My Soulmate!
Rate T
Kimetsu no Yaiba milik Koyoharu Gotoge. Author tidak berhak atas chara dan kawan-kawannya. Aku hanya berhak atas jalan cerita yang kuubah ini.
WARNING! Typo, Alur terlalu cepat, tidak jelas, OOC, dan banyak hal lainnya. Fem!Giyuu karena dia cantik dan Soulmate!AU karena lagi ada ide disini. Sedikit bumbu angst, bikin gemes, kesal, dan kawan-kawannya (MUNGKIN. Aku tidak pintar dalam hal ini...) Tapi tenang saja, ini akan happy ending. Hehehe.
Aku rasa itu saja. Selamat membaca!
.
.
.
Note!
Aku akan menjelaskan lebih dulu macam-macam tanda Soulmate!AU yang ada di dalam cerita ini nantinya.
One Eyes: Pasangan ini bisa memberitahu keberadaan mereka satu sama lainnya, mengirimkan gambar secara langsung melalui pengelihatan. Misalnya saja kamu sedang ada di sebuah sungai yang sangat indah dan kamu ingin berbagi pemandangan itu pada pasanganmu, kamu bisa melihatnya baik-baik, mengingatnya lalu memejamkan mata. Dan pasanganmu akan langsung menerima gambar 'pengelihatan'mu.
Mark: Tipe pasangan ini adalah mereka memiliki 'tanda' yang sama persis di bagian tubuh mereka. Misalnya saja ada tanda lahir berbentuk seperti bunga mawar yang berwarna lavender (mirip seperti tato) di bagian pinggangmu, maka pasanganmu juga memilikinya dipinggangnya, berbentuk bunga mawar dan juga berwarna lavender. Persis seperti punyamu.
Body Print: Kebanyakan dari mereka menghindari bersentuhan dengan pasangannya sendiri. Saat salah satu dari mereka sangat membutuhkan pasangannya, 'bekas sentuhan pasangan'nya akan otomatis muncul di tubuh yang telah 'disentuh'. Misalnya pasanganmu pernah mengusap pipimu, saat kamu sangat membutuhkannya atau merindukannya, pipimu yang pernah diusap oleh pasanganmu akan berubah warna seolah-olah terkena cat.
Red String: Pasangan ini cukup jarang. Kebanyakan dari mereka terpisahkan sangat jauh dan butuh waktu lama untuk menemukan satu sama lain. Mereka bisa melihat benang merah yang mengikat jari kelingking mereka. benang ini nantinya hanya akan mengikat dengan longgar tubuh mereka dan ujung lainnya akan melayang bebas menembus awan hingga mereka menemukan pasangan mereka.
First Word: Tipe ini adalah yang paling mudah menemukan pasangannya. Beberapa di antara mereka memiliki 'kata pertama' yang akan diucapkan oleh pasangan mereka yang tertulis di pergelangan tangan. Beberapa yang lainnya bisa mencoret tubuhnya sendiri dengan spidol atau cat, lalu kata yang sama juga akan muncul pada pasangannya.
Lalu bagaimana jika 'pasangan' mereka mati? Jika ini terjadi, maka 'pasangan' yang ditinggalkan akan depresi untuk waktu yang lama. Kebanyakan dari mereka akan mati tidak lama setelah pasangan mereka mati, yang lainnya bisa tetap hidup namun dalam keadaan stress berkelanjutan.
Aku tidak akan menjelaskannya lagi secara detail di dalam cerita (mungkin. Aku juga tidak tahu apakah penjelasanku di atas sudah cukup detail atau tidak...)
Baik, selamat membaca!
.
.
.
Beberapa orang membenci takdir yang telah ditetapkan pada mereka.
Alasannya mungkin bisa berbagai macam. Dari yang biasa hingga tidak masuk akal. Ada juga yang sudah terlanjur mencintai 'pasangan' orang lain.
Tomioka Giyuu adalah salah satunya.
Bukan, bukan karena dia mencintai pasangan orang lain. Bukan juga karena dia tidak menyukai pasangannya (dia bahkan belum menemukannya!). Giyuu hanya tidak menyukai apa yang digariskan untuknya.
Dia tidak layak. Bayangan kematian selalu ada di dekatnya, membunuh orang-orang yang disayanginya. Bagaimana jika nantinya pasangannya akan mati karenanya? Ditambah lagi, beban sebagai Hashira bisa saja membunuhnya setiap saat. Bukankah pasangannya akan menderita? Bukankah sebaiknya mereka tidak pernah saling bertemu, mengenal, atau bahkan seharusnya mereka tidak pernah ditakdirkan?
Giyuu selalu sendirian. Mencoba menjauh dari orang-orang dikarenakan 'kutukan' yang ada pada dirinya.
Dan entah beruntung atau sial, tanda soulmate berupa mark-nya terletak tepat di atas jantungnya, berwarna biru seperti tetesan air dan dilapisi kobaran api di bagian luar airnya. Sekilas terlihat seperti kobaran api berinti biru.
Kakak perempuannya dulu berkata bahwa tanda soulmate-nya muncul saat dia berusia satu tahun—yang bisa diartikan bahwa pasangannya lebih muda setahun darinya.
Apapun itu, Giyuu sudah memutuskan untuk menjauh dari siapapun yang berumur setahun lebih muda darinya.
Lebih baik tidak bertemu daripada salah satu dari mereka akan semakin menderita. Lebih baik jika mereka tetap berada di kehidupan mereka masing-masing. Giyuu dengan kesendiriannya dan pasangannya dengan hidupnya sendiri.
Setidaknya, itulah yang Giyuu pikirkan.
Hingga sebuah kejadian terjadi.
.
.
.
Kanzaburo, gagak kasugai-nya, lagi-lagi salah mengarahkannya hingga Giyuu tidak sampai pada misinya yang sebenarnya. Tapi dia sampai pada pertarungan Rengoku Kyojuro dengan iblis bulan atas ke tiga.
Tentu saja dia langsung membantunya.
Mereka bertarung bersama hingga matahari nyaris terbit dan Akaza—nama iblis bulan atas ke tiga—kabur kedalam hutan. Giyuu yang saat itu menghalangi pergerakannya membuat Akaza melakukan trik kotor dengan darahnya dan memukul wajah Giyuu.
"Tomioka!"
"Tomioka-san!"
Pandangannya langsung menggelap, kepalanya pusing dan ada sesuatu yang membasahi wajahnya. Terlepas dari darah Akaza yang dicipratkan pada matanya, sepertinya darahnya sendiri ikut mengalir keluar.
"TOMIOKA!"
Giyuu masih sadar. Tapi dia tidak bisa membuka kedua matanya—terlalu sakit. Teriakan Kyojuro sama sekali tidak membantunya dan malah membuat telinganya ikut sakit. "Tenang sedikit, Rengoku."
"Kepalamu berdarah, Tomioka!" lagi-lagi Kyojuro berteriak—walaupun volume suaranya sudah lebih baik daripada sebelumnya. Sesaat kemudian Giyuu merasa tubuhnya melayang dan dipeluk—tidak, dibopong oleh seseorang. "Bertahanlah, aku akan membawamu ke Kocho!"
"Rengoku! Turunkan aku! Kamu juga terluka!" Giyuu tanpa sadar berteriak. Kepalanya semakin pusing dan kehadiran Kyojuro didekatnya sama sekali tidak membantu. Pemuda itu juga terluka, bahkan sudah terluka sebelum dia datang secara tidak sengaja untuk membantu. "Turunkan aku. Setidaknya biarkan aku berbaring."
Kyojuro menatap Giyuu yang kini ada di gendongannya dengan ekspresi tidak terbaca. Kening gadis itu berkerut dalam, cipratan dari darah Akaza masih menetes dan mengalir di pipinya (mungkin darah itu tercampur dengan luka akibat pukulan Akaza). Matanya masih tertutup dan nafasnya berat.
