Mengenalmu Lebih Dekat
Rate T
Kimetsu No Yaiba milik Koyoharu Gotoge. Author hanya pinjam karakter untuk melampiaskan ide dan membuat asupan. Author hanya ingin Rengoku Kyoujuro hidup/nangis guling-guling/
WARNING! Aku berusaha keluar dari -ekhemyaoiekhem- tapi ide ini berputar-putar terus, jadi aku membuatnya. Hm, mungkin akan lebih ke friendship? Tapi kalau sampe nyerempet, maafkan aku (itu sebabnya aku memberi rate T, untuk berjaga-jaga). OOC pasti. Tapi kuusahakan tidak. Typo, alur yang berantakan, dan banyak kekurangan lainnya. Fem!Giyuu karena dia terlalu cantik buat jadi cwk tulen/diinjek.
Kurasa itu saja.
Happy reading!
.
.
.
Tomioka Giyuu menatap tenang—nyaris kosong pada pemandangan kilat yang ada di balik jendela kereta api abadi.
Suara berisik dari Hashira api—Rengoku Kyoujuro yang duduk beberapa meter dari tempatnya sekarang membuatnya mengerutkan kening. Hashira api memang berisik—suaranya terlalu keras. Sangat berisik dan ceria, penuh semangat seperti matahari. Sangat berbeda jauh dengannya.
Lalu ketika Kamado Tanjiro dan teman-temannya datang menghampiri sang Hashira, Tomioka Giyuu diam-diam menghela nafas. Bocah berkepala babi itu dengan berisik memukul-mukul kaca kereta, berteriak ingin melawannya atau apalah itu. Sedangkan bocah berambut pirang marah-marah dan menarik bocah lainnya agar duduk dengan tenang.
Dalam hatinya Tomioka Giyuu bertanya-tanya. 'Kenapa aku bisa berada disini?'
Dia hanya mendapat libur dari Oyakata-sama dan berniat bersantai sejenak di kota saat tidak sengaja melihat Kyoujuro. Perasaannya entah kenapa mendadak tidak enak, jadi dia mengikutinya.
Untungnya, Kyoujuro sama sekali tidak menyadari keberadaannya. Begitupun Tanjiro dan teman-temannya yang lain. Mungkin karena dia menggunakan pakaian santai—yukata longgar warna biru tua yang memerlihatkan bagian dada yang ditutupi baju seragam pemburu iblis. Dia jarang menggunakan seragamnya yang ini, sehingga memilih menutupnya dengan yukata longgar. Haori miliknya dilipat rapi di dalam tas kecil yang dibawanya. Nichirin ada di punggungnya, tersembunyi dibalik balutan yukata untuk menghindari petugas.
"Jadilah muridku!"
"Re-rengoku-san! Kamu itu sebenarnya melihat kearah mana?!"
Tomioka Giyuu menyandarkan kepala pada jendela kereta, lagi-lagi menghela nafas dan memilih mengabaikan keributan di sekitarnya. Maniknya yang sedalam lautan melemparkan lirikan pada Kyoujuro dan Tanjiro sebelum kembali menatap kosong pemandangan kilat di luar sana.
Tanpa sadar, dia jatuh tertidur beberapa saat kemudian.
.
.
.
Tubuhnya berguncang keras dan sepertinya kepalanya terbentur, memaksanya membuka mata dari mimpi kosong yang selalu terjadi.
Pandangannya buram untuk sesaat, hingga kemudian menyadari bahwa kereta api telah terguling. Refleks dia bangkit, melihat sekitar—tidak ada penumpang lain selain dirinya di sana. Tapi suara ribut dari luar kereta cukup menjelaskan situasinya.
Tomioka Giyuu tidak membuang waktu dan melepas yukata birunya, menarik nichirin dan memakai kembali haori yang menjadi ciri khasnya. Untunglah seragamnya sudah terpasang di tubuhnya, sehingga dia dengan cepat bisa keluar dan membantu orang-orang yang terluka.
Fokusnya teralih karena ledakan berulang terdengar. Firasatnya lagi-lagi memburuk sehingga Giyuu langsung berlari menuju asal suara.
"Ini perintah mundur!"
Suara Kyoujuro terdengar—Giyuu langsung sadar ada yang tidak beres dan mempercepat langkahnya.
"Tidak perlu memperhatikan yang lemah! Fokuslah bertarung denganku!"
Ledakan lagi-lagi terdengar, dan Giyuu melihat bahwa Kyoujuro telah dipukul mundur hingga menabrak bagian gerbong kereta. Sesosok iblis muncul dari balik asap tidak lama kemudian, membuat Giyuu merasakan tekanan luar biasa.
"Rengoku-san!"
"Mata besar!"
Tanjiro dan bocah berkepala babi berteriak—Giyuu tidak terlalu memperhatikan mereka dan langsung menyerang dengan pernafasan ke sepuluh.
"Mizu no Kokyu: Jū no kata: Seisei ruten."
"Jadilah iblis, Kyoujuro—" Dan Iblis itu terlambat menghindar—tidak menyangka akan mendapat serangan dari samping. Lengannya yang baru saja tersambung kembali putus bersama dengan bagian tulang rusuk yang robek. Langkahnya dengan gesit membawanya mundur dan meregenerasi tubuhnya seperti sedia kala.
