Kimetsu no Yaiba hanya milik Koyoharu Gotoge-sensei.

Author hanya berhak akan jalan ceritanya. Karakter dan lainnya adalah milik Koyoharu-sensei.

WARNING! Typo yang tidak disengaja, tidak jelas, OOC, alur yang berantakkan, bahasa kasar, seks, dan—ugh aku tidak tahu harus memasukkan peringatan apa lagi kedalam sini. Judul terinspirasi dari lagu Despacito milik Luis Fonsi dan Daddy Yankee (begitupun jalan ceritanya). Fem!Giyuu karena dia cantik.

Giyuu tidak menjadi... suram dan pendiam dan penyendiri. Dia ceria, tersenyum dengan ringan dan mudah bersosialisasi. Ini karena Tsutako, Sabito dan Makomo tidak mati. Dia tumbuh dengan baik, lingkungan yang sehat dan penuh kasih sayang dari saudari perempuannya, kakek mereka dan sepupunya.

Kyojuro juga tidak lantang dan berisik. Dia belajar mengendalikan suaranya sejak bekerja (karena awalnya suaranya itu menganggu fokus rekan-rekannya dan membuat bawahan mereka terkejut hingga salah menekan tombol kerja. Karena itu Kyojuro selalu mencoba menekan suaranya dan berakhir menjadi terbiasa berbicara dengan nada suara normal.)

Happy Reading!

.

.

.

Summary;

Let's make out, have sex, cuddle and have a deep talk. Then let's have sex again, go out to eat, then go back home, watch a movie and have sex again.

Denting lonceng gereja terdengar bersama sorakan bahagia. Taburan bunga beterbangan, jatuh dari udara seolah-olah anginpun ikut memainkannya.

Di atas karpet merah, berjalan dua orang yang baru saja mengucap janji suci. Sumpah sehidup semati. Wajah mereka berseri. Sang pria membawa gadisnya di antara lengannya dengan senyuman lebar yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Sedangkan sang gadis melingkarkan kedua lengannya di leher suaminya dengan senyuman bahagia.

Mereka berdua melangkah masuk kedalam mobil khusus yang akan langsung membawa mereka berdua ke bandara.

Kedua keluarga sudah setuju untuk tidak mengadakan resepsi pernikahan—atas permintaan pasangan itu. Jadi setelah pemberkatan pernikahan di gereja, keduanya akan langsung pergi untuk bulan madu di Paris.

"Bersenang-senanglah!" lambai adik sang mempelai pria.

"Dan jangan lupa bawakan aku keponakan saat kalian kembali!" adik dari mempelai wanita ikut melambai dengan senyuman jahil. Dan anak berambut peach itu langsung dicubit oleh kakak perempuan mempelai wanita.

Pasangan itu tertawa,

"Kami berangkat!"

"Hati-hati di jalan!"

Mobil itu lalu melaju, meninggalkan kedua keluarga yang baru disatukan oleh pernikahan mereka dan teman-teman mereka yang lainnya.

Di dalam mobil, mereka berdua masih saling berpegangan tangan dan tersenyum satu sama lainnya.

"Hei, ayolah. Kalian benar-benar terlihat seperti orang bodoh." Uzui Tengen—orang yang menyetir mobil mereka sekaligus teman mereka—memprotes. "Tolong jangan buat aku menjadi lalat disini."

"Uzui memang menganggu." Sang istri—Tomioka Giyuu (yang sudah berganti marga menjadi Rengoku Giyuu) membalas terang-terangan.

Suaminya hanya tertawa karena kejujuran istrinya itu. Nyatanya Tengen memang mengganggu mereka yang masih menikmati kebahagiaan hari pernikahan mereka.

"Sialan kamu Tomioka. Kenapa aku dulu menerima tawaran ini?"

"Karena kamu kalah taruhan dengan Shinazugawa dan Kocho. Salahmu sendiri melakukan taruhan bodoh itu. Benar kan, Kyo?"