Pada akhirnya, pemuda itu menurunkan Giyuu di samping Tanjiro. Kyojuro bahkan melepaskan jubah putih beraksen apinya untuk menyelimuti Giyuu yang memakai seragam rok pendek.
"Tomioka-san!"
Giyuu menarik nafas, mencoba menahan rasa kesal. Dari tadi telinganya dipenuhi teriakan. Itu membuatnya semakin pusing dan sakit. "Tanjiro, tidak perlu berteriak di samping telingaku."
"A-ah, maaf, Tomioka-san."
"Orang berbaju setengah-setengah! Bagaimana caramu sampai kesini?!"
"..."
"Inosuke! Jangan berteriak!"
'Kau sendiri berteriak, Tanjiro.' Batin Giyuu, kini benar-benar merasa semakin kesal dan terganggu.
"Itu benar! Tomioka, bagaimana caramu bisa kesini?!" suara Kyojuro lagi-lagi terdengar. Dari suaranya, sepertinya pemuda itu duduk di sampingnya. "Kamu benar-benar datang tepat waktu! Kamu menyelamatkanku! Walaupun begitu, matamu... apakah itu baik-baik saja?!"
"...Kanzaburo tersesat lagi." Giyuu menjawab setelah beberapa saat. "Aku hanya tidak sengaja sampai kesini."
"TANJIROOO! INOSUKEEE! RENGOKU-SANN!" sebuah teriakan setengah menangis terdengar bersamaan dengan langkah kasar. "KAKUSHI-SAN SUDAH DISINIIII!"
'Lagi-lagi teriakkan. Tidak bisakah mereka tenang?' Giyuu menghela nafas, lelah dengan segala keributan yang ada di sekitarnya.
"Rengoku-san! Ah! Tomioka-san juga!"
"Tomioka-san! Mata anda!"
"...Tidak apa-apa. Ini bukan darahku."
"Tomioka-san! Bagaimana kamu bisa bilang begitu?! Iblis tadi sempat memukul matamu!" Tanjiro di samping kanan berteriak, membuat Giyuu semakin kesal dan lelah.
"Itu benar, Tomioka!" Kyojuro mengikuti di samping kiri.
"...Tidak bisakah kalian tenang...?" gumam Giyuu, kali ini benar-benar kehilangan semua tenaganya. Tubuhnya sudah diangkat dan di gendong dibelakang punggung salah seorang Kakushi. Mereka siap untuk dibawa kembali ke kediaman kupu-kupu.
"Kami akan membawa anda pada Shinobu-san secepatnya, Tomioka-san!"
.
.
.
"Ara, Rengoku-san sudah sadar. Bagaimana perasaanmu?" Kocho Shinobu, sang Hashira serangga sekaligus dokter mereka menyapa dengan senyuman riang yang selalu terpasang. "Kamu sudah tertidur seharian."
"Kocho!" balas Kyojuro disertai senyuman secerah matahari, "Apa kabar?! Aku sudah merasa baik-baik saja!"
"Ara, aku baik-baik saja. Syukurlah kalau Rengoku-san merasa begitu." Shinobu melangkah mendekat, meletakkan obat dan secangkir air putih di atas nakas disebelah ranjang Kyojuro. "Tapi rusukmu patah, Rengoku-san. Akan butuh waktu untuk memulihkannya. Sisanya hanya beberapa goresan yang akan sembuh dengan cepat."
"Mn! Tidak apa-apa! Ngomong-ngomong, Kocho, bagaimana dengan Tomioka?! Matanya baik-baik saja kan?!"
Suara Kyojuro memang sudah lantang sejak dulu. Jadi walaupun bagi orang lain dia sedang berteriak, baginya dia hanya sedang berbicara dengan nada biasa.
"Sebelum itu, Rengoku-san, tolong kecilkan suaramu. Kamado-kun bisa terbangun nanti." Shinobu berujar sambil melirik ranjang sebelah kanan Kyojuro. Tanjiro sedang tertidur dalam pengaruh obat.
Kyojuro langsung mencoba mengecilkan suaranya dengan perasaan bersalah, "baiklah. Lalu bagaimana dengan Tomioka?"
"Tomioka-san belum sadar, dan matanya terluka cukup parah. Aku harus menunggunya sadar untuk memeriksa lebih lanjut."
"Apakah dia akan baik-baik saja? Ini salahku. Jika saja aku lebih cepat dan bisa membunuh iblis itu, Tomioka tidak perlu terluka..."
Shinobu menggeleng, kali ini berkata dengan serius. "Jangan menyalahkan diri, Rengoku-san. Tomioka-san tidak akan menyukainya. Lagi pula, iblis bulan atas memang tidak bisa diremehkan. Kalian beruntung bisa kembali hidup-hidup."
"Tapi—!"
"Itu bukan salahmu, Rengoku-san." Tekan Shinobu, menatap Kyojuro lurus-lurus. "Tomioka-san akan baik-baik saja. Dia cukup kuat dan aku yakin dia akan baik-baik saja. Percayalah padanya."
"... Baiklah. Aku percaya padanya!" Kyojuro menarik nafas, kembali tersenyum lebar. "Tolong beritahu aku jika Tomioka sudah sadar, Kocho."
"Ara, tentu saja, Rengoku-san."
.
.
.
Gelap.
Hanya kegelapan dimana-mana.
Tomioka Giyuu dapat merasakan tubuhnya sedang terbaring di atas sesuatu yang empuk. Mungkin ranjang?
Dia mencoba menggerakkan tubuhnya hingga merasakan kulitnya bersentuhan dengan seprai. Sesuai dengan pergerakan tangannya. Tapi saat Giyuu mencoba untuk mengerjapkan mata, hanya ada kegelapan di hadapannya.
'Mungkinkah... aku buta?' tanyanya dalam hati. Mengingat bahwa sebelum jatuh pingsan, matanya sempat terluka karena pukulan dan darah Akaza. Mungkin saja Giyuu menjadi buta karena pukulan yang diterimanya?
Pemikiran ini membuat Giyuu tanpa sadar bergetar, bingung dengan apa yang dirasakannya sekarang. Sedih? Marah? Atau pasrah? Menyesal? Takut? Mungkin semua itu bercampur di dalam hatinya. Giyuu tidak lagi bisa berpikir dan beralih mencengkram selimut yang menutupinya erat-erat.
"Tomioka-san?"
Suara Shinobu membuatnya tersentak dan tanpa berpikir lebih jauh, Giyuu langsung memanggilnya.
"Kocho."
"Ara, Tomioka-san sudah sadar rupanya. Kamu sudah tidak sadarkan diri sejak empat hari yang lalu lho, Tomioka-san. Apa kamu baik-baik saja? Walaupun kamu tidak terluka terlalu parah, tetap saja luka di matamu cukup serius. Bagaimana perasaanmu sekarang?"
Tanpa sadar tangannya terangkat dan mencoba untuk menyentuh matanya sendiri. Tekstur kain kasar yang menutupi matanya mendadak membuat Giyuu sadar bahwa setengah kepalanya terbalut perban. Ini sebabnya semua terlihat gelap walaupun dia mencoba.
"Lebih baik." Gumam Giyuu, "apakah mataku baik-baik saja?"
"Aku tidak bisa memastikannya, Tomioka-san. Karena kamu sudah sadar, kenapa kita tidak melihatnya? Katakan padaku jika ada yang aneh dengan penglihatanmu."
Hanya perasaan Giyuu, atau memang suara Shinobu terdengar sangat serius?
"Aku akan mulai membuka perbannya, Tomioka-san. Pejamkan matamu, lalu sesuaikan cahaya yang masuk agar matamu tidak bertambah sakit."
