The Colors Of The World 2
Rate T
Pair; Rengoku Kyojuro x Tomioka Giyuu
Kimetsu no Yaiba milik Koyoharu Gotoge. Aku hanya meminjam karakternya untuk menambah asupan.
WARNING! OOC, tidak jelas, alur berantakan, Soulmate!AU dimana semua orang hanya bisa melihat warna hitam putih sejak dilahirkan dan baru bisa melihat 'warna' lainnya saat seseorang bertemu atau melihat 'pasangannya yang telah ditakdirkan'. Jika salah satu 'pasangan' mati atau dalam keadaan sekarat, maka yang lain juga akan kehilangan kemampuan untuk melihat 'warna'. By the way, mereka langsung mendapat pengetahuan tentang warna saat mereka bisa melihatnya.
Oh, aku hampir lupa. Ini Fem!Giyuu karena dia cantik.
Happy Reading!
.
.
.
Bau amis mengudara disertai batuk kasar dari seorang gadis yang masih terbaring di atas kasur. Rambut hitam sebahu tersebar berantakkan di atas bantal. Keringat yang menetes membuatnya terlihat lepek, tapi tidak ada yang mempedulikan hal itu. Kain-kain sudah dipenuhi darah dan nafasnya putus-putus. Nadinya berdenyut lemah dan semakin lemah.
Di samping kanan kirinya, sosok Kocho Shinobu dan Rengoku Kyojuro sibuk memberikan pertolongan.
Mereka tidak tahu apa yang terjadi pada Giyuu. Beberapa saat yang lalu gadis itu telah mendapat perawatan, namun malah memasuki fase koma dan kondisinya berada di antara hidup dan mati. Sekarang tiba-tiba saja tubuhnya memberontak dan darah terus-menerus keluar dari bibirnya.
"Uhuk!" Darah berwarna merah kehitaman lagi-lagi dimuntahkan. Kyojuro dengan gemetar cepat-cepat membersihkannya dan mengusapi pipi pucat Giyuu terus menerus.
"Tomioka! Bertahanlah!"
"Uhuk! Uhuk!"
"Rengoku-san! Jantungnya melemah! Tomioka-san kesulitan bernafas—berikan dia nafas buatan! Aoi! Bawakan aku kain lagi! Kanao! Berikan aku perban! Cepatlah!"
Kyojuro tahu dia tidak bisa membuka bibir Giyuu lalu membiarkan udara masuk karena itu terus menerus memuntahkan darah. Jadi tanpa berpikir lebih jauh, dia menciumnya dan memberinya nafas melalui mulut secara paksa. Shinobu memompa dada Giyuu sedangkan Aoi dan Kanao menahan darah yang merembes keluar dari luka sebelumnya.
Entah sudah berapa lama waktu yang mereka habiskan, mereka tidak menghitungnya dan hanya bisa menarik nafas lega saat Giyuu sudah berhenti memuntahkan darah. Gadis itu bahkan mendapatkan sedikit kesadarannya.
"Tomioka!" Kyojuro mengusap bibirnya yang bernoda darah Giyuu, lalu langsung memanggil nama gadis itu.
"Tomioka-san, bisakah kamu mendengarku?"
Matanya hanya dapat melirik Shinobu dan Kyojuro bergantian. Nafasnya berat namun sudah mulai teratur. Bibirnya terbuka seolah ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak ada suara yang keluar. Ekspresinya tertekan dan tangannya terangkat—ingin menggapai sesuatu.
Kyojuro langsung menangkap tangan Giyuu, menggenggamnya erat. Dia tidak pernah melihat ekspresi itu dari Giyuu. Apakah ada sesuatu yang membuatnya berekspresi seperti itu?
"Tomioka-san?"
Mata Giyuu kembali tertutup perlahan dengan air mata yang mengaliri pipinya. Tangannya membalas genggaman Kyojuro dengan lemah.
Mereka berpikir Giyuu kembali pingsan saat gadis itu kembali membuka matanya dengan lemah, lalu melirik Kyojuro seolah-olah dia ingin pemuda itu mendekat.
Tentu saja Kyojuro menurutinya. Dia bahkan membawa tangan Giyuu pada pipinya. Suaranya lembut saat bertanya, "Tomioka?"
"... A.. a... f..."
