A Betting Man
.
.
Sakura POV
Morio memegang sebuket bunga anggrek dan lili di tangan kanannya. Aku dulu pernah mengatakan padanya kalau anggrek adalah bunga favoritku, dan aku kaget dia masih ingat.
Tapi sekarang, dia hampir menghancur bunga-bunga itu di dalam genggamannya.
Aku terus menjaga nada suaraku agar tetap tenang. "Morio, apa yang kau lakukan di sini?"
Dia mengalihkan tatapannya ke arahku. "Tentu saja untuk menemuimu. Tapi, aku rasa aku datang di saat yang tidak tepat."
Sasuke mengerutkan kening dan menundukan kepalanya. Semuanya kacau.
"Boleh aku bicara denganmu di luar?" desisku pada Morio.
"Apa kau tidak akan memperkenalkan kami?" tanyanya balik, dan aku ingin mati mendengar ucapannya.
Tapi, Sasuke menatapku penuh harap dan aku merasa dikeroyok.
Aku memelototi Morio. "Sasuke, ini Morio. Temanku. Morio, Sasuke."
Mereka tidak berjabat tangan atau pun saling menyapa. Mereka sama sekali tidak peduli.
"Boleh aku meletakan ini di lemari es?" Morio mengangkat botol anggurnya, dan kemudian langsung berjalan melewatiku sebelum aku bisa menjawab. "Anggur ini harus didinginkan. Perjalananku panjang untuk sampai ke sini, aku rasa anggurnya sudah hangat—"
Sasuke terlihat tidak nyaman. Aku yakin warna wajahku sudah sama dengan warna jaket merah gelap Morio.
"Morio? Di luar?" selaku, kembali mencoba bicara.
"Aku bisa pulang sekarang," ucap Sasuke tiba-tiba. Morio terlihat puas.
"Tidak, aku mohon jangan pulang dulu." Kali ini, aku tidak bisa lagi menjaga nada suaraku. Aku benar-benar terganggu sekarang. "Morio? Di luar?"
Morio dengan enggan mengangguk dan melangkah ke luar pintu. Mata Sasuke menatap mataku sepersekian detik saat aku berjalan melewatinya, tapi aku tidak bisa menangkap emosi yang terkandung di dalamnya.
Suasana di lorong sangat sepi. Aku hanya bisa mendengar suara degup jantungku sendiri dan adrenalin yang mengalir gara-gara ini. Pembungkus buket bunga bergemerisik saat Morio menjatuhkan lengannya ke samping.
Aku memelankan suaraku, tidak ingin mengganggu tetangga.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku lagi.
Morio mendongak menatapku, dia kaget. "Aku ingin memberimu kejutan," gumamnya.
Ya, aku tahu itu. Tapi, aku masih jengkel.
"Sebaiknya kau meneleponku dulu. Aku sedang ada tamu, Morio." Aku mengucapkan ini dengan putus asa sambil berharap agar dia mengerti kalau aku benar-benar terusik dengan kedatangannya.
Matanya berkedip saat menatapku. "Ya, aku sudah mendengar tentangnya."
Aku terkesiap. Shannaro. Apa dia tahu tentang taruhan itu?
Ucapanku berikutnya terdengar rendah namun mengancam. "Apa yang kau bicarakan?" Kalau dia tahu tentang taruhan itu, aku harus membunuhnya di sini, di lorong ini. Dan tak satu pun dari kami menginginkan itu.
Dia mulai berjalan bolak-balik dengan gelisah. "Aku bicara dengan Ino."
Aku kembali terkesiap.
Oh, Tuhan. Tolong ampuni dosa temanku itu, karena dia akan mati.
Aku langsung panik. Aku tidak pernah merasa sangat... dikhianati oleh sahabatku sendiri.
Menceritakan taruhan pada Sai sudah membuatku gila. Menceritakannya pada Morio membuatku ingin meledak.
"Kau... apa... maksudku... apa... apa yang dia katakan padamu?" Aku hampir tidak bisa merumuskan kata-kata saat ini.
"Dia bilang pria itu pengecut dan kau pantas mendapatkan pria yang lebih baik darinya."
Seluruh tubuhku seolah-olah mendesah lega. Tapi, ini tidak menghilangkan kekhawatiranku yang lain.
"Kenapa kalian berdua membicarakanku? Dan kenapa kau membawa bunga dan anggur?" tanyaku sambil menunjuk ke buket bunga yang sudah berantakan.
Dia terlihat bersalah saat melihat buketnya. "Ini idenya Ino. Dia bilang kau belum pernah lagi bertemu dengan seorang pria romantis, dan mungkin kalau kau diperlakukan berbeda, kau mungkin akan membuka hatimu. Aku ingin meneleponmu, tapi Ino bilang aku akan merusak kejutan ini. Dan aku pikir aku sebaiknya mendengarkan Ino." Dia mendengus.