Giyuu merasakan perban yang melingkari kepalanya perlahan menjadi longgar dan mulai terlepas. Setelahnya, dia mencoba membuka sedikit matanya dan mengerjap-ngerjap. Hanya gambar buram yang bisa dilihatnya. Tidak begitu jelas, seperti matanya telah tertutup sebuah selaput pudar.
"Bagaimana, Tomioka-san?"
"Kocho," lagi-lagi Giyuu mencoba mengerjapkan mata, mencoba memperjelas pengelihatannya. "Pandanganku buram."
Suara nafas Shinobu terdengar seperti tercekat. Apakah matanya separah itu? Giyuu bahkan tidak bisa melihat dengan jelas kedua tangannya. Seperti ada kabut tipis yang menghalanginya untuk melihat, bahkan dengan tangan yang dia angkat mendekati wajahnya. Itu hanya terlihat semakin jelas, namun tidak benar-benar sejernih biasanya.
"Tomioka-san, bisakah kamu melihatku?" Shinobu menyentuh lengannya, membuat Giyuu menoleh kearahnya dan mendapati gambar buram. Tapi dari warna yang terpisah-pisah secara acak, Giyuu tahu bahwa itu memang Shinobu.
"Buram." Jawab Giyuu jujur. "Aku tidak bisa melihatmu dengan jelas."
Pipinya disentuh, dan bayangan Shinobu yang bergerak mendekati wajahnya terlihat semakin jelas namun masih sedikit pudar. Dari instingnya, Giyuu tahu bahwa Shinobu memeriksa matanya.
"Tomioka-san, maaf... tapi aku rasa matamu tidak akan bisa kembali seperti dulu."
"... begitu."
"Kamu tetap harus mengkonsumsi obat, Tomioka-san. Aku khawatir kerusakannya akan semakin parah dan... cahaya akan benar-benar hilang." Shinobu menunduk, dan Giyuu memprediksi bahwa wanita itu kini sedang merasa bersalah. "Aku akan mencari cara agar matamu bisa kembali. Beri aku waktu—aku akan mencari obatnya."
"Kocho."
"Ada apa, Tomioka-san?"
"Tidak apa-apa, jangan terlalu memaksakan diri." Giyuu membuang pandangannya, dia tidak ingin dikasihani ataupun mendapat tatapan bersalah dari Shinobu. "Dan tolong... jangan beritahu siapapun. Kecuali Oyakata-sama."
"Eh?"
"Rengoku dan Tanjiro." Dua nama yang terucap dari bibir Giyuu membuat Shinobu langsung memahaminya.
Mereka berdua akan merasa sangat bersalah pada Giyuu nantinya.
Shinobu tidak suka ini. Tapi kali ini dia akan menurut. "Baiklah, Tomioka-san. Tapi aku akan tetap membalut kedua matamu agar lukanya tidak semakin buruk."
Giyuu tersenyum samar, "Terima kasih."
.
.
.
Sebenarnya, Giyuu sama sekali tidak terbiasa dan cukup terganggu dengan perban yang ada di kepalanya.
Dia jadi tidak bisa melangkah dengan baik—dan benar-benar harus mengandalkan orang lain untuk berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya. Bahkan Giyuu tidak bisa makan tanpa disuapi! Ini benar-benar menyebalkan. Shinobu bahkan menggodanya karena itu.
Tapi ada juga saat-saat dimana perban di kepalanya dilepas agar matanya bisa 'bernafas'. Dan Giyuu sangat bersyukur karena walaupun pengelihatannya sama sekali tidak membaik sejak terakhir kali, setidaknya dia masih bisa melihat dengan samar. Awalnya dia sering mengusap matanya tanpa sadar, tapi kini Giyuu sudah terbiasa dan tidak lagi mengusapnya.
"Tomioka-san, satu jam lagi datanglah ke ruanganku untuk memakai kembali perbanmu. Ingat, jangan sampai melihat sesuatu yang membuatmu silau atau aku terpaksa terus menerus membalut matamu." Itu kata Shinobu satu jam yang lalu (kira-kira, tentu saja.)
Giyuu benar-benar tidak ingin membuat Shinobu kesal (walau sebenarnya wanita itu selalu kesal dan senang sekali mengganggunya, entah kenapa.) Jadi dia beranjak dari taman belakang menuju ruangan Shinobu.
Itu tidak se sulit saat matanya diperban—setidaknya Giyuu sudah mulai mengira-ngira berapa langkah yang harus diambilnya sebelum berbelok dan kembali berjalan. Ditambah lagi matanya masih memberikan gambar buram yang cukup membantunya.
Tok-tok.
"Kocho. Ini aku." Ucap Giyuu sebelum membuka pintu tanpa menunggu jawaban.
Yang tertangkap pada pandangan buramnya adalah warna kuning cerah dan hitam yang bersebelahan. Lalu dari warna buram yang sedikit menyatu, Giyuu menyimpulkan bahwa Shinobu sedang mengganti perban Kyojuro—atau mungkin sedang memeriksa rusuknya yang patah.
"Ara, Tomioka-san. Tunggu sebentar, aku akan memeriksamu setelah ini."
Giyuu hanya mengangguk samar dan pelan-pelan melangkah untuk duduk di kursi di sebelah Kyojuro.
"Osh! Halo, Tomioka! Bagaimana matamu?! Apakah itu sudah baik-baik saja?!" sapa Kyojuro dengan semangat. Pemuda itu tertawa saat Giyuu meliriknya dengan kening berkerut, dia tahu bahwa suaranya terlalu besar dan langsung berusaha untuk mengecilkan volumenya sendiri.
Anggukkan samar lagi-lagi diberikan. Tomioka Giyuu tidak berniat untuk membuka bibir tentang masalah penglihatannya. Biarlah Kyojuro kembali pada aktivitasnya biasanya tanpa rasa bersalah pada Giyuu. Pemuda itu pasti akan menjadi sangat menganggunya saat tahu keadaannya yang sebenarnya.
Tunggu, kenapa Giyuu bersikap seolah-olah dia kenal baik seorang Rengoku Kyojuro? Bukankah mereka tidak pernah dekat?
Pemikiran itu terhenti saat Shinobu bertanya tentang tanda soulmate milik Kyojuro.
"Rengoku-san, pasanganmu pasti sangat beruntung. Mark kalian ada tepat di atas jantung. Ini kejadian yang cukup langka."
Deg.
Jantung Giyuu seolah-olah berhenti. Tanpa sadar kepalanya menoleh untuk melihat tanda mencolok di atas jantung Kyojuro (mereka duduk bersebelahan dan Kyojuro melepas kemejanya agar Shinobu bisa memeriksa dan mengganti perbannya.)
Pandangannya masih buram. Tapi warna samar yang terlihat sukses membuat jantungnya benar-benar akan terhenti. Takdir benar-benar membencinya.
"Mn! Tandanya mirip seperti kobaran api dengan inti biru! Aku benar-benar menyukainya dan berharap kami segera bertemu!" suara Kyojuro berhasil menarik kembali kesadaran Giyuu. Gadis itu langsung mengalihkan pandangan dan kembali memasang ekspresi datar. "Ibu bilang bahwa tanda ini sudah ada sejak aku lahir!"
Dalam hatinya, Giyuu betekad akan menjauhi Kyojuro setelah ini. Mereka tidak bisa bersama—dan Giyuu benar-benar tidak ingin membuat nyawa Kyojuro kembali terancam. Belum lagi rasa bersalah yang pasti dirasakan oleh pemuda itu nantinya jika mengetahui keadaan matanya.
"Ara, begitu rupanya." Balas Shinobu. "Aku sendiri malah tidak ingin bertemu dengan'nya'. Soulmate-ku bertipe Body Print dan aku tidak ingin penuh dengan warna di saat yang tidak tepat."
"Naruhodo na! Lalu bagaimana denganmu, Tomioka?"
