A Betting Man
.
.
Sakura POV
Tidurku sangat gelisah. Aku terus berguling kesana-kemari, membuat Ursula yang malang turun dari tempat tidurku dan menyelinap keluar kamar. Akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk mandi air hangat. Aku harap air hangat dapat menenangkan pikiranku, namun efek yang ditimbulkan malah sebaliknya. Air mataku bercampur dengan air mandi, aku tidak bisa membendung kesedihanku.
Aku belum pernah merasa sekacau ini sebelumnya. Bahkan pada saat Sasori mencampakkanku, aku hanya marah.
Tapi sekarang, dengan sebuah rencana dan tekad bulat, aku masih belum merasa lebih baik. Aku harap semuanya akan kembali normal setelah ini semua berakhir.
Dia layak mendapatkan ini. Semuanya akan berubah setelah aku menumpahkan segala isi hati dan pikiranku padanya.
Oh, Tuhan. Tolong biarkan semuanya berubah.
Aku berlama-lama di kamar mandi sampai air berubah menjadi dingin. Aku kemudian berdiri, mengganti pakaian, dan minum obat tidur. Aku bangun kesiangan esok harinya, tapi tidak masalah—aku sudah minta izin sakit untuk tidak masuk kerja.
o0o
Sasuke POV
Aku berencana menginap di Konoha malam ini, tapi tiba-tiba saja—setelah diusir secara tidak langsung oleh Sakura—aku jadi tidak ingin menjalankan rencanaku. Aku harus bekerja lebih awal, dan akan lebih masuk akal kalau aku kembali ke Suna malam ini.
Aku mengemudi dalam diam. Pikiranku berpacu dan mengembara kesana-kemari dan hampir membuatku gila.
Aku tidak bisa memberitahu segalanya pada Sakura malam ini. Sakit kepala ditambah dengan hal ini akan membuat kepalanya pecah. Tapi, besok adalah hari baru—aku akan mengatakannya besok, tidak peduli dia sakit kepala atau tidak.
Karena Sai benar. Sembilan puluh persen kehidupannya mungkin penuh dengan kebodohan, tapi dia tahu bagaimana menjalin sebuah hubungan. Sulit bagiku untuk mengakui ini, tapi ucapannya benar.
Karena jauh di lubuk hatiku, aku setuju dengannya. Aku tahu itu. Dan aku tahu apa yang harus kulakukan, tidak peduli betapa sulitnya itu.
Sai meneleponku dalam perjalanan pulang, tapi aku mengabaikannya. Aku sedang tidak ingin bicara. Dia meninggalkan sebuah pesan suara, tapi aku juga tidak mendengarkannya.
Malam sudah larut saat aku sampai di rumah. Aku mengganti pakaianku dan menelepon Sakura, aku ingin tahu bagaimana keadaannya, tapi dia tidak menjawab. Mungkin dia sudah tidur.
Aku kemudian mendengarkan pesan suara Sai—dia mendesakku untuk meneleponnya balik, dia bilang ada sesuatu yang sangat penting yang harus dikatakannya padaku, tapi aku mengabaikannya. Apapun itu bisa menunggu sampai besok.
Dia mengirim sebuah pesan.
Dimana kau? Telepon aku. -Sai
Aku menekan tombol keluar dari pesannya dan melihat sekilas pesanku yang lain. Aku melihat pesan dari Sasori, rasanya aku belum pernah membaca pesan ini.
Kenapa aku punya firasat kau menghindari teleponku? -Sasori
Aku memeriksa waktu pesan itu dikirim dan ternyata malam ini. Aku tidak ingat kapan membacanya. Apa mungkin aku tidak sengaja menekan tombol di sakuku? Mungkin saja...
Aku mulai membaca semua pesanku, dan merasa ngeri sendiri. Ada beberapa pesan dari Karin dan gadis-gadis lainnya dan juga beberapa pesan dari Sasori. Aku memeriksa pesan apa saja yang telah kukirimkan pada Sasori—salah satunya pengklaiman Sakura hanya taruhan bagiku—dan aku mengejek kebohonganku sendiri.
Aku bahkan tidak suka pesan seperti ini ada di ponselku. Aku tiba-tiba paranoid, dan langsung menghapus semua pesanku.
Aku berbaring dan memejamkan mata, tapi ada sesuatu yang mengganjal pikiranku. Aku berusaha mencari sumbernya, tapi aku tidak menemukan apa-apa, dan ini tidak bisa membuatku rileks.
Aku tidak bisa tidur.
o0o
Sakura POV
"Kau minta izin sakit? Kau tidak akan mendapat masalah, kan?" Ino khawatir dengan "keselamatan" pekerjaanku, padahal dia diam-diam meneleponku dari tempat kerjanya.
Sekarang hampir tengah hari, dan aku baru bangkit dari tempat tidurku. Aku mengusir Ursula keluar dari kamarku berjam-jam yang lalu. Dia melolong di pintu kamarku selama empat jam, mungkin dia lapar lagi, tapi aku tidak keberatan mendengar suaranya. Suaranya bisa membuatku sedikit mengalihkan pikiran dari Sasuke.
Aku kemudian memberinya makan lagi.
"Ini pertama kalinya aku minta izin dalam dua tahun belakangan ini," ucapku.
"Benarkah? Bagaimana dengan cuti tahunanmu?"
"Aku selalu menyimpannya."
"Kau beruntung. Kalau kami tidak menggunakannya, kami akan kehilangan cuti tahunan di akhir tahun. Semua orang biasanya tiba-tiba saja sakit secara misterius pada bulan Desember."
Aku tidak terlalu bersemangat untuk membicarakan izin sakit atau cuti tahunan, tapi apapun akan kuambil untuk mengalihkan pikiranku saat ini.
"Ya, aku rasa aku akan mengambil cuti tahunan tahun ini," jawabku. Suaraku terdengar seperti tidak bernyawa. Ino mendesah berat.
"Apa kau yakin kau baik-baik saja? Aku bisa pulang lebih awal. Aku juga harus menggunakan izin sakitku kadang-kadang."
"Tidak usah, aku baik-baik saja. Aku rasa aku akan jogging atau semacamnya. Aku harus memasang wajah garangku nanti." Aku mencoba untuk terdengar bersemangat, tapi gagal total.
Ino menarik napas kaget. "Sudah berbulan-bulan kau tidak pernah lari."
"Tutup mulutmu. Kau tahu aku mungkin saja tidak jadi lari," ucapku kesal, dan Ino terkekeh setuju.
"Kau tahu, Sakura, kau tidak perlu melakukan ini kalau kau tidak mau," ucapnya pelan. Aku mendengus mendengarnya.
"Mencoba untuk membuatku membatalkan rencana?" tanyaku. "Sejak kapan kau berubah haluan menjadi anggota tim Sasuke?"
