Fell in Love With Tomioka Giyuu

Rate T

Kimetsu No Yaiba milik Koyoharu Gotoge. Author hanya pinjam karakter dan tidak berhak atas apapun kecuali fanfiksi ini.

WARNING! Author ketagihan dengan RenGiyuu, jadi aku membuat lagi. Seperti sebelumnya, ini Fem!Giyuu (kurasa aku akan membuat Fem!Giyuu hanya ada di RenGiyuu dan Male!Giyuu hanya ada di GiyuuTan. Hahaha). Lalu Typo, OOC, Alur berantakan atau terlalu cepat dan tidak jelas.

Yah, selamat membaca!

.

.

.

Rengoku Senjuro berkali-kali melirik kakak laki-lakinya yang terus menerus bergerak gelisah. Dalam hatinya, dia bertanya-tanya apa penyebabnya. Kamado Tanjiro dan teman-temannya yang datang ke rumah mereka juga saling berpandangan karena perilaku sang pillar api yang di luar kebiasaan.

"Re-rengoku-san, apa ada yang menganggumu?" Akhirnya Tanjiro mengutarakan pertanyaan yang sedari tadi berputar-putar diantara mereka semua. "Kamu terlihat gelisah."

Kyojuro langsung menoleh pada anak didiknya yang baru, menatapnya dengan mata cerah dan senyum lebar seperti bisanya. "Tidak ada apa-apa!"

"Benarkah? Dari tadi kamu terus melirik gerbang... apa ada seseorang yang kamu tunggu?"

Kamado Tanjiro dan Rengoku Senjuro berjengit saat Rengoku Kyojuro langsung memberi anggukkan kelewat semangat. "Mn!"

"Ada yang datang!" Inosuke mendadak berteriak, membuat mereka semua langsung serempak menoleh ke arah gerbang. "Ah! Orang dengan baju setengah-setengah!"

"Tomioka! Kamu datang!"

Berbeda dengan Inosuke yang menunjuk-nunjuk Giyuu, Tanjiro, Senjuro dan Zenitsu hanya bisa terbengong. Kyojuro sendiri langsung berlari menghampiri Giyuu dan mengenggam tangannya dengan senyum lebar.

"Aku kira kamu tidak jadi datang!"

Giyuu hanya mengangguk canggung, tidak menyangka bahwa kehadirannya benar-benar ditunggu oleh Kyojuro. "Ada sedikit masalah.. maaf karena terlambat." Gumamnya menyesal.

"Tidak apa-apa! Ayo masuk! Kamado-boy dan teman-temannya ada di dalam, ah! Ada Senjuro juga! Dia adalah adikku—Tomioka, aku senang kamu datang!" Kalimat Kyojuro sedikit berantakkan karena terlalu senang. Tapi dia masih bisa mengendalikan diri untuk tidak menarik Giyuu kuat-kuat untuk masuk lebih dalam.

"Tomioka-san! Selamat sore!" Tanjiro langsung menyapa saat dia kembali menguasai dirinya dan Giyuu sudah berada cukup dekat dengan mereka.

Senjuro sedikit membungkuk, canggung dengan sang pillar air yang mendadak datang juga kakaknya yang mengenggam tangannya seolah itu bukan hal besar. "Selamat sore, Tomioka-san."

"Se-selamat sore, To-tomioka-san..." Zenitsu dengan gugup ikut memberi salam di samping Senjuro. Tiga anak itu cukup sopan—tidak seperti Inosuke yang kini mengacungkan katana latihan padanya sambil berteriak untuk melawannya.

"Selamat sore." Balas Giyuu, memandang mereka satu persatu sebelum kembali beralih pada Kyojuro yang masih menggenggam tangannya. "Rengoku, tolong lepaskan tanganku, aku tidak bisa melepas haori dan ikut latihan jika begini..."

Kyojuro cepat-cepat melepaskan genggamannya, benar-benar tidak sadar sudah mengenggamnya terlalu lama. "Oh! Maaf, aku tidak sadar!"

Giyuu hanya mengangguk samar dan melepas haori juga seragam pemburu iblisnya, memperlihatkan kemeja putih lengan panjang dibaliknya. Penampilannya kini sama seperti Kyojuro. Hanya saja dia melipat lengannya hingga siku, sedangkan Giyuu membiarkan lengan panjangnya tetap di tempatnya.

"Nah! Ayo kita lanjutkan! Fokus utama kalian adalah nafas! Jika kalian sudah bisa melakukan nafas penuh bahkan tanpa kalian berkonsentrasi, kalian bisa melampaui kekuatan kalian yang sekarang!" Kyojuro menjelaskan. "Aku yakin kalian sudah bisa melakukannya dengan konsentrasi penuh! Tapi! Konsentrasi kalian akan terpecah saat berada di pertarungan!"

"Begitu rupanya! Jika kita berlatih hingga bisa melakukan nafas penuh tanpa harus berkonsentrasi, pada saat pertarungan kita bisa lebih fokus terhadap musuh!" Tanjiro dengan cepat menerjemahkan kalimat sulit itu pada Inosuke yang terlihat sekali sedang kebingungan.

"Benar, Kamado-boy! Sekarang, coba kalian saling berhadapan dan fokus pada lawan kalian, cobalah untuk berkonsentrasi pada nafas lebih dulu! Lalu perlahan, coba untuk fokus penuh pada lawan tanpa menghilangkan nafas penuh!"

Tanjiro berhadapan dengan Senjuro dan Inosuke berhadapan dengan Zenitsu yang langsung merengek. "Ta-ta-ta-tanjiro! Inosuke berusaha membunuhku!"

"Hm! Bagus! Lebih fokus lagi! Kamado-boy, Senjuro, coba untuk fokus dan memperluas insting! Teriakan-teriakan itu adalah salah satu gangguan untuk memecah konsentrasi!"

"Ha'i!" Mereka berdua menjawab kompak dan langsung memasang kuda-kuda untuk saling menyerang.

