A Betting Man
.
.
Sakura POV
Semuanya begitu cerah. Begitu putih. Begitu murni.
Begitu juga dengan Sasuke. Dia berpakaian serba putih, bahkan sepatunya mengkilap, dia terlihat menakjubkan. Rambutnya, yang biasanya berantakan, sekarang terlihat sangat rapi. Tapi, kulitnya terlihat lebih gelap.
Dia menatapku. Aku berdiri beberapa meter darinya.
Dia mengangkat tangannya dan membuat gestur padaku untuk datang mendekat.
Dan aku? Aku tentu saja melakukan apapun permintaannya. Aku sudah berada di sisinya dalam sekejap.
Persetan dengan basa-basi.
Aku melihat ke dalam matanya. Matanya yang gelap dan membara, menatapku dengan lapar. Matanya membuatku tergelitik dengan cara yang sangat berbeda, namun menakjubkan. Wajahnya terlalu menggoda untuk diabaikan, dan aku mengangkat tanganku untuk menyentuh dagunya. Dia menutup matanya sambil mendesah.
"Sakura."
Caranya menyebut namaku, cara lidahnya memanggil namaku, membuatku hampir jatuh. Apa-apaan ini? Aku selalu berpikir kalau ini hanyalah sebuah kiasan...
Dia bergerak semakin dekat, buku-buku jarinya menyentuh pipiku. Aku tanpa sadar melangkah mundur dan menabrak sesuatu. Aku mengerutkan kening dengan bingung, karena benda apapun yang berada di belakangku sekarang tidak ada di sana sebelumnya. Saat aku berbalik, aku melihat meja.
Aku bingung. Ada meja, di sini, di hamparan padang rumput luas secerah ini. Di sini hanya ada kami dan meja.
Saat aku berbalik kembali menghadap Sasuke, dia sedang tersenyum. Dia sepertinya tidak terganggu dengan kemunculan meja aneh ini dan malah membungkuk untuk mencium lembut bibirku.
"Aku sudah menunggu lama untuk ini," bisiknya. Aku merinding mendengar kata-katanya.
Dia meraih bagian belakang pahaku dan menggendongku ke meja. Dia berdiri di antara kakiku dan melumat bibirku dengan kasar, ciumannya sedikit menyakitkan, tapi tubuhku melengkung ke arahnya dan menarik-narik rambutnya dengan kasar dan penuh gairah. Dia bersandar ke arahku dan membuatku berbaring di meja, tubuhnya berada di atas tubuhku. Kemudian dia kembali menciumku, bibirnya menyerang leherku, bahuku. Dia menghisap dan menggigiti kulitku, gerakannya tidak tenang. Ini menyakitkan, sekaligus menyenangkan, dan aku menerimanya.
Dan kemudian, tiba-tiba saja kejantanannya sudah berada di dalam tubuhku. Kejantanannya mengisiku sepenuhnya, membuat mataku terpejam dan aku mengerang keras. Aku bahkan tidak sadar kalau aku sudah telanjang, tapi untuk apa aku mengeluh?
Tingkat kepekaanku sepertinya sudah meningkat drastis. Aku bisa merasakan setiap inci tubuhnya. Dia menempelkan tubuhnya di atas tubuhku, menyelimuti tubuhku.
Dia mengerang dan napasnya yang panas menggelitik telingaku. Aku ingin bicara—aku membuka mulut, mencoba untuk mengucapkan kata-kata—tapi, aku tidak bisa.
"Akhirnya," dengusnya. "Aku mulai berpikir kau tidak akan pernah membiarkanku untuk menidurimu."
Jantungku berdetak semakin cepat.
"Aku sudah bilang pada Sasori," lanjutnya. "Aku bilang padanya, ini akan menjadi taruhan termudah yang akan kumenangkan. Maksudku, hanya dengan melihatmu saja dari seberang ruangan aku bisa tahu, kau tidak akan pernah lepas dariku. Kau seorang wanita yang sudah putus asa." Dia semakin mempercepat gerakan pinggulnya. "Sangat putus asa."
Kata-katanya menyakitkan, mengiris perasaanku. Aku ingin bicara, menangis, menjerit, tapi aku tidak bisa—aku merasa hancur. Aku merasa seperti ada beban berat di dadaku, mencegahku untuk bernapas atau pun bergerak.
Aku mulai panik—aku akhirnya berhasil menarik napas dalam-dalam dan setengah dari rambut Sasuke ikut terhirup, membuatku tersedak.
Aku tersentak dan terbangun, aku batuk-batuk tanpa henti dan cepat memerhatikan sekelilingku. Aku masih tidak bisa bernapas, dengan alasan—Ursula berbaring tepat di atas dadaku, bokongnya di wajahku, tubuhnya yang serupa gunung salju raksasa menghalangi pandanganku. Ekornya menari-nari di mulutku—mulutku mengisap bulu Ursula seperti mesin penghisap debu setiap kali aku menghirup napas.
"Shannaro!" gerutuku. Aku mendorong hewan mematikan itu dari dadaku dan langsung menarik napas dalam-dalam. "Kau bercanda? Apa kau mencoba untuk mencekikku saat tidur?" teriakku, tapi satu-satunya tanggapan yang kuperoleh dari Ursula adalah kibasan ekornya di udara, dia melenggang pergi lewat pintu kamar tidurku.
Aku merasa gugup saat kembali berbaring. Mimpi itu terasa begitu nyata. Dan aku tidak pernah tahu kucing itu mencoba untuk membunuhku saat tidur, mimpiku semakin mengerikan dibuatnya. Aku harus untuk menutup pintu lain kali, kalau perlu menguncinya.