"Aku bukan anggota tim Sasuke," ucapnya angkuh. "Kau benar-benar terlihat sedih. Jujur saja, aku tidak begitu yakin ini akan membuatmu merasa lebih baik."
"Tentu saja ini akan membuatku merasa lebih baik," ucapku meyakinkannya. Aku berjalan mengelilingi dapur—mengitari tubuh raksasa Ursula, yang sedang membungkuk di atas mangkuk makanannya—dan mengeluarkan sereal dan susu untukku.
"Kita bisa memikirkan hal yang lain, yang tidak terlalu—keras."
"Ini tidak terlalu buruk," debatku. Aku merasa jengkel; aku merasa takut dengan rencanaku sendiri, dan dengan Ino menunjukkan indikasi dia tidak lagi mendukung rencanaku sepenuhnya, membuatku merasa terganggu. "Lagi pula, aku tidak akan menyakiti perasaannya," lanjutku. Dan lagi pula, dia memang tidak punya perasaan. "Dia akan kalah taruhan dan terpaksa untuk mendengarkan ucapanku. Ini cukup cemerlang."
"Aku rasa begitu," ucapnya hati-hati. Aku memutar mata.
"Ini idemu!"
"Aku tahu! Dan kau benar, ini cemerlang," ucapnya tidak yakin. "Aku hanya ingin memastikan memang ini yang kau inginkan."
"Aku tidak akan melakukannya kalau aku tidak yakin," ucapku. Aku mendengar suara gemerisik dan Ino sesaat berbicara dengan orang lain. Dia kemudian kembali ke pembicaraan kami.
"Dengar, Sakura, aku harus pergi. Maukah kau meneleponku sebelum kau pergi ke sana? Mungkin aku bisa memberimu semangat sebelum kau pergi," ucapnya.
"Tentu saja," jawabku setuju.
Saat dia menutup telepon, aku berdiri lama di dapur, tidak ingin duduk di sofa robekku dan berniat menghindari tempat tidurku. Hal terakhir yang ingin kulakukan adalah tidur sepanjang hari. Aku tidak akan pernah mendapatkan pola pikir yang sehat kalau seperti itu terus.
Aku menelusuri ponselku, mencari nomor spesifik, sampai pandanganku jatuh pada namanya. Aku menatapnya sejenak sambil bertanya-tanya bagaimana caranya sesuatu yang sangat menyenangkan tiba-tiba saja menjadi sebuah ketakutan dan penyesalan.
Aku meneleponnya, aku rasa dia akan istirahat makan siang, dan aku takut sekaligus lega saat suaranya menjawab telepon.
"Halo?"
Aku menghembuskan napasku, berusaha tenang.
"Hei, Sasuke. Ini Sakura."
o0o
Sasuke POV
Aku merasa seperti ditarik ke segala arah saat bekerja. Ada banyak rapat hari ini, aku tidak bisa berkonsentrasi sepenuhnya, pikiranku tertuju pada Sakura. Aku masih belum bicara dengannya sejak tadi malam dan, jujur saja, aku sedikit khawatir.
Ada rapat lagi jam sebelas. Aku harap bisa istirahat makan siang saat rapat itu berakhir dan menghubunginya lagi, walaupun aku tidak yakin dia akan menjawab telepon saat bekerja. Tapi, tidak ada salahnya mencoba.
Dan mudah-mudahan saja, dia setuju untuk bertemu denganku malam ini. Mudah-mudahan saja, aku bisa menceritakan semua yang mengganggu pikiranku dalam dua minggu terakhir ini.
Dan mudah-mudahan saja, dia tidak segera mencapku sebagai orang jahat.
Aku sedang berjalan menyusuri lorong dan berbincang-bincang dengan salah seorang mitra kerjaku, Tuan Sarutobi, saat ponselku bergetar di saku. Aku sedikit mengintipnya dan melihat nama Sakura.
"Permisi, Tuan Sarutobi," ucapku, menyelanya di tengah-tengah pembicaraan. "Ini telepon penting. Aku harus mengangkatnya."
Dia mengangguk paham. "Baiklah kalau begitu, Tuan Uchiha. Mungkin kita bisa bicara lagi sambil makan siang?"
Aku tersenyum singkat sambil mengangguk dan kemudian menyelinap ke dalam ruang konferensi kosong. Lampu di ruangan ini mati, tapi cahaya menyelinap dari jendela.
Aku menjawab dengan cepat. "Halo?"
Aku mendengar Sakura menghela napas. "Hei, Sasuke. Ini Sakura."
Betapa kagetnya aku saat menyadari perasaanku langsung lega ketika mendengar suaranya. Dia terdengar jauh lebih baik hari ini.
"Hei, Sakura. Bagaimana kabarmu? Bagaimana sakit kepalamu?" aku segera bertanya.
"Oh... aku merasa lebih baik. Jauh lebih baik," dia meyakinkanku.
"Bagus kalau begitu. Aku sedikit khawatir."
"Oh, kau tidak perlu khawatir," ucapnya. "Obat yang kau belikan banyak membantu. Tapi, aku masih merasa tidak enak sudah memotong malam kita kemarin dan aku mau bertanya, apa aku boleh datang ke rumahmu malam ini?"
Aku heran dia meminta izin dan bukannya langsung mampir seperti biasa. Tapi, itu tidak penting—aku ingin melihatnya dan, jujur saja, aku senang karena dia yang mengajukan gagasan ini, bukan aku.
Tapi, apa ini ide yang bagus untuk menceritakan semuanya di rumahku? Dia bisa saja lari, tapi kalau aku di apartemennya, dia akan bersusah payah untuk menendangku keluar. Dan aku bisa berdiri diam saja di sana untuk menjelaskan semuanya.
"Apa kau yakin?" tanyaku. "Aku tidak keberatan datang ke Konoha lagi."
Lagi pula, aku juga harus datang ke sana Sabtu pagi untuk pesta pernikahan. Aku bisa menginap di rumahku, di Konoha, malam ini.
"Tidak, tidak," dia buru-buru protes. "Maksudku, aku ingin keluar sebentar dari apartemenku. Di sini terlalu kecil. Dan ada bulu kucing di mana-mana..." suaranya memelan.
"Kita bisa bertemu di rumahku, di Konoha," saranku. "Aku rasa kau belum pernah melihatnya."
Dia sejenak ragu-ragu, dan kemudian setuju. "Ya, baiklah."
Aku merasa senang sekaligus cemas memikirkan malam kami.
"Bagus. Apa kau ingin aku datang menjemputmu?" aku menawarkan.
"Tidak usah, tidak apa-apa. Aku akan menemuimu di sana saja. Di mana alamatnya?"