"Rengoku, jangan melihatku. Fokuslah pada mereka." Giyuu memanggil di sebelahnya. Tatapannya lurus pada anak-anak yang berlatih di depan mereka. Tidak terlalu peduli pada Kyojuro yang malah memperhatikannya dari dekat. "Bahu Senjuro terlalu kaku, dan Tanjiro terlalu berhati-hati. Bocah babi itu terlalu gegabah dan yang lain terlalu takut mengambil kesempatan."

Kyojuro langsung fokus pada latihan anak-anak didiknya, apa yang dikatakan Giyuu benar!

Tapi tunggu...

"Kamu memanggil Senjuro dengan namanya, sedangkan aku dengan margaku?"

Kali ini Giyuu menatapnya, "apakah aku harus memanggilnya dengan Rengoku muda?"

"Tidak! Maksudku-kenapa kamu tidak memanggilku dengan namaku juga? Aku juga akan memanggilmu dengan namamu! Itu adil bukan?"

Giyuu menghela nafas, kembali memperhatikan latihan di depannya. "Baiklah, Kyojuro." Jawabnya pasrah.

Ingin sekali Kyojuro berteriak senang dan memeluk Giyuu. Tapi keinginan itu berhasil ditahan dan digantikan seulas senyum lebar dengan mata berbinar-binar. "Ya, Giyuu!"

Perempuan di sebelahnya tidak lagi menanggapi dan malah melangkah ke arah Senjuro, memperbaiki posisi kuda-kudanya dan memberitahunya beberapa hal. Setelahnya dia beralih ke Tanjiro dan memberitahunya beberapa hal yang salah. Untuk Inosuke dan Zenitsu, Giyuu hanya menendang bocah berkepala babi itu dan mengangkat Zenitsu layaknya kucing.

"Kamu terlalu gegabah. Pertahananmu terbuka lebar. Dan kamu terlalu lamban dalam mengambil kesempatan."

Sungguh, di mata Kyojuro, Giyuu sekarang terlihat sangat elegan dan keren. Dan... cantik.

.

.

.

"Terima kasih untuk hari ini!"

"Hm! Tidak masalah!"

"Tanjiro, Zenitsu, Inosuke, To-tomioka-san, maukah kalian mampir untuk makan malam?" Senjuro bertanya malu-malu. Hari sudah hampir malam dan akan memakan waktu terlalu lama jika mereka harus pulang dan mencari kedai makan.

"Ya, ikutlah makan malam bersama kami! Kalian pasti lapar sehabis latihan!" Ide adiknya langsung disetujui Kyojuro. "Setelah makan nanti aku akan sekalian mencari tarian kagura dari catatan pilar api sebelum-sebelumnya! Harusnya catatan itu masih ada di kamar ayah."

"Apa tidak masalah?" Zenitsu bertanya, sedikit sungkan untuk berada terlalu lama di sekitar keluarga Rengoku.

"Makan! Aku lapar!" Inosuke langsung melompat semangat.

"Inosuke! Jaga sopan santunmu!" Tanjiro langsung memarahi dan Zenitsu panik sendiri sambil mencengkram kemeja belakang Giyuu. "Terima kasih atas undangannya, Rengoku-san!"

Yang dicengkram tidak mengeluarkan ekspresi, hanya diam dan melirik Zenitsu di belakangnya.

Kedua Rengoku tertawa, mengajak mereka masuk dan meminta mereka membersihkan diri sementara keduanya menyiapkan makan malam.

"Senjuro, apa baju ibu masih ada di kamar beliau? Aku akan mengambilnya!"

Senjuro sudah tahu niat kakaknya, jadi dia hanya mengangguk dan mulai menyiapkan makan malam. Tomioka Giyuu adalah satu-satunya perempuan di antara mereka. Tidak mungkin dia menggunakan pakaian ganti laki-laki.

"Oh, ya, Aniue, ayah tidak di rumah dari pagi. Kemungkinan beliau mabuk lagi dan pergi merenung di pinggir sungai. Tapi aku tidak tahu kapan beliau akan kembali."

"Begitu rupanya. Nanti aku akan bicara padanya saat beliau sudah pulang." Kyojuro menanggapi, lalu keluar dari dapur dan kembali tidak lama kemudian dengan Tanjiro, Zenitsu dan Inosuke di belakangnya. Mereka sudah mandi dan memakai kembali seragam mereka.

"Aku akan membantu! Dulu aku sering membantu ibu untuk memasak makanan bersama Nezuko!" Tanjiro tersenyum hangat. "Senjuro pergilah mandi lebih dulu. Kamu bahkan belum sempat istirahat kan? Rengoku-san juga."

"A-aku juga akan membantu.."

"Eh, tapi kalian tamu kami, apakah tidak apa-apa?" Senjuro merasa tidak enak karena harus meninggalkan tamu-tamu mereka.

"Bukan masalah! Iya kan, Zenitsu, Inosuke?"

"Tidak masalah, kami juga tidak enak karena sudah merepotkan..."

"Huh! Karena kami akan makan enak, tidak apa-apa! Sana pergi!"

"Yosh! Kalau begitu kami serahkan pada kalian ya!" Kyojuro tersenyum lebar, lalu pergi bersama Senjuro ke kamar mandi untuk mandi bersama.

"Oh ya, Aniue, dimana Tomioka-san?"

Giyuu memang tidak terlihat sejak tadi mereka berpisah di lorong. Senjuro bertanya-tanya apakah sang pilar air menolak ajakan mereka dan memilih untuk pulang.

"Kurasa masih mandi! Kita gunakan kamar mandi yang di belakang saja!"

Kamar mandi di rumah mereka ada tiga. Satu di samping rumah, satu di depan dan satu di belakang. Mengingat tadi Kyojuro hanya menunjukkan kamar mandi di samping dan di depan, kemungkinan Giyuu memakai salah satu di antaranya. Jadi mereka memilih yang di belakang.

"Aniue, bagaimana menurutmu perkembangan latihanku? Apakah aku bisa lulus di tes berikutnya agar bisa menjadi pemburu iblis sepertimu?"

Kyojuro menjawab sambil membuka pintu geser kamar mandi, "lebih baik dari yang sebelumnya! Hanya kadang-kadang tubuhmu masih bergerak kaku tanpa sadar karena terlalu fokus pada musuhmu—"

Perkataannya terputus karena melihat pemandangan di depannya.