Aku berbaring selama beberapa menit. Kemudian aku bangun untuk buang air kecil, dan menemukan setumpuk besar kotoran kucing di toiletku, dan aku mencoba untuk menyiramnya. Aku menghabiskan waktu sepuluh menit berikutnya untuk membersihkan kotoran kucing dan mengutuknya sambil berharap bisa kembali ke mimpiku, karena, setidaknya aku bisa mendapatkan sedikit kesenangan.
Tapi, saat aku kembali berbaring, pikiranku benar-benar kacau. Memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan Sasuke hanya membuatku muak.
Setelah beberapa saat kemudian, aku mulai tenang, dan tertidur.
Aku tergesa-gesa bersiap-siap berangkat kerja. Aku meninggalkan Ursula setumpukan besar makanan sambil memikirkan kalau aku harus kembali ke apartemen saat istirahat makan siang untuk memberinya makan lagi. Aku melemparkan beberapa buah mainan kucing di ruang tengah dan berdoa agar perabotanku masih baik-baik saja saat kembali.
Pekerjaanku cukup sibuk hari ini, sehingga hariku terasa berjalan dengan cepat. Saat jam makan siang, aku bergegas pulang untuk memberi makan Ursula dan makan sepotong sandwich. Aku masih belum bicara dengan Ino.
Sekitar pukul dua siang, aku mengirim pesan padanya.
Kau sudah mati di mataku. -Sakura
Aku hanya bercanda. Aku kemudian mematikan nada ponselku, jadi sekalipun dia membalas pesanku, aku tidak akan tergoda untuk membalasnya. Aku pikir ini ide yang bagus untuk membiarkannya merenungkan sesaat semua perbuatannya.
Setelah pulang bekerja, aku kembali memberi makan Ursula. Dia melahap makanannya dengan rakus, seolah-olah aku belum memberinya makan seharian, dia menatapku, susu menetes dari bulu di sekitar mulutnya. Aku yakin dia sedang mengucapkan terima kasih. Aku mengelus lembut bulunya, untuk berterima kasih kembali karena dia tidak mencabik-cabik perabotanku, dan kemudian mencuci bulunya dari tanganku di wastafel.
Aku menyikat bulunya setelah dia selesai makan malam, aku menggangkat gumpalan bulu putih tebal dari punggung dan perutnya. Dia menggeliat di sofa agar aku tidak melewatkan sedikitpun bulu kusut sambil mendengkur.
Setelah aku selesai, aku membersihkan sofa dari bulu-bulunya.
Setelah urusan Ursula selesai, aku akhirnya memeriksa ponselku untuk melihat apakah Ino sudah membalas pesanku atau belum, tapi aku menemukan dua pesan dari Sasuke, pesannya dikirim tiga jam yang lalu. Hatiku mencelos dan langsung memeriksanya.
Aku memikirkanmu sepanjang hari. -Sasuke
Kau sibuk hari ini? -Sasuke
Aku tersenyum lebar saat mengetik balasan.
Maaf, aku baru membalas pesanmu sekarang, aku menyetel diam ponselku. Aku juga memikirkanmu. -Sakura
Saat aku baru saja selesai membaca pesan dari Ino. Ia sudah meneleponku dan langsung menutupnya sebelum mengirim pesan padaku.
Apa yang kau bicarakan? -Ino
Aku meneleponnya balik dan dia langsung menjawab.
"Oh, halo Nona 'kau sudah mati di mataku'," jawabnya masam. "Untuk apa aku mendapat kehormatan telepon darimu?"
Aku memutar mata. Dia tidak akan mengintimidasiku, oh shannaro.
"Kau tahu apa yang kau lakukan," ucapku. "Jadi, jangan coba-coba untuk menyangkalnya."
"Apa yang kau bicarakan?" tanyanya lagi.
"Kau bicara dengan Morio," jawabku langsung.
"Ya, jadi? Dia meneleponku," ucapnya polos.
"Kau juga memberinya alamatku. Dan kau menyuruhnya untuk melakukan kunjungan kejutan dengan membawa bunga dan anggur."
Ino menarik napas kaget. "Maksudmu dia benar-benar melakukannya?"
Sekarang aku nyaris marah. "Ya dia melakukannya! Dia juga melakukannya saat Sasuke berada di sini."
Dia berhenti bicara, dan aku tahu dia sedang mempertimbangkan ucapanku. "Jadi?"
"Jadi?" tanyaku balik.
"Jadi, aku berani bertaruh perasaan Sasuke campur aduk saat itu. Kedatangan Morio benar-benar ide cemerlang. Tunggu sampai aku beritahu Sai—"
"Tidak, Ino. Jangan katakan apapun pada Sai. Aku marah. Aku sudah bilang padamu kalau aku tidak ingin bertemu dengan Morio dan kau tidak mendengarkan ucapanku."
"Oh, ayolah, Sakura. Morio memperlakukanmu seperti seorang tuan putri."
"Dia meninggalkanku!" sanggahku.
"Dia ingin berada dekat dengan keluarganya. Dia home sick. Itu bisa dimengerti—"
"Tidak, Ino. Itu tidak bisa dimengerti. Bagaimana perasaanmu kalau Sai tiba-tiba saja berkemas dan pindah seribu mil jauhnya tanpa memberitahumu terlebih dahulu? Kemudian dia kembali dua tahun kemudian sambil berpura-pura dia tidak pernah meninggalkanmu? Apa itu baik-baik saja untukmu?"
Dia tidak menjawab dan aku tahu dia akhirnya mengerti.
"Kau tidak akan senang, kan, kalau itu terjadi?" lanjutku.
"Aku hanya ingin kau bahagia, Sakura. Aku tidak ingin melihatmu terluka. Tapi kau benar, aku seharusnya tidak mendorong Morio padamu seperti itu."
Tunggu sebentar! Yamanaka Ino baru saja mengaku kalau dia salah! Ini berita besar!
