Karius agak terkejut ketika Lisbeth dan Edward meletakkan beberapa buku tebal di atas meja tamu kamar tidurnya setelah menyingkirkan semua botol bir yang memenuhi meja. Seorang pemuda pirang berdiri di belakang mereka dan langsung menduduki salah satu sofa begitu Elias mempersilahkannya untuk duduk.

"Tidak biasanya kau mencariku begini, Nicholas. Ada sesuatu yang kau inginkan?" tanya Karius sambil memakai vest yang dipakaikan oleh Alice padanya.

"Aku ingin keluar dari Dinding untuk berpetualang mengelilingi No Man's Land," jawab pemuda bernama Nicholas itu singkat, padat dan jelas.

Karius tersenyum bingung mendengar permintaan mendadak itu. Alice tampak masih ingin memasang sebuah jas padanya ketika Karius memberi gestur untuk menunda kegiatan itu. Dia mengambil tempat pada salah satu sofa tunggal tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Nicholas. Pemuda itu memiliki rambut pirang yang sama dengan Vash, namun matanya sama birunya dengan milik Knives. Dan Vash menamainya Nicholas karena dia terlihat sangat mirip dengan Wolfwood.

"Kau yakin? Sebagian yang ada di dalam buku mungkin sudah berbeda dengan keadaan saat ini," Karius meyakinkan keponakannya sekali lagi. "Sudah lebih dari tiga puluh tahun sejak pamanmu menyelesaikan buku-buku itu. Jadi kau harus memikirkannya baik-baik."

"Aku tidak akan meminta jika tidak mempertimbangkannya," jawab Nicholas tegas.

Karius mengangguk mengerti. Dia kemudian melambai pada Elias tanpa memandangnya. Pria tua itu segera mengambil sebotol bir dan sebuah gelas lalu meletakkannya di depan Karius. Sebelum dia sempat mengambil kembali botol bir tersebut untuk membukanya, Karius lebih cepat darinya dan langsung membuka tutupnya.

Edward dan kedua pelayan yang melihatnya hanya bisa melongo melihat Karius meneguk bir tersebut langsung dari botolnya. Nicholas hanya menghela napas sambil memijit batang hidungnya. Sementara di belakang Karius, Alice masih dengan tampang datarnya. Tampaknya dia sudah lelah dengan semua kelakuan Karius selama sepuluh tahun terakhir.

"Paman Vash pasti sedang menangis melihat keadaan Bunda dari atas sana sekarang," kata Nicholas sambil menyandarkan punggungnya di sofa. "Apalagi Paman Knives."

"Dia pasti akan mengomel habis-habisan."

Karius tertawa saat dia meletakkan botol bir di atas meja setelah menghabiskan lebih dari setengah isinya. "Jadi, apa kau sudah membuat perencanaan untuk petualanganmu? Apa yang menjadi tujuanmu?"

Nicholas tidak segera menjawab pertanyaan bibinya itu. Dia mengambil botol bir yang diminum Karius sebelumnya bersama dengan gelasnya. Dia tuang segelas untuk dirinya sendiri dan meminumnya hingga tandas. Karius tidak lagi memprotes tindakan Nicholas sejak pemuda itu telah mencapai kedewasaannya sebagai seorang independen. Sudah lebih dari sepuluh tahun sejak kematian Vash. Seharusnya itu waktu yang cukup untuknya.

"Aku hanya ingin melihat dunia yang dilindungi Paman Vash dari Paman Knives dengan nyawanya. Aku ingin tau bagaimana rasanya hidup sebagai manusia di antara manusia-manusia itu sendiri. Aku ingin melihat seberapa pantas mereka untuk berada di pihak Paman Vash," jawab Nicholas akhirnya.

"Pffftt..."

Karius kembali tertawa mendengar jawaban itu. Nicholas menuang bir ke dalam sebuah gelas lain yang baru saja diberikan Elias sebelum menuang untuk dirinya sendiri. Tanpa disadari pemuda itu, Edward dan ketiga pelayan di dalam kamar itu tersenyum mendengar jawaban yang baru saja dia paparkan.

