Saat perang, Boruto dan Kawaki diserang oleh seekor monster alien. Hinata dengan sigap memeluk kedua anak lelakinya itu. Hinata ingin membawa kedua anaknya dari situ, namun kedua anaknya mengalami luka dalam sehingga tubuh mereka sulit digerakkan dan lokasi mereka jauh dari Ninja Medis. Saat itu Naruto berada agak jauh dari mereka sehingga tidak bisa mencapai tempat mereka tepat waktu, Neji sudah berusaha melindungi mereka dengan Kaiten namun cakar monster itu hanya memantul dari kaitennya. Sang monster menyerangnya untuk kedua kali dan Neji sudah siap memasang badannya untuk melindungi Hinata dan kedua anaknya, toh dia tidak bisa mati lagi dan hanya akan kembali ke alamnya.
Namun tiba-tiba di depannya muncul sesosok wanita bercepol dua yang memasang badan untuknya sebelum cakar itu mencapai tubuh Neji. Dan akhirnya tubuh wanita itu yang tertusuk cakar monster itu, bukan tubuh Neji. Hati dan perasaan Neji hancur melihat tubuh wanita itu tertusuk oleh cakar tersebut, sama seperti ketika Minato dan Kushina melindungi Naruto ketika Naruto masih bayi.
Ketika monster itu mencabut cakarnya dari tubuh wanita tersebut, tubuh wanita itu hampir terjatuh ke arah depan, namun dengan sigap Neji menangkap tubuh ramping wanita itu, lalu menelentangkannya dan menyangga kepala dan bagian atas tubuh wanita itu.
"Tenten…" panggil Neji sambil menangis.
"Neji…uhuk!"
Mulut dan hidung Tenten mengeluarkan banyak darah, belum di bagian tubuhnya yang tertusuk cakar monster tadi. Saat itu, monster tadi sudah siap menyerang Neji dan Tenten lagi, namun untungnya, Naruto dan Minato sudah sampai di tempat mereka dan langsung menghajar makhluk itu hingga pingsan.
"Kau bodoh Tenten! Kenapa kau melindungiku? Aku hanya akan kembali ke alamku jika tertusuk monster itu karena aku sudah mati! Tapi kau…kau masih punya nyawa dan kehidupan di dunia ini Tenten…kenapa..?" tanya Neji seraya menempelkan keningnya ke kening kekasihnya itu sembari menangis.
"Aku tak ingin…kehilanganmu lagi…Neji. Kehilanganmu…sekali saja…sudah menghancurkan…hati dan perasaanku… Apalagi… dua kali…" kata Tenten lirih.
"Tenten-san! Maafkan aku dan Naruto yang telah membuatmu terpisah dengan Neji-niisan! Kami tidak tahu jika kau dan Neji-niisan ternyata…" tangis Hinata yang sudah menyerahkan kedua anaknya ke Ninja Medis yang datang bersama dengan Sakura.
"Aku tidak pernah… menyalahkan kau… dan Naruto… Hinata. Ini semua.. salah Obito dan Madara… yang membunuh Neji. Jika tidak… kenapa aku… masih mau… berteman denganmu?" Jawab Tenten pelan.
Akhirnya Sakura mendatangi tempat Tenten bersama Naruto, Minato, dan Hizashi, lalu Sakura berusaha memeriksa kondisi Tenten yang sekarat. Tetapi setelah memeriksa Tenten, Sakura hanya menggelengkan kepala pertanda dia tak sanggup menolong Tenten.
"Sakura-san, kenapa..? Kenapa kau menggelengkan kepala seperti itu? Kau bisa menyembuhkan Tenten, kan?" Tanya Neji.
"Maaf Neji-san, jika hanya luka seperti ini aku bisa menyembuhkannya. Masalahnya, terdapat racun pada cakar makhluk tersebut dan kami tidak memiliki penawarnya. Maafkan aku, Neji-san. Aku tidak bisa menetralisir racun yang sudah menyebar ke tubuh Tenten-san." Jawab Sakura sembari menitikkan airmata.
"Tapi kau bisa mengambil racun dari tubuhnya kan, Sakura-san?" Tanya Neji lagi, berusaha memastikan Sakura bisa menolong Tenten dengan cara apapun.
"Aku tidak bisa mengambil racun dari tubuhnya, Neji-san. Racunnya langsung menyatu dengan darah dan otot di tubuh Tenten-san ketika cakar monster itu menembus tubuh Tenten-san dan aku tidak bisa memisahkannya. Jika aku mengambil racunnya, maka darah Tenten-san akan ikut terambil dan dia akan mati karena kehabisan darah. Sekeras apapun aku mencoba, hasilnya akan sama saja, Neji-san." Kata Sakura putus asa.
