A Betting Man

.

.

Sasuke POV

Sai menarikku saat kami keluar dari pintu restoran. Kami melewati beberapa pasangan, keluarga, dan pebisnis yang menunggu meja. Cuaca sedikit dingin, kami berdiri di bawah lampu redup yang terpasang di dinding.

"Ada apa, Sai?" tanyaku santai.

Dia bersandar ke dinding. "Jadi, apa yang terjadi?"

"Apa maksudmu?"

"Maksudku, antara kau dan Sakura."

Aku mengerutkan kening. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," ucapku jujur.

"Kau menyukainya." Ini sebuah pernyataan, bukan pertanyaan.

"Jadi? Kau sudah tahu itu."

"Aku belum pernah melihatmu menatap seorang gadis seperti itu selama bertahun-tahun."

Apa aku terlalu transparan? Aku mengangkat bahu dengan santai, tidak yakin pembicaraannya mengarah ke mana.

"Jadi, kau menyukainya? Maksudku, benar-benar menyukainya?"

"Ya, Sai," ucapku jengkel. "Tapi, ada suatu hal yang lebih dari pada itu. Ini rumit."

"Rumit," ucapnya dengan jijik. "Kau selalu membuat keadaan menjadi rumit. Aku melihat caramu menatapnya. Dan aku bahagia untukmu. Aku serius. Tapi, kau harus berhenti bersikap seperti ini kecuali kalau kau ingin kehilangannya. Jangan menyembunyikan apa-apa darinya—jujurlah padanya." Ekspresinya serius.

Dan aku bingung. Sai tidak pernah serius.

"Dari mana ucapanmu ini berasal?" tanyaku. Aku tiba-tiba merasa defensif, membayangkan Sakura yang akan meninggalkanku, membuatku merasa tidak senang.

"Ucapan ini berasal dari seorang teman. Aku bicara sebagai temanmu. Dan jangan lupa aku mengencani sahabatnya. Kami sering mengobrol ini-itu, kau tahu itu, kan?"

"Ya, Sai." Aku menarik-narik rambutku dengan gelisah.

"Kau harus jujur padanya," lanjutnya. "Wanita senang menyelidiki. Mereka ingin tahu segala sesuatu tentangmu dan mereka tidak suka dibohongi."

"Apa yang membuatmu berpikir kalau aku tidak jujur padanya?" tanyaku hati-hati. Memang benar, aku tidak jujur padanya. Tapi, Sai tidak tahu itu.

"Kau tidak pernah jujur dengan wanita," ucapnya singkat. Aku tidak mengkonfirmasi atau pun menyangkal pernyataannya. "Ditambah lagi, dia bicara dengan Ino, dan Ino bicara padaku. Sial, mungkin aku tahu lebih banyak tentang hubunganmu daripada kau sendiri."

Oh... bagus sekali.

"Apa kalian berdua tidak familiar dengan privasi?" tanyaku marah.

"Oh, ayolah, Sasuke. Jangan terlalu serius. Saling berbagi bisa menyehatkan hubungan."

"Ya, tapi mungkin kau bisa menghindari pembicaraan yang bukan urusanmu."

"Hei, aku mencoba untuk membantumu. Kalau kau benar-benar menyukai Sakura, kau akan mendengarkan ucapanku."

"Ya, Sai. Terima kasih," ucapku sinis. Aku masih agak kesal dan entah karena apa. Emosiku tidak stabil sekarang.

Sai tidak mengerti keadaan ini, kan? Dia bahkan tidak tahu keseluruhan ceritanya.

Tapi, dia benar. Satu-satunya yang bisa membuatku bertahan dalam hubungan ini adalah dengan memberitahu Sakura segalanya. Dan kemudian, mungkin, dengan mukjizat dari Tuhan, aku bisa meyakinkannya kalau aku bukanlah pria paling bajingan di dunia—dan aku benar-benar menyukainya dan menyesal karena sudah melibatkannya dalam taruhan ini. Dan mungkin, mungkin saja, dia akan memaafkanku.

Tapi, aku tidak terlalu berharap. Apa aku akan memaafkan diriku sendiri kalau aku berada di posisinya? Aku rasa tidak.

"Apa kita sudah selesai?" tanyaku agak kasar, tapi Sai tidak terpengaruh dengan nada bicaraku dan dengan santai mengangkat bahu.

"Aku rasa begitu. Tapi... setidaknya, pikirkan apa yang baru saja kusampaikan padamu," ucapnya.