Rengoku Kyojuro—suami Giyuu lagi-lagi tertawa. Dia menarik pinggang istrinya dan meletakkan pipinya di puncak kepala istrinya dengan hati-hati karena mahkota dari riasan mempelai wanitanya belum dilepas. "Maaf Uzui, tapi aku setuju dengan Giyuu."

"Mana aku tahu kalau kalian tidak akan melakukan resepsi? Sangat tidak meriah! Dan Rengoku, aku kira kamu teman baikku?!"

Giyuu menggeleng pelan atas kelakuan teman-teman mereka sejak kuliah. Mereka semua memang... unik.

"Dan lagi! Aku tidak bisa membantah kalau Tomioka terlihat cantik dengan gaun itu dan kalian terlihat serasi. Tapi aku tidak menyangka kamu akan memakai jas hitam! Kukira kamu akan memakai jas putih dengan aksen merah seperti keluargamu dulu!"

"Kamu dengar itu, Kyo? Itu taruhan yang konyol bukan?" Giyuu mendesah lelah, "dan lagi, bukankah Uzui tahu bahwa Kocho dan Kanroji bertugas merias dan mengurus gaunku? Mereka pasti sudah tahu pakaian yang akan dipakai Kyojuro juga."

"Hah?"

"Giyuu benar. Mereka berdua pernah melihat kami mencoba baju pengantin dan memilihnya. Aku kira kamu sudah tahu?"

Tengen menoleh dengan ekspresi tidak percaya. "Jadi aku ditipu?"

"Sepertiya begitu." Giyuu menjawab dengan wajah serius. Diam-diam gemetar karena menahan tawa.

"Kocho sialan! Dia pasti sengaja merencanakannya bersama Shinazugawa! Aku sudah curiga karena tidak biasanya Shinazugawa mau ikut taruhan. Lihat saja dia nanti! Aku akan membalasnya!" umpat Tengen. Merasa sangat kesal dan bodoh disaat yang sama karena tidak menyadari niat teman-temannya lebih awal.

"Kusarankan kamu hati-hati. Douma pasti akan mengikuti dan menerormu jika Kocho sampai terlihat 'diganggu' olehmu. Apa kamu ingat apa yang terjadi pada Shinazugawa setahun yang lalu? Dia nyaris diculik dan diteror setiap keluar rumah."

"Dan sikapnya langsung berubah saat mengetahui bahwa Shinazugawa adalah kakak ipar Kocho." Kyojuro menambahkan perkataan istrinya. "Kadang aku kasihan padanya."

"Pria gila itu jelas jatuh cinta pada Kocho. Aku heran kenapa Kocho selalu menolaknya! Maksudku—aku tahu dia masih fokus dengan karirnya, tapi apa salahnya menerima Douma?"

"Hm, itu bukan urusan kita. Tidak baik jika terlalu ikut campur."

Tengen berdecak, "sangat tidak flamboyan." Komentarnya sambil mengarahkan mobil untuk masuk ke bandara. "Kita sampai."

Kyojuro dan Giyuu berpandangan, saling tersenyum dan turun dari mobil.

"Terima kasih, Uzui."

"Ya-ya, sampai jumpa! Bersenang-senanglah kalian berdua! Paris adalah kota yang romantis! Dan jangan lupa oleh-oleh untukku!" Tengen yang ikut keluar dari mobil melambai sambil menyandarkan badannya di mobil. Menanti hingga mereka naik kedalam pesawat dan lepas landas menuju Paris.

"Kami berangkat! Sampai jumpa, Uzui!"

.

.

.

Mereka berdua sampai di paris setelah beberapa jam didalam pesawat. Baju pengantin mereka juga sudah berganti menjadi pakaian santai dengan syal dan mantel. Barang-barang mereka yang lainnya sudah siap di hotel yang mereka pesan sebelumnya, jadi mereka hanya perlu menuju hotel setelah mendarat.

(Catatan; pesawat itu milik keluarga Kyojuro, jadi anggaplah mereka menaiki pesawat pribadi.)

Mobil milik kenalan keluarga Tomioka sudah menunggu saat mereka turun. Siap membawa pasangan baru itu menuju hotel atau ke tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi.

