Di hari yang cerah itu, Karius duduk menikmati suasana pagi kota di bangku umum sambil sesekali melempar segenggam makanan burung ke jalanan di depannya. Edward datang tak lama kemudian dengan membawa sebungkus donat panas dan dua gelas kopi hangat. Merpati-merpati yang tengah berkerumun di depan kaki Karius langsung berterbangan pergi begitu dia sampai di sisi tuannya.
"Ah, mereka semua pergi," sesal Edward.
"Ayo, cepat duduk. Mereka pasti akan kembali lagi," kata Karius sambil menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya.
Edward mengikuti perintah tuannya. Dia duduk di sebelah Karius dan meletakkan donat dan kopi yang dibelinya di antara mereka. Karius melemparkan segenggam makanan burung lagi ke jalan dan sekawanan burung merpati kembali berkerumun di depan kakinya. Berebutan untuk menikmati sarapan.
"Silakan, Karius-sama." Edward menawarkan sebuah donat dengan topping strawberry glaze.
Karius menerima donat itu dan mulai memakannya. Sesekali dia menyesap kopi panas yang dibelikan Edward untuknya. Pagi yang indah. Anak-anak berlari kesana-kemari sambil tertawa gembira. Pemandangan yang mudah dijumpai di kota March yang mereka cintai. Tapi untuk beberapa alasan, Karius tidak pernah bisa benar-benar menikmati semua itu. Selama dia belum mencapai Vash and Knives, dia tidak akan bisa bernafas lega atas ketenangan seluruh kota yang ada di No Man's Land.
"Aku penasaran, dimana Tuan Muda sekarang," gumam Edward setelah lama terdiam.
"Saa... aku juga penasaran," kata Karius datar sebelum menggigit donatnya lagi.
"Kita sudah mencari selama berbulan-bulan. Tapi tidak ada petunjuk sama sekali. Beliau selalu menghilang dengan cepat."
Kedua tuan dan ajudan itu menghela nafas berat serempak. Namun saat mereka hendak melanjutkan makan lagi, sebuah ledakan tak jauh dari lokasi mereka tiba-tiba mengguncang seluruh kota. Kota itu cukup kecil, jadi seluruh kota pasti bisa merasakannya. Karius bangkit dari tempat duduknya diikuti oleh Edward, tak lama kemudian terdengar suara tembakan dari jalanan di belakang gedung terdekat.
"DIMANA DIA?"
Mereka bisa mendengar suara seorang pria dari arah datangnya serangan itu. Seperti sedang tertawa menikmati kerusakan yang ditimbulkannya sambil sesekali menembaki warga kota. Karius dan Edward saling berpandangan selama beberapa saat saking bingungnya.
"MANA ORANG ITU?!" Suara itu terdengar lagi. "KAU TERSEMBUNYI DIMANA HAH?! KELUAR SEKARANG, SABERTHRONE!"
Karius yang sudah bersiap kabur bersama Edward, langsung membatalkan rencananya setelah mendengar nama itu dipanggil. Dia membeku di tengah jalan, menunggu pemilik suara itu menunjukkan dirinya. Dia perlahan-lahan meletakkan tangannya di atas revolver hitam berukuran besar di sisi paha kirinya. Sebuah tindakan yang membuat Edward panik luar biasa.
"Karius-sama, orang itu mengincar Anda! Sebaiknya kita segera pergi dari sini!" paniknya.
"Dan membiarkan dia membantai seluruh kota hanya karena satu orang yang tidak ada hubungannya dengan mereka?!" bentak Karius marah.
Edward yang terkejut mendengar bentakan itu akhirnya mengalah. "Maaf, Karius-sama. Saya hanya mencemaskan Anda," jawabnya hati-hati. "Izin untuk menggunakan kekuatanku?"
Karius menjawab permintaan Edward tanpa mengalihkan pandangannya dari perempatan utama kota, "izin diberikan!"
"Terima kasih banyak, Karius-sama."
Segera setelah itu, sosok yang dia tunggu-tunggu akhirnya menampakkan dirinya. Berjalan menyusuri jalan utama kota dari arah yang sama dengan sumber tembakan, seorang pemuda berpakaian serba gelap. Dia mengenakan topi koboi dan jaket panjang berwarna coklat tua yang telah hangus di ujungnya.
Karius memperhatikan beberapa hal dari ciri fisiknya sesaat sebelum orang tersebut menoleh ke seorang gadis yang tidak jauh dari posisinya. Seringai mengerikan mengembang di wajahnya yang tampan saat dia mengarahkan senapan pendeknya ke arah gadis itu.
