Tujuh anak kecil dengan wajah serupa satu sama lain berlari bersama-sama di area yang cukup luas. Saat itu hari sangat cerah dan bunga-bunga bermekaran dengan semarak di tempat itu.

Adalah anak-anak dari keluarga Amato yang tengah liburan di Jepang kala itu. Musim semi telah tiba dan bunga-bunga bernuansa pink serta putih mendominasi tempat yang mereka kunjungi.

"Ice? Kau baik-baik saja?" Blaze si kembar nomor empat memperhatikan adiknya dengan raut cemas.

Wajah si kembar nomor lima—Ice, yang pucat dan masih kesulitan mengatur napasnya itu hanya mengangguk pelan. Tak ingin membuat kakaknya khawatir akan kondisi dirinya.

"Padahal sudah kusuruh di rumah saja, kan? Kenapa ngotot ingin ikut?" Gempa si kembar nomor tiga menatap lurus adiknya itu dengan tangan terlipat di depan dada.

Ice terdiam. Memang salahnya memaksakan diri, padahal ia tahu benar bahwa tubuhnya sangat lemah. Bahkan bukan tidak mungkin bila ia bisa ambruk tiba-tiba.

"Aku ingin melihat kembang api nanti malam," jawab Ice tanpa mengubah ekspresi wajah.

Kembar tertua, Halilintar, menghela napas. Hari itu memang akan ada festival kembang api yang diselenggarakan pada pukul 7 malam. Kondisi Ice sangat mengkhawatirkan, dan yang bersangkutan nampak bersikukuh untuk melihat kembang api.

"Kau boleh melihat kembang api," putus Halilintar dengan segera, membuat wajah Ice nampak cerah. "Dengan syarat, kau tak boleh memaksakan diri. Jika kau ambruk sebelum waktu kembang api mulai, aku akan menyeretmu pulang."

Ice menganggukkan kepalanya. Dan malam itu, ia berhasil bertahan tanpa ambruk sehingga bisa menyaksikan kembang api yang meledak warna-warni di langit malam...


Kembang Api, Mimpi, dan Wangi Hujan

BoBoiBoy hanya milik Animonsta, saya hanya membuat fanfic ini tanpa mengambil keuntungan apapun.

note : AU, flashback, no superpower, no alien, elemental siblings, alur melompat-lompat. trigger warning! mengandung kekerasan, emosional content dan kata-kata kasar.


Ice terbangun dan menatap ke sekelilingnya. Tiada yang berubah dari rumah besar ini sejak ia kecil dulu.

Satu-satunya yang berubah mungkin hanya penghuninya tak lagi seramai dulu. Kakak-kakak dan adik-adiknya sudah punya kegiatan masing-masing, sehingga di rumah itu hanya ada ia, kakaknya—Blaze, ayah, dan ibunya.

Dulu sekali... Ice ingat bahwa di rumah itu selalu ada canda tawa, ada kesedihan, dan berbagai emosi yang tercampur aduk. Ice menghela napas.

Rasanya ia merindukan lagi saat-saat itu.

"Ice," panggilan lembut itu membuatnya merandek, membuat si empunya nama segera menoleh ke arah sumber suara. "Bagaimana kondisimu sekarang? Masih pusing?"

Ice menggelengkan kepalanya pelan. Lantas ranumnya meliuk membentuk seulas senyum.

"Tidak apa-apa, Bu. Ice sudah lebih baik," jawab anak laki-laki bermata cyan itu kalem.

Tepukan lembut mampir ke kepala, lantas tangan itu mengusap helaian-helaian cokelat gelap di sana. Tatapan sang ibu nampak meneduh, lembut, dan penuh kasih.

"Jangan memaksakan diri, Ice."

"Ice tidak memaksakan diri, Bu," jeda sejenak sebelum Ice menambahkan. "Ice mau jalan-jalan dulu."

Sepasang tungkai kembar bergerak, tangan terjulur untuk mengambil mantel dan topi. Dipakainya topi berbentuk dino itu dan menutupinya dengan hoodie-nya.


Anak muda itu menebar pandangan ke sekelilingnya. Tidak terlalu ramai, padahal biasanya di jam-jam segini taman dipadati oleh berbagai kalangan.

Ice menghempaskan bokong nya di salah satu bangku. Netranya menatap ke arah langit di atasnya. Indah. Warna biru beralih ke warna senja yang temaram.

Aroma hujan menerpa indera penciumannya. Tahulah dia mengapa taman ini tidak seramai biasanya. Saat ia dibuai mimpi masa lalu, rupanya hujan turun dengan derasnya.

Nyuut!

Kepalanya lagi-lagi terasa sakit. Entah kenapa belakangan ini makin sering terasa.

Tangannya segera merogoh isi kantong mantelnya. Mengeluarkan beberapa butir obat dan ia meminumnya langsung.

Perlahan, rasa sakit itu menghilang. Ice menghela napas. Lantas, ia melangkahkan tungkai kembarnya menuju ke tengah-tengah taman. Beberapa anak-anak nampak asyik dengan kembang api di tangan mereka masing-masing.

Bunga api memercik dari tangkai-tangkai kembang api di tangan anak-anak tersebut. Ice mematung tatkala netranya memandangi bunga api di tangan-tangan mungil itu.