"Tentu saja aku akan memikirkannya," gerutuku. Dan meskipun aku kesal, tapi aku mengatakan yang sejujurnya pada Sai.

Kami memalingkan wajah ke arah pintu restoran dan melihat Ino berjalan ke arah kami. Dia tiba-tiba tersandung dan jatuh berlutut di pintu masuk, dia berteriak kesakitan.

Sai sudah berada di sisinya sebelum aku bisa memproses apa yang sedang terjadi. Beberapa orang yang berdiri di sana melihat Ino dengan penuh rasa ingin tahu, memastikannya tidak terluka parah. Aku bergegas membantu.

"Aku rasa pergelangan kakiku terkilir!" dia mengerang, mencengkeram kaki kanannya.

"Sini, biar aku lihat," ucap Sai saat dia meraih tangan Ino.

"Apa kita sebaiknya membawamu ke rumah sakit?" tanyaku khawatir. "Tunggu di sini sebentar, aku akan memberitahu Sakura—"

"Tidak!" Ino meraih lengan bajuku, matanya liar. "Jangan. Tunggu saja sebentar. Aku rasa sakitku sudah mulai berkurang. Aku hanya butuh waktu beberapa saat, dan kalian berdua bisa membantuku masuk kembali ke dalam."

"Sebaiknya kita memeriksa kakimu ke rumah sakit," ucap Sai cemas. "Atau setidaknya pulang agar kita bisa mengompresnya."

Ino masih belum melepaskan cengkeramannya dari lengan bajuku. Dia menatap tajam Sai dan bicara dengan suara dingin, "Aku bilang tidak, Sai. Tunggu sebentar lagi. Oke?"

Sai mengerutkan kening. Lalu dia mengangguk paham. "Oke, Ino. Terserahmu saja."

Ino masih memegang lengan kami berdua, menolak untuk membiarkan salah satu dari kami keluar dari pandangannya. Kami meyakinkan orang-orang yang lewat dan bertanya keadaan Ino kalau dia baik-baik saja. Akhirnya, manajer restoran datang untuk berbicara dengan kami, dan menawarkan diri untuk menghubungi ambulans.

Ino akhirnya mengalah. "Baiklah, aku rasa sebaiknya kita pergi. Aku akan mengompres kakiku di rumah. Sasuke, maukah kau membantu Sai mengantarku ke mobil?"

Aku kaget karena Sai tidak bersikeras untuk membantu Ino sendirian. Sai membungkus lengan kirinya di sekeliling bahu Ino dan menunggu bantuanku. Aku bergegas ke sisi lain dan kami bersama-sama mengantarnya ke mobil.

Dia mengucapkan terima kasih padaku. Sai menarik uang tunai dari dompetnya dan menyodorkannya padaku.

"Ini, Sasuke. Tolong katakan pada Sakura kami minta maaf."

Aku melambaikan tanganku, menolak uangnya. "Jangan khawatir. Aku akan mengurusnya."

Ino melihat ke arahku, tatapannya cemas. "Terima kasih, Sasuke. Tolong bilang pada Sakura, aku akan menghubunginya nanti."

"Baiklah. Cepat sembuh, Ino. Hubungi aku kalau kau butuh apa-apa, Sai."

Dia mengangguk, dan masuk ke dalam mobil sebelum menyalakan mobil dan bergerak menjauh.

Aku tidak berlama-lama di parkiran, aku langsung kembali ke dalam restoran untuk menemui Sakura. Aneh bagaimana semua ini terjadi, malam tiba-tiba saja berubah. Aku harap Sakura tidak marah karena Ino pulang tanpa berpamitan langsung padanya.

Dia masih duduk, dua porsi hidangan penutup terletak tak tersentuh di hadapannya. Tubuhnya bersandar ke depan, sikunya berada di atas meja, dan matanya menatap mataku saat aku berjalan mendekat. Tapi, dia tidak tersenyum.

"Sakura." Aku duduk di sampingnya, mencari-cari dompetku, dan kalau aku tidak salah, tubuhnya tiba-tiba membeku dan dia sedikit menarik tubuhnya dariku.

"Di mana Ino dan Sai?"

"Pergelangan kaki Ino terkilir. Mereka memutuskan untuk pulang duluan. Dia nyaris tidak bisa berjalan."

Sakura mengangguk, ekspresinya suram.

"Apa kau baik-baik saja?"

Dia tersenyum kecil. "Aku baik-baik saja. Hanya saja, kepalaku tiba-tiba sakit."