"Lumayan. Lumayan." Gumamnya, mengibas-ngibaskan tangan dengan tidak peduli.
Giyuu ikut mundur, membuat jarak di antara mereka dan berdiri di depan Kyoujuro dengan sikap defensif.
Kyoujuro melihat haori yang dikenalnya—tidak menyangka akan mendapat bantuan di saat yang tepat. "Tomioka! Bagaimana kamu bisa ada di sini?!"
"Tomioka-san!"
"Ah! Pria dengan baju setengah-setengah! Chotto! Gonpachiro! Kenapa dia tidak pakai celana?!"
Teriakan Inosuke pada Tanjiro membuat Giyuu meliriknya dengan dingin. Tanjiro dengan cepat balas membentak karena mencium aroma kekesalan Giyuu. "Bodoh! Tomioka-san itu perempuan! Tentu saja seragamnya memang begitu! Dan namaku Tanjiro!"
Seragamnya memang berbeda dari biasa dipakainya (yang biasanya rusak karena dia terlalu lama merendamnya dalam air dan salah memasukkan sabun cuci). Kali ini seragamnya hanya atasan berbentuk gaun yang panjangnya mencapai setengah paha, ditambah kaus kaki hitam setinggi paha dan haori miliknya. Sangat berbeda dengan seragamnya yang biasanya.
"Tomioka! Apakah kamu benar-benar seorang perempuan?! Aku tidak pernah menyadarinya!" Kyoujuro bangkit, mengenggam nichirinnya dan berdiri di sebelah Giyuu. Lirikan terang-terangan diberikan oleh Kyoujuro yang tidak pernah menyadari bahwa sang Hashira air adalah seorang perempuan. Padahal mereka sering bertemu bersama Hashira lainnya.
Lagi-lagi Giyuu balas meliriknya dengan dingin. Lalu tatapannya kembali ke depan—tepatnya dimana iblis bulan atas ke tiga yang menatap mereka dengan pandangan bosan. "Fokus, Rengoku."
"Menarik juga. Beri tahu aku namamu! Lalu jadilah iblis bersamaku!" Iblis itu, Akaza, menyeringai lebar. "Siapa namamu?! Pilar Air?!"
Giyuu menggumam, "jangan bicara padaku."
"Kalian itu punya hak untuk berubah! Jadilah iblis!"
Kyoujuro mengeratkan genggamannya pada nichirin miliknya, "aku tidak mau. Aku katakan sekali lagi, aku membencimu! Aku tidak akan menjadi iblis!"
Sedetik kemudian Kyoujuro telah maju dan menyerang Akaza, diikuti Giyuu dari samping.
"Hono no Kokyu: San no kata: Kien Banjō!"
"Mizu no Kokyu: Shi no kata: Uchishio."
Teknik Kyoujuro berhasil melukai Akaza, namun luka itu dengan cepat menutup dan iblis itu berniat menyerang ketika Giyuu memberi serangan dari samping. Nyaris menebas lehernya. "Luar biasa! Kalian sangat hebat!"
"Hakai Satsu: Kūshiki!"Sebuah serangan diluncurkan, Kyoujuro dengan cepat menangkisnya dan Giyuu menghindarinya.
Mereka berdua bertarung dengan serasi, seolah-olah sudah mengerti pergerakan satu sama lainnya tanpa perlu kata-kata. Akaza di buat kagum karenanya dan semakin bersemangat menghancurkan mereka.
Tapi dia tidak tertarik dengan wanita. Dia ingin Kyoujuro menjadi iblis dan bertarung dengannya selamanya. Kalau bisa, sekalian menghancurkan iblis bulan atas ke dua yang selalu mengganggunya. "Kamu masih belum mengerti juga?! Kalau kamu terus menyerang, sama saja kamu memilih mati, Kyoujuro!"
Iblis itu berputar, menendang Giyuu dan berhadapan dengan Kyoujuro.
"Tomioka!"
"Fokus dengan pertarungan kita, Kyoujuro!" Akaza menyerang lagi hingga pelipis Kyoujuro terluka karena lengah.
"Ck!" Kyoujuro mundur beberapa langkah, lalu kembali menyerang hingga kedua lengan Akaza putus. "Hono no Kokyu: Ichi no kata: Shiranui!"
"Kalau kamu sampai kubunuh di sini, itu sayang sekali!" Akaza menyerang terus menerus, membuat Kyoujuro terdesak hingga akhirnya iblis itu berhasil memukul rusuknya hingga patah. "Kekuatan fisikmu masih belum mencapai puncak!"
"Mizu no Kokyu: Jū Ichi no kata: Nagi." Sekeliling mendadak menjadi tenang. Akaza nyaris saja terpenggal jika refleksnya tidak bagus. Iblis itu melompat mudur, membuat jarak di antara mereka. Tomioka Giyuu lagi-lagi berdiri di depan Kyoujuro, membentuk sikap defensif seolah-olah akan melindungi Kyoujuro bahkan dengan nyawanya.
