"Tidak! Kumohon buka matamu! Karius-sama!!!!"

Dalam waktu yang sangat singkat, Karius merasa seperti jatuh ke dalam jurang kegelapan yang tak berdasar. Dia terus melesat ke bawah tanpa menyadari bahwa situasi telah berubah. Sebuah cahaya muncul di bawahnya, semakin terang dan besar.

Saat Karius semakin dekat ke sumber cahaya, dia dapat dengan jelas melihat bahwa itu adalah celah yang mengarah ke ruang lain yang dipenuhi cahaya berwarna putih. Dan begitu dia melewatinya, Karius segera terbangun di dunia lagi. Seperti terbangun dari pingsan, tetapi dalam situasi yang tidak biasa.

Karius terbangun di meja makan. Para pelayan sibuk menata piring dan peralatan makan di depannya. Dan saat ia menoleh ke arah jendela besar di sebelah kanannya, langit tampak biru dengan suhu udara yang cukup sejuk. Sudah pagi? Apa dia berjalan-jalan dalam keadaan linglung setelah pingsan tadi malam?

"Karius-sama," kata Elias dari sisi lain. Karius agak terkejut mendengarnya dan segera menoleh untuk menjawab. "Ini kopi susu Anda, Tuanku."

"Terima kasih, Eli-" Kata-kata Karius terpotong saat dia menyadari bahwa Elias yang sedang menuangkan susu ke dalam cangkir kopinya sangat berbeda dengan yang dia temui terakhir kali. Kepala pelayan terbaiknya itu terlihat 50 tahun lebih muda dari yang seharusnya.

"Eh, Tuanku?" kata Elias bingung. "Kenapa Anda menatapku seperti itu?"

Karius bahkan lebih bingung lagi. Dia menggosok matanya dan menatap Elias lagi. Tapi dia masih terlihat muda seperti sebelumnya. Tidak peduli berapa kali dia melakukannya, Elias masih belum kembali ke penampilan aslinya.

"Apakah aku sedang bermimpi?" pikir Karius. Tidak lama kemudian seorang pelayan membawakannya koran pagi ini di atas nampan.

"Koran pagi ini, Tuanku," kata pelayan itu sambil menyodorkan nampan di tangannya dengan sopan.

Karius menyambar koran itu tanpa pikir panjang dan langsung melihat tanggal yang tercetak di atasnya. Bagaikan disambar petir, Karius kaget setelah melihat tanggal yang dicarinya. Jangankan lima puluh tahun, ini adalah tahun di mana kota July menemui kehancurannya. Dia sangat terkejut hingga tanpa sadar membelah koran itu menjadi dua dengan sekali tarikan kedua tangannya. Matanya membelalak tak percaya dan pemandangan itu membuat semua orang di ruangan panik melihatnya.

Dan sebelum mereka menyadarinya, Karius tiba-tiba jatuh dari kursinya dan seketika tidak sadarkan diri. Hidungnya mimisan dan mulutnya berbusa. Elias dan semua pelayan di ruang makan panik bukan kepalang. Bahkan ada yang menangis histeris karena khawatir.

Karius baru bangun esok pagi. Setelah mengalami mimpi aneh di mana dia bertemu dengan seorang gadis berambut pirang, dia ditarik kembali ke dunia nyata demgan kasar dan terbangun di kamarnya. Seperti biasa, hanya Elias yang selalu menemaninya. Dan tentu saja, dia masih dalam kondisi terbaiknya. Saat itulah Karius menyadari bahwa dia tidak sedang bermimpi. Dia benar-benar kembali ke masa lalu.

"Selamat pagi, Tuanku," kata Elias ramah. "Bagaimana perasaanmu? Apakah ada yang sakit?"

Karius berpikir sejenak. "Sekujur tubuhku terasa sakit," jawabnya. "Apa yang terjadi padaku?"

Elias tampak cukup terkejut mendengar jawaban itu. Tapi untungnya dia bisa mengontrol ekspresinya dengan baik. "Anda tidak ingat?" Dia bertanya.

Karius menggelengkan kepalanya sebagai tanggapan.

"Begitu rupanya. Anda sudah dalam keadaan yang mengerikan saat Edward-sama membawa Anda pulang," jelas Elias. "Katanya Anda terluka parah saat mencoba menyelamatkan kota kecil tempat Anda berada dari bawahan Tuan Muda Knives."

"Maksudmu, Gung-Ho-Guns?"

"Benar, Tuanku. Kalau tidak salah, namanya Helio the Flame."

"Helio? The Flame?" Karius mengerutkan alisnya. "Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya."