Aku mengerutkan kening. "Apa kau punya obat sakit kepala di rumah?"

"Tidak."

"Apa kau mau pergi sekarang? Kita bisa mampir ke apotek dalam perjalanan pulang."

Dia mengernyit, membuatku penasaran. Lalu dia menurunkan tatapannya.

"Baiklah," ucapnya pelan.

"Tunggu sebentar, aku mau membayar makanan dulu." Aku melihat ke sekeliling, memberi sinyal pada pelayan kami. "Apa kau mau hidangan penutupnya?" tanyaku.

Dia menggeleng. "Aku tidak lapar."

Aku mengangguk paham. Sakit kepalanya pasti sangat parah—dia menolak hidangan penutupnya, padahal beberapa saat yang lalu dia sangat bersemangat ingin memakannya. Sekarang dia terlihat benar-benar lelah.

Pelayan akhirnya datang dan mengambil kartu kreditku, dia kemudian datang kembali sambil membawa dua kotak makanan untuk hidangan penutup. Sakura memasukan hidangan penutup dengan tidak bersemangat, dan aku membantunya.

Kami berjalan ke mobil dalam keheningan. Sakura tidak mau bicara. Dia tampaknya memikirkan sesuatu, dan sama sekali tidak khawatir dengan Ino, ini aneh.

Aku membukakan pintu untuknya dan kemudian bergegas ke sisi pengemudi.

"Apa kau mau mendengarkan musik?" tanyaku sambil menunjuk ke arah iPod-ku, tapi kemudian aku tiba-tiba berpikir. "Atau kau mungkin lebih suka tidak mendengarkannya sekarang karena sakit kepala?"

Dia mengangkat bahu tidak peduli. "Tidak apa-apa. Kita boleh mendengarkan apa pun yang kau mau."

Tapi, aku hanya memikirkan kenyamanannya. "Tidak, tidak usah saja," jawabku.

Sakit kepalanya datang tiba-tiba. Mungkin dia migrain—aku pernah mengalaminya, dan rasanya benar-benar tidak menyenangkan. Beberapa karyawanku bahkan meminta izin untuk pulang lebih awal karena migrain.

Aku melihatnya dan mengerutkan kening, aku bertanya-tanya apakah rasa sakitnya semakin parah.

Sakura menatap kosong ke luar jendela saat aku mengemudi. Keheningan di antara kami terasa tidak menyenangkan, tapi aku tidak mau memaksanya bicara, karena itu bisa memperburuk sakit kepalanya. Sebaliknya, aku membiarkan pikiranku berkelana.

Ucapan Sai kembali memasuki pikiranku. Jujurlah padanya. Tapi, apa semua ini benar-benar sesederhana itu? Aku bisa saja mengatakan pada Sakura semua hal yang kulakukan dan semua alasanku, tapi apa itu berarti dia juga akan mempertimbangkan untuk memaafkanku? Hanya karena aku jujur?

Aku benar-benar ragu. Sebagian besar dari diriku takut dia tidak akan memberiku kesempatan untuk menjelaskan; sebagian yang lain takut dia akan mendengarkan ucapanku dan kemudian membenciku.

Aku tidak bisa menyalahkannya. Itulah sebabnya aku yakin dia tidak akan mau lagi berhubungan denganku.

Itulah sebabnya aku takut.

Kapan aku membiarkan seseorang seperti Sakura menjadi berarti untukku? Aku bahkan belum genap dua minggu mengenalnya, tapi dia sudah berhasil bernaung di benakku. Dia selalu memenuhi pikiranku sekalipun saat tidak berada di sisiku—percakapan kami, wajahnya yang menatapku malu-malu, senyumannya yang indah, dan caranya menggeliat di bawah tubuhku saat mencapai klimaks...

Aku bisa merasakan penisku menegang hanya karena memikirkan kejadian semalam. Aku melirik ke arahnya, tapi dia sama sekali tidak memerhatikanku. Aku memperbaiki dudukku, tidak ingin menyoroti permasalahan yang kualami sekarang, tapi dia sama sekali tidak melirik ke arahku.