"Terima kasih, Ino. Aku menghargai itu. Dan aku mengerti kau hanya mengkhawatirkanku, tapi... umurku sudah dua puluh empat tahun. Aku bisa membuat keputusanku sendiri."
"Aku mengkhawatirkanmu dan Sasuke. Sakura, aku tahu dia tampan dan jelas dapat memesona nyaris setiap wanita. Tapi, aku rasa kau mulai melupakan apa tujuanmu melakukan ini. Kau bilang kau ingin memberinya pelajaran karena membuat taruhan itu. Kau bilang kau ingin membuatnya menderita. Dan sekarang? Kapan terakhir kali kau melakukan sesuatu untuk memberinya pelajaran?"
"Kucing—" gumamku.
"Kucing itu ide yang bodoh," sela Ino. "Kecuali kalau kau berencana untuk membawanya ke rumah Sasuke. Dan aku pikir kau seharusnya tidak melakukan itu. Kucing adalah makhluk hidup. Bukan mainan untuk skema jahat kalian berdua."
Aku tiba-tiba merasa defensif. "Aku tidak pernah menginginkan kucing. Mungkin kau harus berbicara dengan pacarmu tentang hal ini."
"Aku sudah membicarakannya dengan Sai, tapi dia sudah terlanjur bilang pada temannya kalau dia akan menjaga kucingnya."
Aku memutar mata. "Oh, aku mengerti. Lebih baik membiarkan Sakura yang malang untuk mengurus ide gila Sai daripada mengurusnya sendiri."
"Kau tahu bagaimana perasaanku tentang kucing, Sakura. Terutama kucing putih besar berbulu lebat."
Aku mendengar suara bip dari ponselku dan melihat Sasuke sedang mencoba untuk meneleponku.
"Dengar, Sasuke sedang meneleponku," ucapku tanpa berpikir.
"Jadi?"
Sial.
"Jadi, aku harus menjawabnya."
"Telepon dia setelah kau selesai bicara denganku. Oh Tuhan, untuk seseorang yang ingin membuatnya menderita, kau benar-benar menuruti semua keinginannya."
"Itu tidak benar. Apa aku tidak diizinkan untuk menjawab telepon darinya sekarang? Oh Tuhan, aku tidak sadar ada begitu banyak aturan."
"Hanya ada satu aturan, Sakura. Jangan terikat dengannya."
"Benar. Mengagumkan sekali," ucapku sinis. "Aku harus pergi sekarang. Bye."
Aku menutup telepon tanpa memedulikan protesnya, tapi telepon dari Sasuke juga sudah berakhir. Aku menghela napas dan menunggu beberapa saat sampai voice mail-ku muncul.
"Hei Sakura, aku hanya menelepon untuk menanyakan bagaimana kabarmu. Apa kau belum pulang kerja..." ucapannya terdengar canggung. "Sial, hanya dengan mendengarkan suaramu di voice mail-ku yang lalu sudah membuatku senang. Dan um, aku ingin berbicara denganmu malam ini. Tapi, aku mulai merasa kalau aku hanya mengganggumu tanpa henti saat kau tidak menjawab teleponku." Dia terkekeh. "Aku kira aku akan bicara lagi denganmu nanti. Bye, Cantik."
Aku memegang ponsel di dadaku dan melawan keinginan untuk menjerit seperti anak sekolahan. Dia begitu bersemangat untuk mendengar suaraku, dan bahkan dia senang mendengar suaraku di pesan suara? Shannaro, aku bahkan tidak ingat pesan suaraku terdengar seperti apa.
Aku memikirkan Ino—dan segala sesuatu yang dia ucapkan—dan kegembiraanku langsung sedikit menurun. Sialan kau, Ino. Tapi, aku rasa dia benar.
Aku menelepon balik Sasuke.
"Hei," dia langsung menjawab. "Apa kau sedang sibuk?"
"Tidak, aku tadi sedang menelepon Ino. Maaf."
"Tidak apa-apa. Bagaimana pekerjaanmu hari ini?"
"Sibuk. Itu sebabnya aku mematikan nada dering ponselku."
"Aku mengerti."
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Menyenangkan," ucapnya. "Aku makan siang dengan Sai. Dia ingin kita pergi double-date dengannya dan Ino besok."
Aku membeku. Aku, Sasuke, Ino dan Sai? Sendirian? Kami semua... di ruangan yang sama!?
Aku hanya bisa membayangkan kecanggungan macam apa yang akan terjadi saat Sai berusaha membuat kami tidak nyaman. Pikiran ini membuatku resah.
"Um, apa kau setuju?" tanyaku hati-hati.
"Tidak masalah buatku. Kalau kau mau."
Katakan tidak, Sakura. Katakan saja tidak!
"Um, aku..." aku berusaha mencari-cari alasan untuk menolak. "Maksudku, aku mungkin harus lembur besok..."
Aku ingin membenturkan kepalaku ke dinding. Aku pembohong yang payah!
"Ya, tidak apa-apa," ucap Sasuke lancar. "Kita lihat kapan kau selesai bekerja dan langsung berangkat ke restoran yang mereka inginkan. Mereka bisa pergi berkencan tanpa kita." Dia berhenti bicara. "Aku tidak keberatan untuk bertemu denganmu," akunya.
Alam bawah sadarku menari gembira. Kemudian Ino, setara dengan setan merah kecil di bahu kiriku, menyerang alam bawah sadarku dan menghantamnya sampai jatuh.
Aku memutar mata dengan keabsurditasan pikiranku. Kenapa aku membiarkan kata-kata Ino memengaruhiku dengan cara seperti ini? Aku sudah dewasa. Aku bisa membuat keputusanku sendiri.
