Unexpected
Rate M menjurus E (aku taruh E buat jaga-jaga)
Pair: Rengoku Kyojuro x Tomioka Giyuu
Kimetsu no Yaiba milik Koyoharu Gotoge. Author tidak berhak atas chara dan kawan-kawannya. Aku hanya berhak atas jalan cerita yang kuubah ini.
WARNING! Typo, Alur terlalu cepat dan... lompat-lompat(?), tidak jelas, OOC, dan banyak hal lainnya. Fem!Giyuu karena dia cantik dan Pregnant!Giyuu karena aku ingin dia membawa anak-anak Kyojuro. Little Psychoneurotic!Kyojuro (aku akan SANGAT berusaha agar cerita ini baik-baik saja... semoga saja berhasil). Little Angst—ah tidak, ini BAD ENDING. Jadi ini SANGAT ANGST dan yang... menginginkan fluff, maaf, ini bukan fluff dan ya, sesuai warning yang aku taruh sebelumnya, diantara Kyojuro dan Giyuu, akan ada salah satu yang mati.
Aku rasa itu saja. Selamat membaca!
.
.
.
Hangatnya sinar mentari yang menyusup melalui celah jendela membuat Tomioka Giyuu mengerutkan kening dalam tidurnya. Tanpa sadar tubuhnya bergerak lebih dekat dengan sumber kehangatannya dan meringkuk didalam pelukannya seperti bayi.
Kulit mereka saling bertemu dengan gesekkan lembut dan sedikit lengket karena keringat dari aktivitas malam mereka. Tubuh masih terhubung, menimbulkan rasa tidak nyaman namun Tomioka Giyuu masih enggan melepasnya dan lebih memilih untuk mengabaikannya.
"Yuu, sudah pagi. Ayo bangun."
Usapan lembut nan hangat sampai pada pipinya, membuatnya semakin mengerutkan kening sebelum membuka mata dengan terpaksa.
Kekehan lembut terdengar, disertai ciuman pada puncak kepalanya, hidung, pipi, lalu berakhir di bibir. "Bangun, sayang. Sudah pagi."
"Mmn... pagi, Kyo..." bisiknya dengan suara serak, masih setengah sadar.
"Pagi. Bangunlah. Hari ini kamu ada misi kan?"
Giyuu masih mencoba mengumpulkan kesadarannya saat tangan hangat melingkari pinggangnya, tanpa sadar mendesah lembut. "Hmm.."
"Giyuu, bangun. Apakah kamu sebegitu tidak inginnya melepaskan aku?"
Bagian tubuh mereka yang masih terhubung terasa basah dan lengket, namun mereka berdua mengabaikannya. Rengoku Kyojuro—pria yang kini berguling dan setengah menindih Giyuu dibawahnya—kembali menciumi seluruh wajah wanitanya agar dia bangun.
"Nggh—Kyo..."
Lengan Giyuu refleks melingkari leher Kyojuro, begitupun kakinya yang melingkar pas di pinggang kokoh Kyojuro. Matanya berkedip, mencoba menyesuaikan cahaya sebelum terbuka sepenuhnya.
"Sudah bangun?"
"Mmn.." Satu ciuman diberikan, "selamat pagi..."
Kyojuro tersenyum lebar, lagi-lagi mencuri ciuman dari bibir yang merekah indah dihadapannya. "Ayo lepaskan aku dan kita mandi?"
Anggukkan diberikan dan Kyojuro pelan-pelan menarik diri dari Giyuu, membiarkan cairan putih kental kini meluber keluar dan membasahi paha dalam wanita itu.
"Kyo... kakiku lemas." Gumam Giyuu, tidak bisa bergerak terlalu banyak karena pinggangnya sakit, kakinya juga seolah telah berubah menjadi jelly. Pada bagian tangannya juga tercetak bekas keunguan—akibat cengkraman Kyojuro yang kelewat erat semalam. Tubuhnya juga bertaburan bekas gigitan, ciuman dan cengkraman tangan Kyojuro. Leher, dada, lengan bagian dalam, perut, paha (terutama bagian dalam) dan mungkin seluruh punggungnya juga memiliki 'bekas' Kyojuro disana.
"Sepertinya kita terlalu bersemangat tadi malam. Mau aku saja yang menggantikanmu?"
'Kamulah yang terlalu bersemangat sampai tidak sadar mengeluarkan sisi menakutkanmu itu!' batin Giyuu tidak terima. Tapi dia tidak menyuarakan protesnya karena tidak ingin merusak momen manis mereka dan balas bertanya. "Memangnya tidak masalah? Kamu libur kan?"
"Bukan masalah! Lagi pula, anak yang kamu selamatkan itu—yang pernah bertemu dengan Kibutsuji Muzan—dan teman-temannya akan ikut bukan? Istirahatlah, biar aku yang berangkat." Kyojuro mengusap pinggang Giyuu, lalu meremasnya pelan. "Ini saatnya dia membuktikan kalau iblis itu benar-benar tidak berbahaya."
Giyuu masih terlihat tidak yakin. Dia tidak ingin merepotkan siapapun, apalagi sampai mengambil jatah libur Kyojuro. "Tapi—"
"Bukan masalah besar! Giyuu perlu istirahat! Kalau kamu masih lemas, bagaimana caramu melindungi mereka jika sesuatu terjadi?" Kyojuro mencium Giyuu, tatapannya mendadak jadi sedikit tajam dan dingin. Penuh dengan rasa posesif seolah-olah memerintah Giyuu untuk mematuhinya. "Percayalah padaku. Lagipula aku ingin membuktikan bahwa mereka benar-benar bukan 'sumber masalah' untukmu." Bisiknya dengan suara berat.
Wanita itu berkedip untuk memastikan bahwa penglihatannya salah. Tapi Kyojuro sudah kembali menciumi Giyuu dan menarik pakaian mereka yang bertebaran di tatami untuk kembali dipakai. Pada akhirnya Giyuu tidak mempermasalahkannya dan membiarkan Kyojuro menggendongnya dan memandikan tubuh mereka.
"Berjanjilah kamu akan kembali dengan selamat."
Kyojuro mencium lagi wanitanya sebelum menjawab dengan senyum dingin, "Aku akan baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir."
.
.
.
Tomioka Giyuu sangat-amat sangat-mencintai sosok Rengoku Kyojuro. Dia tahu Kyojuro juga merasakan hal yang sama, tapi Giyuu tidak bisa berbohong bahwa terkadang dia takut dengan sifat kejam Kyojuro. Pria itu bisa saja memukulnya atau mencekiknya kapanpun emosinya 'terganggu'.
Dia sudah membicarakan ini dengan Kyojuro—karena awalnya Giyuu mengira bahwa sisi kejam itu adalah kepribadian lain milik Kyojuro. Tapi Kyojuro hanya menanggapinya dengan tatapan dingin dan senyum manis—namun Giyuu sadar dibalik senyuman itu menyimpan bahaya.
"Apa kamu takut? Aku tidak akan melakukan apapun jika kamu tidak melakukan kesalahan." Kata Kyojuro saat itu. Nadanya dingin dan mengancam, berbeda jauh dengan usapan lembut pada pipi Giyuu. "Kamu tahu dengan jelas bahwa aku mencintaimu. Sangat mencintaimu hingga rasanya aku akan gila."
Sejak saat itu Giyuu sadar. Itulah sosok Kyojuro yang sebenarnya. Kejam, posesif dan tidak ragu menyakiti Giyuu dan dirinya sendiri saat Giyuu melakukan kesalahan.
Misalnya saja Giyuu terluka saat melakukan misi, maka Kyojuro akan memperparah lukanya—seperti membuatnya nyaris kehabisan nafas karena tercekik. Atau mengikatnya hingga lukanya kembali berdarah dan kulitnya membiru. Jika Giyuu mencoba melawan, Kyojuro malah akan melukai dirinya sendiri. Seperti mengiris lengannya atau mengarahkan Nichirin pada lehernya sendiri. Itu benar-benar membuat Giyuu takut dan tunduk.
Atau seperti saat Giyuu bercerita tentang Kamado bersaudara yang diselamatkannya. Kyojuro marah padanya (karena dia khawatir mereka akan menyebabkan Giyuu dalam masalah di masa depan). Dan pria itu lebih marah dari pada sebelumnya saat Ubuyashiki mengatakan tentang apa yang akan dilakukannya jika sampai Nezuko melukai manusia. Terutama karena sebelumnya Giyuu melindungi Kamado Tanjiro dibalik punggungnya saat pilar yang lainnya ingin menghakimi anak itu.
Giyuu benar-benar tidak ingin mengingat saat-saat itu. Terlalu mengerikan untuk diingatnya.
Singkatnya, Kyojuro itu sakit jiwa.
Dan sialnya, Giyuu terlalu mencintainya (dan terlalu takut untuk mencoba meninggalkannya.)
Sampai sekarang Giyuu tidak tahu yang mana sifat asli Kyojuro. Terkadang pria itu bisa begitu lembut dan manis, bersikap seolah-olah dia benar-benar mencintainya dan memperlakukannya dengan baik tapi kadang pula bisa menyeramkan dan begitu kejam.
Sama seperti saat dia hamil untuk pertama kalinya (terima kasih pada Kyojuro yang selalu menyetubuhinya habis-habisan saat emosinya 'tidak stabil'), Kyojuro begitu lembut padanya. Bertingkah seperti biasa dan mencintainya. Sampai kemudian Giyuu keguguran—karena seorang iblis yang menggunakan racun di udara. Lalu kemudian Kyojuro tetap datang menghiburnya, memeluknya dengan sangat halus dan lembut dan mengatakan agar mereka tidak perlu memiliki anak.
"Tidak perlu punya anak lagi ya? Aku tidak akan memaksa. Hanya saja aku tidak mau kamu terluka lagi."
Tapi Giyuu tahu. Kyojuro sebenarnya tidak ingin memiliki anak. Instingnya mengatakan bahwa Kyojuro akan mengamuk dan akan melakukan sesuatu yang lebih gila jika Giyuu hamil lagi. Dia juga tahu bahwa Kyojurolah yang diam-diam menaruh racun di udara. Giyuu mengetahuinya secara tidak sengaja saat membersihkan seragam Kyojuro.
Saat itu Giyuu ingin membencinya, sungguh. Tapi dia tidak mampu. Jadi dia tetap bungkam dan membiarkan semuanya berlalu seolah tidak terjadi apapun. Terutama saat Kyojuro mendadak bergumam di dalam tidurnya sambil memegang Giyuu erat. Tubuhnya gemetaran dan berkeringat dingin.
"Jangan tinggalkan aku... Aku sangat mencintaimu sampai aku tidak ingin membagimu dengan siapapun... Giyuu... jangan... jangan tinggalkan aku... kamu milikku..."
Giyuu mengusap-usap sisi wajah Kyojuro dan balas memeluknya, "aku disini. Aku tidak akan pergi."
Mungkin Tomioka Giyuu juga sudah gila karena terlalu mencintai seorang Rengoku Kyojuro.
Cinta yang bahkan mengalahkan rasa takutnya dan keinginannya sendiri.
"Caw! Rengoku Kyojuro melawan iblis bulan atas ketiga! Kini dia sekarat!"
Kanzaburo—gagak Kasugai miliknya datang dan mendarat di bahunya saat Giyuu baru saja akan menutup pintu kediamannya. Dia terkejut, namun segera kembali tenang dan hanya bergumam, "begitu."
Wanita itu tidak langsung menuju kediaman Kupu-kupu. Dia melangkah ke arah sebaliknya dan menemui dokter wanita yang belum lama ini tidak sengaja ditemuinya. Instingnya mengatakan ada yang salah dengan tubuhnya sekarang dan dia harus memeriksakan dirinya sebelum sesuatu terjadi.
Lagipula, Giyuu percaya dengan Kyojuro. Pria itu akan baik-baik saja sesuai janjinya.
.
.
.
Dokter wanita bernama Tamayo itu menatapnya dengan ekspresi tegas, dibelakangnya ada pengikut setianya yang terus menatap dokter itu dengan pandangan kagum.
"Kamu adalah seorang pilar, benar?"
"Benar." Tomioka Giyuu tidak menutupi apapun. Lagipula dia juga mengetahui bahwa dokter wanita ini adalah seorang iblis dan percuma saja menyembunyikan sesuatu darinya.
Dulu saat dia menyadarinya dan nyaris membunuh mereka, wanita itu bertanya padanya, 'apakah kamu mengenal anak bernama Kamado Tanjiro?' dan memberikan sebuah surat disertai permintaan tolong untuk memberikannya pada Tanjiro. Setelahnya wanita itu pasrah menunggu Giyuu membunuhnya (dimana pada akhirnya Giyuu tidak jadi membunuhnya dan malah meminta wanita itu untuk membantunya). Dia sudah memberitahukan hal ini pada Ubuyashiki dan pria itu menyetujuinya. Dia bahkan mengajak Tamayo untuk bekerja sama dengan mereka.
"Aku tidak tahu ini kabar baik atau buruk—melihat luka memar itu." Katanya merujuk pada bekas cengkraman tangan pada leher Giyuu yang terlihat jelas. "Kamu hamil. Usianya sekitar dua bulan."
Jantung Giyuu seolah-olah jatuh ke tanah. Instingnya benar.
Tangannya tanpa sadar mengusap perutnya, benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Dia hamil lagi.
"..."
"Tomioka-san, aku bisa membantumu 'bersembunyi' jika kamu mau. Ubuyashiki-sama telah memintaku untuk bekerja sama dengan pemburu iblis. Tidak ada yang akan curiga padaku."
Giyuu memejamkan mata. Jantungnya berdetak keras. Ketakutan melingkupinya dan pemikiran bahwa Kyojuro akan membunuhnya saat dia mencoba kabur terus berputar. Pria itu bahkan mungkin saja akan membunuh Tamayo tanpa peduli bahwa Ubuyashiki telah melarangnya.
"Tomioka-san?"
