Aku, Kamu, dan Secangkir Teh di hari Kamis.
Rate; K+ / T [cari aman]
Kimetsu no Yaiba hanya milik Koyoharu Gotoge-sensei.
Karya ini di ikutkan kedalam dua event, yaitu #GiyuuTanSparkleEvent dan #CafeFFA
Author hanya berhak akan jalan ceritanya. Karakter dan lainnya adalah milik Koyoharu-sensei.
WARNING! Typo yang tidak disengaja, gaje, OOC (pasti), Demon!Tanjirou, Human!Giyuu.
Happy Reading!
.
.
.
Sore itu, jalanan ramai seperti biasa. Langit yang mulai berwarna oranye di ufuk sana tidak menghalangi makhluk hidup untuk melakukan kegiatan mereka. Tidak peduli usia, tidak peduli jenisnya, mereka melakukan apa yang menjadi tugasnya.
Tidak terkecuali pada seorang pemuda berambut gondrong dengan wajah datar yang melangkah memasuki sebuah kafe bernama Tsujima.
Kafe ini terletak di perempatan jalan, tempat yang strategis sekaligus tempat yang dapat membuat pelanggannya nyaman—entah itu karena suasananya atau wifi gratis yang biasa diincar anak muda.
Lonceng kecil bergemerincing, menandakan seseorang tengah memasuki kafe. Alunan musik yang lembut langsung menyapa dengan hangat, menenangkan pikiran sekaligus menyejukkan jiwa. Suasana yang tenang ini seolah sudah menjadi peraturan tak tertulis—begitu tentram layaknya seseorang tengah pulang kerumahnya.
"Ara, Tomioka-kun. Pesanan seperti biasanya ya?" seorang gadis berkuncir dua yang melihatnya langsung menyapa, yang ditanggapi dengan anggukan kecil dari yang bersangkutan.
Pemuda itu mengambil tempatnya yang biasa, di pojok dan disebelah jendela besar. Tempat ini memungkinkannya untuk tenang dan dapat mengawasi seluruh kafe sekaligus. Ia meraih buku tebal miliknya dan membukanya, tidak memperdulikan tatapan heran seorang pemuda lainnya yang sudah duduk lebih dulu.
Teh yang dipesan pemuda itu sudah habis separuh, membuktikan bahwa ia telah duduk disana setidaknya beberapa menit lebih dulu.
"Permisi," ucapnya tiba tiba, mengundang pandangan kaget dari pemuda lainnya yang baru menyadari keberadaannya.
Tomioka Giyuu menautkan alis, merasa terganggu namun ia tidak bisa marah. Yang salah adalah dirinya sendiri. "Ada apa?"
Pemuda itu tersenyum hangat, membuat sesuatu di sudut hati Giyuu tercubit, nyeri dan sesak. Kenapa?
"Tidak apa-apa, aku hanya terkejut karena anda tiba tiba duduk didepanku. Apa anda terbiasa duduk di meja ini sendirian?"
Pesanan Giyuu datang, diantarkan oleh temannya sejak SMA, Sabito. "Eh, kali ini kamu membawa teman ya, Giyuu? Kenalkan, namaku Sabito. Giyuu ini adalah temanku sejak SMA."
Pemuda yang diajak bicara mendadak hanya membalas dengan senyum, "Namaku Kamado Tanjirou. Aku hanya orang asing kok, setelah ini aku akan pergi."
Kamado Tanjirou.
Kamado...
Tanjirou...
Tanjirou...
Tanjirou!
Tomioka Giyuu tersentak, apa yang terdengar di telinganya barusan? Dan setelah diperhatikan, wajah orang didepannya tampak sangat familiar.
"Oh, kukira kamu adalah temannya Giyuu. Tapi setelah aku lihat-lihat, kamu sepertinya lebih muda dari Giyuu ya. Berapa umurmu?"
"16 tahun. Ano... da-dari Kimetsu gakuen."
Giyuu maupun Sabito merasa sangat aneh dengan ekspresi pemuda didepan mereka. Seolah-olah ia sedang berbohong saja.