Aku tidak memercayai pendengaranku. Aku tergoda untuk masuk ke dalam apartemen dan membersihkan telinga agar bisa mendengar ucapannya lagi dan mudah-mudahan dapat membuat situasi ini mudah dimengerti.
"Apa kita melupakan sesuatu di sini, Morio? Kau meninggalkan aku! Kau tahu aku tidak bisa mengikutimu, dan tidak ada satu hal pun yang dapat menghentikanmu untuk meninggalkanku." Suaraku meninggi saat kenangan lama kembali datang membanjiri pikiranku.
Dia terlihat jengkel. "Ayolah, Sakura. Kau tahu keluargaku sangat membutuhkanku. Dan aku mencoba untuk tetap berhubungan denganmu..."
"Ya," selaku menyindirnya, "karena bertemu denganmu dua kali setahun itu rasanya menyenangkan sekali."
"Sakura..."
"Dengar, aku harus kembali ke dalam," selaku lagi. "Aku sedang berkencan dan aku bersikap kasar padanya sekarang."
Morio terlihat tidak puas. "Baiklah," ucapnya sambil mendesah. Dia melihat buket bunganya dengan sedih. "Maukah kau setidaknya menerima ini?" tanyanya penuh harap.
Aku menatap buket bunga itu tanpa ekspresi. Sekalipun kalau aku menginginkannya, aku tidak akan sampai hati untuk melambai-lambaikannya di depan wajah Sasuke.
Dan aku harap Sasuke tidak pergi setelah ini.
Aku perlahan-lahan menggelengkan kepala. "Tidak."
Morio mendesah keras. "Baiklah." Dia melihat buket bunga itu seolah-olah tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi. "Maaf aku menghancurkan kencanmu, Sakura. Sampai nanti."
"Ya," ucapku sambil berharap agar ia tidak terlalu tersinggung. Morio pria yang baik hati. Kami bisa berteman baik kalau dia mau.
Tapi, ada terlalu banyak kenangan bersama Morio. Terlalu banyak kebahagiaan, sakit hati dan memori, dan aku sudah menutup bab itu dalam kehidupanku. Kenangan bersamanya adalah sebuah bab yang tidak ingin kutinjau kembali.
Dia berjalan pergi sambil bergumam selamat malam dan aku kembali berjalan ke dalam apartemenku sambil mempersiapkan diri untuk percakapan menegangkan berikutnya.
Aku melihat Sasuke duduk di sofa. Dia jelas terlihat tegang—tubuhnya bersandar ke depan, sikunya diletakan di lutut, dan tangan berada di wajahnya. Dia menatap televisi dengan ekspresi kosong, tapi perhatiannya langsung terfokus padaku saat aku masuk.
Aku setengah berharap dia akan berjalan menghampiriku di pintu, tapi dia tidak bergerak sama sekali saat aku berjalan mendekat. Dia tidak terlihat marah, hanya tegang dan gelisah.
"Siapa itu, Sakura?" tanyanya, suaranya terdengar begitu tenang walaupun sedikit dingin.
Aku menelan ludah dan berhenti berjalan di tengah-tengah ruangan sambil menghadap ke arahnya. "Um, bukan siapa-siapa. Maksudku, dia mantan kekasihku," aku terburu-buru menjelaskan, "Tapi, sudah bertahun-tahun aku tidak melihatnya. Kami baru bertemu lagi kemarin dan sepertinya dia berpikir terlalu jauh."
Dia mengangkat alisnya dan mengangguk, tatapannya beralih ke lantai. "Mantan kekasihmu?"
"Ya, tapi hubungan kami sudah berakhir dulu sekali."
Dia sekarang terlihat marah, tapi aku tidak tahu kenapa. Dia akan bertemu dengan seorang gadis bernama Karin untuk berhubungan seks! Aku bahkan tidak melakukan kesalahan apa-apa.
Dia mendesah dan menarik rambutnya. "Apa aku harus pergi?" tanyanya tiba-tiba.
"Tidak!" Matanya langsung melihatku, kaget. "Maksudku, tidak ada yang terjadi antara aku dan Morio sekarang. Itu sudah lama. Aku bahkan sudah berbulan-bulan tidak memikirkannya."
"Apa kau serius dengannya?" tanyanya pelan.
Oh, Tuhan, kenapa kami harus membicarakan ini?
Aku memutuskan untuk bicara jujur. "Ya. Tapi, hanya sebentar. Awalnya kami memang sudah berteman."
"Apa kau masih menyukainya?" tanyanya lagi.
Aku menatapnya, berharap dia dapat merasakan kejujuran di ucapanku. "Tidak. Tidak lagi." Dan ini memang benar. Aku dulu menyukai Morio, tapi dia membuang harapanku saat dia meninggalkanku.
Kehadiranku tidak cukup untuk membuatnya tinggal di sisiku, dan sekarang kehadirannya tidak cukup bagiku untuk memberinya kesempatan kedua.
Sasuke terlihat sedikit lega dengan jawabanku, tapi sebelum ia bisa merespon ucapanku, suara ketukan kembali terdengar dari pintu. Kami berdua membeku.