Tubuh Giyuu terperanjat saat tiba-tiba pertanyaan itu ditujukan padanya. Gadis itu bingung harus menjawab apa hingga memilih tetap bungkam.
"Tomioka-san, bukankah kamu sangat tidak sopan karena menggantung pertanyaan itu begitu saja?" Suara Shinobu bernada menganggu. Jelas sekali gadis itu juga ingin tahu apa tipe soulmate-nya.
"Tidak masalah jika Tomioka tidak ingin menjawabnya!"
"... Mark bertanda tetesan air," jawab Giyuu pada akhirnya.
"..."
"..."
"... Letaknya ada di dada." Tambahnya. Lalu benar-benar bungkam.
"Ara, aku sangat penasaran. Bisakah kamu membiarkanku melihatnya, Tomioka-san?"
Giyuu langsung menjawab—tanpa sadar setengah berteriak. "Tidak!"
Sungguh, Giyuu ingin segera lari dari sini secepat mungkin. Kenapa dia bisa kehilangan ketenangan dirinya semudah itu? Dia bahkan bisa merasakan tatapan terkejut Kyojuro dan Shinobu.
"Aku hanya bercanda, Tomioka-san. Jangan anggap itu serius."
Kyojuro tidak mengatakan apapun lagi hingga Shinobu selesai mengganti perbannya. Dia hanya melirik Giyuu terang-terangan dan bertanya-tanya kenapa dirinya merasa terganggu dengan jawaban gadis itu. Ditambah lagi, sikap Giyuu yang mendadak aneh. Kyojuro tentu saja tidak melewatkan ekspresi tidak percaya dari Giyuu saat mereka membahas Mark miliknya.
'Mungkinkah dia terkejut karena aku memiliki Mark di atas jantung? Yah, kasus ini memang cukup jarang terjadi sih...' batin Kyojuro, mencoba berpikir positif.
"Sudah selesai, Rengoku-san. Jika itu terasa sakit lagi, tolong segera datang padaku."
"MN! Terima kasih, Kocho! Tomioka, aku duluan!"
Giyuu hanya memberi anggukan dan Shinobu melambaikan tangan dengan anggun. Setelah Kyojuro keluar dari ruangan Shinobu, barulah gadis itu menatap Giyuu lurus-lurus.
"Kamu berbohong, Tomioka-san. Bukankah itu sangat tidak baik?"
"..."
"Tanda soulmate tipe Mark memiliki keunikan jika tanda itu terletak tepat di atas jantung. Saat mereka benar-benar telah 'terhubung', maka mereka bisa merasakan perasaan satu sama lainnya. Bahkan ada kasus tertentu dimana pasangan bisa saling berkomunikasi tanpa harus bertukar kalimat."
"..."
"Tomioka-san, aku tahu bahwa tanda yang dimiliki Rengoku-san benar-benar sama persis dengan milikmu." Shinobu mengecilkan suaranya, hingga kalimat itu benar-benar seperti bisikan. "Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi tolong jangan berbuat hal bodoh hanya karena pemikiranmu sendiri."
Giyuu mengalihkan pandangan, benar-benar menolak untuk menjawab.
Shinobu mendesah lelah, pada akhirnya berhenti menekan Giyuu dan mulai melakukan pemeriksaan. "Bagaimana matamu? Apakah itu sama seperti sebelumnya?"
"... tidak ada perubahan. Apa aku tetap harus mengkonsumsi obat? Ini sudah satu bulan, Kocho. Aku tidak apa-apa."
"Tomioka-san..."
Giyuu menatap Shinobu dengan tenang—tanpa ekspresi. Dia benar-benar tidak ingin membuat Shinobu khawatir. (Walaupun Giyuu sendiri ragu, apakah Shinobu bisa merasa khawatir padanya.) "Aku akan baik-baik saja."
"... baiklah."
Perban yang tadinya ingin dipasang kembali disimpan. Giyuu sudah benar-benar diizinkan untuk pulang dan pergi dengan kondisi penglihatannya yang buram.
"Tomioka-san," panggil Shinobu saat Giyuu ingin melangkah pergi dari kediaman kupu-kupu, "tolong berhati-hatilah."
"... terima kasih." Jawabnya tanpa menoleh. Lalu dia pergi begitu saja.
.
.
.
Seperti biasanya, ketika pertemuan Hashira diadakan, semua Hashira diwajibkan untuk datang.
"Ara, Tomioka-san." Shinobu langsung menyapanya saat Giyuu memasuki ruangan untuk pertemuan mereka. "Selamat siang."
Giyuu hanya mengangguk, lalu melangkah untuk duduk di sebelah Shinobu. Pandangannya masih buram dan Giyuu entah kenapa merasakan firasat buruk.
Yang lainnya seperti biasa mengabaikan kehadiran Giyuu. Hanya Shinobu yang meliriknya diam-diam, terutama matanya. Biru gelap itu sekarang terlihat memudar, membuatnya seperti biru sapphire. Dan sepertinya pengelihatan Giyuu semakin buruk.
Seperti menyadari tatapan Shinobu juga tatapan lain yang cukup intens, Giyuu memilih memejamkan matanya. Dia terbiasa menjadi pengamat dari jauh dan diabaikan. Tatapan itu membuatnya benar-benar tidak nyaman (dan entah kenapa kali ini Giyuu tidak bisa mengabaikannya. Padahal biasanya dia hanya mengabaikan tatapan yang terarah padanya.)
"Oyakata-sama sudah tiba."
Suara pintu yang tergeser terdengar, tidak lama kemudian suara langkah kaki terdengar. Giyuu membuka matanya hanya untuk melihat pemandangan buram di hadapannya. Firasatnya mendadak semakin buruk.
"Halo, anak-anakku yang manis. Aku merasakan bahwa hari ini adalah hari yang cerah. Kita kembali berkumpul untuk rapat yang selalu diadakan enam bulan sekali." Suara lembut Ubuyashiki Kagaya terdengar. Suara ini membuat Giyuu tenang dan menghilangkan firasat buruknya sepenuhnya.
"Salam, Oyakata-sama. Kami selalu berharap anda sehat selalu, merupakan kebahagiaan bagi kami karena kondisi anda stabil dan dapat bertemu dengan kami."
"Terima kasih, Sanemi." Jawab Ubuyashiki, nadanya masih sama lembutnya seperti sebelum-sebelumnya. "Hari ini, aku ingin memberitahu kalian sesuatu."
"..."
"Giyuu," panggil Ubuyashiki disertai langkahnya yang mendekati Giyuu.
"Ya, Oyakata-sama."
"Bisakah kamu mengatakan tentang keadaan matamu yang sebenarnya?"
Deg.
Tubuh Giyuu seperti disiram air es. Lidahnya mendadak terikat. Patah-patah ditatapnya Ubuyashiki. Dia tidak bisa melihatnya dengan jelas, tapi Giyuu tahu bahwa Ubuyashiki sedang serius. Tatapan yang lainnya juga terarah padanya dan menambah buruk keadaan psikologisnya.
"O-oyakata-sama..."
"Aku rasa bukanlah hal yang tepat jika kamu menyembunyikannya dari yang lain... bisakah kamu memberitahu kami?"
Kedua tangannya digenggam dengan lembut, membuat Giyuu semakin tidak dapat menolak permintaan Ubuyashiki. "A-aku... aku tidak dapat melihat dengan jelas... sejak saat itu..." gumamnya pada akhirnya. Matanya terpejam erat dan kepalanya tertunduk. Mencoba mengabaikan tatapan Hashira lainnya.
"Tunggu! Tomioka! Bukankah saat itu kamu mengatakan bahwa kamu baik-baik saja?! Kocho, bagaimana ini bisa terjadi?!"
"Bahkan akupun tidak bisa menyembuhkannya, Rengoku-san. Maaf, ini diluar kemampuanku."