"Aku juga ingin bertemu denganmu," ucapku. Tapi, aku lebih suka saat Sai berada beberapa mil jauhnya dari kami berdua. Begitu juga dengan mata menghakimi Ino.
"Bagus kalau begitu," dia menghela napas lega.
Aku berjalan ke kamar tidurku, dan berbaring telungkup di tempat tidurku sambil mengayunkan kaki di udara. Aku merasa seperti seorang anak sekolahan malam ini, tapi aku tidak peduli.
"Apa kau sedang di rumah?" tanyaku.
"Ya. Kau?"
"Ya."
"Apa kau sudah bicara lagi dengan... pria... itu?"
Aku memutar mata, tapi aku tersenyum lebar. "Kenapa? Kau cemburu?" tanyaku.
"Tentu saja aku cemburu," ucapnya serius. "Aku tidak menyukainya."
"Kau tidak mengenalnya. Bagaimana caranya kau bisa tidak menyukai seseorang saat kau tidak mengenalnya?"
"Kenapa kalian berdua sampai putus?"
"Dia pindah."
"Itu alasan yang cukup bagus. Seorang pria sejati tidak akan pernah meninggalkanmu."
Aku bisa memikirkan banyak hal lain yang tidak akan dilakukan oleh seorang pria sejati, tapi aku tidak ingin membahasnya sekarang. Dan apa aku benar-benar orang yang lebih baik? Aku juga bersalah karena banyaknya kebohongan yang kulakukan, dan itulah kenapa aku tidak bisa mengeluh.
"Aku rasa tidak," ucapku menggodanya.
"Bagaimana kabar kucing?" tanyanya, mengalihkan topik pembicaraan.
Aku terkesiap saat mengingat kejadian pagi ini and memutar tubuhku. Aku benar-benar mengabaikan mimpiku—atau lebih tepatnya, mimpi burukku—dan berfokus pada bagian dimana Ursula hampir membunuhku.
"Aku rasa dia tidak menyukaiku," keluhku. "Dia mencoba mencekikku saat aku tidur. Dia berbaring tepat di wajahku—aku tidak bisa bernapas"
Dia tertawa. "Oh, Sakura. Apa kau baik-baik saja?"
"Sejujurnya, aku sedikit trauma."
"Aku bisa membayangkannya."
"Dan kemudian poop-nya menyumbat toiletku."
"Apanya?"
"Poop-nya. Besar sekali, Sasuke. Aku hampir mengira itu kotoran gajah."
Sekarang dia tertawa histeris dan aku ikut tertawa bersamanya.
"Aku menghabiskan sebagian besar waktuku di toilet subuh-subuh," lanjutku. "Dia mungkin punya tumpukan poop yang sedang menungguku sekarang. Aku belum memeriksanya."
"Aku rasa sebaiknya kau jangan menyiramnya sekarang."
"Tidak, aku mungkin harus mengangkatnya keluar dari sana dengan crane."
Aku menggeleng, tidak habis pikir dengan percakapan kami. Semuanya terasa begitu mudah. Aku bisa berbicara dengannya sepanjang malam.
Kami bicara selama satu jam lebih, kami bercerita dan saling membuat lelucon. Dia akhirnya mengungkapkan alasan ketidaksukaannya pada kucing, itu bermula dari kucing Bibi Keiko yang mengencingi semua pakaiannya. Sasuke menjelaskan kalau Bibi Keiko bilang dia layak mendapatkannya karena meletakan pakaian di sembarang tempat—dan dia harus mengambil pakaiannya dari lantai agar tidak dikencingi kucing lagi. Tapi, kucing itu tetap mencari pakaiannya dari dalam lemari, jadi itu tidak ada pengaruhnya.
Aku tidak bisa berhenti tersenyum saat menutup telepon. Bahkan senyumku tidak pudar saat menemukan tiga tumpukan kotoran di litter box Ursula.
Oh Tuhan.
Aku menyendok kotorannya dengan sendok semen dan memasukannya ke dalam kantong plastik, hidungku mengernyit jijik. Tapi, aku masih tidak bisa menahan senyumku.
Hari berikutnya aku bicara dengan Sai di telepon dan mencaci-makinya habis-habisan, terutama tentang masalah Ursula.
"Sasuke bahkan tidak memedulikan kucingnya." Aku bicara cepat, dan tidak memberinya kesempatan untuk menyelaku. "Maksudku, dia memang tidak menyukai kucingnya, yeah, dia mengakuinya. Tapi, dia tidak suka karena alasan yang normal. Tidak ada seorang pun yang akan suka kucing kalau kucing pernah mengencingi semua barang-barangmu. Dan yang Ursula lakukan hanyalah membuat celananya berbulu. Ursula menyiksaku. Aku mempertaruhkan hidupku semalam."
Sai mendesah di telepon. "Kau terlalu mendramatisir keadaan."
"Tidak, aku tidak mendramatisirnya. Aku tidak bisa bernapas, Sai. Apa kau tidak mengerti? Bernapas... itu semacam hal terpenting untuk kehidupan!"
"Ursula tidak akan mau menyakiti seekor lalat. Dia bahkan tidak pernah mempermainkan hamster Chouchou!"
"Siapa Chouchou?"
"Anak temanku. Dia yang menamai Ursula."
"Ya, mungkin ada alasannya. Kebanyakan kucing yang mengejar tikus beratnya kurang dari tiga ribu kilogram."
"Aku harap Ursula tidak mendengarmu sekarang," ucapnya serius. Aku ingin berteriak di telepon.
"Dan kenapa kau ingin double-date dengan kami?" tanyaku, mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh, yeah! Itu pasti menyenangkan." Aku bisa membayangkannya sedang menyeringai. "Apa kalian ingin pergi ke suatu tempat? Ino bilang kalian berdua sering makan di Hanabi Bistro..."
