"Kau sangat suka menghabiskan waktu di dekat pohon apel itu ya, Karius-san."
Karius-sosok berambut putih yang dimaksud menertawakan basa-basi itu. Dia mengambil alat penyiram di dekat kakinya dan menyirami pohon apel di depannya sekali lagi.
"Tentu saja. Ini peninggalan terakhir adikku," katanya. "Bagaimanapun juga, ini adalah simbol pengampunan kami terhadap umat manusia."
"Kau benar. Kami pun harus berterima kasih atas kemurahan hati Knives."
Karius tersenyum mendengar jawaban itu. Namun suara truk yang berhenti di depan gedung mengalihkan perhatian mereka. Karius segera meletakkan alat penyiram di tangannya untuk masuk ke dalam rumah. Dia langsung menuju ke kamar tempat Vash dirawat selama ini untuk mengepak barang-barangnya. Pria itu sedang tertidur di atas ranjangnya ketika Karius masuk dan langsung terbangun setelah mendengar suara resleting tas ditarik.
"Aku membangunkanmu?" tanya Karius sambil menyelempang ranselnya. Tangannya mengelus-elus rambut Vash saat pria itu menggelengkan kepalanya perlahan.
"Aku sudah bangun saat trukmu tiba."
Karius tersenyum. "Begitu rupanya."
"Kau akan pergi sekarang?"
"Ya, aku harus pergi. Ada beberapa hal yang harus diselesaikan, mungkin butuh beberapa minggu jika dihitung dengan durasi perjalanan."
"Beberapa minggu? Itu waktu yang cukup baginya untuk memulihkan diri sebelum kau benar-benar bisa membawanya pulang," tambah ayah Carlito yang berdiri di ambang pintu.
"Tentu saja. Aku sudah memperhitungkan semuanya sebelum menghubungi orang-orang di rumah," Karius melanjutkan sejenak sebelum beralih ke Vash. Puas dengan menyeka rambut hitamnya, dia membungkuk untuk mendaratkan ciuman di keningnya. "Jaga dirimu baik-baik. Aku akan segera kembali untuk menjemputmu."
"Baiklah." Vash tersenyum lebar. Saat hendak bangun dari tempat tidur, Karius langsung membantunya dan menyiapkan bantal untuk bersandar. "Jangan lupa. Jaga dirimu juga, kakak."
"Tentu. Aku pergi sekarang. Sampai ketemu bulan depan, sayangku."
Karius pergi dengan ransel dan koper besarnya. Meninggalkan Vash yang masih melambai lemas untuknya. Ayah Carlito menyusulnya kemudian untuk mengantar kepergiannya. Vash bersandar di bantal, masih melihat ke ambang pintu dimana sosok Karius melenggang pergi beberapa saat yang lalu. Dia menyentuh keningnya sendiri dengan hati-hati. Kelembutan bibir Karius saat menciumnya masih terasa. Dalam satu setengah abad hidupnya, Vash tidak pernah menyangka bahwa ada seseorang yang mencintainya apa adanya selain Rem.
Karius memberinya semua perhatian dan kasih sayang selama beberapa bulan terakhir ini. Sesuatu yang dia dan Knives tidak pernah rasakan lagi sejak Big Fall. Dia tidak akan lupa saat Karius menangis sambil memeluk Knives setelah menjitak kepalanya dan memarahinya habis-habisan. Dia mungkin marah dengan kelakuan Knives, tapi dia tidak bisa membencinya. Dia mencintai kedua adiknya melebihi dirinya sendiri.
Suara mesin truk yang dihidupkan terdengar sampai ke kamar Vash. Dia bisa mendengar Karius naik ke truknya dan menutup pintu. Juga obrolan kecilnya dengan ayah Carlito sebelum truk itu bergerak menjauh. Selama berada di sini, Karius membantu memastikan bahwa persediaan makanan tetap aman dan terkendali. Itu adalah bentuk rasa terima kasihnya kepada Carlito dan ayahnya karena telah bersedia menolong Vash meski dengan harga di kepalanya.
"Aku benar-benar tidak tahu, bahkan seseorang seperti Vash The Stampede memiliki kakak perempuan yang sangat baik seperti Karius-san," kata ayah Carlito. Dia sedang menyiapkan makan malam saat Vash dan Carlito duduk menunggu di meja makan.
Vash tertawa sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Ah, aku juga tidak tahu sampai kami bertemu beberapa bulan yang lalu."
"Hah? Sepertinya perkenalan kalian cukup singkat untuk ukuran kakak-beradik yang baru bertemu setelah puluhan tahun." Ayah Carlito membalik telur dadar di wajan dengan satu ayunan. "Ditambah lagi, jika kita melihat bagaimana Knives memperlakukanmu selama ini, dia justru memperlakukanmu dengan sangat baik. Tampaknya pernyataan bahwa dia sangat menyayangi kalian berdua bukanlah omong kosong."
Vash tersenyum mendengar kata-kata itu. "Kami mungkin baru saja bertemu, tapi dia seperti sudah mempersiapkan semuanya."
"Termasuk 'rumah' yang dia bangun untukmu. Dia benar-benar melakukan segalanya untuk adik-adiknya. Dan kota March, kupikir itu hanya dongeng. Tidak mungkin ada kota yang lebih makmur dari bulan July di planet ini."
Semua orang terdiam. Hanya suara Carlito yang mengunyah apel yang Vash potong sebagai camilan. Suasana rumah menjadi lebih sepi karena ada satu orang yang berkurang. Biasanya jika bukan Karius yang menyiapkan makanan, maka dia akan mengajari Carlito beberapa pengetahuan dasar untuk anak-anak seusianya. Melihat itu, Vash menganggap keberadaan Karius sendiri adalah sebuah keajaiban. Terus terang ia merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengannya. Dia seperti malaikat yang dikirim oleh Rem untuk menengahi perseteruannya dengan Knives.
Setidaknya itu menurut Vash. Itu lebih dari cukup setelah semua penderitaan dan rasa sakit yang dia terima selama seratus lima puluh tahun hidupnya. Berlawanan dengan apa yang dipikirkan Karius saat ini. Wanita itu tenggelam dalam pikirannya di samping sopirnya. Baginya, semua itu tidak cukup. Dia gagal mencapai tujuannya sepenuhnya.
"Ini belum cukup," gumamnya. Edward, yang mengemudi di sampingnya, terkejut mendengar tuannya tiba-tiba berbicara setelah lama terdiam.
"B-belum cukup?" tanya pemuda itu khawatir. "Apanya yang belum cukup, Karius-sama?"
"Aku gagal menyelamatkan Knives. Dan sekarang rambut Vash telah menghitam sepenuhnya," jawab Karius datar. "Aku gagal menyelamatkan mereka, Edward."
Edward berpikir sejenak. "Tapi Anda berhasil membuat Knives-sama menikmati sisa hidupnya meskipun itu cukup singkat, Karius-sama. Dan Vash-sama, Anda selalu punya kesempatan untuk membahagiakan beliau sepanjang sisa hidupnya."
Karius tidak menjawab lagi. Dia hanya menatap kosong ke luar jendela. Padahal taburan bintang di langit malam ini begitu indah. Tapi Karius melihatnya dengan air mata membanjiri di wajahnya. Edward tidak punya pilihan selain mendiamkannya. Dengan situasi Karius sekarang, tidak ada yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki keadaan.
"Seharusnya aku mengejar mereka lebih awal. Kalau saja Tuhan memberiku kesempatan kedua. Aku akan mengerahkan segalanya untuk mendapatkannya."
"Aku akan membawa mereka berdua pulang meski akulah yang akan segera mati."