Tapi memikirkan anak yang telah ada didalam tubuhnya membuat Giyuu menekan rasa takutnya dan berpikir perlahan. Kyojuro sekarang sedang sekarat. Ini memang terdengar kejam, tapi Giyuu bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk bersembunyi sementara waktu. Ubuyashiki pasti akan mengerti keadaannya dan membantunya. (Dulu pria itu pernah mengajak Kyojuro berbicara berdua di dalam ruangannya dan setelahnya Kyojuro keluar dengan ekspresi dingin. Giyuu lalu berasumsi bahwa Ubuyashiki 'menegur' Kyojuro atas perbuatannya membunuh calon anak mereka.)
"Hey! Beraninya kamu mengabaikan Tamayo-sama?!"
"Yushiro."
Matanya terpejam erat dan pelan-pelan tubuhnya membungkuk, dalam hati merasa malu dengan dirinya sendiri yang bahkan kini harus meminta bantuan pada iblis yang selalu mereka bunuh. "Tolong... bantu aku bersembunyi. Setidaknya hingga anak kami tumbuh dan bisa melindungi dirinya sendiri."
"... Ya, kami akan membantumu, Tomioka-san. Tolong angkat kepalamu." Tamayo menatapnya lurus, "Datanglah lagi setelah kamu siap, Tomioka-san."
"... akan aku lakukan." Giyuu mengangguk, lalu pamit untuk mengunjungi Kyojuro dan menulis surat untuk Ubuyashiki.
Ditengah perjalanan menuju kediaman Kupu-kupu, Tomioka Giyuu berdoa dengan sepenuh hati. Jika Tuhan memang benar adanya, maka dia berharap Kyojuro baik-baik saja dan anak mereka kelak akan tumbuh dan hidup dengan baik.
.
.
.
Kocho Shinobu, Hashira serangga yang menangani Kyojuro beberapa saat yang lalu menyambut kehadirannya dengan sindiran.
"Ara, Tomioka-san. Akhirnya kamu datang. Kemana saja kamu? Kekasihmu sedang sekarat dan kamu malah pergi entah kemana."
Giyuu memutuskan mengabaikan pertanyaan itu dan memilih langsung bertanya tentang keadaan Kyojuro. "Bagaimana dia?"
"Dinginnya~" sindir Shinobu lagi, lalu suaranya berubah serius. "Dia sudah baik-baik saja. Lukanya sangat parah di bagian perut, tapi dia akan baik-baik saja setelah beberapa bulan."
"... begitu."
Seolah-olah tahu, Shinobu menjelaskan tanpa diminta. "Rengoku-san masih tertidur dalam pengaruh obat. Dia akan bangun besok."
"... Kocho, bisakah... aku minta tolong sesuatu?"
"Hm? Tidak biasanya Tomioka-san meminta tolong. Ada apa?"
"... Tolong jaga Ky—Rengoku selama aku pergi."
"Eh?" Shinobu tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. "Memangnya Tomioka-san akan pergi kemana?"
"Tugas." Jawab Giyuu pendek. Lalu wanita itu menoleh kearah lain, "boleh aku mengunjunginya?"
"... Aku tidak akan bertanya, Tomioka-san." Nada Shinobu berubah menjadi sedih. Giyuu tidak tahu itu benar-benar rasa sedih atau hanya tipuan untuk menyindirnya. "Rengoku-san ada di kamar nomer enam. Dari sini ke arah kiri."
Giyuu mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Lalu setelahnya dia pergi dan melangkah memasuki kamar rawat Kyojuro.
Di dalam kamar rawat itu ada sekitar empat ranjang. Ranjang pertama diisi oleh Kamado Tanjiro dan disampingnya berisi pria yang Giyuu cintai, Rengoku Kyojuro.
"Ah! Tomioka-san!" sapa Tanjiro dengan gembira. "Selamat siang!"
"Mm. Selamat siang. Bagaimana keadaanmu?" tanya Giyuu sambil menarik kursi tunggu dan duduk diantara ranjang Tanjiro dan Kyojuro.
"Aku baik-baik saja! Hanya tertusuk dan kata Shinobu-san aku akan sembuh dalam beberapa minggu. Tapi Rengoku-san..."
Giyuu mengusap kepala Tanjiro yang tertunduk sedih, "Tidak apa-apa. Dia akan baik-baik saja."
Dia tidak pandai menghibur. Dan lagi keadaan Kyojuro sekarang memang memprihatinkan. Mata kiri dan pelipisnya dibalut oleh perban dan Giyuu masih bisa mencium aroma darah dan obat yang pekat dari tubuh Kyojuro.
"Tomioka-san... maafkan aku karena tidak mampu—"
Sebelum Tanjiro menyelesaikan ucapannya, Giyuu sudah memotongnya. "Bukan salahmu."
"Tapi Tomioka-san..."
"Kyojuro... dia menggantikanku karena aku sedang kurang sehat. Kami adalah Hashira. Kami memiliki tugas untuk melindungi penerus kami dan semua orang." Giyuu menangkup tangan Tanjiro dan sedikit meremasnya, "itu bukan salahmu."
"Tomioka-san... itu juga bukan salahmu. Tolong jangan menyalahkan diri."
Tanjiro ikut menghiburnya, seolah-olah dia tahu (atau mungkin dia memang sudah mengetahuinya dari penciumannya yang kelewat tajam) bahwa sebenarnya Giyuu juga menyalahkan dirinya sendiri.
"Ah iya! Tomioka-san, Rengoku-san menitipkan ini untukmu." Anak itu cepat-cepat mengubah topik karena suasana yang mendadak suram. Tangannya merogoh kantung pakaiannya dan mengeluarkan sebuah gumpalan kain. "Dia meminta tolong padaku untuk memberikan ini padamu."
Giyuu mengambil gumpalan kain itu dan membukanya, melihat sebuah cincin besi berwarna hitam. Saat jemarinya menyentuh cincin itu, warnanya berubah menjadi warna merah. Sama seperti warna nichirin Kyojuro.
"... cincin? Ah! Aromanya sama seperti besi nichirin! Apakah itu terbuat dari besi nichirin?" Tanjiro menatap cincin itu dengan rasa penasaran. Ada gumpalan pink samar di pipinya. Giyuu tidak tahu apa yang dia pikirkan, dia terlalu terkejut dengan 'lamaran' Kyojuro yang mendadak ini.
"Tomioka-san? Ada apa?"
Giyuu menggeleng dan memasangkan cincin itu di jari manis tangan kirinya, membuat warna yang sangat kontras dan mencolok dengan kulit dan penampilannya. Setelah beberapa saat memperhatikan cincin yang kini melingkar pas di jarinya itu, Giyuu kembali membuka suara. "Terima kasih, Tanjiro."
"Tomioka-san, bukankah harusnya kamu mengucapkannya pada Rengoku-san?" tanya Tanjiro bingung.
Tangan Giyuu hanya menepuk pundak Tanjiro sekilas sebelum menoleh kearah ranjang lainnya, "Tutup mata dan hidungmu."
"Eh? Ah, baik!"
Wanita itu tidak menoleh untuk memastikan dan dia langsung mengusap pipi Kyojuro dengan lembut. Lalu pelan-pelan tubuhnya turun dan bibirnya menggapai bibir Kyojuro yang terkunci rapat. Gumaman terima kasih terucap setelah kecupan lembut yang terjadi dan kemudian Giyuu melangkah keluar dari ruangan.
"To-tomioka-san?!"
"Ah. Sampaikan terima kasihku padanya. Aku menyukai cincinnya."
"Kenapa Tomioka-san tidak mengatakannya sendiri? Aromamu... seolah-olah kamu akan pergi jauh?"
Giyuu hanya melirik, menjawab singkat, lalu pergi dari ruang rawat mereka. "Aku mendapat tugas."
Tanjiro yang ditinggalkan menatap heran, "tapi aromanya seperti sedang berbohong..."
.
.
.
Sebelum Giyuu menuju kediaman Kupu-kupu, dia sudah menyempatkan untuk mengirimkan surat pada Ubuyashiki melalui Kanzaburo. Isinya adalah permintaan untuk pertemuan pribadi dan beruntungnya Ubuyashiki dengan cepat membalas suratnya. Terima kasih pada Kanzaburo yang tidak tersesat kali ini.
Sekarang Giyuu sudah berada di depan sebuah rumah besar dengan halaman luas yang penuh dengan tanaman dan bunga. Dua anak tertua Ubuyashiki—yang bernama Hinaki dan Nichika—memandunya masuk.
Rumah itu sepi. Tapi entah kenapa malah membawa ketenangan dan rasa rindu tersendiri. Seolah-olah mengingatkannya akan 'rumah'nya dulu bersama kakak perempuannya dan kedua orang tuanya. Tidak ada dari mereka yang bersuara hingga Giyuu tiba di depan sebuah pintu geser besar berukirkan burung bangau dan pepohonan.
"Oyakata-sama, Tomioka Giyuu sudah tiba."
Pintu terbuka dan Giyuu melangkah masuk. Di dalam ruangan itu, Ubuyashiki Kagaya duduk bersebelahan dengan istrinya. Giyuu cepat-cepat berlutut didepan mereka berdua. "Maaf karena aku harus menganggu waktu istirahat Oyakata-sama yang berharga."
"Giyuu. Tidak apa-apa. Duduklah."
"Baik."
"Aku sudah menerima suratmu. Selamat untuk kehamilanmu." Ubuyashiki berbicara dengan lembut, membuat Giyuu tenang. "Tamayo juga sudah memberitahuku. Mereka memiliki rumah dibagian barat daya dan kamu bisa tinggal disana untuk sementara waktu."
"... Oyakata-sama," Giyuu memanggil lirih dan menunduk dalam-dalam. "Terima kasih banyak."
Senyuman lembut tercetak dan Ubuyashiki pelan-pelan bangkit mendekati Giyuu dibantu istrinya. "Boleh aku menyentuh perutmu?"
Ragu-ragu Giyuu mengangguk, membiarkan Amane—istri Ubuyashiki—menuntun tangan suaminya menuju perut Giyuu yang masih rata.
Usapan lembut diberikan dan Ubuyashiki memberikan doa bagi calon bayi Giyuu, "semoga kelak kalian menjadi anak-anak yang baik, sehat dan kuat. Jadilah manusia hebat yang membanggakan kedua orang tua kalian."
Kepala Giyuu terangkat saat menyadari kejanggalan pada kalimat Ubuyashiki.
'Anak-anak? Apakah ini bukan hanya satu... tapi dua?' pikir Giyuu.
"Dan Giyuu," panggil Ubuyashiki sambil menyentuh kedua bahu Giyuu sebelum memeluknya layaknya seorang ayah. "Bahagialah."
Setetes air mata jatuh begitu saja dari pelupuk mata Giyuu.
"Baik, Oyakata-sama."
.
.
.
Perkiraan Shinobu meleset karena Kyojuro baru membuka mata setelah dua hari.
Pria itu sudah mendapatkan sedikit tenaganya kembali setelah minum air dan makan bubur encer. Tapi Shinobu tetap melarangnya untuk duduk dan banyak bergerak. Jadi Kyojuro hanya dapat berbaring di atas ranjang. Bahkan saat keluarganya datang mengunjunginya, Kyojuro hanya dapat memberikan senyum lebar.
"Kocho, aku tidak melihat Giyuu? Dimana dia? Apakah dia masih bertugas?" tanya Kyojuro saat dia memiliki kesempatan. Dia sudah dipindahkan ke kamar lain agar bisa beristirahat dengan tenang. Jadi Kyojuro tidak bisa bertanya pada Tanjiro.
"Ara. Dia kesini dua hari yang lalu. Setelahnya aku tidak melihatnya lagi. Tapi Tanjiro-kun mengatakan bahwa Tomioka-san sudah menerima cincinmu dan sudah memakainya, Rengoku-san."
Pipi Kyojuro bersemu, dia memang penasaran tentang hal itu. Tapi dia tidak menyangka Shinobu akan langsung mengetahuinya. "Kocho!"
"Ara-ara, kemarin Tanjiro-kun juga mengatakan bahwa Tomioka-san menyukai cincin pemberianmu lho~" Shinobu kembali menganggu Kyojuro dan membuat pipinya semakin memerah.
"Sy-syukurlah dia menyukainya!"
"Oh iya, Tomioka-san kemarin mengatakan untuk menjagamu. Kurasa dia akan pergi untuk tugas yang cukup lama."
"Be-begitu rupanya! Pantas saja aku tidak melihatnya sejak aku bangun!"
Kyojuro memang menjaga ekspresinya, tapi kilat berbahaya di matanya tidak luput dari pengamatan Shinobu. Gadis itu mengerutkan kening dan bertanya dengan nada sing-a-song. "Apakah kamu marah?"
"Kenapa aku harus marah?"
"Karena Tomioka-san malah mendapatkan tugas disaat kamu membutuhkannya disisimu."
Kyojuro hanya membalas pertanyaan itu dengan senyuman. "Aku akan beristirahat," katanya. Lalu berguling untuk memunggungi Shinobu.
Shinobu merasa aneh dengan sikap Kyojuro yang diluar dugaan. Dia seperti orang lain.
'Tomioka-san, aku harus bertanya padanya saat dia kembali nanti.' Pikir Shinobu sambil melirik Kyojuro untuk terakhir kalinya sebelum menutup pintu kamar rawatnya.
.
.
.
Tapi Tomioka Giyuu tidak pernah datang. Kediamannya juga kosong dan Kyojuro bertingkah semakin aneh. Shinobu dan pilar lainnya beberapa kali melihat ekspresi dan tatapan yang sangat-bukan-Kyojuro.
Pria itu pernah menatap Shinazugawa Sanemi dengan dingin saat pilar angin itu menjelek-jelekkan Giyuu. Kyojuro juga pernah berekspresi seolah-olah akan membunuh Uzui Tengen saat pilar suara itu bertanya tentang 'aktivitas malam' Kyojuro dan Giyuu. (Sanemi dan Tengen yang terbiasa melakukannya mendadak merasa merinding karena perubahan Kyojuro yang cukup drastis.)