Aku menyebutkan alamat rumahku padanya dan dia menulisnya. Tiba-tiba, aku mendengar suara mengeong. Aku mengerutkan kening, bingung.
"Apa itu kucing?" tanyaku. Sakura terdiam sesaat.
"Ya. Dia tidak pernah menutup mulutnya."
"Apa kau di rumah? Aku pikir kau sedang bekerja."
"Aku di rumah. Tapi, um... kepalaku masih sakit pagi ini. Aku minum obat lagi. Dan ketiduran, jadi aku memutuskan untuk meminta izin sakit. Aku harus menggunakan izin sakitku kapan-kapan."
Kata-katanya terdengar canggung. Ada yang tidak beres dari ucapannya, dan perasaanku kembali tidak tenang.
"Oh. Tapi, kau sudah merasa lebih baik sekarang, kan?"
"Ya, jauh lebih baik," dia meyakinkanku lagi. "Baiklah, sampai nanti, Sasuke. Aku tidak bermaksud mengganggumu di tempat kerja."
"Tidak, tidak apa-apa. Lagi pula, aku juga sedang istirahat makan siang."
"Jam berapa kau akan berada di rumahmu, di Konoha, malam ini?"
"Sekitar pukul setengah tujuh," kataku.
"Oke. Sampai nanti."
"Sampai nanti, Sakura," ucapku, dan kami berdua menutup telepon. Aku bersandar di meja yang terletak di tengah ruangan, hampir merasakan sakit karena takut membayangkan peristiwa apa yang akan terjadi malam ini.
o0o
Sakura POV
Ursula dan aku memutuskan untuk bersenang-senang. Dan dengan bersenang-senang, maksudku adalah bencana.
Aku dengan putus asa berusaha mengalihkan pikiranku tentang malam ini, dan mencoba untuk bermain dengan Ursula. Tapi, dia sama sekali tidak mendekati mainannya. Gelagatnya sama sepertiku, berkeliling di sekitar apartemen sambil mengeong tanpa henti. Aku memberinya makan lagi, tapi ajaibnya, dia kenyang.
Sebagai upaya terakhir, aku mengisi mainan tikusnya dengan cat-nip dan melemparkannya pada Ursula. Dia mengendus-endus ingin tahu, kemudian menggosokkan wajahnya di atas mainan itu sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya di atas mainannya, dia menggosok-gosokan tubuhnya di atas mainan itu. Baru pertama kali aku melihat cinta yang tulus dari seekor kucing. Dan itu semua karena ganja-kucing.
Aku menggeleng sedih sambil terpukau, tapi ini membuatku merasa sedikit lebih baik.
Pada pukul tiga tepat, aku mulai bersiap-siap. Aku harus terlihat menawan malam ini... tidak, aku harus terlihat fantastis. Dia harus tahu apa yang akan dia lewatkan dalam hidupnya dan bermain di dalam rencanaku.
Ada sedikit rasa penyesalan saat memikirkan kembali apa yang akan kulakukan, tapi aku dengan cepat mendorong perasaan ini jauh-jauh. Kenapa aku harus merasa bersalah? Ini salahnya karena terlibat dalam kekacauan ini. Ini salahnya karena melibatkanku ke dalam kekacauan ini. Dan apa ini semua karena aku tidak ingin tidur dengan bajingan seperti Sasori?
Aku menggeleng tidak habis pikir. Dia pantas mendapatkan ini.
Aku cepat-cepat mandi dan mulai menata rambutku. Ursula sedang melahap makanannya saat aku kembali masuk ke dapur.
Aku berjalan melewatinya dan membuat secangkir teh panas untuk menenangkan pikiranku. Tapi, tentu saja, ini tidak membantu.
Pada pukul enam tiga puluh, aku semakin gugup. Aku berangkat ke rumah Sasuke sepuluh menit kemudian, bertekad untuk terlambat—karena kalau dia berpikir aku tidak ingin menemuinya, itu akan membuatnya semakin menginginkanku, atau begitulah kata Ino; aku meneleponnya dalam perjalanan menuju rumah Sasuke.
Ino mengucapkan hal yang sama padaku seperti malam sebelumnya. Dia menyatakan dukungan penuhnya padaku, bertanya apa yang kukenakan, dan ingin tahu apa aku menangis hari ini. Karena menangis akan membuat mata merah, dan bisa menimbulkan kecurigaan.
"Tidak, Ino. Aku tidak menangis," aku meyakinkannya. Kecemasanku hampir terasa menyakitkan. Bagaimana caranya aku bisa melakukan ini?
"Bagus," ucapnya. "Aku bangga padamu."
Ada jeda singkat di antara percakapan kami.
"Um, Ino?"
"Ya?"
"Kau tidak mengatakan ini pada Sai, kan?"
"Tentu saja tidak, Sakura. Aku sudah bilang padamu, dia akan berusaha ikut campur kalau tahu ini. Dia tidak pernah bisa mengurus urusannya sendiri."
Aku bernapas lega. "Baiklah."
"Jangan khawatir, Sakura. Tidak ada yang akan menghentikanmu."
Aku berbelok ke jalan rumah Sasuke. Jantungku berdebar panik, hampir terasa menyakitkan, di dadaku. Sebagian dari diriku ingin aku tersesat, atau mungkin berbalik arah sepenuhnya, tapi sebagian yang lain ingin segera mengakhiri ini.
Aku menemukan nomor rumah dan mengenali mobil Sasuke di jalan masuk. Aku masuk dan memarkir mobilku di samping mobilnya, perasaanku semakin tidak tenang.
"Aku sudah di sini," aku memberitahu Ino. Suaraku terdengar tegang.
"Bagus. Kuasai dirimu," tuntutnya.
"Ya, ya, aku tahu."
"Dan ingat—kalau kau membiarkan perasaanmu mengatakan kalau ini salah, rencanamu ini tidak akan berhasil. Jadi, cobalah untuk tenang dan percaya diri..."
"Ya, ya, baiklah!" seruku cemas.
"Sakura! Tenangkan dirimu!" dia benar-benar berteriak padaku, dan tiba-tiba aku ingin membuang ponselku ke halaman. Aku belum siap untuk ini.
"Baiklah, baiklah. Aku harus pergi." Sudah jelas aku tidak akan bisa menenangkan diriku dalam percakapan ini. Aku buru-buru menutup telepon tanpa menunggunya mengucapkan sampai nanti. Aku kemudian memejamkan mataku dan perlahan menghitung sampai sepuluh. Lalu aku melakukannya lagi. Dan lagi.
Saat aku membukanya, aku melihat Sasuke sedang berjalan ke arahku. Mataku melebar saat aku melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Sudah berapa lama dia memerhatikanku?
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya, mengerutkan kening.
