memprovokasinya agar mau berpindah dengan cara sebaik mungkin.

"Aku bisa duduk di sini," ujar Sasuke sambil menunjuk sofa kecil, tapi pada saat yang bersamaan Ursula menatapku dengan tatapan mematikan sebelum melompat turun dari sofa dan melenggang pergi.

Aku hampir meninju udara untuk merayakan kemenanganku.

"Ah, ini dia," ucapku sambil duduk. Sofa terasa nyaman dan hangat karena panas tubuh Ursula. Sasuke tertawa kecil saat ia duduk di sampingku.

"Apa ada acara yang ingin kau tonton? Aku tidak tahu ada acara apa saja sekarang..." Aku mulai menggonta-ganti saluran televisi tanpa berpikir. Aku tidak bisa berfokus pada televisi saat Sasuke hanya berjarak beberapa inci dariku.

"Tidak juga, saluran apapun tidak masalah buatku," jawabnya meyakinkan. Mungkin dia sama bingungnya denganku; ia kemudian menjatuhkan tangannya, dan sedikit menyentuh pahaku. Dia tidak memindahkan tangannya dari sana, dan meskipun kakiku ditutupi oleh celana jins, tapi sentuhan kecil ini hampir membuatku gila. Fokusku membidik di tempat itu. Sasuke seketika menyadarinya dan dengan cepat menarik tangannya.

"Maaf," gumamnya, dan aku ingin berteriak padanya untuk meletakan tangannya kembali di sana. Tapi, aku dengan kikuk mengalihkan perhatianku.

"Tidak apa-apa," ucapku. Keheningan tiba-tiba merayap di antara kami.

"Harimu lebih baik dari kemarin?" Sasuke akhirnya bertanya. Aku sedikit heran, sejenak melupakan pembicaraan kami tadi malam.

"Oh ya, hari ini baik-baik saja. Pekerjaanku berjalan dengan sangat baik—tidak terlalu sibuk," jawabku.

"Ya?"

"Ya. Bagaimana denganmu?" tanyaku.

Dia bergeser di sampingku dan aku tahu ia sedang memikirkan jawabannya. "Pekerjanku berjalan dengan baik," ucapnya pelan. Dia menggosok bagian belakang lehernya dengan gelisah dan aku senang akhirnya aku bisa membaca bahasa tubuhnya. Sekarang, dia sedang memikirkan sesuatu yang tidak mengenakan. Tapi apa?

Sebelum aku bisa bertanya, ia langsung menambahkan, "Kau tahu, hariku benar-benar terasa lebih baik karena aku tahu aku akan menemuimu malam ini." Dia mengernyit, seakan tidak puas dengan kesimpulan yang ia buat sendiri, dan menatapku.

"Apa itu hal yang buruk?" tanyaku, tidak dapat menahan diri.

"Tidak, Sakura. Aku rasa tidak."

Aku ingin bahagia mendengar pengakuannya ini, tapi pikiranku sedikit terganggu dengan respon nonverbal-nya. Apa dia berbohong? Apa dia merasa bersalah karena datang mengunjungiku? Apa dia marah karena merasakan ini?

Aku menghela napas dan berpaling, tidak tahu harus mengatakan apa tanpa mengungkapkan terlalu banyak hal.

Aku merasakan tangan Sasuke berada di daguku, ia dengan lembut mengarahkan perhatianku padanya. "Sakura?"

Aku tersenyum lemah. "Aku baik-baik saja, Sasuke." Dia terlihat tidak yakin, tapi tubuhnya langsung rileks.

Namun, kemudian ia mengernyitkan alisnya dengan curiga. "Aku khawatir denganmu saat kau memanggilku Sasuke," ucapnya serius. Aku tidak bisa menahan tawa.

"Kau benar," ucapku setuju. "Kau bisa dengan mudah menilaiku."

Dia tersenyum lembut dan bibirnya menciumi bibirku dengan manis. Mataku langsung terpejam karena aku sangat menikmati sensasi bibirnya dan wangi aftershave-nya. Aku bergeser ke arahnya, aku ingin lebih dekat dengannya, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.

Aku memutar tubuhku ke arahnya, kakiku terlipat saat aku menariknya ke atas sofa, tapi ini tidak dapat menutupi jarak di antara kami. Walaupun aku tidak naik ke pangkuannya lagi, aku masih dapat menerima sedikit jarak ini dan mulai menggerakan tanganku di atas dadanya yang keras, di kulit lembutnya, dan akhirnya di rambut di sekitar tengkuknya.

Lidah kami saling menyentuh, saling membelai dengan hati-hati. Sasuke kemudian mendorong bahuku dengan lembut, memaksaku berbaring, dan aku bisa merasakan dadanya di dadaku saat ia berbaring di atasku. Bibir kami hanya terpisah sesaat—hanya untuk menarik napas—dan kemudian bibirnya berada di rahangku, leherku, dan kembali lagi ke bibirku. Bedanya, kali ini, ciumannya tidak selembut dan semanis sebelumnya. Kali ini, ciumannya penuh gairah, belaian manis lidahnya berubah menjadi semacam kerinduan tertahan, dan aku membalas ciumannya dengan gairah yang sama.

Jari-jarinya menyentuh pipiku dengan lembut. Kemudian jari-jarinya melakukan perjalanan di bagian depan tubuhku, di antara payudaraku, dan ke bagian bawah perutku sebelum berhenti di ujung bajuku.

Aku mengencangkan tanganku di rambutnya dan menariknya perlahan. Ia mengerang di dalam mulutku, getarannya membuat tubuhku ikut bergetar.

Kemudian terdengar suara ketukan di pintu; ini membuat kami berdua kaget dan langsung memisahkan diri. Kami berdua terengah-engah menarik napas, dan aku mencoba untuk menenangkan detak jantungku.

Terdengar ketukan lagi, suara ketukannya lebih keras sekarang.

"Ini pasti pesanan kita," ucapku, dengan cepat berdiri. Namun, tiba-tiba Sasuke berada di belakangku, ia dengan lembut meraih pergelangan tanganku untuk menghentikanku.

"Aku yang membeli makan malam," ucapnya, nadanya memperingatkanku untuk jangan berdebat. Aku mengangguk dan ia memberiku sebuah ciuman singkat sebelum menarik keluar dompet dari saku belakangnya. Aku berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman saat Sasuke membuka pintu.

Ketika aku menarik gelas dari lemari, aku mendengar suara orang lain. Aku berasumsi mereka sedang membahas total tagihan atau makanan dan aku tidak mau berepot-repot mendengarkan pembicaraan mereka.

Dan kemudian aku mendengar namaku dipanggil dengan keras dan jelas. "Sakura." Aku berjalan ke pintu dan terkesiap saat melihat Morio berdiri di sana, sebotol anggur dan sebuket bunga kecil berada di tangannya.

Kedua pria itu menatapku. Aku berusaha untuk melihat Morio, mencoba untuk mengerti apa yang dia lakukan di sini, tapi aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari wajah Sasuke.

Sasuke terlihat marah. Marah dan... terluka?

Melihatnya terluka juga membuatku sakit dan juga membantuku untuk mengeluarkan suara. "Apa yang sedang terjadi?" Mataku akhirnya bergerak ke arah Morio, yang secara terang-terangan memelototi Sasuke.

Sasuke menatapku. "Itu yang ingin kuketahui."

o0o

to be continued

o0o