Iguro Obanai pernah menanyakannya, tapi Kyojuro hanya menanggapinya dengan tawanya yang biasa. "Memangnya apa yang aku lakukan?" tanyanya dengan senyuman.
Puncaknya adalah saat pertemuan darurat antar pilar setelah Tokito dan Mitsuri kembali dari desa pembuat pedang.
Amane yang menggantikan kehadiran suaminya akhirnya mengatakan tentang Tomioka Giyuu yang dikirim ke utara untuk membantu desa yang diganggu sekelompok iblis dan sedang menyelesaikan misi jangka panjang. Itu sebabnya wanita itu tidak bisa hadir dalam pertemuan mendadak ini.
Kyojuro langsung bersuara. Nadanya dingin dan mengancam. Seolah-olah dia sedang berhadapan dengan iblis. Ekspresinya menggelap. "Kenapa tidak memberitahu kami lebih awal? Kenapa kita tidak mengirimkan bantuan dan kenapa dia harus melakukan misi panjang seperti itu? Amane-sama, tolong izinkan aku pergi menyusulnya agar tugasnya lebih cepat selesai."
"Rengoku!"
"Rengoku-san?!"
"Hoi! Beraninya kau berkata seperti itu pada Amane-sama!"
"Re-rengoku-san..."
"Namu... Rengoku, tolong tenang. Ah, anak malang..."
Pilar lainnya langsung menegur. Bagaimanapun ucapan dan sikap Kyojuro sudah keterlaluan.
"Tidak bisa, Rengoku-sama." Amane langsung menengahi sebelum mereka bertengkar. "Para pilar akan diminta melakukan latihan khusus setelah ini untuk menciptakan tanda. Seluruh pemburu iblis dari tingkat Mizunoto, Mizunoe, Kanoto, Kanoe, Tsuchinoto, Tsuchinoe, Hinoto, Hinoe, Kinoto, dan Kinoe juga akan ada dibawah pelatihan kalian."
"... tanda?"
"Seorang iblis telah mengalahkan matahari. Dan kemungkinan besar Kibutsuji Muzan akan mengubah tujuannya dan menyerang kemari. Pertempuran besar akan segera dimulai. Lalu kami mendapat laporan bahwa ada tanda aneh yang muncul pada Kanroji-sama dan Tokito-sama saat mereka bertempur melawan iblis bulan atas keempat dan kelima."
"..."
"Jadi aku ingin bertanya bagaimana kalian bisa mendapatkan tanda itu dan apa saja syarat untuk mendapatkannya." Amane menunduk dan melanjutkan ucapannya setelah beberapa saat. "Selama masa sengoku, ada beberapa ahli pedang dari nafas pertama yang nyaris membunuh Kibutsuji Muzan. Mereka semua memiliki tanda yang mirip dengan lambang iblis."
"Aku belum pernah mendengarnya. Kenapa kita menyembunyikan hal tersebut?" tanya Sanemi. Pilar lainnya juga memikirkan hal yang sama, karena, ya. Kenapa mereka menyembunyikan kenyataan itu?
"Karena banyak orang yang merasa tanda itu tidak pernah muncul. Dan karena itulah informasi terkait tanda itu semakin pudar seiring berjalannya waktu. Organisasi pemburu iblis hampir runtuh berkali-kali, sehingga mungkin penerusnya mati dalam masa tersebut. Namun satu hal yang pasti, ketika seseorang memperoleh tanda tersebut, tanda itu akan menyebar ke orang lain seolah-olah tanda itu beresonansi."
Kali ini Kiriya—penerus Ubuyashiki selanjutnya yang menjelaskan. "Saat ini orang pertama yang memiliki tanda itu bukan salah seorang pilar yang ada di sini. Melainkan Kamado Tanjiro. Dia adalah orang pertama yang memiliki tanda itu. Namun ketika kami menanyakannya, dia kesulitan menjelaskannya. Kami sudah hampir menyerah, tapi kemudian kami mendapat kabar bahwa ada dua pilar yang juga mendapatkan tanda itu."
"Jadi kumohon beritahu kami, Kanroji-sama, Tokito-sama."
Kanroji Mitsuri, seperti dugaan, juga kesulitan menjelaskannya. Untungnya Tokito mampu menjelaskannya.
Sebelum pertemuan itu ditutup, Kyojuro lagi-lagi bertanya tentang Giyuu. Nadanya masih dingin, tapi ekspresinya sudah kembali seperti biasa. "Semua pilar diwajibkan untuk ikut dan Tomioka Giyuu adalah seorang pilar. Bukankah dia juga harus kembali?"
"Dia akan kembali, Rengoku-sama. Kami sudah mengirimkan pesan melalui gagak Kasugai padanya."
"Kami mengerti. Tolong informasikan kepada Oyakata-sama kalau kita akan melakukan sesuatu tentang hal ini, jadi beliau bisa tenang." Gyomei dengan tangan terkatup dan ekspresi serius berkata.
Amane dan kedua anaknya membungkuk, "kami keluarga Ubuyashiki mengucapkan terima kasih banyak pada kalian semua." Lalu setelahnya mereka pergi.
"Sepertinya memunculkan tanda ini akan menjadi prioritas utama bagi para pilar." Komentar Shinobu. "Tapi maafkan aku, aku harus bekerja sama dengan Tamayo untuk menciptakan racun dan obat untuk mengubah Nezuko kembali menjadi manusia. Jadi aku tidak bisa mengikuti latihan ini."
"Baiklah. Kalau begitu aku akan membagi latihan pilar ini. Kalian bisa melatih mereka sesuai kemampuan kalian. Aku tidak pintar mengajar. Jadi aku hanya akan memberikan latihan penguatan otot."
"Aku akan memberikan latihan konsentrasi dan refleks." Kyojuro berkata. Lalu setelahnya bangkit dan pergi dengan senyuman yang cukup aneh. "Latihannya di kediaman pilar air. Ayahku akan marah jika latihan di kediamanku. Sisanya terserah kalian."
Setelah Kyojuro menghilang dibalik pintu, sisa pilar lainnya saling bertukar pandangan.
"Bukannya dia bertingkah aneh belakangan ini?" Sanemi bertanya.
"Awalnya aku berpikir kalau dia hanya merindukan Tomioka. Tapi sikapnya tadi benar-benar bukan Rengoku yang kita kenal." Kini gantian Iguro yang menjawab. "Aku tidak menyangka dia akan menatap Amane-sama dengan ekspresi membunuh seperti itu."
"Aku mempunyai beberapa pemikiran." Shinobu bersuara, "kemungkinan Rengoku-san memiliki 'ketergantungan' pada Tomioka-san. Dan dia sudah pergi selama nyaris satu tahun. Jadi aku rasa 'pengendalian emosi' Rengoku-san mulai pudar."
"Ketergantungan? Lucu sekali. Bagaimana bisa dia menjadi seperti itu? Pada Tomioka pula!"
"Sangat bukan Rengoku yang kita kenal... aku rasa dia tidak 'ketergantungan' seperti katamu. Dia lebih seperti... terlalu merindukan Tomioka?"
"Kita baru saja melihatnya sendiri. Rengoku bereaksi ketika Amane-sama memberi tahu bahwa Tomioka ditugaskan dalam misi panjang."
"Aku merasa telah melihat tatapan penuh obsesi barusan... entah itu benar atau tidak..."
Himejima Gyomei bergumam dan menghentikan pembicaraan mereka. "Namu... itu tidak penting sekarang... kita harus segera melakukan pelatihan pilar ini..."
"Itu benar. Aku akan memperbaiki cara mereka berpedang. Uzui juga harus dipanggil untuk melatih mereka."
"A-ah! Aku akan menangani pelatihan kelenturan!"
"... aku... latihan pergerakan cepat..."
"Aku akan memukul mereka tanpa henti."
"Shinazugawa, jangan sampai mereka mati."
"Tch!"
"Kalau begitu, kita mulai latihannya saat semua pemburu iblis sudah mendapatkan informasinya... Amidabutsu..." Gyomei mengatupkan tangan dan menangis seperti biasanya.
Yang lainnya mengangguk menyetujui dan mereka bubar.
Hanya Shinobu yang tetap tinggal.
"Tamayo-san. Kenapa kamu diam disana?"
Sosok wanita keluar dari balik dinding, membungkuk dan melangkah mendekati Shinobu dengan ekspresi serius. "Kocho-san. Ada yang ingin aku bicarakan."
Shinobu mengerutkan dahi. Dia sebenarnya tidak suka jika harus bekerja sama dengan iblis. Tapi selama mereka bisa membunuh Kibutsuji Muzan, dia akan melakukan apapun.
"Datanglah ketempatku nanti malam. Ini mengenai..." Tamayo tidak melanjutkan ucapannya dan menggunakan bahasa tubuh untuk mengatakan 'pilar air' dan 'jangan katakan pada siapapun'.
"Apa? Bagaimana bisa? Bukankah dia...?"
"Itu yang akan aku bicarakan nanti."
Dengan ketidak percayaan yang masih terlihat jelas, Shinobu menyetujui permintaan Tamayo.
Dia juga harus memastikan sesuatu.
.
.
.
Tomioka Giyuu dengan mudah pergi tanpa diketahui siapapun (kecuali Ubuyashiki). Bahkan Kanzaburo tidak tahu dimana dia berada sekarang karena gagak itu dilarang untuk mengikutinya.
Hidupnya berubah menjadi sangat tenang dan membosankan. Tapi kehadiran nyawa di perutnya membuat Giyuu terkadang merasa sangat tidak sabar. Dia tidak sabar menanti kehadiran anak-anak mereka. (Tamayo mengkonfirmasi bahwa dia mengandung anak kembar.)
Kadang-kadang Giyuu merasa sangat merindukan sosok Kyojuro. Jadi dia mendengarkan cerita dari Yushiro—pengikut Tamayo saat anak itu keluar atau menjadi penghubung antara Ubuyashiki dengan mereka.
Dia masih berlatih pada awal kehamilan, tapi sejak memasuki bulan ketujuh, Giyuu benar-benar berhenti berlatih dan memegang pedang. Hari-harinya kemudian diisi dengan mengusap perutnya dan menulis surat juga catatan.
Waktu berlalu dengan cepat tanpa Giyuu sadari. Anak-anaknya telah lahir, begitu tampan dan berisik. Anak yang pertama berambut hitam dan memiliki mata sewarna api. Persis dengan mata ayah mereka. Sedangkan adiknya memiliki rambut sewarna api dan mata biru yang cerah. Tangisan mereka nyaring, namun cepat tenang dalam pelukan Giyuu.
Giyuu menamai mereka Rengoku Giichi dan Rengoku Tojuro.
Anak kembar tidak identik itu suka sekali mengenggam ujung haori Giyuu saat tertidur, membuat Giyuu tidak dapat bergerak dari tempatnya hingga kedua anaknya itu bangun nanti. Tapi dia tidak keberatan. Hati Giyuu terisi dengan kebahagiaan dan dia bersedia melakukan apapun untuk melindungi dan membahagiakan mereka.
Tamayo kadang-kadang akan ikut bermain dengan mereka dan menjaga mereka sementara Giyuu kembali berlatih untuk mengembalikan refleksnya.
Sampai pada suatu malam, Tamayo mendadak muncul bersama dengan Shinobu.
"Tomioka-san?"
"!" Giyuu terkejut dan hatinya seketika diselimuti ketakutan. Tapi tidak ada tanda-tanda Kyojuro di antara mereka, sehingga rasa takutnya pelan-pelan memudar. "...Kocho."
Shinobu melihat bayi di pelukan Giyuu dan dia tidak dapat mempertahankan ekspresinya. "Jadi selama ini kamu hamil dan berada di sini, Tomioka-san?"
"Kocho-san, silahkan duduk lebih dulu. Yushiro, tolong jaga Giichi-kun dan Tojuro-kun. Tomioka-san, tolong ikut dalam pembicaraan ini."
Mereka bertiga duduk berhadapan. Ditengah-tengah mereka ada meja bundar yang sebelumnya Yushiro siapkan.
"Tamayo-san, Tomioka-san, bisa kalian jelaskan hal ini?" tanya Shinobu. Dia ingin penjelasan dari pilar air yang hampir setahun telah 'bertugas' dan kini sedang berada di depannya. Telah menjadi seorang ibu dan tinggal bersama iblis.
"... saat itu aku hamil." Jawab Giyuu, mencoba merangkai kalimatnya. Dia sangat buruk dalam bercerita. Jadi Giyuu mencoba memperpendeknya. "Karena takut Kyojuro... membunuh mereka. Aku pergi dengan izin dari Oyakata-sama."
Kerutan di kening Shinobu semakin dalam. Suaranya serius. "Membunuh mereka? Tomioka-san, aku tahu bahwa kamu pernah mengandung sebelum ini dan anak dalam kandunganmu saat itu tidak dapat terselamatkan. Tapi Rengoku-san? Bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa dia yang membunuh calon anak kalian?"
"... Aku tidak sengaja menemukan buktinya saat mencuci seragamnya." Giyuu menunduk dan meremas bajunya, "... dia tidak pernah menginginkan aku hamil... aku tidak bisa membiarkannya membunuh anak kami lagi..."
Shinobu menutup bibirnya dengan ekspresi tidak percaya. Dia memang telah memiliki dugaan lain sejak tidak sengaja melihat kilat berbahaya di mata Kyojuro. Tapi dia tidak menyangka bahwa dugaannya akan menjadi kenyataan. Bahkan lebih parah dari itu.
"Dia kadang... jahat dan tidak akan ragu menyakiti dirinya sendiri."
"Dan juga tidak ragu menyakitimu, Tomioka-san. Aku tidak lupa bahwa kamu pernah datang kemari dengan tubuh penuh bekas luka dan cengkraman. Terutama di bagian leher dan pergelangan tanganmu." Tamayo menambahkan.