Jempol Giyuu mengusap pipinya pelan, tatapannya terlihat seperti orang yang tidak sadar dan ekspresinya begitu sedih seolah-olah tertekan oleh sesuatu. Suaranya sangat lemah hingga Kyojuro harus menajamkan telinganya. "Ada apa? Apa yang ingin kamu katakan?"
"... A... a... f... w..a..r..a..."
Tangan itu melemas sebelum Giyuu selesai mengucapkan sesuatu. Matanya kini tertutup rapat dan Kyojuro nyaris berteriak saat Shinobu menahannya.
"Tomioka-san hanya pingsan. Tenang saja Rengoku-san, dia akan baik-baik saja. Semoga saja kondisinya tidak kembali memburuk."
Kyojuro menarik nafas lega dan menurunkan tangan Giyuu dengan lembut. Setelahnya dia menghapus sisa air mata yang mengaliri pipi Giyuu. "Syukurlah. Aku benar-benar khawatir!"
'Tapi apa yang ingin dia katakan barusan? Permintaan maaf? Untuk apa?' pikir Kyojuro. Tapi sedetik kemudian dia membuang pemikiran itu dan fokus pada Shinobu yang memeriksa nadi Giyuu.
Shinobu mengangguk. "Aku juga Rengoku-san. Tapi aku tidak menyangka Tomioka-san akan mendapatkan kesadarannya." Ujarnya sambil membersihkan sisa-sisa darah dan kain yang berceceran di sekitar mereka karena terlalu panik.
"Apakah itu pertanda buruk?"
"Tidak. Dia akan baik-baik saja." Jawab Shinobu, memberikan tumpukan kain bebercak darah pada Aoi dan Kanao sebelum kembali menatap Giyuu. "Baju Tomioka-san kotor jadi tolong keluar sebentar, Rengoku-san. Oh dan apakah kamu tidak kembali? Kamu dari tadi pagi ada di sini dan tidak berpindah sama sekali lho. Pulanglah, Rengoku-san. Aku akan mengganti pakaian Tomioka-san dan mengawasinya. Aoi, tolong bantu aku. Kanao, tolong buatkan pereda rasa sakit."
"Baik, Shinobu-sama."
Kyojuro hanya bisa mengangguk dan mengusap pipi Giyuu sebelum melangkah keluar. Dia akan menuruti perkataan Shinobu—keluarganya pasti khawatir karena tiba-tiba saja dia berlari seperti orang gila dan belum kembali hingga sore.
Dia baru saja melangkah keluar saat menyadari bahwa 'warna'nya sudah kembali.
'Sejak kapan? Tapi syukurlah! Dia sudah baik-baik saja! Aku ingin menemuinya, tapi aku tidak tahu dimana dia berada sekarang. Tapi setidaknya dia sudah baik-baik saja! Aku harap kami segera bertemu agar aku bisa lebih melindunginya!' pikir Kyojuro. Pasangannya pasti berada di bawah tingkat Hashira. Karena tidak ada Hashira lain yang dikenalnya di hari itu kecuali Tomioka Giyuu.
Gadis itu tidak pernah mengatakan apapun tentang 'warna' ataupun 'pasangan'nya. Kyojuro juga tidak pernah bertanya karena merasa itu menjadi privasi Giyuu. Lagi pula, Giyuu tidak pernah membicarakan tentang pertemuan pertama mereka. Jadi Kyojuro menarik kesimpulan bahwa Giyuu bukanlah orang yang dicarinya.
"Rengoku-san? Kenapa kamu berdiri diam di sini? Apa kamu tidak jadi pulang?" suara Shinobu sukses menghentikan pemikirannya.
"Kocho!"
"Hm? Apa yang sedang kamu pikirkan, Rengoku-san?"
Biasanya, Kyojuro akan menjawab 'tidak ada'. Tapi kali ini dia terdiam beberapa saat sebelum menjawab. "Aku hanya memikirkan pasanganku! 'Warna'ku tadi sempat menghilang. Tapi sekarang sudah kembali! Jadi sekarang dia pasti sudah baik-baik saja!"
"Ara, begitukah? Syukurlah kalau begitu." Shinobu menyadari kejanggalan itu dan hanya bisa tersenyum seperti biasanya. Dalam hatinya dia sudah menahan diri untuk tidak memukul kepalanya dan berteriak keras-keras di depan wajahnya. 'APAKAH AKHIRNYA KAMU SADAR, BODOH?!'