Indah. Rupanya ia bisa mengagumi keindahan bunga api yang bisa dipegang. Tak hanya bunga api di langit.

Sekonyong-konyong ingatannya melayang ke masa kecilnya. Ketika kakak tertuanya mengajaknya melihat kembang api.

"Kamu mau tahu kenapa kembang api itu indah, Ice?"

Ice menggelengkan kepalanya. Halilintar melanjutkan ucapannya.

"Yang membuat kembang api indah adalah ... saat mereka memercik dalam waktu singkat di langit. Lalu menghilang."

"Kejutan singkat kah, maksud Kakak?" tanya Ice.

"Kembang api itu seperti hidup manusia, Ice. Singkat, namun meninggalkan keindahan yang membekas."

"Aku tidak mengerti, Kak."

Tak dinyana, tangan Halilintar terjulur dan menepuk-nepuk pucuk kepala Ice yang kala itu tidak bertopi.

"Kelak, kamu akan mengerti."

Ya, kini Ice mengerti benar maksud dari perkataan Halilintar. Kakak kembarnya selalu mengkhawatirkan kondisinya yang ringkih. Kalau boleh jujur, ia tak pernah ingin bertubuh lemah seperti saat ini.

Ia akan kesulitan untuk sekolah tinggi, atau bahkan bekerja. Ice menghela napas. Semua ini memberatkan dirinya.

Lamunan Ice terdistraksi oleh bunyi ponselnya. Ice mengangkat teleponnya, rupanya itu dari Fang.

"Pesta? Di Pulau Rintis?" tanya Ice saat yang di seberang sana memintanya untuk pulang ke Malaysia. "Oke, aku akan pulang. Terima kasih sudah mengundangku, Fang."


Seharusnya, Fang tidak mengenalkan Ice pada Ying malam itu. Mana ia tahu kalau bakalan begini jadinya.

Ice masuk rumah sakit dan Ying berniat memutuskan hubungan dengan Ice.

"Ying, Ying, coba kalau kamu laki-laki. Enak deh, aku ngegamparnya," ucap Fang dengan sinis. "Buat apa kamu datang ke sini? Mau menyakiti Ice lagi?"

Ying berusaha untuk tidak menangis dan ia pun nampak berang saat mendengar ucapan Fang. Tangannya meraih kerah baju pemuda berkacamata itu dan mencengkeramnya kuat.

"Coba sini gampar! Ayo, gampar aku kalau bisa!"

"Berhenti kalian berdua! Ini di rumah sakit!" Kaizo menghentikan Fang dan Ying yang tengah bertengkar. "Lebih baik kalian berdoa untuk kesembuhan Ice!"

Ying melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Fang dan duduk di lantai. Karena ruang operasi tidak menyediakan bangku untuk menunggu di luar ruangan.

Ying, Fang, dan Kaizo berdoa menurut kepercayaan mereka. Kala itu, waktu berjalan teramat lambat. Ying sedikit frustrasi karena belum ada kabar dari dokter yang menangani Ice.

Seorang dokter keluar dari ruangan operasi dan membuka maskernya. Ying segera menghambur ke arah dokter tersebut dan menanyakan kondisi Ice.

"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin ..."

Ying segera menarik pakaian depan sang dokter. "Maksud Dokter apa? Jangan-jangan—"

"Kondisi BoBoiBoy Ice bin Amato saat ini—"


Ying mendorong tubuh yang main di ayunan itu dengan wajah ditekuk. Entah marah atau merasa dipermalukan jadi satu.

"Seharusnya doktermu tidak berkata begitu padaku!" cetus Ying dengan wajah sebal.

Ice tertawa pelan. "Mana kutahu? Aku juga tidak mengira kalau operasinya berhasil."

"Iya, sih," Ying menghela napas. "Aku awalnya ingin memutuskanmu, Ice."

Ice menoleh ke arah Ying dan menunggu kalimat selanjutnya. Ying mendorong lagi tubuh lemahnya Ice agar tetap berayun.

"Namun, aku memilih untuk tetap bersamamu."

"Kenapa?"

"Tidak tahu," Ying menggelengkan kepalanya. "Aku hanya merasa, dekat denganmu membuatku lebih nyaman."

"Padahal aku kan penyakitan. Tidak apa kah?" tanya Ice dengan lugas.

"Jangan bilang begitu! Aku yakin kamu bisa sembuh!"

Ice tertawa. "Aku bersyukur karena sudah melewati masa krisis, Ying," ada jeda tercipta sebelum Ice melanjutkan kalimatnya. "Kau tidak ingin mencari laki-laki yang lebih baik dariku?"

Di luar dugaan, Ying menggelengkan kepalanya.

"Kau saja cukup untukku, Ice. Aku tak mau yang lain."

katanya, akan ada pelangi sehabis hujan. mungkin ini yang dirasakan oleh Ying dan Ice. aroma hujan yang selalu menempel pada pemuda berasmakan Ice itu kini telah memberi pelangi pada hidup Ying yang monokrom. Ying pun tak akan semena-mena lagi pada orang lain. artinya, Ice secara tidak langsung sudah mengubah Ying menjadi lebih baik.

—end