"Itu mungkin pesanan kita," ucapnya, nada suaranya masih terdengar pahit. Aku mengangguk dan mencari-cari dompetku sambil diam-diam berdoa agar itu bukan Morio lagi.
"Sepertinya begitu. Dengar, Sasuke, biar aku yang akan membeli makan malam hari ini—"
Tapi, dia sudah berdiri. "Jangan konyol, Sakura. Sudah kubilang, aku yang membeli makan malam." Dia berjalan ke arah pintu dan membukanya, oh syukurlah, itu petugas pengantar makanan.
Aku kembali ke dapur untuk mengambil minum. "Apa kau makan langsung dari kartonnya?" tanyaku padanya.
"Kau bagaimana?"
"Ya. Tapi, aku bisa membawakanmu piring kalau kau mau," ucapku lagi.
"Langsung dari kartonnya saja tidak apa-apa." Dia tiba-tiba berhenti bicara. "Apa kita makan di depan TV lagi?" tanyanya.
Dia masih belum mengerti dengan peraturan di sini.
"Sasuke, meja makanku hanya berfungsi sebagai tempat meletakan buku. Aku tidak pernah makan di sana."
"Lalu untuk apa kau punya meja makan?"
"Pertanyaan yang bagus. Meja makan itu termasuk salah satu dari fasilitas gratis apartemen." Aku membawakan minuman kami ke ruang tengah. Sasuke menyiapkan makanan di meja kopi. "Walapun begitu, mejanya cocok menjadi tempat rak buku yang bagus," jelasku.
"Di luar sana ada orang yang membuat rak buku. Kau tahu itu, kan?"
"Untuk apa aku membeli rak buku kalau meja makanku sudah berfungsi sebagai rak buku?"
Dia menggeleng kepala sambil terkekeh. "Entahlah, Sakura."
"Tepat sekali, Sascakes. Tetaplah bersamaku dan kau bisa belajar satu atau dua hal baru tentang cara berhemat."
Serial televisi lama bermain di layar, namun tak satu pun dari kami memfokuskan perhatian ke sana. Perhatianku berfokus pada Sasuke lebih dari seharusnya. Aku sangat lega karena dia tidak langsung melesat keluar setelah kejadian dengan Morio tadi.
Kami mengobrol hal-hal sepele. Dia memberitahuku tentang rumah pertamanya—sebuah apartemen yang lebih kecil dari apartemenku sekarang. Dia juga bilang tentang perjalanan nekatnya ke Tokyo bersama Sai setelah awal keberhasilan perusahaannya dan berfoya-foya, alhasil ia diceramahi oleh pamannya.
Aku menceritakan tentang apartemen pertamaku yang menyedihkan. Aku menjelaskan padanya bagaimana Ino dan aku bertemu di acara berkemah yang menakutkan bersama teman-teman kuliah kami. Aku menceritakan bagaimana ayahku, Kizashi, menasehatiku tentang narkoba saat masih berusia tujuh tahun.
Makan malam selesai dalam waktu singkat. Namun, telur gulung di karton makanan Sasuke masih tidak tersentuh, dan aku mencoba untuk mengambilnya, tapi dia dengan cepat menangkis sumpitku.
"Aku mau itu!" ucapnya keras kepala.
"Kau bahkan belum menyentuhnya sama sekali!" timpalku.
"Aku selalu makan telur gulung terakhir."
"Kau memakannya terakhir? Apa itu semacam... aturan?" tanyaku tidak percaya.
"Mungkin."
"Bagaimana kau bisa tahan untuk tidak memakannya selama itu? Telur gulung adalah makanan terbaik dari masakan cina," ujarku.
"Pernahkah kau mendengar tentang menunda kepuasan? Menunda kepuasan dapat meningkatkan kepuasan," ucapnya. Dia mengintip ke arahku dan aku bergeser dengan tidak nyaman sambil berusaha untuk pulih dari tipu daya kata-kata dan ekspresinya. Apa ini disengaja?
Aku berdeham.
"Siapa pun yang mengatakan itu berarti tidak pernah mencoba telur gulung."
"Ini, tarik ujungnya," ucapnya, dia mengalah dan memberiku setengah telur gulung.
Setelah makan, aku pergi ke kamar mandi. Aku kaget saat menemukan mangkuk makanan Ursula sudah kosong, tapi kucing itu tak bisa ditemukan. Aku mengangkat bahu dan kembali ke ruang tengah.
Ternyata Ursula sudah kembali ke sofa. Di pangkuan Sasuke.
Di pangkuan Uchiha Sasuke!
"Apa yang terjadi di sini?" seruku. "Kau lihat, kan, bagaimana sulitnya aku untuk menyuruhnya minggir!"
Bukankah Sai mengatakan kalau Sasuke tidak suka kucing?
Sasuke menatapku putus asa. "Aku tidak membantunya naik."
"Kalau begitu siapa yang membantunya?" tanyaku tidak percaya.
"Dia melompat."