"Hm! Kalau begitu aku akan pulang! Sampai jumpa Kocho!"
"Ara-ara, baiklah Rengoku-san. Sampai jumpa." Lambaian tangan diberikan dan Shinobu diam-diam mengepalkan tangannya hingga urat nadinya terlihat. 'Oh. Ternyata dia belum sadar. Benar-benar orang idiot.'
Kocho Shinobu benar-benar ingin menghantamkan kepala Rengoku Kyojuro ke dinding terdekat atas ketidak pekaannya yang luar biasa.
.
.
.
Rengoku Kyojuro pulang ke rumah dengan suara lantangnya. Pemuda itu langsung menuju ruang tengah, dimana ibunya biasa duduk dan menjahit atau membaca buku. Kadang-kadang ibunya hanya duduk dan memandangi taman belakang rumah yang dipenuhi bunga dan beberapa buah beri.
"Aku pulang! Ibuuu!" Ucapnya dengan lantang tanpa memanggil ayah atau adiknya. Mereka berdua pasti sedang berada di halaman belakang. Entah sedang latihan atau ngobrol santai.
Ruka yang masih membaca buku catatannya hanya menoleh dan berujar tenang, "Selamat datang. Ada apa Kyojuro?"
Seolah-olah wanita itu menyadari keinginan anak tertuanya, dia meletakkan bukunya dan menepuk pahanya. Mengisyaratkan agar Kyojuro membaringkan kepalanya di sana.
Kyojuro langsung duduk dan berbaring terlentang, menatap wajah cantik ibunya dengan ekspresi bingung. "Ibu, apa ibu ingat saat aku bercerita tentang aku pertama kali bisa melihat 'warna'?"
"Ingat, memangnya ada apa?" jawab Ruka, mulai mengusap rambut halus anaknya dengan sayang.
"Apa ibu juga ingat dengan Tomioka?"
"Dia gadis yang mengobatimu dan memberikanmu salep saat itu. Dia juga menolongmu. Sekarang dia menjadi Hashira Air. Rambutnya hitam legam dan dia suka menguncirnya asal-asalan. Matanya berwarna biru seperti lautan. Sifatnya pendiam dan tenang, juga jarang berekspresi. Tapi dia memiliki hati yang baik."
"Ibu tahu banyak ya!"
"Bukankah kamu selalu menceritakannya pada ibu? Bahkan kamu pernah mengajaknya kemari untuk berlatih bersama ayahmu dan adikmu. Memangnya ada apa dengannya?"
"Apakah aku bercerita sebanyak itu? Oh! Ibu, apakah ibu tahu kenapa aku tiba-tiba berlari seperti itu tadi pagi?"
Ruka menarik nafas, "Karena Tomioka-san terluka. Jangan berputar-putar, ada apa Kyojuro?"
"Pagi ini aku tiba-tiba kehilangan 'warna'. Lalu setelahnya gagak Kasugai datang dan memberitakan bahwa Tomioka sedang sekarat! Ibu, apakah ini kebetulan? Aku sangat khawatir tadi!"
'Astaga anakku, kenapa kamu baru menyadarinya setelah bertahun-tahun?' Ruka membatin. Anaknya yang satu ini tidak pernah memikirkan hal rumit dan tidak pernah menyadari bahwa dia terlalu memperhatikan Tomioka Giyuu. Bahkan selalu membicarakannya di rumah. Tapi dia juga selalu mengatakan bahwa dia ingin bertemu dengan pasangannya secepatnya.
"Aku pikir aku akan kehilangan dua orang sekaligus! Syukurlah mereka berdua selamat! Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika pasanganku meninggalkanku atau Tomioka meninggal setelah kemenangannya!"
Benar-benar sangat tidak peka. Ruka ingin sekali menepuk keningnya sendiri karena kelakuan anak pertamanya.
"Anakku, apa kamu tidak pernah bertanya pada Tomioka-san?" tanya Ruka, mendadak merasa kesal dengan anaknya sendiri. "Apa dia bisa melihat 'warna' juga?"
"Aku tidak pernah bertanya padanya! Jadi aku tidak tahu apakah dia sudah menemukan pasangannya atau sudah bisa melihat 'warna'? Tapi selama ini dia diam saja! Jadi dia mungkin belum menemukannya! Dia juga tidak pernah membahas pertemuan pertama kami! Dan kejadian hari ini begitu kebetulan. Untung saja Tomioka masih sempat terselamatkan!" Kyojuro menghela nafas, "darahnya banyak sekali dan kata Kocho luka tusukan di perutnya sangat parah. Tomioka bahkan muntah darah beberapa kali!"