"Kalau begitu Rengoku-san jelas sakit jiwa, Tomioka-san. Bagaimana bisa kamu tidak meninggalkannya? Selama kepergianmu ini, dia menjadi tidak terkontrol! Rengoku-san bahkan hampir menyerang Amane-sama saat pertemuan antar pilar tadi!" Shinobu setengah menjerit. Dia benar-benar tidak menyangka ini semua terjadi di belakang mereka selama ini.
"Bagaimana bisa aku meninggalkannya?" Giyuu balas bertanya. "Ini memang terdengar gila, tapi aku mencintainya. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Dia membutuhkanku... tidak. Dia hanya menginginkanku sejak awal."
Tamayo menatap Shinobu dan menggeleng. "Aku sudah mencoba meyakinkannya berkali-kali. Tapi Tomioka-san tetap menolaknya."
Shinobu tidak mengerti. Satu-satunya yang terpikirkan adalah mereka berdua sama-sama gila. Entah itu Kyojuro yang memang sakit jiwa dan Giyuu yang terlalu lemah hingga tidak bisa meninggalkan Kyojuro begitu saja.
Tanpa sengaja tatapannya jatuh pada tangan kiri Giyuu. Pada jari manisnya masih tersemat cincin yang Kyojuro berikan. Dan dia menyerah. Shinobu tahu dia tidak bisa menghentikan Giyuu.
"Tomioka-san, apa kamu tahu bahwa latihan pilar akan dimulai?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Giyuu mengangguk, mengikuti alur pembicaraan yang mendadak berubah. Lagi pula dia sudah mendapatkan informasinya dari surat yang dititipkan Ubuyasiki pada Yushiro. "Aku tahu. Aku berencana kembali sebulan lagi."
"Sebulan?"
"Aku sedang melatih teknik Sabito untuk kemungkinan terburuk." Giyuu menyentuh jantungnya sendiri, "butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya."
Shinobu menatap Giyuu lurus-lurus, dalam sedetik dia tahu ada yang salah. Terutama karena dia tahu bahwa Sabito sudah lama mati. "Tomioka-san, bisa kamu jelaskan?"
"... teknik pernafasan roh."
"!"
"Sabito yang menciptakannya. Tapi sebagai imbalan dari kekuatan luar biasa yang didapat, setelah beberapa waktu organ tubuh akan hancur dan meledak. Dengan kata lain... nyawa."
"Kamu berniat bunuh diri?" tanya Shinobu. Dia langsung mengerti maksud Giyuu karena sebenarnya dia merencanakan hal yang sama. "Terlebih lagi, aku belum pernah mendengar pernafasan itu!"
"Tomioka-san, aku juga belum pernah mendengarnya. Apakah Sabito ini... menciptakannya sendiri?"
"... Sabito yang menciptakannya secara tidak sengaja saat kami berlatih di gunung Sagiri. Tapi pernafasan itu langsung merusak salah satu paru-parunya setelah dia dirasuki salah satu hantu yang ada disana. Sejak saat itu kami tahu bahwa teknik itu terlarang dan bisa membunuh diri sendiri, tergantung kekuatannya."
"..."
"Dan tidak. Aku tidak berniat bunuh diri. Aku hanya bersiap untuk kemungkinan terburuk."
Tamayo mengerutkan kening, tampak tidak menyetujui pemikiran Giyuu. "Lalu bagaimana dengan anak-anakmu? Aku dan Yushiro tidak mungkin bisa mengurus mereka. Lagi pula, kemungkinanku untuk selamat setelah berhadapan dengan Muzan untuk kedua kalinya sangat kecil."
"... aku akan meminta Rengoku-san menjaga mereka." Jawab Giyuu kelewat tenang. Seolah-olah dia sudah merencanakan semua ini sejak lama. "Bagaimanapun, Giichi dan Tojuro adalah keturunan mereka."
Shinobu baru akan membuka bibir saat suara tangisan terdengar. Yushiro lalu muncul dengan Giichi di gendongannya, sedang menangis keras. Cepat-cepat Giyuu mengambilnya dan mencoba menenangkannya.
"Sepertinya dia lapar." Ujar Tamayo setelah memperhatikan beberapa saat.
Giyuu hanya menoleh sebentar, lalu pergi tanpa mengucapkan apapun.
"Ara, Tomioka-san tidak berubah."
"Tsk! Dia memang selalu begitu! Tamayo-sama, kenapa kamu membiarkannya begitu saja?!"
"Yushiro. Jaga ucapanmu." Tamayo menegur. Lalu tatapannya jatuh pada Shinobu, "Kocho-san, ayo kita kembali bekerja. Waktu kita tinggal sedikit."
"Ya, Tamayo-san."
.
.
.
Flashback, Gunung Sagiri, 8 tahun yang lalu.
.
Note; Tomioka Giyuu dan Tomioka Sabito berumur 13 tahun. Mereka adalah sepupu jauh.
.
.
Suara gesekan kayu terdengar berkali-kali. Jebakan-jebakan yang sengaja dipasang dihindari dengan cepat. Pohon menjadi tempat persembunyian hingga mereka berdua lagi-lagi saling berhadapan.
"Kamu kalah lagi, Yuu."
Sabito, sepupu Giyuu sekaligus lawan berlatihnya kini sedang berdiri di depannya. Pedang kayu untuk latihan mereka sudah retak—bahkan milik Giyuu sudah patah karena seringnya mereka beradu.
"Aah! Kenapa kamu kuat sekali?!" Giyuu membuang pedang kayunya yang patah begitu saja dan mendengus. "Aku belum sepenuhnya menguasai pernafasan air!"
Anak laki-laki di depannya tertawa. "Ayolah Giyuu, aku tahu kamu sudah menguasainya. Kamu hanya tidak menggunakannya!"
"Aku tidak terbiasa!"
Tawa Sabito semakin kencang mendengarnya. "Apakah kamu gugup?" tanyanya setelah tawanya cukup mereda. "Ujian kita semakin dekat."
"Uh. Aku terlalu fokus menghindar hingga melupakan pernafasan. Aku tidak yakin akan berhasil di ujian itu nanti."
"Jangan bilang begitu! Giyuu pasti berhasil!" Sabito menepuk kedua pundak Giyuu dengan senyum lebar, "ngomong-ngomong, aku rasa aku tidak sengaja menciptakan cabang pernafasan lain."
Alis Giyuu terangkat. Wajah cantiknya penuh kebingungan dan penasaran. "Apa itu?"
Sabito malah menarik tangan Giyuu untuk masuk lebih dalam kedalam gunung bersamanya.
"Sabito! Aduh—pelan-pelan!"
Mereka sampai di depan sebuah batu besar. Di sekitar batu itu, batang pohon-pohon penuh goresan. Hanya batu itu saja yang tampaknya sama sekali tidak tergores.
"Disini!"
Giyuu menoleh ke kanan dan kiri, lalu menatap sepupunya yang kini sudah berdiri di atas batu besar dihadapannya. "Bagaimana caramu menciptakannya? Apa namanya?"
Senyum lebar diperlihatkan, kemudian Sabito mengeluarkan pisau dari kantungnya dan mengiris jarinya sendiri.
"Sabito! Apa yang kamu-?!"
"Pernafasan Roh; Teknik pertama; pemanggilan."
Seketika ada sebuah sosok transparan yang perlahan-lahan menjadi jelas di samping Sabito seiring dengan menetesnya darah.
"Lihat, Giyuu! Aku benar-benar menciptakannya!"
Sosok transparan itu membawa katana, pakaiannya hitam—seperti seragam pemburu iblis. Wajahnya tegas dengan rambut yang setengahnya dipotong pendek. Sisa rambutnya yang panjang dikepang samping.
"Perkenalkan, ini tuan Kazuto! Tuan Kazuto, ini Giyuu, sepupuku dan satu-satunya keluargaku yang tersisa."
Tuan Kazuto hanya mengangguk samar. Sepertinya dia tidak bisa bicara, atau mungkin Giyuu yang tidak bisa mendengarnya.
Sabito tersenyum bangga dan mengusap hidungnya, "bagaimana? Hebat bukan?! Aku bisa memanggil dan berkomunikasi dengan mereka! Giyuu mau coba tidak?"
"Eh?" tiba-tiba Sabito sudah mengibaskan lengannya kearah tuan Kazuto dan melompat turun setelah roh itu menghilang.
"Caranya mudah kok! Tekniknya mirip pernafasan air, tapi pada teknik pertama kamu bisa memanggil nama 'orang' yang sudah mati dalam pikiranmu sambil menggunakan darahmu sebagai media pemanggilan! Aku belum menemukan teknik yang kedua... dan aku tidak tahu guna pernafasan roh ini dalam pertarungan. Tuan Kazuto bilang bahwa tidak bisa membantuku saat bertarung karena dia tidak bisa menyentuh makhluk hidup. Jadi aku belum sepenuhnya mengerti cara memakai pernafasan ini."
Wajah Giyuu memucat, tapi seolah-olah mendapat sebuah ide, dia kemudian mengangguk semangat. "Bagaimana dengan Tsutako-neesan?! Apa Sabito bisa memanggilnya?!"
Sabito terdiam, "aku tidak pernah memikirkannya! Akan aku coba! Atau Giyuu mau mencobanya?"
"Kamu saja. Kalau aku, nanti malah gagal. Yang bisa melakukan pernafasannya kan kamu!"
"Benar juga! Baiklah, aku coba sekali lagi!" pisau kembali dikeluarkan dan jari kembali diiris. Kali ini darah menetes cukup deras. "Pernafasan Roh; Teknik pertama; pemanggilan."
Sebuah bayangan perlahan-lahan muncul, tapi belum sempat menjadi jelas, sosok itu pecah dan menghilang. Membuat Giyuu dan Sabito terkejut setengah mati.
"Sabito! Apa yang terjadi?"
"Aku tidak tahu! Kenapa ini gagal? Padahal sebelumnya aku bisa memanggil yang lainnya!"
Mereka sama-sama terdiam. Apakah roh tadi benar-benar kakak mereka? Lantas kenapa pecah dan menolak panggilan Sabito seperti itu?
"Jangan-jangan teknik ini tidak bisa digunakan untuk memanggil roh yang memiliki hubungan darah dengan kita?" tanya Giyuu ragu-ragu. Tangannya dengan gesit membersihkan tangan Sabito yang penuh dengan darah dan membalut lukanya.
"Bisa jadi seperti itu! Atau mungkin aku harus menggunakannya dengan hasrat bertarung! Giyuu, ayo kita coba lagi! Kali ini cobalah serang aku!"
Tapi Giyuu menggeleng. "Tidak. Kita coba lagi besok saja. Tanganmu terluka seperti ini, ayo kita ke Urokodaki-sensei dan mengobatinya!"
"Tapi kamu ingin bertemu dengan Tsutako-neesan bukan?!"
"Aku ingin! Tapi Sabito lebih penting! Bagaimana jika kamu tidak bisa berlatih karena jarimu terluka? Lagipula ini sudah mulai gelap. Ayo kita kembali saja!"
Sabito mendengus, "baiklah-baiklah. Makomo juga pasti sudah mencari kita. Ayo kembali."
Mereka turun gunung sambil bergandengan tangan. Dibawah, Urokodaki sudah menunggu kehadiran mereka bersama dengan Makomo.
"Kalian kemana saja?"
"Ke atas gunung, berlatih di sekitar batu besar." Sabito yang menjawab. Giyuu di sebelahnya mengangguk-angguk dan memperlihatkan tangan Sabito yang terluka pada Urokodaki.
"Sensei, tangan Sabito terluka saat berlatih tadi." Lapornya.
Urokodaki mengernyit dibalik topeng Tengu-nya saat melihat tangan Sabito. Jelas-jelas luka yang didapatkan Sabito bukan berasal dari pedang kayu atau jebakan yang dibuatnya. Itu lebih terlihat seperti sengaja dilukai oleh pisau.
"Yaampun! Apa yang terjadi pada tangamu?! Giyuu, kamu tidak terluka, kan?! Sabito-kun! Kamu harus lebih hati-hati!" Makomo memekik dan langsung masuk untuk mengambil obat setelah memperingati Sabito untuk lebih berhati-hati.
"Hehe, aku akan lebih hati-hati setelah ini."
"..."
"Sensei? Apakah ada yang salah?" Diamnya Urokodaki menyebabkan Giyuu bertanya-tanya. Sedangkan Sabito yang menyadarinya ikut memperhatikan master mereka itu.
"... tidak. Masuklah, obati luka Sabito kemudian makan."
Sabito dan Giyuu tidak bertanya lebih lanjut dan mengikuti perintah Urokodaki.
Mereka makan malam seperti biasanya, kemudian mandi dan pergi tidur setelah mengoleskan obat pada telapak tangan Sabito sekali lagi.
Keesokan harinya, Giyuu dan Sabito kembali ke tempat dimana batu besar itu berada.
Tidak seperti kemarin, kali ini Sabito hanya berdiri diam di depan batu itu. Tangannya memegang pedang kayu dan sebuah pisau di tangan lainnya.
"Uh, Sabito, kamu yakin?"
"Hmm... yakin. Ayo kita coba dan panggil Tsutako-neesan!" Sabito berbalik menghadap Giyuu dan mengiris jarinya dengan pisau, lalu memasang kuda-kuda bertarung dan menutup mata untuk berkonsentrasi.
"Ka-kalau begitu aku mulai..." Giyuu dengan gugup menutup matanya dan mencoba berkonsentrasi. "Mizu no Kokyu: San no kata: Ryūryū mai."
"Pernafasan Roh; Teknik Pertama; Pemanggilan."
Mereka membuka mata bersamaan dengan tubuh Giyuu yang bergerak cepat menyerang Sabito.
Sabito menghindar, membalas serangan Giyuu dengan teknik pedang biasa dan berputar di udara sebelum mendarat dengan sempurna di atas dahan pohon.