Tapi toh, Sabito tidak peduli. Pemuda didepannya tampak polos. Mana mungkin ia bohong. "Begitukah? Salam kenal ya, Kamado-kun! Yang bertampang datar ini adalah Tomioka Giyuu. Tiap hari kamis ia pasti kesini dan duduk disini. Jadi mungkin tidak sadar saat meja ini sudah dipakai lainnya tadi."
Tanjirou mangut-mangut. Ia beralih menatap Giyuu yang mengalihkan pandangan pada cangkir greentea-nya.
"Nah, aku harus bekerja. Nikmati waktu kalian!"
Giyuu menghela nafas terang-terangan, mengambil laptopnya dan mulai membuat progam untuk skripsi akhirnya. Sepenuhnya mengabaikan Tanjirou.
Hening terjadi diantara mereka. Tanjirou enggan membuka pembicaraan dan memilih untuk memandang Giyuu yang sibuk dengan laptop dan buku. Membiarkan greentea-nya terlupakan begitu saja.
Musik yang mengalun bahkan sudah berganti beberapa kali, namun seolah beku, Tanjirou tidak bergerak. Membuat Giyuu diam-diam risih dan sedikit terganggu. Manik merah yang seolah menyala itu selalu memandangnya seolah mengamatinya terang-terangan (yang memang kenyataannya seperti itu.)
"Kenapa kau memandangiku?" Giyuu membuka suara, tanpa disangka mendapat respon Tanjirou yang sedikit terkejut.
"Eh-itu—ano... maaf..." ia berbisik, "Anda mirip dengan seseorang, jadi tanpa sadar aku... ah, maafkan aku. Silahkan lanjutkan pekerjaan anda."
"..."
Tanjirou tampak agak panik, ia meminum tehnya hingga habis dan membawa cangkirnya ke arah kasir, membayar lalu pergi.
Giyuu hanya geleng-geleng, sedikit bersyukur karena pemuda itu pergi. Ia bisa fokus pada tugasnya. Demi apapun ia ingin cepat-cepat lulus.
Tapi... wajah itu seolah tidak asing. Terutama bekas luka di dahi lebarnya. Ia seolah telah menghafal mati pola itu.
"Mungkin saat bertemu lagi aku bisa bertanya..." bisiknya tanpa sadar.
.
.
[Karena tanpa disadari waktu telah membeku diantara kita.]
.
.
Hari yang sama, waktu yang sama, Tomioka Giyuu kembali datang sesuai rutinitasnya.
Saat ini, ia sadar bahwa Kamado Tanjirou sudah duduk di bangku yang sama seperti minggu lalu. Posisinya tetap, diam seolah-olah ia adalah patung yang duduk. Atau mungkin bahkan ia seperti tengah menunggu-nya?
Kakinya melangkah dan langsung duduk didepan Tanjirou yang termenung.
Ah.. Giyuu tidak tau harus mengatakan apa? Menyapa? Menepuk pundak? Bertanya apa yang ia lamunkan?
"Wah, Giyuu membawa teman." Sabito kembali datang, membawakannya greentea seperti biasanya. "Tumben sekali." Ujarnya sambil tertawa, lalu kembali bekerja karena dipanggil.
Tanjirou mengangguk padanya, bersopan santun. Ia seolah sudah menyadari kedatangnya sebelumnya. "Tomioka-san selalu datang jam segini ya?" tanyanya berbasa basi.
"... ya. Aku hanya luang pada hari kamis."
"Begitukah?"
Giyuu diam-diam melirik, anak itu menatap kosong cangkir yang digenggamnya "Aku mahasiswa tingkat akhir dari teknik elektro."
"Begitu.. anda tidak ingin bertanya sesuatu padaku?" Tanjirou bertanya dengan ambigu, nadanya tenang setenang air. Berkebalikan dengan ekspresinya. Ekspresi kesakitan itu seolah menjelaskan banyak hal yang ditahan didalam hati. Tak terucap, namun Giyuu memahami sedikitnya. "Tentang aku yang selalu duduk disini, misalnya."