Aku merasa jengkel. "Kenapa kau tidak bertanya padaku lebih dulu?"
"Aku bertanya pada Sasuke dan dia bertanya padamu."
"Hal terakhir yang kubutuhkan sekarang adalah berada dalam dua jam penuh kecanggungan. Aku tahu kau akan mencoba untuk membuatku merasa tidak nyaman. Dan Ino bahkan tidak suka lagi dengan apa yang kulakukan sekarang."
"Tidak, Sakura. Aku akan membuat Sasuke merasa tidak nyaman. Kau bisa duduk dan bersantai sambil menikmati hidanganmu. Kau bahkan bisa membawa popcorn kalau kau mau."
"Aku tidak suka ini."
"Ini akan menyenangkan, Sakura," dia meyakinkanku. "Pernikahan tinggal berapa hari lagi?"
"Dua hari lagi." Memikirkan ini membuatku sedih.
"Dua hari lagi? Dengar, ini sebabnya kenapa kita harus melakukan ini. Kau hanya punya dua hari lagi untuk memberinya pelajaran. Terima kasih, Tuhan, aku bisa mendapatkan Ursula tepat pada waktunya." Aku ingin protes—Ursula hanya memberiku pelajaran—tapi, dia tidak memberiku kesempatan bicara. "Dengar, aku harus pergi. Istirahat makan siangku sudah berakhir dari lima menit yang lalu. Kau dan Ino pikirkan tempat makan malam kita untuk malam ini. Lebih baik kalau kau tahu tempat yang dibenci Sasuke atau tempat yang akan dibencinya, seperti... entahlah. Mungkin di tempat dimana kau bisa makan menggunakan tangan dan berlepotan."
Aku memutar mata, tapi sebelum aku bisa mengatakan apa-apa lagi, dia sudah menutup telepon.
Aku masih belum menelepon Ino. Aku masih merasa jengkel dengan mereka berdua dan hanya ingin sendiri. Sejujurnya, aku senang karena bekerja hari ini, karena bekerja bisa mengalihkan pikiranku.
Aku tidak terlalu ingin ikut double date, tapi setidaknya pikiran Sai masih berada di tempat yang waras. Ide untuk membuat Sasuke menderita tidak lagi menggodaku. Ide untuk membuatnya tidur di sofaku lagi, dengan tangannya berada di dalam bajuku atau di dalam celanaku, baiklah... itu lain ceritanya.
Itulah sebabnya aku setuju untuk ikut double date. Aku ingin melihat Sasuke, tapi aku harus melihatnya dalam kondisi yang aman.
Satu-satunya tempat yang kutahu di mana kau bisa makan dengan tanganmu di Konoha adalah sebuah restoran Ethiopia, dan Ino langsung menolak ide ini mentah-mentah.
"Kalau kau dan Sai berpikir aku mau duduk di lantai dan makan makanan berlendir dengan tanganku, berarti kalian berdua gila," terangnya.
"Ini idenya Sai."
"Dengar, aku tahu Sai dan aku berpacaran, tapi aku tidak bisa menelan semua idenya mentah-mentah. Setengah dari idenya kelewat gila. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Maaf."
Kami akhirnya memilih restoran bernama Metropolitan Grill di pusat kota Konoha. Makan di sana harus menggunaka garpu, dan duduk di meja. Aku menyuruh Ino menyampaikan kabar ini pada Sai.
Setelah pulang bekerja aku langsung mengganti pakaianku dengan gaun yang lebih menarik. Sasuke setuju untuk menjemputku di apartemenku, tapi aku kaget saat dia mengetuk pintuku sepuluh menit lebih awal.
Dia mengenakan celana hitam panjang dengan kemeja biru muda dan dasi gelap. Semua pakaiannya sangat cocok untuknya, dia begitu sempurna. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya, dari wajah tampannya, dan aku ingin menyeretnya ke dalam dengan menarik dasinya dan langsung menyerangnya.
Tapi aku menahan diri, aku perlahan-lahan beranjak ke samping agar dia bisa masuk. Kali ini dia membawa sebuket bunga, bunga calla lili putih dengan mawar merah muda, dan aku ingin memutar mata sekaligus menciumnya pada saat yang bersamaan karena ini.
"Cantik sekali," ucapku sambil mengambil buket bunga itu darinya, dan dia mencium bibirku dengan manis.
"Tidak secantikmu," ucapnya tulus. Wajahku memanas—aku mengenakan gaun backless biru tua yang notabene cocok dengan pakaiannya—tapi, aku belum sempat menata rambutku atau memakai sepatu.
"Terima kasih," gumamku. "Tapi, aku perlu beberapa menit lagi untuk bersiap-siap. Kau datang sedikit lebih awal." Aku menemukan sebuah vas dan menempatkan buket bunga di dalamnya, menata ulang sampai sempurna. Aku sudah menemukan bunga favoritku yang baru.
"Tidak apa-apa, Sakura."
Aku mempersilakannya duduk dan kemudian menyelinap masuk kembali ke kamar tidurku. Aku berdiri di depan cermin dan dengan cepat membuat ikal ujung rambutku, senyum kecil sedang menghiasi bibirku hanya karena kehadiran Sasuke di sisi lain ruangan.
Tapi, dia memutuskan untuk masuk ke dalam kamarku, matanya bertemu dengan mataku lewat cermin saat aku masih menata rambut. Perlahan ia berjalan maju sampai dia berdiri tepat di belakangku. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya.
Jari-jarinya menjalar ke bawah lenganku, dimulai dari bahuku, dan setiap sentuhannya terasa membakar.
Tubuhnya bersandar ke arahku. "Kau sangat cantik." Dia mendorong rambutku ke samping dan menempatkan sebuah ciuman di leherku.