"Anakku, tidak ada yang namanya kebetulan." Ruka tidak tahan lagi. Kelakuan anaknya ini benar-benar sama persis dengan ayah mereka. Mereka berdua sama saja! "Apakah 'warna'mu sudah kembali? Tomioka-san sudah baik-baik saja?"
Dengan bingung Kyojuro mengangguk, "Kata Kocho, Tomioka sudah baik-baik saja. 'Warna'ku juga sudah kembali. Artinya pasanganku juga sudah membaik kan? Aku sangat lega mengetahuinya!"
Ruka tersenyum lembut, "bukankah itu menjelaskan bahwa Tomioka-san adalah orang yang kamu cari selama ini?" tanyanya. "Kamu sering berkata bahwa Tomioka-san adalah orang yang pendiam dan jarang mengatakan isi hatinya. Bagaimana jika sebenarnya dia adalah yang kamu cari?"
Kyojuro terdiam. Dia benar-benar tidak pernah memikirkannya.
"Tapi ibu, semisalnya itu benar, kenapa dia tidak pernah memberitahuku bahwa dialah yang sebenarnya aku cari? Padahal dia tahu seberapa ingin aku bertemu dengan'nya'!" Mata yang sebelumnya berbinar cerah kini meredup. Pemikiran ini membuat Kyojuro merasa sedih dan marah di saat yang sama.
"Ibu tidak tahu, anakku. Bukankah kamu yang selama ini dekat dengannya? Bagaimana jika kamu menanyakan hal itu langsung padanya saat dia bangun nanti?"
Saran dari Ruka sukses mengembalikan senyum Kyojuro yang sebelumnya hilang. Dengan semangat dia mengangguk dan bangkit dari pangkuan ibunya. "Ibu, aku akan mandi lebih dulu! Lalu setelahnya aku akan kembali ke kediaman Kupu-kupu dan menunggu Tomioka bangun! Terima kasih atas saranmu, ibu!"
Ruka hanya tersenyum dan menatap kepergian Kyojuro hingga anaknya itu menghilang di balik pintu geser. Lalu dia menoleh ke arah taman di sebelahnya dan menghela nafas lega. "Akhirnya Kyojuro menyadarinya."
"Mm. Aku sudah mulai bertanya-tanya sampai kapan dia akan menjadi sangat tidak peka. Syukurlah kalau dia mulai sadar." Balasan datang dari Shinjuro yang melangkah masuk dari luar. Pria itu kini menggantikan tempat Kyojuro sebelumnya dan tersenyum bangga. "Ini berkatmu juga, sayang. Dia akhirnya mulai memikirkannya."
"Aku sudah tidak tahan lagi dengan ketidak pekaannya."
"Benar. Dia selalu saja mengatakan ingin menemui pasangan takdirnya, di sisi lainnya dia selalu membicarakan tentang Tomioka ini, Tomioka itu. Apa Kyojuro tidak pernah sadar bahwa dia mencintai gadis itu?"
"Bukankah dia mirip dengan seseorang?"
"Hahaha—dia mirip sekali dengan—eh? Sayang, apakah kamu baru saja menyindirku?"
"Aku ingat dulu ada seseorang yang sama tidak pekanya dengan Kyojuro. Dia bahkan tidak mengerti alasan pasangannya marah padanya karena suatu hal yang sudah sangat jelas." Dengan dingin Ruka menatap suaminya yang ingin dimanjakan di pangkuannya. Dia tidak mengusap rambutnya seperti Kyojuro dan malah mengambil kembali bukunya yang tadi terabaikan.
"Sa-sayang! Aku minta maaf, oke? Maafkan aku! Saat itu aku benar-benar tidak mengerti!"
"Hmph."
"Sayang, ayolah, jangan marah padaku, ya? Suamimu ini sangat mencintaimu dan hatinya tidak tahan jika istri tercintanya marah padanya! Jangan marah, ya? Kumohon?"
Ruka mendengus geli, senyuman manis terbentuk di bibirnya dan dia mengusap rambut suaminya dengan lembut. "Baik-baik. Umur berapa suamiku ini? Masih manja seperti dulu."