"Dia melompat?" Entah bagaimana, aku tidak menyangka itu bisa terjadi. "Dia bahkan hampir tidak bisa berjalan!"
"Dia bisa melompat dengan cukup baik," omelnya.
Ursula menatapku saat kami bicara, ekspresinya kosong seperti biasa. Dia jelas tidak berniat untuk pindah. Tubuh gemuknya mengambil seluruh pangkuan Sasuke.
Aku cemberut padanya sebelum duduk di sofa. Aku cemburu.
Sasuke tidak membelainya, tapi Ursula tampaknya tenang-tenang saja berbaring di sana. Sasuke terlihat sangat canggung dengan Ursula berada di pangkuannya.
Aku bisa membayangkan bulu kucing akan banyak menempel di pakaiannya dan tersenyum senang.
"Kau tidak perlu terlihat sesenang itu," ucap Sasuke saat melihat reaksiku.
Aku membungkuk dan menggaruk bagian belakang telinga Ursula. Dia tidak terlihat senang atau pun marah saat aku menyentuhnya tiba-tiba. "Apa yang kau bicarakan? Aku senang kalian berdua akur. Ursula, kau kucing yang manis, kan? Hah? Ya, kan?" Aku memanis-maniskan suaraku seolah-olah sedang berbicara dengan bayi.
Sasuke mencoba untuk bergeser, tapi berat badan Ursula membuatnya menyerah.
"Kau memberinya makan apa?" erangnya.
"Makanan kucing dan susu," jelasku.
"Kau sebaiknya mengurangi karbohidratnya."
"Akan kusampaikan pesanmu pada pemiliknya," ucapku sambil menahan senyum.
Ursula bergeming di pangkuannya. Aku kehilangan minat untuk terus berpura-pura menyayanginya dan memberi perhatian pada televisi sambil menggota-ganti saluran. Aku secara bersamaan memuji dan mengutuk Sai, karena Ursula berhasil membuatku menjaga jarak dari Sasuke.
Aku menemukan tayangan ulang Sherlock dan kami mulai menonton sambil mengobrol ringan tentang kejadian-kejadian masa lalu kami. Aku belajar lebih banyak tentang Sasuke malam ini daripada sebelumnya. Dan aku dengan rakus melahap setiap kata yang ia ucapkan.
Ursula akhirnya tertidur. Aku melihat Sasuke dari sudut mataku, jantungku berdebar-debar kencang setiap kali aku menyadari dia menatapku. Dia tidak sadar kalau aku bisa melihatnya dan akhirnya, saat aku benar-benar menoleh padanya, kami berdua saling tersenyum kecil sebelum wajahku memanas dan mengalihkan tatapanku.
Aku sudah duduk bergeser sangat dekat dengannya di sofa, paha kami sudah saling bersentuhan. Tapi, tidak lebih dari itu.
Akhirnya, aku merasa jengkel dengan kucing ini. Aku bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur, kemudian membuka lemari es dan mengambil sekaleng bir dingin. Aku mendesah keras agar Sasuke bisa mendengarku.
"Sasuke, maukah kau datang ke sini sebentar?"
Dia akhirnya berhasil membebaskan diri dari Ursula dan mengikutiku ke dapur. Aku melihat Ursula melompat turun dari sofa dan berjalan ke kamar tidurku, dan aku diam-diam bersukacita.
"Ada apa?" tanya Sasuke sambil mengerutkan keningnya. Aku menyerahkan kaleng bir sambil cemberut.
"Bisakah kau membukakan ini? Tanganku selalu sakit saat membukanya."
"Oh, tentu saja." Dia mengambil kaleng bir dari tanganku dan membukanya dengan mudah sambil tersenyum sombong. Aku menahan diri untuk memutar mata.
"Kau mau?" tanyaku.
"Tidak, terima kasih," ucapnya menolak tawaranku. Seperti yang kuduga, baju dan celana jinsnya sudah penuh dengan bulu kucing. Aku rasa dia tidak menyadarinya.
"Kau berbulu," ucapku sambil tertawa. Aku menjulurkan tangan untuk menepuk-nepuk menyingkirkan bulu kucing, tapi tanpa sadar aku menyentuh zona berbahaya. Aku tidak menyadari ini sampai Sasuke tersentak dan melangkah mundur, keluar dari jangkauan tanganku.
Aku kaget dan menarik kembali tanganku.
"Maaf!" seruku, mataku terbelalak. Ekspresi Sasuke sama seperti ekspresiku.
"Tidak apa-apa," gumamnya. Dia terbatuk dan mengerlingkan kepala.
Kecanggungan kemudian menyelimuti suasana.
Aku langsung cepat-cepat menenggak bir, wajahku sudah terasa panas dan dapat menghangatkan udara dapur. Aku berdoa agar Sasuke mau mengatakan sesuatu untuk menempatkanku keluar dari penderitaan memalukan ini.
Ia melihatku, alisnya berkerut khawatir. "Kau baik-baik saja?"
