Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Fem!Deidara, beda dari yang canon

Selamat Membaca

Deidara tengah duduk di sebuah batuan tinggi, ia disuruh untuk menjaga wilayah kosong yang sudah tertanam bom tanah liatnya. Ekspresi wajahnya nampak bosan, berulang kali menghela nafas, matanya tertuju pada batu kerikil yang sedang ia mainkan menggunakan jarinya untuk menghilangkan rasa kantuk.

Kuapan besar dan telapak tangan menutup mulutnya. Sangat membosankan, terkadang dia bertanya-tanya kapan dirinya ditugaskan di barisan depan, duduk menunggu orang-orang bodoh kena perangkapnya.

Fokusnya terpecah saat mendengar kerikil yang ditendang dari balik batu besar.

"Siapa? Keluar!"

Dari balik batu keliar seorang ninja memakai ikat kepala Desa Suna, memiliki surai maroon dan sepasang iris hazel menatap ke arahnya tanpa cahaya. Kelihatannya pemuda itu bersiap untuk melawannya, Deidara menyeringai saat melihat dua kugutsu yang muncul di kiri dan kanan pemuda ninja Suna itu.

"Akhirnya ada hiburan disaat sedang bosan seperti ini, un."

"Hn, aku disini bukan untuk menghiburmu, bocah pirang."

Deidara memasukan tangan kanannya ke dalam tas nendo miliknya, untuk pertama-tama dia akan menguji tamunya ini menggunakan bom-bom kecilnya, karena kemungkinan besar pemuda berambut merah itu hanya kan berdiri di tempatnya dan tidak akan menginjakkan kaki ke dalam perangkapnya, dia harus meladeni kugutsu-kugutsu yang dimainkan pemuda itu.

"Haha! Aku akan membunuhmu dengan karya seniku." Sebuah senyum lebar menghiasi wajah Deidara, senyum penuh percaya diri.

Seringai muncul di wajah laki-laki itu. "Coba saja."


Senyum itu menjadi senyum terakhir Deidara, kemampuannya masih berada di bawah pemuda itu, Deidara berhasil melukai wajah pemuda itu menggunakan taijutsu. Deidara mengutuk dirinya sendiri. Tangan kirinya memegangi luka di pinggangnya, luka gores itu menjadi luka fatal untuknya, racun telah masuk ke dalam tubuh, dan dia tidak memiliki obat penawar.

Sekarang tubuhnya sudah mulai melemah, nafasnya terengah-engah, pandangannya mulai buram, kedua kakinya sudah tak kuat untuk menopang tubuh. Brukh, Deidara ambruk jatuh ke tanah pasir, pandangannya yang sudah buram masih berusaha melihat lawannya, Deidara masih berusaha untuk kembali bangkit untuk melawan ninja Suna bertampang menyebalkan itu, tak peduli racun yang ada di dalam tubuhnya.

"Ughh ..." Sebelum kesadarannya hilang Deidara bisa melihat samar-samar ninja Suna itu berjalan mendekatinya.

Pemuda berambut merah itu mendekati Deidara ternyata dia berniat untuk memberikan penawar racun ke Deidara. Laki-laki itu kelihaannya tidak ada niat untuk membunuh Deidara, atau dia memang memiliki pikiran lain untuk memanfaatkan Deidara untuk tujuannya. Racun yang dipakainya ini hanya untuk melumpuhkan lawan.

"Sepertinya dia aset desa," ujung bibirnya naik, "bisa kugunakan dia nanti," gumamnya seraya membuka botol kaca kecil berisi cairan bening, lalu dia meminumkan penawar racun itu ke Deidara.

Sasori mengeluarkan bonekanya yang lain, yang dia beri nama Kuroari, dia memasukan Deidara ke dalam bonekanya yang itu setelah memastikan sekelilngnya hanya ada dia dan Deidara.

Sasori pun pergi dari tempat itu tanpa meninggalkan jejak. Sasori membawa Deidara ke temoat persembunyian bawah tanah miliknya. Sasori dengan baik hati, mengeluarkan Deidara dari dalam Kuroari, membopongnya ke matras, mengambil tas kecil berisi tanah liat milik Deidara dan meletakkannya di dalam Kuroari lalu menyelimuti tubuh Deidara menggunakan kain tipis sebagai selimut.

Suara erangan menahan sakit beserta keringat yang mengucur dari dahi Deidara membuat Sasori duduk di sebelahnya sebentar, hanya untuk memastikan anak ini tidak mati. Punggung tangan milik Sasori mengecek suhu badan Deidara lewat dahi dan lehernya. Sasori menarik tangan kanannya dari leher Deidara.

Deidara demam. Tanda obat penawarnya yang dia berikan sedang bekerja, Sasori hanya memandangi wajah Deidara yang seperti sedang menahan rasa sakit, iris coklat miliknya berpindah fokus ke tangan Deidara yang bergerak seperti mencari sesuatu untuk berpegang. Grep, Sasori menggnggam tangan kanan Deidara, berharap itu bisa menenangkan sanderanya.

Sesuai dugaannya, wajah Deidara yang kesakitan melembut dan tanganya kembali berada di atas perut. Sasori membiarkan tangannya digenggam Deidara walaupun dengan begini dia tidak leluasa untuk bergerak, setidaknya membuat sanderanya ini tenang dahulu. Selang beberapa detik akhirnya pegangan Deidara pada tangan Sasori mengendur, Sasori menggunakan kesempatan ini untuk menarik tangannya.