Aku mengerang.
"Kau tidak bisa melakukan ini," protesku, upayaku untuk mendorongnya pergi berakhir dengan sia-sia. Aku melihatnya menaikkan sebelah alisnya lewat cermin.
"Melakukan apa?"
"Mengalihkan perhatianku. Aku sedang bersiap-siap."
Dia menyeringai. "Mereka bisa menunggu kita sebentar. Aku merindukanmu."
Hatiku melonjak, karena aku juga merindukannya. Satu hari tanpa kehadirannya sudah seperti seumur hidup. Bagaimana caranya aku bisa menangani perasaanku saat ini semua berakhir?
Aku menempatkan sisir di lemariku dan berbalik untuk menghadapinya, bibirku langsung bertemu dengan bibir panasnya dan lidahnya menjelajahi mulutku dengan ganas. Dia menggigit bibir bawahku dengan giginya, dia menggoda dan sedikit menarik-nariknya.
Dia menarik dirinya dan aku meraih dasinya, menariknya kembali ke arahku, dan dia hanya pasrah.
Aku akhirnya mendorongnya menjauh, tanganku mendorong dadanya.
"Aku harus bersiap-siap."
Dia mendesah dan mencium keningku, tapi sebelum aku tahu apa yang terjadi, bibirnya sudah kembali melumat bibirku dan aku cekikikan seperti seorang remaja. Aku mendorongnya menuju pintu.
"Kau benar-benar menggangguku!" tegurku, dan dia tersenyum.
"Apa kau baru saja mengatakan kalau kau tidak menikmatinya?"
"Itu informasi pribadi," ucapku berbohong, menolak untuk bermain dalam permainannya, dan aku mendorongnya keluar dari kamar dan menutup pintu di belakangnya.
Aku menyeringai sangat lebar, sampai-sampai wajahku terasa sakit.
Perjalanan ke Metropolitan Grill berlangsung dengan tenang, tapi kami sesekali saling melirik dan menyentuh tangan dan rambut dan kulit dan pakaian di sepanjang jalan, kami tidak mampu menahan diri. Aku hampir lupa kalau aku tidak seharusnya menyukainya, dan mungkin saja dia tidak merasakan hal yang sama padaku, tapi ini semua berjalan dengan mudah.
Sai dan Ino sudah menunggu saat kami sampai. Sai berdiri untuk menyambut kami tapi Ino tetap duduk, dan ini tidak mengejutkan lagi. Sasuke dan Sai saling menyapa hangat, Ino tersenyum dingin, dan kami semua mengambil kursi.
"Bukankah ini pasangan bahagia terfavoritku!" Sai membuka menunya. "Aku sudah memesan hidangan pembuka. Aku harap kalian tidak keberatan. Aku kelaparan."
"Tentu saja tidak, Sai. Kau memesan apa?" tanya Sasuke. Aku melihat mereka berdua lekat-lekat, aku belum pernah melihat mereka bersama-sama sebelumnya. Aku ingin tahu bagaimana cara Sasuke bersikap di dekat teman-temannya.
"Kue kepiting dan tenderloin bites."
Aku membaca menu dengan teliti dan mataku hampir terbelalak keluar. Makanan di sini harganya hampir lebih mahal daripada mobil pertamaku! Kenapa aku tidak memilih tempat ini sebagai tempat kencan pertama kami? Aku mengintip ke arah Sasuke dan Sai dan melihat mereka sedang berdiskusi serius tentang mana yang lebih baik antara cocktail capit kepiting atau kue kepiting, tak satu pun dari mereka mengedipkan mata saat melihat harga.
Pelayan mengambil pesanan minuman kami dan Sasuke memesan cocktail capit kepiting setelah bertanya padaku makanan apa yang kuinginkan.
Ino membungkuk dan berbisik pelan di telingaku. "Kau seharusnya memesan sampler."
Aku melirik menu dan terkesiap. "Harganya sepuluh ribu yen!" desisku, berusaha untuk menjaga suaraku setenang mungkin. "Dan ini hanya hidangan pembuka!"
Dia memutar matanya, jelas tidak mengerti, dan bersandar kembali ke kursinya. Sasuke dan Sai menatap kami ingin tahu.
"Rahasia tidak bisa membuat pertemanan berlangsung abadi," ucap Sai. "Berkenan untuk berbagi dengan yang lain?"
"Um, bukan apa-apa. Ini hanya... eh... masalah wanita," aku dengan canggung berbohong. Aku penasaran dengan diriku sendiri, aku ingin tahu apakah aku sampai hati untuk memesan sampler pada kencan pertama kami. Aku kira aku akan melakukannya, tapi menghabiskan uang sebanyak itu—hanya untuk hidangan pembuka—sepertinya tidak masuk akal. Tidak ada tiram dan capit kepiting di dunia seharga sepuluh ribu yen.
Pelayan mengantarkan minuman anggur dan mengambil pesanan makanan kami. Aku menyesap minumanku dalam diam.
"Jadi, kau akan pergi bersama Sakura ke pesta pernikahan hari Sabtu, kan?" tanya Sai pada Sasuke. Indra pendengaranku tiba-tiba menajam.
"Ya," jawab Sasuke singkat.
"Bagus sekali. Aku akan pergi bersama Ino. Hei, apa kau memilih ayam atau steak untuk hidangan pernikahan nanti?"
Sasuke menatapku.
"Um, steak," gumamku.
"Ingin gantian, Sobat? Ino memesan ayam untuk kami berdua," ucap Sai sambil cemberut.
"Kau suka ayam," protes Ino.
"Tapi, aku juga suka steak."
"Kalian tidak akan gantian. Kau hanya mencoba untuk mempersulit keadaan. Kau makan steak malam ini. Dan ini sudah cukup," tegas Ino.
