The Colors Of The World

Rate T

Pair; Rengoku Kyojuro x Tomioka Giyuu

Kimetsu no Yaiba milik Koyoharu Gotoge. Aku hanya meminjam karakternya untuk menambah asupan.

WARNING! OOC, tidak jelas, alur berantakan, Soulmate!AU dimana semua orang hanya bisa melihat warna hitam putih sejak dilahirkan dan baru bisa melihat 'warna' lainnya saat seseorang bertemu atau melihat 'pasangannya yang telah ditakdirkan'. Jika salah satu 'pasangan' mati atau dalam keadaan sekarat, maka yang lain juga akan kehilangan kemampuan untuk melihat 'warna'. By the way, mereka langsung mendapat pengetahuan tentang warna saat mereka bisa melihatnya.

Oh, aku hampir lupa. Ini Fem!Giyuu karena dia cantik.

Happy Reading!

.

.

.

Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat dan gubuk tua tempat mereka—para pemburu iblis tingkat Hinoto—berkumpul.

Normalnya satu tim pemburu iblis berisi tiga hingga lima orang, tapi di dalam gubuk ini ada lebih dari tiga puluh orang pemburu pemburu iblis tingkat Tsuchinoto hingga tingkat Hinoe.

Mereka semua berkumpul karena perintah dan ada informasi bahwa sekelompok besar iblis telah bersembunyi di dalam gunung. Mereka tidak pernah hidup berkelompok karena pasti akan berebut 'makanan', jadi tingkat Hinoe—tingkat yang paling tinggi di antara mereka (karena tidak ada satupun orang atau regu dari tingkat Kinoto dan Kinoe disini) memperingatkan untuk selalu waspada. Kemungkinan besar kelompok ini memiliki pemimpin dan bukan hal yang mudah untuk membasmi iblis-iblis ini.

Regu tingkat Hinoe masih menjelaskan pembagian regu mereka saat regu lain membuka pintu dan meminta maaf dengan suara yang nyaris terdengar seperti teriakkan lantang.

Tomioka Giyuu, salah satu pemburu iblis tingkat Hinoto hanya melirik seorang remaja yang membuka pintu dan meneriakkan permintaan maaf karena terlambat—disaat nyaris semuanya menoleh untuk melihat anak... unik itu.

Lalu saat Tomioka Giyuu kembali melihat kedepan dan berkedip, warna-warna langsung menghujam matanya. Dunia yang tadinya hanya terlihat berwarna monokrom kini berubah menjadi penuh warna. Ungu, biru, kuning, oranye, dan warna-warna lain. Gadis itu tersentak saat menyadari bahwa dia baru saja menemukan 'pasangan yang ditakdirkan untuknya.'

Cepat-cepat diliriknya lagi anak yang tadi menarik semua atensi mereka. Anak itu memiliki rambut sewarna api dan mata emas-merah yang cerah. Ekspresinya dengan mudah tergambar di wajahnya—terlihat jelas dia juga terkejut sekaligus penasaran.

'Jadi dia orangnya.' Pikir Giyuu. Dalam hatinya bertekad untuk mengawasinya dari jauh setelah ini.

"Ada apa Rengoku? Ayo cepat masuk!" temannya mendorong bahunya dan mengarahkannya untuk segera mengambil tempat.

Giyuu melirik remaja itu untuk terakhir kalinya sebelum kembali fokus ke arah depan—dimana regu tingkat Hinoe kembali menjelaskan secara singkat pada mereka yang terlambat dan membagi mereka kedalam lima kelompok berisi tujuh hingga delapan orang.

"Saat masuk, langsung menyebar ke arah jam sepuluh, sebelas, dua belas, satu dan dua! Berhati-hatilah terutama kelompok yang akan pergi ke arah jam dua belas. Kemungkinan besar iblis-iblis itu berkumpul di tengah hutan. Jika ada yang tidak beres, segera memberi kabar!"

"Baik!"

.

.

.

Tomioka Giyuu menggenggam nichirinnya erat-erat. Gadis itu terpisah dari yang lain karena teknik darah iblis yang kelompoknya temui.

Iblis itu membuat mereka semua tercerai-berai dengan ilusi seolah olah ada batu besar yang jatuh ke tengah-tengah mereka, lalu mengurung mereka dalam peti-peti besar saat mereka mendarat dari lompatan refleks mereka. Giyuu berhasil selamat—dan dia yakin rekan-rekannya juga. Tapi setelah dia berhasil keluar dari peti, rekan-rekan kelompoknya sudah menghilang entah kemana.