Aku mengangguk. Bir tinggal setengah. Aku bahkan tidak ingin bir! Aku hanya ingin kucing sialan itu memberikan kami sedikit waktu.
"Aku baik-baik saja."
Kami kemudian kembali ke ruang tengah, kecanggungan baru memudar sedikit. Sasuke akhirnya menyadari seberapa banyak bulu kucing di celana jins-nya dan mulai mengomel.
Aku sedikit bertanya-tanya, apakah kejadian ini mengacu pada aturan nomor dua—kalau bulu Ursula rontok terlalu banyak, berarti dia perlu diberi makan lagi—tapi, aku tidak berkomentar apa-apa dan menyesap birku dalam diam, sambil berusaha keras untuk tidak melihat ke sana.
Sasuke mengumpat pelan. "Apartemenmu akan tertutup bulu kucing. Sejak kapan kau menjaganya?"
"Baru hari ini," jawabku.
Dia menggumamkan sesuatu, dan aku kira dia tidak terlalu puas dengan jawabanku, "Semoga berhasil."
Dia akhirnya duduk, dan menyerah dengan bulu-bulu yang menempel di pakaiannya. Aku bergeser mendekatinya, dan dia mengangkat lengan dan meletakannya di bahuku.
Dia memutar kepalanya dan membenamkan hidungnya di rambutku. Kemudian menghirup napas dalam-dalam, tubuhku terasa digelitik.
Aku menoleh ke arahnya, untuk menatapnya, tapi dia salah membaca gerakanku dan aku segera merasakan bibirnya menekan lembut bibirku. Aku segera menarik wajahku darinya dan menatap tanganku, pikiranku dihantui oleh sejuta skenario.
Aku ingin dia menciumku. Aku sangat menginginkannya. Walaupun aku tahu, aku seharusnya tidak menginginkan ini, dan pikiran inilah yang menghentikanku. Setidaknya untuk saat ini.
"Aku minta maaf," bisiknya, dan dia beranjak dariku.
Aku tahu suasana hatiku memang sering sekali bergonta-ganti. Ini pasti sebuah penyiksaan baginya—setidaknya, begitulah pikirku. Tapi, aku juga tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan ini.
"Kau tidak melakukan apa-apa," gumamku pelan. Dia tidak terlihat yakin.
"Benarkah?"
"Ya." Dan untuk membuktikan ucapanku, aku menyentuh kedua sisi wajahnya dan menariknya ke arahku, bibir kami langsung bertemu.
Persetan dengan akal sehat. Persetan dengan bersikap bijaksana. Aku diizinkan untuk mencium seorang pria tampan—Ino bahkan bilang begitu padaku, dulu. Lagi pula, aku juga tidak akan melakukan apa pun dengannya.
Sasuke menanggapi ciumanku dengan gairah yang sama, seolah-olah dia telah menunggu inisiatifku, dan sebelum aku tahu apa yang terjadi, dia mendorong lembut tubuhku, dan tubuhku rebah di lengan kursi. Tubuhnya berada di atas tubuhku, lututnya berada di antara pahaku, dan lidahnya menyentuh lidahku dengan lambat dan membelainya dengan lembut. Aku meremas bajunya dan menariknya semakin dekat ke tubuhku.
Ciuman membakarnya membuat pikiranku berkabut. Aku kembali mencoba untuk berfokus, aku tahu aku bisa melakukan ini. Aku bisa berhenti kalau ini semua sudah kelewat batas. Aku bisa berhenti.
Ciumannya bergerak dari rahang ke telingaku, ke bawah leherku, ke tulang leherku. Dia mengulum dan menghisap kulitku dan aku mengerang keras—memalukan sekali. Aku bisa merasakan senyumnya di kulitku.
Napasku terengah-engah saat jari-jarinya membelai kulit perutku, mendorong bajuku naik. Aku tidak protes saat jari-jari menyentuh material bra-ku. Aku tidak protes saat tubuhku secara otomatis duduk tegak untuk melepas bra-ku sendiri.
Aku bisa berhenti.
Aku bisa berhenti.
Sasuke mencium dadaku, perutku, tonjolan payudaraku dan setiap permukaan kulit yang dapat ia capai. Bibirnya kembali menciumi leherku dan napasnya terasa panas dan lembab di telingaku.
"Oh, Tuhan, aku menginginkanmu," bisiknya.
Ucapannya membuatku merinding. Aku juga menginginkannya, lebih dari yang ia tahu. Lebih dari seharusnya.
Aku kembali mengerang, suaraku terbungkam oleh bibirnya. Tangannya menyentuh sisi samping payudaraku, kemudian berjalan ke celana jins-ku. Dia membuka kancingnya dengan sebelah tangan.
Aku bisa berhenti.
Tubuhku terasa sakit karena merindukan sentuhannya. Namun, tiba-tiba aku bertanya dalam hati siapa yang lebih tersiksa dalam plot kecil ini.