"Ah. Kyojuro, Senjuro."

Seorang Tomioka Giyuu sedang berlutut di depan Nezuko, masih memakai handuk yang membalut bagian dada hingga area privatnya, di bahu kanannya ada perban yang melingkari, lalu rambut basah dan tetesan air yang masih mengalir dari leher menuju—Kyojuro cepat-cepat berbalik dan kembali menutup pintu di belakangnya dengan wajah merah.

Senjuro tidak sempat melihat apa yang ada di dalam karena tertutup tubuh kakaknya. Tapi mendengar suara sang pilar air, Senjuro tahu apa yang menyebabkan kakaknya berbalik dan menutup pintu kelewat cepat.

"Aniue? Mungkin lebih baik kita ke kamar mandi samping saja..."

Wajah Kyojuro masih memerah, malah semakin pekat hingga menjalar ke lehernya. Tanpa kata-kata dia langsung melangkah pergi diikuti Senjuro yang tersenyum kecil melihat kakaknya bersikap malu seperti ini.

'Aniue sepertinya benar-benar menyukai pilar air...' batin Senjuro, mengingat betapa seringnya Kyojuro mencuri pandang pada Giyuu saat latihan beberapa saat yang lalu.

.

.

.

Nezuko menarik-narik tangannya dengan riang, tidak sabar memperlihatkan rambutnya yang dikuncir tinggi pada Tanjiro.

Tadi sebelum mereka berpisah untuk mandi, Nezuko keluar dari kotaknya dan terlihat ingin ikut tersiram air sehingga Tanjiro meminta tolong pada Giyuu untuk membantunya mandi. Giyuu menyetujuinya dan siapa yang menyangka bahwa gadis kecil itu menariknya menuju kamar mandi lain dan langsung melepas bajunya setelah menyalakan kran?

Pada akhirnya, Giyuu mengikutinya dan memandikannya. Lalu saat baru saja selesai mengeringkan rambut Nezuko, pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan Kyojuro dan adiknya, Senjuro. Laki-laki itu langsung memerah dan menutup pintunya.

Giyuu bertanya-tanya apa yang salah hingga dia menyadari bahwa dirinya hanya memakai handuk.

'Wajar dia memerah seperti itu.' Batin Giyuu. Lalu dengan cepat memakai kembali seragamnya dan mengeringkan rambutnya sendiri.

Setelahnya, Nezuko menarik-narik lengannya dan menunjukkan gestur untuk mengikat rambutnya menjadi satu.

Giyuu tidak memiliki ikat rambut tambahan. Jadi dia memakai miliknya dan mengikat rambut Nezuko. Membiarkan rambutnya sendiri jatuh menuruni bahu. Mungkin nanti dia bisa meminjam ikat rambut pada Kyojuro. Mengingat dia juga suka mengikat setengah rambut pirangnya.

"Waah Nezuko-chan menguncir rambutnya! Cantik sekalii!"

"Nezuko, kamu sudah selesai.. waah! Apa Tomioka-san yang mengikat rambutmu? Sudah bilang terima kasih?" Tanjiro langsung menyambut Nezuko yang berlari memeluknya dan mengusap-usap kepalanya seperti biasa. "Ah-Tomioka-san, maaf karena Nezuko memakai ikat rambutmu! Nezuko, tidak boleh merepotkan Tomioka-san seperti itu."

"Tidak masalah. Apa kalian perlu bantuan?" Giyuu melangkah mendekat, melihat bahwa Inosuke memotong sayur dengan sangat berantakkan dan Zenitsu mengupas bawang sambil menangis. "Aku akan membantu."

Tanjiro meringis, dia memang butuh bantuan. Kedua temannya tidak bisa di andalkan.

Giyuu langsung melepas haorinya, menggulung kemejanya dan mengambil alih sayur yang nyaris di hancurkan Inosuke dan menyuruhnya menunggu di luar dapur. Zenitsu sendiri dimintai tolong oleh Tanjiro untuk menjaga Nezuko.

"Terima kasih, Tomioka-san. Aku sedikit lelah karena harus mengawasi mereka satu persatu terus menerus."

"Itu bagus," gumam Giyuu. Kini dia beralih memecahkan telur dan mulai mengocoknya. "Kamu bisa melatih fokusmu sendiri."

"Ha'i!"

"Sebenarnya, kamu bisa terus berlatih setiap saat. Tidak perlu saat harus berhadapan dengan lawan."

Tanjiro mendengarkan dan menatap Giyuu yang kini sedang memasak telur tadi. Rambutnya jatuh menuruni bahu, telihat lebih halus dari saat di kuncir asal di belakang kepala. Aromanya tenang, tanpa emosi. Membuat Tanjiro ikut merasa tenang.

"Saat bicara, saat berpikir, saat makan. Kamu bisa melakukan nafas penuh sekaligus melatih fokus pada hal lain."

"Begitu! Terima kasih, Tomioka-san!"

Kyojuro yang baru masuk bersama Senjuro setelah mandi rasanya ingin pingsan saat melihat Giyuu yang memasak dengan rambut tergerai seperti itu. Jantungnya langsung berdebar kencang, namun ada sedikit rasa... kecewa? 'Dia tidak memakai pakaian yang ku siapkan..'

"Aniue? Kenapa kamu diam saja?"

"Oh! Tidak ada apa-apa! Hanya saja Giyuu benar-benar terlihat berbeda dengan rambut tergerai!" Cepat-cepat Kyojuro ikut membantu menyiapkan piring dan mengelap peralatan makan.

"Apakah aneh?" gumam Giyuu, yang untungnya di dengar Kyojuro.

"Tidak sama sekali!" balasnya dengan senyum lebar, "malah terlihat cantik!"

Giyuu diam saja, tidak menoleh dari kegiatannya.

Di sisi lain Tanjiro dan Senjuro saling bertukar pandangan. Diam-diam saling memberi kode.

'Apa mereka sedang berkencan?!' – Senjuro

'Tidak tahu! Tapi mereka menjadi semakin dekat setelah insiden kereta itu!' – Tanjiro

"Kyojuro, apakah rasanya pas?" Giyuu menuang sedikit dari kare yang mereka buat dan membiarkan Kyojuro mencicipinya. "Aku merasa kurang manis sedikit. Bagaimana menurutmu?"