Semakin dekat jarak kami ke apartemennya, semakin aku menyadari kalau aku harus berhenti menjadi pengecut dan mengatakan semua padanya. Taruhan itu tidak akan hilang dengan sendirinya; sekalipun aku mengabaikannya, sekalipun aku mencoba untuk mengejar Sakura dalam keadaan normal—demi kepentinganku sendiri—taruhan itu akan selalu berada di dekatku, dan ini membuatku merasa sangat bersalah sekaligus sedih, karena aku tidak bisa berfungsi secara rasional. Dan dia bisa saja mengetahui semuanya sendiri, tapi itu tidak akan baik untuk hubungan kami. Tidak, kalau aku tidak jujur.

Tapi, kalau aku menceritakan semua tentang taruhan itu dan dia tidak ingin lagi berhubungan denganku, maka aku akan kalah dan hancur. Rin tidak akan mendapatkan apa yang kuharapkan, begitu juga dengan Kakashi. Dan Sasori kemungkinan besar akan menggangguku lebih sering.

Tapi, apa sebenarnya yang kuharapkan akan terjadi? Sakura akan memaafkanku dan bertahan di sisiku? Dia akan tidur denganku walaupun tahu tentang taruhan itu? Aku akan memenangkan taruhan dan memenangkan Sakura?

Itu hanya terjadi di dunia yang sempurna. Tapi, satu-satunya harapan yang kumiliki untuk mencapai keinginanku adalah dengan menceritakannya pada Sakura. Aku harus mencurahkan isi hatiku dan berharap dia tidak membenciku. Kalau tidak, aku akan kalah.

Sakura menjauhkan wajahnya dariku dan menggigit bibir bawahnya sambil berpikir. Aku tidak bisa memikirkan yang lain saat dia berada sedekat ini. Dia membangkitkan sebuah emosi dalam diriku yang sudah lama terbengkalai, dan aku tahu aku tidak bisa berdiri diam saja, tanpa melakukan apa-apa sambil berharap bisa lolos. Aku harus mencoba semua hal untuk memperbaiki semua ini, aku akan mengambil risiko.

Tapi, kapan aku akan mengatakannya? Tidak malam ini, tentu saja. Dengan sakit kepala seperti itu, yang dia inginkan pastilah malam yang tenang. Aku yakin pengakuanku hanya akan membuat sakit kepalanya meningkat seribu kali lipat lebih buruk. Sejujurnya, yang ingin kulakukan sekarang adalah menyiapkan air hangat agar dia bisa mandi atau memijat kakinya sampai dia merasa lebih baik.

Aku berhenti di sebuah pompa bensin dan membeli obat sakit kepala dan sebotol air. Sakura meminumnya tanpa bicara, dan memberikan sebuah senyuman kecil sebagai ucapan terima kasih.

Sial. Sakit kepalanya pasti benar-benar parah.

Tanpa sadar kami sudah sampai di gedung apartemennya. Aku tidak punya cukup waktu untuk mempertimbangkan pilihanku, dan aku masih bingung dengan apa yang harus dilakukan. Tapi aku tahu, sekarang bukan waktu yang tepat. Malam ini, aku akan merawatnya.

Aku berjalan ke sisi penumpang untuk membukakan pintu dan membantunya keluar. Dia mengambil tanganku tapi langsung menarik diri saat dia sudah berdiri di luar mobil.

Aku tidak bertanya apakah aku boleh mengantarnya masuk ke dalam. Yang kutahu hanyalah aku ingin tinggal bersamanya dan membantunya sebisaku. Tapi, alasanku egois—aku merasa waktu yang kami habiskan bersama malam ini tidaklah cukup, dan membayangkan harus pulang sekarang dan tidak menemuinya lagi sampai Sabtu depan tidak membuatku senang.

Tapi, kemudian dia berbalik menatapku, tatapannya dingin dan lelah dan kosong "Aku akan naik dan tidur," ucapnya. "Maaf sudah mengacaukan malam ini. Aku benar-benar tidak enak badan."

Semua harapanku, semua keinginanku pupus sudah.

"Aku bisa tinggal sebentar untuk menemanimu," ucapku sedih. Aku belum siap untuk pergi.

"Tidak ada gunanya. Aku akan langsung tidur."

Jujur saja, aku ingin berbaring dengannya dan tinggal sampai dia tertidur. Perasaan ini begitu menakutkan.

"Setidaknya izinkan aku untuk mengantarmu ke depan apartemenmu," ucapku. Aku ingin memastikannya sampai ke apartemen dengan selamat.

"Aku bisa jalan sendiri, terima kasih."

"Perasaanku akan lebih baik kalau aku mengantarmu," protesku. "Kau sedikit pucat." Itu benar—kulitnya lebih pucat dari biasa.