"Jadi Tomioka kehilangan kemampuannya untuk melihat, huh?"
"Tomioka-chan..."
"Cih. Orang egois sepertimu, bagaimana bisa tetap menjadi Hashira?!"
"Shinazugawa. Itu sangat tidak sopan. Tapi aku setuju denganmu. Tomioka, kenapa kau tidak berhenti saja dari pemburu iblis?"
"Amitabha, kasihan sekali jiwa ini..."
"Kemampuan untuk melihat, ya..."
Ubuyashiki meletakkan telunjuknya di depan bibir, meminta mereka semua untuk tenang. "Giyuu, kenapa kamu tetap memilih untuk menjadi Hashira dan menyembunyikan ini?"
Jeda sejenak sebelum Giyuu menjawab, seolah-olah hidupnya benar-benar akan berakhir setelah ini. "Karena ini tugasku... Oyakata-sama, dan aku tidak ingin... merepotkan yang lainnya."
"Manusia adalah makhluk sosial, Giyuu. Kamu tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Kami ada disini, dan kamu tidak pernah merepotkan kami." Pelan-pelan Ubuyashiki memeluknya, mengantarkan ketenangan tersendiri. "Giyuu, bolehkah aku meminta sesuatu darimu?"
Yang lainnya terdengar jelas menahan nafas. Penasaran dengan apa yang akan Ubuyashiki minta. Sedangkan Giyuu sendiri merasakan firasat yang sangat-sangat buruk.
"... ya, Oyakata-sama." Dengan ragu dia menjawab.
"Aku ingin kamu berhenti menjadi Hashira dan hidup bahagia dengan pasanganmu." Ubuyashiki melepaskan pelukannya dan menepuk pundak Giyuu, berkata dengan sangat lembut. "Salahkah aku jika aku memintamu untuk berhenti?"
"Oyakata-sama, a-aku... aku tidak tahu..."
"Aku tidak akan memaksamu, Giyuu. Tapi aku berharap kamu akan memikirkannya."
Giyuu hanya diam. Dia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa.
.
.
.
Beberapa bulan setelah rapat itu, Giyuu tetap tidak memberikan jawaban pada Ubuyashiki.
Tugasnya benar-benar dikurangi olehnya, seolah-olah meminta Giyuu secara halus untuk berhenti. Karenanya kini Giyuu lebih sering berada di kediamannya—bahkan terkesan sedang mengurung dirinya sendiri.
Untungnya, matanya tidak bertambah buruk. Hanya saja terkadang Giyuu kesulitan untuk membaca. Selain itu, semua baik-baik saja. Dia hanya perlu lebih berhati-hati dalam melangkah dan menggunakan nichirin.
Tapi tetap saja. Giyuu bertanya-tanya pada dirinya sendiri hingga dia tidak bisa tidur dengan baik selama beberapa bulan itu.
Sebenarnya, apa alasannya mempertahankan status Hashira-nya? Apa alasannya dia tetap menjadi pemburu iblis?
'Sabito dan Makomo.'
Ah, benar. Sabito. Dialah alasan Giyuu masih hidup... dia terikat janji dengannya... juga Makomo... Giyuu harus tetap hidup... tapi Giyuu lelah. Apa artinya hidup jika orang-orang yang kau sayangi, satu persatu pergi meninggalkanmu sendirian?
"Aku lelah..." Gumam Giyuu, menutup mata dan menyentuh tanda soulmate-nya. Bahkan air hangat bercampur aroma terapi yang menyelimuti tubuh telanjangnya tidak lagi bisa membuatnya rileks. "Kalau aku benar-benar berhenti, apa yang harus aku lakukan..."
Tapi jika Giyuu berhenti... bukankah itu artinya dia tidak akan bertemu dengan Kyojuro lagi? Pemuda itu tidak akan tahu tentang dirinya, dan Giyuu tidak perlu takut terluka bila salah satu dari mereka akan benar-benar mati.
'Jika... itu membuatku bisa menjauhinya... kenapa tidak aku lakukan saja?' pikir Giyuu, masih setia memejamkan mata dan menyentuh tanda soulmatenya. Sesuatu di dalam sana terasa sakit. Mungkin karena kekeraskepalaan Giyuu. Atau mungkin saja karena Giyuu tidak sepenuhnya siap melepaskan 'kehidupannya'.
Tanpa sadar, dia tertidur di dalam pemandiannya sendiri.
.
.
.
"Ah! Rengoku-san! Selamat siang!" Tanjiro menyapa dengan semangat.
Kyojuro yang baru akan melangkah pulang membalas tidak kalah semangat. "Kamado shounen! Selamat siang! Apakah kamu akan pergi bertugas?!"
"Tidak, aku akan pergi ke rumah Giyuu-san. Kemarin dia menitipkan surat untuk Urokodaki-san karena dia khawatir Kanzaburo akan menghilangkannya seperti yang sudah-sudah. Sepertinya isi surat itu cukup penting karena Urokodaki-san langsung membalasnya."
Tanpa pikir panjang, Kyojuro langsung meminta untuk ikut. Dia tidak pernah bertemu dengan Giyuu semenjak pertemuan terakhir mereka di rapat Hashira. Pemuda itu belum sempat bertukar kata dengan Giyuu karena setelah Ubuyashiki keluar, Tomioka Giyuu juga ikut menghilang. Seolah-olah gadis itu menghindari mereka semua.
Dia tidak pernah tahu letak kediaman Hashira air. Begitupun yang lainnya. Jadi walaupun dia ingin mengunjunginya, dia tidak tahu harus pergi kemana.
'Ini kesempatan agar dia mau bicara denganku. Aku butuh penjelasan atas sikapnya! Kami berteman dan aku rasa tidak ada salahnya jika dia bergantung pada kami!' pikir Kyojuro. Mengingat kembali ucapan Giyuu yang tidak ingin merepotkan yang lainnya.
"Rengoku-san, kamu terlihat banyak pikiran. Apakah ada sesuatu yang terjadi?"
"Tidak sama sekali! Hanya saja, aku belum bertemu dengan Tomioka sejak beberapa bulan yang lalu! Ada... sesuatu yang harus dia jelaskan!"
Tanjiro mengangguk-angguk. Dalam hatinya diam-diam meringis karena Kyojuro baru saja mengeluarkan ekspresi gelap. Walaupun hanya beberapa detik, tapi itu cukup membuat Tanjiro merasa takut.
Mereka sampai di depan sebuah rumah yang letaknya cukup dekat dengan hutan bambu dan sungai di belakangnya. Suasananya benar-benar sunyi dan tenang, khas Tomioka Giyuu. Pada halamannya hanya ada rumput pendek dan beberapa batang bambu dan kayu untuk latihan.
"Giyuu-sannnn!" Panggil Tanjiro, "Permisii!"
Tidak ada jawaban.
"Mungkin dia sedang tidak di rumah!" ucap Kyojuro. Rumah itu begitu sepi, seolah-olah tidak ada orang yang tinggal didalamnya. Sangat berbeda dengan kediamannya yang masih cukup ramai dengan suara latihan adiknya atau suara pembicaraannya dengan ayahnya.
"Tapi dari aromanya, dia ada di dalam, Rengoku-san." Bantah Tanjiro. Dia merasa ada yang tidak beres dan langsung masuk kedalam kediaman Hashira air begitu saja. Sepertinya anak itu sudah sering berkunjung ke sini sehingga hafal denahnya. "Giyuu-san!"
"Tu—Kamado shounen!" Kyojuro tidak sempat menahannya. Dan jika Tanjiro berlari seperti itu, bukankah artinya ada sesuatu yang buruk sedang terjadi? Bagaimana dengan Giyuu? Bukankah mata gadis itu terluka dan—"Tomioka!"