Giyuu baru saja akan menyerang saat sosok Tuan Kazuto muncul di sebelahnya dan menyerangnya, membuatnya otomatis menghindar. Dia tidak tahu apakah serangan Tuan Kazuto akan melukainya atau tidak. Giyuu hanya berjaga-jaga.
"Pernafasan Roh; Teknik Kedua; Kerasukan!"
Tuan Kazuto mendadak menghilang bersamaan dengan Sabito yang menyerang dengan teknik yang belum pernah Giyuu lihat sebelumnya.
"Kaminari no kokyu: San no kata: Shiubun seirai!"
Gelombang petir mendadak menyerbu dari segala arah dan Giyuu langsung menutup mata karena terkejut dan takut. Dia tidak akan sempat menghindar dan terkena teknik itu pasti akan sangat menyakitkan!
"Mizu no kokyu: Shichi no kata: Shizuku wa Mondzuki!" seseorang langsung melompat dan melindungi Giyuu. Dia juga menangkis serangan yang dilancarkan Sabito.
"Urokodaki-sensei!" teriak Giyuu saat menyadari bahwa dia sama sekali tidak terluka. "Sabito—!"
"Apa yang kalian lakukan? Sabito, dari mana kamu belajar teknik itu?"
Tapi Sabito tidak menjawab pertanyaan Urokodaki dan malah berdiri kaku sebelum mendadak memuntahkan darah.
"Uhuk!"
"Sabito! Apa yang terjadi? Hey! Sabito! Bertahanlah! Ada apa denganmu?!" Giyuu langsung berlari dan menopang Sabito yang nyaris jatuh. Urokodaki juga ikut mendekat dan memeriksa Sabito dengan seksama.
"!"
"Urokodaki-sensei! Ada apa dengan Sabito?! Kenapa darahnya tidak berhenti?!"
Giyuu menjerit. Dia benar-benar khawatir. Ketakutan melingkupinya. Apakah Sabito juga akan meninggalkannya sendirian? Seperti keluarganya?
Urokodaki tidak menjawab pertanyaannya dan malah dengan cepat menggendong Sabito.
"Ayo turun. Kondisinya benar-benar gawat."
Tubuh Giyuu seperti disiram air es. Gadis kecil itu langsung berlari mengikuti langkah Urokodaki sambil mengigit bibirnya sendiri.
.
.
.
Paru-paru sebelah kanan Sabito hancur dan dia harus beristirahat setidaknya setahun penuh.
Urokodaki sudah mendengar penjelasannya dari Giyuu sebelumnya, dan kini dia duduk di sebelah Sabito dan Giyuu.
"Pernafasan itu terlalu berbahaya. Jangan memakainya lagi. Sabito dirasuki dan 'Tuan Kazuto' yang kalian bicarakan ini hanya menggunakan satu teknik, tapi sebagai ganti dari teknik itu kamu kehilangan sebelah paru-parumu."
Sabito melirik Giyuu yang tertunduk dan menggenggam tangannya erat-erat. Gadis itu pasti merasa bersalah padanya sekarang dan akan mulai menyalahkan dirinya sendiri.
"Menggunakan darah untuk 'media' pemanggilan juga adalah sesuatu yang... tidak wajar. Ini hanya asumsi, tapi jika teknik ini digunakan lagi, kamu bisa saja mati. Aku melarang kalian menggunakan teknik itu lagi. ini demi kebaikan kalian sendiri."
"Maaf, Urokodaki-sensei. Kami tidak akan mengulanginya lagi."
Urokodaki hanya diam, lalu mengangguk dan bangkit berdiri setelah mengusap kepala mereka dengan sayang. "Istirahatlah. Sudah terlalu malam."
Tapi kedua anak itu tidak masuk dan beristirahat.
"Giyuu, jangan menyalahkan diri sendiri ya."
Giyuu hanya diam, pipinya basah dan dingin. Sedari tadi gadis itu sudah mati-matian menahan tangisnya.
Sabito meremas tangan Giyuu di genggamannya dan menghapus air mata gadis itu, "ini bukan salah Giyuu. Jadi Giyuu tidak boleh menyalahkan diri sendiri. Aku akan marah padamu kalau kamu menyalahkan dirimu sendiri."
"Tapi itu salahku. Jika saja aku tidak mengatakan ingin bertemu neesan—"
"Shh! Tapi Giyuu ingin bertemu dengan Tsutako-neesan kan? Aku juga ingin bertemu dengannya." Sabito beralih memeluk Giyuu, menepuk-nepuk punggung sepupunya itu dengan sayang. "Aku yang menemukannya, dan sekarang aku tahu kalau itu berbahaya. Malah aku bersyukur Giyuu mengatakan itu hingga aku ingin mencobanya."
"Bagaimana kamu bisa bersyukur karena itu?! Kamu kehilangan satu paru-paru! Bagaimana bisa? Kenapa?!" tangis Giyuu pecah. Dengan gemetar ditangkupnya kedua pipi Sabito dan menatapnya dengan mata dan pipi basah. "Kenapa kamu malah bersyukur?!"
"Karena akhirnya aku bisa menemukan teknik kedua berkat Giyuu. Lalu aku juga tahu kalau itu berbahaya. Bisa Giyuu bayangkan jika aku menemukannya saat sedang melawan iblis? Berkat kejadian ini pula kita mendapat pengalaman."
"Hiks... Sabito tidak boleh mati! Jangan gunakan pernafasan itu lagi!"
Sabito tersenyum lembut, "iya-iya, aku tidak akan menggunakan pernafasan itu lagi. Jadi Giyuu juga harus berhenti menyalahkan diri sendiri, ya?"
"U-um.. hiks... Sabito bodoh.. hiks..."
"Aku tidak bodoh! Dan ini sudah malam. Ayo masuk."
.
.
Flashback end.
.
Kembali ke masa sekarang.
.
.
"Tsugikuni Yoriichi?"
"Ya. Itu adalah nama pemilik pernafasan pertama, Pernafasan Matahari. Dan sepertinya dia juga yang sedang Tanjiro cari." Tamayo meletakkan catatannya dan kembali menimang Giichi dengan lembut. Ekspresinya sedih dan matanya menyimpan penyesalan juga rindu ketika menimang bayi itu. "Dia pernah nyaris mengalahkan Muzan. Dia juga yang menyelamatkanku hingga aku bisa bebas dari pengaruh iblis itu."
"... begitu."
Percakapan singkat Giyuu dengan Tamayo satu bulan yang lalu membawa Giyuu sampai ke tingkat dimana Sabito belum mencapainya.
Itu adalah teknik ke tiga, dan Giyuu menamainya 'kontrak'.
Sebenarnya teknik ini lebih cocok berada di tingkat dua, namun karena Sabito sudah menciptakannya lebih dulu, maka Giyuu membiarkan tingkatan yang sudah ada. Tapi sejauh ini Giyuu belum pernah mencoba teknik ke dua—teknik yang Sabito gunakan dan merusak paru-parunya.
"Tomioka Giyuu, apakah kamu tidak percaya dengan kemampuan mereka, teman-temanmu? Pada semangat dan keinginan mereka?" Sosok pria transparan muncul di sebelahnya. Pria itu berambut burgundy, dan ada tanda pembunuh iblis yang berada di atas dahinya. Mirip dengan milik Tanjiro, tapi warnanya lebih terang. Dia memakai haori merah di atas nagagi oranye dengan hakama hitam dan katana yang dibawa di sisi kiri pinggangnya.
Giyuu hanya melirik sambil menimang kedua anaknya.
Sejak dia berhasil menggunakan pernafasan roh dan memanggil Yoriichi, roh itu sering tiba-tiba muncul. Giyuu memang tidak melepaskan tekniknya dan membiarkan saja Yoriichi berkeliaran. Sampai beberapa hari yang lalu Giyuu berhasil 'mengikat' Yoriichi dengan teknik ketiga.
Awalnya Yoriichi menolak (bahkan Yoriichi menolak dengan tegas dan sama sekali tidak bergeming dengan permintaan Giyuu), tapi Giyuu berhasil memaksanya untuk menerima 'kontrak'.
"... aku memiliki keyakinan bahwa akan muncul sebuah generasi yang akan lebih jauh melampaui generasiku sendiri. Apa kamu tidak mempercayainya? Dengan kemampuan kalian, aku yakin kalian bisa mengalahkan Muzan."
"..."
"Kenapa dari semua orang, kamu malah mempercayakan hal ini padaku? Aku kurang. Pada akhirnya aku gagal. Aku tidak bisa membunuh Muzan."
Kali ini Giyuu menjawab. "Kamu tidak bisa membunuh Muzan, tapi kamu bisa melemahkannya. Lagipula, aku melakukan ini hanya untuk berjaga-jaga. Pertarungan nanti... pasti akan sangat mengerikan."
Yoriichi tidak lagi menjawab. Pria itu hanya menatap bayi di gendongan Giyuu dalam diam.
Giichi dan Tojuro yang menyadari tatapan Yoriichi membalas dengan senyuman. Tojuro bahkan mengangkat kedua tangannya dan mencoba menggenggam ujung rambut Yoriichi (sayangnya gagal karena Yoriichi sama sekali tidak bisa menyentuh maupun disentuh apapun di dunia ini).
"Mereka menyukaimu."
"... kamu mengingatkanku dengan Sumiyoshi."
"Leluhur Kamado?"
"Ya," Yoriichi bangkit diri dan melangkah pergi. "Kalimat yang kamu katakan sama persis dengannya."
Lalu lagi-lagi dia menghilang seperti sebelumya.
Giichi berkedip dan mulai menangis. Tojuro malah bergerak dan sedikit menendang sambil merengek.
"Shh, tenang. Ibu ada di sini." Giyuu mencium mereka satu persatu dan mulai bersenandung. Di saat seperti ini rasanya Giyuu ingin segera kembali dan bertemu Kyojuro. Berada diantara lengan kokohnya dan berbagi suhu tubuh dengan detak jantung yang menenangkan sambil menggendong kedua anak mereka.
"Ibu merindukan ayah kalian..." gumam Giyuu sambil menatap cincin berwarna merah menyala yang melingkar di jarinya. "Kira-kira dia sedang apa ya, di sana? Ibu harap dia tidak marah karena Ibu meninggalkannya terlalu lama."
Giyuu menghela nafas dan memeluk anak-anaknya erat, "aku harap dia juga akan mencintai kalian..." bisiknya sedih.
Dalam hatinya, Giyuu berharap di masa depan nanti Kyojuro akan menerima anak mereka dan bisa melanjutkan hidup walau tanpa Giyuu.
.
.
.
Kabar itu datang dengan cepat. Kanzaburo mendadak hinggap di bahunya dengan kertas aneh yang menempel di tubuhnya. Lalu gagak itu memberitahu tentang kematian Ubuyashiki juga Muzan yang muncul.
Tubuh Giyuu langsung gemetaran. Giichi mulai menangis dan Tojuro ikut merengek—juga nyaris menangis seolah-olah memahami kegelisahan ibu mereka. Dia sendirian di rumah Tamayo karena iblis itu tadi mengatakan harus melakukan sesuatu. Untungnya Yushiro sudah memperingatkan Giyuu untuk bersiap sejak kemarin. Jadi yang harus Giyuu lakukan sekarang hanyalah mengambil kotak berisi surat dan catatan miliknya, kemudian pergi ke kediaman Rengoku.
Kanzaburo menemaninya, memandunya melalui jalan pintas hingga Giyuu tidak memerlukan waktu lama untuk sampai di kediaman Rengoku.
Tidak ada waktu untuk berpikir panjang. Giyuu tidak lagi memikirkan pandangan ibu dan adik Kyojuro padanya nanti karena teriakannya yang sangat tidak sopan. "RENGOKU-SAN, TOLONG KELUAR!"
Derap kaki terdengar, lalu tidak lama kemudian pintu terbuka. Ruka dan Senjuro ada di sana, menatap Giyuu dengan terkejut yang ketara.
"Tomioka—"
"Maaf, tolong jaga mereka!" Giyuu memotong ucapan Ruka dan langsung menyerahkan Giichi kedalam pelukannya. Senjuro yang ada di sebelah ibunya juga ditarik oleh Giyuu untuk diperbaiki posisi tangannya, kemudian menyerahkan Tojuro. "Rengoku-san, maafkan ketidaksopananku. Aku tahu ini mendadak. Tapi tolong jaga Giichi dan Tojuro."
Giyuu mengusap pipi kedua anaknya yang terbangun. Giichi mulai merengek dan Tojuro mengulurkan tangan padanya, mengenggam jarinya erat-erat. "Jadilah anak baik dan jangan merepotkan Rengoku-san... aku mencintai kalian..."
Dengan cepat diciumnya kedua anaknya, kemudian menyerahkan kotak berisi surat-suratnya pada Ruka. "Tolong berikan ini pada Kyojuro saat dia kembali nanti..."
"Tunggu! Tomioka-san! Sebenarnya apa yang terjadi?! Kapan kamu hamil dan kenapa Kyojuro tidak memberitahu kami?" Ruka cepat-cepat menahan haori Giyuu. Dia berhasil pulih dari keterkejutannya dan menatap Giyuu lurus-lurus. (Tentu saja Ruka langsung tahu bahwa bayi yang berada di gendongannya adn Senjuro merupakan anak Kyojuro dengan Giyuu. Bayi-bayi itu seperti kopian mereka berdua! Lagi pula mereka tahu bahwa Kyojuro dan Giyuu sudah menjalin hubungan sejak lama.)
Tapi Giyuu menggeleng, air mata menggenang di pelupuk matanya saat melihat kedua anaknya untuk yang terakhir kalinya. "Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Aku harus segera pergi."
"Tolong jaga mereka, Rengoku-san." Sedetik kemudian Giyuu menghilang. Haorinya tertinggal di tangan Ruka, membuat wanita itu merasakan firasat buruk. Terutama karena bayi di gendongannya mulai menangis kencang, begitupun dengan bayi di gendongan Senjuro.