"Aku bisa makan steak setiap saat, setiap hari," jawab Sai.
"Sabtu bukan tentangmu."
Sasuke meraih tanganku di bawah meja saat mereka terus bertengkar. Kami bertukar pandang geli.
"Jadi, Sasuke," Sai mulai bicara. "Kalian sudah menetapkan kapan tanggal pernikahan kalian berdua?" Dia mengangkat kedua alisnya menggoda. Dalam hati, aku mengerang.
Sasuke berdeham. "Kami baru kenal dua minggu."
Ide tentang pernikahan membuatku ngeri, dan aku adalah orang yang tidak keberatan dengan komitmen. Aku hanya bisa membayangkan apa yang sedang terjadi di benak Sasuke yang malang.
"Jadi?" desak Sai.
"Jadi?" timpal Sasuke kembali. Dia tampak kaget.
"Ino, tunjukan pada mereka apa yang kuberikan padamu."
Ino perlahan mengangkat tangan kirinya untuk menunjukkan cincin berlian yang berkilauan. Mulut Sasuke menganga. Mataku kembali terbelalak.
"Apa itu... cincin tunangan?" tanyaku ngeri. Mereka baru berkenalan selama dua minggu, sama sepertiku dan Sasuke. Dan Ino tidak pernah mengatakan padaku tentang hal ini.
Aku sedikit berkecil hati karena dia tidak pernah menceritakannya padaku. Dia sepertinya menyadari ini.
"Ini sebuah promise ring—cincin perjanjian," koreksinya. "Dan aku ingin memberitahumu, Sakura. Tapi, kami pikir akan lucu kalau kami berpura-pura sudah bertunangan." Dia nyengir ke arah Sai.
Aku gagal untuk melihat adanya humor di sini.
"Ya, lucu sekali," gumamku sinis.
"Oh, ayolah. Kau harus melihat wajahmu sendiri," ucap Sai. "Aku berani menjamin kami berdua belum bertunangan. Tapi, aku akan menikahinya suatu hari nanti." Dia membungkus lengannya di sekeliling bahu Ino.
Ketegangan di antara Sasuke dan aku tumbuh dengan cepat, kami berdua sadar pernikahan berada jauh di cakrawala kami. Hubungan normal sekalipun sepertinya susah untuk dijangkau.
Aku menurunkan tatapanku, menolak untuk menatap mata siapa pun. Aku tidak pernah merasa secanggung ini dalam hidupku.
Tangan Sasuke tidak lagi memegang tanganku.
"Kau tidak perlu terlihat tertekan seperti itu," sindir Ino. Aku tiba-tiba teringat dengan sopan-santun dan memaksakan diri untuk mengucapkan selamat pada mereka, meskipun aku tidak tahu selamat untuk apa. Untuk membuat janji, kah?
Benar sekali.
Sasuke mendesah dan melakukan hal yang sama. Dia terlihat lebih tulus, ini mengagetkan.
Pelayan menghidangkan makanan dan kami mulai menyantapnya.
"Mmm. Kau lihat, Ino?" ucap Sai seakan tidak terjadi apa-apa. "Coba rasakan steak ini agar kau bisa mengerti kenapa steak bisa dimakan setiap saat." Dia mengayunkan sepotong daging kecil di depan wajah Ino.
"Steak ini harganya hampir delapan puluh ribu yen, Sai. Aku rasa kualitas steak di pesta pernikahan nanti tidak akan sebagus ini."
"Steak tetap saja steak, sama-sama berasal dari sapi," timpal Sai.
"Tidak juga..." Ino mulai membeberkan semua alasan kenapa kualitas daging steak sapi bisa berbeda.
Aku mencoba untuk berfokus pada makananku. Meskipun harganya lumayan, tapi aku hampir tidak bisa menikmatinya.
Sasuke menyadari perubahan sikapku dan membungkuk untuk berbisik di telingaku. "Apa kau baik-baik saja?"
Aku mengangguk. "Aku baik-baik saja."
"Mereka tidak pernah berbasa-basi dalam berhubungan, ya?" tanyanya, mengacu pada Ino dan Sai. Aku melirik ke arah mereka dan melihat mereka sekarang sedang berdebat apakah warna sapi juga memengaruhi rasanya.
"Tidak. Tapi, aku ikut senang," bisikku, dan dia tersenyum.
"Aku juga."
"Kenapa kalian yang berbisik-bisik sekarang?" sela Sai keras. Aku meringis.
"Kami hanya berbicara tentang betapa senangnya perasaan kami berdua untuk kalian," jelas Sasuke.
"Terima kasih, Sobat." Sai terlihat benar-benar senang. Ino dan aku saling bertukar pandang—dia diam-diam mencoba untuk berkomunikasi denganku, tapi aku tidak yakin apa maksudnya.
"Aku tahu ini terlalu cepat," lanjut Sai, "tapi Ino adalah gadis pertama yang membuatku merasa seperti ini. Dan aku yakin dia adalah gadis terakhir buatku. Aku tidak akan ragu untuk menikahinya suatu hari nanti."
Ino tersenyum tulus, dan aku tahu dia bahagia. Dan ini juga membuatku bahagia. Aku merasa sedikit lebih tenang sekarang, dan percakapan kami mengalir dengan mudah.
Setidaknya seseorang bisa menjalin hubungan bahagia dari kekacauan ini.
Saat kami semua selesai makan, pelayan datang untuk mengumpulkan piring kami dan menawarkan hidangan penutup. Sasuke dan aku memilih salah satu hidangan penutup untuk berbagi.
Sai menyentuh bahu Sasuke. "Hei, kau keberatan kalau kita bicara di luar sebentar?"