Gadis itu menebak bahwa mereka masih berada di dalam peti atau bisa jadi terlempar ke tempat lain dan terpisah seperti dirinya.

Keresek.

"Tidak kusangka kamu berhasil keluar dari perangkap kami."

Suara gemerisik daun dan langkah kaki membuat Giyuu semakin waspada dan mengarahkan nichirinnya ke arah suara.

Dari balik bayang-bayang pohon, muncul seorang gadis yang memakai kimono ungu gelap. Di pipi kanannya ada pola warna hitam bergambar bunga. Rambutnya dikuncir dua, kanan dan kiri. Pada kedua matanya ada bentuk bunga yang sama dengan yang ada di pipi.

"Padahal Mii-sama pasti akan senang jika bisa memakanmu hidup-hidup. Ah, rencanaku untuk mempersembahkanmu pada Mii-sama harus batal deh."

"..."

"Sangat sombong. Tidak membalas saat seorang gadis berbicara padamu itu hal yang buruk, kamu tahu? Yah, kita sesama perempuan sih." Iblis itu memperlihatkan kuku-kuku panjangnya, menjilat jarinya dan tersenyum menggoda dengan tatapan tidak suka.

"Jangan bicara padaku."

"Huh, sombong sekali! Padahal kamu tidak secantik itu! Lupakan persembahan! Aku akan membunuhmu, gadis sialan!"

Iblis itu sepertinya sedang berada di mood yang buruk. Dalam sekejap rumput kehitaman di bawah kaki Giyuu berubah menjadi lumpur. Ada tanaman yang ikut merambati di sekitarnya dan Giyuu harus melompat untuk menghindari tanaman aneh itu.

"Gesit sekali seperti serangga. Bagus, aku ingin tahu bagaimana kamu akan bergerak jika aku mematahkan salah satu anggota tubuhmu!"

"Mizu no Kokyu: San no kata: Ryūryū mai!" Menggunakan pernafasan air bentuk ke tiga, Giyuu bergerak semakin cepat dan mengincar leher iblis di hadapannya. Dia memaksakan diri untuk mengubah aliran pernafasannya di saat-saat terakhir menjadi bentuk ke empat dan memenggal kepala iblis itu. "Mizu no Kokyu: Shi no kata: Uchishio!"

"Brengsek! Kamu tidak akan bisa kabur! Mii-sama, Mii-sama pasti akan membunuhmu! Hahahahaha! Mii-sama! Dia akan membalaskan dendamku!"

Giyuu terengah, tidak memedulikan teriakan dan tawa gila iblis yang baru saja di tebasnya dan memilih segera pergi dari sana. Dia harus segera menemukan rekan-rekannya dan keluar dari sini. Hutan ini begitu... aneh. Mungkin yang harusnya menangani ini adalah tingkat Kinoto ke atas.

"Kii-chan! Siapa yang berani membunuhmu?! Kii-chan! Tidak! Warna duniaku! Kii-chan! Beraninya kamu mati! BERANINYA KALIAN MEMBUNUH SOULMATEKU!"

Teriakan menggelegar tiba-tiba terdengar. Itu tidak jauh dari sana dan Giyuu tidak dalam kondisi yang menguntungkan jika harus melawan iblis yang lebih kuat dari yang baru saja dilawannya. Jadi dia pergi. Setidaknya dia harus bertemu rekan-rekannya lebih dulu sebelum mereka dihabisi satu persatu.

Di tengah-tengah pencariannya, dia bertemu iblis-iblis lain yang juga memiliki pola pada pipi kanan mereka. Hanya saja pola-pola itu berbentuk daun dan mereka semua tidak terlalu sulit dikalahkan.

"Hey! Tunggu aku!" seseorang berteriak, kemudian tiba-tiba sudah berlari di belakang Giyuu. "Kamu cepat sekali! Apakah kamu terpisah dari kelompok?! Aku baru saja keluar dari dalam kotak aneh saat aku melihatmu berlari!"

Secara otomatis Giyuu menghentikan larinya. Dia cukup terkejut dengan kehadiran Rengoku—dia mendengar namanya saat teman remaja itu mendorongnya masuk tadi—yang tiba-tiba.

"Ada apa?! Kenapa kamu berhenti?!"

Giyuu mengerutkan alis, "bisakah... kamu mengecilkan volume suaramu?"

"Oh! Apakah aku terlalu keras? Hahahaha! Maaf-maaf!"

"..."