Elias berhenti sejenak, wajah tampannya tampak sangat bingung. "Tuanku, apa Anda memukul kepala Anda? Bukannya Anda mengetahui semua anggota Gung-Ho-Guns, bahkan Elendira The Crimson Nail? Entah bagaimana Anda bisa mengetahui begitu banyak fakta dan rahasia yang dimiliki Tuan Muda Knives. Tapi bagaimana dengan Helio?" cerocos Elias tak percaya.

Karius yang terlihat merasakan nyeri di kepala memijit pangkal hidungnya. "Aku juga tidak mengerti, Elias. Seharusnya tidak ada seseorang bernama Helio di antara mereka-!" perkataan Karius terpotong karena rasa sakit yang menusuk kepalanya.

Untungnya rasa sakit itu hanya kebetulan yang lewat dan memuncak selama beberapa saat. Elias belum sempat menyuruh seorang pelayan untuk mengambil obat penenang karena Karius segera mendapatkan kembali ketenangan dan stabilitasnya. Setelah beberapa saat yang lalu terlihat sangat kesakitan, sekarang dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.

Karius memang kembali ke masa lalu, tapi itu tidak terjadi begitu saja. Harus ada harga yang dibayar untuk itu. Dan mungkin erat hubungannya dengan Helio. Sepertinya rasa sakit barusan membuatnya mengingat apa yang telah terjadi. Pertarungan itu tidak pernah ada di kehidupan sebelumnya, termasuk Gung-Ho-Guns bernama Helio The Flame. Tapi kali ini, semuanya tampak begitu jelas. Tampaknya Helio akan menjadi musuh yang sama menyebalkannya dengan Legato dan Elendira.

"Aku ingat sekarang," kata Karius kemudian. "Alasan kenapa Helio The Flame bisa ada di sana."

"Apa? Apa maksud Anda?"

"Knives pasti pernah mendengar tentang Saberthrone, itu sebabnya dia mengirim Helio The Flame ke kota itu."

Elias yang mengerti maksud Karius langsung memelototi tuannya. "Mungkinkah Tuan Muda Knives...!"

"Knives ingin merekrut Saberthrone untuk "Tidak! Kumohon buka matamu! Karius-sama!!!!"

Dalam waktu yang sangat singkat, Karius merasa seperti jatuh ke dalam jurang kegelapan yang tak berdasar. Dia terus melesat ke bawah tanpa menyadari bahwa situasi telah berubah. Sebuah cahaya muncul di bawahnya, semakin terang dan besar.

Saat Karius semakin dekat ke sumber cahaya itu, dia dapat dengan jelas melihat bahwa itu adalah celah yang mengarah ke ruang lain yang dipenuhi cahaya berwarna putih. Dan begitu dia melewatinya, Karius segera terbangun di dunia lagi. Seperti terbangun dari pingsan, tetapi dalam situasi yang tidak biasa.

Karius terbangun di meja makan. Para pelayan sibuk menata piring dan peralatan makan di depannya. Dan saat ia menoleh ke arah jendela besar di sebelah kanannya, langit tampak biru dengan suhu udara yang cukup sejuk. Sudah pagi? Apa dia berjalan-jalan dalam keadaan linglung setelah pingsan tadi malam?

"Karius-sama," kata Elias dari sisi lain. Karius agak terkejut mendengarnya dan segera menoleh untuk menjawab. "Ini kopi susu Anda, Tuanku."

"Terima kasih, Eli-" Kata-kata Karius terpotong saat dia menyadari bahwa Elias yang sedang menuangkan susu ke dalam cangkir kopinya sangat berbeda dengan yang dia temui terakhir kali. Kepala pelayan terbaiknya itu terlihat 50 tahun lebih muda dari yang seharusnya.

"Eh, Tuanku?" kata Elias bingung. "Kenapa Anda menatapku seperti itu?"

Karius bahkan lebih bingung lagi. Dia menggosok matanya dan menatap Elias lagi. Tapi dia masih terlihat muda seperti sebelumnya. Tidak peduli berapa kali dia melakukannya, Elias masih belum kembali ke penampilan aslinya.

"Apakah aku sedang bermimpi?" pikir Karius. Tidak lama sebelum seorang pelayan membawakannya koran pagi ini di atas nampan.

"Berita pagi ini, Tuanku," kata pelayan itu sambil menyodorkan nampan di tangannya dengan sopan.

Karius menyambar koran itu tanpa pikir panjang dan langsung melihat tanggal yang tercetak di atasnya. Bagaikan disambar petir, Karius kaget setengah mati setelah melihat tanggal yang dicarinya. Jangankan lima puluh tahun, ini adalah tahun di mana kota July menemui kehancurannya. Dia sangat terkejut hingga tanpa sadar membelah koran itu menjadi dua dengan sekali tarikan kedua tangannya. Matanya membelalak tak percaya dan pemandangan itu membuat semua orang di ruangan ketakutan melihatnya.