Shinjuro tersenyum bangga dan memeluk pinggang Ruka, "Mn-hm. Suamimu ini terlalu mencintai istrinya sehingga selalu ingin bermanja padanya."
.
.
.
Shinobu sebenarnya tidak suka ini. Moodnya yang selalu buruk menjadi semakin buruk saat Kyojuro meminta izin untuk menemani Giyuu semalaman. Dia baru saja ingin menolak saat Kyojuro berbisik penuh keraguan (dimana bagi Shinobu dia hanya sedang berkata dengan nada ragu) bahwa dia ingin memastikan sesuatu. Seketika moodnya membaik karena Kyojuro mulai 'menyadari' 'keberadaan' Giyuu. Jadi Shinobu mengizinkannya dengan syarat Kyojuro tidak boleh membuat kekacauan atau keributan sekecil apapun.
Kyojuro benar-benar menuruti perkataannya karena di pagi hari saat Shinobu masuk untuk mengecek keadaan Giyuu, Kyojuro tengah tertidur dalam posisi duduk. Tangannya mengenggam tangan Giyuu erat.
'Syukurlah, Tomioka-san. Akhirnya si bodoh ini mulai menyadari perasaannya padamu.' Batin Shinobu. Diam-diam dia kembali menutup pintu dan pergi memeriksa kamar lainnya.
Meninggalkan Rengoku Kyojuro dan Tomioka Giyuu berdua di kamar rawat.
.
.
.
Kyojuro terus menunggu Giyuu dengan sabar. Dia tetap menjalankan tugasnya dengan baik, tapi tetap saja sebagian besar waktunya dia habiskan untuk duduk di sebelah Giyuu dan menunggu.
Kadang-kadang dia bercerita tentang tugasnya. Kadang juga Kyojuro hanya diam dan memperhatikan wajah Giyuu. Kadang saat dia benar-benar merasa lelah dengan tugasnya, Kyojuro akan mengambil tangan Giyuu dan menempelkannya di pipinya. Seolah-olah itu membantu menghiburnya. (Dan tanpa sepengetahuan yang lainnya, Giyuu sejak dulu memang selalu memberikan pelukan atau tepukan penghiburan saat Kyojuro mengalami hari yang buruk. Itu membantu Kyojuro mendapatkan sedikit semangatnya kembali.)
Shinobu akan menemukannya tertidur dengan keadaan tangan Giyuu berada di atas kepala Kyojuro setelahnya.
Pernah suatu hari Kyojuro bertanya padanya, kenapa Giyuu belum bangun juga? Ini sudah sebulan lebih dan luka akibat pertarungan dengan Akaza sudah mulai mengering dan sembuh.
Hanya gelengan kepala yang bisa diberikan sebagai jawaban. Shinobu juga tidak tahu kenapa Giyuu tidak segera mendapatkan kesadarannya kembali.
"Setidaknya pulanglah dulu, Rengoku-san. Kamu tidak bisa terus menerus tidur seperti itu." Saran Shinobu. Dia juga mulai khawatir dengan kesehatan Kyojuro (mengingat pemuda itu terlalu sering menginap dan tidur dengan posisi yang tidak baik terus menerus.)
Kyojuro menoleh, "Ah! Kocho! Tidak masalah! Aku bisa mengatasinya!"
"Jangan memaksakan diri. Tomioka-san tidak akan menyukainya."
"Aku tidak akan memaksakan diri. Hanya saja aku merasa lebih tenang jika berada di sini. Di sampingnya."
Shinobu tidak bisa mengatakan apapun lagi. Tidak jika Kyojuro sudah menatap Giyuu dengan kerinduan pekat yang terlihat dengan sangat jelas seperti itu. Pemuda itu bahkan sudah kembali meletakkan telapak tangan Giyuu di pipinya.
"... Baiklah, Rengoku-san."
Wanita itu kembali menatap Kyojuro dan Giyuu sejenak sebelum melangkah keluar untuk bertugas. 'Sepertinya mereka akan baik-baik saja...' pikirnya.
Setelah Shinobu kembali meninggalkan mereka berdua, Kyojuro melanjutkan kegiatannya untuk mengusapkan pipinya pada telapak tangan Giyuu. Dia benar-benar berharap bahwa Giyuu akan segera sadar.