Dia mendesah dan akhirnya mengalah. "Baiklah, ayo."

Berjalan ke lantai atas rasanya lebih canggung dari pada berada di dalam mobil. Kami sama sekali tidak bicara dan dia bahkan tidak mau melihatku. Tidak, sampai kami mencapai pintu apartemennya.

Dia memasukan kunci ke lubang kunci dan akhirnya menoleh melihatku. "Terima kasih untuk makan malamnya," ucapnya. "Aku akan meneleponmu nanti dan mencari tahu bagaimana keadaan Ino."

"Kau sebaiknya istirahat," saranku.

Dia tersenyum, dan ini bukan senyuman indah yang sama, yang biasa kulihat. Senyumnya terlihat sedih. Ini menyakitkan.

Apa ini benar-benar disebabkan karena sakit kepala?

"Baiklah, jangan khawatir. Sampai nanti," ucapnya pelan.

Dia tidak menciumku untuk mengucapkan selamat tinggal. Dia tidak memberiku pelukan. Dia tidak memberikan indikasi kalau dia menikmati makan malam hari ini.

Dia diam-diam menyelinap masuk dan menutup pintu, meninggalkanku sendirian di lorong.

o0o

Sakura POV

Tubuhku langsung merosot di pintu setelah Sasuke keluar dari pandanganku. Aku berdoa agar dia tidak berlama-lama di lorong. Aku rasa aku tidak bisa lagi melihatnya. Tidak, setelah membaca pesan yang mengerikan itu. Aku langsung bergidik hanya dengan memikirkannya.

Hanya itu informasi yang kuperlukan. Aku membaca beberapa pesan lainnya, tapi tidak ada yang lebih buruk dari itu. Aku punya waktu tiga menit untuk memasukan kembali ponsel ke dalam saku jaketnya sebelum dia berjalan kembali ke dalam restoran.

Tiga menit untuk memutuskan semuanya.

Setelah sekian lama berpikir dia mungkin akan menganggapku lebih dari sekadar taruhan, tapi ternyata dugaanku salah. Aku masih sekadar taruhan baginya. Dia sudah tidak sabar untuk menang. Dan hari Sabtu? Setelah pernikahan, mungkin? Apa dia berpikir aku mau tidur dengannya setelah melihat Hinata dan Naruto menikah?

Tapi untungnya, aku punya waktu tiga menit itu. Kalau tidak, aku mungkin sudah menggila saat dia kembali ke meja. Aku mungkin akan menusuk tenggorokannya dengan pisau steakku. Setelah itu, mungkin aku akan melakukan CPR karena aku tidak ingin dia mati. Aku masih menyukainya, dan membencinya di saat yang bersamaan.

Dan Ino, semoga Tuhan memberkatinya. Dia berpura-pura kakinya terkilir, kan? Mudah-mudahan saja dia memang berpura-pura. Dia akan melakukan apa pun kalau dia berpikir itu untuk yang terbaik bagiku.

Aku lelah merasakan gejolak emosi malam ini. Aku merasa marah, sedih, dan kemudian terhina. Aku tidak percaya aku rela membiarkan diriku sendiri terlibat terlalu dalam dengannya—aku bahkan membelanya dari cacian Ino dan membiarkannya memberiku orgasme di sofa. Shannaro.

Itu karena aku menyukainya. Namun, kadang-kadang menyukai seseorang tidaklah cukup. Ini tidaklah cukup kalau mereka tidak menyukaimu balik.

Ursula menyerangku segera setelah aku memasuki apartemen, dia berjalan mengitari kakiku dan menggosokan tubuhnya padaku. Dia mengeong putus asa.

Aku menyiapkan makannya dan langsung menghidangkannya tanpa menunggu makanannya lembut. Ursula mengernyitkan hidungnya dengan jijik.

Kemudian aku melihat sofaku. Sofaku memang jelek, tapi sekarang semakin jelek, kain lengan sofa sekarang sudah menggantung dan busanya keluar. Ursula tanpa tahu malu berjalan di sebelahku, masih mengeong kelaparan, dan sama sekali tidak menyesali perbuatannya.

Aku seharusnya marah dan membunuhnya. Tapi, aku... mati rasa. Aku tidak peduli dengan sofa atau hal lainnya sekarang.

Aku mandi tanpa membersihkan litter box-nya. Kemudian aku bersiap-siap untuk tidur, walaupun sekarang baru pukul sembilan.