"Namaku Rengoku Kyojuro! Siapa namamu? Apakah kamu juga baru saja keluar dari kotak aneh sepertiku?!" tangan diulurkan dan mata sewarna api menatap Giyuu lurus-lurus. Ini membuatnya tidak nyaman.

"Tomioka... Giyuu. Aku sudah keluar sejak... sekitar lima puluh menit yang lalu. Aku belum bertemu dengan yang lainnya..." gumam Giyuu, dengan ragu membalas uluran tangan Kyojuro dan melepasnya setelah beberapa detik.

"Begitukah?! Kalau begitu kita harus segera mencari mereka!"

Tepat setelah kata-kata terakhir Kyojuro selesai, teriakkan kembali terdengar. Kali ini suaranya lebih dekat dengan tempat mereka berada sekarang.

"AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA! SEKUAT APA MEREKA HINGGA KALIAN TIDAK BISA MELINDUNGI KII-CHAN! KII-CHAN KU!"

Kyojuro dan Giyuu bertukar pandang. Tidak lama setelahnya terdengar derap kaki dan teriakan lain ikut terdengar. Sepertinya kelompok lain berhasil berkumpul dan kini bersama-sama menyerang iblis yang dari tadi meneriakkan nama 'Kii-chan'.

"Ayo pergi!"

"Mmn."

.

.

.

Kali pertama Kyojuro bisa melihat warna adalah saat misi besar yang diberikan oleh gagak Kasugai.

Timnya terlambat karena mereka harus mengurus anak tersesat sebelum pergi ke tempat yang ditentukan. Disana dia membuka pintu dan membungkuk meminta maaf pada tingkat Hinoe yang sepertinya masih menjelaskan tentang rencana mereka.

"Maafkan kami karena terlambat!"

Dapat dirasakannya berbagai tatapan yang langsung memperhatikan mereka. Kyojuro baru saja mengangkat pandangan saat warna monokrom yang biasa dilihatnya pelan-pelan mulai luntur dan warna-warna lain muncul. Warna-warna itu semakin jelas dan menyebar saat dia berkedip.

Dengan terkejut dia kembali mengedarkan pandangan. Terlalu banyak yang menatapnya sekarang. Kyojuro tidak tahu yang mana di antara mereka semua.

Temannya mendorong bahunya, memintanya masuk dan Kyojuro cepat-cepat mengikutinya. Mereka memiliki perintah yang penting dan dia tidak bisa mengabaikannya.

Tapi tetap saja, Kyojuro sangat penasaran. Seperti apa pasangannya itu? Apakah dia tahu bahwa Kyojuro adalah pasangannya? Apa dia juga sama terkejutnya sepertinya?

Semua pemikiran itu dipendamnya jauh-jauh saat kelompoknya mulai memasuki hutan. Pada awalnya tidak ada yang aneh. Hutan itu terlihat seperti hutan biasa. Namun semakin jauh mereka masuk kedalam, hawa di dalamnya semakin mengerikan. Bahkan ada bau busuk yang kadang tercium.

Mereka semua melangkah semakin berhati-hati saat suara cekikikan terdengar bersamaan dengan angin lembut yang membawa bau darah.

"Kya—!"

Keresek!

"Semuanya! Mendekat satu sama lain!" Salah satu dari mereka mengkomando. Salah satu anak dari kelompok mereka mendadak hilang kedalam tanah dan ini jelas bukanlah hal yang bagus.

Kyojuro menarik pedang dan memfokuskan diri.

"Hati-hati dengan sulur—!"

Keresek!

Anak yang memberitahu mereka juga mendadak hilang. Saat itulah sulur-sulur mendadak ada dimana-mana dan mengikat mereka.

Tubuh Kyojuro dililit erat dan dilemparkan kedalam sebuah kotak. Hal terakhir yang dilihatnya adalah teman-temannya satu persatu juga dimasukkan kedalam sebuah kotak dan dilemparkan entah kemana.

Didalam sana gelap. Ada beberapa gumpalan—yang Kyojuro tidak ingin tahu apa itu—yang mulai menekan tubuhnya dari segala arah. Dia mencoba menebas, namun nichirinnya malah tersangkut. Pernafasan api-nya juga tidak berguna dan nafasnya semakin lama semakin sesak. Lalu dengan sekuat tenaganya Kyojuro menikam lurus pada gumpalan di depannya.

Dia merasakan nichirinnya menembus sesuatu dan kembali menebas hingga sobekan besar tercipta. Nafasnya seketika menjadi lebih lega. Kali ini Kyojuro ikut menggunakan kedua kakinya dan menendang robekan yang sudah diciptakannya.