"Yuu, hari ini kita istirahat dulu ya? Besok baru kita jalan-jalan. Aku tahu kamu lelah setelah acara pernikahan kita dan duduk di pesawat selama beberapa jam." Kyojuro menatap Giyuu yang terlihat lelah dan mengantuk, lalu mengeratkan genggaman tangan mereka setelah memberikan ciuman penuh kasih sayang di puncak kepala gadis itu. "Atau kamu tetap ingin jalan-jalan dulu?"

Giyuu mengerjap dan menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh Kyojuro, tersenyum lebar, "ide yang bagus. Ayo tidur setelah kita membereskan koper dan mandi. Lagi pula, kita memiliki waktu dua minggu penuh disini."

Kyojuro mengusapkan pipinya pada kepala Giyuu yang kini bersandar di bahunya, berbisik lembut. "Tidurlah dulu, aku akan membangunkanmu setelah kita sampai."

"Un,"

Hanya gumaman yang diberikan sebagai balasan. Kyojuro mengalihkan pandangannya pada jalan dan bangunan-bangunan diluar jendela mobil yang mereka naiki hingga suara nafas Giyuu mulai terdengar teratur dan beban di bahunya semakin berat.

"Mimpi indah," bisik Kyojuro, mencium puncak kepala Giyuu sekali lagi sebelum melihat keluar.

.

.

.

"Selamat atas pernikahan kalian dan semoga bulan madu kalian menyenangkan! Anda bisa menghubungi saya kapanpun jika anda membutuhkan bantuan!" Supir yang menjemput mereka melambai, tersenyum dan masuk kembali kedalam mobil.

"Ya! Terima kasih, Tsuto-san!" Kyojuro balas melambai sedangkan Giyuu disampingnya membungkuk sopan.

Mereka masuk kedalam hotel, menerima kunci kamar dari resepsionis dan melangkah masuk di kamar yang sudah mereka pesan.

Kamar itu cukup luas dengan balkon, kamar mandi, kasur berukuran king size, sofa, lemari pakaian, lemari pendingin dan televisi. Ada karpet lembut yang menutupi lantai sekitar kasur dan sofa. Kamar mandinya terlihat lengkap dengan bathtub, shower, wastafel dan toilet.

Saat Giyuu membuka jendela balkon, pemandangan Menara Eiffel terlihat dengan jelas. Disana sudah disediakan dua kursi dari besi dan sebuah meja kecil. Bangunan-bangunan di sekeliling mereka entah bagaimana malah membuat Menara Eiffel terlihat semakin memukau dan membangun suasana romantis.

Mendadak lengan kuat Kyojuro melingkari pinggangnya bersamaan dengan tubuhnya yang dipeluk dari belakang.

"Cantik sekali pemandangannya."

Kyojuro menggumam, mencium pipi Giyuu sekali lalu menumpu dagunya di pundak Giyuu. "Katanya lebih cantik lagi jika dilihat di malam hari. Tapi aku yakin kalau Giyuu lebih cantik."

Giyuu tertawa dan melepas pelukan Kyojuro sambil berbalik badan, "Apa kamu sedang merayuku?"

"Aku hanya berbicara fakta."

Mereka berdua tertawa bersama, lalu bergerak bersama seperti berdansa dan berbagi ciuman manis.

"Ayo mandi dan beristirahat. Kamu pasti juga lelah."

"Mn-hm," Kyojuro mengangguk setuju, "mandilah dulu. Aku akan membereskan barang kita."

"Un,"

.

.

.

Karena lelah, Giyuu tertidur sepanjang sore hingga malam sedangkan Kyojuro malah tidak bisa tidur karena terlalu bersemangat. Dia tidak sabar untuk memulai bulan madu mereka besok dan mencoba memaksakan diri untuk tidur agar tubuhnya tidak terlalu lelah. Tapi tetap tidak bisa dan pada akhirnya memilih untuk membuka ponsel dan membalas pesan dari Senjuro, adiknya.

Gerakannya yang gelisah membuat Giyuu membuka mata dengan berat.

"Kyo... tidur..." gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur. "Jam berapa sekarang..?"