"Luar biasa. Dari semua pilar air yang pernah ku bunuh, tidak ada yang menggunakan teknik itu! Tapi... kamu menganggu, wanita sialan." Gumam Akaza sambil memegang lehernya yang berdarah, menyeringai. Lukanya dengan cepat sembuh. "Dalam dua atau tiga tahun, teknikmu akan semakin terasah. Kalian lumayan terampil, wanita! Kyoujuro!"
Kyoujuro menarik nafas-terengah, "Tomioka! Kamu baik?" tanyanya saat melihat Tomioka Giyuu berdiri di depannya. 'Tentu tidak. Nafasnya juga mulai berantakan. Pertanyaan bodoh, Kyoujuro!' batin Kyoujuro. Perempuan itu sudah menyelamatkannya dua kali hari ini.
Giyuu tidak menjawab, sebaliknya malah bergeser agar Akaza tidak dapat melihat Kyoujuro. Tatapannya dingin, tidak terbaca.
Akaza yang melihatnya begitu, semakin menyeringai. "Hakai Satsu: Ranshiki!" Serangnya tiba-tiba.
"Mizu no Kokyu: San no kata: Ryūryū mai!"
"Hono no Kokyu: Go no kata: Enko!"
Sayangnya, yang diincar Akaza adalah Kyoujuro. Ketika Giyuu sibuk menahan serangan Akaza yang brutal, iblis itu mencapai tempat Kyoujuro dan memaksanya bergerak untuk pertahanan.
Kyoujuro berhasil bertahan, tentu saja. Tapi luka yang diterimanya sebelumnya menjadi semakin parah. Akaza yang melihat itu melompat mundur dan menyeringai saat melihat darah yang keluar dari mulut Kyoujuro.
"Mizu no Kokyu: Ni no kata kai: Yoko mizu guruma." Giyuu lagi-lagi menyerang. Kali ini dari belakang. Namun Akaza menyadarinya dan balas menyerang dari atas.
Dia berhasil menghindar, tapi lengan kirinya tergores dan mulai mengeluarkan darah.
Akaza mundur beberapa meter, menatap kedua pilar itu dengan datar.
Nafas Kyoujuro terengah, genggamannya pada nichirin mulai terasa menyakitkan. Luka yang di terimanya sebelumnya benar-benar memperburuk keadaannya. Giyuu tidak lebih baik. Lengan kirinya tergores dan kini darah sudah menetes membasahi tanah. Perutnya juga sepertinya terluka karena tendangan sebelumnya.
"Ayo kita bertarung lebih lama lagi." Akaza menatap mereka lurus-lurus, "jangan mati, wanita, Kyoujuro."
Kali ini Giyuu mengeluarkan ekspresi. Kesal, benci, semua terlukis di wajahnya yang biasanya datar. Dia melirik Kyoujuro yang masih menarik nafas dengan putus-putus. Diam-diam menyadari bahwa beberapa menit lagi matahari akan bersinar.
"Meskipun kalian bertarung dengan mempertaruhkan tubuh kalian, itu percuma saja. Lukaku akibat tebasan pedang kalian yang luar biasa sekarang sudah pulih. Tapi kalian bagaimana?" tanyanya dengan ekspresi kasihan, "organ dalam kalian terluka, rusukmu telah patah dan lenganmu berdarah. Kalian tidak bisa memulihkan diri. Kalau kalian menjadi iblis, luka itu bisa pulih dengan cepat. Bagi iblis, luka itu hanya seperti luka gores."
Baik Giyuu maupun Kyoujuro tidak menjawab. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan nafas mereka untuk menjawab perkataan tidak berguna iblis di depan mereka.
"Mau berusaha sekeras apapun, manusia tidak akan bisa mengalahkan iblis."
Setelahnya, nafas Kyoujuro berhenti. Aura api mengelilinginya dan dia kembali mengangkat nichirin, mengundang lirikan dari Giyuu.
"Kyoujuro... kamu..."
"Aku akan... menjalankan kewajibanku! Takkan kubiarkan siapapun yang ada di sini mati!" teriaknya keras dan memasang kuda-kuda serangan. "Ku no kata: Rengoku!"
Seketika api mengelilingi Kyoujuro. Giyuu langsung menyelaraskannya dengan teknik pernafasan air ke sepuluh. "Mizu no Kokyu: Jū no kata: Seisei ruten."
"Luar biasa! Semangat bertarung yang luar biasa!" Akaza terhenyak, lalu menyeringai dan tertawa "meski dengan tubuh yang penuh luka, dorongan dan keteguhan hatimu! Kuda-kudamu tidak memiliki celah! Kamu memang harus menjadi iblis, Kyoujuro! Wanita! Kamu juga! Walau lengan kirimu terluka dan gemetar seperti itu, kamu tetap memasang kuda-kuda yang selaras dengan Kyoujuro! Kalian memang harus menjadi iblis! Bertarunglah selamanya denganku!"
"Hakai Satsu: Messhiki!"
Kyoujuro menyerang, tekniknya melesat layaknya naga dan melaju lurus menuju Akaza. Di sampingnya, Giyuu mengikuti gerakannya. Mereka terlihat seperti menari bersama, dengan serangan api dan air yang berputar-putar dalam satu kesatuan.