"Tomioka, apa yang kamu mimpikan sekarang? Apakah itu sangat indah hingga kamu tidak ingin bangun?" tanya Kyojuro, bermonolog. Dadanya sesak, tapi Kyojuro tahu itu bukanlah sakit biasanya.
"Bangunlah, aku di sini menunggumu... aku... aku merindukanmu. Rasanya sangat aneh saat aku berjalan dan tidak menemukanmu di sampingku."
"Hey, apakah kamu tidak bosan terus menerus tertidur? Tomioka... ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan."
"Aku tahu kamu selalu disana, mendengarkan segala perkataanku."
"Tomioka..."
Kyojuro menciumi tangan Giyuu. Ini sesuatu yang mulai selalu dilakukannya saat dia merasa mulai kehilangan dirinya sendiri sejak Giyuu tertidur. Melakukan ini bisa membuatnya tenang dan mempercayai bahwa Giyuu masih bernafas—hidup dan hanya tertidur lelap. Ini juga membantunya mengobati perasaan aneh yang mengisi hatinya.
"Kami membutuhkanmu... aku membutuhkanmu... apakah egois jika aku memintamu untuk bangun? Aku ingin tahu nama perasaan yang mengisi hatiku ini. Kenapa rasanya sangat sakit? Itu mereda saat aku melihatmu, tapi menjadi semakin sakit saat melihatmu terbaring seperti ini."
"Hey... bangunlah... aku membutuhkanmu..."
Pertanyaan yang sama. Dan jawaban yang sama. Tomioka Giyuu sama sekali tidak terbangun dari 'tidur'nya. Hanya suara nafas lembut yang terdengar.
"Tomioka..." tanpa sadar Kyojuro berbisik penuh kerinduan. Dia tidak menyadari bahwa dia telah merindukan mata biru sedalam lautan itu. Dia juga merindukan suara halusnya, senyuman cantiknya saat makan Salmon Daikon, segalanya. Ini baru satu bulan dan Kyojuro sudah benar-benar merasa kehilangan sosok Tomioka Giyuu di sekitarnya.
.
.
.
Kyojuro merasakan kepalanya diusap dengan lembut. Suara bisikan ada di sekitarnya dan dia langsung berusaha mendapatkan kesadarannya kembali.
"Oh, kamu sudah bangun." Suara Shinobu sampai di telinganya. Setelahnya ada suara familiar yang ikut menyapanya.
"Rengoku... kenapa kamu tidur di sini?" Kyojuro langsung membuka mata dan mengangkat kepala saat mendengarnya.
Di sana, di atas ranjang, Tomioka Giyuu tengah duduk dan menatapnya. Salah satu tangannya masih ada di rambutnya dan gadis itu berniat menarik tangannya saat Kyojuro langsung menangkapnya.
"TOMIOKA!"
"Rengoku-san, tolong jangan berteriak." Shinobu langsung mengingatkan.
Kyojuro tidak dapat mengatakan apapun. Mulutnya terbuka dan menutup berkali-kali hingga Shinobu terganggu melihatnya.
"Baiklah Tomioka-san. Kamu sudah baik-baik saja, hanya tinggal menunggu lukamu mengering sepenuhnya." Katanya pada Giyuu, lalu berbalik pergi setelah melempar pandangan pada Kyojuro. "Silahkan bicara sepuas kalian. Tapi tolong jangan terlalu berisik. Aku akan datang lagi nanti sore."
"Mm... terima kasih Kocho."
Shinobu memberikan senyum yang bagi Giyuu sangat menyebalkan. Wanita itu sengaja pergi lebih cepat agar Giyuu tidak punya alasan untuk kabur dari Kyojuro.
Tidak ada dari mereka yang berbicara. Kyojuro masih membuka tutup mulutnya dan memegang tangan Giyuu erat-erat. Seolah-olah pemuda itu bingung harus mengatakan apa.
"Rengoku... bisa tolong lepaskan tanganku?"
"OH! AH! TOMIOKA AKU PUNYA BANYAK PERTANYAAN UNTUKMU—TIDAK, AKU BINGUNG SEKALI! AKU HARUS BERTANYA YANG MANA DULU? TAPI AKU BENAR-BENAR INGIN MENANYAKAN—"
Teriakan itu segera terhenti karena Giyuu membungkam bibir itu dengan tangannya. Dahinya berkerut dan mengucap kalimat dengan nada terganggu. "Pelan-pelan."