Aku merapikan bajuku dan bersandar ke dalam mobil untuk mengambil dompetku, di wajahku sudah terplester senyum palsu. "Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?"
"Kau terlalu lama di luar."
"Maaf, aku sedang bicara dengan Ino."
"Bagaimana keadaannya?" tanyanya padaku.
"Hhm?" Aku bingung sesaat, kemudian tiba-tiba tersadar. "Oh! Dia baik-baik saja. Kakinya cuma terkilir. Dia sudah mengompresnya dan minum Tylenol dan sekarang dia sudah jauh lebih baik," ucapku berbohong.
Sasuke masih terus mengerutkan keningnya. Aku penasaran, jangan-jangan dia sudah tahu rencanaku—atau dia sudah bersiap-siap untuk membalas rencanaku—tapi dia tidak menyuarakan kecurigaannya.
"Bagus kalau begitu," ucapnya, dan aku mengangguk setuju.
Kami berjalan masuk ke dalam rumahnya. Rumah ini tidak jauh berbeda dengan rumahnya di Suna—semuanya terlihat bersih dan halamannya rapi. Tidak ada sepatu di pintu. Bahkan tidak ada debu di atas tikarnya.
Sepertinya rumah ini langsung keluar dari katalog. Bangunannya sangat menarik, tidak terlalu besar, dan aku benar-benar menyukainya.
Aku berdiri di ruang tamunya sesaat. Aku merasa sangat canggung, apalagi aku punya niat tersembunyi. Apa Sasuke pernah merasa seperti ini padaku?
Sasuke berbalik dan menatapku yang sedang terlihat ragu-ragu.
"Kau yakin tidak apa-apa?" tanyanya cemas.
"Ya, aku baik-baik saja," ucapku, bergegas masuk ke dalam. Ada bau lezat yang datang dari dapur, aku kira. Bukankah dia baru pulang dua puluh menit yang lalu? "Bau apa ini?"
Dia tersenyum, tapi senyumannya tidak mencapai matanya. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya juga, tapi aku tidak tahu apa.
"Aku memasak makan malam untukmu kali ini," ucapnya.
Aku kembali berdiri tegak dan akhirnya mengagumi ketampanannya. Dia mengenakan kemeja bewarna biru gelap, lengan kemejanya digulung, memperlihatkan otot lengannya. Tiga kancing atasnya dibiarkan terbuka—aku rasa dia kepanasan saat memasak—dan rambutnya lebih berantakan dari biasa.
"Tapi, bukankah kau baru pulang?" tanyaku penasaran.
"Aku berhasil pulang sedikit lebih awal." Dia mengangkat bahu. "Aku baru saja mulai masak. Ini belum selesai. Aku harus pergi memeriksanya sebelum hangus." Aku rasa dia tidak bercanda.
Aku mengikutinya memasuki dapur. Ada sesuatu yang mendidih di atas kompor, dan dia terburu-buru mengaduknya. Aromanya semakin kuat di sini.
"Kau buat apa?" tanyaku.
Dia melirikku. "Jangan tertawa," ucapnya serius, dan aku tersenyum. "Aku mencoba membuat ayam katsu. Ini satu-satunya masakan yang sepertinya bisa kubuat."
Aku melihat sebotol anggur di atas meja. Potongan ayam katsu sudah bewarna kecoklatan di penggorengan, dan sayur dimasak di kompor di sebelahnya.
"Kau pakai banyak bawang putih?" tanyaku penasaran. Baunya sangat menyengat.
"Um, itu roti bawang." Dia melirikku gugup. "Kenapa?"
"Oh, tidak apa-apa." Aku memaksakan diri untuk tersenyum. "Baunya lezat."
"Rotinya ada di dalam oven." Dia mengintip melalui pintu kaca ovennya dan mengumpat. "Oh, celaka!" Seperti kilatan cahaya, dia meraih sarung tangan oven dan menarik pancinya keluar. Rotinya hangus dan berbau sangat tajam saat pintu oven dibuka. Aku mengernyitkan hidung dan melangkah menjauh.
"Apa itu roti?" tanyaku bodoh, karena itu sudah jelas roti. Sasuke masih bergumam dan mengumpat pelan.
"Ya. Ck, sial." Dia terdengar jengkel.
"Kelihatannya, um... lezat," candaku. Aku tidak bisa menahan diri. Sasuke menatapku penasaran sambil kebingungan tidak berdaya, dan aku mengatasinya dengan serangan candaan. Aku tertawa keras, dan dia mengernyitkan keningnya.
"Aku senang keterampilan memasakku menjadi hiburan untukmu," omelnya. Tapi, dia tidak terlihat marah.
"Aku minta maaf," ucapku sambil tertawa. "Kau sangat manis mau melakukan ini." Dan ini benar.
Kalau saja niatnya juga manis.
Dia melemparkan roti ke tempat sampah. "Ya, aku rasa nasi sudah cukup untuk memenuhi karbohidrat," jawabnya.
"Benar. Aku juga tidak mengerti kenapa kau memanggang roti saat kita akan makan nasi."
Dia mengernyitkan alisnya padaku. "Benarkah? Kalau tidak salah kau makan keduanya minggu lalu."
"Aku bilang aku tidak mengerti, dan bukan tidak mau memakannya," jelasku sambil memutar mata. "Apa punya nafsu makan yang sehat itu salah?"
"Aku tidak bilang begitu."
"Tapi, itu tersirat dari kata-katamu," ucapku, pura-pura tersinggung, tapi aku hanya menggodanya.
Sasuke menatapku, matanya seperti mengebor mataku.
"Sakura, kau gadis tercantik yang pernah kulihat. Kau bisa saja makan sepuluh kali sehari dan aku tidak akan peduli."
Wow. Bukankah dia romantis?
Napasku sedikit sesak mendengar ucapannya. Bukan hanya karena kata-kata manisnya, tapi karena kejujuran yang kurasakan. Aku tahu ada kejujuran di sana—aku bisa merasakannya.
Aku menatapnya, sampai dia mengalihkan tatapannya dan melihat ke arah makanan. "Kita harus bicara malam ini," ucapnya.
Oh ya, kita harus bicara, aku diam-diam setuju.
"Tentang apa?" tanyaku. Dia tersenyum sedih.
"Setelah makan malam. Oke?" tanyanya, dan aku mengangguk setuju.
Tiba-tiba saja dia menutup makanan dan mendekatiku, matanya semakin gelap. Aku tidak menghindar darinya—aku merasa terperangkap, membeku di bawah tatapannya.
Dia berhenti hanya beberapa inci di depanku. Aku bisa merasakan panas tubuhnya yang menggelitiki tubuhku secara misterius. Kami saling bertatapan.