"Rengoku-san! Tomioka-san!" Tanjiro berteriak ketika hembasan akibat tabrakan serangan Kyoujuro dan Giyuu dengan Akaza sampai pada mereka.
Akaza menangkap nichirin Kyoujuro dan menggeser potongannya menuju badannya sendiri, namun dia terlambat menyadari bahwa Giyuu ikut menyerang di samping Kyoujuro dan ikut mengincar lehernya. Dengan cepat iblis itu berniat menendang mereka berdua dan mundur beberapa langkah. Namun Kyoujuro sudah lebih dulu memutar nichirinnya dan merobek Akaza dari perut hingga dada. Sedangkan serangan Giyuu meleset mengenai lengan dan memutus tubuh atas dan bawah Akaza.
Putaran api mengelilingi mereka, naik menuju langit sebelum menghilang.
Tanjiro dan Inosuke tidak bisa melihat apapun hingga asap mulai menghilang.
"Kamu akan mati, Kyoujuro!"
"Mizu no Kokyu: Jū Ichi no kata: Nagi!" Giyuu menggeser tubuh Kyoujuro di detik-detik terakhir dan memotong setengah leher Akaza dengan teknik ciptaannya. Tangan Akaza yang tadinya nyaris menembus perut Kyoujuro berpindah melukai bahu kanan Giyuu.
Kyoujuro cepat menarik nafasnya dan memaksa tubuhnya bergerak, membantu Giyuu menebas lengan Akaza yang juga tidak tinggal diam dan nyaris membunuh Giyuu dengan cara yang sama untuk membunuh Kyoujuro tadi.
"Hiaaaahhh!"
Dan leher itu terpenggal tepat saat cahaya matahari mulai bersinar. Menggelinding dengan ekspresi tidak percaya.
"Tidak... mungkin..."
Nafas Giyuu berantakkan, dia nyaris jatuh dan kedua tangannya gemetar. Darah menetes keluar dari lengan, bahu dan bibir. Bahkan nichirin nyaris terlepas dari genggamannya. Kyoujuro juga sama, namun dia masih cukup kuat untuk berdiri dan membawa Giyuu menjauh dari tubuh Akaza yang mulai bergerak liar.
"TIDAK MUNGKIN! TIDAK MUNGKIN AKU KALAH!" Akaza menjerit. Tubuhnya mulai terkena matahari terbit dan terbakar. Sebentar lagi sinar itu akan mencapai kepalanya hingga dia berteriak putus asa. "TIDAK! TIDAK! KALIAN MANUSIA MANA BISA MENGALAHKAN IBLIS!"
Kali ini gantian Tanjiro yang melihatnya dengan tatapan kasihan. Kyoujuro hanya meliriknya sekilas dari balik bahu dan kembali berjalan dengan menuntun Giyuu yang terlihat akan pingsan.
"Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Aku tidak mungkin kalah. Aku tidak mungkin kalah melawan manusia! AAAAHHH!" teriakan Akaza melengking, sakit karena setiap selnya terbakar sinar matahari. Beberapa saat kemudian, tubuhnya menghilang menjadi abu dan tertiup angin.
"Tomioka! Kamu baik?" Kyoujuro bertanya, darah dari lengan Giyuu masih menetes. Terutama di bagian bahunya. Yang di tanya hanya menatapnya dengan ekspresi datar—nyaris kosong. "Bertahanlah! Kakushi akan segera datang!"
Giyuu menarik nafas dan mulai memejamkan mata, berkonsentrasi menghentikan pendarahan. Setelah beberapa saat, dia baru menjawab Kyoujuro. "Aku baik, tenanglah, kamu terlalu berisik."
"Begitu! Syukurlah!"
"Rengoku-san! Ah! Pilar air juga ada disini—pa-pakaian anda...?" sekelompok Kakushi akhirnya datang. Mereka terlihat terkejut dan cepat-cepat menyelimutinya dengan ekspresi malu?
Sungguh, Giyuu mulai bertanya-tanya, apakah semua orang menganggapnya pria sebelum ini? Bukankah dia jelas-jelas memiliki gunung kembar yang tumbuh di dadanya? Bagaimana bisa dia dianggap sebagai pria?
Ah, dia terlalu lelah. Hal terakhir yang diingatnya sebelum gelap adalah lengan kokoh Kyoujuro yang memeluk bahunya dan teriakan berisik yang membuatnya semakin pusing.
.
.
.
"Giyuu,"
'Siapa?'
"Giyuu..."
"...Yuu..."
"Bangun..."
'Bangun? Apa aku sedang tidur?'
"Giyuu..."
'Ah, apa aku sudah mati?'
"Bangun! Giyuu!"
Tubuhnya tersentak dan manik biru gelap terbuka mendadak, membuatnya merasakan dingin di bagian mata dan pusing karena cahaya yang menusuk matanya. Belum lagi tubuhnya yang sakit luar biasa.
"Ara, Tomioka-san sudah bangun."
Giyuu tetap diam, tidak merespon hingga akhirnya dia mengerjapkan mata beberapa kali dan merasakan basah di sekitar matanya.