"Mnhm! Enak! Menurutku sudah pas! Tapi jika menurut Giyuu kurang manis, bagaimana kalau ditambah gula?"

'MEREKA BENAR-BENAR TERLIHAT SEDANG BERKENCAN!' – Senjuro dan Tanjiro yang keberadaannya seperti dilupakan oleh dua pilar itu.

"Kamu punya coklat? Akan lebih enak jika ditambah coklat gelap."

"Coklat? Tentu! Tunggu sebentar. Harusnya kami menyimpannya di sini... nah, ini dia. Apa ini cukup?" Tanya Kyojuro setelah menemukan toples berisi coklat.

"Lebih dari cukup." Balas Giyuu, menerimanya dan mengambil isinya sedikit. Mengaduk-aduk kari-nya dan mencicipinya. "Mm, sudah pas."

Kyojuro memperhatikan bibir yang bernoda sedikit kuah kari kini menjauh dari cawan kecil yang tadi dipakainya—apakah ini ciuman secara tidak langsung?!

"Kyojuro, apa rasa seperti ini tidak apa-apa?" Giyuu lagi-lagi bertanya dan mengarahkan cawan tadi ke arah Kyojuro.

Tanjiro mencium aroma gugup dari Kyojuro, membuatnya tidak dapat membantu tapi mau tidak mau ikut memerah. Senjuro sendiri diam-diam melirik antusias pada Kyojuro.

'Aniue! Cobalah! Ini kesempatanmu!' batinnya menyemangati.

"Kyojuro?"

"Ah! Um, biar kucoba."

Detik pertama Kyojuro mencicipinya, ingatannya langsung terlempar pada masa kecilnya.

Masa dimana ibunya masih hidup dan memasak kare kesukaan ayah mereka, Rengoku Shinjuro.

"Aniue?!"

"Rengoku-san!"

"...Kyojuro?"

"A-ah—maaf! Aku tidak apa-apa!" tanpa sadar Kyojuro menangis. Dia kembali merasakan masakan ibunya setelah bertahun-tahun lamanya. Rasanya sama persis dengan milik ibunya. Ini membuatnya tidak dapat menahan air matanya. "Hanya saja.. hanya saja... rasanya benar-benar sama dengan masakan ibu..."

Senjuro terkejut, begitupun Tanjiro. Giyuu tetap diam dan memperhatikan Kyojuro yang masih meneteskan air mata. Hingga dia menaruh cawan itu dan memeluk Kyojuro, menepuk-nepuk punggungnya sebagai penenang.

Kyojuro membalas pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Giyuu, menghirup aromanya dalam-dalam dan mencoba menenangkan diri.

"Tanjiro, tolong angkat kare-nya. Itu sudah matang. Dan Senjuro, tolong urus sausnya. Aku rasa Kyojuro butuh waktu untuk menenangkan diri."

Dua anak itu langsung mengerjakan apa yang diminta Giyuu dan menyiapkan makanan, sedangkan mereka berdua (Kyojuro dan Giyuu) tetap di tempat mereka sebelumnya.

Beberapa saat kemudian, Kyojuro akhirnya melepaskan pelukan Giyuu saat mengingat bahwa bahu perempuan itu masih terluka.

"Sudah lebih baik?"

"Um." Kyojuro mengusap air matanya, lalu tersenyum seperti biasanya. "Lebih baik. Terima kasih, Giyuu."

Giyuu hanya mengangguk, lalu perhatiannya teralih pada Senjuro yang kembali masuk kedalam dapur. "Apa sudah siap?"

"Ya, ayo makan, Tomioka-san, Aniue."

.

.

.

Sebenarnya, Kyojuro tidak enak membiarkan mereka pulang saat hari sudah gelap. Tapi Tanjiro dan Zenitsu memaksanya karena tidak ingin merepotkan lebih jauh. Giyuu sendiri baru saja akan berbalik pergi saat Senjuro menarik ujung haorinya.

"A-anu, To-tomioka-san, terima kasih ka-karena sudah menyelamatkan kakakku..." Senjuro bergerak gelisah, "da-dan juga telah memasak kare yang enak tadi... aku... aku tidak terlalu ingat tentang ibu. Setidaknya... setidaknya kini aku bisa mengingat beliau walau hanya sedikit..."

"Senjuro..." Kyojuro menatap adiknya dengan menyesal. Dia memang masih terlalu kecil saat ibu mereka jatuh sakit dan kemudian meninggal.

"Ja-jadi! Terima kasih banyak! Tomioka-san!" ucapan itu sungguh-sungguh berasal dari hati terdalam Senjuro, hingga anak itu membungkuk dalam pada Giyuu.

Giyuu hanya bisa mengerjap sebelum kembali menguasai dirinya sendiri. "Aku tidak melakukan apapun... saat itu aku hanya tidak sengaja berada di kereta yang sama dengan Kyojuro. Dan tentang kare, aku belajar dari kakak perempuanku." Tangannya tanpa sadar terangkat dan menepuk bahu Senjuro, "jangan... terlalu berterima kasih padaku..."

"Giyuu, kamu yakin tidak ingin menginap saja?"

"Tidak. Masih ada urusan yang harus aku lakukan. Terima kasih untuk hari ini, dan maaf merepotkan kalian, Kyojuro, Senjuro."

"Tidak sama sekali! Kapan-kapan datanglah lagi!"

Hanya lambaian tangan dan seulas senyum samar yang diterima dua bersaudara itu sebelum sosok Tomioka Giyuu menghilang.

"Ngomong-ngomong, Aniue, ayah belum pulang. Padahal sudah hampir jam sepuluh... aku khawatir..."

Kyojuro baru ingin menenangkan Senjuro saat sosok ayah mereka muncul dengan terhuyung-huyung. Bau alkohol tercium cukup kuat dan ekspresinya terlihat sangat terganggu.

"Ayah..."

"Minggir!" Bentak Shinjuro. Terhuyung melewati mereka dan masuk kedalam kediaman Rengoku begitu saja.