"Ah, Yuu—uh, sekarang jam... setengah sembilan di Jepang." Kyojuro langsung meletakkan ponselnya dan menangkup pipi Giyuu, menempelkan kedua dahi mereka, "maaf karena membangunkanmu. Aku tidak bisa tidur."

Giyuu menghela nafas, melepaskan tangan Kyojuro di pipinya dan beranjak duduk. "Itu artinya sekarang jam setengah dua pagi disini. Kenapa kamu tidak bisa tidur?"

"Aku terlalu bersemangat."

"Bersemangat untuk nanti?"

"Ya, selama ini aku memang sering bepergian, tapi aku tidak sempat jalan-jalan karena urusan pekerjaan yang mendesak dan jadwal yang padat. Kamu sendiri tahu itu kan?"

"Mmn. Sangat tahu." Giyuu memeluk lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu Kyojuro, tersenyum kecil. Rasa kantuknya hilang sepenuhnya. "Seorang lulusan Aeronautika memang sibuk, dan suamiku ini pasti tidak sabar untuk menjelajah Paris bersamaku besok."

[Catatan; Aeronautika adalah ilmu yang terlibat dalam perancangan, dan pembuatan mesin-mesin berkemampuan terbang, atau teknik-teknik pengoperasian pesawat terbang dan roket di atmosfer.]

Kyojuro tersenyum lebar dan mencium istrinya dengan penuh cinta, "Kamu tahu, aku benar-benar tidak menyangka kita bisa bertahan hingga sekarang."

"Kyojuro..."

"Kita bertemu saat sekolah Menengah Atas, lalu menjadi kekasih saat menjadi mahasiswa. Lalu menjalani hubungan jarak jauh karena kesibukan masing-masing. Aku dengan pekerjaanku dan kamu dengan pekerjaanmu."

"Ya, dan jujur saja, aku hampir menyerah karena tidak tahan. Kyojuro selalu saja mendadak pulang dan mendadak pergi, rencana yang sudah kususun selalu berakhir berantakan." Giyuu bergerak dan duduk di atas paha Kyojuro, lengan memeluk leher suaminya dan mereka berciuman lagi. "Kyo, terima kasih karena tidak menyerah."

"Haha, dan terima kasih juga karena mau bertahan dan menerimaku apa adanya. Aku mencintaimu, Yuu. Dulu, sekarang, hingga kematian datang menjemput."

Giyuu tersenyum, membalas pernyataan cinta Kyojuro dengan ciuman di kedua pipi dan bibir. "Aku juga sangat mencintaimu. Sekarang, ayo tidur?"

"Sejujurnya, aku tidak mengantuk. Tadi aku sudah tidur beberapa jam dan Giyuu juga setelah bangun di tengah malam seperti ini pasti susah tidur lagi. Kamu sudah tidur dari sore!" Kyojuro menahan pinggang Giyuu agar gadis itu tetap diam di atas pahanya.

"Lalu, Kyojuro mau jalan-jalan keluar? Atau duduk menikmati Menara Eiffel di malam hari di balkon kita? Aku dengar kota ini tidak pernah sepi bahkan di tengah malam."

"Hm.. tidak. Tapi aku lapar."

Netra biru seluas lautan melebar, tidak lama kemudian panas naik ke wajahnya hingga memerah manis.

Giyuu tentu mengerti apa yang di maksud Kyojuro dengan 'lapar'. Terutama karena tatapan dan senyuman suaminya yang tidak biasanya.

"Boleh? Kalau Giyuu belum siap juga tidak apa-apa. Kita punya banyak waktu."

Nafas ditarik dalam-dalam, "uh—um—bo-boleh..."

Mereka bertatapan, biru dan merah-emas bertabrakan, seolah-olah saling menyelami keindahan di dalamnya. Wajah mereka mendekat, memutus jarak hingga hembusan nafas bertabrakan. Bibir kembali bertautan, mencecap rasa kenyal dan basah. Lumatan dan gigitan kecil terjadi, mengundang lenguhan lembut.