"Bagaimana perasaanmu? Apa kamu bermimpi buruk, Tomioka-san? Kamu sudah tidur selama dua hari lho."
Kali ini hanya lirikan kosong yang diperoleh Shinobu. Wanita itu menunggu beberapa saat hingga Giyuu akhirnya menjawab lirih, "...tidak."
"Begitu," respon Shinobu. "Baguslah jika begitu. Kamu membuatku khawatir dan terkejut lho, Tomioka-san. Apa kamu tidak berniat meminta maaf?"
Giyuu tidak menanggapinya, membuat Shinobu melanjutkan ucapannya dengan senyuman menyebalkan. "Aku tidak menyangka bahwa ternyata Tomioka-san adalah perempuan. Kamu benar-benar perempuan asli. Aku kira kamu laki-laki. Saat melihatmu kemarin, aku kira kamu sedang menyamar menjadi wanita. Bagaimana bisa kamu menyembunyikan hal ini, Tomioka-san?"
Tatapan Giyuu tidak terbaca, "...aku kira kalian sudah tahu."
Shinobu terdiam sejenak, "ahahaha, lucu sekali, Tomioka-san. Bagaimana kami tahu jika kamu selalu memakai seragam laki-laki? Bahkan aku tidak memiliki ide tentang caramu menyembunyikan dadamu. Ini sebabnya semua orang membencimu, Tomioka-san." Tawanya kosong.
"...aku tidak dibenci."
"..."
"..."
"Ahahahahaha, lucu sekali, Tomioka-san. Kamu menganggapnya serius? Ahahahaha."
"..."
"Ahh, baiklah. Kita sudahi ini. Kamu terluka cukup parah, Tomioka-san. Bahu kananmu tidak akan bisa dipakai setidaknya sampai beberapa bulan ke depan dan lengan kirimu patah. Perutmu mengalami pendarahan internal, dan tubuhmu kelelahan."
"... bagaimana yang lain?"
"Hm? Rengoku-san? Dia baik-baik saja, hanya patah tulang rusuk dan kepalanya terluka. Ah, perutnya juga pendarahan internal. Selain itu tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kamado-kun hanya mengalami luka tusukan dan sedang memulihkan diri." Kocho Shinobu menjelaskan, lalu tersenyum menggoda. "Tumben sekali Tomioka-san bertanya."
Giyuu menolak bertanya lebih jauh. Dia tidak suka Shinobu menggodanya. Tubuhnya sakit dan dia masih merasa pusing.
"Minum ini dan istirahatlah, Tomioka-san." Shinobu sepertinya mengetahui keadaannya dan membantunya meminum segelas air juga obat-obatan. Setelahnya, wanita itu meninggalkan Giyuu seorang diri.
Kantuk kembali menguasainya, lalu matanya kembali tertutup dengan lembut.
.
.
.
Shinobu mengunjungi kamar Tanjiro dan Kyoujuro setelah keluar dari kamar Giyuu. Dua orang itu sudah sadar sejak kemarin dan mereka berdua terus menerus bertanya tentang Giyuu.
Menurut cerita Kyoujuro dan Tanjiro, Giyuu mendadak muncul saat Kyoujuro terdesak dan beberapa kali berada di depan Kyoujuro untuk melindunginya. Kyoujuro sendiri mengkonfirmasi bahwa Giyuu telah menyelamatkan nyawanya sebanyak tiga kali saat berhadapan dengan Akaza.
"Ah! Kocho! Bagaimana kabar Tomioka? Apakah dia sudah sadar?"
Sapaan pertama yang Shinobu dapat saat menginjakkan kaki kedalam ruangan mereka adalah pertanyaan mengenai Giyuu. Ini membuatnya ingin menggoda Giyuu lebih banyak setelah ini.
"Ara, dia baru saja sadar. Aku menyuruhnya kembali beristirahat setelah minum obat. Bagaimana kabarmu sendiri, Rengoku-san?"
"Aku baik! Benar kan, Kamado my boy? Kurasa aku sudah sembuh! Hahahahaha!"
Tanjiro yang melihat semangat Kyoujuro hanya bisa meringis.
Bagaimana bisa patah tulang rusuk bisa sembuh dalam waktu dua hari? Tanjiro geleng kepala. Itu mustahil.
Shinobu masih tersenyum, "Rengoku-san, tolong beristirahatlah. Patah tulang bukan hal yang sepele."
"Shinobu-san, apakah penyembuhannya akan memakan waktu lama?"
"Hm?"
"Tomioka-san. Apakah dia benar-benar baik-baik saja? Bahunya terluka cukup serius."
"Itu benar. Kocho, kira-kira berapa lama hingga Tomioka bisa benar-benar sembuh?"
"Ara-ara, kalian khawatir sekali dengan Tomioka-san." Shinobu tertawa kecil, "jika dia tidak bandel, dalam waktu empat bulan bahunya akan kembali normal. Sayangnya Tomioka-san cukup keras kepala dan aku yakin dia akan segera melarikan diri dari sini setelah sembuh."
"Kenapa Tomioka-san melakukan itu?" Tanjiro bertanya dengan khawatir.
"Karena dia selalu anti sosial, Kamado-kun. Begitulah dia, itu sebabnya banyak yang membencinya."