Ponsel berdering dan yang meneleponku adalah Ino. Aku rasa aku belum siap untuk berbicara dengannya—untuk mengakui kalau selama ini dia benar—dan aku tidak menjawab teleponnya.

Aku masih bisa mencium aroma Sasuke, meskipun kami nyaris tidak bersentuhan malam ini. Aku melihat ke arah lemariku, yang nyaris tidak terlihat dalam gelap, dan membayangkannya yang sedang mencium leherku saat berdiri di belakangku. Aku sesaat merasa senang, dan memikirkan tidak akan pernah lagi menciumnya membuat dadaku terasa sakit.

Dan dia begitu peduli padaku malam ini, dia pikir aku benar-benar sakit kepala. Dia sangat penyayang. Dia ingin tinggal bersamaku—aku tahu ini. Seandainya saja aku belum membaca pesan itu, aku pasti akan dengan senang hati membiarkannya tinggal.

Tapi sekarang, aku hanya bisa bertanya-tanya apakah malam ini—semua ini—hanya sebuah sandiwara. Aku bertanya-tanya apa dia hanya berpura-pura peduli dengan sakit kepalaku untuk mendukung rencananya meniduriku.

Aku mendesah keras.

Kehadirannya masih terasa di sekelilingku, pikiranku masih membentuk bayangannya. Seolah-olah alam bawah sadarku berusaha mengungkapkan semua tentangnya dan tidak ingin melupakannya.

Aku berbaring lama. Aku lupa menutup pintu, dan Ursula akhirnya masuk ke dalam kamar dan secara ajaib melompat ke tempat tidur. Aku kira kucing gendut tidak bisa melompat. Dia memijit selimut selama beberapa menit sebelum akhirnya berbaring di sampingku.

Dia hanya berjarak beberapa inci dariku, dan aku sama sekali tidak menyentuhnya, tapi aku bisa mendengar suara dengkurannya. Dengkurannya membuat tempat tidurku bergetar, dan entah kenapa suara dengkurannya membuatku tenang.

Aku menjangkau dan membelai bulunya. Dengkurannya semakin keras.

Aku menyadari beberapa hal. Ursula adalah kucing yang sangat besar—tidak semua orang akan memanggilnya kucing cantik—dan dia sedikit bau dan makan berlepotan. Dia juga tahu bagaimana caranya mengotori toilet. Tapi, dia di sini, berbaring di tempat tidur dan mendengkur sepanjang malam. Kehadirannya bisa menenangkan pikiranku.

Dan apa yang ingin kubuktikan pada orang-orang? Memangnya penting orang-orang berpikir apa tentangku? Kalau mereka berpikir yang aneh-aneh tentangku hanya karena hubungan percintaanku tidak pernah berhasil, berarti mereka tidak mengenalku. Seseorang yang penting dalam hidupku tidak akan menilaiku dari hal-hal sepele seperti itu. Mereka akan menghargaiku tanpa syarat.

Aku bahkan tidak berteman dekat dengan mereka, namun di sinilah aku, mencoba mati-matian untuk membuktikan diri. Tapi, apa tujuannya? Agar mereka menyukaiku? Agar mereka lebih menghargaiku?

Kenapa pendapat mereka begitu penting?

Aku mengganti pakaian dan mengambil kunci mobil. Aku keluar dari apartemen kurang dari dua menit, meninggalkan Ursula yang mengeong sedih di belakangku.

Aku menelepon Ino saat masuk ke dalam mobil untuk memberitahunya aku akan datang ke tempatnya, siapa tahu dia sedang sibuk bercinta dengan Sai. Tapi, ternyata dia sedang tidak sendirian. Namun, dia sudah tidak sabar untuk bertemu denganku dan memaksaku untuk menunggu saja di apartemenku, biar dia yang datang ke sini.

Aku berjalan kembali menaiki tangga dan mengitari ruang tengahku. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku membaca ulang beberapa pesan Sasuke, untuk memotivasiku.

Kebohongan. Semuanya penuh dengan kebohongan.

Bahkan pesan manisnya adalah sebuah kebohongan! Aku yakin itu. Dia punya satu tujuan dalam permainan ini—untuk meniduri Sakura yang menyedihkan dan mungkin memenangkan jutaan yen. Apa yang dipertaruhkan pria itu sebenarnya?

Aku seharusnya sadar, orang yang bergaul dengan Sasori pasti punya sifat yang sama dengannya!