"Aku merindukanmu tadi malam," gumamnya sambil mengusap pipiku. Jari-jarinya melakukan perjalanan di kulitku, ke leherku, dan aku langsung memejamkan mata. Aku bisa merasakan jantungku berdebar dengan kencang.
"Aku juga merindukanmu," bisikku, dan tiba-tiba saja bibirnya menekan bibirku. Tanpa membuang waktu, lidahnya menjelajahi bibirku, menaklukkan mulutku. Dia mendorongku mundur, namun tangannya langsung memeluk pinggangku. Seketika saja, tanganku naik ke lehernya dan aku menariknya mendekat.
Ciuman kami tidak lembut. Ciuman ini tergesa-gesa dan terasa seperti putus asa.
Aku memeluknya erat, menolak untuk membiarkannya pergi.
o0o
Sasuke POV
Aku enggan menarik diri—aku menikmati rasanya, aromanya, dan kulit lembutnya di bibirku. Hatiku bersukacita saat mendengar suara kecil yang melarikan diri dari tenggorokannya saat aku mendorongnya ke meja, dan menekankan tubuhku ke tubuhnya.
Dia membalas ciumanku dengan rasa lapar dan gairah yang sama. Tak satu pun dari kami ingin melepaskan diri. Bibirku menjelajahi lehernya, pundaknya, dan dengan lapar melahap semua permukaan kulit yang bisa kusentuh, dia melemparkan kepalanya ke belakang sambil mengerang, dan ini memberikanku akses yang lebih mudah untuk menjelajahi kulit lembutnya.
Alarm oven berbunyi, menandakan daging panggang sudah matang, tapi kami mengabaikannya. Aku tidak peduli dengan makanan—hanya Sakura yang kuinginkan, aku ingin merasakan setiap inci dari tubuhnya sebelum aku mengungkapkan kebenaran. Sebelum dia lari dan meninggalkanku untuk selamanya.
Aku meraih pahanya dan menggendongnya ke atas meja, dia terkesiap. Posisi kami sekarang sudah sejajar; pupil matanya membesar saat dia membungkuk untuk melumat bibirku lagi.
Aku mengerang di dalam mulutnya. Dia sesaat menarik diri.
"Kau harus mematikan kompor," desaknya.
Aku mengangguk cepat dan dengan terburu-buru mematikan kompor. Aku membungkam alarm dan segera kembali ke Sakura, dia duduk menggoda di meja, napasnya terengah-engah. Matanya dengan sayu dan penuh nafsu menatapku. Aku langsung beranjak dan berdiri di antara kakinya, napasku tidak menentu saat dia meraih kerah bajuku, menarikku semakin dekat. Bibirnya kembali menciumi bibirku.
Jari-jarinya mulai bergerak turun, melepas kancing kemejaku. Aku menjalankan tanganku di paha luarnya sampai ke punggungnya.
"Aku menginginkanmu." Napasnya menerpa bibirku, dan aku rasa telingaku sendiri baru saja menipuku.
Dia menginginkanku? Di sini? Sekarang?
Oh Tuhan, aku juga sangat menginginkannya. Aku berusaha berdiri tegak sambil menahan sakit karena celanaku yang mengetat, dia menginginkan Sakura. Aku menginginkan Sakura.
Tubuhnya terasa panas di tubuhku, jari-jarinya meninggalkan jejak api di kulitku saat dia mendorong lepas kemeja dari pundakku. Aku sedikit bersandar menjauh agar aku bisa melemparkan kemejaku ke lantai. Kukunya menyapu dadaku saat bibirku kembali ke lehernya, dengan lembut menggigit dan menghisap kulitnya.
Ini yang kuinginkan. Aku ingin berada di sini, sekarang, bersama Sakura. Di dalam Sakura. Aku ingin mendapatkan malam penuh kenikmatan tanpa harus memikirkan dampak dari tindakanku.
Tapi, pada saat tangannya menemukan kepala ikat pinggangku, tubuhku langsung membeku. Seolah-olah aku punya dua sisi pikiran dan, untungnya, sisi rasionalku memutuskan untuk muncul. Dia tahu ini salah. Aku tahu ini salah.
Sakura sepertinya menyadari reaksiku, tapi dia tidak peduli, tangannya dengan mudah melepas ikat pinggangku dari gesper dan melanjutkan aksinya untuk membuka kancing celanaku. Aku meletakkan tanganku di atas tangannya yang masih sibuk bergerak.
"Sakura," aku berhenti bicara sesaat, "kita harus bicara."
Matanya menatap mataku, tatapannya membakar seperti api, sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Kita punya banyak waktu untuk bicara, Sasuke," dia meyakinkanku, dan tiba-tiba saja tangannya sudah berada di dalam celanaku, membungkus penisku.
Aku terkesiap dan mencoba mundur, tapi dengan tangannya yang berada di penis dan kemejaku, ini mustahil untuk dilakukan. Dia menarikku kembali ke tubuhnya, kembali ke bibirnya, dan tiba-tiba saja tubuhku takluk di bawah kendalinya. Aku kemudian menyerangnya dengan lapar, aku mengerang di dalam mulutnya saat tangannya memompa penisku.
Aku dikuasi nafsu dan ini hampir membuatku tidak bisa berpikir. Rasanya seperti aku sudah merindukan sentuhannya dalam waktu yang lama—aku menunggunya untuk ini—dan sekarang aku mendapatkan gairah itu, perasaan yang hanya bisa dimunculkan oleh Sakura.
Aku menarik baju Sakura, kulit halus perutnya terekspos, dan dia langsung menarik keluar tangannya dari celanaku agar bisa melepas bajunya dari tubuhnya. Kehilangan kontak dengan kulitnya membuatku merasa kedinginan dan semakin putus asa.
Tangannya bergerak ke punggungnya dan dia melepaskan bra-nya. Material bra-nya mengendur dan aku menariknya lepas, menampilkan payudaranya yang sempurna. Aku membungkuk dan langsung menghisap puting kanannya yang sudah mengeras. Dia langsung terkesiap.
Aku kemudian menghisap payudara kirinya. Napas Sakura semakin terengah-engah, jari-jarinya menarik rambutku.
"Bawa aku ke tempat tidurmu, Sasuke," bisiknya.
Aku menatap ke arahnya. "Sakura..."
"Aku mohon, Sasuke!"
Dia memohon padaku. Mengemis. Ini yang kuinginkan selama hidupku.
"Aku tidak ingin melakukan apa pun yang akan membuatmu menyesal, Sakura," ucapku tak berdaya. Aku harap dia mempertanyakan maksudku, atau marah padaku, dan untuk sesaat aku pikir dia akan melakukan itu. Dia mendorongku menjauh dan turun dari meja.
Mataku masih terpaku pada payudaranya, dan aku dengan enggan memaksa mataku beralih kembali ke wajahnya.
