"Jadi Taufan, apa yang akan kau lakukan saat ini jika seandainya tidak menjadi aktor?"

Seorang pemuda dengan kemeja biru langit dan celana hitam itu terdiam sejenak atas pertanyaan yang diberikan dari pembawa acara di sampingnya. Kamera masih menyorot padanya, menayangkannya langsung di acara televisi entertainment.

"Hm, mungkin tidur?" jawabnya dengan gurauan. Pembawa acara yang mendampinginya terkekeh, pun dengan para kru di belakang kamera ikut tertawa tanpa suara karena candaannya. "Aku tidak tahu pasti, sih. Tapi jika melihat kondisi keluargaku, sepertinya aku akan meneruskan usaha kedai cokelat bersama saudaraku." lanjutnya.

Pembaca acara itu mengangguk mengerti. "Jika boleh tahu, apa yang membuatmu ingin menjadi aktor?"

Taufan sudah tahu pertanyaan itu akan dilontarkan, karena sebelum acara dimulai ia telah di-briefing sedikit mengenai pertanyaan-pertanyaan yang akan disampaikan padanya. Namun tetap saja, pertanyaan itu selalu membuatnya bingung untuk menjawabnya.

"Kalau boleh jujur, menjadi aktor itu sungguh sebuah mimpi yang begitu besar bagiku. Setiap menonton film aku selalu kagum dengan para aktor yang bisa berakting sangat bagus, sampai aku juga ingin seperti mereka." balas Taufan. Pandangannya mengarah pada langit-langit ruangan, membiarkan pikirannya mengingat kembali pada masa-masa itu. "Aku mencoba untuk mengikuti audisi, hasilnya selalu gagal sampai aku ingin menyerah rasanya. Tapi, ada seseorang yang selalu menyemangatiku, agar terus mengejar mimpi itu seberat apapun rintangannya,"

"Seseorang?" tanya sang pembawa acara mengernyitkan dahinya.

Taufan mengangguk. "Ya. Berkat dia, aku bisa menjadi seperti sekarang."

"Kalau boleh tahu, siapa dia?"

Senyum Taufan terukir sedikit. Sosok seseorang yang ia sebutkan itu langsung berkelebat di kepalanya tanpa bisa ia cegah.

"Mantan pacarku."


"Behind The Scene" by Meltavi

Boboiboy © Animonsta Studios

Fanfic ini aku tulis tidak mengharapkan keuntungan apapun, hanya untuk kesenangan semata^^

Warning(s) : AU!Entertainment, TauYa, hurt/comfort, romance, gaje, typo, dll.

Selamat membaca^^

...

..

.

5 tahun yang lalu ...

"Taufan, Taufan! Lihat, ada audisi di Kuala Lumpur! Bagaimana kalau kamu daftar?"

Sore hari itu, Taufan yang tengah mengetik makalah di laptopnya menoleh pada sang kekasih yang begitu bersemangat melihat ponselnya, menampilkan sebuah selebaran digital audisi untuk aktor.

"Yaya, audisi itu di Kuala Lumpur. Di kota Hilir saja aku tidak lolos, bagaimana Kuala Lumpur yang kotanya sangat besar itu?"

Gadis bernama Yaya itu mendecak. Diletakkannya ponsel di meja kantin fakultas tempat mereka berada sekarang untuk menatap Taufan sepenuhnya.

"Kamu belum coba, lho. Jangan ngomong begitu," tegurnya.

Taufan menghela napas. Makalah yang harus ia kumpulkan besok kini terabaikan begitu saja. "Aku cuma berpikir realistis aja, Ya. Udah lima kali aku coba dan selalu gagal. Aku nggak bisa terus-terusan begini, lebih baik aku tuntasin kuliah bisnisku daripada ikut audisi."

"Tapi ini mimpi kamu daridulu, Fan. Memangnya kamu udah nggak mau jadi aktor lagi?" tanya Yaya.

Taufan terdiam lama. Ia tak membalas tatapan Yaya yang menuntut jawaban darinya dengan memandang ke arah lain. Dari sana Yaya sudah tahu jawabannya. Gadis itu tersenyum tipis, lalu meraih tangan sang kekasih untuk diusapnya lembut.

"Kamu masih mau, 'kan?"

"Iya, sih, cuma ..." Taufan menghembuskan napasnya lelah. Ia menatap sendu kedua mata Yaya yang berwarna cokelat. "... aku takut gagal lagi. Aku nggak mau bikin kamu kecewa terus,"

Yaya menggeleng pelan. Usapannya pada tangan Taufan terhenti, digantikan dengan genggaman hangat.

"Kamu nggak akan pernah bikin aku kecewa," ucap Yaya. "Karena aku percaya kamu bisa,"

Mendengarnya membuat Taufan terenyuh. Disaat ia meragukan dirinya sendiri, Yaya begitu yakin padanya. Taufan tak tahu apa yang membuat Yaya berpikir kalau ia bisa. Rasa semangatnya yang terkubur perlahan kembali bangkit. Dan satu tekad kuat tertanam di hatinya, bahwa ia ingin melakukannya sampai berhasil untuk gadis di depannya kini.