"Kau…kau bohong kan Sakura-san? Tidak mungkin…" ucap Neji lirih.
"Aku benar-benar menyesal Neji-san." Kata Sakura seraya menunduk dan berdiri, memberi tempat pada Naruto, Minato, dan Hizashi. Naruto dan Minato mengambil tempat di samping Hinata, sementara Hizashi mengambil tempat di samping Neji.
"Sepertinya...kita akan …bertemu lagi… Sayang…" ucap Tenten lirih pada Neji.
"Iya sayang." Kata Neji sambil berusaha tersenyum pada Tenten, walaupun airmatanya semakin deras mengalir melihat pujaan hatinya yang sedang sekarat.
"Bagaimana..disana? Indah kah?" tanya Tenten.
"Jauh lebih indah daripada dunia yang fana ini, sayang." Jawab Neji yang masih tersenyum.
"Paling tidak… aku tidak perlu…takut lagi…" Kata Tenten dengan tersenyum. "Sayang… Maafkan aku… karena telah… menamparmu tadi…" kata Tenten sambil berusaha memegang pipi Neji yang dia tampar tadi, namun gagal.
Namun Neji hanya menggeleng sambil memegang tangan Tenten yang berusaha menyentuh pipinya dan menaruh tangan Tenten di pipinya. "Tidak apa-apa sayang, aku memang pantas mendapatkannya. Aku… aku… aku sudah melanggar janjiku padamu dan meninggalkanmu sendiri di dunia ini." Isak Neji.
"Tidak apa-apa… sayang… mungkin ini… semua… memang takdir… dari… Kami-sama… untuk kita.. Kumohon, jangan menangis… Aku sedih…jika kau…menangis…" Ucap Tenten yang terdengar semakin lemah dan terbata-bata sambil menghapus airmata Neji.
"Naruto?" Panggil Tenten.
"Ya Tenten? Ada yang bisa kubantu?" Tanya Naruto yang sudah menangis daritadi melihat pemandangan mengharukan ini.
"Kumohon… Toko senjataku… ubahlah menjadi… pusat pengembangan… senjata… Konoha… Dan sampaikan… maafku… pada Lee… dan … Guy Sensei… karena aku… menyusul… Neji." Pesan Tenten pada Naruto.
"Baik Tenten, akan kupenuhi permintaan terakhirmu." Ucap Naruto.
Ketika mendengar permintaan terakhir Tenten, sebenarnya Neji merasa agak janggal, kenapa Tenten tidak memberikan pesan terakhir untuk anaknya sendiri, si Metal Lee? Namun karena kondisi Tenten yang semakin menurun, Neji memutuskan untuk tidak menanyakannya dan akan bertanya kepadanya nanti, setelah kembali ke alamnya.
"Sayang…" Panggil Tenten.
"Iya sayang?" Jawab Neji.
"Kumohon… temani aku… ketika disana… nanti… Jangan… tinggalkan… aku lagi…" lirih Tenten dengan tenaga yang semakin melemah.
"Tenang saja sayang, aku tidak akan pernah meninggalkanmu disana, tidak akan." Kata Neji yang kembali berusaha tersenyum untuk Tenten di saat terakhir kehidupan kekasihnya itu.
"Dan kumohon… Penuhi janjimu… untuk… menikahiku… di sana…" Kata Tenten memohon.
"Pasti sayang, aku berjanji akan menikahimu di sana, sesuai janjiku ketika hidup dulu." Kata Neji.
"Terima…kasih…sayang…" Kata Tenten dengan lirih, kemudian Tenten menatap Neji dengan tatapan yang dalam dan lembut. Neji yang memahami keinginan Tenten, kemudian Neji membersihkan darah di bibir Tenten dan mencium bibirnya.
Ketika mereka berciuman, Neji merasakan nafas Tenten yang semakin melemah dan kemudian berhenti. Ketika Neji tidak bisa merasakan nafas dan denyut nadi kekasihnya lagi, dia melepas ciumannya dan memanggil-manggil nama kekasihnya.
"Sayang? Tenten? TENTEN?"
Sakura yang masih berada di belakang Naruto, langsung menyela diantara mereka dan mengecek kondisi Tenten. Setelah mengecek kondisi Tenten, Sakura hanya menggeleng dan menunduk sambil menangis. Melihat reaksi Sakura, Neji meraung memanggil nama kekasihnya dan menangis, selama Neji hidup dulu, dia tidak pernah menangis sesendu itu.