Tangan Kyojuro bergerak melepas gaun tidur Giyuu sedangkan gadis itu kini mengusapi dada bidang Kyojuro.

Deru nafas bersahutan, jantung berdebar keras hingga mereka takut suara itu terdengar oleh pasangannya. Sesuatu di dalam sana meminta lebih. Lebih, lebih, dan lebih.

Kerah gaun tidur sudah merosot hingga siku, menampilkan belahan gunung kembar dan leher jenjang indah. Tatapan Giyuu sayu, terlihat berembun seperti ada pantulan kaca di dalamnya. Indah dan memikat.

"Yuu.. cantik sekali..." dengan sengaja, nafas dihembuskan di perpotongan leher. Kyojuro menciuminya dengan lembut sebelum mengigitnya pelan-pelan.

Giyuu mendesah tertahan.

Ciuman itu naik menuju telinga dan Kyojuro menjilatinya dan meniupnya, membuat Giyuu mencengkram bahunya sebagai pelampiasan. "Kamu sensitif sekali di bagian ini..."

"K-kyojuro..."

"Shh... pelan-pelan. Kita punya waktu semalaman." Bisik Kyojuro dengan desahan berat, "aku ingin menjadikan momen ini istimewa."

Bibir mereka kembali bertemu, lebih intens, lebih dalam dan lebih berantakkan dari pada sebelumnya. Tangan Giyuu membuka pakaian tidur Kyojuro, mengusap dada bidang suaminya dengan malu sedangkan Kyojuro menarik turun gaun tidurnya hingga jatuh di pinggang.

Kyojuro membantu Giyuu melepas pakaiannya sendiri dan membuangnya sembarangan, lalu dia mengusap gunung empuk yang tersaji di depannya dengan satu tangan sedang yang lain bergerak turun untuk meremas pantat Giyuu.

"A-ah-! Kyojuro—"

Giyuu mendesah. Kali ini lebih keras. Tangannya melingkari leher Kyojuro dan bibirnya mencari ciuman Kyojuro lagi saat pria itu beralih untuk meninggalkan bekas kepemilikan di tubuhnya. Tubuhnya bergerak gelisah di atas pangkuan Kyojuro, tanpa sengaja malah menggesek Kyojuro junior yang masih terbungkus kain celana hingga Kyojuro menggeram rendah.

Payudara dikecup satu-satu, tonjolan pink dihisap lembut, digosok dan dicubit. Sesekali Kyojuro dengan sengaja menghisap kulit Giyuu kuat-kuat hingga warna kemerahan tercetak jelas di kulit putih bersih itu.

Ditengah-tengah stimulasi yang Kyojuro berikan padanya, Giyuu merasakan bokongnya didorong sesuatu. Lalu dengan sengaja dia bergerak agar miliknya bergesekkan dengan benda itu.

"Ah—Kyojuro—ah-c-cium aku..."

Kyojuro mengabulkannya, mendongak dan mencium bibir Giyuu lagi. Dengan sengaja membuka bibir, membiarkan Giyuu mendominasi ciuman panas mereka saat Kyojuro memeluk istrinya itu dan mengubah posisi mereka.

Gaun tidur yang masih tertahan di pinggang Giyuu ditarik turun hingga benar-benar terlepas bersama dengan pertahanan terakhir Giyuu yang sudah basah. Setelahnya Kyojuro melepas celananya sendiri, menjadikan mereka berdua sama-sama telanjang.

Paha Giyuu dibuka lebar hingga cairan dari vaginanya yang basah menetes membasahi ranjang. Jari Kyojuro yang panjang dengan sengaja menyentuhnya dan mengusapnya pelan, membuat Giyuu bergetar dibawahnya.

"Apa aku perlu mempersiapkanmu?" tanya Kyojuro di tengah-tengah desahan mereka. Dia tidak ingin menyakiti Giyuu—sekalipun mereka berdua sama-sama tahu bahwa malam pertama akan menyakitkan karena keperawanan Giyuu.