Senjuro menunduk, "Aniue, aku khawatir pada ayah. Semakin hari beliau semakin tidak mempedulikan dirinya sendiri..."

"Aku juga, Sen. Aku juga." Kyojuro langsung berlutut dan memeluk Senjuro, "aku akan mencoba bicara padanya nanti. Jika tidak berakhir baik, aku rasa kamu harus menginap di rumah Kanroji untuk beberapa waktu. Aku tidak ingin kamu terluka karena amarahnya."

.

.

.

Sesuai dugaan Kyojuro, pembicaraannya dengan ayahnya tidak berakhir baik.

Pria itu mengamuk dan mengatakan pada Kyojuro untuk tidak mengurusinya. Lalu beberapa ucapan kasar juga didengar Kyojuro, membuatnya sedih dan terpaksa meminta Senjuro menginap di rumah Mitsuri.

"Kyojuro, apa ada yang menganggumu?"

"Uh? Maaf, ada apa Giyuu?"

Mereka sedang ada di kedai dango—sebenarnya mereka hanya tidak sengaja bertemu saat Kyojuro ingin membeli beberapa camilan—dan berakhir duduk bersebelahan sambil menikmati beberapa tusuk dango manis.

"Kamu terlihat... banyak pikiran." Manik sedalam lautan menatapnya lurus, seolah-olah sedang menyelidiki apa yang ada di dalam pikirannya. "Mau... membicarakannya?"

Kyojuro tersenyum padanya, lalu memutuskan untuk bercerita. "Sebenarnya... sikap ayah kami semakin memburuk dari hari ke hari. Beliau makin sering tenggelam dalam alkohol dan marah. Aku tahu dia marah pada dirinya sendiri, dan aku juga sama sekali tidak masalah jika beliau melampiaskan kemarahannya padaku. Tapi aku tidak akan bisa memaafkan beliau jika beliau menyakiti Senjuro."

"Itu pernah terjadi. Beliau hampir memukul Senjuro. Padahal dulu beliau orang yang benar-benar baik. Beliau berubah sejak kematian ibu kami... aku tidak tahu harus bagaimana lagi selain sebisa mungkin menjauhkan Senjuro dari beliau saat kondisinya benar-benar buruk."

Giyuu hanya diam dan mendengarkan. Dia sama sekali tidak menyela dan membiarkan Kyojuro melepaskan keluh kesahnya.

Dia tahu Rengoku Shinjuro. Dia mengenalnya saat menjadi Hashira. Menurut Giyuu, pria itu mirip dengan Kyojuro. Hanya lebih tenang dan sering berekpresi serius. Sayangnya, pria itu diketahui sering mabuk saat tugas dan tidak mempedulikan dirinya sendiri sehingga Oyakata-sama mengeluarkannya demi kebaikan dirinya sendiri. Giyuu tidak tahu lebih banyak karena dia hanya bertemu dengan pria itu sebentar dan tidak banyak berinteraksi dengannya.

"Aku sudah mencoba bicara pada beliau, tapi beliau tidak pernah mendengarkan dan kadang malah semakin murka. Aku tidak ingin Senjuro mendengar kata-kata kasarnya. Itu... benar-benar buruk."

Kyojuro menghela nafas, lalu tersenyum kecil—senyum yang tidak pernah Giyuu lihat. "Terima kasih sudah mendengarkanku, Giyuu. Sejujurnya, aku tidak suka membicarakan ini dengan orang lain—tapi entah kenapa aku ingin bercerita padamu."

Giyuu hanya menatapnya dan mengangguk sekali. Tidak tahu harus menanggapi apa.

"Caw! Caw! Tomioka Giyuu! Cepat ke tenggara! Ada iblis mengamuk dan menyandra lima keluarga di dalam rumah! Caw! Tomioka Giyuu! Ke tenggara!" seekor gagak terbang dan mendarat di bahu Giyuu, memberikan informasi tugasnya.

"Giyuu, kamu sudah bertugas? Tunggu, bagaimana dengan bahumu?! Bukankah itu masih belum sembuh?!"

"... Kocho bilang tidak apa-apa selama aku tidak memaksakan diri." Giyuu mengusap gagaknya, membiarkannya terbang ke timur dan bangkit berdiri. "Sampai jumpa, Kyojuro. Hei, itu timur. Sebenarnya kemana arahnya?"

"Baiklah! Sampai jumpa! Hati-hati ya, Giyuu!" Kyojuro melambaikan tangan, melihat kepergian Giyuu. Tanpa sadar dia berharap Giyuu segera kembali dan mereka bisa lanjut berbincang.

Tanjiro dan teman-temannya juga tidak bisa datang untuk latihan hari ini. Kabarnya Uzui meminta mereka untuk membantunya di distrik lampu merah. Jadinya Kyojuro bermaksud untuk kembali bicara dengan ayahnya.

Bagaimanapun, dia memang tidak berhak marah pada Shinjuro. Pria itu sudah menghukum dirinya sendiri terlalu lama.

.

.

.

Ayahnya sudah menunggunya saat Kyojuro pulang. Pria itu tidak seperti biasanya yang hanya tidur menyamping di kamarnya dan minum alkohol. Kali ini tatapannya lurus padanya dan tidak ada bau alkohol yang tercium.

"Ayah. Aku pulang." Kyojuro cepat-cepat masuk ke ruang tengah dan duduk tegap di depan ayahnya. "Apakah akhirnya ayah akan mendengarkan perkataanku?"

Kening Shinjuro mengerut, tapi tidak bertanya. "Kare yang ada di dapur." Ujarnya langsung pada intinya. Dia tidak suka berbasa basi. "Siapa yang membuatnya dan darimana kalian mendapatkannya?"

"... ayah?"

"Jawab aku, Kyojuro." Nada tegas terdengar, membuat Kyojuro tidak dapat menahan rasa senang. Ini pertama kalinya setelah bertahun-tahun dia kembali mendengar nada tegas ayahnya. Beliau mau duduk dan berbicara berhadap-hadapan dengannya seperti ini saja sudah merupakan sebuah keajaiban besar.

"Itu Giyuu yang membuatnya."

"Giyuu?"