Kyojuro ikut memasuki kediaman Hashira air tanpa izin. Tidak sopan, memang. Tapi jika ada sesuatu yang terjadi pada Giyuu, Kyojuro tidak tahu lagi harus bagaimana. Dia sudah gagal melindunginya sekali (dan karenanya, mata Giyuu terluka.) dan jika kali ini terjadi sesuatu padahal dia ada disini, bagaimana caranya Kyojuro menghadapi ibunya di akhirat nanti?
"Rengoku-san! Disini!"
Tanjiro memanggilnya sambil mengetuk pintu... apakah itu kamar mandi?
"Giyuu-san ada di dalam. Tapi aku tidak bisa mencium lebih jauh karena ada aroma lain yang menghalangi! Tapi yang pasti dia sama sekali tidak bergerak dan membalas panggilanku!" ujar anak itu dengan khawatir. Tanpa sadar tangannya sudah menggedor pintu kamar mandi di depannya. "Giyuu-san!"
"Minggir, Kamado shounen! Aku akan membuka pintunya!"
"Eh tapi Rengoku-san—!"
Kyojuro tidak menunggu Tanjiro menyelesaikan ucapannya saat dengan keras berteriak dan membuka pintu di hadapan mereka. "Tomioka! Permisi dan maafkan aku!"
Uap hangat langsung terasa bersamaan dengan wangi aroma terapi. Di antara uap itu, sosok Tomioka Giyuu sedang bersandar pada pinggir kolam pemandiannya. Tidak bergerak sama sekali.
"Tomioka!"
"Giyuu-san!"
Tanjiro dan Kyojuro langsung berlari menghampiri sosok yang terendam air hingga leher. Dengan panik memeriksa nadinya dan langsung merasa lega saat menyadari bahwa Giyuu hanya tertidur.
"Kamado shounen, tolong ambilkan handuk. Kita tidak bisa membiarkan Tomioka tidur di sini. Dia bisa sakit." Kyojuro melepas jubah dan seragamnya, meninggalkan kemeja putih lengan panjang dan celana longgar berwarna hitam panjang. "Aku akan mengangkatnya dan kamu menutupi tubuhnya."
Pipi Tanjiro memerah, tapi anak itu tetap mengikuti perintah Kyojuro.
"Tomioka?! Hei, Tomioka! Bangun! Kamu bisa sakit jika tidur disini!"
Tapi Giyuu tidak bangun. Entah dia terlalu lelah atau bagaimana, Kyojuro tidak tahu. Jadi pelan-pelan pemuda itu masuk kedalam pemandian dan mengguncang bahu Giyuu.
"Tomio—" tanpa sengaja matanya melihat tanda soulmate milik Giyuu. Mark itu berada tepat di atas jantung gadis itu dan tandanya... sama persis dengan miliknya. "Soulmate?!" teriaknya. Terlalu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia mendadak tidak dapat berpikir jernih. Ini terlalu mengejutkan dan lagi tubuh Giyuu—soulmate-nya yang baru saja dia ketahui—tidak memakai apapun dan berada tepat di depannya.
"Rengoku-san! Aku menemukan handuknya!" suara Tanjiro menyadarkannya dan Kyojuro langsung bersiap mengangkat Giyuu saat gadis itu membuka mata.
"Ah! Tomi—!?"
PLAKKKK!
Suara tamparan terdengar nyaring dan Giyuu secara refleks melompat setelah menyambar selembar handuk yang dipegang Tanjiro. "Siapa kalian?!"
"Gi-giyuu-san! Ini kami! Kamado Tanjiro dan Rengoku-san!"
"!"
"Re-rengoku-san, apakah kamu tidak apa-apa...? Gi-giyuu-san! Kamu tadi tertidur dan kami khawatir—maaf karena sangat tidak sopan!"
Tidak jauh dari tempat Giyuu kini berdiri, sosok Kyojuro terduduk sambil memegang pipinya. Giyuu tidak bisa melihat ekpresinya karena uap tipis dan pandangannya yang buram, tapi dia tahu bahwa pipinya pasti bercap warna merah.
Belum lagi Tanjiro yang berlutut disamping Kyojuro dengan gerakan panik membuat Giyuu mengeraskan rahang.
"Keluar." Usirnya langsung. Walaupun dia merasa sedikit bersalah dengan Kyojuro karena menamparnya begitu saja, tetap saja Giyuu kesal karena mereka sudah seenaknya masuk kedalam rumahnya-kedalam kamar mandinya saat dia mandi-dan menyentuhnya sembarangan.
'Rengoku tidak melihat tanda soulmate-ku kan?' pikirnya khawatir. Pemikiran ini membuatnya semakin marah dan emosinya meluap. Tangannya bergerak memasang handuk pada tubuhnya dan menutupi jantungnya. 'Dia tidak seharusnya ada di sini dan melihatnya!'
"KELUAR DARI SINI!" jeritnya pada akhirnya.
Tanjiro berjengit. Dengan panik dibantunya Kyojuro yang masih terdiam syok sambil memegang pipinya yang baru saja ditampar. Aroma Giyuu penuh dengan kemarahan yang bercampur dengan gelisah. Belum lagi ekspresi murka yang belum pernah dilihat Tanjiro. Ini membuat Tanjiro merasa benar-benar bersalah padanya. Mereka pasti sudah sangat tidak sopan! "Re-rengoku-san, sebaiknya ki-kita keluar sekarang..."
Kyojuro mengikuti tarikan anak itu, menyempatkan diri melirik Giyuu yang kini tertunduk dengan ekspresi marah sebelum keluar dari kamar mandi.
Mereka kembali ke teras depan dan duduk tegap disana dalam diam. Seolah-olah takut Giyuu akan semakin marah jika mereka berbincang.
Tidak lama kemudian, Giyuu muncul dengan kain biru muda di tangannya. Gadis itu sudah memakai yukata berwarna biru gelap dan ekspresinya sudah kembali seperti biasanya—datar.
"Rengoku. Ganti bajumu. Kamu... basah." Gumamnya sambil meletakkan kain itu di sebelah Kyojuro. Gadis itu tidak menatapnya, tapi Kyojuro tidak terlalu mempermasalahkannya. Toh bajunya memang basah kuyub karena tadi dia sempat masuk kedalam air untuk mengangkat Giyuu.
Entah Kyojuro harus senang atau marah. Giyuu seolah-olah tidak peduli bahwa mereka soulmate (gadis itu bahkan tidak memberitahunya dan malah bungkam!) dan tetap memperlakukannya seperti sebelumnya! Apakah Giyuu tidak menyukai ikatan mereka? Apakah dia membenci Kyojuro hingga melakukan hal ini? Atau jangan-jangan Giyuu masih tidak yakin bahwa mereka adalah soulmate?
Tapi Kyojuro membuang jauh-jauh pikiran buruk itu dan menerima baju ganti yang diberikan Giyuu. "Tomi—tidak, Giyuu. Terima kasih Giyuu! Aku akan memakainya."
Giyuu mengernyit, namun hanya mengangguk, lalu beralih pada Tanjiro saat Kyojuro melangkah masuk untuk mengganti bajunya. "Kenapa kamu kesini?"
Seketika, Tanjiro ingat dengan tujuannya. Cepat-cepat dirogohnya surat yang ditujukan pada Giyuu.
"Ini balasan dari Urokodaki-san. Aku datang untuk mengantarnya dan tidak sengaja bertemu dengan Rengoku-san di jalan. Dia mengatakan ingin ikut karena ingin bertemu denganmu, tapi tidak tahu dimana rumahmu berada."
"Mm." Gumam Giyuu, menerima suratnya dan kembali menatap Tanjiro setelah melihat kertas berisi huruf-huruf buram. "Tolong bacakan ini."
"E-eh? Apa tidak apa-apa?"
"Aku tidak bisa membacanya."