"I-ibu! Aku harus bagaimana?! A-ah! Ja-jangan menangis..."
"Kemari, dekatkan dia dengan saudaranya. Tomioka-san meninggalkan haorinya, ini bisa membantu mereka tenang."
Senjuro dengan gugup mendekatkan bayi di pelukannya dengan saudaranya dan haori Giyuu. Tanpa disangka bayi itu langsung mengenggam haori ibu mereka dan dengan cepat kembali tenang.
"Ayo masuk dan selimuti mereka dengan haori Tomioka-san." Ruka menimang dan menepuk-nepuk Giichi agar tangis bayi itu mereda dengan telaten. "Mereka akan sakit jika terus menerus menangis."
Sementara itu Giyuu belum sepenuhnya pergi.
Wanita itu diam-diam bersembunyi dibalik dinding kediaman Rengoku. Menunggu mereka masuk dan mendengarkan tangisan kedua anaknya. Pipinya ikut basah karena air mata. Dia tidak tahu apakah akan kembali hidup-hidup atau tidak.
"Giyuu..." Kanzaburo di pelukannya memanggil, membuat Giyuu melepaskannya agar kembali menunjukkan jalan. "Caw! Lewat sini!"
.
.
.
Kibutsuji Muzan benar-benar sangat kuat. Iblis itu seolah-olah mengetahui semuanya. Setiap langkah maupun setiap nafas pemburu iblis yang dikurungnya dalam kastil abadi.
Detik pertama Giyuu melewati 'penghalang', dia sudah jatuh kedalam jurang dengan bentuk aneh di kanan kirinya. Bentuknya seperti bangunan-bangunan acak yang tergabung menjadi satu. Sangat banyak dan berliku-liku seperti labirin. Belum lagi bangunan itu seperti memiliki nyawa dan bisa bergerak bebas kesana kemari.
Seekor gagak lain tiba-tiba terbang mendekat dan memberikan pesan, "Caw! Tomioka Giyuu sampai di utara! Caw! Lima ratus meter dari Kibutsuji Muzan! Caw!"
"Caw! Giyuu! Giyuu! Selamatkan Tamayo! Cepat selamatkan Tamayo!" Kanzaburo tetap menuntun Giyuu sedangkan gagak yang lainnya pergi setelah memberikan pesan.
Giyuu bertanya-tanya bagaimana bisa pesan dari Ubuyashiki Kiriya—Oyakata-sama mereka yang baru—sampai begitu cepat. Lebih lagi, dimana pilar yang lainnya?
"Mati! Kocho Shinobu sudah mati! Caw!" gagak Kasugai lainnya memberi pesan lagi saat Giyuu melewati lorong lebar. Di sebelah kirinya ada lubang besar yang lebih terlihat seperti inti dari tempat mereka sekarang.
Kakinya dengan cepat membawanya menuju kepompong besar yang terbuat dari gumpalan daging. Tamayo ada di sana, perlahan-lahan diserap.
"Mizu no kokyu: Ku no kata: Suiryū shibuki!" kerah baju Tamayo ditarik bersamaan dengan tangan dan kakinya yang terpotong. Giyuu membawanya mundur karena gumpalan daging itu bergerak dan ingin menyerapnya juga.
"Tomioka-san!"
"Kamu baik-baik saja?" tanya Giyuu, mengubah posisi Tamayo hingga wanita itu merasa seperti karung beras karena di angkat di atas bahu.
"Aku baik-baik saja!"
"Caw! Giyuu! Bawa Tamayo ke tempat aman! Cepat!"
Raungan terendam terdengar dari gumpalan itu tidak lama kemudian.
Giyuu berlari secepat yang dia bisa mengikuti Kanzaburo. Setelah melompat dan berbelok berkali-kali, barulah dia bertemu dengan Yushiro dan Murata. Ada beberapa pemburu iblis lain yang tidak dia ketahui namanya dan bocah kuning yang selalu bersama Tanjiro.
"Tamayo-sama!" Yushiro langsung mengangkat kepala. Tangannya masih dengan cekatan memberikan pertolongan pada Zenitsu.
Tamayo dengan cepat menyembuhkan tangan dan kakinya saat Giyuu menurunkannya. "Yushiro, bagaimana keadaannya?"
"Itu pilar air!"
"Tomioka-san!"
"Kau iblis! Menjauhlah dari Agatsuma!" salah seorang dari mereka mengarahkan nichirin pada Tamayo, membuat gagak yang membawa pesan di sekitar mereka berteriak.
"Tamayo adalah teman! Wanita iblis bernama Tamayo ada di pihak pemburu iblis! Caw! Caw! Jangan menyerangnya!"
Giyuu menatap junior mereka tanpa ekspresi. "Jangan melukai mereka. Berjagalah di sini. Jangan mendekati Muzan sampai pilar lainnya datang."
"Baik!" mereka menjawab serempak. Diam-diam merasa lebih tenang karena ada seorang pilar di dekat mereka. Melawan iblis yang terus menerus berdatangan juga menjadi lebih cepat.
.
.
.
Sementara itu Kyojuro dan Tanjiro yang berhasil mengalahkan Akaza kini sedang berlari menuju utara hingga Tanjiro melihat seseorang yang seharusnya tidak ada disana.
"Ada apa Kamado?! Kenapa berhenti?!"
Tanjiro tidak menjawabnya dan berteriak pada 'orang' yang dilihatnya. "Yoriichi-san!"
Yoriichi menoleh dan melihat bahwa keturunan Sumiyoshi kini menyadari keberadaannya. Dia tidak bisa bicara pada manusia lain kecuali 'pemanggilnya'. Jadi dia hanya menatapnya tanpa ekspresi dan segera pergi untuk menghentikan kakaknya, Michikatsu.
"Tunggu! Yoriichi-san!" Tanjiro lagi-lagi berteriak. "Ada yang ingin aku tanyakan padamu! YORIICHI-SAN!"
"Kamado! Jangan mengejarnya! Fokus pada tujuan kita!" Kyojuro menarik belakang haori Tanjiro dan menampar anak itu. "Sadarlah! Bisa saja itu teknik darah iblis! Jangan terkecoh!"
"Re-rengoku-san..."
Seekor gagak kembali berteriak memberikan pesan pada seluruh pemburu iblis. "Caw! Tomioka Giyuu sampai di utara! Caw! Lima ratus meter dari Kibutsuji Muzan! Caw!"
Jantung Kyojuro langsung berdetak keras. Ekspresinya menggelap dan tangannya tanpa sadar mengepal erat. Segera saja Tanjiro terlupakan dari pikirannya.
'Giyuu! Kenapa kamu kembali sekarang? Aku akan menemukanmu dan menyeretmu pulang, lalu mengurungmu hingga kamu tidak bisa meninggalkanku lagi.' Pikir Kyojuro, lalu bergumam pelan. "Kenapa kamu bisa berada di dekat Kibutsuji Muzan? Bagaimana jika kamu terluka?"
Tanjiro mencium emosi Kyojuro dan tidak bisa tidak merinding takut. Aromanya sangat berbeda dari Kyojuro yang dia kenal. Kyojuro yang sekarang seperti pria mengerikan dengan obsesi gila. Terlebih lagi matanya menunjukkan kekejaman dan kekhawatiran yang tidak pernah Tanjiro lihat sebelum ini.
"Re-rengoku-san! Ayo pergi!"
Kyojuro langsung tersadar dan kembali berlari diikuti Tanjiro. Mereka harus secepatnya sampai dan mengalahkan Muzan sebelum iblis itu mendapatkan energinya kembali. Lagipula, semakin cepat mereka sampai, semakin cepat juga Kyojuro bertemu Giyuu kembali.
"Shinazugawa Genya dan Tokito Muichiro mati! Caw! Mati!"
"Caw! Kocho Shinobu, Tsuyuri Kanao dan Hashibira Inosuke mengalahkan iblis bulan atas kedua! Caw!"
"Iblis bulan atas pertama sudah mati! Caw! Caw! Himejima Gyomei, Shinazugawa Sanemi, Tokito Muichiro dan Shinazugawa Genya sudah menang!"
Berita demi berita terus datang. Mereka heran karena pesan gagak Kasugai benar-benar sampai lebih cepat. Ditambah lagi kastil abadi milik Muzan ini semakin bergerak tidak terkendali.
"Tim satu dan dua segera mundur! Muzan telah bangkit! Caw! Mundur! Mundur!"
"!"
Crack!
Kyojuro dan Tanjiro tidak sempat bereaksi karena tempat mereka berpijak mendadak bergerak dan Muzan sudah ada di hadapan mereka.
Tanjiro terengah. Nafasnya mendadak sesak dan genggamannya pada nichirin mengerat.
"Kamado. Tenangkan dirimu dan dinginkan pikiranmu."
Sebenarnya perasaan Kyojuro sama dengan Tanjiro sekarang. Darahnya rasanya mendidih dan selnya menjerit agar segera membunuh Muzan. Untungnya dia masih memiliki sedikit kesadaran hingga mencoba menahan diri.
"Kalian sangat gigih." Tiba-tiba saja Muzan berkata. "Aku sudah lelah dan muak dengan kalian semua."
Iblis itu mengoceh panjang lebar tentang apa yang harusnya mereka lakukan. Mengatakan dengan angkuh bahwa seharusnya mereka bersyukur dan harus melupakan apa yang terjadi daripada buang-buang nyawa dengan balas dendam.
Kyojuro tidak ingin mendengarnya dan tidak berniat mendengarnya saat tangan Muzan memanjang dan terayun kearah mereka.
BRUAGH!
'Tangannya terbang seperti pedang! Jangkauannya sangat luas dan sangat cepat! Lengah sedikit saja kami akan mati!'
"Kamado! Jangan memperpendek jarak! Kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan iblis rembulan!" Kyojuro langsung menarik kerah Tanjiro untuk mundur saat anak itu malah memperpendek jarak dan nyaris masuk kedalam jangkauan serangan Muzan. 'Sial, tidak ada bantuan dan kami dalam bahaya!'
"Kalian benar-benar membuang waktu. Apa kalian menunggu matahari terbit? Percuma saja, cahaya matahari tidak akan bisa masuk kedalam benteng ini. Lagipula... apa kalian mampu bertahan dengan empat pilar yang tersisa?"
"!"
Bersamaan dengan berakhirnya ucapan Muzan, Kyojuro dan Tanjiro terpisah. Anak itu menabrak dinding dan Kyojuro berhasil menghindari serangan Muzan dengan teknik pernafasannya. Mereka benar-benar dalam bahaya dan hampir mati berkali-kali.
CRACK!
"Hentikan semua ini!" sosok berambut merah muda muncul dan langsung menyerang Muzan sedangkan yang lainnya membawa Tanjiro mundur.
"Kanroji! Iguro!"
Muzan meraung marah dan pijakan mereka mulai bergerak liar, "apa yang kamu lakukan, Nakime sialan?!"
Mereka memanfaatkan kesempatan saat fokus Muzan teralih dan menyerang bersamaan. Sayangnya serangan mereka gagal dan tangan Muzan semakin bergerak liar.
CRACK!
CRACK!
"Bangunan ini akan runtuh!"
Baru saja diucapkan, pijakan mereka naik ke atas dan menghantam bangunan lainnya.
BOOM!
Kyojuro tidak sempat menghindar, begitupun yang lainnya.
"Caw! Satu setengah jam lagi! Satu setengah sampai matahari terbit!"
"Ugh..." tubuhnya tertimpa reruntuhan. Untung saja reruntuhan itu tidak terlalu berat dan tubuhnya tidak terluka. 'Satu setengah jam lagi masih terlalu lama! Kemana yang lain?'
Crack!
BOOM!
"Oh? Apa kalian berniat menahanku disini sampai matahari terbit?!" tubuh Muzan kembali berubah. Kali ini tidak hanya kedua tangan, di punggungnya juga muncul delapan tentakel yang bergerak cepat. "Coba saja kalau kalian sanggup!"
Tentakel Muzan langsung menyerang dan menghancurkan bangunan di sekitar mereka. Awalnya pergerakan tentakel itu sedikit lebih lambat dari kedua tangan Muzan hingga mereka bisa masuk kedalam jangakuan serangannya dan memotong lehernya. Tapi walau sudah ditebas oleh Obanai dan Kyojuro, leher itu tetap utuh seolah-olah serangan mereka tidak mengenainya.
'Sial! Regenerasinya lebih cepat dari potongan kami!'
"Kita terlalu dekat! Mundur!"
Crash!
Brugh!
Tubuh Kyojuro ditabrak, begitupun dengan Mitsuri dan Obanai. Para pemburu iblis yang tingkatnya dibawah mereka menjadikan tubuh mereka sebagai tameng untuk para pilar.
"Maju! Jadilah perisai untuk para pilar! Setidaknya kita harus memberikan perlawanan pada Muzan!"
Slash!
Crash!
Dengan mudah tubuh mereka terpotong, menambah ngeri orang yang melihatnya.
"Hentikan! Jangan!"
Mitsuri dan Tanjiro menjerit. Mental mereka pasti terguncang, begitupun Kyojuro yang merasa benar-benar tidak berguna. Namun tidak ada waktu untuk berpikir hal lainnya. Muzan sama sekali tidak memberikan waktu bahkan untuk bernafas.
"Jadi kalian masih bisa bergerak? Rupanya kalian yang memiliki tanda tidak bisa mati begitu saja."
Gerakan Muzan tiba-tiba berubah menjadi semakin cepat. Tentakelnya juga ikut berubah dan ujung tentakel itu menjadi semakin tebal dan tajam. Kyojuro sama sekali tidak bisa melihat pergerakannya dan hanya mengandalkan instingnya.
"Kanroji!"
"Jangan khawatirkan aku!"
Crack!
Sebuah bola besi yang terhubung dengan rantai melindungi Mitsuri yang nyaris terpotong bersamaan dengan Muzan yang terbakar.