Kyojuro sampai lupa bahwa mereka masih berada di kediaman Kupu-kupu.
Giyuu menarik nafas, tangannya kembali ditarik dan kini berpindah pada pipi Kyojuro, mengusapnya seperti terakhir kali. "Maafkan aku karena membuatmu khawatir."
"Tidak apa-apa! Apa kamu baik-baik saja sekarang? Bagaimana perasaanmu?" Kyojuro tanpa disangka malah duduk di pinggir ranjang dan memeluk Giyuu erat-erat. Dia bahkan menumpu dagunya di puncak kepala Giyuu. "Tomioka... akhirnya kamu sadar."
"... Rengoku? Ada apa?" tanya Giyuu, menyadari ada yang salah dengan sikap Kyojuro yang sangat tidak biasa. Dia menepuk-nepuk punggung kokoh Kyojuro dengan lembut, "Apa ada masalah?"
"..."
"Rengoku?"
'Tidak biasanya dia diam seperti ini. Ada apa? Oh, tunggu, jangan-jangan—'
"Tomioka, bisakah kamu menjawab pertanyaanku dengan jujur? Aku tahu ini sangat mendadak dan kamu baru saja bangun—tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi." Kyojuro melepaskan pelukannya, lalu menatap Giyuu lurus-lurus dengan mata besarnya. Suaranya serius. "Apakah... kamu bisa melihat 'warna'?"
Giyuu terdiam. Dia sudah menebak bahwa pertanyaan itu akan terlontar suatu hari nanti. Tapi dia tidak menyangka akan secepat ini.
"... kenapa kamu ingin tahu?"
Kedua bahunya diremas lembut, "Tolong jawab saja, Tomioka."
"... aku bisa melihatnya."
Nafas Kyojuro tercekat. "Kamu tahu siapa 'dia'? Sejak kapan kamu bisa melihatnya?"
"..."
"Apakah itu aku?" tanya Kyojuro. Kini tangannya menangkup pipi Giyuu agar gadis itu tidak mengalihkan pandangannya. "Tomioka, apakah benar? Itu aku?"
Dengan kaku Giyuu menangguk. "Ya. Itu kamu."
Kyojuro tanpa sadar sudah mencengkram rahang Giyuu, menatapnya dengan emosi yang berkecamuk hingga gadis yang dicengkram mengerutkan kening. "Kenapa? Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya?!"
"Re-rengoku—sakit—"
"Kamu tahu bahwa aku selalu ingin bertemu denganmu! Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya?! Kamu tahu betapa khawatirnya aku ketika 'warna'ku mendadak memudar?! Betapa frustasinya aku karena nyaris kehilangan'nya' bahkan sebelum aku menemukannya?! Dan ternyata—ternyata orang yang kucari selama ini ada di sisiku! Tomioka, kau—!" kata-kata itu terhenti saat melihat Giyuu.
Gadis itu mendongak, tangannya mencengkram pergelangan tangan Kyojuro yang mencengkram rahangnya dan bibirnya bergetar. Mata birunya berkaca-kaca dan setetes air mata mengaliri pipinya. Didalam biru gelap itu terpantul rasa takut dan bersalah. Kyojuro langsung melonggarkan cengkramannya dan mengusapi rahang Giyuu yang kini berbekas tangannya.
"To-tomioka, maafkan aku! Aku tidak sadar! Harusnya aku mendengarkan alasanmu dulu—maaf! Aku tidak ingin menyakitimu!"
Dahi mereka bertemu. Kyojuro merasa sangat bersalah. Dia terbawa emosi hingga menyakiti pasangan takdirnya. Lebih lagi Giyuu baru saja bangun dari tidur panjangnya.
Pipinya mendadak disentuh dan bibirnya dicium. Hanya sebentar, namun sukses membuat jantung Kyojuro berdetak keras.
"Tidak apa-apa... itu memang salahku... kamu.. kamu berhak marah padaku." Giyuu menolak menatap Kyojuro. Tapi gadis itu tetap mengusap pipi Kyojuro dengan pelan. "Maaf, aku tidak pernah tahu bagaimana harus mengatakannya..."
Kyojuro tetap diam dan menunggu Giyuu menyelesaikan ucapannya. Dia tahu kebiasaan gadis itu dan dia tidak ingin memotong ucapannya.