Bam!

Krak!

Berhasil!

Kyojuro menarik nafas dalam-dalam dan melihat kotak berlumur cairan hitam yang hancur di beberapa sisi. Dia mencoba menstabilkan nafas dan membersihkan pakaiannya dari... apakah itu gumpalan daging?

Tidak lama setelahnya dia mendengar langkah kaki yang cukup cepat. Saat diam-diam melihat dari balik pohon, rupanya itu salah satu dari pemburu iblis. Gadis itu hanya sendirian dan Kyojuro cepat-cepat memanggilnya juga berlari mengejarnya.

Ekspresinya sangat datar! Matanya biru gelap, seperti lautan. Dia pendiam dan suaranya sangat halus. Sangat anggun dan cantik!

Juga Kyojuro menyadari sesuatu saat bertarung bersama gadis bernama Tomioka Giyuu untuk melawan iblis yang memanggil dirinya sendiri Mii-sama. Gadis itu sangat hebat dan lincah!

Dia berhasil menghidari serangan-serangan sulur yang dilancarkan iblis itu dan bahkan sempat membantunya melepaskan diri. Teknik pernafasan airnya sempurna, cocok dengan sosok Tomioka Giyuu. Lalu dengan bantuan yang lainnya, akhirnya mereka berhasil membunuh iblis itu.

Mii-sama itu bukanlah salah satu iblis bulan. Tapi dia berhasil hidup seratus tahun lebih bersama dengan istrinya—sosok Kii-chan yang diteriakkannya dari tadi dan membuat kelompok untuk berburu mangsa.

"Kamu baik?" Tomioka Giyuu bertanya tiba-tiba, "kamu... lengan... lengan kirimu bergetar."

"A-ah! Tidak apa-apa! Jangan khawatir!" Kyojuro tersenyum lebar. Dia diam-diam menyentuh lengannya sendiri dan merasakan sakit yang menusuk di sana. Mungkin karena tadi sempat menahan sulur yang nyaris membelitnya.

Tangannya tiba-tiba ditarik, lalu tanpa kata-kata lengan bajunya diangkat. Dibaliknya ada kulit yang kini berwarna merah keunguan. Tatapan Tomioka Giyuu terlihat dingin dan... terganggu?

'Kenapa dia terlihat terganggu? Apakah karena aku berbohong? Aku hanya tidak ingin membuatnya khawatir.' batin Kyojuro.

"Kamu terluka." Gumam gadis itu.

"Aku tidak apa-apa, sungguh—?!" Kyojuro refleks menahan jeritan saat Giyuu dengan sengaja menyentuh lengannya.

"Obati lukamu." Suruhnya dengan nada tegas.

"... baiklah."

Lantas Giyuu menariknya duduk di tanah, lalu gadis itu mengeluarkan sebuah salep dan perban. Rasa salep itu dingin, tapi tidak lama kemudian hangat dan rasa sakit akibat lukanya mulai berkurang saat Giyuu selesai membalut lengannya dengan perban.

Kyojuro terperangah, "Te-terima kasih!" ucapnya disertai senyum lebar. "Sudah tidak terlalu sakit! Kamu hebat sekali, Tomioka-san!"

"Tolong, jangan terlalu formal padaku."

"Tomioka!"

"Hm?"

"Hehe, hanya mencoba memanggilmu tanpa formalitas!"

Giyuu menghela nafas, lalu meletakkan salep miliknya di hadapan Kyojuro dan bangkit berdiri. "Mm, kalau begitu aku pergi dulu. Jaga dirimu."

"Eh?! Tomioka! Bagaimana dengan salep ini?!"

"Untukmu saja." Balas Giyuu, lalu gadis itu pergi meninggalkannya seorang diri.

Kyojuro terdiam sejenak sebelum berteriak tanpa sadar. "TERIMA KASIH, TOMIOKA!"

Sayangnya, dia melupakan satu hal yang penting. Dia baru mengingatnya ketika pulang ke rumahnya untuk beristirahat.

"Tunggu, aku lupa mencari tahu siapa soulmateku!" Ujarnya panik sambil menepuk dahi. "Aaah! Ibu!"

Pada akhirnya, Kyojuro hanya bisa menahan rasa penasaran dan mengeluarkan keluh kesahnya pada ibunya tercinta.

.

.

.