"Ah! Maksudku, Tomioka Giyuu, Hashira air. Dia yang membuatnya. Kemarin kami berlatih bersama sebelum ayah pulang." Senyum Kyojuro tidak dapat ditahan lagi. Bahkan ayahnya pun penasaran dengan Giyuu setelah mencoba masakannya. 'Giyuu, kamu luar biasa!' batinnya.

"... begitu." Shinjuro bangkit berdiri dan melangkah meninggalkan Kyojuro begitu saja, "minta dia menemuiku saat berkunjung lagi. Dan jika kamu mencari catatan tentang pilar sebelumnya, catatannya ada di gudang, kotak sebelah kiri atas. Jangan ganggu aku." Ujarnya sebelum meninggalkan ruangan.

Senyum Kyojuro mengembang. Ini benar-benar kemajuan yang luar biasa! "Iya!"

Oh yaampun, saat ini Kyojuro ingin sekali berlari keluar dan mencari Giyuu, memeluknya dan mengucapkan terima kasih. Ayahnya! Ayahnya akhirnya bersikap normal! Beliau tetap dingin dan terlihat tidak peduli, tapi Kyojuro tahu ada perbedaan besar dari yang sebelumnya. Benar-benar tidak bisa dipercaya!

Dengan rasa senang yang luar biasa itu, Kyojuro pergi ke gudang dan mencari catatan yang dibutuhkan Tanjiro. Setelah menemukannya, Kyojuro menyimpannya di kamarnya kemudian langsung pergi ke kediaman pilar air. Dia ingin menunggu Giyuu pulang dan mengucapkan terima kasih secara langsung.

"Dia sangat luar biasa!" gumam Kyojuro pada dirinya sendiri. Giyuu tidak hanya telah menyelamatkan nyawanya. Kali ini, dia bahkan menggerakkan hati ayahnya. Kyojuro benar-benar kagum dan semakin menyukai Giyuu.

.

.

.

Tugas kali ini tidak terlalu berat.

Iblis yang katanya menyandera lima keluarga sebenarnya hanya berniat balas dendam karena mereka membunuh tunangannya. Jadi iblis itu menyandera mereka dan membunuh anak-anak mereka tepat di depan mereka semua.

Giyuu datang tepat setelah iblis itu membunuh anak terakhir. Iblis itu bahkan sempat menoleh padanya dan tersenyum—seolah-olah tujuannya sudah tercapai dan dia siap untuk mati.

Andai saja... andai saja dia lebih cepat, tidak akan ada anak yang mati. Dan keluarga itu juga tidak menangisi anak-anak mereka. Sekalipun iblis itu jadi tidak bisa membalaskan dendam kematian tunangannya, akan ada balasan tersendiri untuk mereka semua suatu saat nanti.

"Ah! Giyuu! Selamat datang!"

Sapaan kelewat bersemangat menyadarkan Giyuu dari pikirannya. Cepat-cepat perempuan itu menatap asal suara—Kyojuro sedang berada di depan rumahnya dan kini melangkah setengah berlari menyambutnya.

"Kyoju—ro...?" tubuh Giyuu langsung menegang saat Kyojuro menabrak dan memeluknya erat. Membuatnya tenggelam dalam kehangatan yang begitu nyaman. Dengan kaku tangannya terangkat dan membalas pelukan Kyojuro dengan canggung.

"Terima kasih! Giyuu, aku sangat berterima kasih! Terima kasih banyak! Aku sangat menyukaimu!" Kyojuro berkata setengah berteriak di samping telinganya, membuat telinga Giyuu berdenging. "Aku begitu menyukaimu, Giyuu! Kamu luar biasa!"

Tapi—tunggu, apa yang baru saja dia katakan? Menyukai? Apakah Giyuu salah dengar?

"K-kyojuro?"

Kyojuro juga sepertinya menyadari kata-katanya sendiri. Dengan cepat dilepasnya pelukannya pada Giyuu. Wajahnya mendadak terasa terbakar dan di perutnya seperti ada serangga yang berterbangan. Ekspresi blank dari Giyuu juga tidak membantu. Ekspresi itu malah membuat Kyojuro semakin merasakan panas membakar wajahnya. Tidak hanya itu, ada sebuah keinginan lain yang Kyojuro tidak mengerti apa itu. Yang jelas, dia menginginkan Giyuu menjadi bagian di dalamnya.

"Ah—Giyuu—maksudku—"

Giyuu tidak membiarkan Kyojuro menyelesaikan kata-katanya karena dia bergerak mendekat. Tangannya perlahan terangkat dan berhenti di pipi Kyojuro yang panas. "Apakah... maksudmu 'suka' yang seperti ini?"

Nafas mereka bertabrakan. Kyojuro benar-benar tidak dapat berpikir lebih jauh saat tengkuknya di tarik dan bibirnya mendadak dibungkam oleh sesuatu yang lembut, kenyal dan basah. Seketika pikirannya kosong dan tanpa sadar semakin menarik Giyuu untuk mendekat.

Tapi Giyuu menarik diri, menjauh dan menatapnya dengan tatapan... bertanya?

"Seperti itu?" gumamnya lembut. Dan demi apapun, Kyojuro dapat merasakan nafas Giyuu yang menabrak wajahnya saat perempuan itu berbicara. Giyuu benar-benar membuat wajah dan tubuhnya mendadak menjadi semakin panas.

"Seperti... itu." Bisik Kyojuro. Mata sewarna api menatap bibir mengkilap yang berada di hadapannya, mendadak ingin merasakannya lagi. "Lagi,"

Dan dia melakukannya.

"Mmmn—"

Yaampun. Erangan tertahan milik Giyuu membuat Kyojuro ingin melakukan lebih banyak. Bibir itu juga benar-benar lembut dan kenyal. Rasanya manis dan basah seperti madu. Kyojuro dengan gemas mengigitinya dan memiringkan kepala untuk mendapat akses penuh saat Giyuu membuka bibir. Rongga bibir itu hangat, manis dan basah. Kyojuro mendadak candu. Lidah Kyojuro masih menjelajahi dalamnya dan akan menari bersama lidah Giyuu saat sebuah jeritan tertahan terdengar.