Jarinya berlama-lama di pinggir celana dalamku, membelai kulit di bawahnya. Aku bisa merasakan kalau dia sedang menunggu sebuah izin tak terucap sebelum melanjutkan aksinya. Aku sebaiknya menghentikan Sasuke sekarang. Aku harus menghentikannya sekarang.
Sebagian dari otakku—bagian yang sangat tersembunyi, bagian rasional—tiba-tiba muncul. Aku duduk tegak agar bisa menatap matanya. Warna matanya sekarang semakin gelap, dipenuhi gairah.
"Aku tidak bisa—" Aku merasa tidak bisa bernapas. Aku merasa tidak bisa bernapas sama sekali. "Kita tidak seharusnya—aku hanya—kita tidak bisa berhubungan seks," ucapku terbata-bata. Aku berharap agar Sasuke menarik diri dan segera pergi, tapi matanya tidak beralih dari mataku. Dia mencium daguku dengan lembut.
"Kita tidak akan berhubungan seks," bisiknya. "Aku hanya ingin membuatmu merasa lebih baik, Sakura."
Oh, shannaro.
Tapi, mulut sialanku tidak bisa diam. "Aku hanya—aku tidak ingin kau mengharapkan banyak hal..."
Dia mengecup bibirku, sentuhannya terasa lembut. "Aku tidak mengharapkan balasan apa-apa, Sakura. Aku janji. Tapi, kita bisa berhenti sekarang." Dia mencoba untuk menarik dirinya, tapi aku mencengkeram bahunya dan memaksanya kembali.
Aku menciumnya dengan keras. Kukuku menggores dadanya, lidahku memaksa masuk ke mulutnya, dan dia mengerang. Ini tindakan insentif yang dia butuhkan—tangannya kembali ke bawah tubuhku, ke celana dalamku, dan membelaiku di sana. Aku tidak pernah merasa sentuhan yang begitu intim seperti ini dari seorang pria. Tubuhku sudah sangat terangsang, dan aku rasa aku bisa mencapai klimaks sebentar lagi.
Aku bisa berhenti. Aku bisa berhenti aku bisa berhenti aku bisa berhenti.
Dia melepas ciuman kami, dan hanya menyisakan sedikit ruang di antara kami. Napasnya memburu, sama seperti napasku.
"Tidak apa-apa?" tanyanya hati-hati. Dia mengecup hidungnya dengan lembut sambil menunggu jawaban dariku.
Aku mengangguk. Aku tidak ingin dia berhenti.
Kami tidak akan melakukan sesuatu yang lebih jauh dari ini. Aku tahu kapan harus berhenti.
Aku bisa berhenti.
Dia menggerak tangannya ke atas dan menusap kulit perutku yang berada tepat di atas celana dalamku. Tangannya berhenti di sana, menungguku untuk memberi aba-aba.
"Boleh aku...?" tanyanya lagi. Aku mengangguk sekali lagi, aku tidak bisa mengeluarkan suaraku, dan napasku semakin memburu saat jarinya yang panjang membelai klitorisku. Aku mengerang keenakan dan pinggulku secara naluriah terangkat, melawan arah gerakannya.
Dia menciumi leherku lagi, kemudian menciumi bahuku. Dia memasukan sebuah jarinya ke dalam vaginaku, mataku langsung terpejam dan aku menjerit keenakan. Aku melempar kepalaku ke sofa dan mengerang keras, aku tidak bisa memikirkan apa-apa lagi selain sensasi kenikmatan ini. Dia menggerakan jarinya ke atas dan ke bawah dan bergerak melingkar di klitorisku, jarinya terus berputar dan menyentuhku di tempat-tempat yang bahkan akupun tidak tahu ada di sana. Tanganku menarik-narik rambutnya, aku butuh pegangan untuk menjagaku tetap berada di sini. Dia sepertinya menikmati ini dan erangannya teredam di kulitku.
Dia kembali memasukan sebuah jarinya lagi ke dalam vaginaku dan menggerakannya keluar-masuk, ibu jarinya membelaiku lembut, dan ini memunculkan perasaan paling gila dalam hidupku. Pinggulku semakin terangkat tinggi dan semakin menghentak-hentak melawan gerakan tangannya. Aku bisa merasakan tekanan yang menggelitik, dimulai dari selangkanganku dan menyebar ke seluruh tubuhku. Sensasi ini semakin lama, semakin hebat. Aku ingin berteriak. Ini penyiksaan terbaik di sepanjang hidupku.
Akhirnya, tekanan yang kurasakan terlalu besar, dan aku tidak bisa menahannya lagi. Aku bisa merasakan kewanitaanku berdenyut di tangan Sasuke saat gelombang demi gelombang kenikmatan menjalari tubuhku. Aku menjerit, suaraku terdengar keras di apartemenku yang hening, dan aku memeluknya sekuat tenaga saat mencapai klimaks.
Saat klimaksku berakhir, aku sedikit melonggarkan pelukanku. Aku menikmati nuansa tubuhnya yang menyelimuti tubuhku, jaraknya begitu dekat, dan aku tidak ingin dia menarik dirinya. Tangan kiriku tetap berada di rambutnya, menolak untuk membiarkannya pergi.