Rengoku Kyojuro tidak pernah mengetahui siapa sebenarnya pasangannya hingga pada suatu hari 'warna' miliknya luntur.

Hatinya seketika menjadi dingin. Jika 'warna' miliknya luntur, maka artinya pasangannya sedang sekarat atau berada di ambang kematian.

Apakah Kyojuro akan kehilangan pasangannya bahkan sebelum dia bertemu dengannya? Pemikiran ini membuat Kyojuro gelisah. Keluarganya yang melihat kegelisahan Kyojuro tidak dapat melakukan apapun. Jika itu harus terjadi maka terjadilah. Tidak ada yang bisa melawan takdir.

Semua pikiran buruk Kyojuro hilang saat gagak Kasugainya datang dan memberikan kabar bahwa Hashira Air, Tomioka Giyuu telah berhasil membunuh bulan atas ke tiga dan kini gadis itu berada di ambang kematian.

"Caw! Caw! Iblis bulan atas tiga telah dibunuh oleh Tomioka Giyuu! Sekarang keadaannya buruk dan dalam perawatan Hashira Serangga! Caw!"

Bagai disiram air dingin, tubuh Kyojuro membeku sebelum tanpa sadar berlari seperti orang gila menunju kediaman Kupu-kupu. Dia bahkan tidak mempedulikan teriakkan ayahnya dan panggilan ibunya.

Dia bahkan tidak bisa berpikir jernih. Hatinya panik karena keadaan Tomioka Giyuu—teman baiknya—dan pasangannya yang mendadak sekarat dalam waktu yang sama. (Dan dia bahkan tidak menyadari bahwa Tomioka Giyuu dan 'pasangan' yang dicarinya adalah orang yang sama.)

Sampai di kediaman Kupu-kupu, dia bertemu dengan anak berkepala babi dan anak berambut kuning yang membawa kotak di punggungnya.

Kyojuro tahu kotak itu. Kotak itu berisi Kamado Nezuko—iblis—adik dari anak bernama Kamado Tanjiro.

"Dimana Tomioka?! Apa yang terjadi padanya?!"

"Ah! Anu—itu-dia... dia—" anak berambut kuning menangis. Dia terlihat berusaha menghentikannya, namun gagal.

"Wanita itu berdarah! Banyak sekali darah! Gonpachiro juga berdarah! Perutnya berlubang dan darah terus mengalir!"

Mendengar itu, Kyojuro semakin khawatir. Dia tahu Giyuu kuat, tapi tetap saja dia khawatir.

"Aoi-chan berkata bahwa kita harus menunggu Shinobu-san... To-tomioka-san masih ditangani olehnya..."

Pada akhirnya mereka hanya bisa diam dan menunggu.

Sesungguhnya Kyojuro ingin bertanya detail pertarungan itu, tapi cara anak berkepala babi itu menceritakannya benar-benar kacau. Anak berambut kuning malah tidak tahu apapun karena dia baru tersadar saat matahari telah terbit. Jadi dia hanya bisa terdiam pasrah dan menunggu. Warna pengelihatannya juga masih monokrom.

Pasangannya tidak baik-baik saja.

"Shinobu-san sudah keluar!" anak bernama Zenitsu—yang berambut kuning—langsung berdiri dan tidak lama kemudian sosok pilar serangga benar-benar keluar.

"Tanjiro-kun baik-baik saja. Dia akan segera sembuh dalam beberapa hari. Untuk Tomioka-san..." Shinobu menatap Kyojuro, seolah-olah bingung dengan kehadirannya. Tapi wanita itu tetap melanjutkan dengan ekspresi tertekan. "Aku sudah berusaha. Sisanya biar Tomioka-san yang memutuskan."

"Apa maksudmu?!" Kyojuro sudah tidak dapat menahannya lagi. Dia khawatir, takut dan pemikiran bahwa Tomioka Giyuu akan meninggal dunia membuatnya pusing. Belum lagi soulmate-nya yang entah sedang berada di mana sekarang sedang sekarat! "Kocho! Dia akan baik-baik saja kan?!"

"Aku tidak bisa memutuskannya, Rengoku-san. Lukanya benar-benar parah. Aku bahkan masih tidak percaya dia berhasil bertahan hingga sampai di sini."

"Shinobu-san, bolehkah kami mengunjungi Tanjiro?"

"Ara, kalian mau melewatkan pemeriksaan? Tidak. Kalian baru saja kembali dari pertarungan, aku harus memeriksa kalian lebih dulu. Lalu kalian boleh beristirahat dan mengunjungi Tanjiro-kun."