"Kami tidak membencinya!" bantah Kyoujuro, "Tomioka adalah orang yang baik. Menurut pendapatku, mungkin dia bukanlah orang yang mudah berkomunikasi, tapi dia selalu perhatian dengan sekitarnya. Buktinya dia bahkan masih sempat mendorongku saat Akaza nyaris melubangi perutku."
"Itu benar. Tomioka-san mungkin tidak suka berkomunikasi, tapi aku tahu bahwa dia adalah orang yang baik."
Shinobu tertawa karena pembelaan dua orang di depannya, "baiklah-baiklah. Minum obat yang Aoi berikan dan segeralah istirahat. Kalian perlu memulihkan tenaga. Aku harus mengurus yang lainnya."
"Baik, Shinobu-san."
"Jangan khawatir! Aku akan segera sembuh!"
Shinobu bergumam dan tersenyum kecil, akan jadi sangat menarik jika nanti melihat Kyoujuro yang mulai menempel pada Giyuu dan reaksi pilar lainnya saat mengetahui kenyataan tentang Giyuu.
.
.
.
Tiga bulan kemudian.
"Rengoku! Kamu sudah sembuh? Bagaimana kabarmu? Maaf tidak bisa mengunjungi!"
"Sudah baik-baik saja! Oh dan tidak apa-apa, aku tidak terluka separah itu."
"Selamat atas kesembuhanmu, Rengoku."
"Terima kasih Shinazugawa! Ngomong-ngomong, apakah kalian melihat Tomioka?"
Mereka saling berpandang-pandangan,
"Untuk apa kamu mencarinya?"
"Kami belum bertemu lagi sejak melawan iblis bulan atas tiga! Aku ingin mengucapkan terima kasih!"
Uzui menatap rekannya dengan bingung, "bukankah kalian sama-sama ada di rumah kupu-kupu? Bagaimana bisa kamu tidak bertemu dengannya?"
"To-tomioka-san selalu datang paling terakhir, bukankah kita semua sudah mengetahuinya?" Mitsuri memberi jawaban.
"Benarkah? Aku tidak menyadarinya! Kami tidak bertemu karena dia berada di ruangan yang berbeda dan dia selalu tidur saat aku mencoba mengunjunginya."
Iguro melirik di belakang tubuh Kyoujuro, "Kyoujuro, itu yang kau cari."
Kyoujuro secara otomatis menoleh, melihat Giyuu yang baru datang dan melangkah menjauh dari mereka. Seragamnya sudah kembali seperti dulu—hanya berbeda di bagian dada karena itu tidak se-datar yang Kyoujuro lihat sebelum insiden itu.
Tanpa sadar Kyoujuro mengingat kembali detail yang dilihatnya saat Giyuu jatuh pingsan di pelukannya.
Tubuhnya jauh lebih ramping dari yang biasa terlihat, rambut hitam yang jatuh berantakkan, juga wajah tegas yang ternyata lebih terlihat polos dengan gurat kelelahan. Jika dilihat kembali, Tomioka Giyuu mirip seperti ibunya. Minus mata biru sedalam lautan yang selalu menatap kosong juga caranya mengungkapkan kata-kata.
"Hanya aku, atau memang tubuh Tomioka sekarang terlihat seperti perempuan?" pertanyaan tiba-tiba dari Uzui yang memerhatikan Giyuu dari jauh menarik kembali kesadaran Kyoujuro, dan tanpa di duga Giyuu membalas tatapan mereka dengan kosong—nyaris dingin—sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Tomioka!" panggil Kyoujuro, mengabaikan pertanyaan Uzui dan langsung melangkah mendekati Giyuu dengan senyum lebar. "Senang melihatmu! Bagaimana kabarmu? Apakah bahumu sudah baik-baik saja?"
Giyuu menatapnya sejenak, "... baik. Terima kasih sudah bertanya." Gumamnya.
Kyoujuro tersenyum semakin lebar, "aku ingin berterima kasih atas bantuanmu saat itu! Jika kamu tidak datang, aku mungkin sudah mati!"
Kali ini Giyuu mengalihkan pandangannya, menatap bebatuan di kakinya lebih menarik dari pada Kyoujuro yang penuh dengan energi. Itu menyilaukan matanya. "... aku hanya tidak sengaja membantu..."
"Ara-ara, Tomioka-san dan Rengoku-san akrab sekali ya? Padahal mereka belum bertemu sejak serangan itu." Shinobu terkekeh dibalik tangan yang menutupi bibirnya. "Mereka terlihat seperti pasangan yang sedang jatuh cinta sejak lama."
Ucapannya mengundang tatapan pilar lainnya.
"Rengoku—apa?"
"Sedang jatuh cinta?"
"Me-mereka a-anu...?"
Shinobu lagi-lagi tertawa, "Kanroji-san, tenanglah, Tomioka-san itu murni perempuan. Rengoku-san tidak seperti yang kamu pikirkan."
Mitsuri terbengong. Begitupun pilar yang lainnya.
"APA?! ITU MUSTAHIL!"
"TIDAK MUNGKIN!"