Sasuke menggerakan wajahnya dan menciumku dengan penuh gairah. Dia meletakan keningnya di keningku, dadanya menyentuh dadaku setiap kali ia menarik napas.
"Kau merasa lebih baik?" tanyanya, suaranya tidak lebih dari sekadar bisikan.
Aku mengangguk lemah. Seolah-olah tidak ada lagi energi yang tersisa, bahkan untuk sekadar berbicara.
Dia menggeser tubuhku di sofa, memaksaku tubuhku bergerak agar ia bisa berbaring di sampingku. Dia memelukku dan aku memutar tubuhku agar aku bisa meringkuk di dadanya.
Aku merasakan tekanan ereksinya di antara kakiku dan aku mengerutkan kening. Aku tahu dia merasa tidak nyaman; aku tahu ia juga butuh untuk 'dikeluarkan'. Aku ingin memberinya klimaks, aku ingin melakukan sesuatu, tapi aku tiba-tiba merasa ketakutan.
Aku mendambakan sentuhannya, kehadirannya. Segala sesuatu tentangnya. Ini sudah berada di luar kendaliku. Aku ingin membalas semua tindakan jahatnya padaku, aku ingin mendorongnya keluar dari apartemen dan mengatakan padanya untuk jangan datang lagi. Aku ingin meneteskan air mata dan bermuram durja sambil membersihkan sistem pikiranku darinya, sebelum semua ini semakin parah.
Aku tidak pernah merasa sesenang dan semenderita ini karena seseorang. Aku tidak pernah merasakan emosi yang begitu kuat. Aku merasakan air mataku keluar, tapi aku berusaha untuk menahannya, aku juga menahan sakit di tenggorokanku dan isakan tangis.
Wajahku terbenam di dada Sasuke, untung saja dia tidak bisa melihatku sekarang. Aku tidak tahu bagaimana aku akan menjelaskan gejolak yang tiba-tiba kurasakan ini padanya.
Dia membelai rambutku. Dia mencium keningku.
Aku ingin melakukan sesuatu untuknya, untuk membebaskannya dari tegangan ini. Aku ingin melakukannya, tapi aku tidak bisa. Aku bahkan tidak bisa menemukan kata-kata untuk memberinya sebuah alasan atau pun untuk meminta maaf.
Sebaliknya, aku hanya terus memeluknya dengan erat. Tubuhku menempel di tubuhnya seakan-akan hidupku bergantung padanya.
Kami hanya berbaring di sini, tak satu pun dari kami yang bicara. Dia terus membelai rambutku, punggung, bahu, dan lenganku. Aku masih bertelanjang dada dan kancing celana jinsku masih terbuka, jari-jarinya menenangkanku. Celanaku melonggar dan tergantung rendah di pinggulku; sebuah jarinya kemudian menyentuh punggungku, ia menjalankannya semakin rendah, sampai menyentuh ujung celana dalamku. Lalu ia kembali menggerakan jarinya ke bahuku dan tubuhku menggigil.
Aku rasa malam sudah semakin larut, walaupun aku belum melihat jam. Tapi, aku terlalu larut dalam pelukannya dan tidak repot-repot dengan waktu.
Aku akhirnya menemukan suaraku. "Terima kasih," bisikku di dadanya dan tangannya menyentuh bahuku.
Aku berterima kasih untuk banyak hal—salah satunya untuk pekerjaan tangannya yang luar biasa tangan. Dan membuatku mencapai klimaks. Tapi, aku juga berterima kasih karena ia tidak memaksaku, karena ia berada di sini, karena ia berbaring di sebelahku.
Dia tidak mengatakan apa-apa. Akhirnya, tangannya mulai menjelajahi punggungku lagi.
Aku menghela napas dan semakin bersandar ke tubuhnya.
"Apa itu terlalu berlebihan?" akhirnya ia bertanya, tapi aku bingung dengan maksudnya.
"Apa yang terlalu berlebihan?"
"Itu—kau tahu apa. Aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman," jawabnya.
Aku menyeringai di kemejanya. "Tidak, itu, um... sangat menyenangkan," ucapku. Dia terkekeh.
"Aku tahu."
Sekarang aku merasa malu. "Tutup mulutmu."
"Aku senang melihatmu seperti itu," lanjutnya. "Seluruh pertahanan dan kesombonganmu luluh."
Aku mengerutkan kening. Aku tidak yakin apa maksudnya. Tapi, aku tidak ingin menekannya. Aku merasa terlalu rileks, terlalu lelah untuk mendiskusikan hal-hal serius saat ini.
Mungkin dia juga merasa puas karena aksinya tadi. Aku hanya bisa berharap begitu. Tapi, aku tahu, dia pasti merasa tidak nyaman menggunakan celana jinsnya sekarang.
"Maaf aku tidak, eh... membalasnya," ucapku canggung. Dia tidak bergerak di sampingku.