"Kita baru bertemu dua kali. Kamu baru duduk didepanku dua kali. Bagaimana bisa itu disebut selalu?"
Tanjirou tertawa kecil, ekspresinya berubah lega. Entah kenapa Giyuu yang merasa asing? Ia tidak asing dengan wajah didepannya. Tapi sejauh ia mengingat, ia tidak mengenalnya.
"Mungkin saja anda penasaran padaku yang tiba-tiba muncul didepanmu, Tomioka-san."
"... aku penasaran." Bisik Giyuu, "Aku penasaran kenapa aku merasa tidak asing denganmu."
Pemuda didepannya malah terdiam dengan pandangan kosong, seolah tengah menyaksikan kehidupannya sendiri di tempat lain. "... an-anda ti-tidak asing... de-dengan aku?"
"... ada apa? Kenapa kau terdiam?" tanya Giyuu saat tidak mendapat jawabannya. Ia malah sama-sama terdiam dengan Tanjirou saat manik mereka bertabrakan.
Merah gelap bertemu dengan biru kelam. Saling menyelami seolah memahami satu sama lainnya. Walau pada nyatanya hanya Giyuu yang tidak memahami arti dari semua rasa sakit didalam mata itu. Ia tidak memahami kenapa seolah-olah ada berjuta luka yang telah timbul? Kenapa pemuda ini seolah begitu rapuh namun kokoh dengan pijakannya?
".. Hei, Kamado?"
Bagai tersadar akan sesuatu, Tanjirou mendadak panik. "A-ah, maaf Tomioka-san, aku ha-harus pergi." Ucapnya terbata. Dengan cepat mengambil cangkir yang belum kosong sepenuhnya dan membawanya kekasir seperti minggu lalu.
Manik biru Giyuu terus memperhatikan gerak geriknya hingga keluar dari kafe. Ia menghilang di balik tembok tiba-tiba.
Kenapa Giyuu tiba-tiba penasaran akan sosok itu? Kenapa ia kesakitan? Kenapa ia menatapnya dengan penuh rasa sakit itu?
Kenapa dan kenapa? Pertanyaan itu mengusiknya, menghantuinya. Berbisik ditelinganya hingga ia tidak fokus pada progamnya.
Setelah ini, Giyuu bertekad akan bertemu pemuda itu lagi dan menanyainya.
.
.
[Karena selama ini aku telah hidup dan selalu bertemu denganmu dalam perputaran kehidupan tanpa dapat mati.]
.
.
.
Hari itu Giyuu datang lebih awal, berharap dapat menunggu walau nyatanya ialah yang ditunggu.
"Kau selalu datang lebih awal." Sapa Giyuu, langsung duduk begitu saja. Ia mempertahankan wajah datarnya, tapi matanya tidak menutupi sebuah keingintahuan.
"Ah, halo, Tomioka-san. Anda mencariku ya?"
Giyuu mengerutkan alis, "Ya, aku mencarimu. Aku punya beberapa pertanyaan."
Diluar dugaan Tanjirou malah tersenyum. Senyum itu... entah kenapa seperti menyimpan luka dibaliknya.
"Sebelum itu, Tomioka-san, coba dengarkan musik yang mengalun."
Ia bingung, namun tetap mendengarkan musik yang mengalun. "Kenapa dengan musiknya?"
"Tomioka-san tidak sadar ya, setiap kita bertemu, musiknya selalu sama." Tanjirou tertawa kecil. "Nah, Tomioka-san ingin bertanya apa?"
Sabito menepuk bahu Giyuu dari belakang, mengakibatkan kaget dari yang bersangkutan. "Yo, Giyuu. Membawa teman, eh? Salam kenal ya! Aku Sabito."
Giyuu mengerutkan alis, "Bukankah ini kali ketiga ia datang kesini? Kenapa kau melupakannya?"
Sabito menggaruk pipi, "Eh? Entahlah, aku lupa. Oh iya, ini chocho lava pesananmu." Ia meletakkan sepiring chocho lava, secangkir teh dan greentea milik Giyuu. "Aku kerja dulu. Ayo nanti berbincang bersama kalau ada waktu!"