Ketika Karius melihat Helio mengangkat senjatanya, di situlah dia menyadari bahwa pertempuran tidak dapat dihindari. Begitu Helio menarik pelatuknya, Karius dengan cepat mencapai gadis itu dan meletakkan peti jinjingnya di hadapan mereka untuk menghalangi serangan Helio. Serangan yang sangat mengerikan sehingga Karius harus menarik gadis remaja itu ke dalam pelukannya. Memastikan sang gadis tidak terkena tembakan.
Di pihak Helio, saat mengira Karius kewalahan dengan tembakan beruntunnya, ia malah dikejutkan dengan kemunculan Karius yang berhasil mendekatinya dengan cepat dengan peti jinjingnya sebagai tameng. Helio tidak sempat merespon dengan baik saat Karius menodongkan senjatanya. Membidik tepat di kepala.
"Makan ini!"
Helio buru-buru mengelak, tapi dia berhasil menendang peti hitam Karius hingga benda besar itu terlempar jauh.
Dia kembali menyeringai jahat. "Sekarang kau tidak memiliki perisai lagi," serunya sambil menodongkan senjatanya kembali.
Ketegangan sama sekali tidak terlihat di wajah Karius bahkan ketika dia menyadari bahwa yang akan ditembakkan Helio bukanlah sebuah peluru. Sebaliknya, bola kekuatan yang berkembang antara wajahnya dengan moncong senjata Helio.
Dalam waktu yang sangat singkat itu, Karius mengisi kembali long colt miliknya dengan sangat cepat hanya dengan satu butir peluru setelah membuang peluru yang tersisa dan langsung membidik serangan yang baru saja ditembakkan Helio ke arahnya. Serangan energi Helio yang sebelumnya berwarna putih kebiruan langsung berubah menghitam setelah bertabrakan dengan peluru yang ditembakkan Karius.
Edward yang tidak pernah mengharapkan hasil dari benturan dua kekuatan hanya bisa terkagum-kagum dalam diam sambil memeluk gadis tadi dalam perlindungannya. Karius sendiri masih terlihat tenang, seolah ini hal yang biasa baginya. Tapi tidak dengan Helio, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Serangan terbaiknya yang dapat menghancurkan sebuah kota dalam satu tembakan dapat dinetralkan dalam sekejap mata.
Helio segera menyadari bahwa semua serangan andalannya tidak akan berguna, memutuskan untuk menggunakan pelurunya sebagaimana mestinya. Dan babak kedua dimulai dengan baku tembak. Namun Helio menggunakan cara kotor dengan mengincar Edward dan gadis di belakangnya. Posisi peti yang selalu menjadi tameng terbaiknya terlempar cukup jauh membuat Karius tidak punya pilihan selain menjadikan dirinya tameng hidup bagi mereka.
Meski Karius berakhir dengan banyak luka tembak di tubuhnya, bukan berarti dia kalah begitu saja. Helio berhasil menyudutkannya, tetapi dalam arti yang berbeda. Di ujung kesadarannya, Karius menghunus pedang misterius yang tergantung di belakang punggungnya. Edward yang mengerti apa yang akan dilakukan Karius, langsung berlari ke arah peti yang tergeletak beberapa meter darinya. Membuka peti tersebut untuk menemukan sebuah busur lalu melemparkannya kepada Karius.
Helio masih tertawa menghina. Namun ekspresinya langsung berubah setelah Karius menghunus busurnya dengan pedang tipisnya sebagai anak panah. Lusinan pedang dengan bentuk yang sama muncul di sekitar Karius, berkilau merah seperti batu ruby. Dan begitu Karius melepaskan pedang di tangannya, pedang lainnya juga ikut melesat ke arah Helio. Dia mencoba untuk memblokir serangan dengan menembaknya, tetapi pedang-pedang itu terlalu keras untuk dihentikan dengan tembakan. Seakan terbuat dari berlian atau bahan yang jauh lebih keras.
Dengan senyum di wajahnya, Helio menerima kekalahannya saat pedang Karius mencabik-cabik tubuhnya. Tentu saja dia puas karena apa yang dia cari telah ada di depan matanya. Sosok misterius berambut putih yang menjadi lawannya hari ini adalah orang yang selama ini dicari kakaknya.
Helio tertawa di ujung kesadarannya saat dia melihat Karius roboh dari tempatnya berdiri. Dan segera setelah itu, penglihatannya mulai menghitam sebelum kesadarannya memudar.
"Akhirnya ketemu juga kau, Saberthrone ..."
