Kebahagiaan Lain

Summary

Pertemuan mereka menghasilkan cinta murni. Dari ninja dan seorang bangsawan.

.

.

.

Disclaimer

Naruto dan Genshin Impact dimiliki oleh pemiliknya masing-masing. Author hanya meminjam mereka demi kepentingan fanfic ini.

.

.

Genre

Utama: Romance

Selingan: -

.

.

Pairing

[Uzumaki Naruto x Keqing]

.

.

Dalam ruang kerjanya di siang hari, Keqing memeriksa laporan yang masuk dengan fokus, tapi meski begitu, ada sesuatu yang mengisi pikirannya saat ini.

Itu menyangkut seseorang, atau lebih tepatnya, lelaki berambut kuning dan iris mata biru.

Ketukan terdengar dari luar.

"Masuk."

Seseorang membuka pintu kemudian menutupnya dari dalam. Orang ini adalah Ganyu. Keqing memperhatikan ada dokumen yang dibawanya.

"Permisi, kedatanganku kemari karena ada beberapa proposal yang perlu persetujuan Anda agar bisa terlaksana," kata Ganyu.

Keqing mengangguk.

"Letakkan saja di meja."

Ganyu menurut dan meletakkan dokumen tersebut ke meja. Kemudian, sebelah alis sang half-adeptus terangkat, tepatnya setelah melihat ekspresi gadis itu.

"Maaf jika ini terdengar lancang, tapi apa ada hal yang mengganggumu?" tanya Ganyu.

Keqing mengerutkan alisnya.

"Mengingat hanya ada kita saja di sini, formalitas tidak perlu diperlihatkan juga, Ganyu."

Ganyu tersenyum canggung.

"Sudah kebiasaan. Maafkan aku, Keqing."

Keqing menggeleng, lalu pandangannya beralih keluar jendela.

"Sebenarnya… memang ada. Dan ini menyangkut Naruto."

Ganyu berbinar, karena ini menyangkut teman baiknya.

"Ah, jangan bilang kalian sudah siap untuk tahap berikutnya dalam hubungan kalian?"

Keqing memerah pipinya, lalu berbicara.

"Sebenarnya… bukan hanya itu saja."

"Lalu?"

"Terkadang aku berpikir… apakah aku sudah menjadi kekasih yang baik untuk Naruto?"

Ganyu bisa mengerti ke mana arah pembicaraan ini.

Sebagai Yuheng, Keqing memikul tanggung jawab besar dalam memajukan Liyue menuju masa depan yang cerah. Maka dari itu, sebagian besar waktu Keqing difokuskan ke sana.

Tentu ini bukan berarti Keqing tidak mempunyai waktu istirahat atau sejenisnya. Namun, terkadang Keqing terlalu sibuk bekerja sampai lupa dengan kebutuhan santainya sendiri.

Setidaknya, sampai satu tahun (yang lalu), di mana Keqing tidak sengaja menemukan seseorang di dekat pelabuhan dengan kondisi buruk.

Ganyu masih mengingat hari itu dengan jelas, tapi secara mengejutkan, yaitu luka-luka di tubuh orang itu langsung sembuh setelah aura kuning menyelimuti bagian-bagian tubuhnya (yang terluka).

"Kalau boleh jujur, aku tidak menemukan kesalahan apapun dengan hubungan kalian. Setidaknya menurut opini pribadiku."

Keqing menghela nafas.

"Masalahnya adalah, setelah kupikirkan lagi…"

Ganyu mendengarkan dengan penasaran.

"…aku merasa, kalau perhatianku pada Naruto masih kurang, dan jangan lupakan kencan pribadi kami yang selalu tertunda karena pekerjaanku."

Ganyu tersenyum.

"Mengenai hal itu, apa dokumen yang ada di mejamu adalah yang terakhir?"

"Ya, untuk hari ini, kenapa memangnya?"

"Jika semuanya sudah selesai diperiksa, tinggalkan saja padaku, soal penyerahan dan sejenisnya biar aku yang urus."

Keqing tersentak, menunjukkan ekspresi senang, kemudian berdiri lalu memeluk Ganyu.

"Terima kasih, terima kasih banyak, Ganyu."

Ganyu menepuk punggung, ikut merasa senang.

"Sama-sama."

Melepas pelukannya, Keqing melipat lengannya, tampak memikirkan hal lain.

"Apa ada hal lain lagi yang kau pikirkan?" tanya Ganyu.