"Giyuu-san..." suara Tanjiro terdengar ragu, tapi anak itu tetap mengambil surat di tangan Giyuu dan membacanya. "'Tomioka Giyuu, kamu bisa datang kapan saja dan kamu tahu itu. Apakah ada sesuatu yang terjadi? Kamu bisa membicarakannya denganku kapanpun kamu siap. Salam, Urokodaki Sakonji.' Gi-giyuu-san, apakah kamu memiliki masalah? Bolehkah aku mengetahui alasan kamu tidak bisa membaca ini?"
"..."
"... apakah ini karena kejadian waktu itu? Apakah matamu benar-benar baik-baik saja?!"
Giyuu tidak tahan dengan nada khawatir Tanjiro. Jadi dia menjawab, "sejak saat itu, mataku tidak lagi bisa melihat dengan jelas. Dan aku sudah memutuskan akan mundur dari pemburu iblis."
"Tidak mungkin... Giyuu-san!"
Senyuman kecil diberikan dan tangan Giyuu otomatis terangkat, mengusap-usap puncak kepala Tanjiro dan membawa anak itu kedalam pelukannya. "Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja."
Bahu Giyuu terasa basah. Dia tahu Tanjiro sedang menangis. Mungkin menyesali ketidakmampuannya atau yang lain? Giyuu tidak tahu. "Bukan salah kalian. Mungkin memang sudah takdirku. Jangan menyalahkan diri."
Pelukan mereka terlepas dan Tanjiro mengusap air matanya, berdiri tegap di depan Giyuu dan mengepalkan tangan. "Aku pasti akan membunuhnya! Giyuu-san, aku pasti akan menjadi lebih kuat!"
"Mm. Berjuanglah."
"Ya! Ah, ngomong-ngomong, Giyuu-san, aku benar-benar minta maaf atas yang tadi..."
Giyuu menghela nafas, "tidak apa-apa." Gumamnya. Toh Tanjiro tadi hanya khawatir padanya. Begitupun Kyojuro.
Tanjiro masih merasa tidak enak karena aroma gelisah Giyuu masih belum hilang. Tapi dia tidak berani bertanya lebih jauh dan memutuskan untuk kembali agar Giyuu dan Kyojuro bisa berbicara tanpa gangguan. Bukankah tadi Kyojuro mengatakan bahwa dia perlu membicarakan sesuatu dengan Giyuu? Tanjiro tidak ingin menganggu mereka.
"Ka-kalau begitu aku permisi dulu, a-ada sesuatu yang harus aku se-selesaikan!"
Hanya perasaan Giyuu, atau Tanjiro baru saja membuat wajah dan suara aneh?
"Sa-sampai jumpa, Giyuu-san!" teriak Tanjiro, lalu secepat kilat menghilang dari hadapannya.
"..."
Giyuu bertanya-tanya kenapa Tanjiro bersikap seolah-olah baru saja berbohong. Yah, dia tidak memikirkannya lebih jauh dan melangkah masuk untuk mengambil baskom dan es untuk mengompres pipi Kyojuro yang pasti bengkak akibat tamparannya.
.
.
.
"Giyuu?" panggil Kyojuro saat melihat Giyuu masih duduk di teras depan. Di sebelahnya ada baskom berisi air dan gadis itu hanya menoleh saat menyadari kehadirannya.
Kyojuro dengan ragu mendekatinya dan duduk di sampingnya, merasa canggung dan terganggu karena dia tidak tahu apa yang harus diucapkan lebih dulu.
"Aku—" kata-kata Kyojuro terhenti saat sebuah kain dingin ditempelkan pada pipinya yang sedikit perih akibat tamparan Giyuu sebelumnya.
"Maaf," gumam Giyuu. Tangannya dengan telaten mengompres bekas tamparannya pada pipi Kyojuro. "Apakah masih sakit?"
"Hanya sedikit perih."
"Mm.."
Giyuu fokus pada kegiatannya dan Kyojuro hanya dapat diam menerima perlakuan Giyuu yang sebenarnya cukup manis. Hanya ada keheningan diantara mereka hingga Giyuu membuka bibir.
"Jadi, ada apa?"
"Eh?" Kyojuro mengerjap, tidak menyangka Giyuu akan bertanya.
"Tanjiro bilang ada yang ingin kamu bicarakan."
"Ah! Benar! Giyuu, kenapa kamu berbohong? Kenapa kamu tidak mengatakan bahwa matamu tidak baik-baik saja?! Dan kemana kamu pergi selama beberapa bulan ini?! Aku tidak pernah melihatmu—shh!" pertanyaan Kyojuro terhenti karena Giyuu menekan kompresnya sedikit lebih keras.
"... tolong, satu-satu." Kata Giyuu. Tatapannya tetap menghindari Kyojuro (walau tidak bisa melihat secara jelas, tetap saja gadis itu menghindarinya) dan menatap tangannya sendiri.
"Baiklah! Tapi bisakah kamu melihat ke arahku? Kenapa kamu terus menerus menghindari tatapanku?" dengan kesadaran, Kyojuro juga mengecilkan volume suaranya. Dia ingat bahwa Giyuu tidak terlalu menyukai keributan.
"..."
Kyojuro menangkup tangan Giyuu yang ada di pipinya, sedikit meremasnya. "Giyuu, aku melihat Mark-mu."
"!" Tubuh Giyuu menegang, dan Kyojuro mengetahuinya. Suaranya semakin lembut saat bertanya, seolah-olah tidak ingin semakin membuat Giyuu menjauh.
"Apakah kamu bisa mengatakan kesalahanku sehingga kamu tidak memberitahuku dan malah memilih menghindariku? Padahal kamu tahu bahwa aku soulmate-mu."
"..."
"Giyuu?" tanya Kyojuro. Kali ini tangannya terangkat dan mengusap pipi Giyuu. Dia baru menyadari adanya lingkaran hitam dibawah kedua mata gadis itu, membuatnya merasa ikut sedih. "Kumohon, jawab aku?"
Giyuu menarik nafas, memejamkan mata dan menarik tangannya dari pipi Kyojuro. Tubuhnya mulai bergetar samar saat dia mengungkapkan isi hatinya dengan berantakan. Tekanan dari Kyojuro juga kurangnya istirahat membuatnya mudah kehilangan ketenangan. "Aku... kita tidak bisa bersama. Hanya ada penderitaan—Rengoku, aku... tidak layak untukmu—aku bisa saja membuatmu terbunuh... orang yang dekat denganku selalu mati... bukankah jika begitu lebih baik kita tidak bersama? Aku—aku tidak bisa—aku tidak mau kamu mati! Tidak. Rengoku, bukankah daripada kamu—mereka, seharusnya aku yang mati? Bukankah itu lebih baik? Kamu—seharusnya kamu tidak perlu mengetahui ini. Seharusnya kamu tidak perlu mengatahui bahwa aku adalah pasanganmu... Tidakkah kamu mengerti? Aku ditakdirkan untuk sendirian!"
Kyojuro tidak tahan mendengar Giyuu menyalahkan dirinya sendiri dan berpikir bahwa dia adalah seorang yang harusnya sendirian. Itu semua tidaklah benar! Jadi Kyojuro langsung membungkam bibir Giyuu dan menghentikan racauan gadis itu dengan ciuman dalam.
"Itu tidak benar. Giyuu, tahukah kamu bahwa kamu itu luar biasa? Mereka pasti juga berpikir begitu. Kenapa kamu menyalahkan dirimu sendiri?" Dipeluknya Giyuu dengan erat, mencoba memberikan ketenangan pada gadis itu. "Tidak ada orang yang ditakdirkan untuk sendirian."
"..."
"Tenanglah, aku disini. Kita sudah ditakdirkan bukan? Kamu tidak perlu lagi menanggung semuanya sendirian." Pelukan Kyojuro semakin erat saat Giyuu balas mencengkram punggungnya. "Aku tidak akan mati. Begitupun kamu. Kita akan baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkan siapapun mati."