"Bagaimana dengan Tomioka? Apakah aku boleh mengunjunginya? Setidaknya menemaninya beberapa saat?"

Shinobu tersenyum, "Ara, tentu saja boleh, Rengoku-san. Tapi tolong atur volumemu. Aku masih belum lupa dengan kejadian satu setengah tahun yang lalu."

"Memangnya ada apa dengan satu setengah tahun yang lalu?"

"Ara, tidak ada apa-apa. Hanya saja saat itu Tomioka-san terluka dan kehilangan kesadarannya selama seminggu penuh. Pria ini hanya menemaninya dan melaporkan semuanya setiap jam. Terutama pergerakan sekecil apapun dari Tomioka-san." Sindiran itu tentu saja tidak sampai pada Kyojuro yang masih tidak mengerti dimana letak kesalahannya satu setengah tahun yang lalu. "Aku tidak masalah. Hanya saja Rengoku-san melaporkannya dengan cara berteriak memanggilku nyaris setiap jamnya."

"..."

"..."

"Rengoku-san sangat mengkhawatirkan Tomioka-san. Dia bahkan langsung kemari setelah mendengar kabar dari gagak Kasugai." Senyum Shinobu berubah menjadi senyuman kesal. Bahkan ada urat nadi yang menonjol di pelipisnya. "Itu sangat mengganggu lho, Rengoku-san. Tolong jangan melakukannya lagi kali ini."

"Tentu saja! Dia teman baikku! Bagaimana bisa aku tidak khawatir?!" Kyojuro menatap Shinobu lurus-lurus, "Tapi baiklah, aku tidak akan melakukannya dan hanya akan memanggilmu saat benar-benar darurat!"

Wanita itu menghela nafas. Rengoku Kyojuro benar-benar tidak peka!

Dia terus saja mengatakan bahwa Giyuu adalah teman baiknya dan gadis itu pernah menyelamatkannya saat mereka masih muda. Tapi sikapnya tanpa sadar sering kali mengkhawatirkan dan memberikan atensi pada Giyuu secara berlebihan.

Apakah dia tidak pernah sadar bahwa selama ini 'pasangan yang ditakdirkan' yang dicarinya adalah Giyuu itu sendiri? Sebodoh apa Kyojuro hingga tidak menyadari hilangnya 'warna dunia'nya adalah bersamaan dengan Giyuu yang sekarat?

"Jadi, bolehkah aku masuk dan menemaninya?"

"... tentu saja, Rengoku-san."

Kocho Shinobu benar-benar ingin memukul kepala pria itu karena telah menjadi sangat tidak peka.

.

.

.

Tbc.

Rengoku Ruka, ratu dari keluarga Rengoku masih hidup! Yeeey! /Tebar bunga dan kebahagiaan/

Aah! Sudah lama aku ingin membuat keluarga Rengoku hidup bahagia dan baik-baik saja. Dan sudah lama juga aku ingin membuat Rengoku yang tidak peka seperti ini (karena biasanya Giyuu yang tidak peka). Terutama dimana Giyuu menggantikan posisi Kyojuro saat melawan Akaza di Mugen Train!

Oh! Oh! Dan aku mendapat ide tentang pertemuan mereka saat masih menjadi pemburu iblis muda saat melihat gambar yang di post di grup facebook! Nama grupnya "RenGiyuu 【煉義】- Grupo Oficial -" (Tbh aku tidak tahu siapa artistnya. Tapi aku berterimakasih pada "Brisa Ortiz Malde" karena telah membagikannya!)

Fanfiksi ini dibuat untuk melampiaskan rasa frustasi akibat tidak memiliki waktu yang cukup banyak untuk meriset dan meneliti data-data dan cara seorang 'sadistic' berinteraksi (untuk fanfiksi berjudul Unexpected, dimana Kyojuro menjadi sadis dan Giyuu sedang hamil) juga meriset cara 'bercinta' yang panas dan manis (untuk fanfiksi berjudul Despacito, dimana mereka berdua... ah sudahlah. Kalian pasti sudah mengerti). Sungguh, dua fanfiksi ini membuatku cukup stress karena aku sudah memiliki ide untuk sebagian besar alur, dengan ide yang terus menerus menghantui, namun tetap butuh riset dan waktu untuk mengetiknya. (Maaf, aku hanya ingin curhat karena RL ku cukup membebani T^T)

Terima kasih sudah membaca! Sampai jumpa di bab berikutnya! (Kuharap aku memiliki waktu luang secepatnya!)