"tsuyu-chan, kau dengar suara cambuk itu?" uraraka menajamkan pendengarannya, samar-samar mendengar bunyi cambuk yang membelah udara disertai teriakan seorang gadis dan rintihan kesakitan seseorang.

"aku mendengarnya, kero. Kita dekati sumber suaranya, kero." asui, di gadis berwajah mirip kodok mengajak uraraka untuk menyelidiki.

Saat ini sedang dilangsungkan pertandingan ulang kelas A melawan kelas B dan berlokasi di hutan yang lebat, kawasan hutan yang dimiliki oleh U.A. asui dan uraraka mengendap dan melangkah tanpa suara, membungkuk dan bersembunyi di balik semak-semak yang rimbun. Alangkah kagetnya mereka berdua saat menyaksikan pemandangan yang bisa dibilang sadis di depan mata mereka. Yaoyorozu momo atau akrab dipanggil Yaomomo, gadis cantik bertubuh seksi dan bahenol teman sekelas mereka tengah melayangkan cambuk ke arah Pony Tsutonori, murid kelas B.

"Hiahh, rasakan ini!" Momo mencambuk tubuh kecil Pony tanpa ampun sementara tubuh Pony tergeletak di tanah rerumputan.

"Ampuunn, ampuun,, uohok," Pony merintih kesakitan sambil memohon ampun.

"Tak ada ampun bagimu, kuda bodoh! Kau telah melukai pacarku! Ya, todoroki shoto adalah pacarku, saat pertandingan kemarin kau menyerangnya dengan quirk-mu, aku tidak terima. Hiahh!"

Momo melayangkan cambuk sekali lagi, mengenai tubuh ringkih Pony.

Gadis bertubuh kecil terus memohon ampun, tak mampu melawan Momo.

"uraraka-chan, apa kau yakin itu Momo-chan? Tak kusangka momo-chan punya sisi kejam juga," asui sangat merinding.

Uraraka mengangguk dengan pandangan tak percaya. "padahal selama ini yaomomo selalu bersikap manis dan anggun, aku sungguh tak menyangka. Dan apa kau tahu kalau yaomomo dan todoroki berpacaran?"

asui menggeleng. "tidak tahu, kero. Tapi memang mereka menunjukkan tanda2 menjalin hubungan meski belum secara resmi mengumumkan. Ini sungguh berita besar, kero. Uraraka-chan, apa sebaiknya kita hentikan aksi kejam momo-chan? Aku tak tega melihat pony-chan."

uraraka menggeleng lemah. "aku tak ingin ikut campur tsuyu-chan, kita tunggu dan lihat saja di sini."

Momo tersenyum kejam saat melihat targetnya tergeletak tanpa daya. Lalu, dalam belahan dadanya, muncul berbagai macam benda yang ternyata adalah sadel (alas duduk yang biasanya dipasang di punggung kuda), dan tali. Asui melihat payudara Momo yang ukurannya sangat besar bergoyang-goyang. Memang, momo dikenal sebagai gadis yang memiliki ukuran payudara besar dan bulat. Bahkan jirou tak sengaja menemukan beha milik Momo di mana cup-nya seukuran kepala Jiro yang artinya payudara Momo memang sangat besar.

"aku masih belum puas menghukummu, anak sialan. Kau tahu ini apa? Ya ini adalah sadel yang akan kupasangkan di punggungmu, dengan kata lain kau harus kembali ke kodratmu sebagai seekor KUDA sesuai namamu Pony. Akan kutunggangi kau, bersiaplah pecundang."

momo memerintahkan pony untuk memasang posisi merangkak. Pony merintih kesakitan, tak kuat dengan segala macam siksaan ini. Sambil memasang sadel di atas punggung pony, momo tersenyum kejam.

"uraraka-chan, apa yang akan dilakukan momo-chan?" asui merinding.

"sepertinya pony akan dijadikan sebagai kuda tunggangan, aku sendiri tak yakin."

"kasihan sekali pony-chan."

setelah sadel terpasang sempurna, Momo memasukkan tali ke mulut pony dan mengikatnya untuk dijadikan sebagai tali kekang. Setelah persiapan selesai, Momo berdiri mengangkangi Pony lalu mendudukkan bokongnya dengan nyaman di atas sadel. Sungguh pemandangan yang mengenaskan dan mengundang rasa iba karena pony bertubuh kecil, tubuh kecil ringkih itu harus digencet oleh Momo yang bertubuh berisi dan bahenol. Momo sedikit mengangkat dan menekuk kedua kaki jenjangnya agar tak menyentuh tanah sekaligus menambah efek berat gencetan pada punggung pony.

"mulai jalan! Hhiahh!" momo melayangkan cambuk, memerintahkan pony untuk merangkak.

"nghhuuhh, amphun, ampuunn, nghuhhh" pony meronta, tak kuat menahan berat tubuh Momo yang bahenol.

Pony merangkak pelan, selangkah demi selangkah dengan susah payah. Payudara besar Momo bergoyang-goyang dan bokong sintalnya bergetar tiap kali Pony merangkak. Momo kembali mengayunkan cambuk, menyuruh pony merangkak lebih cepat. Beberapa kali pony tampak oleng dan hilang keseimbangan karena tidak kuat menahan berat tubuh Momo. Gadis bahenol itu tersenyum kejam, menikmati momen langka. Sudah lama Momo menyusun rencana agar bisa menghajar Pony dan ternyata kesempatan itu datang. Secara kebetulan sekolah mengadakan tanding ulang kelas A dan kelas B di hutan, saat itulah Momo berpapasan dengan Pony dan tanpa pikir panjang keduanya terlibat pertarungan singkat dan dimenangkan Momo dengan mudah.

"amphunnn, ampuunn,, tolong,, okhhhh" Pony terus merintih dan memohon ampun tapi Momo tak menunjukkan belas kasihan sedikit pun.

"berhenti!" seru Momo. Pony menarik napas lega.

Momo berdiri mengangkangi Pony, menarik tali kekang hingga kepala Pony tertarik ke belakang.

"huargghhhhhh" teriak Pony kesakitan.

"jadi kuda saja tidak becus! Kau membuatku marah! Hheiiahhh!" Momo melonjak, mendarat dengan keras di punggung kecil Pony. Pony tersungkur, jatuh dalam posisi tengnkurap dalam posisi Momo masih menduduki punggungnya.

"bangun pemalas, aku masih belum puas menyiksamu. Bangun dan mulai jalan lagi!" Momo mendengkus marah.

Sebagai gadis berparas cantik dan bertubuh luar biasa seksi, Momo merasakan keasyikan terendiri saat menggencet gadis bertubuh kecil kurus. Payudara besar Momo memantul-mantul, sungguh menggoda siapapun yang melihatnya.

"terimalah hukuman berat dariku, kuda tolol. Mampuussssss! Rasakan iniiii!" Momo kini menggencet kepala Pony atau facesitting. Terlihat jelas pantat bahenol Momo bergerak-gerak saat melakukan aksi penggencetan sadis itu.

"jangan pikir aku akan melepasmu, setelah ini akan kubawa kau ke ruangan khusus penyiksaan." Momo tertawa sadis.