Tiga pasang mata menatap Sai dengan bingung, tapi dia tidak menjelaskan apa-apa. Sasuke berdiri dengan hati-hati.
"Tentu saja tidak."
"Aku akan segera kembali, Sayang," ucap Sai sambil mencium pipi Ino. Sasuke tersenyum padaku dan meremas pelan tanganku, kemudian mereka berdua berjalan pergi.
Ino dan aku langsung mencondongkan tubuh ke depan untuk berdiskusi. "Apa yang akan mereka bicarakan?" tanyaku.
"Entahlah. Sai tidak mengatakan apa-apa."
"Apa aku salah kalau aku ingin pergi memata-matai mereka?" tanyaku lagi.
"Mungkin. Apa aku salah karena ingin memata-matai mereka juga? Aku bahkan tidak punya alasan selain usil!"
"Itu benar," ucapku sungguh-sungguh, dan dia tersenyum lebar padaku.
"Selamat atas promise ring-mu, Ino," ucapku, mengubah topik pembicaraan. "Aku sedikit kaget tadi."
"Tidak apa-apa. Aku akhirnya menyadari apa yang telah kami lakukan sedikit kasar... karena mengingat bagaimana perasaanmu dengan Sasuke. Tapi, Sai tidak tahu. Jadi, jangan salahkan dia."
"Aku tidak merasakan apa-apa padanya," ucapku berbohong, tapi sebelum dia bisa membantah ucapanku, ponsel mulai berdering, suaranya membuat kami berdua kaget. Kami melihat berkeliling mencari sumber suara.
"Aku pikir suaranya berasal dari saku Sasuke," ucap Ino, dia mengacu pada jaket Sasuke yang tersampir di sandaran kursi. Aku mulai meraih kantongnya, mata Ino melebar kaget. "Apa kau akan mengangkatnya?" tanyanya, terperanjat.
"Aku hanya mematikan suaranya. Tempat ini... benar-benar mewah. Suara ponselmu seharusnya tidak menggelegar di restoran!" jelasku, dan dia mengangguk setuju. Terutama saat orang-orang di sekitar kami mulai menatap ke sini.
Aku akhirnya menemukan ponsel dan menariknya keluar. Saat aku akan menekan tombol diam, untuk membungkam suara, aku melihat sebuah nama berkedip di layarnya.
Sasori.
Tubuhku membeku. Aku yakin wajahku sudah memucat, karena Ino langsung khawatir.
"Apa? Ada apa?" desisnya. Dia mencoba untuk mengambil ponsel dariku dan berhasil.
"Sasori?" geramnya. "Dasar bajingan."
"Mungkin ini Sasori yang lain," ucapku berusaha menenangkan diri.
"Apa? Berapa banyak Sasori yang dia kenal?"
"Entahlah..."
Ponsel dengan sendirinya berhenti berdering. Tiba-tiba, terdengar bunyi bip yang menandakan pesan masuk. Mata Ino langsung menatapku.
"Dia mengirim pesan."
Aku tidak mengatakan apa-apa.
"Ayo baca!" Dia menyodorkan ponsel Sasuke padaku.
"Ino! Aku tidak bisa membacanya!" protesku.
"Kenapa tidak?"
"Ini melanggar privasi. Dan bagaimana kalau aku ketahuan?" tanyaku panik.
"Itu tidak akan terjadi. Aku akan berjalan ke depan dan mengalihkan perhatian mereka."
"Bagaimana caranya?" tanyaku.
"Percaya padaku, Sakura!" Dia marah. Marah dan kesal. Dia menyodorkan ponsel Sasuke kembali ke tanganku. "Kau menyukainya. Aku tahu itu, tidak peduli sekeras apa usahamu untuk menyangkalnya. Jadi, kalau kau ingin tahu bagaimana perasaannya padamu, kau harus membaca pesannya. Dan lihat pesan apa saja yang dia kirim pada Sasori." Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari-cari tanda keberadaan Sasuke atau Sai, kemudian mengalihkan perhatiannya kembali padaku.
"Aku hanya bisa memberimu waktu lima menit," ucapnya. "Baca sekarang!"
Dia berjalan keluar restoran dan keluar dari pandanganku, seorang agen ganda menjalankan misinya.
Aku menatap ponsel yang berada di tanganku, jantungku berdebar-debar tidak karuan, ketakutan membebani perasaanku.
Aku harus berpikir cepat—aku tidak punya waktu—aku harus tahu. Aku harus tahu apa yang dikatakan Sasuke pada Sasori tentangku.
Aku masuk ke kotak pesan.
Kenapa aku punya firasat kalau kau menghindari teleponku? -Sasori
Ini tidak terlalu buruk. Bahkan, kedengarannya berita bagus. Aku kemudian membaca pesan lain dari Sasori.
Aku bilang juga apa. Dia mungkin mengenakan sebuah sabuk pengaman. Menemukan tempat untuk melepaskannya nyaris mustahil. -Sasori
Aku merasa mual. Apa Sasuke membicarakanku seperti ini? Seperti sebuah taruhan? Seperti sebuah permainan?
Aku membaca pesan yang dikirim Sasuke padanya. Aku bisa mendengar darah berdesir di telingaku. Suara lain di dalam restoran ini sepertinya sudah berhenti.
Mungkin kau sebaiknya memeriksa keadaan di akhir minggu ke-3. -Sasuke
Aku kembali membaca pesan lain, dan tubuhku membeku.
Napasku berhenti. Jantungku berhenti. Aku yakin dunia sudah berhenti berputar.
Seperti yang kukatakan sebelumnya, dia itu hanya sekadar taruhan. Paling lama ini semua akan berakhir hari Sabtu ini. Setelah itu kau bisa berhenti menggangguku dan menjauh dari kehidupan kami selamanya. –Sasuke
o0o
to be continued
o0o