"Saat bertemu Naruto nanti, aku ingin memberikan hal yang spesial, apa kau ada saran?" tanya balik Keqing.

"Ah, bukankah itu sudah jelas? Berikan Naruto sesuatu yang hanya kau seorang yang bisa berikan."

Keqing berkedip, mengelus dagunya sebelum mengangguk.

"Aku mengerti, akan kupikirkan baik-baik hal ini."

Kemudian, dia kebingungan.

"Ngomong-ngomong, aku dengar kau sering meluangkan waktu di gunung, seorang diri?"

Ganyu menggeleng.

"Tidak juga. Aku bersama seseorang lebih tepatnya."

"Siapa?"

Ganyu tampak canggung, tapi melihat ekspresi serius Keqing, maka dirinya memberanikan diri berbicara.

"Yah *ehem* aku bersama... Naruto."

"…"

Sensasi kejut mulai terasa di ruangan ini.

Ganyu langsung panik.

"T-Tapi, kami hanya menjelajah dan terkadang membersihkan area dari para monster, sudah itu saja."

Hawa listrik itu redup ketika.

Keqing tersenyum dengan mata tertutup.

"Bagus kalau begitu."

Ganyu menelan ludah.

'Seram.'


Malam hari tiba.

Di sebuah bar, atau lebih tepatnya di sisi luarnya, Naruto menempati kursi kosong ditemani Zhongli.

Mereka duduk santai seraya berbincang mengenai hal sederhana.

"Walau sudah lama terjadi, sekali lagi, kami semua berterima kasih atas bantuanmu waktu itu," ujar Zhongli.

Naruto menggaruk pipinya.

"Yah... penduduk di kota ini telah ramah padaku, jadi wajar saja kalau aku membalas kebaikan mereka… seperti mengalahkan dewa kuno itu… atau menendang bokong grup militer tertentu," sahut Naruto.

Zhongli terangkat sebelah alisnya.

"Fatui maksudmu."

"Yep."

Menggeleng, dia meraih cangkir teh dan minum sejenak, kemudian angkat bicara lagi.

"Dan saat menjalankan misi ke negeri lain, kau secara tidak langsung ikut membantu masalah mereka, hm?"

"Soal itu, aku tidak bisa diam saja melihat kesusahan mereka. Maksudku, apa gunanya kekuatan, jika bukan membantu yang lemah?"

Zhongli mengulas senyum tipis.

"Perkataan yang bijak."

Naruto mengangkat bahu.

"Eh, aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiranku saja, tak ada kebijaksanaan dari itu."

"Dan itu semakin baik."

Zhongli berkedip.

"Aku baru ingat, kapan pernikahanmu dengan Nona Yuheng akan diadakan?"

Naruto menggaruk pipinya, muka remaja itu tampak sedikit merah.

"Yah… Keqing bilang dia sudah mengurus semuanya," sahut Naruto.

Kalau dipikirkan lagi, Naruto masih tidak percaya kalau dirinya akan segera menikah, terlebih dengan salah satu orang yang paling berpengaruh di Liyue.

"Intinya, kau jadi kaya mendadak."

'Dan aku berusaha menerima ini semua… jadi diam lah, Kurama.'

Bijuu itu terkekeh, merasa begitu puas saat ini.

"Dan bagian lucunya, cewek Keqing ini duluan yang menyatakan perasaannya padamu... kuakui dia terlalu berani, dalam artian baik tentunya."

'Kalau dipikirkan lagi, Nahida pernah bilang kalau dia mau main bareng "Ku-chan." lagi di salah satu suratnya padaku.'

"...eh? Apa ada hal aneh yang kubilang tadi? Pasti aku ngelantur tadi, haha."

Zhongli mengangguk.

"Seperti yang diharapkan dari Yuheng kami. Aku percaya kalian punya waktu kencan yang bagus."

Naruto teringat beberapa momen.

Pada kencan hari ini, Naruto dan Keqing berjalan berdampingan, menikmati angin sore sambil mengamati keadaan di lingkungan Liyue.

Naruto tidak sengaja melihat salah satu baju yang dipajang di toko. Keqing menyadari hal ini.

"Kau suka baju itu?"

"Huh? Oh ya, bahannya keliatan bagus."

Keqing mengangguk.

"Aku mengerti. Tunggu di sini."

Naruto tercengang.