Ino tiba-tiba saja langsung membuka pintu apartemenku. Dia menatapku dengan hati-hati. Dia berjalan lambat, dan aku pikir dia pasti mengira aku sedang panik.

Dia berdiri sepuluh kaki dariku, di dekat pintu.

"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya padaku.

Tubuhku membeku dan menatapnya. Aku yakin gejolak yang kurasakan terpetakan dengan jelas dalam ekspresiku. "Tidak."

"Apa isi pesannya?" tanyanya tegas. Dia ingin kebenaran.

Aku menghela napas dengan berat dan duduk di sofa. Pikiranku berkecamuk. Aku bahkan tidak bisa memahami apa yang kurasakan saat ini.

Aku menatap Ino, diam-diam memohon padanya untuk memahami kekacauan ini.

"Dia bilang dia akan meniduriku Sabtu ini dan aku masih sekadar taruhan." Ucapan keluar dari mulutku dengan cepat. Ino terkesiap dan berjalan dari seberang ruangan ke arahku. Dia berdiri di depanku hanya dalam tiga langkah cepat.

"Kau serius?" desisnya. Dia sangat kaget, tapi bukankah dia sudah berpikir ini sebelumnya?

Aku mengerutkan kening, bingung.

"Ya. Persis seperti yang kau bilang padaku."

"Aku tidak berpikir... maksudku... Sai benar-benar yakin..."

Mataku membidik ke arahnya. "Apa yang kau bicarakan?"

Dia duduk di sampingku, wajahnya sesuram wajahku. "Sai bicara dengan Sasuke dan... entahlah. Dia pikir Sasuke menyukaimu. Maksudku benar-benar menyukaimu."

Aku gusar, aku tidak merasa geli maupun kaget. Sejak kapan Sai bisa berpikir rasional tentang apa pun?

"Dia salah," ucapku cemberut.

"Aku ikut menyesal, Sakura."

Aku menunggunya mengucapkan "aku bilang juga apa", tapi ucapan itu tidak kunjung keluar dari bibirnya. Aku ingin menangis. Aku bisa merasakan pasang-surut kesedihan, dan aku buru-buru menyeka air mataku, wajahku memerah karena menahan semua perasaanku.

Ino memeluk, menenangkanku. Aku rasa ini pertama kalinya kami berpelukan. Dan akhirnya, bendungan emosiku hancur sudah, melepaskan tidak hanya air mataku, tapi juga rasa takut dan kegundahan—perasaan putus asa dan kerinduanku pada pria brengsek ini.

Ino mendengarkan semua ucapanku dalam diam, menahan semua komentarnya. Ini sangat berbeda dengan Ino yang biasa. Dan pada akhirnya, aku merasa beban berat telah diangkat dari bahuku. Aku merasa lebih ringan, seolah-olah aku bisa bernapas lagi.

Pikiranku masih kacau, tapi aku tahu ini akan terjadi.

Ino menarik diri dan menatapku. Matanya menyipit.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanyanya padaku, dan aku lagi-lagi kaget. Aku heran dia tidak langsung memaksaku untuk menjalankan rencananya.

"Entahlah, aku hanya—ugh!" Aku menyeka wajahku dengan marah. Air mataku akhirnya berhenti, dan aku kembali kesal.

Oh Tuhan, perubahan suasana hatiku bahkan lebih cepat dari roller coaster.

"Apa kau mengucapkan sesuatu padanya?" tanyanya lagi.

"Tidak!"

Tapi, aku sudah membayangkannya. Aku sudah membayangkan untuk berteriak padanya tepat di tengah-tengah restoran mewah itu. Tapi, aku ingin menjernihkan pikiranku terlebih dahulu. Aku ingin pikiranku jernih saat semuanya terungkap—aku ingin memastikan apa yang akan kukatakan.

"Apa kau masih akan membawanya ke pesta pernikahan?" Dia menatapku hati-hati, seolah-olah takut mendengar jawabanku.

"Mungkin... tidak. Aku rasa aku tidak bisa lagi melakukan ini," ucapku perlahan. "Aku lelah. Aku merasa begitu... bodoh." Tuhan, betapa bodohnya aku!

Ino mengangguk paham. Dia mungkin juga sadar betapa bodohnya aku.

"Aku ingin melakukan sesuatu," ucapku. "Aku ingin membuatnya benar-benar menyesali taruhannya."

"Sejujurnya, Sakura, aku pikir dia sudah menyesal."

Dari mana ucapan ini berasal? Dimana Ino yang dulu?