Jeritan Uzui dan Sanemi menarik perhatian Kyoujuro dan Giyuu. Mereka bertanya-tanya dan Kyoujuro nyaris akan bertanya saat Mitsuri berjingkrak dan berlari untuk menggenggam kedua tangan Giyuu dengan mata berbinar-binar.
"Tomioka-san! Benarkah itu? Aku tidak menyangkanya! Harusnya kita bisa menghabiskan waktu lebih banyak untuk bersama! Maafkan aku karena tidak mengetahuinya lebih awal!"
Giyuu berkedip, "...iya?"
Dia kebingungan dengan reaksi tidak biasa dari Mitsuri juga Kyoujuro. Dan apa-apaan pandangan penasaran bercampur tidak percaya pilar-pilar lainnya itu? Giyuu tidak memakai atau melakukan sesuatu yang aneh, kan?
Uzui juga langsung berdiri di sebelah Matsuri, menatapnya lurus-lurus. Kemudian bertanya dengan ekspresi tidak percaya, "kamu benar-benar seorang wanita, Tomioka?"
"Uzui-san, itu tidak sopan." Shinobu mengingatkan.
"Oyakata-sama telah tiba." Sebuah suara halus dari anak-anak Ubuyashiki Kagaya mengalihkan perhatian mereka.
Tanpa membuang waktu, mereka langsung berbaris rapi dan memasang sikap hormat.
Oyakata mendongak, merasakan suasana cerah dan menyapa 'anak-anaknya'. "Ini pagi yang cerah. Hari ini kita hadir di sini untuk melakukan rapat Hashira yang selalu diadakan enam bulan sekali."
.
.
.
"Tomioka! Tunggu!" Kyoujuro yang melihat Giyuu melangkah pergi setelah rapat berakhir langsung berlari mengejarnya hingga debu berterbangan. "Tomioka!"
Giyuu berhenti berjalan dan menoleh dengan ekspresi datar, tidak mengucapkan apapun hingga Kyoujuro kembali tersenyum lebar padanya. "Ayo kita makan bersama! Apa ada yang ingin kamu makan? Kita jarang bertemu, aku ingin ngobrol denganmu!"
Yang lainnya melihat kejadian itu dengan tidak percaya. Uzui terperangah, Gyomei menangis dan mengatupkan tangan, Mitsuri menutup mulutnya dengan pipi memerah dan Shinobu tertawa kecil. Sisanya tidak peduli dan memlih pergi dari pada memberikan atensi.
"Ara, Rengoku-san sepertinya benar-benar jatuh cinta. Dari tadi dia hanya memperhatikan Tomioka-san."
"Aku tidak mengerti dengan seleranya! Dari semua wanita, kenapa Tomioka?! Huh! Tidak meriah sama sekali!"
"Cinta yang baru bertumbuh begitu murni dan rapuh..."
Mereka semakin heboh saat melihat Giyuu mengangguk dan mengucapkan beberapa kata, lantas mereka berdua berjalan bersebelahan menuju entah kemana.
"Tidak bisa dipercaya! Tomioka menerima ajakannya? Dia selalu menolak ajakan kita!"
"Aaah, aku ingin tahu kemana mereka pergi."
"Benar-benar penuh kejutan."
"Ayo ikuti mereka! Aku sangat penasaran!"
Kyoujuro diam-diam memperhatikan Giyuu saat perempuan itu melangkah dengan perlahan di sampingnya, 'tingginya ternyata hanya se-telingaku! Dan samar-samar ada bau laut darinya! Yosh! Aku mulai mengenalnya lebih dekat!'
Mereka berhenti di depan kedai makan, Giyuu menoleh dan bertanya pada Kyoujuro seolah-olah memastikan pria itu benar-benar tidak terganggu. "Kamu... yakin tidak masalah?"
"Un! Tidak ada masalah! Aku menyukai segala jenis makanan!" balas Kyoujuro disertai senyuman lebar.
Giyuu mengangguk samar dan mereka masuk. Kyoujuro membiarkan Giyuu yang memesan untuk mereka berdua, toh Kyoujuro ingin tahu makanan apa yang Giyuu sukai.
"Salmon rebus dengan lobak musim dingin... dan... Rengoku, apa yang kamu inginkan?"
"Sama denganmu pesananmu!" Kyoujuro membalas kelewat cepat, membuat Giyuu menatapnya sejenak sebelum kembali pada pelayan yang menunggu mereka dengan sabar.
"Salmon rebus dengan daikonnya dua."
(Daikon: lobak musim dingin)
"Baik."
Setelah pelayan itu pergi, Kyoujuro mulai bertanya agar suasana tidak terlalu canggung dan sunyi. "Apakah Salmon rebus dan daikon adalah makanan kesukaanmu, Tomioka?"
"... iya."
"Begitu! Makanan kesukaanku adalah ikan air tawar bakar dan ubi jalar! Itu sangat enak! Kamu harus mencobanya! Oh dan apakah kamu benar-benar sudah sembuh? Bahu kananmu terluka begitu buruk! Kocho mengatakan bahwa itu akan sembuh dalam waktu empat bulan! Tapi ini masih tiga bulan! Apakah masih sakit? Tidak apa-apa jika makan pakai sumpit atau sendok?!" tanpa sadar Kyoujuro menaikkan volume suaranya, membuat beberapa pasang mata memperhatikan mereka.