"Sepertinya aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri sampai tidak menyadari bahwa putra kami telah tumbuh dewasa," kata Karius dengan senyuman tipis di wajah saat dia akan meneguk bir yang dituangkan Nicholas untuknya.

"Apa itu artinya aku mendapat persetujuan dari Bunda?"

"Tentu saja. Kita harus membicarakan persiapan untuk petualanganmu mulai dari sekarang. Tapi sebelum itu, aku punya tiga persyaratan."

"Persyaratan?" Nicholas menaikkan sebelah alisnya. "Apa saja persyaratannya?"

Karius mengangkat telunjuk kanannya. "Pertama, kau harus rajin mengirim kabar," katanya. "Lalu yang kedua, jika aku menyuruhmu pulang atau berkunjung, maka pulanglah."

Nicholas mengangguk mengerti. "Baik. Lalu yang ketiga?"

"Ketiga, berusahalah untuk tidak membunuh dan dibunuh."


Beberapa tahun setelah hari itu, Karius yang sedang beristirahat di sela-sela lemburnya membaca beberapa halaman surat yang dibawakan oleh Elias sore ini. Itu adalah surat yang dikirim oleh Nicholas untuk bulan ini. Sepertinya kali ini dia bercerita tentang pertemuannya dengan pasukan Project Peace dari Bumi dan perkenalannya dengan Chronica.

Karius terus tersenyum saat melihat semua kiriman keponakannya, termasuk beberapa foto dan souvenir teh hijau dari Chronica. Wanita itu datang mengunjungi March setelah mendengar kabar bahwa Vash memutuskan untuk ikut dengan Karius dan tinggal bersamanya. Meski pada awalnya mereka sempat berselisih paham, pada akhirnya keduanya menjalin persahabatan yang sangat manis.

Chronica menjadi lebih sering mengunjungi March setiap kali dia punya waktu luang. Karena March adalah salah satu kota paling alami di planet ini, dia menjadikannya tempat liburan di balik alasannya untuk mengunjungi teman lama. Bahkan pada hari pemakaman Vash, dia datang bersama para bawahannya untuk mengucapkan selamat tinggal padanya.

"Aku hampir lupa, Bunda. Chronica-san mengirim salam untukmu. Dia akan mengunjungimu dan Paman Vash kalau ada waktu luang," kata Nicholas dalam suratnya.

Karius mengembalikan surat itu dan melepas kacamatanya. Saat itu sangat larut dan sekarang dia merasa sangat mengantuk setelah beberapa hari kurang tidur. Pekerjaan menjadi semakin banyak sejak dua tahun terakhir. Sepertinya dia harus menyuruh Nicholas pulang dan membantunya sampai situasi kembali stabil.

"Anda harus beristirahat, Tuanku. Pekerjaan Anda masih bisa dilanjutkan besok," kata Elias sambil menuangkan teh panas ke dalam cangkir di atas meja tamu. "Nah, minumlah teh hijau ini dulu. Saya juga membawakan kue untuk Anda."

"Apa itu teh hijau yang dikirimkan Chronica?" tanya Karius, memutar kursinya ke samping. "Baunya sangat enak."

"Benar, Tuanku. Saya pikir sebaiknya menghidangkannya selagi masih segar."

"Terima kasih, Elias. Seperti biasa, kamu selalu sangat membantu di saat-saat seperti ini."

"Jangan bilang begitu, Tuanku. Sudah menjadi tugasku untuk melayanimu dengan sepenuh hati."

Karius tertawa mendengar kata-kata Elias. Dia berdiri dari kursinya, hendak menuju meja tamu untuk ngeteh bersama Elias. Tapi begitu dia melewati meja kerjanya, Karius tiba-tiba merasa tidak enak badan. Kejadian itu berlangsung begitu cepat, saat pandangan Karius yang tiba-tiba kabur bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk ke lantai. Dia masih sempat melihat Elias bereaksi panik dan bergegas menghampirinya. Tapi tepat sebelum tangan Elias dapat meraihnya, pandangan Karius sepenuhnya menghitam dan kesadarannya benar-benar menghilang.

"Tidak! Kumohon buka matamu! Karius-sama!!!!"