"Aku sudah bilang aku tidak mengharapkan balasan apa-apa," gumamnya.
"Semua orang tahu kalau pria menginginkan itu," protesku.
"Aku mengucapkan hal yang sebenarnya, Sakura." Dia berhenti bicara sejenak. "Ini semua sangat berbeda untukku. Kadang-kadang aku bertanya dalam hati apa aku payah dalam melakukan ini."
"Apa maksudmu?"
"Berbaring di sini bersamamu. Di sofa. Ini bukan hal yang biasanya kulakukan. Ini bukan hal yang biasanya ingin kulakukan." Dia frustasi mencari kata-kata. "Tapi aku menyukaimu, Sakura. Aku benar-benar menyukaimu. Biasanya membuat seseorang mencapai klimaks tanpa orang itu membuatku mencapai klimaks... Entahlah, Sakura. Tapi, aku ingin membuatmu mencapai klimaks. Aku suka membuatmu mencapai klimaks. Dan itu sudah cukup bagiku." Dia berhenti bicara, lalu mendesah. "Aku tahu ini tidak masuk akal," lanjutnya.
Aku terguncang saat mendengar kata-katanya dan perlahan-lahan mulai memproses ketulusannya. Ucapannya terdengar sangat tulus. Dan aku ingin percaya padanya. Aku benar-benar ingin memercayainya.
Jari-jariku bermain dengan rambutnya dan mataku terpejam.
"Kenapa ini semua berbeda?" bisikku. "Kenapa kau tidak pernah dekat dengan seorang pun sebelumnya?"
Dia sudah berusia dua puluh tujuh tahun. Sudah seharusnya dia bertemu dengan, setidaknya, seseorang. Seseorang yang membuatnya merasa nyaman berpelukan di sofa.
Aku merasakan tubuhnya membeku. "Aku dulu pernah dekat dengan seseorang. Sekali. Tapi, aku sudah melihat efek yang diakibatkan saat kau dekat dengan seseorang."
Tubuhku langsung waspada, aku melahap kata-katanya yang berharga. Aku menunggunya bicara, tapi ia tidak melanjutkannya.
"Apa maksudmu?" tanyaku pelan. Aku ingin dia terbuka denganku. Aku tidak ingin menakut-nakuti dengan segala tuntutanku.
Dia mendesah dan menarikku semakin erat ke dadanya. "Ceritanya panjang," ucapnya. "Aku tidak ingin mengingatnya sekarang."
Sial. Harapanku mengempiskan seperti balon bocor.
Tapi, aku tidak memaksanya lagi. Kalau dia ingin bicara, dia akan bicara. Aku mungkin tidak ada bersamanya saat ia bicara, dan memikirkan ini saja sudah membuatku sedih.
Kami berbaring dalam diam. Pernikahan tinggal beberapa hari lagi. Tujuanku melakukan ini adalah untuk mendapatkan pasangan kencan yang akan kuajak ke pesta pernikahan nanti, agar aku bisa memamerkan seorang pria tampan di depan para pecundang yang berpikir aku tidak bisa mendapatkan seorang pria. Tapi, saat aku memikirkan ini, aku menyadari mungkin saja mereka benar. Aku sepertinya tidak bisa mendapatkan seorang pria baik-baik. Morio adalah pria terbaik yang pernah bersamaku, tapi dia meninggalkanku tanpa melirik sedikitpun ke belakang, dia membuatku terluka dan kebingungan.
Aku ingin tahu apakah semua orang juga pernah merasakan hal sesulit ini. Aku ingin tahu apakah aku hanya bisa membuat pria-pria jahat tertarik padaku.
Aku ingin tahu apa Sasuke mengatakan hal yang sebenarnya, dan apakah dia benar-benar menyukaiku. Dan menganggapku berbeda. Mungkin dia menyesali taruhannya.
Harapan adalah suatu hal yang tidak bisa dipercaya. Harapan selalu berubah-ubah.
Malam sudah semakin larut saat ia pergi. Aku memasang bajuku dan berjalan mengantarnya ke pintu sambil berharap kami berada dalam keadaan normal dan aku bisa memintanya untuk tinggal.
Dia menciumku dengan lembut, tangannya menyentuh wajahku dan lidahnya dengan lembut membelai lidahku. Aku rasa dia juga tidak ingin pergi, tapi tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Dia mengecup keningku, dan bibirku lagi, sebelum mengucapkan selamat malam dan menyelinap keluar pintu.
Aku melihatnya berjalan menyusuri lorong. Dia menoleh ke belakang, dan aku tersenyum untuk terakhir kalinya sebelum menutup pintu dan menguncinya.
Aku tidak tahu di mana Ursula berada. Tapi, aku juga tidak mau repot-repot mencarinya. Aku langsung masuk ke kamar dan tertidur. Aku masih bisa mencium aroma Sasuke di pakaianku; dan itu membantuku tertidur dengan lelap.
o0o
to be continued
o0o