"Itu belum cukup. Dia pikir dia bisa memanfaatkanku? Memangnya dia pikir dia itu siapa?" ucapku marah.

Ino tidak mengatakan apa-apa.

"Ini membuatku kesal. Kau benar. Aku seharusnya mendengarkanmu dari dulu. Aku hanya berharap..." Aku tidak melanjutkan ucapanku, dan lengan Ino tiba-tiba sudah memelukku lagi.

"Melihat kebaikan seseorang bukanlah hal yang buruk, Sakura," ucapnya.

"Itu hal yang buruk, terutama saat tidak ada kebaikan dalam diri orang itu."

"Aku rasa Sasuke bukanlah orang jahat. Meskipun semua ini terjadi, tapi Sai masih tetap menghormatinya. Dan, jujur saja, aku percaya pada penilaian Sai. Dia tidak akan berteman dengan Sasuke selama ini kalau dia seperti Sasori."

Aku ingin percaya padanya. Aku ingin pesan itu hanyalah sebuah kesalahpahaman belaka. Aku ingin Sasuke benar-benar tidak bermaksud seperti itu.

"Di pesan itu tertulis dia akan meniduriku Sabtu ini. Lalu Sasori bisa keluar dari hidup kami selamanya," ucapku memberitahu Ino. "Dia mengatakan 'kami'. Apa artinya itu?"

"Apa maksudnya kalian berdua?"

"Aku tidak tahu. Bagaimana aku bisa tahu kalau aku sama sekali tidak tahu tentang aturan taruhannya? Mungkin saja maksud 'kami' adalah dia dan Karin." Namanya terdengar seperti racun di bibirku. Hatiku sakit hanya dengan membayangkan Sasuke akan lari ke pelukannya setelah ini berakhir. Karin akan berbaring di tempat tidurnya; lidahnya menjelajahi mulutnya, tubuhnya akan menghangatkan tubuh Sasuke dan dia akan mendapatkan segala sesuatu yang tidak akan bisa kumiliki...

Aku ingin menangis sekeras-kerasnya.

"Sakura, kau terlihat seperti orang sakit," sela Ino, mengguncang pelan bahuku. "Sebaiknya kau berbaring."

Aku menggeleng marah, dan membenamkan wajahku di tangan.

"Aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja," ucapku. Tapi aku jelas tidak baik-baik saja. Aku mengintip Ino. "Ino, ada sake di lemari dapurku. Maukah kau mengambilkannya untukku?" tanyaku polos.

Matanya melebar kaget, tapi ia langsung berdiri untuk mengambil botol dan dua buah gelas. Dia kembali dan menuangkan sake ke dalam gelas kami masing-masing.

"Bersulang," gumamnya, suara denting ringan gelas memenuhi telingaku, dan aku langsung meneguknya sampai habis.

Tenggorakanku terbakar dan ini membuatku merasa sedikit mual—tapi juga merasa sedikit lebih baik.

Aku menuangkan segelas lagi.

Pada gelas yang ketiga, jalan pikiranku sudah melambat. Aku memutuskan untuk berhenti. Aku hanya ingin sesuatu untuk membantuku menenangkan pikiran.

Ino hanya meminum dua gelas. Dia sepertinya masih belum mabuk.

Aku menatapnya dengan sengit. Aku akhirnya tahu apa yang harus kulakukan. Ini mungkin bukan keputusan yang terbaik, dan mungkin tidak terhormat. Yang pasti, ini tidak akan membuat ibuku bangga.

Tapi, aku harus melakukannya. Aku harus... balas dendam.

"Ino, aku ingin memberinya pelajaran karena membuat taruhan ini padaku," ucapku serius. "Karena membuat taruhan pada wanita."

Karena kami manusia. Aku manusia. Dan kalau aku tidak bisa menghormati diriku sendiri, bagaimana mungkin aku bisa mengharapkan orang lain untuk menghormatiku?

Dia mengangguk dan mendesah. "Aku pikir ini akan terjadi juga pada akhirnya." Dia duduk sedikit lebih tegak, matanya menyipit nakal, dan aku menyeringai. Aku menyeringai karena aku tahu Ino yang dulu sudah kembali, dan dia dengan senang hati membantuku sebisanya.

"Aku rasa aku punya ide," ucapnya. "Tapi, kau butuh pengendalian diri ekstra."

Aku mengangguk, ingin mendengarkan sarannya, karena saat ini, aku akan melakukan apa saja untuk balas dendam.

o0o

to be continued

o0o