Mereka berdua langsung memisahkan diri—Giyuu langsung membuang pandangannya dan menutupi bibirnya dengan lengan. Sedangkan Kyojuro melepaskan pelukannya pada pinggang Giyuu.

"Kanroji! Eh—Senjuro juga! Kenapa kalian kesini?!"

Pertanyaan Kyojuro sebenarnya biasa saja. Tapi wajahnya masih hangat dan suaranya menjadi sedikit lebih bertenaga, sehingga dua orang yang mengganggu kegiatan mereka merasa bersalah. Giyuu sendiri masih memalingkan pandangan—malah lebih terlihat diam-diam bergeser dan bersembunyi di balik tubuh Kyojuro.

Wajah Mitsuri dan Senjuro sendiri memerah. Melihat keintiman seorang Rengoku Kyojuro dan Tomioka Giyuu benar-benar di luar dugaan mereka.

"Eh! Etto—kami hanya ingin mengantarkan kue manis pa-pada Tomioka-chan—e-etto..." Mitsuri gelagapan. Tangannya dengan panik bergerak kesana kemari dan Senjuro dengan wajah masih memerah melirik kakaknya. "Ma-maaf karena menganggu!"

'Aku tidak menyangka aniue dan Tomioka-san akan begitu berani!' pikir Senjuro.

'Rengoku-san dan Tomioka-chan benar-benar diluar dugaan!' Mitsuri membatin. Wajahnya ikut terasa hangat saat memikirkan kembali keintiman mereka berdua sejak kemarin. Tapi dia tidak menyangka bahwa mereka berdua akan benar-benar mengalami perkembangan secepat ini!

"Masuklah."

Giyuu tiba-tiba sudah berada didepan rumahnya, membuka pagar dan memberi gestur agar mereka semua masuk ke dalam. Pipinya masih memerah samar, tapi ekspresinya tenang dan datar seperti biasa walaupun matanya beberapa kali melirik arah lain.

"E-etto—tidak usah, Tomioka-chan! La-lanjutkan kegiatan kalian! Kami permisi dulu!" Mitsuri dengan canggung memberikan keranjang yang tadinya dibawa Senjuro pada Kyojuro. Gadis itu kemudian membungkuk dan setengah berlari dengan Senjuro menjauhi mereka.

"A-ah! Aniue! Berjuanglah!" Senjuro melambaikan tangan, lalu kembali berbalik dan mengejar Mitsuri.

Wajah Kyojuro semakin hangat. Dia tidak mengerti maksud Senjuro, tapi dia tahu bahwa adiknya itu menggodanya. "Berjuang? Apa maksudnya?!"

Giyuu memperhatikan dua orang yang kabur dari hadapan mereka. Ekspresinya menjadi sedikit sedih bercampur bingung sebelum kembali datar—dingin. Dengan canggung diliriknya Kyojuro yang masih berdiri dengan keranjang di tangannya. "Masuklah, Kyojuro."

Kyojuro menoleh, lalu mengangguk dan tersenyum lebar seperti biasa. "Mn! Permisi!"

Mereka masuk dan yang pertama dilihat Kyojuro adalah kediaman yang lebih seperti rumah kosong. Bukan berarti banyak debu dimana-mana, hanya saja didalamnya nyaris tidak memiliki perabotan. Ruangan banyak yang kosong, kebanyakan malah hanya berisi lemari dan meja kecil di sudut ruangan.

"Aku jarang berada di rumah," Giyuu menjelaskan, seolah-olah memahami pertanyaan yang berputar-putar di dalam kepala Kyojuro. "Dan aku tinggal sendirian."

"Begitu!"

Hanya anggukan singkat yang di terima Kyojuro sebelum Giyuu menghilang di balik pintu.

.

.

.

Giyuu menuang tehnya, melirik Kyojuro yang masih memandanginya tanpa berkedip. "Jadi, ada apa?"

"Eh?"

"Kamu... menungguku. Ada apa?"

Seketika Kyojuro teringat tujuannya datang ke kediaman pilar air.

"Giyuu! Aku datang untuk berterima kasih—ayahku! Beliau mencoba kari buatanmu kemarin dan—dan beliau mulai membaik! Ini benar-benar perubahan besar! Aku bahkan tidak pernah menyangkanya! Giyuu! Kamu sudah menyelamatkanku sebanyak tiga kali dan kali ini kamu kembali menolongku! Maksudku—ayahku tidak pernah mau repot-repot duduk dan menungguku pulang sejak kematian ibuku, tapi tadi beliau menungguku pulang dan bertanya tentang kari itu!"

Kalimatnya benar-benar berantakkan. Suaranya juga lebih nyaring dari pada biasanya, menandakan bahwa dia sangat senang. Giyuu sedikit terganggu dengan suara keras Kyojuro, tapi karena laki-laki itu sedang senang, Giyuu tidak akan mempermasalahkannya dan memilih tetap menjadi pendengar yang baik.

"Bahkan beliau menggunakan nada tegas! Suara tegas itu tidak pernah kudengar lagi sejak ibu tiada! Ini benar-benar keajaiban! Dan itu semua karenamu, Giyuu! Oh! Dan beliau memintamu untuk menemuinya saat kamu berkunjung lagi!"

"Giyuu, aku benar-benar menyukaimu! Aku sangat-sangat menyukaimu!"

Giyuu lagi-lagi hanya mengangguk, dia sudah tahu itu. Bukankah Kyojuro sudah mengatakannya tadi?

Tapi tidak sopan jika tidak membalas pernyataan itu. Sayangnya Giyuu sendiri masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

Apakah dia benar-benar juga menyukai Kyojuro?

Bukankah mereka sangat berbeda? Kyojuro itu layaknya matahari, bersinar terang dan hangat. Sangat ramai dan menyenangkan. Berbeda dengannya yang lebih seperti bulan, dingin, sunyi, suram dan membosankan.

Giyuu memang mengaguminya, dan dia menyelamatkannya karena merasa bahwa akan sangat disayangkan jika orang secerah Kyojuro harus mati. Daripada itu terjadi, bukankah sebaiknya dia saja yang mati?

"...u?"