Pemuda didepan Giyuu mengambil sendok dan memakan chocho lava pesanannya. Tampak tidak terganggu dengan Giyuu yang menatapnya intens. "Apa yang ingin anda tanyakan, Tomioka-san?"
"Pertama," Giyuu mengangkat telunjuknya, "tolong jangan terlalu sopan padaku. Panggil aku Giyuu."
Tanjirou hanya mengangguk, menyetujui walaupun itu bukanlah sebuah pertanyaan.
"Lalu kedua, aku ingin tahu apakah kita sudah pernah bertemu sebelumnya?" Giyuu terhenti saat Tanjirou malah tersenyum miris, "kenapa kamu tersenyum seperti itu?"
"Tidak apa-apa." Tanjirou menggeleng, "kita sudah pernah bertemu sebelumnya, Giyuu-san. Buktinya kita bisa ngobrol biasa seperti ini."
Diam-diam Giyuu mengepalkan tangan, mencoba merendam emosi. "Kamu tahu itu bukan hal yang aku tanyakan. Kamu tahu dengan jelas maksudku."
Tanjirou hanya memandangnya, membuat Giyuu lagi-lagi terpaku pada maniknya yang unik itu. "Giyuu-san, kita memang sudah pernah bertemu. Sejak lama sekali." Ucapnya tiba-tiba.
"Kenapa aku tidak mengingatnya? Kapan?"
"Entah, mungkin... beratus-ratus tahun yang lalu."
Kali ini Giyuu mengangga,
'Apa katanya? Ratusan tahun?'
"Kamu menipuku?" Giyuu mengeraskan rahang, berkata rendah dengan nada menyeramkan. "Kamu pikir aku sedang ingin bercanda?"
Tanjirou menyeruput tehnya, menatap Giyuu dengan sejuta jawaban yang tidak dimengertinya sama sekali. Namun yang pasti, Tanjirou tidak berbohong.
"Tidak mungkin. Kamu saja baru berusia enam belas tahun. Tidak mungkin kamu sudah hidup selama ratusan tahun."
"Nyatanya begitu, aku sudah terlalu banyak melihat Giyuu-san bereinkarnasi." Ia meletakkan cangkirnya dengan bunyi 'clang' kecil, tersenyum dan menatap Giyuu dengan keteguhan. "Kamu tahu, Giyuu-san? Aku lelah melihatmu terus-menerus lahir, hidup, lalu mati karena usia. Aku lelah harus pergi dari satu tempat ke tempat lainnya karena terjebak."
Giyuu terdiam. Ia bahkan tidak bisa membalas ucapan yang tidak masuk akal itu. Tapi entah kenapa, hatinya mempercayainya.
"Katakan padaku, Giyuu-san," Tanjirou mengeraskan rahang, menatapnya dengan begitu hampa. "Kenapa aku selalu saja tidak bisa menahan diri untuk tidak menemuimu?"
"Kenapa, walau sudah berkali-kali aku melihatmu mati, aku tetap dengan tidak tahu dirinya tetap muncul didepanmu? Mengusik kehidupanmu yang tenang, membuatmu merasakan kebingungan untuk kali kesekian?"
Pemuda itu diam, bingung apa maksud dari ucapan penuh teka-teki dari Tanjirou.
"Giyuu-san, pertama aku mengenalmu, aku terjebak dalam penyesalan karena membunuhmu sebelum aku bisa menjawab perasaanmu. Lalu bagaimana bisa kamu selalu saja membuatku jatuh cinta padamu di setiap kehidupanmu?" Tanjirou tersenyum dengan setetes air mata yang mengalir lembut. "Katakan padaku, Giyuu-san, kenapa kamu mengutukku seberat ini? Aku hanya ingin mati, tanpa harus melihat orang-orang yang aku cintai meninggalkanku lebih dulu."
"Cukup. Percakapan kita sudah keluar dari jalur." Giyuu memotong. Tidak mengerti kenapa dadanya ikut nyeri mendengarkan tutur kata demi kata yang diucapkan dengan ekspresi penuh luka. Tangannya tanpa sadar mengusap pipi Tanjirou, menghapus air matanya. "Apa sebanyak itu kita bertemu?"