"Maaf aku terlambat."
"Himejima-san! Shinazugawa!"
"Licik sekali." Muzan mengibaskan lengan dan api yang membakarnya langsung habis. Tentakelnya mulai membelah dan sisa belahan itu membentuk serangan yang mirip dengan shuriken. Gerakannya semakin cepat dan cepat, sedangkan para pilar sudah terluka dan terkena racun dari darah Muzan.
Sampai tiba-tiba Muzan berhenti.
Tubuh iblis itu bergetar dan matanya tidak lagi memperhatikan para pemburu iblis, melainkan hanya menatap ke satu arah.
"Yoriichi-san?!" teriak Tanjiro. Matanya tetap memperhatikan sosok transparan yang melangkah mendekati Muzan seolah-olah terkunci. "Yoriichi-san! Bagaimana... bagaimana kamu bisa ada di sini?!"
"Kau!"
Crash!
"!"
Tangan Muzan tiba-tiba terpotong.
Crash!
Kali ini tentakelnya juga. Iblis itu terlihat semakin marah dan kembali bergerak liar. Dia meregenerasi tangan dan tentakelnya dengan sangat cepat. Walaupun begitu, matanya sama sekali tidak berpindah dari sosok Yoriichi.
"Jangan diam saja! Ini kesempatan kita!"
Disaat Muzan terfokus pada Yoriichi, mereka menggunakan kesempatan itu untuk menyerang bersamaan.
Sekilas wajah Yoriichi terlihat terkejut melihat gerakan Tanjiro, tapi itu tidak penting sekarang.
"Kenapa kamu masih hidup?!" raung Muzan, lalu menyerang ke arah Yoriichi yang tidak bergeming sedikitpun. "Harusnya kamu sudah mati ratusan tahun yang lalu!"
Serangan itu benar-benar brutal dan cepat hingga sosok tidak terlihat yang dari tadi memotong tangan Muzan berkali-kali ikut terhempas.
BRUAGH!
BRAK!
Kyojuro mendadak merasa tubuhnya yang mati rasa dipeluk erat dan melayang. Helai hitam ada di dadanya dan hidungnya mencium aroma yang selalu dirindukannya selama setahun belakangan. "Yuu?!"
"Kyo! Kamu baik?! Mundur dan sembuhkan racun Muzan! Biar aku yang menahannya!" Giyuu tanpa aba-aba langsung melemparkan Kyojuro pada pemburu iblis lainnya yang sigap menangkap sang pilar api. "Bawa dia pada Yushiro atau iblis bernama Tamayo! Cepat sebelum racunnya membunuhnya!"
"Yuu!" Kyojuro berteriak, mencoba memberontak karena melihat punggung Giyuu yang terluka. Tapi racun Muzan yang sudah menyebar di dalam darahnya memaksanya untuk jatuh terduduk. "Kamu juga terluka! Jangan melawannya sendirian! Kembali!"
Tapi Giyuu tidak mendengarkan. Dia merasa sudah cukup dengan keterlambatannya. Keadaan Sanemi, Mitusri, Obanai, Gyomei dan Kyojuro sudah cukup parah. Inosuke, Kanao dan Zenitsu juga kini terluka semakin parah. Tanjiro tidak jauh berbeda. Anak itu sudah batuk darah di sana dan Giyuu melemparnya pada Murata yang kebetulan ada di dekatnya.
"Tomioka-san! Murata-san!"
"Murata! Urus Tanjiro!" teriak Giyuu lalu maju setelah menempelkan kertas dari Yushiro di kepalanya.
Yoriichi disana masih tetap diam dan terus melangkah mendekati Muzan. Sebanyak apapun Muzan menggerakkan tangan dan tentakelnya, sosok Yoriichi tetap tidak hilang. Hal ini membuat iblis itu sangat marah dan menghancurkan sekitar mereka hingga rata dengan tanah.
"Kenapa kamu tidak mati?!"
"..."
"Kenapa aku tidak bisa membunuh kalian?!"
Giyuu kali ini bisa melihat bahwa ada tujuh belas tentakel yang bergerak mengelilingi Muzan. Sembilan di punggungnya jauh lebih cepat dari delapan di kakinya. Kedua tangannya bergerak paling cepat, belum lagi saat tentakelnya itu membelah diri dan menyerang dengan putaran tajam.
Wanita itu menoleh kebelakang, menatap Kyojuro, Tanjiro, dan teman-temannya yang lain. Sebuah senyuman kecil terbentuk di bibirnya saat berbisik lirih. Dia sadar dia tidak bisa kembali dengan selamat. "Maaf, dan terima kasih."
Kyojuro merasakan firasat yang sangat buruk ketika melihat senyuman Giyuu. Dia ingin cepat bangkit dan berlari ke arahnya, tapi tubuhnya menolak. Setiap tulangnya menjerit sakit. Obat yang diberikan Yushiro belum bekerja penuh. Jadi dia hanya bisa berteriak putus asa.
"TOMIOKA GIYUU! JANGAN BERANI KAMU MENINGGALKANKU! JANGAN MATI! KEMBALI KESINI!"
Giyuu tidak bergeming. Wanita itu malah menoleh dan melangkah mendekati Muzan dengan tenang. Nichirin diangkat dan dengan satu sayatan lebar, lengannya berdarah.
'Tarik nafas, konsentrasi.'
"Pernafasan Roh; Teknik Kedua; Kerasukan."
Detik itu juga Giyuu merasa terhempas.
Saat dia membuka mata, yang dilihatnya adalah tubuhnya sendiri kini berdiri diam. Tanda berpola air di pipinya menghilang dan digantikan tanda yang mirip dengan milik Tanjiro di dahi dan pipi. Warnanya terang dan bilah nichirinnya yang sebelumnya berwarna biru kini berubah menjadi merah.
Dia seolah-olah sedang berada di tempat lain. Tidak terlihat dan hanya mampu menatap sekitarnya.
"Aku tidak bisa membunuhmu di masa lalu. Tapi kali ini aku tidak akan gagal. Biarpun aku gagal, para pemburu iblis pasti berhasil membunuhmu."
"Yuu! Jangan maju sendirian!"
"Tomioka! Apa yang kamu pikirkan!?"
"Tomioka...-san?"
Yoriichi maju dan bergerak gesit menghindari tentakel dan tangan Muzan. Dengan cepat dia masuk kedalam jangkauan serangannya dan memotongnya seperti terakhir kali.
"!"
Berbeda dari yang sebelumnya, kali ini tubuh Muzan tidak beregenerasi. Sama persis seperti saat pertama dan terakhir kalinya Muzan berhadapan dengan Yoriichi. "Kamu!"
"Setengah jam lagi matahari akan terbit. Aku hanya perlu menahanmu sampai matahari terbit." Nichirin diarahkan tepat didepan Muzan yang terdiam dengan ekspresi murka. "Apapun yang terjadi, hari ini kamu harus mati."
Iblis itu membuka matanya lebar-lebar, wajahnya memerah dan tubuhnya mendadak membengkak. Dia berencana meledakkan diri seperti kali terakhir. Tapi kali ini Yoriichi sudah siap untuk menebasnya hingga hancur. Dia tidak akan tertipu trik yang sama untuk kedua kalinya.
"!?" Tubuh Muzan berhenti membengkak dan kembali mengecil. Ketidakpercayaan terlihat jelas di wajahnya. "Jalang sialan itu!"
Yoriichi menatap Muzan yang kini bergetar. Entah karena marah atau takut, Yoriichi tidak tahu dan tidak ingin tahu. Yang pasti dia cukup lega karena Tamayo berhasil merusak sel Muzan dengan racunnya.
"Yoriichi-san!"
Tanjiro berteriak dari arah belakangnya. Anak itu pasti sudah menyadari bahwa dia bukanlah 'Giyuu'. Tubuhnya memang milik wanita itu, tapi jiwanya bukan.
"Yoriichi-san! Bagaimana kamu bisa ada disini? Dan Tomioka-san? Kemana Tomioka-san?!"
"Keturunan Sumiyoshi. Kamado Tanjiro."
Muzan memanfaatkan kesempatan saat Yoriichi mengalihkan pandangannya dan menumbuhkan tentakel lagi. Dia bersiap untuk melarikan diri dengan memperlambat Yoriichi, tapi tentakel itu kembali terpotong oleh Tanjiro bersamaan dengan mata Muzan yang ditebas.
"Gah! Urrghh! Kamu! Beraninya kamu! Brengsek! Kamulah monster yang sebenarnya! Bukan aku!"
Tubuh Muzan menggeliat, bergetar di tanah dengan sangat putus asa. Tapi iblis itu masih menolak kalah. Dia malah meregenerasi tubuhnya terus menerus hingga lehernya yang putus kembali tersambung dengan tubuhnya. Setelahnya Muzan langsung menyerang dengan lambat. Kekuatannya dan kecepatannya menurun drastis hingga para pilar mulai bisa mengimbanginya.
"Khehehe! Bagus sekali! Dia sudah melemah! Terus tahan sampai matahari terbit!" Sanemi tertawa penuh kegilaan dan menebas tangan Muzan berkali-kali.
"Yuu, kamu berhutang penjelasan padaku." Kyojuro ada di sebelah kiri Giyuu, meliriknya dengan ekspresi marah. Dia mencoba menyelaraskan gerakannya dengan 'Giyuu', tapi entah kenapa dia tetap tidak bisa mengimbangi gerakan yang seharusnya sudah dikenalnya dengan jelas.
"Aku bukan Tomioka." Hanya itu jawaban Yoriichi. "Tubuh ini miliknya. Aku hanya diminta untuk menahan Muzan hingga matahari terbit."
"Apa—?!"
"Rengoku-san! Dia Yoriichi-san! Penemu pernafasan pertama!" Tanjiro menjelaskan disela-sela menghindari tentakel Muzan. "Dia bukan Tomioka-san!"
Crack!
Crack!
"Caw! Lima menit! Lima menit lagi!"
"Lima menit lagi matahari terbit!"
Muzan meraung marah, lalu dengan cepat kedua lengannya berputar mengelilingi tubuhnya sendiri. Tentakelnya yang sudah dipotong oleh Yoriichi tidak dapat beregenerasi dan meledak. Tidak lama kemudian tubuh Muzan membengkak dan berubah semakin besar.
"Dia menutupi tubuhnya dengan daging!"
"!"
Bentuknya seperti bayi raksasa. Gerakannya masih lambat, tapi serangannya tetap saja memiliki dampak.
"Aku tidak bisa menebasnya! Terlalu tebal!"
Gyomei melingkari leher iblis itu dengan rantainya, mencoba menahannya di tempat. Para Kakushi ikut membantu mendorong Muzan ke timur. Matahari akan segera terbit dan mereka harus segera menyelesaikan ini.
"Jangan kabur iblis sialan!" para pemburu iblis yang lainnya menyerang bersamaan. Mereka menusuk Muzan dan menyayatnya dalam-dalam.
Cahaya matahari mulai muncul, melihatnya membuat Muzan semakin memberontak hingga rantai Gyomei putus. Setelahnya Muzan bergerak menggali tanah, ingin bersembunyi di dalamnya.
Yoriichi memandang matahari yang akan segera terbit, lalu pada Muzan yang sedang ditahan para pilar dan pemburu iblis. Tatapannya lama kelamaan terfokus pada satu orang. "Waktu kita tidak lama lagi. Aku merasakan organ tubuhmu sudah hancur sepenuhnya. Apa kamu ingin mengatakan sesuatu padanya?"
Giyuu yang dari tadi diam di tempatnya dengan ekspresi takut hanya menggeleng. 'Aku sudah mengatakan semuanya pada suratku.'
Mendengar jawaban itu, Yoriichi kembali melihat kearah Muzan dan melakukan teknik pernafasannya yang terakhir.
"Pernafasan Matahari; Teknik ke tigabelas; Api Tarian Matahari."
Seketika Muzan terbelah menjadi dua. Daging yang menutupinya mulai hancur dan Yoriichi langsung menusuk kepala Muzan dengan nichirin berbilah merah.
"Brengsek! Aku tidak mau mati! Aku tidak akan mati! Aku abadi!"
Tentakel kembali tumbuh dan akan melubangi tubuh mereka semua saat tentakel itu mendadak terbakar.
Matahari sudah terbit.
Tubuh Muzan mulai terbakar dan hangus. Dia mencoba mempertebal tubuhnya lagi dengan daging, tapi tusukan Yoriichi benar-benar melemahkannya dan Muzan benar-benar tidak bisa lepas. Jadi dia hanya bisa bergerak liar dan menggunakan kedua tangannya untuk menyerang.
"MATILAH!"
"Ayo! Ayo! Para pilar sudah kelelahan! Jangan takut!" para Kakushi menabrak Muzan dan membakarnya dengan mobil. Tanjiro dan yang lainnya melindungi Yoriichi saat Muzan ingin membunuhnya.
Iblis itu perlahan berubah menjadi abu, lalu menghilang bersamaan dengan jeritan pilu.
Tubuh mereka lemas.
Air mata mulai menetes keluar.
"Kita..."
"Menang..."
Sedetik kemudian sorakan bahagia terdengar. Mereka semua menangis penuh kelegaan, bahagia karena Muzan telah mati.
"Ini belum selesai! Ayo obati yang terluka!"
"Ayo! Bantu yang terluka!"
Giyuu menatap kebahagiaan itu dengan lega. Dia menutup mata dan melepaskan 'kontrak' dengan Yoriichi, membuatnya merasa kembali dihempaskan.
"Terima kasih, Yoriichi-san." Bisiknya sebelum benar-benar 'terbangun' di tubuhnya sendiri.
Tubuhnya sama sekali tidak terluka. Hanya ada beberapa goresan dan luka kecil. Tidak ada yang parah sampai tiba-tiba ada sesuatu di tenggorokannya yang memaksa keluar dan Giyuu kehilangan keseimbangan.
"Uhuk!"