Dan sebelum mereka menyadarinya, Karius tiba-tiba jatuh dari kursinya dan seketika tidak sadarkan diri. Hidungnya mimisan dan mulutnya berbusa. Elias dan semua pelayan di ruang makan panik bukan kepalang. Bahkan ada yang menangis histeris karena khawatir.

Karius baru bangun esok pagi. Setelah mengalami mimpi aneh di mana dia bertemu dengan seorang gadis berambut pirang, dia ditarik kembali ke dunia nyata dengan kasar dan terbangun di kamarnya. Seperti biasa, hanya Elias yang selalu menemaninya. Dan tentu saja, dia masih dalam kondisi terbaiknya. Saat itulah Karius menyadari bahwa dia tidak sedang bermimpi. Dia benar-benar kembali ke masa lalu.

"Selamat pagi, Tuanku," kata Elias ramah. "Bagaimana perasaan Anda? Apakah ada yang sakit?"

Karius berpikir sejenak. "Sekujur tubuhku terasa sakit," jawabnya. "Apa yang terjadi padaku?"

Elias tampak cukup terkejut mendengar jawaban itu. Tapi untungnya dia bisa mengontrol ekspresinya dengan baik. "Anda tidak ingat?" Dia bertanya.

Karius menggelengkan kepalanya sebagai tanggapan.

"Begitu rupanya. Anda sudah dalam keadaan yang mengerikan saat Edward-sama membawa Anda pulang," jelas Elias. "Katanya Anda terluka parah saat mencoba menyelamatkan kota kecil tempat Anda berada dari bawahan Tuan Muda Knives."

"Maksudmu, Gung-Ho-Guns?"

"Benar, Tuanku. Kalau tidak salah, namanya Helio the Flame."

"Helio? The Flame?" Karius mengerutkan alisnya. "Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya."

Elias berhenti sejenak, wajah tampannya tampak sangat bingung. "Tuanku, apa Anda memukul kepala Anda? Bukannya Anda mengetahui semua anggota Gung-Ho-Guns, bahkan sampai Elendira The Crimson Nail? Entah bagaimana Anda bisa mengetahui begitu banyak fakta dan rahasia yang dimiliki Tuan Muda Knives. Tapi bagaimana dengan Helio?" cerocos Elias tak percaya.

Karius yang terlihat merasakan nyeri di kepala memijit pangkal hidungnya. "Aku juga tidak mengerti, Elias. Seharusnya tidak ada seseorang bernama Helio di antara mereka-!" perkataan Karius terpotong karena rasa sakit yang menusuk kepalanya.

Untungnya rasa sakit itu hanya kebetulan yang lewat dan memuncak selama beberapa saat. Elias belum sempat menyuruh seorang pelayan untuk mengambil obat penenang karena Karius segera mendapatkan kembali ketenangan dan stabilitasnya. Setelah beberapa saat yang lalu terlihat sangat kesakitan, sekarang dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.

Karius memang kembali ke masa lalu, tapi itu tidak terjadi begitu saja. Harus ada harga yang dibayar untuk itu. Dan mungkin erat hubungannya dengan Helio. Sepertinya rasa sakit barusan membuatnya mengingat apa yang telah terjadi. Pertarungan itu tidak pernah ada di kehidupan sebelumnya, termasuk Gung-Ho-Guns bernama Helio The Flame. Tapi kali ini, semuanya tampak begitu jelas. Tampaknya Helio akan menjadi musuh yang sama menyebalkannya dengan Legato dan Elendira.

"Aku ingat sekarang," kata Karius kemudian. "Alasan kenapa Helio The Flame bisa ada di sana."

"Apa? Apa maksud Anda?"

"Knives pasti pernah mendengar tentang Saberthrone, itu sebabnya dia mengirim Helio The Flame ke kota itu."

Elias yang mengerti maksud Karius langsung memelototi tuannya. "Mungkinkah Tuan Muda Knives...!"

"Knives ingin merekrut Saberthrone untuk menjadi bagian dari Gung-Ho-Guns."


Beberapa hari kemudian, Karius yang hanya mengenakan kemeja putih dan celana hitam panjang, kembali bekerja di belakang mejanya dengan tumpukan dokumen yang hampir memenuhi seluruh permukaan mejanya. Jangankan para pelayan, Elias sudah menyerah untuk menyuruhnya beristirahat di tempat tidur. Perban masih terlihat melilit kepalanya, menutupi leher dan lengannya serta plester luka yang menempel di beberapa tempat di wajahnya.