Tanjirou membeku, merasakan usapan tangan kasar yang membelai pipinya. Airmatanya tidak bisa dikendalikan lagi. "Un, banyak sekali... hiks... aku merindukan Giyuu-san di setiap kehidupan. Aku ingin bersama... hiks... Giyuu-san hingga menua, tapi itu mustahil."
"Kenapa itu mustahil?" Tanya Giyuu, tanpa sadar sudah mencondongkan tubuhnya terlalu dekat.
"Karena... karena..." lidahnya kelu. Tidak bisa mengatakan apapun. Toh Giyuu juga tidak akan percaya. Selain itu wajah mereka terlalu dekat. Membuat Tanjirou memalingkan pandangan dengan semburat merah di pipi. "Gi-giyuu-san, kamu terlalu dekat."
Tersadar, Giyuu menarik diri. "Maaf."
"Tidak apa apa. Tenanglah Giyuu-san. Tolong lupakan saja yang barusan." Tanjirou duduk tegak, meminum tehnya hingga habis dan membungkuk pada Giyuu. Tangisnya sudah reda dan bebannya sudah terangkat. "Setelah ini kamu tidak akan melihatku lagi, Giyuu-san. Maaf sudah mengusik hidupmu lagi dan lagi."
"Tunggu, apa maksudmu?"
Kamado Tanjirou tersenyum lega, malah entah kenapa Giyuu medadak merasakan hatinya gelisah?
"Aku akan pergi, Giyuu-san. Setelah ini kehidupanmu akan berjalan seperti biasa tanpa terjebak waktu bersamaku."
"Jelaskan padaku! Apa maksudmu?"
"Giyuu-san, terimakasih sudah mau meluangkan waktumu bersamaku untuk ngobrol. Aku benar-benar berterimakasih. Setelah ini, Giyuu-san akan bebas dari perangkap waktu yang aku buat."
Giyuu refleks mengenggam lengan Tanjirou saat pemuda itu tampak ingin pergi. "Jelaskan padaku!"
Tanjirou tersenyum, "Giyuu-san, kamu tidak sadar bahwa kehidupanmu selama seminggu ini berulang pada hari yang sama dan waktu yang sama?"
"Hari yang sama dan waktu yang sama?"
"Ini semua karena perangkapku, maafkan aku. Aku hanya ingin ngobrol dengan Giyuu-san sejenak tanpa harus mengurangi waktu kehidupanmu."
Kali ini Giyuu tersadar,
Lagu yang sama, tempat duduk yang sama, sapaan Sabito yang sama, dan posisi duduk Tanjirou yang sama... semua itu berulang. Sama persis dengan pembawaan berbeda.
"Waktuku habis, Giyuu-san. Terimakasih, maaf dan selamat tinggal. Maafkan aku sudah mengusikmu sekali lagi di kehidupanmu ini." Tanjirou melepaskan tangan Giyuu dan berbalik pergi. Menuju kasir dan pergi keluar. Meninggalkan Giyuu dalam kebingungan.
Lalu ia menyadari bahwa semuanya berbeda sekarang.
Tiada Tanjirou ataupun jawaban yang didapatnya. Tomioka Giyuu bahkan tidak percaya hingga ia merasakannya sendiri. Mengingatnya baik-baik, dan mengulanginya.
.
.
[Karena pada akhirnya aku hanya melukaimu lagi dan lagi, Giyuu-san. Maafkan aku.]
.
.
END.
A/N;
Halo, aku datang dengan Ff GiyuuTan yang super gaje. Diketik dalam waktu 5 jam dengan ide absurd dimana Giyuu yang manusia terjebak pada sihir buatan Tanjirou untuk mengulangi waktu yang sama dan terjebak didalamnya.
Aku tahu ini sangat gaje dan OOC. Silahkan tonjok aku karena ini. Hahaha...
Cukup, sampai jumpa di lain ff.
Ps; Adakah yang berniat review? /ngarep wkwkw.