"YUU!" Kyojuro langsung memeluknya erat sebelum jatuh menghantam tanah. "Yuu! Kamu kenapa?!"
"Tomioka-san!"
Giyuu mengangkat tangannya dengan lemah dan menggeleng. Mulutnya terus menerus mengeluarkan darah dan Giyuu tidak bisa bernafas.
Dengan sisa tenaganya, Giyuu menangkup pipi Kyojuro, mengusapnya dan menempelkan dahi mereka. Dia tersenyum dan hanya mampu berbisik lirih. "Aku... cinta... Kyo... to..long... jaga.. me...re..a..."
Setelahnya mata biru itu tertutup dan tangannya melemas.
"Yuu?"
Kyojuro memeluk Giyuu semakin erat, tersenyum dan mencium puncak kepalanya. "Tidak apa-apa, istirahatlah. Aku juga mencintaimu."
"Rengoku-san..."
"Kamu berdarah, apa kamu terluka? Tenanglah, Kakushi akan menyembuhkanmu. Tamayo pasti bisa menyembuhkanmu. Iblis itu selamat kan? Ayo bangun, kamu harus di obati lebih dulu."
Tanjiro menangis melihat Kyojuro yang hancur seperti itu.
Kyojuro sudah melihat sendiri kalau Giyuu sudah tidak bernafas dan menolak mempercayainya.
"Yuu, sayang, cintaku, duniaku. Hidupku. Ayo bangun. Kita sudah menang. Apa kamu tidak ingin ikut merayakannya?" Kyojuro mengusap pipi Giyuu, membersihkan darah disana dan menciuminya dengan lembut. "Sayang, ayo bangun. Lihat, aku disini. Jangan buat aku khawatir."
"Rengoku." Bahu Kyojuro ditepuk, Gyomei ada disana, menangis seperti biasanya. "Dia sudah mati."
"TIDAK!" bentak Kyojuro, menepis tangan Gyomei dan menatap Giyuu penuh cinta. "Dia hanya kelelahan. Aku yakin Yuu tidak akan meninggalkanku. Dia masih hidup!"
"..."
"Sayang, ayo bangun dan buktikan bahwa kamu masih hidup. Bangunlah, walau hanya sebentar. Kamu dengar aku kan? Ayo bangun Yuu, aku khawatir padamu."
"Yuu, sayang, kamu milikku. Ayo bangun. Jangan seperti ini."
"Apa kamu marah padaku? Kenapa? Ayo bangun dan katakan apa salahku. Jangan diam seperti ini."
SLAP!
"TOMIOKA-SAN SUDAH MATI, RENGOKU-SAN! SADARLAH!" Tanjiro menampar Kyojuro keras-keras sambil menangis. Walau terkadang dia takut dengan pria itu, dia tetap tidak bisa melihat Kyojuro hancur sampai gila seperti ini. "Tolong... relakan dia..."
"Apa yang kamu katakan? Giyuu hanya pingsan karena kelelahan. Dia belum mati. Kenapa kalian mengatakan Giyuu sudah mati?"
Tanjiro dan para Kakushi di sekitar mereka menangis semakin keras. Salah satu Kakushi sudah mendekat dan memeriksanya sendiri. Denyut nadi Giyuu sudah tidak ada.
Gyomei menatapnya dalam diam, lalu menangkupkan kedua tangan dan berdoa sebelum memukul tengkuk Kyojuro keras-keras hingga pingsan. "Amitabha namubutsu... maaf, Rengoku."
Pandangan Kyojuro menggelap. Hal terakhir yang dilihatnya adalah wajah Giyuu yang tersenyum damai.
.
.
.
Hal pertama yang Kyojuro lihat saat bangun adalah langit-langit kediaman Kupu-kupu.
Seluruh badannya sakit dan kepalanya pusing.
"Kyojuro, kamu sudah sadar." Suara yang selalu dirindukannya terdengar dan saat Kyojuro menoleh, Giyuu ada di sana. Ditangannya ada gumpalan selimut. "Bagaimana perasaanmu?"
"Giyuu..." tangan Kyojuro mengusap pipi wanita itu dan tersenyum penuh cinta, mengabaikan ekspresinya yang terkejut. "Kamu kembali..."
"Kyojuro.."
"Aku tahu kamu tidak akan meninggalkanku. Kamu baik-baik saja kan? Tidak ada yang sakit? Jangan menakutiku seperti itu lagi.."
"KYOJURO!" ekspresi Giyuu berubah marah. Tangannya menampar Kyojuro kuat-kuat hingga rahangnya sakit dan pipinya panas. "SADARLAH!"
Sosok Giyuu perlahan-lahan luntur digantikan oleh wajah ibunya yang menatapnya marah.
"Ibu?"
Brak!
Sosok ayah dan adiknya muncul dibalik ibunya, terlihat khawatir dan sedih.
"Ruka, sayang, ada apa? Apa yang terjadi?"
Ruka menarik nafas, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Kyojuro menganggapku sebagai Tomioka-san."
"Oh, Kyojuro, anakku, Tomioka sudah mati. Kamu harus menerima kenyataannya nak," Shinjuro, ayah Kyojuro merangkul anaknya yang terlihat kebingungan. "Dia mati dalam pertarungan terakhir kalian melawan Muzan."
"Tidak. Apa yang ayah bicarakan? Giyuu tidak mungkin mati. Dia tidak akan meninggalkanku. Kenapa kalian terus menerus mengatakan dia sudah mati?"
Senjuro memeluk keponakannya dan menangis. Ruka juga menangis dalam diam saat melihat anaknya yang seolah gila karena tidak ingin menerima kenyataan.
"Aku ingin bertemu dengannya. Dimana dia? Apakah dia masih tertidur? Biarkan aku bertemu dengannya! Aku akan menjaganya—dia akan baik-baik saja! Dia-dia tidak mungkin mati..."
Shinjuro memeluk anaknya erat-erat, "nak, relakan dia dan terimalah kenyataannya. Dia sudah tiada..."
Air mata yang sejak kemarin tidak pernah menetes kini menetes deras. "Dia tidak mungkin meninggalkanku. Ayah, tolong katakan bahwa ini bohong."
Keluarganya menangis. Tidak ada yang menjawabnya.
"Tomioka meninggalkan ini untukmu." Shinjuro meletakkan kotak berisi surat dan catatan Giyuu dipangkuan Kyojuro, lalu memandang istri dan anak keduanya yang masing-masing menggendong buntalan kain. "Dan dia memberimu bagian dirinya."
Ruka mendekatkan buntalan kain yang digendongnya pada Kyojuro hingga pria itu bisa melihat bayi berambut hitam dan mata merah keemasan. Wajahnya mirip dengan Giyuu, seolah-olah bayi itu adalah kopian sempurna dari wanitanya. Hanya warna matanya saja yang berbeda.
Dengan gemetar disentuhnya pipi bayi itu, "D-dia?"
"Tomioka-san memberimu dua, dan mereka sangat mirip dengan kalian."
Senjuro melangkah mendekat dan menunjukkan apa yang di gendongnya. Seorang bayi dengan rambut pirang dengan ujung merah di beberapa tempat. Matanya berkilauan, berwarna biru gelap dan bayi itu tersenyum lebar saat melihat Kyojuro.
"Mereka anak kami? Me-mereka kembar?" Kyojuro mencoba menggendong Giichi, memeluknya lembut dengan tatapan tidak percaya.
Ada sebersit rasa marah di hatinya. Giyuu mengandung tanpa sepengetahuannya, dan meninggalkannya setelah kemenangan mereka. Tapi rasa itu sirna saat melihat bayi di pelukannya. Mereka terlihat rapuh dan kecil. Berwajah polos dan mata bersinar yang indah.
'Inikah rasanya menjadi orang tua? Rasanya sangat menenangkan... kenapa aku tidak merasakan kebencian seperti yang biasanya aku takutkan?'
"Namanya Giichi. Yang sedang digendong Senjuro bernama Tojuro. Usianya sekitar dua atau tiga bulan."
"Giichi... Tojuro... nama yang indah."
Seakan mengerti, bayi di gendongan Kyojuro berkedip dan tersenyum. Tangannya bergerak menggapai ujung rambut Kyojuro dan mengenggamnya. Air mata Kyojuro lagi-lagi menetes.
"Giyuu pandai memilih nama... hiks... aku akan menjaga mereka... hiks... Yuu..."
Ruka mengusap pipi basah Kyojuro dan tersenyum, "kamu akan menjadi ayah yang hebat."
Senjuro naik ke atas ranjang Kyojuro dan mendekatkan Tojuro padanya. Bayi itu langsung tertawa lebar dan bergerak. Terlihat aktif dan bersemangat.
Kyojuro memeluk adik dan kedua anaknya sekaligus, diikuti oleh ayah dan ibunya.
"Mereka terlihat luar biasa..."
"Tentu saja, mereka adalah anak-anak kalian dan cucuku." Shinjuro tersenyum kecil dan menepuk punggung Kyojuro.
.
.
.
"Halo Kyojuro, bagaimana kabarmu?
Maafkan aku karena harus pergi dan tidak bisa menunggumu sadar. Aku harap kamu baik-baik saja. Oh, dan aku menyukai cincinnya. Ukurannya sangat pas di tanganku dan warnanya mengingatkanku padamu.
Ah ya, aku ingin mengatakan sesuatu.
Aku hamil anak kembar.
Kamu tahu? Aku sangat bahagia dan khawatir saat mendengarnya. Aku takut anak kita pergi meninggalkan kita lagi. Itu sebabnya aku pergi. Maafkan aku karena tidak bisa memberitahumu.
Sejujurnya, aku sangat takut dengan kepribadianmu yang kadang menjadi seseorang yang tidak aku kenal.
Maaf karena aku hanya berani mengatakannya melalui surat ini... dan jika surat ini sampai padamu, itu artinya aku sudah tiada.
Kyojuro, aku ingin meminta sesuatu.
Tolong, jaga kedua anak kita, Rengoku Giichi dan Rengoku Tojuro.
Hiduplah seperti biasanya. Aku tidak masalah jika kamu mencari penggantiku, tapi tolong jangan lupakan aku. Relakan aku pergi. Setidaknya, jika kamu menolak melepaskanku, tolong jaga anak-anak kita. Mereka membutuhkan ayah mereka. Aku yakin kamu akan baik-baik saja.
Kyojuro, aku akan selalu memperhatikan kalian.
Maaf, karena aku harus pergi secepat ini. Maaf karena aku tidak bisa mengucapkan selamat tinggal dengan benar. Maafkan aku karena lari darimu.
Aku selalu mencintaimu, Kyojuro. Sangat dan akan selalu mencintaimu.
Salam, Tomioka Giyuu."
Kyojuro melipat kembali surat yang sudah berkali-kali dibacanya dan memasukkannya kembali kedalam kotak. Tangannya kemudian mengambil buku catatan milik Giyuu dan mulai membacanya lagi dan lagi.
"Ayah! Ayah! Giichi-nii menangis lagi!" pintu kamarnya terbuka dan dua anak berbeda rambut masuk bergandengan tangan. "Giichi-nii, yang jatuh kan aku! Kenapa kamu yang menangis?"
"Hm?" Kyojuro menaruh buku catatan Giyuu dan menoleh. "Kenapa kamu bisa jatuh? Apa ada yang luka?"
"Hehe! Tidak sama sekali! Hanya lecet sedikit!"
"Hiks... ayah... Tojuro jatuh... huaaa!"
"Astaga, kemarilah." Kyojuro bangkit dan memeluk kedua putranya dengan lembut, "Tidak apa-apa. Jangan menangis. Ayah disini."
Dalam hatinya Kyojuro bertanya-tanya. Apakah dulu Giyuu juga cengeng seperti ini?
"Ayah, ayah! Tojuro tahu cara agar niisan tidak menangis lagi!"
"Tojuro berisik! Aku-hiks-tidak menangis!"
Kyojuro tertawa, membawa kedua putranya kedalam pangkuan dan mengambil haori Giyuu untuk menyelimuti mereka. "Bagaimana dengan cerita mengenai ibu kalian?"
Sorakan Tojuro dan anggukan Giichi menjadi awal mula cerita Rengoku Kyojuro mengenai kekasihnya, Tomioka Giyuu.
.
.
.
END.
A/n:
Sial, saat mengetik bagian dimana Giyuu mati, lagu Homura mendadak terputar di playerku. Aku jadi ikut menangis dan tidak tega 'membunuh' Giyuu /menangis histeris/
Lalu mengenai Yoriichi. Aku tahu dia mati dalam usia tua, tapi siapa yang peduli? Ini roh. Mereka bisa berubah menjadi wujud dan usia apapun.
Oh dan tolong. Aku mohon, jangan protes tentang ketidak jelasan alur atau Giyuu yang terlalu over power, atau tentang kurangnya adegan RenGiyuu, atau tentang betapa buruknya aku menjelaskan tentang pertarungan mereka dengan Muzan.
Aku mengerjakan ini dengan sangat perlahan (dan tidak hati-hati). Aku tahu akan ada banyak typo dan aku merasa... ah sudahlah. Yang penting selesai. /dipukul oleh pembaca/
Percaya atau tidak, aku mengerjakan ini sejak... aku meminta pendapat kalian di grup facebook. Dipotong ujian dan hari-hari sibuk, jadilah aku baru bisa menyelesaikannya sekarang.
Ini benar-benar panjang dan aku rasa seharusnya ini menjadi cerita dengan beberapa bab. Tapi aku tidak yakin bisa menyelesaikannya, jadi aku memaksakan diri untuk menyelesaikannya dalam satu bab (jika kalian merasa ada beberapa adegan atau kalimat yang terkesan memaksa dan terlalu cepat, inilah sebabnya.)
/Menarik nafas dalam-dalam/ Huft. Aku membutuhkan fluff setelah ini. Hatiku tidak kuat dengan Angst ini.
Baiklah, sampai jumpa di lain waktu! Jangan lupa jaga kesehatan!
