Karius menutup map berkas di tangannya lalu meletakkannya di atas meja. Dia lalu melepas kacamata bacanya setelah bersandar di kursinya sambil menatap Elias dan Edward yang berdiri di seberang meja dengan wajah lelahnya.

"Jadi kalian mau bilang kalau aku seharusnya sudah mati karena penyerangan itu?" tanya Karius dengan ekspresi menyelidik.

"Tapi bukan berarti kami mengharapkanmu untuk mati, Tuanku," sergah Elias pelan. "Apa yang ada di dalam rekaman medis itu adalah jurnal perawatan yang dilakukan para ahli medis kita yang berjuang selama berminggu-minggu demi hidup Anda. Dan tak lama setelah mereka menyatakan bahwa Anda telah meninggal, Anda tiba-tiba terbangun dan mengejutkan semua orang."

"Dan aku berjalan seperti mayat hidup selama beberapa hari?"

Edward dan Elias mengangguk ragu-ragu.

Karius menghela napas. "Baiklah, aku mengerti. Lalu apa yang dikatakan dokter? Apa aku bisa kembali berkelana lagi?"

Edward kaget. "Anda sudah ingin pergi lagi?!"

"Kenapa buru-buru, Tuanku?" tanya Elias sabar.

"Perubahan rencana, Elias," jawab Karius tegas. Dia letakkan sebuah gulungan panjang di atas meja lalu memanggil Edward dan Elias untuk melihatnya. "Aku ingin kalian kembali membantuku bersiap-siap mulai dari awal lagi."

"Tuan, ini kan desain terbaru untuk Judgement!?" seru Elias tidak percaya. "Sepertinya akan butuh banyak waktu untuk mengerjakannya!"

Karius menyeringai. "Ya, kita punya banyak waktu untuk mengerjakannya," ujarnya. "Dan Edward. Mulai besok tidak akan ada waktu untuk bersantai."

Elias tersenyum bingung, pertanda bahwa dia menyetujui perintah tuannya. Sementara di sebelahnya, Edward tampak menelan ludah sambil berkeringat dingin.

"Baik, Karius-sama."


Lima tembakan terdengar beruntun di kota Voldoor siang itu, tak lama sebelum satu tembakan setelahnya dan disusul oleh suara ledakan pada detik berikutnya. Dua orang tampak menonton keributan dari atas sebuah bangunan yang jaraknya cukup dekat dengan keramaian.

Salah satu dari mereka terlihat sedang duduk di tepi bagian atas bangunan sambil merokok santai. Rambutnya pendek berwarna putih dan meruncing ke belakang dengan bagian bawahnya yang tampak sedikit menghitam. Dia memakai trench coat kustom berwarna hijau tua dengan kerah tinggi dan celana hitam panjang serta sepasang sepatu boots panjang berwarna cokelat. Kedua matanya dilindungi oleh sebuah kacamata hitam besar yang tampak tebal dengan penghalang di kedua sisinya, yang befungsi untuk melindungi mata penggunanya dari debu dan paparan cahaya ekstrim.

Sementara pemuda berambut merah tembaga di belakangnya hanya berdiri sambil menggendong tas di pundak kanannya. Dia mengenakan tranch coat cokelat biasa dan celana panjang hitam dengan ankle boots berwarna cokelat muda. Rambutnya dikuncir kuda dan memakai kacamata yang lebih parah dari orang di depannya. Sebuah kacamata google berukuran agak kecil. Dan di balik mantelnya yang dikancing sepenuhnya, kau bisa melihat mekeja biru navy tanpa dasi yang juga terkancing rapi.

"Waw, Anda tidak pernah bilang kalau Tuan Muda Vash sehebat itu," gumamnya santai.

"Ayolah, Ed. Kau bisa menjadi sekuat itu dalam waktu singkat kalau kau mau," ujar Karius dongkol. "Itu adalah kelebihan kita yang tidak dimiliki manusia."

"Saya mengerti. Maafkan saya."

