"Apa aku berhak tinggal di sana?" tanya Vash tiba-tiba. Dia sedang menghabiskan sore bersama Karius di kamarnya sementara wanita itu mengupas beberapa apel untuknya. "Eden yang kau maksud, di mana plant dan manusia hidup berdampingan dengan bahagia. Apa aku benar-benar pantas untuk hidup seperti itu?"
Karius menghela napas berat mendengar pertanyaan menyebalkan itu. "Dengar, kau bukan orang yang menghancurkan dunia atas keinginanmu sendiri. Kau tidak pernah bersalah sejak awal." Dia meletakkan pisau dan piring berisi apel di pangkuannya ke atas meja. Vash hanya menatapnya dalam diam saat Karius meraih tangan kanannya dan menggenggamnya dengan lembut, menatap mata Vash dengan mata merah jambunya yang menyala.
"Semuanya sudah usai sekarang. Bukannya kita sudah membuat perjanjian sebelumnya? Segera setelah semuanya berakhir, kau akan menjalani kehidupan yang penuh dengan cinta dan perdamaian seperti yang selalu kau inginkan. Kau akan ikut denganku untuk menghabiskan sisa hidupmu disana. Di kota March yang aku bangun selama lebih dari satu abad lamanya, hanya untukmu dan Knives semata."
Tepat lima puluh tahun sejak hari itu, di siang yang cerah di kota March, tepatnya di ruang kerja Count, Karius berdiri di depan jendela untuk menonton kegiatan penduduk kota. Mereka terlihat bahagia dan ceria, tapi tidak dengan Karius. Alis hitamnya berkerut dalam, mata merah jambunya berkaca-kaca dan giginya bergemeletuk saling beradu. Salah satu taringnya menggigit sudut bibirnya hingga berdarah, tapi dia tidak peduli.
Seorang pelayan wanita memasuki ruang kerja itu tak lama setelahnya. Wanita cantik tersebut baru saja akan mengatakan sesuatu saat dia tidak sengaja melihat buku-buku jari tuannya yang tampak memutih. Sepertinya perasaan Karius sedang dalam kondisi yang tidak bagus. Lagi-lagi. Mereka tidak tau sudah berapa minggu hal ini terus berlangsung, dan tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghentikannya. Sang Count sedang berada di puncak keputus-asaan.
"Apa yang ingin kau katakan, Alice?" Suara sang Count yang berat dan dalam memecah keheningan ruangan itu. Saat dia menoleh untuk menatap pelayannya, Alice bisa melihat kebencian di wajah lelah tuannya itu. Ya, wajah Karius selalu terlihat lelah sepanjang waktu, tapi kali ini terlihat lebih mengerikan.
Pelayan itu terbata-bata. "Sa-saya hanya ingin menyampaikan kepada Anda bahwa sekarang adalah waktunya makan siang, Tuanku."
Karius hanya menghela napas lalu memalingkan wajahnya ke arah dia memandang sebelumnya. Orang-orang di luar tampaknya mulai menjeda pekerjaan mereka untuk istirahat makan siang. Kerutan di antara kedua alisnya tidak kunjung menghilang saat dia kembali memandang Alice.
"Kau tidak perlu repot-repot melakukannya. Kau tau sendiri kan? Aku tidak butuh makan," ujarnya dingin.
"Tapi ini pesan dari Tuan Muda, Tuanku. Beliau sangat khawatir karena belum pernah melihat Anda makan selama beberapa hari terakhir," jawab Alice sesopan mungkin.
Kerutan alis Karius semakin dalam. Tapi itu tidak berlangsung lama. Dia menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya pelan-pelan, berusaha untuk terlihat lebih waras sambil merapikan kerah kemejanya. Alice menatap tuannya dengan khawatir, tapi Karius mengabaikannya. Dia melangkah meninggalkan ruang kerja bersama Alice yang mengikutinya dari belakang.
Seperti biasa, kamar tidur seluas lima belas meter persegi itu terasa sangat sepi meski ada Karius dan seseorang lagi di dalamnya. Wanita itu sudah duduk disana selama hampir satu jam tanpa melakukan apapun selain memandang ke arah seseorang yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Ketika Karius meraih tangan kanannya yang dipenuhi bekas luka, pria itu pun membuka mata dan menoleh padanya. Senyuman yang indah segera menghiasi wajah pucatnya begitu menyadari bahwa seseorang yang berada di sisinya saat ini adalah Karius.