Kyojuro dicintai banyak orang. Sedangkan Giyuu, banyak orang yang membencinya. Dia memang berusaha menyangkalnya, tapi pada beberapa waktu, Giyuu tahu bahwa yang dikatakan Shinobu memang benar. Tidak banyak orang yang menyukainya. Kebanyakan dari mereka membencinya—entah karena alasan apa. Lagi pula, dia hanya membawa kutukan bagi orang yang dekat dengannya.

"...yuu?"

Kakaknya, Sabito, Makomo, semua yang dekat dengannya telah mati. Giyuu memang ditakdirkan untuk sendirian. Dia tidak ingin egois—walaupun dalam hatinya dia ingin bersama kehangatan itu, dia tidak bisa merusaknya.

"Giyuu!"

Giyuu tersentak, mengangkat kepalanya dan melihat Kyojuro di hadapannya.

"Astaga, apa yang kamu pikirkan?" tangan besar Kyojuro menangkup kedua pipinya, menghapus air mata yang tidak dia sadari sudah mengalir. "Apakah ini karena aku?!"

"Umm..."

"Tidak perlu terlalu dipikirkan! Aku akan menunggumu hingga kamu siap menerimanya!"

Sebuah senyum terbentuk di bibir Kyojuro, senyum yang sangat menenangkan dan hangat. Giyuu ingin tenggelam. Dia sangat ingin tenggelam dalam kehangatan itu.

"Aku... aku juga... me-menyukaimu." Giyuu melingkupi tangan Kyojuro yang masih ada di pipinya, tersenyum kecil dengan air mata yang masih mengalir dan menempelkan dahi mereka. "Aku menyukaimu... Kyojuro."

Mata Kyojuro melebar dengan ketidak percayaan sebelum menarik Giyuu kedalam pelukannya.

'Hangat... aromanya seperti matahari... menenangkan...' pikir Giyuu, membalas pelukan Kyojuro dan menenggelamkan diri di dalam pelukannya. 'Ah, aku ingin berada di sini selamanya...'

"Terima kasih, Giyuu! Terima kasih!" dapat Giyuu rasakan bahwa saat ini Kyojuro sedang tersenyum lebar. Jantungnya—tidak. Jantung mereka berdebar kencang. Giyuu merasakannya. Dan dia yakin Kyojuro juga merasakan miliknya.

"Um." Gumam Giyuu pada akhirnya.

"Aku sangat-sangat menyukai Giyuu!"

"Um, kamu sudah mengatakannya berulang kali."

"Aku senang sekali! Mulai sekarang, mohon bantuannya ya, Giyuu!"

"Mo-mohon bantuannya..."

.

.

.

END.

.

.

.

Omake.

.

.

"Tidak bisa dipercaya!" Shinazugawa Sanemi menggebrak meja, nyaris menghancurkannya. "Mereka benar-benar melakukannya?! Rengoku dan Tomioka?!"

"Aku melihatnya sendiri, Sanemi-san! Mereka ber-berci-ciuman di depan kediaman Tomioka-chan!" pipi Mitsuri bersemu merah saat mengatakannya.

"Ara-ara, aku tidak menyangka mereka sangat berani." Komentar Shinobu. "Perlukah kita mengadakan taruhan tentang kapan mereka akan resmi?"

"Re-resmi?!"

Shinobu mengangguk, "Ha'i! Aku bertaruh mereka akan resmi tidak lama lagi. Rengoku-san pasti akan bergerak cepat jika Tomioka-san sudah menyetujuinya. Perkiraanku... kurang dari sebulan."

"Ha? Mana bisa begitu?! Mereka baru saja dekat! Aku yakin Rengoku tidak akan menikahi si Tomioka dalam waktu dekat!" Uzui Tengen mengibaskan tangan dengan tidak peduli, "tapi jika maksudmu adalah 'resmi' dalam hal 'itu', mungkin saja mereka sudah melakukannya." Gumamnya jahil.

"Rengoku tidak mungkin melakukan hal itu. Aku rasa, dia malah akan segera menikahi si Tomioka dan membuat mereka resmi secepat mungkin."

"A-aku rasa mereka akan resmi beberapa bulan lagi..."

"Ck! Kenapa aku bisa berada di antara pembicaraan bodoh ini?"

"Karena kamu suka bergosip dan mendengarkan informasi tentang Tomioka-san dan Rengoku-san, Shinazugawa-san."

Decakan dari Sanemi terdengar keras dan dia memutuskan angkat kaki dari ruangan Tengen. Niatnya tadi adalah mengunjungi Tengen, tapi mereka malah berakhir menggosip tentang pasangan yang sangat bertolak belakang itu.

Bahkan Muichiro dan Gyomei sudah sejak tadi meninggalkan ruangan Tengen.

"Ck! Sialan. Memangnya apa pentingnya pembicaraan tidak berguna itu? Cih!"

"Ah! Shinazugawa!"

Sanemi berdecak, baru saja dibicarakan dan Kyojuro sudah muncul dengan Giyuu di sebelahnya. Tangan mereka bertautan dan entah kenapa Sanemi merasa silau melihat senyuman Kyojuro yang kelewat cerah.

"Rengoku. Tomioka." Gumam Sanemi, "Aku sudah selesai. Uzui ada di dalam bersama yang lain. Dah."

Sungguhan, Sanemi tidak ingin berada lebih lama dengan para penggosip atau menjadi nyamuk diantara orang yang sedang dimabuk cinta. Dia baru saja akan melangkah pergi saat tidak sengaja melihat sebuah cincin perak melingkar di jari manis tangan kiri Giyuu.

"Tunggu—kalian sudah resmi?!" Sanemi tidak bisa menahan rasa penasaran. Yang benar saja. Ini baru lima hari sejak mereka semua melihat Kyojuro dan Giyuu mulai dekat!

"Mn! Kami akan melaksanakannya saat Kamado-boy sudah sadar nanti! Iya kan, Giyuu?"

Giyuu hanya mengangguk dan Sanemi merasa benar-benar akan pingsan.

'Mengerikan! Aku tidak ingin lebih lama lagi ada di sini! Mereka berdua bernar-benar gila!'