"Aku sudah dewasa, Sasuke," ucapnya sederhana, dan dia keluar dari dapur. Aku bisa mendengar suara langkah kakinya di tangga.
Aku sesaat berdiri di dapur untuk mendapatkan kembali akal sehatku. Aku merasa telah dilucuti.
Akhirnya, aku mengikutinya ke lantai atas. Aku bisa menebak ke mana dia pergi—aku berdiri di luar pintu kamar tidurku sejenak, mendengarkan tanda-tanda kehidupan dari dalam.
Aku mendorong pintu sampai terbuka dan melihat ke dalam. Dia berbaring di tempat tidurku, masih mengenakan celana jinsnya, tubuhnya bersandar pada sikunya dan kaki kanannya sedikit ditekuk. Dia menggigit bibir bawahnya saat dia melihatku dan aku bersusah payah menahan erangan.
"Apa kau baik-baik saja, Sasuke?" tanyanya polos. Aku bersandar di ambang pintu dengan waspada. Dibutuhkan pengendalian diri ekstra untuk tidak langsung berlari ke arahnya dan memuja tubuhnya.
"Kenapa kau melakukan ini, Sakura?" tanyaku penasaran. Dia terlihat bingung.
"Apa maksudmu?"
"Ini bukan kau."
Matanya melebar, dan aku bertanya-tanya apa aku sudah mengoyahkan keberaniannya atau membuka rahasia kotor kecil yang dia sembunyikan.
Dia duduk di tempat tidur, menarik lutut ke dadanya dan memeluknya. Payudaranya tiba-tiba saja terblokir dari pandanganku.
Dia terlihat gugup. "Aku punya kejutan untukmu," ucapnya, menarik perhatianku. "Aku minta maaf. Aku hanya... Aku benar-benar menyukaimu, Sasuke." Matanya menatapku, memohon. "Tapi, aku tidak bermaksud untuk melemparkan diriku padamu seperti... entahlah..." Dia melihat ke bawah karena malu. Aku sudah berada di sisinya dalam sekejap, membungkus lenganku di punggungnya yang telanjang.
"Tolong jangan katakan itu, Sakura," aku memohon. "Maksudku... Oh Tuhan, kau tidak tahu betapa aku sangat menginginkanmu..."
Dia menatapku, matanya bertanya-tanya. "Lalu kenapa kau menghentikanku?"
Aku menghela napas berat, menariknya ke dadaku. "Karena kau layak mendapatkan yang lebih baik," ucapku.
"Kenapa aku layak mendapatkan yang lebih baik?"
"Kita akan bicara nanti, Sakura. Oke? Ayo kita makan dulu."
Dia melihat ke bawah, di antara kedua lututnya, dan melamun. Lalu dia mengangkat kepalanya dan tersenyum padaku, kecantikannya berhasil menghancurkanku.
"Kalau begitu, biarkan aku memberikan kejutan padamu lebih dulu," dia memohon, dan aku mengangguk, tertarik dengan apa yang akan dia lakukan.
"Baiklah."
"Aku harus menutup matamu," ucapnya. Aku mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Karena ini adalah kejutan, Sasuke. Apa orangtuamu tidak pernah menutup matamu di hari ulang tahunmu?"
Hari ini bukan hari ulang tahunku, tapi dia terlihat sangat bersemangat. Aku akan melakukan apa pun untuk menyenangkan hatinya, asalkan itu tidak akan menyakitinya.
"Baiklah," ucapku ragu. Dia meraih baju kaus dari dalam lemariku dan meletakannya di sekitar wajahku, menutup mataku. Dia mengikatnya ke belakang, tidak terlalu kencang. Aku bisa merasakan tangannya menyentuh leherku, menyusuri dadaku, kukunya menyapu lembut kulitku. Dia mendorongku mundur.
"Berbaringlah," ucapnya. "Aku akan pergi sebentar untuk mengambilnya."
Aku mematuhinya dengan diam dan merasakan pergeseran berat tubuhnya dari tempat tidur. Aku bisa mendengar gemerisik di dalam kamar, dan suara dentingan lembut logam. Apa yang dia lakukan?
Tempat tidurku kembali bergerak saat dia naik di atas tubuhku. Dia tidak menyentuhku, tapi aku bisa merasakan panas yang berasal dari kulitnya.
Hidungnya kemudian menyentuh hidungku. Kemudian bibir kami bertemu.
"Aku senang melihatmu seperti ini," bisiknya menggoda, dan aku bersandar ke depan, berusaha menangkap bibirnya. Aku mengerang ke dalam mulutnya saat tangannya menyusuri dadaku, pinggangku, dan ke tepi celanaku. Dia merasakanku, menggodaku, dan ini seribu kali lebih erotis dengan penutup mata. Penisku protes, dua kali lebih keras dari sebelumnya.
"Sakura," ucapku serak, dan dia langsung menciumi bibirku. Lidahnya memasuki mulutku, mencicipi dan menggoda, dan aku membalas ciumannya dengan penuh gairah, jari-jariku meluncur di antara rambutnya saat aku memeluknya. Dia duduk tepat di atas ereksiku, membuatku mengerang.
"Oh, Sakura," desisku. Dia mulai menciumi rahang dan leherku, menggigit ujung daun telingaku dengan mulutnya. Aku sudah tidak tahan lagi.
"Katakan apa yang kau inginkan, Sasuke," bisiknya, kata-katanya terasa panas di telingaku. Aku tidak bisa mengendalikan situasi. Bibirnya bergerak ke bawah, ke dadaku. Kukunya berjalan di perut bawahku, membuat setiap sel tubuhku berdiri waspada.
Aku hampir tidak bisa mengeluarkan suaraku. "Aku menginginkanmu, Sakura. Hanya kau."
Tangannya bergerak di kedua sisi tubuhku, dan akhirnya dia mendorong lenganku ke atas kepalaku. Aku mematuhinya dengan mudah, tidak bisa berpikir.
"Aku berani bertaruh kau memang menginginkanku," ucapnya menggoda. Dia menekankan bibirnya dengan keras ke bibirku, sebelum melanjutkan ucapannya. "Dan ngomong-ngomong tentang taruhan..." tambahnya setelah dia menarik diri.
Tiba-tiba saja, ada suara dentingan logam di atas kepalaku. Tiba-tiba saja, ada baja dingin mengitari masing-masing pergelangan tanganku.
Aku dengan refleks mencoba untuk menarik tanganku, tapi tanganku terjebak, dipenjarakan oleh satu set borgol.
Apa yang terjadi?
Aku mencoba lagi, tapi tetap tidak berhasil. Sakura duduk di atas perutku, berat badannya nyaris tidak terasa, dan membuka penutup mata dari mataku.