"..."
"Tomioka!?"
"Rengoku... kamu terlalu keras." Gumam Giyuu. Dia jadi ingin segera keluar dari sini karena beberapa orang jadi memperhatikan mereka.
"Oh! Maaf!" Kyoujuro mencoba mengecilkan suaranya. Giyuu terlihat tidak nyaman dan Kyoujuro tidak ingin memperburuk moodnya. "Apakah begini tidak apa-apa?"
Perempuan di depannya mengangguk samar. Cukup untuk membuat Kyoujuro merasa lega.
Pesanan mereka datang, dan Kyoujuro terperangah dengan senyum kecil yang terbentuk di bibir Giyuu.
'Apakah dia begitu menyukai makanan ini, sehingga bisa tersenyum seperti itu? Aku tidak pernah melihat senyumannya sebelumnya!' Seketika itu juga Kyoujuro mengingat baik-baik bahwa dia juga akan menyukai makanan ini.
"Rengoku?"
"Oh! Maaf Tomioka, apa kau mengatakan sesuatu?"
Giyuu menggeleng, mengambil sumpit dan mulai makan. Kyoujuro mengikutinya hingga menyadari bahwa Giyuu makan lebih lambat darinya (padahal dia sudah melambatkan cara makannya) dan tangannya yang memegang sumpit sedikit gemetar setiap mengambil makanan.
"Tomioka? Kamu baik? Jangan memaksakan diri!" Dengan cepat Kyoujuro menahan tangan Giyuu, memaksanya meletakkan sumpit dan mangkuknya. "Ternyata benar. Bahumu belum benar-benar pulih."
"..."
'Ekspresinya terlihat kesal. Apa mungkin dia sangat ingin memakan ini? Tapi dia tidak boleh memaksakan diri! Apa yang harus aku lakukan agar Tomioka bisa tetap makan... oh! Aku tahu!' Kyoujuro mengambil sumpit dan mangkuk Giyuu, menyumpit makanan didalamnya dan mengarahkannya pada bibir Giyuu. "Katakan ahh~"
Tatapan biru gelap menghujamnya dan Kyoujuro tidak tahu apa yang Giyuu pikiran hingga dia membuka bibir dan mulai makan dengan suapan Kyoujuro.
Sungguh, tolong ingatkan Kyoujuro untuk tidak berteriak gembira.
Tomioka Giyuu punya sisi manis yang tidak semua orang ketahui!
Cara makannya agak lambat, seolah-olah dia mengunyahnya sambil merasakan tiap bumbunya. Kadang-kadang bibirnya membentuk senyuman kecil sesudah menelan. Lalu, walaupun Kyoujuro menyuapinya dengan hati-hati, Giyuu tetap saja meninggalkan bekas di sekitar bibirnya. Dan itu semua terlihat manis!
"... kenapa?" tanya Giyuu tiba-tiba. Kyoujuro mendadak sadar bahwa dia sudah memperhatikan Giyuu terlalu lama.
"Tidak ada apa-apa!" jawabnya, lalu tanpa sadar tangannya sudah terangkat dan mengusap sisa makanan di sudut bibir Giyuu dengan ibu jarinya. "Kamu meninggalkan bekas di sini."
"... terima kasih."
"Bukan masalah! Oh ya, Tomioka, aku berniat melatih tiga anak itu; Kamado-boy dan dua temannya. Apakah kamu ingin ikut? Kamado-boy ada dalam pelatihanmu bukan? Kalau kamu ingin ikut, kamu bisa datang ke rumahku sore ini!"
"..."
"Juga, Tomioka, aku akan senang jika kamu menceritakan dirimu sendiri. Aku penasaran denganmu—aku juga penasaran bagaimana caramu mendadak muncul di kereta api abadi saat itu. Tepat saat aku merasa nyawaku tidak akan selamat."
Giyuu berkedip lambat, "...kamu mau dengar? Ceritaku... membosankan untuk didengarkan..."
"Tidak masalah! Aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi!" Kyoujuro menangkup kedua tangan Giyuu, "jadi, apakah kamu bersedia bercerita padaku? Kalau tidak mau juga tidak apa-apa! Aku tidak akan memaksa!"
"..."
"Tomioka?"
"... aku akan datang."
"Benarkah?! Kalau begitu aku akan menunggumu!"
Hanya anggukkan samar yang di terima Kyoujuro. Tapi itu cukup sebagai izin agar dia bisa berada di sekitar seorang Tomioka Giyuu dan mendapat kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat.
Jujur saja, dia tidak tahu apa yang membuatnya sangat senang. Tapi selama Giyuu tidak masalah dan perasaan ini tidak menganggunya, Kyoujuro hanya akan membiarkannya saja.
Sampai suatu saat nanti dia akan menyadari perasaannya sendiri.
.
.
.
End.
A/n:
Yey selesai. RenGiyuu pertama-ku karena sebelum ini aku masuk dalam GiyuuTan. Hahahaha. Semoga tidak terlalu OOC.
Oh ya, terima kasih sudah membaca!