"Eh? T-Tunggu bentar, ini bukan berarti kau harus membeli-"

"Jangan khawatir. Aku pakai uangku sendiri."

"Bukan itu maksudku, dattebayo!"

Atau momen lain.

Naruto berjalan seorang diri di antara kerumunan. Namun, entah kenapa setiap kali dirinya berpapasan dengan satu maupun sekelompok wanita, mereka langsung membungkuk dan pergi menjauh darinya.

Karena penasaran, dia menghampiri salah satu penduduk, tepatnya seorang pedagang dengan jenis kelamin pria.

"Eto…"

"Ah, Tuan Naruto, saya tahu pasti anda kebingungan kenapa banyak gadis menjauhimu, bukan?"

Naruto berkedip.

"Yah… aku juga penasaran sebetulnya."

Pedagang itu terkekeh.

"Sebenarnya, ada kabar angin kalau keberadaan Tuan Naruto adalah aset milik Nona Yuheng seorang, jadi wajar banyak perempuan menjaga jarak dari anda."

"Eh?"

"Ah, tapi jangan khawatir, kami tentu tidak keberatan. Terlebih lagi mengingat jasa Tuan Naruto selama ini, dan juga, fakta bahwa kalian memang cocok satu sama lain."

"Eh? Eh?"

"Semoga dengan menyatunya kalian dalam ikatan cinta, mampu mengantarkan Liyue ke harmoni yang lebih baik. Sungguh hubungan indah."

Naruto melongo.

"Keqing!"

"…"

Zhongli memperhatikan raut wajah ninja itu.

"Apa aku salah bicara? Kalau benar, tolong maafkan kalimatku."

Naruto tersadar dari lamunannya.

"Ah, bukan masalah, memang ada momen aneh dalam hubungan kami, tapi bukan berarti itu hal buruk sebetulnya."

"Begitu rupanya."

Menengok ke samping, dia melihat Keqing berjalan menghampiri meja mereka.

Keqing menyadari kehadiran Zhongli.

"Ah, apa aku datang di waktu yang buruk?"

Zhongli menggeleng, meletakkan cangkir lalu beranjak dari kursi-nya.

"Nanti kita teruskan percakapan ini di lain waktu. Aku pamit undur diri."

Zhongli pergi ke arah lain, meninggalkan Naruto dan Keqing berduaan di tempat ini.

"…"

"…"

Naruto berdeham.

"Jadi…"

Keqing ekspresinya serius.

"Kau sudah makan?"

Naruto (sweatdrop).

"Yah... mungkin aku akan makan lagi nanti."

"Apa ada kebutuhan lain yang kau perlukan? Bahan pangan mungkin?"

"Semuanya lengkap dan terkendali."

"Begitu."

Mereka tidak lagi berbicara. Suasana canggung mulai menghampiri keduanya.

Keqing pura-pura batuk.

"Kau keberatan kalau… kita jalan, cuma berdua saja?"

Naruto tersenyum. Tidak lupa meletakkan sekantung mora di meja.

"Tidak juga. Memangnya ada tempat yang mau kau kunjungi?"

"Biar kutunjukkan padamu."

Naruto mengangguk.

Keduanya melangkah berdampingan. Mereka menelusuri jalur yang mengarah ke pegunungan.

Tidak perlu waktu lama, Naruto dan Keqing tiba di bagian puncak. Naruto melihat kehadiran tikar lengkap dengan beberapa makanan juga minuman. Remaja itu beralih ke samping.

Merasa diperhatikan, Keqing menatap balik Naruto, sebelah alisnya terangkat.

"Apa?" tanyanya 'penasaran'.

"...enggak, gak ada apa-apa."

Mereka berdua duduk. Keqing mengambil sumpit lalu berusaha melakukan sesuatu (yang sedikit) memalukan.

"Buka mulutmu."

Naruto memerah wajahnya.

"B-Bentar, Keqing, aku bisa sendi-"

"Buka. Mulutmu."

"O-Oh, baiklah."

Naruto membuka mulutnya, dan membiarkan gadis itu menyuapinya dengan potongan daging ikan bakar.

"Gimana rasanya?" tanya Keqing.

Naruto selesai mengunyah.

"Y-Ya, ini enak," jawab Naruto.

Keqing lega.

"Syukur lah, percobaan ke-30 tidak sia-sia rupanya…"

"Kau bilang apa tadi?"

"B-Bukan apa-apa."

Naruto curiga, tapi tidak mengatakan apapun.