"Akhirnya lepas juga, aku mau menyediakan makan malam dahulu deh," gumamnya.

Saat Sasori berdiri, dia mendengar suara samar-samar Deidara, minta untuk tidak meninggalkannya, sepertinya sanderanya ini jauh lebih muda darinya, kemungkinan besar karena memiliki kekkei genkai jadi dimanfaatkan desa saat lagi perang seperti ini. Sasori pun berjalan menuju kotak berisi bahan makanan, Sasori sempat berpikir membuat makanan berupa sup atau cukup nasi kepal saja.

Sasori menengok ke belakang, melihat ke Deidara. "Kuperhatikan lagi, dia ternyata perempuan, yasudahlah ... nasi kepal saja."

Selama Sasori membuat nasi kepal sesekali mendengar suara berisik dari arah belakang, lalu suara berisik itu diakhiri dengn teriakan kaget. Sasori masih fokus dengan kegiatannya, tidak sedikit pun teraganggu dengan suara itu. Tiba-tiba sebuah batu kerikil dilempara dan mengenai kepala Sasori.

"Hm? Sudah bangun?" tanya Sasori dengan santai tanpa mengalihkan pandangannya.

"Ini dimana? Kau ... menculikku?!"

"Ya, aku pikir kamu cocok dijadikan sandera, terus kamu juga cantik dan imut, sayang untuk kubunuh dengan cepat."

"Cantik dan imut?!" pekik Deidara, pipinya merona merah, ada sedikit rasa senang muncul, dipuji ninja setampan dia tidak buruk. "Bukan-diriku ini tidak berguna."

"Kudengar kamu itu cucunya Tsuchikage, jadi kupikir kamu sandera yang bagus."

Deidara menyibak selimutnya, lalu berdiri. "HAH! Aku tidak punya keluarga, mereka hanya memanfaatkan kekkei genkai-ku dan menjadikanku bidak dalam perang ini."

"Kamu masih memiliki tenaga untuk berteriak dan berdiri, Sasori memutar badannya ke belakang, lalu mengulurkan tangan kanannya yang memegang nasi kepal yang baru saja jadi. "Lebih baik makan dulu."

Deidara menatap curiga nasi kepal di tangan Sasori, Sasori menghela nafas.

"Tidak ada racunnnya, aku benar-benar buat ini untukmu dan untuk diriku sendiri."

Meskipun ragu, Deidara mengambil nasi kepal itu dan memakannya, rasanya seperti nasi kepal biasa, tidak ada bumbu aneh di dalamnya atau warna-warna mencurigakan yang mengindikasikan bahwa makanan ini mengandung racun. Sasori makan nasi kepal membelakangi Deidara, taapan penuh curiga Deidara sangat menganggunya.

"Kenapa kamu melihatku terus? Aku tidak akan melakukan hal-hal aneh padamu."

"Waspada, dan dimana tas nendo-ku?"

"Tidak akan aku beri tahu."

"Cih."

"Jadilah anak gadis baik dan makan sampai habis."

"Sudah habis."

Sasori mengambil satu nasi kepal dari kotak bento miliknya, lalu dia menyodorkannya pada Deidara. "Mau lagi?"

Deidara tidak menjawab, namun tanpa bertaya lagi Sasori sudah tahu jawabannya, nasi kepal di tangannya diambil Deidara.

Sasori menghabiskan dua nasi kepal sementara Deidara tiga, Sasori memberikan satu lagi pada Deidara, Sasori sempat melirik saat Deidara makan, kelihatannya anak perempuan itu menyukai nasi kepal buatannya.


"Oi."

"Apa? Kalau kamu masih mau bertanya kemana tas nendo-mu tidak akan kuberitahu."

"Cih, pelit."

"Biar kamu tidak pergi dari sini, aku membutuhkanmu sebagai sandera, atau ..." Sasori beranjak dari tempat duduknya mendekati Deidara, dia berlutut satu kaki, jari telunjukknya mengangkat dag Deidara. "Kamu ingin menjadi koleksi baruku?" ucapnya sembari menyeringai.

Manik biru Deidara bergetar, menatap iris hazel milik Sasori tubuhnya membeku, harusnya dia bisa memukul tangan Sasori tetapi tangannya tidak ingin bergerak sekeras apapun otaknya memerintah.

Tangan kanan Sasori bergerak menyingkirkan poni panjang Deidara yang menutup sebagian paras cantiknya, kedua mata birunya bergitu indah dan menenangkan, paras cantik yang berbeda dari perempuan yang biasa Sasori lihat. Sasori ingin seali mengabadikan wajah cantik ini.

"Dilihat dari dekat, keindahan yang melekat pada dirimu makin kelihatan, sayang kalau tidak diabadikan."

"A ... apa maksudmu? Un."

"Aku tertarik dengamu, aku tidak akan membunuhu untuk saat ini, bocah," bisiknya di dekat telinga Deidara. "Daripada dimanfaatkan oleh desa bagaimana menjadi salah satu koleksiku saja?" suara Sasori terdengar menyeramkan, "Aku berjanji akan merawat kecantikanmu dan dua mata birumu yang sangat indah ini abadi."