Taufan tersenyum tulus. Jari jemarinya mempererat genggaman tangan mereka. "Makasih."

"Sama-sama."

Audisi itu akhirnya ia ikuti. Setiap harinya di tengah-tengah sibuknya perkuliahan, Taufan melatih kemampuan beraktingnya agar bisa lolos audisi. Selama itu juga Yaya selalu ada di sisinya. Gadis itu seolah tak kenal lelah untuk menjadi support system-nya. Membuat Taufan kian percaya diri, kalau ia bisa.

Dan pada saat hari pengumuman, ia dinyatakan lolos. Taufan tak pernah melupakan hari paling bahagia itu sampai kapanpun. Bagaimana ia dan Yaya begitu gugup di depan laptop hanya untuk menunggu pengumuman hasil audisi itu melalui surel. Ketika kata selamat adalah kata yang pertama muncul di surel itu, keduanya memekik kegirangan. Bahkan Taufan ingat ia sampai mengangkat tubuh Yaya untuk dipeluknya erat dan berputar. Tak menyangka usahanya membuahkan hasil yang begitu manis.

Namun kelolosannya sama sekali bukan akhir dari perjuangannya. Karena justru, lolosnya ia pada audisi tersebut menjadi awal mula semuanya.

Tahun pertama waktunya dipenuhi oleh jadwal syuting dan kuliah. Taufan ingat ia hampir tak bisa mengatur waktunya sebab saking padatnya jadwal yang harus ia lakukan setiap hari. Yaya bahkan turun tangan membantunya menyelesaikan tugas kuliah, meskipun ia tak pernah memintanya. Tapi gadis itu bilang tidak apa-apa.

Setahun berlalu dengan cepat dan kegilaan itu masih terus berlanjut, Taufan memutuskan untuk berhenti kuliah dan fokus dengan dunia entertainment. Kemampuan aktingnya terus meningkat sehingga membuat para produser melirik padanya dan menggaetnya untuk memerankan peran di film mereka. Peran yang ia dapatkan pun semakin menaik, dimulai dari figuran saja, lalu peran pendukung, hingga sampai pada peran utama. Popularitasnya meningkat cepat sampai ia dianugerahi penghargaan Aktor Terfavorit tahun itu.

Kariernya meroket luar biasa. Taufan menjadi seorang yang digilai banyak wanita karena ketampanannya. Satu negara mengenalnya, bahkan hingga ke mancanegara. Taufan semakin sibuk, dan waktunya dengan Yaya kian menipis.

Dua tahun setelah debutnya menjadi aktor, Taufan baru menyadari bahwa segala sesuatu memang selalu ada konsekuensinya. Namun ia benar-benar tak menyangka hubungannya dengan Yaya akan menjadi korban.

Malam itu, Taufan menyempatkan diri untuk menemui Yaya di apartemen setelah syuting seharian. Tak mudah untuk mereka bertemu dengan posisinya yang sekarang. Topi dan masker senantiasa menutupi wajahnya agar tak ada yang bisa mengenalinya. Ia pun tak bisa berlama-lama bertemu dengan Yaya karena managernya pasti akan curiga. Karena mempunyai kekasih, adalah hal terlarang yang dibuat oleh agensinya.

"Kita harus putus."

Ucap Yaya saat mereka sudah di dalam apartemen sang gadis. Taufan tidak pernah berharap Yaya akan selalu menghiburnya setiap kali ia merasa lelah, karena Yaya bukan pelariannya jika ia jenuh dengan pekerjaan. Tapi Taufan benar-benar tidak menyangka, Yaya akan mengatakan kata menyakitkan itu di malam yang Taufan harap akan mereka habiskan dengan canda tawa.

"Kalau ini karena karier aku, aku bisa ninggalin itu demi kamu, Yaya." Mungkin itu adalah hal terbesar yang Taufan bisa lakukan, karena ia benar-benar tak tahu harus melakukan apa lagi selain itu.

Dua tahun adalah waktu yang bisa dikatakan hebat untuk mereka menyembunyikan hubungan ini dari orang-orang. Dan Taufan sadar, Yaya adalah pihak yang paling banyak menanggung rasa sakit daripada dirinya. Taufan tahu Yaya adalah gadis yang tegar. Tapi, setegar apapun Yaya, ia juga hanya wanita biasa yang cuma menginginkan waktu bersama kekasihnya dengan bebas.

Yaya menggeleng seraya tersenyum. Senyum yang begitu pahit sekaligus dipaksa untuk terlihat baik-baik saja, membuat Taufan sangat sakit melihatnya.

"Ini bukan karena karier kamu. Tapi karena kita udah nggak bisa lanjut, Fan."