Karius meremas sisa rokoknya hingga padam lalu berdiri dari tempat duduknya. "Kita turun sekarang."

"Sekarang? Kemana?" tanya Edward bingung.

"Menemui Vash."

"Menemui Tuan Muda? Sekarang? Anda serius?"

Karius tidak mempedulikan Edward dan hanya menjinjing koper besarnya menyusuri tepi atap bangunan dimana mereka berada. Pemuda itu akhirnya mengikutinya dari belakangan dalam keadaan bingung parah.

"Aku bebas! Aku kembali bebas!" terdengar suara cempreng Vash berteriak bahagia diri bawah. Karius tetap melangkah menuju tangga, namun sebuah senyuman mengembang di wajahnya.

"Karena kami akan bersamamu mulai sekarang, sesuai dengan misi kami untuk terus mengawasimu sepanjang waktu untuk menghindari risiko...!"

"Eh?"

"Dengan senang hati!"

Karius dan Edward tiba di pintu masuk bangunan tadi saat para gadis asuransi menunjukkan pose konyol mereka.

"Tunggu sebentar! Apa yang kalian bicarakan...!"

"AAAARRRGGHH!"

Wajah tampan Karius langsung menunjukkan raut terjeleknya ketika mendengar teriakan seorang pria tua. Edward meliriknya dengan curiga tapi kemudian panik melihat Karius tiba-tiba melangkah kesal ke arah Nebraska. Dia mencoba menahannya, namun ekspresi wanita itu terlalu mengerikan untuk dia hentikan sendirian.

"Karius-sama, tolong jangan berlebihan..." seru pemuda itu hati-hati.

"Ini belum berakhir! LIHAT!" Nebraska menunjukkan wujud aslinya. Bagian bawah tubuhnya yang merupakan sebuah pistol besar mengarah langsung kepada Vash. "Aku tidak akan memaafkanmu... setelah apa yang kau lakukan pada putraku yang menggemaskan...!"

Vash terkejut setengah mati melihat Meryl dan Milly mengeluarkan senjata mereka masing-masing. Bersiap mengarahkannya kepada pak tua Nebraska ketika mereka melihat sosok tinggi dalam balutan trench coat hijau tua di belakang pria tua itu, baru saja memindahkan revolver hitam besar dari tangan kanan ke tangan kirinya.

"Heh? Siapa itu?" Milly menurunkan senjata besarnya.

"Kau akan membayarnya-!"

Clek!

Nebraska berhenti begitu dia merasakan dinginya logam menyentuh pelipisnya. Dia melirik ke samping dan keringat dingin segera membanjiri wajahnya setelah menemukan wajah seorang iblis berambut putih sedang menatapnya. Matanya menyala merah di balik kacamata hitamnya dan bibirnya menyeringai lebar, menampilkan sepasang taring di baliknya.

"Membayar apa?" tanya Karius seram.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Nebraska merasa sangat ketakutan. "Si-siapa kau...?

"Siapa yang menginjinkanmu untuk melukai adikku yang imut?" ancam Karius sambil menekankan moncong senjatanya. "Coba saja. Tembak dia, dan aku akan meledakkan kepalamu detik itu juga."

"A-adik? Adikmu yang imut? Kau adalah kakak dari si Humanoid Typhoon?!" bisik Nebraska ketakutan. Karius tidak menjawab, melainkan menyeringai semakin lebar. "Maafkan aku... Aku tidak akan melakukannya.. Kumohon jangan bunuh aku..."

Karius akhirnya tersenyum normal. "Itu yang ingin kudengar," ucapnya sambil memberi isyarat aman kepada Meryl dan Milly.

"Woah, dia berhasil mengancamnya..." Meryl menatap kagum ke arah Karius begitu Edward mendekatinya bersama warga kota dengan seutas tali tambang di bahunya. Sementara di sisi Vash, dia menatap tajam ke arah Karius yang sedang melangkah ke arahnya.

"Kau tidak terluka kan?" tanya Karius begitu dia sampai di hadapan Vash.