"Ren-rengoku, a-aku canggung dan tidak tahu harus mulai dari mana... maafkan aku."
Itu benar, Kyojuro sangat tahu bagaimana cara Giyuu berkomunikasi. Gadis itu selalu merasa canggung dan tidak percaya diri saat harus berkomunikasi dengan orang lain. Tidak terlalu terlihat, memang. Tapi itu terlihat jelas dari sikapnya yang selalu menjadi pendengar yang baik.
(Untuk ini, sebenarnya Kyojuro juga baru menyadari saat pertemuan antar pilar satu tahun yang lalu. Saat itu Kocho Shinobu sedang menyindir Giyuu terang-terangan tentang buruknya cara berkomunikasinya. Lalu wanita itu juga mengatakan bahwa Giyuu dibenci semua orang kecuali dirinya. Yah, Kyojuro tahu itu hanya bercanda, jadi dia membiarkannya saja dan hanya tertawa. Tapi sejak itu dia selalu memperhatikan Giyuu dan menyadari bahwa apa yang dikatakan Shinobu benar.)
"Tidak, tidak apa-apa. Maaf sudah marah padamu dan berlaku.. kasar. Aku tahu betapa buruknya kamu dalam berkomunikasi! Sungguh! Harusnya aku yang meminta maaf!" Kyojuro kembali memeluk Giyuu erat-erat dan mencium puncak kepala gadis itu. "Sudah, tidak perlu dibahas lagi! kamu harus fokus untuk memulihkan kondisimu!"
"...un."
"Oh iya! Lalu tentang kita, ayo kita mulai pelan-pelan dari sekarang! Kamu pasangan takdirku dan akhirnya aku menemukanmu! Kamu bisa mulai lebih terbuka denganku! Aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu!"
"... baiklah..." Giyuu membalas pelukan erat Kyojuro dan mengistirahatkan pipinya di bahu Kyojuro, berbisik lirih, "...Kyojuro."
Kyojuro tertawa. Dia langsung menyukai cara namanya disebut oleh gadis itu. "Giyuu!"
Kali ini, Kyojuro akan memastikan bahwa pasangannya—Tomioka Giyuu—tidak akan pernah lagi terluka parah dan membuatnya khawatir.
.
.
.
END.
A/n;
Aku lelah. Silahkan bayangkan sendiri endingnya. Aku tidak tahu harus membuatnya seperti apa.
Aku bahkan sudah mengetik ini tiga kali.
Versi lain adalah dimana Giyuu baru terbangun saat para pilar bertarung mati-matian melawan Muzan. Dia langsung bangkit hanya dengan tekadnya dan membantu Kanao dan Inosuke melawan Douma. Setelahnya sesuai dengan manga aslinya (hanya aku mengganti bagian dimana posisi Giyuu digantikan oleh Kyojuro dan Tanjiro tidak sempat menjadi iblis.) dan di ending adalah Kyojuro mengajak Giyuu menikah—dan aku kehilangan ide setelahnya. Jadi aku tidak melanjutkannya lagi dan membiarkannya menggantung. (Kalau kalian mau, mungkin aku bisa up juga di chapter berikutnya... aku hanya tinggal menerjemahkannya kedalam bahasa inggris karena aku mengetik ini dalam bahasa Indonesia.)
Versi lainnya lagi adalah dimana Giyuu bisa menggunakan teknik pernafasan darah. Teknik ini memungkinkan untuk mengendalikan darah dan memanggil roh. Dengan teknik ini Giyuu melawan Muzan bersama Tanjiro disaat pilar yang lainnya pingsan dan masih diobati oleh Yushiro. Dia memanggil pencipta pernafasan—Yorichii dan membiarkannya menguasai tubuhnya hingga Muzan mati bahkan sebelum matahari terbit. Tapi efek samping dari teknik pernafasan ini adalah penggunanya akan kehilangan nyawanya karena organ dalamnya hancur tanpa sisa. (Sungguh sangat aneh, sebenarnya. Tomioka Giyuu jadi benar-benar menjadi terlalu Over Power. Jadi aku tidak melanjutkannya dan berhenti di tengah-tengah pengerjaan.)
Sudahlah... /terlalu lelah dengan ini semua/
Sampai jumpa, terima kasih sudah membaca dan maafkan aku atas memburuknya mood-ku juga fanfiksi buatanku ini. Jangan lupa jaga kesehatan.