"Yaya, kumohon ..."

"Taufan ... kamu inget 'kan, aktor adalah mimpi kamu dari dulu? Sekarang kamu udah bisa wujudin mimpi kamu. Kamu hebat, aku bener-bener bangga sama kamu. Karena itu, aku nggak mau jadi penghalang kamu dengan mimpi kamu."

"Yaya ..." lirih Taufan. Ia meraih tangan Yaya untuk digenggamnya, memohonnya untuk berhenti bicara. Pasti masih ada cara selain ini. Mereka hanya perlu memikirkannya dan mencari jalan keluar bersama.

"Aku nggak pernah nyesel maksa kamu buat ikut audisi waktu itu. Karena aku percaya kamu pasti bisa. Jadi kamu juga nggak boleh nyesel dan nyalahin diri kamu sendiri. Oke?"

Tapi Yaya terus mengatakan kalau ini adalah cara satu-satunya. Menegaskan bahwa mereka memang harus berhenti.

Taufan terisak. Air matanya menyeruak keluar tanpa bisa ia cegah lagi. Tangan kecil Yaya kemudian membawanya ke dalam dekapan, menenangkannya yang menangis seperti anak kecil yang akan ditinggal ibunya.

"Aku dan kamu sekarang udah beda tujuan. Kamu dengan mimpi kamu, dan aku juga harus wujudin mimpi aku. Aku nggak bisa biarin hubungan ini menyakiti kita. Jadi kita harus berhenti, Fan."

"Maaf ... maafin aku ..." isak Taufan pilu.

"Aku juga minta maaf, ya?"

Keduanya sama-sama meneteskan air mata malam itu. Rasa sakit mereka sama, sesak yang memenuhi rongga dada seolah menyiksa mereka tanpa ampun.

Dengan begitulah, hubungan mereka kandas. Meskipun mereka mengakhirinya dengan cara baik-baik, namun rasa sakit itu tetap hadir. Karena kata mengakhiri sama sekali tak pernah mereka harapkan untuk terjadi.

...

..

.

"Kamu nonton apa?"

Yaya menoleh dan tersenyum saat mendapati seorang pemuda duduk di sampingnya. Kedua mata pemuda itu menatap pada layar televisi di depan mereka yang sedang mengadakan acara siaran langsung.

"Aku kira kamu nggak suka tontonan entertainment?" tanyanya heran.

"Memang nggak terlalu suka. Tapi lagi iseng nonton aja, nggak ada tontonan yang bagus soalnya," balas Yaya. Kepalanya disandarkan pada bahu sang pemuda, menyamankan kepalanya di sana.

"Taufan? Dia aktor yang berhasil masuk ke film hollywood itu, 'kan?" tanya si pemuda ketika lowerthird muncul di layar dan tertera nama itu. Rasa tertariknya menjadi muncul tiba-tiba.

Yaya mengangguk. Keduanya sama-sama mendengarkan apa yang sedang pembawa acara itu bicarakan bersama sang aktor.

"Ah, jadi begitu. Apa berarti dia telah merubah hidupmu begitu banyak?"

Taufan terlihat mengangguk. "Ya. Sangat."

"Mungkin ada yang ingin kau sampaikan padanya? Siapa tahu dia juga sedang menonton acara ini," kata si pembawa acara seraya tersenyum.

"Aku ... ingin bilang terimakasih. Meskipun itu tak akan pernah cukup walau aku mengatakannya seribu kali." Ia kemudian terkekeh pelan. "Tapi, aku benar-benar berterima kasih padamu. Sangat. Dan juga ... selamat atas pernikahanmu,"

Pembawa acara itu kemudian terkejut dan terharu. Yaya tersenyum. Ia membenarkan posisi kepalanya pada bahu sang suami agar lebih nyaman. Dalam hatinya Yaya berbisik lirih.

Selamat juga atas film barumu, Taufan.

.

.

.

.

.

Finizh


A/N :

Aku menenggelamkan kapalku sendiri mwahahaha, baru dua kali sih.

Ini ditulis karena waktu itu aku baca info tentang drama Korea, yaitu Choi Woo Shik, salah satu aktor Korea Selatan dateng ke pernikahan mantannya. Mantannya itu ternyata orang yang daftarin dia ke audisi. Dan boowww, Choi Woo Shik bisa sehebat ini, dia bahkan bilang kalau bukan karena mantannya dia nggak akan jadi aktor. Sesimpel itu dan aku langsung teringat TauYa u.u

Ini ff AU!Entertainment pertama aku, jadi maaf kalau bener-bener gajelas. Jujur, tadinya mau bikin multichap. Tapi takut nggak sanggup /ngek

Oiya, ada yang bisa nebak suami Yaya siapa? Sengaja ga aku kasih tau biar kalian penasaran /ditabok

Mungkin segitu aja. Makasih banyak yang udah sempetin baca. Jumpa lagi!