Sehari setelah bangun dari pingsan, dia memaksakan diri untuk pergi ke pabrik yang terletak di belakang mansion ditemani oleh dua pelayan kepercayaannya. Dalam keadaan pincang, dia memasuki ruang pusat kendali plant kota dan menjatuhkan dirinya ke dalam tabung kaca besar yang berisi larutan akses plant dan mulai memulihkan diri.

Dan cahaya merah keemasan yang sangat terang menyelimuti ruangan saat Karius mulai menggunakan kekuatannya untuk memulihkan dirinya. Elias dan Alice bahkan harus mengenakan kacamata hitam yang telah dirancang khusus untuk bertahan dalam situasi tersebut agar mata mereka tidak rusak akibat paparan cahaya yang terlalu terang.

Dan di sinilah dia sekarang. Karius sengaja tidak memulihkan dirinya seratus persen karena suatu alasan. Tidak banyak waktu yang tersisa sehingga dia harus bergegas. Seseorang mendatanginya tak lama kemudian. Seorang pemuda dengan rambut merah tembaga dan mata kuning keemasan yang tidak lain adalah Edward. Dia membungkuk dengan hormat kepada Karius sebelum melangkah ke samping, menunjukkan keberadaan seseorang di belakangnya sejak pertama kali dia memasuki ruang kerja.

Seringai tipis terukir di wajah indah Karius ketika dia menyadari siapa itu. Seorang anak laki-laki berkulit gelap dengan rambut putih pendek. Dan pupil vertikal di mata ungunya menunjukkan siapa dia sebenarnya.

"Kamu datang lebih awal dari yang diharapkan, Zazie," kata Karius dengan senyum di salah satu sudut bibirnya. "Selamat datang di kota March."

Anak laki-laki bernama Zazie ikut menyeringai. "Aku juga tahu kamu akan segera meminta untuk bertemu denganku," jawabnya. "Tapi aku tidak menyangka akan menerima panggilan darimu secepat ini, Saberthrone." bagian dari Gung-Ho-Guns."


Beberapa hari kemudian, Karius yang hanya mengenakan kemeja putih dan celana hitam panjang, kembali bekerja di belakang mejanya dengan tumpukan dokumen yang hampir memenuhi seluruh permukaan mejanya. Jangankan para pelayan, Elias sudah menyerah untuk menyuruhnya beristirahat di tempat tidur. Perban masih terlihat melilit kepalanya, menutupi leher dan lengannya serta plester luka yang menempel di beberapa tempat di wajahnya.

Sehari setelah bangun dari pingsan, dia memaksakan diri untuk pergi ke pabrik yang terletak di belakang mansion ditemani oleh dua pelayan kepercayaannya. Dalam keadaan pincang, dia memasuki ruang pusat kendali plant kota dan menjatuhkan dirinya ke dalam tabung kaca besar yang berisi larutan akses plant dan mulai memulihkan diri.

Dan cahaya merah keemasan yang sangat terang menyelimuti ruangan saat Karius mulai menggunakan kekuatannya untuk memulihkan dirinya. Elias dan Alice bahkan harus mengenakan kacamata hitam yang telah dirancang khusus untuk bertahan dalam situasi tersebut agar mata mereka tidak rusak akibat paparan cahaya yang terlalu terang.

Dan di sinilah dia sekarang. Karius sengaja tidak memulihkan dirinya seratus persen karena suatu alasan. Tidak banyak waktu yang tersisa sehingga dia harus bergegas. Seseorang mendatanginya tak lama kemudian. Seorang pemuda dengan rambut merah tembaga dan mata kuning keemasan yang tidak lain adalah Edward. Dia membungkuk dengan hormat kepada Karius sebelum melangkah ke samping, menunjukkan keberadaan seseorang di belakangnya sejak pertama kali dia memasuki ruang kerja.

Seringai tipis terukir di wajah indah Karius ketika dia menyadari siapa itu. Seorang anak laki-laki berkulit gelap dengan rambut putih pendek. Dan pupil vertikal di mata ungunya menunjukkan siapa dia sebenarnya.

"Kamu datang lebih awal dari yang diharapkan, Zazie," kata Karius dengan senyum di salah satu sudut bibirnya. "Selamat datang di kota March."

Anak laki-laki bernama Zazie ikut menyeringai. "Aku juga tahu kamu akan segera meminta untuk bertemu denganku," jawabnya. "Tapi aku tidak menyangka akan menerima panggilan darimu secepat ini, Saberthrone."