Semua orang di sekitar mereka terharu dan merasa sesak melihat pemandangan memilukan di depan mereka. Para Ninja wanita, terutama para istri dan pasangan Konoha 12 yang menjadi sahabat Tenten selama hidupnya, menangis dan terisak di bahu para suami mereka, sementara para Chuunin seangkatan Boruto hanya terpaku sedih melihat pemandangan itu.
Kemudian monster yang telah membunuh Tenten mulai sadar kembali dari pingsannya. Neji yang sudah mulai menguasai dirinya kembali, begitu marah dan ingin menghabisi monster itu sendiri.
"Ayah, tolong jaga jasad menantumu. Biar aku menghadapi monster itu dan membalaskan dendam menantumu." Kata Neji seraya menyerahkan tubuh Tenten yang sudah tidak bernyawa ke Hizashi. Setelah itu, Neji mengambil darah di tubuh Tenten dengan tangan kanannya, mengepalkan tangan kanannya, dan bersumpah di depan semua orang untuk membunuh makhluk itu sendirian, untuk membalaskan dendam Tenten. Lalu Neji pergi menghadapi monster itu, disusul oleh Minato, Hashirama, Tobirama, dan Hiruzen. Minato meminta orang-orang yang masih hidup dan belum pernah mati untuk menjauh dari tempat itu, menghindari jatuhnya korban seperti Tenten.
o0o
Hizashi segera membawa jasad Tenten ke tempat yang aman, begitu menemukan lokasi yang aman di dekat sungai, Hizashi meletakkan jasad Tenten dan tidak sengaja bertemu dengan Lee dan anaknya, Metal Lee. Lee begitu shock melihat jasad Tenten dan terduduk menangis di samping jasadnya, menyalahkan Tenten kenapa dia juga mengikuti jejak Neji dan meninggalkan Lee seorang diri, sebagai satu-satunya anggota tim Guy yang masih hidup dan aktif. Melihat mata Metal Lee yang begitu mirip dengan Tenten, Hizashi mengira bahwa Lee adalah suami Tenten di dunia dan Metal Lee adalah anaknya.
"Maafkan anakku, anak muda. Dia telah membuatmu kehilangan istri dan ibu dari anakmu. Aku sungguh menyesal." Kata Hizashi bersungguh-sungguh pada Lee yang masih menangisi kematian Tenten.
"Tidak apa-apa paman, apakah paman adalah ayahnya Neji?" Tanya Lee.
Hizashi mengangguk. Kemudian Hizashi melihat ke arah Metal Lee dan berkata,"Aku turut berduka cita atas kematian ibumu, nak. Pasti sangat berat bagimu kehilangan seorang ibu."
Metal Lee yang semula sedih, melongo mendengar kata-kata Hizashi, kemudian berkata,"Paman, Ibuku di rumah. Beliau tidak ikut perang ini, beliau bahkan bukan seorang Shinobi."
Hizashi terkejut mendengar kata-kata Metal Lee, lalu memastikan kepada Lee,"Anak muda, wanita ini… apakah dia bukan ibu dari anakmu? Dia bukan istrimu?"
Lee yang sudah menguasai dirinya, menjawab pertanyaan Hizashi dengan lugas,"Bukan paman. Tenten bukan istriku dan bukan ibu dari anakku. Bentuk mata istriku dan Tenten memang mirip, karena itu orang-orang sering mengira bahwa Metal Lee adalah anak dari Tenten, padahal bukan."
Hizashi tertegun mendengar jawaban dari Lee, kemudian dia bertanya lagi kepada Lee,"Kalau begitu, siapa suami dan anak dari wanita ini? Tidak mungkin dia tidak menikah kan? Aku dan anakku harus meminta maaf ke mereka karena sudah membuat orang yang mereka cintai tiada."
Lee menatap Hizashi dengan sedih, kemudian menjawab dengan prihatin, "Tenten tidak pernah menikah paman. Dia tidak pernah memiliki keluarga selama dia hidup dan besar di panti asuhan, dia bahkan tidak memiliki marga. Selama dia hidup, dia memang dekat sekali dengan Neji. Tetapi setelah Neji meninggal, dia menolak semua pinangan lelaki yang menyukainya, termasuk aku, dan menolak tawaran semua teman-temannya untuk menjodohkannya dengan seorang pria. Aku hanya tahu dia begitu mencintai Neji, tetapi aku tidak menyangka jika hubungan mereka sedalam dan seserius itu sebelum Neji meninggal. Anakmu adalah cinta pertama dan cinta terakhir Tenten seumur hidupnya." Kata Lee dengan memberikan penekanan pada kalimat terakhir.