"Kau rupanya, Kakak," gumam pria itu lirih.
Karius mengangguk. "Ya, sepertinya aku membangunkanmu," ucapnya lembut. "Tidurlah lagi. Jarang sekali kau mendapatkan kesempatan untuk beristirahat seperti ini, Vash."
Vash tersenyum sambil menggeleng samar. Dia balas menggenggam tangan Karius. Tapi sayang, raut terluka di wajah wanita itu tidak kunjung pudar. Saat tangan palsu Vash bergerak meraih wajahnya dan menyeka pipinya, Karius tersenyum sebelum dia beranjak untuk memeluknya.
Vash membalas pelukan itu dan mengelus rambut putih Karius sesekali. "Ada masalah dengan pekerjaan?" tanya Vash.
Karius menggeleng tanpa melepaskan pelukannya. "Aku hanya merasa sangat lelah belakangan ini," jawabnya.
"Sungguh? Itu saja?"
"Ya, itu saja," lanjut Karius seraya melepaskan Vash dari pelukannya. "Sepertinya aku terlalu fokus bekerja selama beberapa hari terakhir ini."
Vash tertawa pelan melihat Karius sedang mengucek matanya. "Jangan begitu. Jangan terlalu serius dengan pekerjaan sampai lupa dengan diri sendiri," omelnya seperti nenek-nenek.
"Aku tidak ingin mendengarnya darimu, Vash. Kau sedang tidak dalam posisi untuk menasehatiku seperti itu," balas Karius. Dan sekali lagi Vash tertawa mendengarnya.
"Aku minta maaf soal itu," ujarnya. "Sungguh, aku tidak bermaksud mengguruimu, kak."
Akhirnya Karius tersenyum juga. Setidaknya dengan melihat Vash tertawa kecil seperti itu mampu meringankan beban di hatinya. Tapi dia tau persis jika hal itu tidak akan berlangsung lama. Pada satu titik, Vash akan menjerit kesakitan dan mendadak kejang. Itu adalah saat-saat terburuk dalam hidup Karius. Transfer energi yang dia lakukan untuk menjaga Vash agar tetap hidup tampaknya justru menyiksa pria itu. Dan tidak ada yang tau sampai kapan dia akan menyiksa adiknya tercinta demi kebaikan perasaannya sendiri.
"Vash..." ucap Karius kemudian. Suasana yang tadinya mulai terasa agak ceria tiba-tiba jatuh dan menjadi suram seperti sebelumnya. Kelelahan di wajah Vash akhirnya terlihat jelas, tidak jauh berbeda dengan Karius.
"Apa kau masih ingat dengan pembicaraan kita beberapa dekade yang lalu? Saat kita baru saling mengenal selama beberapa minggu?" mulai Karius. "Saat kau bilang kalau uang tidak bisa membeli segalanya termasuk kebahagiaan?"
Vash tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Ya, aku ingat," jawabnya. "Uang mungkin bisa membeli kebahagiaan, tapi tidak semua bentuk kebahagiaan dapat dibeli."
Karius tersenyum mendengar jawaban itu. "Kau benar. Kurasa aku sedang berada dalam situasi itu sekarang."
"Kakak...?"
"Aku telah melakukan semua yang kubisa, tapi hasil sama saja. Sepertinya aku pun sudah sampai pada batasku. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk membuatmu merasa lebih baik. Kondisimu terus memburuk dari hari ke hari. Tidak peduli seberapa banyak energi yang kami berikan padamu. Seakan-akan tubuhmu sendirilah yang secara tidak sadar menolak semua itu."
"Apa Bunda sudah pulang?" tanya seorang pemuda berambut pirang yang baru saja menutup sampul sebuah buku di atas meja belajarnya.
"Benar, Tuan Muda. Count baru saja kembali dari luar kota," jawab seorang pelayan wanita bernama Lisbeth. "Apa Anda ingin bertemu dengan beliau?"
"Ya, ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya."