"... sebagai pemburu iblis, kita bisa mati kapanpun. Dari mana kamu yakin bahwa kamu tidak akan mati?" suara Giyuu pecah, dan Kyojuro yakin bahwa gadis itu sedang mencoba menahan air matanya sendiri. "Waktu itu... kita hanya beruntung karena matahari telah terbit."
"Percayalah padaku. Kita akan baik-baik saja. Bahkan jika aku mati, kamu akan baik-baik saja. Ada banyak orang yang mencintaimu, dan aku juga akan selalu hidup di dalam hatimu." Kyojuro mencium puncak kepala Giyuu dan mengusap punggungnya. Benar-benar berusaha memberikan kenyamanan. "Jadi biarkan aku bersamamu, Giyuu. Berbagilah denganku... izinkan aku mengenalmu lebih dalam... jangan... menolakku..."
Cengkraman Giyuu mengerat sejenak sebelum mengendur dan beralih memeluk Kyojuro tidak kalah eratnya. Tubuhnya bergerak untuk mencari posisi nyaman dan mulai tenggelam di dalam pelukan Kyojuro, berbisik lemah dengan air mata mengaliri pipinya saat akhirnya memberikan kesempatan padanya. Pada Kyojuro dan pada hatinya sendiri. "... baiklah..."
Kyojuro menciumi puncak kepala Giyuu, bergumam terima kasih dan membawa Giyuu kedalam pangkuannya agar mereka bisa merasakan detak jantung masing-masing.
Ikatan soulmate sangat luar biasa. Tubuh dan perasaan mereka membaik dengan sendirinya karena hadirnya pasangan di sekitar mereka. Bahkan Kyojuro dan Giyuu yang tidak pernah 'dekat' secara personal bisa menjadi sangat lengket dalam waktu yang sangat singkat.
"Giyuu?"
"Hm?"
"Kenapa... kamu berbohong tentang matamu?"
Kali ini Giyuu tidak menghindari tatapan Kyojuro dan balas menatapnya dengan mata biru sapphire yang kosong. "Kamu dan Tanjiro... akan merasa bersalah."
"Tentu saja aku akan! Aku tidak cukup kuat untuk melindungimu, melindungi Tanjiro dan yang lain hingga kamu harus terluka hingga seperti ini!"
"Tapi itu bukan salah kalian." Giyuu menangkup kedua pipi Kyojuro, mengusapnya lembut. "Aku baik-baik saja, hanya sedikit kesulitan saat melihat dalam gelap dan membaca huruf kecil. Tapi aku masih bisa melihat."
Kyojuro menunduk dan menyembunyikan wajahnya di bahu Giyuu, bergumam di sana. "Tentu saja itu salahku. Jika saja aku lebih kuat, kamu tidak perlu kesulitan! Jujur saja itu membuatku semakin merasa bersalah..."
"Maaf..."
"Bukan salahmu, berhentilah minta maaf untuk sesuatu yang bukan salahmu. Kamu tidak bersalah, Giyuu."
"Mm.. baiklah. Tapi.. aku tidak menyesal karena berhasil menyelamatkanmu."
"..."
"..."
"Aku tidak tahu harus berkata apa..."
"Mm... tidak perlu bicara apapun. Ini sudah cukup."
Giyuu bergerak mendorong Kyojuro agar mereka kembali berhadapan, kemudian tersenyum kecil dan mendongak untuk memberikan kecupan pada bibir Kyojuro. "Kita... tidak pernah dekat... aku ingin mengenalmu perlahan, bolehkah?"
Wajah Kyojuro berseri. Dia sangat bahagia! Akhirnya Giyuu mau membuka diri padanya dan menerima ikatan mereka sebagai soulmate. Bukankah ini artinya Giyuu tidak akan melarikan diri lagi darinya?
Dengan semangat dianggukannya kepala, lalu memeluk Giyuu semakin erat.
"Tentu saja! Kenapa tidak? Aku juga ingin mengenalmu lebih lagi!"
"Mm..."
"Kurasa kata 'aku mencintaimu' terlalu cepat untuk kita. Jadi bagaimana dengan 'aku menyukaimu'? Karena sejak awal aku sudah menyukai Giyuu!"
Dapat dirasakannya bahwa Giyuu tersenyum dan bersandar padanya setelah mengangguk, membuat jantungnya semakin berdebar kencang dan tidak dapat menahan rasa bahagia.
"Mohon bantuannya, pasanganku yang manis!"
"... aku tidak manis." Gumam Giyuu, suaranya terdengar sebal. "Mohon bantuannya, Kyojuro."
.
.
.
END
.
.
.
Omake
.
.
.
"Aku masih sulit untuk percaya bahwa kalian adalah soulmate. Termasuk pasangan Mark yang langka pula!"
Kyojuro tertawa lebar mendengar penuturan Tengen. Sedangkan Giyuu hanya tersenyum tipis. Di tangan mereka masing-masing ada buntalan yang berisikan buah cinta mereka.
"Anak-anak kalian benar-benar seperti kopian kalian! Yah, kecuali bagian warna mata yang tertukar!"
"Tapi itu manis sekali! Mizuryuu-chan benar-benar mirip dengan Giyuu-san, tapi warna matanya mirip dengan ayahnya! Sedangkan Tojuro-chan mirip dengan Rengoku-san, hanya saja warna matanya mirip dengan Giyuu-san! Aah, anak-anak yang manis sekali!" Makio, salah satu istri Tengen menjerit heboh. Begitupun dengan Suma dan Hinatsuru.
"Giyuu-chan, bolehkah aku mencoba menggendongnya?" Mitsuri yang tidak tahan dengan keimutan anak kembar Giyuu dengan gugup bertanya. Dia berharap bahwa anaknya kelak akan sangat manis seperti Mizuryuu dan Tojuro!
"A-aniue, aku juga ingin mencoba menggendong mereka..." Senjuro bergerak tidak nyaman. Dia sangat bahagia dengan hadirnya anggota keluarga mereka yang baru dan ingin ikut menyentuhnya. Tapi anak itu masih sedikit canggung dengan keberadaan pilar yang lainnya.
Kyojuro dan Giyuu berpandangan, lalu mengangguk dan membiarkan Mitsuri juga Senjuro menggendong anak-anak mereka.
"Kyaaa! Terima kasih Giyuu-chan! Mizuryuu manis sekali!" Mitsuri menjerit tertahan. Dia senang sekali dan tidak sabar menunggu mereka dewasa! Mereka pasti akan menjadi anak-anak yang tampan dan hebat!
Iguro bergerak mendekati Mitsuri dan bermain dengan anak yang berada di gendongan gadis itu, mereka seperti memanjakan anak mereka sendiri dan yang lainnya bertanya-tanya kapan mereka akan bersama.
"Kyojuro," bisik Giyuu, bersandar pada bahu Kyojuro dan dengan ekspresi lembut memperhatikan keributan di sekeliling mereka karena anak kembar mereka yang baru saja lahir. "Terima kasih. Aku sangat bahagia."
Kyojuro mencium puncak kepala Giyuu dan memeluknya erat, "Terima kasih kembali. Aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu Giyuu."
"Mn, aku juga mencintaimu."
Mungkin, takdir tidak membenci Giyuu. Dan ikatan ini tidak seburuk itu.
.
.
.
A/n;
Aku tidak tahu apa yang kuketik. Aku hanya ingin RenGiyuu menikah, bahagia dan punya anak kembar. Aku ingin mereka dipersatukan sejak awal oleh sebuah benang takdir.
Aku sangat mencintai pasangan ini, astaga T^T
Oh dan aku mengetik ini sambil mendengarkan lagu 'Rewrite The Stars' milik Zac Efron dan Zendaya. Ada beberapa lirik yang benar-benar cocok dengan kisah mereka!