Hizashi yang shock memandang sedih ke jasad Tenten. Kemudian Hizashi bercerita pada Lee, "Nak, kau tahu? Anakku disana juga sering berwajah murung, walaupun dia senang bertemu denganku dan istriku. Aku pernah menanyakan kepadanya, kenapa dia sering termenung sendiri disana, padahal disana adalah tempat yang sangat indah dan semuanya bisa terkabul disana. Kau tahu apa jawaban Neji? Dia bilang, dia memiliki janji yang sangat penting dengan seorang wanita ketika masih di dunia ini, namun karena kewajibannya sebagai Bunke dari Hyuuga, dia tidak bisa menepati janjinya. Dia benar-benar menyesal dan tidak ingin wanita lain selain wanita itu. Dan itu membuatnya menjadi satu-satunya lajang disana. Dia benar-benar menunggu temanmu, walaupun sempat terbesit kekhawatirannya jika Tenten menikah dengan orang lain di dunia ini, maka dia tidak akan punya kesempatan. Aku sampai bertanya kepadanya, apa yang membuat wanita ini begitu istimewa di hidupnya hingga dia menolak semua bidadari di sana. Dia memberitahuku bahwa hanya gadis ini satu-satunya orang yang memberi perhatian, kenyamanan, kedamaian, keamanan, dan bantuan kapanpun Neji membutuhkannya sepeninggalanku. Dan wanita ini adalah satu-satunya sumber kedamaian, kekuatan, dan ketenangan bagi Neji selama hidupnya. Neji juga sangat mencintai gadis ini dan setia menunggunya, walaupun mereka sudah berbeda alam."
Lee menangis terharu mendengar cerita Hizashi,"Neji, Tenten… Kenapa kisah cinta kalian begitu menyedihkan dan tragis? Kenapa mereka tidak pernah menceritakan hal ini padaku? Padahal aku teman mereka satu tim selama bertahun-tahun."
"Kurasa Neji dan Tenten sengaja merahasiakan hubungan mereka dan baru akan mengumumkannya setelah perang yang dulu selesai. Namun sayang, takdir berkata lain." Kata Hizashi sedih.
Hizashi kemudian mengambil sedikit air ke sungai dekat tempatnya meletakkan tubuh Tenten, lalu Hizashi membersihkan seluruh wajah dan leher Tenten dengan air tersebut sehingga wajah Tenten bersih, namun mata Tenten masih agak sedikit terbuka. Setelah itu Hizashi menutup mata Tenten perlahan dan mencium kening Tenten.
"Terima kasih telah menjaga dan menjadi sumber kebahagiaan bagi Neji selama dia hidup, Tenten. Terima kasih telah menjaga cinta dan kesetiaanmu pada anakku walaupun kalian berbeda dunia. Aku memberikan restuku pada kalian berdua dan menerimamu sebagai menantuku. Tunggulah setelah perang ini selesai, Tenten. Setelah kami kembali kesana, aku akan segera menikahkanmu dengannya, sesuai janjinya padamu dulu. Sekarang beristirahatlah dengan tenang, menantuku." Ucap Hizashi sendu sambil mengusap kepala Tenten. Lee dan Metal begitu terharu mendengarnya.
"Nak," panggil Hizashi ke Metal Lee,"Apakah kau bersedia menjaga jasad bibi Tenten selama perang ini? Disini seharusnya aman, biarkan aku dan ayahmu membantu rekan-rekan kami berperang."
Metal melirik ke arah Lee, yang dibalas dengan anggukan dari Lee.
"Baik paman, aku akan menjaga bibi Tenten. Paman dan ayah, hati-hati ya!" kata Metal Lee riang.
Dan kemudian Lee dan Hizashi kembali ke medan perang.
o0o
Maaf ya, Tenten sengaja kubuat mati, karena cuma ini satu-satunya cara untuk mempersatukan dia dengan Neji. Kalau edo-tensei, efeknya cuma sementara. Sementara kalau rinne-tensei, selisih umur Neji dan Tenten sudah terlalu jauh. Neji masih berumur 18 tahun, sementara Tenten sudah 30 tahun lebih.
Saya membayangkan Neji juga melajang di alam sana dan lebih memilih menunggu Tenten untuk menyusulnya, karena Neji masih memiliki janji dan hutang ke Tenten sebelum dia meninggal. Menurut teman-teman bagaimana? Apakah saat ini Neji masih melajang di alam sana menunggu Tenten?
Silahkan jika ingin berkomentar atau review ya :)