Matanya menatapku penasaran—matanya terlihat sedih, menyesal, dan marah, semua emosi bergulung di dalam mata emeralnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku padanya.
Dia bernapas berat. Wajahnya memerah, namun masih terlihat sedih.
Dia menarik baju kaus yang dia gunakan sebagai penutup mataku dan mengenakannya, menutupi dada telanjangnya. Dia diam-diam mulai berdiri. Aku terlalu bingung.
"Sakura?" ucapku lagi.
Dia menatapku. Dia ingin terlihat marah, aku tahu itu, tapi tatapannya masih berkabut dengan penyesalan. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku tidak terlalu senang dengan situasiku saat ini. Aku mendongak ke atas untuk melihat rantai borgol di pergelangan tanganku.
Apa dia mencoba untuk merayuku? Membunuhku? Apa-apaan ini? Kenapa dia tidak bicara?
Dia meraih ritsleting celanaku dan aku melipat lututku ke depan, mencoba menjauh dari jangkauannya, tapi tidak berhasil. Aku tiba-tiba merasa curiga dan sangat protektif dengan barang berhargaku.
"Apa ini, Sakura? Apa yang terjadi? Bicara padaku!"
Matanya menatapku, akhirnya. "Kau tahu apa ini."
Tapi, aku tidak tahu. Aku memutar otak, putus asa mencari jawaban. Apa aku bicara dengan wanita lain lagi? Tidak, tidak sejak Karin... dan dia tahu tentang itu...
Dan ngomong-ngomong tentang taruhan... ucapannya terngiang di telingaku, dan aku tiba-tiba merasa takut. Biasakah dia tahu apa yang akan kukatakan padanya malam ini? Tapi, bagaimana bisa?
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," ucapku, berjuang untuk tetap tenang. Dia marah, dan aku diborgol. Ini tidak akan berakhir dengan baik.
"Benarkah?" ucapnya marah. Dia sepertinya sudah berhasil mengumpulkan keberaniannya. "Mari kita duduk dan berpikir sejenak. Dua minggu yang lalu, kau mendekatiku di sebuah klub. Dan dua minggu yang lalu, temanku mendengarmu sedang membuat taruhan untuk meniduri sang gadis malang-ratu-es-dan-perawan Sakura. Apa kau sudah ingat sekarang?"
Tubuhku membeku, napasku berhenti dalam ketakutan saat mendengar ucapannya.
Dia tahu tentang taruhan itu. Dia tahu. Dia tahu...
Aku tidak bisa bicara. Aku tidak bisa berpikir. Aku bahkan tidak yakin aku masih sadar atau tidak sampai aku mendengarnya kembali bicara.
"Itu benar, Sasuke. Aku tahu tentang taruhanmu," ucapnya marah. "Game over. Kau sudah kalah."
"Sakura, ini bukan seperti yang kau pikirkan," ucapku, tiba-tiba menemukan suaraku lagi. "Oke, ini memang seperti yang kau pikirkan. Tapi, aku mohon, biarkan aku menjelaskannya."
"Kau sudah punya waktu dua minggu untuk menjelaskan semuanya, Sasuke. Dua minggu untuk mengaku dan mengatakan yang sebenarnya."
"Aku akan mengatakannya, Sakura! Malam ini! Aku bersumpah demi Tuhan..."
"Tuhan tidak ada di sini untuk membantumu, Sasuke. Kau mengacaukan dirimu sendiri."
"Oh, sial, Sakura. Tolong dengarkan aku!"
Dia mulai menarik-narik celana jinsku lagi, jelas berusaha untuk melepaskannya. "Apa yang kau lakukan?" tanyaku padanya.
Dia melihat ke arahku dengan polos. "Aku pikir ini yang kau inginkan, Sasuke," ucapnya, nada suaranya berbahaya. Aku merasa ngeri mendengar kata-katanya.
"Bukan seperti ini, Sakura," aku tidak bisa berhenti mengoceh. "Maksudku... Oh, Tuhan. Bisakah kita membicarakan ini? Membuka borgol..."
"Aku tidak bisa," ucapnya cepat. "Aku tidak punya kuncinya."
Apa?
"Aku tahu kau punya kuncinya, Sakura," ucapku berbohong. Aku tidak tahu apa dia punya kuncinya atau tidak, atau apa yang dia rencanakan. Celanaku sudah ditarik sampai ke bawah lututku, hanya ada boxer sebagai pelindung penisku.
"Tidak, kau tidak tahu," ucapnya tajam. "Kau tidak tahu apa-apa tentangku. Kalau kau tahu, kau tidak akan pernah membuat taruhan sialan itu. Kalau kau tahu sedikit saja tentang perempuan—tentang manusia, Sasuke—kau tidak akan membuat taruhan sialan itu. Aku bukan mainan. Kau tidak bisa mempermainkanku hanya untuk mendapatkan uang atau apa pun yang menurutmu begitu penting—"
"Aku tidak bertaruh demi uang!" selaku.
"Lalu apa? Apa yang begitu penting untukmu sampai kau tega mempermainkan perasaan seseorang? Mobil? Jet?"
"Ceritanya panjang, Sakura. Tapi, aku mohon, buka borgolnya dan aku akan menjelaskan semuanya..."
"Simpan ceritamu, Sasuke. Aku sudah selesai. Aku tidak ingin mendengarnya lagi."
Dia berdiri dan berjalan keluar dari kamar, meninggalkanku sendirian, lenganku berada di atas kepalaku dan celanaku menggantung di pergelangan kakiku. Aku takut dia pergi untuk selamanya dan aku panik sambil bertanya-tanya berapa lama aku harus seperti ini sampai seseorang menyadari ada sesuatu yang tidak beres dan menemukanku. Sampai akhir pekan ini? Lebih lama lagi?
Apa dia benar-benar akan melakukan itu padaku?
"Sakura!" teriakku, tapi tidak ada jawaban.
Aku merasa seperti ditikam di dada. Rasa sakit ini nyaris melemahkan fisikku.
Aku menyukai Sakura. Meskipun aku sudah melakukan setiap upaya untuk menyembunyikannya, tapi itu benar. Aku sudah tahu itu berhari-hari yang lalu, dan aku cukup yakin dia juga menyukaiku. Ada sesuatu di sana, tidak peduli dia ingin mengakuinya atau tidak.
"Sakura!" aku kembali berteriak.
Dia tidak akan melakukan ini, ucap batinku. Dia tidak akan melakukannya. Dia tidak akan melakukannya. Dia tidak akan sampai hati meninggalkanku di sini...
Tapi sudah satu menit berlalu, dan tiba-tiba aku merasa tidak begitu yakin lagi.
o0o
Sakura POV
Aku mencari-cari ponselnya—di dapur, di ruang tengah, di saku jaketnya, di dalam lemari. Aku akhirnya menemukan ponselnya di atas rak DVD.