"Kalau begitu, sekarang giliranku."

Dia gelagapan.

"T-Tunggu bentar, aku membuat semua ini untukmu, jadi seharusnya-"

"Aha! Jadi kau yang merencanakan ini semua."

Keqing merona.

"M-Memangnya kenapa hah? Ini bentuk perhatianku padamu, terlebih selama ini, waktu kencan kita kadang terganggu dengan pekerjaanku, jadi kupikir… aku tidak bersikap layaknya kekasih yang baik untukmu."

Naruto tertawa kecil. Hal ini membuat Keqing mengerutkan alis.

"Aku sangat yakin ini bukan candaan sama sekali."

"M-Maaf, tapi sungguh, aku gak merasa marah atau semacamnya."

"Huh?"

Naruto berhenti tertawa. Lelaki itu angkat bicara.

"Yeah, maksudku, mengingat peranmu di kota ini, pastinya itu berat dan besar tanggung jawabnya." Naruto menambahkan. "Terlebih lagi, dengan caramu sendiri, aku yakin kau telah berusaha membuatku bahagia.

"Maka dari itu…"

Naruto menyengir ke arahnya. Lebar dan penuh makna.

"…ketimbang merasa diabaikan, kadang aku berpikir, betapa beruntungnya aku bisa punya tempat spesial di hati cewek sehebat kamu."

"…"

Keqing mencium lelaki itu.

Meski awalnya kaget, Naruto tidak menolak, dan menikmati perlakuan kekasihnya itu.

Mereka berhenti berciuman setelah dirasa cukup. Keqing tersenyum dengan semburat merah muda tipis di pipinya.

"Aku mencintaimu," ujar Keqing.

Nada bicaranya terdengar penuh kasih.

Naruto terkekeh.

"Aku tahu," balas Naruto.

"Aku benar-benar mencintaimu."

"Terlalu keliatan jelas."

"Aku benar-benar dan sangat mencintaimu."

"Geez, mendengarnya langsung membuatku malu, dattebayo."

Keqing tertawa kecil, meletakkan kepalanya di bahu lelaki itu, kemudian memejamkan matanya.

"Omong-omong, aku ada pertanyaan."

"Soal?"

"Kau dapat ide ini dari mana?"

"Ah, ini semua berkat Ganyu." Keqing menambahkan. "Dia bilang aku mungkin harus memberikanmu sesuatu yang cuma bisa aku berikan.

"Contohnya seperti... momen pribadi ini."

"Hooh."

Berkedip, dia menengok ke arah tertentu, tepatnya pada aneka makanan dan minuman ini.

"Kau tahu, mungkin ada baiknya kita segera habiskan semua makanan ini, sebelum basi gitu."

Keqing tersentak.

"Ah, kau ada benarnya juga."

Setelah habis, keduanya menghabiskan malam ini sambil mengamati langit penuh bintang, tidak lupa dengan tangan (yang saling) bergandengan.

END

A/N: Hallooo reader-san sekalian! Gimana one-shot kali ini? Mengesankan? Membosankan? Letakkan isi pikiran kalian di tempat yang seharusnya :D

Keqing merupakan salah satu karakter favorit author di Genshin Impact, dan jika ada yang bertanya apakah author main game nya, jawabannya enggak, hehe :D

Ah, mengenai fanfic utama author, akan up bulan depan, antara awal atau bisa juga pertengahan, mohon bersabar ya :D

Terakhir…

Sampai jumpa di fanfic one-shot berikutnya :D

{Racemoon: Sign-out}

.

.

.

Festival (yang berlangsung) pada tahun ini berlangsung meriah. Orang-orang banyak berkeliaran menikmati acara tersebut.

Di kerumunan, seorang pria dan wanita tampak berjalan bersama kedua anak mereka, satu laki-laki dan satunya lagi perempuan.

"Ne, ne, Papa."

"Ya?"

"Aku mau beli makanan itu, boleh?"

"Boleh, tapi jangan kebanyakan."

"Yeay~"

Anak perempuan itu berlari, diikuti saudara kandungnya (yang panik) kalau terjadi hal buruk menimpanya.

Wanita itu menggeleng.

"Putri kita tampaknya mewarisi semangatmu, suamiku."

Pria itu terkekeh.

"Yah, namanya juga anak kita."

"Hmm, kau ada benarnya juga."

Naruto dan Keqing menyusul dengan senyuman di wajah mereka.