Giyuu menggeleng cepat dan membuka kakinya semakin lebar. Dia melirik penis Kyojuro yang besar dan sudah berdiri, tampak keras dan tegang. Tanpa sadar meneguk ludah dan kembali menatap Kyojuro di atasnya.

"Ti-tidak perlu. Aku ingin Kyojuro... ta-tapi tolong pelan-pelan."

Kyojuro tersenyum kecil dan mencium dahi Giyuu, "aku akan pelan-pelan. Katakan padaku jika kamu ingin berhenti." Ucapnya sambil menyatukan tangan mereka dan mempersiapkan dirinya di depan vagina Giyuu yang kecil dan sempit.

"Aku akan masuk, cobalah untuk rileks..."

Dengan dorongan lembut, Kyojuro bergerak masuk. Baru sedikit dan dia sudah merasakan dinding Giyuu mencengkramnya erat-erat.

"Ha—Kyo—be-berhenti—sebentar—ah!"

Mendengar permintaan Giyuu yang bercampur dengan rasa sakit, Kyojuro berhenti secara otomatis dan mencium Giyuu penuh kelembutan. "Sshh, tidak apa-apa, bersabarlah. Aku juga kesakitan di sini..."

Mereka sama-sama baru pertama kali melakukannya dan rasa gugup menguasai. Ketidaktahuan apa yang harus dilakukan membuat mereka mencoba sesuai insting. Dalam hatinya, Kyojuro bertanya-tanya bagaimana bisa pasangan di film porno melakukan sex dengan mudah jika baru awalnya saja, mereka berdua sudah kesakitan seperti ini.

"Uh—ka-kamu bisa lanjut..."

Suara Giyuu yang nyaris seperti bisikan membuat kesadaran Kyojuro kembali.

Diciumnya istrinya, mencoba mengalihkan perhatian mereka berdua dari rasa sakit yang menguasai organ sensitif mereka.

Kyojuro berhenti saat penisnya terhalang. Dia memandang Giyuu yang sudah mengeluarkan air mata dibawahnya dengan khawatir.

"Selaput darahmu... aku harus merobeknya..." bisik Kyojuro, menciumi Giyuu lagi dan lagi. Salah satu tangannya yang bebas ikut naik dan memainkan salah satu puting Giyuu yang keras agar gadis itu tidak memperhatikan rasa sakit yang akan segera dirasakannya lagi. "Tahan sebentar..."

"Ah—Kyojuro—hmmn~"

Melihat fokus Giyuu sudah teralihkan, Kyojuro sedikit menarik dirinya dan menghujam masuk keras-keras hingga Giyuu tersentak kaget. Tubuhnya secara otomatis menegang dan mereka berdua mengerang dalam rasa sakit.

"Gi-giyuu—rileks..."

Darah mengalir keluar, tanda bahwa selaput darah Giyuu sukses sobek. Dinding dalamnya semakin mencengkram Kyojuro erat-erat hingga rasanya perih.

Mereka berdua diam. Sama-sama menunggu rasa sakitnya mereda. Kyojuro tidak berani bergerak dan Giyuu juga demikian.

"Sayang—bernafas, pelan-pelan..." Kyojuro mempererat genggaman tangan mereka saat Giyuu mulai menangis segukkan. "Maaf... aku menyakitimu..."

Giyuu masih menangis, tapi tangannya menarik Kyojuro turun untuk menciumnya lembut.

"Be-bergerak—rasanya sudah tidak terlalu sakit... ah!"

Pelan-pelan Kyojuro bergerak, menggesek bagian intim mereka bersama di dalam sana. Rasanya basah dan hangat dan lembut. Dinding Giyuu masih mencengkramnya, namun sudah tidak serapat dan sesakit sebelumnya.

Panas yang tadi sempat turun karena rasa gugup dan sakit kini kembali bangkit. Tangisan Giyuu sudah berubah menjadi desahan—setengah jeritan ketika Kyojuro mengenai suatu titik didalam sana.

Nama Kyojuro terus terucap seolah mantra. Kadang bercampur desah manis dan kadang bercampur jeritan saat Kyojuro juga memainkan puting dan meremas paha dalam.

"Kyo—juro! Ah! Kyo-!"