Aku bisa mendengar Sasuke berteriak memanggilku, suaranya terdengar putus asa, dan aku harus berjuang menahan air mataku.
Apa yang kau lakukan, Sakura? Kau sudah terjerumus masuk, selevel dengannya!
Tapi, dia layak mendapatkan ini! Dia harus belajar, wanita tidak untuk dipermainkan! Dia tidak bisa bermain-main dengan kami!
Tapi, bagaimana kalau Sasori melakukan sesuatu padanya?
Persetan dengan semua itu, mereka jelas berteman. Sasori akan sedikit mengejeknya, tentu saja. Tapi, itu saja. Dan kemudian mereka akan menemukan wanita berikutnya untuk dijadikan korban...
Ini salah. Ada yang tidak beres. Kau sudah bergaul dengan Sasuke selama dua minggu. Kau mengenalnya.
Hubungan kami penuh kebohongan. Dia belum jujur padaku.
Tapi, apa kau pernah jujur padanya?
Aku cemberut, memaksa untuk menghentikan pertengkaran batinku, dan kembali berjalan menaiki tangga. Aku menyeka wajahku, bertekad untuk tetap tegar. Aku siap untuk mengakhiri ini untuk selamanya.
Mungkin setelah ini, aku bisa melanjutkan hidupku. Aku bisa belajar. Aku bisa berpikir lebih dewasa. Dan aku bisa memulai babak baru kehidupanku.
Sasuke tidak dapat menyembunyikan napas leganya saat aku kembali masuk ke dalam kamar.
"Oh, terima kasih Tuhan," ucapnya, jelas senang melihatku. Dia mungkin mengira aku sudah pergi untuk selamanya.
Aku berdiri di depannya dengan tangan terlipat. Aku terlalu marah untuk menikmati pemandangan menakjubkan di depanku.
"Kau benar-benar menyakitiku, Sasuke," ucapku, karena dia harus tahu ini. Aku ingin dia mengerti bagaimana perasaanku saat dipermainkan.
"Aku sangat menyesal, Sakura," ucapnya, suaranya terdengar memohon. "Aku mohon, bicaralah denganku. Jangan meninggalkanku seperti ini..."
"Beri aku satu alasan kenapa aku harus memeduli ucapanmu," tuntutku marah. Pesannya pada Sasori membayangi pikiranku. "Kau tahu, aku benar-benar berpikir kau... Oh, Tuhan, aku benar-benar berpikir kau peduli padaku." Suaraku terdengar parau, dan aku benci diriku sendiri karena ini. Aku dengan kasar menghapus air mataku dan menguasai diri. "Lucu sekali, ya?" ucapku sambil tertawa terpaksa.
"Aku benar-benar peduli padamu," protes Sasuke. "Aku terlalu peduli padamu, sampai-sampai membuatku takut, Sakura."
Tapi, tentu saja dia akan mengatakan ini. Apa saja akan dia lakukan untuk menyenangkanku, untuk membuat dirinya lepas dari ikatan borgol.
Pesannya pada Sosori kembali mengeranyangi pikiranku, dan ini memberiku kekuatan.
Aku menarik kunci borgol dari sakuku. Mata Sasuke melebar saat dia melihatnya.
"Aku bohong, Sasuke," ucapku dingin. "Aku punya kuncinya. Aku akan meletakannya di sini." Aku meletakan kunci borgol di lemarinya, mengabaikan wajahnya yang kecewa saat logam ringan itu menyentuh kayu.
"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini," bentakku. "Aku yakin kau punya seorang teman yang akan dengan senang hati membantumu melepaskan borgol ini. Mari kita lihat..." Jariku bergulir di daftar kontak ponselnya dan menemukan nomor Sasori. "Ini dia."
Aku menunjukkan nama yang tertera pada pada layar ponselnya dan kemudian meletakan ponsel di dadanya. Aku sudah menyalakan speaker phone.
"Sakura, jangan lakukan ini," dia kembali mencoba membujukku, dan aku tahu, tidak peduli seberapa kuatnya aku mencoba untuk mengendalikan diri, aku sudah hampir membuka borgolnya.
Setelah kejadian ini, aku bisa memastikan dia tidak akan memulai permainan kecilnya lagi. Dia akan mengingatku.
Aku memaksa keraguanku pergi dari dalam pikiran, tapi aku tahu perasaan ini tidak akan hilang terlalu lama.
"Aku menyesal, Sasuke," ucapku, ini benar. Aku menyesal karena hubungan kami berakhir seperti ini; aku menyesal kami harus bertemu dengan cara seperti ini.
Aku menyesal karena terlalu peduli padanya.
"Sakura..." dia mulai bicara lagi, tapi aku dengan cepat menekan tombol send di ponselnya. Aku melirik ke bawah, untuk memastikan ponselnya sudah terhubung dengan Sasori. Aku mendengar dering pertama lewat speaker ponsel.
Matanya menatap mataku untuk yang terakhir kalinya. Matanya memohon. Matanya menatapku dengan putus asa.
"Tolong jangan lakukan ini," ucapnya untuk yang terakhir kalinya. "Aku mohon, tinggal lah dan bicara denganku."
Tapi, aku tidak mendengarkan ucapannya. Sudah terlambat untuk bicara.
"Aku minta maaf," ucapku pelan. Aku hampir tidak bisa mendengar suaraku sendiri karena deburan jantungku.
Aku berbalik dan berjalan menuju pintu, aku mendengar Sasori menjawab telepon saat aku meninggalkan ruangan.
"Hei, ada apa?" Suaranya terdengar gembira saat menjawab telepon dari Sasuke. "Sudah berhasil meniduri ratu es?"
Aku bisa merasakan wajahku memerah karena marah. Aku tiba-tiba merasakan dorongan untuk kembali dan menendang selangkangan Sasuke seperti rencana awalku, atau memberinya sumpah-serapah, tapi aku tidak punya kekuatan lagi.
Aku merasakan lautan emosi saat menuruni tangga: sedih, terhina, menyesal. Tapi, aku sangat marah dengan apa yang Sasori katakan.
Aku memastikan semua peralatan dapurnya sudah dimatikan. Aku memastikan lampu kamarnya masih menyala, agar aku bisa melihatnya dari jalanan, agar nanti malam aku bisa tahu dia sudah berhasil melepaskan borgolnya atau belum.
Aku meluncur masuk ke mobilku dan menyalakan mesin.
Aku tidak melihat ke belakang saat bergerak menjauh dari rumahnya. Aku tidak lagi menyesali perbuatanku, dan aku tidak lagi memikirkan apakah ini benar atau salah.
o0o
to be continued
o0o