Mendengar pertanyaan itu, ekspresi Vash menjadi lebih santai. "Ya, terima kasih atas bantuannya," jawabnya. "Berkatmu, situasi dapat dikendalikan sekarang."


"Sejujurnya, kau adalah pria berhati luar biasa lembut," gumam Meryl, menopang dagu sambil memandang Vash yang baru saja akan mengigit roti lapisnya.

"Hm? Apa berkelana dari timur ke barat adalah sejenis pekerjaan? Membawa uang dalam jumlah banyak akan sangat merepotkan," balas Vash sambil mengunyah roti lapis.

"Tapi tetap saja... Jadi kenapa kau menyerahkan uang $$ 700.000 itu begitu saja?"

"Itu bukan masalah untukku. Berkat itu, aku bisa memakan roti lapis salmon disini, kapanpun aku mau. Benar kan, Tante?"

"Ya! Makanlah sebanyak yang kau mau!" sahut wanita tua di balik meja bar.

"Aku jadi iri..." gumam Milly, langsung dipotong oleh Meryl.

"Dia bisa membeli sebuah pabrik roti lapis dengan uang sebanyak itu!"

"Makanlah sampai kalian puas. Aku yang akan membayarnya," celetuk Karius yang entah sejak kapan telah berdiri di belakang kedua gadis itu.

"Apa Anda serius, Tuan Harlan?" seru Milly ceria.

Karius menarik sebuah kursi di sebelah Vash untuk diduduki. "Ya. Kau juga, Nona Stryfe. Pesanlah apapun yang kau inginkan."

"Terima kasih, Tuan Harlan. Kau sangat baik."

"Jangan sungkan. Aku berkelana untuk menyebarkan kebaikan. Ini contohnya," ujarnya sambil meletakkan sebuah kotak berwarna putih di depan Vash.

Vash yang sedang sibuk menghabiskan roti lapis di atas piringnya langsung menejrit kegirangan. "Donat?! Bagaimana kau bisa tau?! Terima kasih, Harlan! Kau memang yang terbaik!!"

"Tidak masalah, sayang. Ngomong-ngomong, berapa lama kalian akan mengikutinya?" tanya Karius kemudian.

"Kami tidak punya tenggat waktu," jawab Meryl. "Mungkin setidaknya sampai kami dipecat."

"Woah, pekerjaan yang sulit ya." Karius tertawa awkward, dan ekspresi Vash setelah mendengar jawaban itu membuatnya terasa semakin lucu.

"Laporan kami akan sangat berguna untuk regulasi asuransi!" jelas Meryl penuh semangat.

"Kalian berdua kelihatannya sangat bersemangat." Karius tersenyum lagi sambil menopang dagunya. Tak lama sebelum pendengarannya menangkap suara raungan mesin sand steamer yang telah tiba. "Akhirnya tiba juga."

"Woah! Itu sebuah sand steamer!" seru Milly yang sudah berdiri di depan jendela entah sejak kapan.

"Kau akan pergi" tanya Meryl.

"Ya, kami tidak bisa berlama-lama di satu tempat dalam waktu yang lama. Menjadi prajurit bayaran adalah pekerjaan yang sangat sibuk," jawab Karius seraya berdiri dari kursinya.

"Untung saja kedatangan kalian ke Voldoor bukan untuk memburu keluarga ebraska."

"Benar, kami hanya kebetulan lewat. Kalau begitu, aku pergi duluan. Sampai ketemu lagi."

"Sampai ketemu lagi, Tuan Harlan."

Sepeninggal Karius, Meryl menghampiri Milly di depan jendela. Mereka mengabaikan Vash sepenuhnya yang masih sibuk dengan roti lapisnya.

"Besar sekali, bukan? Dan yang ini pasti akan diikuti oleh rombongan yang sangat panjang," gumam Meryl kagum. "Ngomong-ngomong, ini sudah lebih dari satu setengah bulan sejak kita disini. Kapan kau berencana untuk berang-KAT?!"

"AAHHH!"