"Yuu..."

Detak jantung mereka meningkat seiring dengan gerakan Kyojuro yang semakin cepat. Pelepasan mereka sudah dekat, dan mereka berdua merasakannya.

"Hnngh~! Kyojuro!"

"Giyuu-!"

Teriakan terendam oleh ciuman basah yang manis ketika mereka mencapai puncak bersamaan.

Kyojuro tidak langsung mengeluarkan miliknya dan memilih untuk meresapi puncaknya bersama Giyuu. Dia membalik tubuh mereka berdua dan membiarkan Giyuu yang masih menarik nafas lemas jatuh di dadanya.

Tubuh mereka lengket dengan keringat, terutama bagian wajah dan bawah.

"Haah... rasanya.. uh, enak?" Giyuu membuka suara ketika Kyojuro bergerak untuk menarik selimut yang nyaris jatuh di ujung kasur. Gadis yang baru saja menjadi wanita itu menutup mata dan tersenyum, masih merasakan hangat dari pelepasan Kyojuro di dalamnya dan detak jantung suaminya yang menenangkan.

"Apakah masih perih? Aku dengar setelah malam pertama banyak wanita yang mengeluh sakit pinggang—aku tidak sekasar itu kan?"

Giyuu tertawa kecil dan menangkup pipi suaminya dengan dua tangan, "tidak sama sekali. Aku malah merasa bahagia. Aku mencintaimu, Kyo."

"Syukurlah kalau begitu. Tapi jika besok kamu merasa tidak nyaman, katakan padaku." Rambut hitam Giyuu diusap, "aku juga mencintaimu, istriku. Sekarang, ayo tidur? Besok kamu ingin jalan-jalan kan?"

"Lebih tepatnya, nanti, Kyo. Di sini sudah jam tiga pagi." Balas Giyuu, kali ini memiringkan kepala agar Kyojuro bisa mengusap rambut panjangnya dengan mudah. "Hmm.. entah kenapa aku mendadak hanya ingin disini, bersamamu seharian."

Kini gantian Kyojuro yang tertawa. "Kalau Giyuu mau seperti itu, ayo malas-malasan disini. Kita masih punya seminggu lebih untuk jalan-jalan santai."

"Hm? Tidak biasanya kamu mau malas-malasan. Apa ada sesuatu?"

"Hehe, tidak! Aku hanya merasa kalau ide Giyuu agar kita berada disini sepanjang hari terdengar bagus. Lagi pula, setelah bulan madu ini selesai, belum tentu kita bisa malas-malasan berdua seperti ini kan?"

"Benar juga."

Kyojuro memeluk Giyuu erat, lalu bergerak untuk melepaskan juniornya dari dalam istrinya, "ayo tidur. Kita masih punya beberapa jam sebelum sarapan."

Giyuu mendesah karena merasa kehilangan. Tapi dia tidak protes karena kantuk mulai menguasainya. "Mmn... selamat tidur, Kyo."

"Selamat tidur, istriku."

.

.

.

END.

A/n:

Aku nggak tahu. Aku siapa. Aku nggak kenal. Kamu siapa ya? Ini apa? /Pergi ke gua terdekat untuk sembunyi karena terlalu malu/

Nggak tahu. Aku hanya ingin bikin mereka ekhem-havingsex-ekhem.

Ini fluff kan? Manis kan? Tolong katakan padaku bahwa ini sudah manis.

FYI, ini sebagai.. apa ya? Obat(?) dari fanfiksi sebelumnya, dimana Giyuu ugh—mati.

Jangan protes karena pendek. Aku juga ingin lebih panjang lagi, tapi segini saja dan aku sudah amat sangat malu. Lupakan tentang latar belakang Paris, lagu Despacito dan summary yang... sudahlah. Lupakan semuanya. Yang penting mereka manis di sini (menurutku).

Mengetik sepanjang ini sudah benar-benar perjuangan untukku. Aku... bodoh dalam membuat romance seperti ini. Entah ini panas atau tidak. Aku tidak tahu.

Sampai jumpa lagi di fanfiksi lain!