Ohayou, minna-sama :D

Fai-chii balik lagi dengan chapter 2. Mohon maaf kalau Fai-chii tidak bisa update kilat untuk chapter kali ini, karena ada beberapa masalah teknis yang terjadi. *bows* Tapi, Fai-chii berjanji akan mengusahakan update kilat untuk chapter selanjutnya.

Yosh! Silahkan dinikmati fic Fai-chii yang masih jauh dari sempurna ini.

Enjoy, minna :D


"Semoga kau beruntung, Teme," ucap Naruto. Mendoakan keberuntungan bagi sahabatnya itu.

.

Reverse Moon

SasuSaku Fic

Disclaimer : Naruto © by Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Supernatural, Hurt/Comfort

Warning : AU, Typo -.- (always), GaJe, ide pasaran, OOC (maybe)

.

Don't like, don't read

.

.

Enjoy Reading :D

Chapter 2 : Pertemuan Takdir

Gadis berkimono pink pucat itu hanya duduk termenung di depan ruang tidurnya. Memandang kosong awan-awan yang sedang melayang bebas. Pikirannya melayang kembali menuju mimpi yang ia alami semalam. Entah mengapa perasaannya menjadi tak tenang sejak ia mendapat mimpi macam itu. Padahal selama ini, jika ia mengalami mimpi semacam itu, ia tak pernah memusingkannya. Namun, kali ini berbeda. Ia merasa gundah. Firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu hal yang amat sangat buruk.

"Apa yang sedang kau lakukan di sana, Sakura?" suara tersebut membuyarkan lamunan Sakura.

Gadis itu menengokkan kepalanya ke arah sumber suara, tak jauh dari tempatnya ia duduk, berdiri Gaara, kakaknya. Pemuda itu menatap Sakura dengan pandangan bertanya. Sakura hanya memalingkan wajahnya dan menatap kosong ke langit.

"Tidak ada apa-apa, Nii-sama," balas Sakura dengan malas. "Hanya merenung saja."

Mendengar perkataan sang adik, Gaara berjalan mendekat dan ikut duduk di samping Sakura.

"Apa ada hubungannya dengan mimpimu yang semalam?" tanya Gaara lagi. Ia masih penasaran dengan kelanjutan mimpi Sakura.

Sakura hanya mengangguk pelan dan bergumam, "Hmm."

Sakura tak berniat menjawab pertanyaan Gaara terlalu panjang, ia masih memikirkan mimpinya tersebut. Ia merasa ada suatu hal yang akan terjadi karena mimpi tersebut. Mimpi itu adalah pertanda, batinnya.

Merasakan keheningan di antara mereka berdua, Gaara hanya mendengus. Ia tahu jika Sakura sedang memikirkan sesuatu, jangankan bercerita apa yang ia pikirkan, berbicara saja tidak akan.

Karena tidak tahan akan situasi yang semakin suram, Gaara berdiri dari tempatnya duduk dan meninggalkan Sakura sendirian, masih dengan lamunannya. Melihat pergerakan sang kakak, Sakura hanya mendengus kesal.

"Kalau penasaran, seharusnya dia mendesakku untuk bercerita, 'kan?" runtuknya dengan kesal. "Bukannya diam saja, dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Hah... Dasar Baka Nii-sama."

Bulan telah menunjukkan cahayanya ketika Uchiha Sasuke berjalan di dalam ruangan perpustakaan yang ada di dalam mansionnya. Ia berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong buku dan sesekali terlihat berhenti hanya untuk melihat buku-buku yang tersusun rapi dalam rak-rak besar.

Sasuke telah berjalan memutari perpustakaan itu hampir setengah hari dan ia masih belum menemukan buku yang ia inginkan. Buku yang setidaknya mampu membantunya mengetahui kebenaran akan kabar yang akhir-akhir ini banyak di bicarakan.

"Tak ada sama sekali ternyata," gumamnya seraya menarik kursi yang ada di dalam perpustakaan. ia pun duduk dan menengadahkan kepalanya ke atas. "Harus kucari di mana informasi itu?"

"Bagaimana kalau kubantu?" sebuah suara muncul dari arah belakang Sasuke.

Sasuke yang mendengar suara tersebut, mendongakkan kepalanya ke belakang. Di hadapannya berdiri sesosok gadis cantik yang sedang menatap lembut ke arah Sasuke.

"Tidak perlu," ucap Sasuke segera mengembalikan posisi duduknya, dan setelahnya ia berdiri dari tempat duduknya.

Gadis tersebut hanya tersenyum lemah. "Kau selalu saja begitu jika aku berbicara denganmu, Sasuke-san."

Sasuke hanya melirik gadis itu dari ekor matanya, tanpa banyak bicara ia berjalan melewati gadis tersebut menuju pintu keluar.

"Apakah saat ini aku salah, Sasuke-san?" tanya gadis itu pada Sasuke.

Sasuke mengacuhkan pertanyaan gadis tersebut, dan terus melangkahkan kakinya, menjauhi gadis tersebut.

"Apa aku salah?" tanya gadis itu kembali, "Apakah aku salah jika aku berbuat baik untukmu, Sasuke-san?" Gadis itu membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah punggung Sasuke yang sedang berdiri diam, membelakanginya, tak jauh dari tempat gadis tersebut berdiri.

Merasa namanya dipanggil untuk kesekian kalinya, pemuda berambut gelap itu menghentikan langkahnya. Sasuke berdiri terdiam setelah mendengarkan pertanyaan gadis itu. Apa gadis itu salah? Tidak. Ia tidak salah. Yang salah adalah keadaan saat ini, kondisi mansion inilah yang salah, batin Sasuke.

Gadis itu masih memandang punggung Sasuke, menunggu jawaban. "Apa—"

"Tidak." Suara baritone itu menghalangi gadis tersebut bertanya ulang.

Gadis itu terkejut, mendengar perkataan pemuda berambut gelap tersebut.

"Itu bukan salahmu, Hinata," lanjutnya, seraya membalikkan badannya, menghadap Hinata yang berdiri tak jauh darinya. Hinata menatap Sasuke dengan tatapan terkejut.

"E-eh, benarkah—"

"Kau boleh membantuku," ujar Sasuke dengan cepat. Perkataan pemuda itu cukup membuat Hinata membelalakkan matanya lebar. Gadis itu terkejut dengan perkataan pemuda itu. Sasuke membolehkannya membantu? Pertanyaan itu terngiang di pikiran Hinata.

"Kau boleh membantuku mencari informasi mengenai kabar tersebut, tapi ada satu syarat."

Hinata mendongakkan kepalanya, menatap mata onyx Sasuke. "Syarat?"

"Hn." Sasuke menghampiri tempat Hinata berdiri. "Jangan pernah katakan pada orang lain bahwa kau membantuku." Sasuke merendahkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata. "Dan kau hanya boleh memberitahukan informasi tersebut padaku jika informasi tersebut benar dan lengkap."

Hinata menganggukkan kepalanya perlahan. "Baiklah."

Sasuke menyunggingkan senyum sebelum ia menarik wajahnya dari hadapan Hinata. "Arigatou, Hinata." Ia pun memutar tubuhnya dan berjalan menjauh menuju pintu keluar, meninggalkan Hinata sendirian yang masih berkutat dengan pikirannya sendiri.

"Kurasa hal itu tidak akan berdampak buruk untuk saat ini," gumamnya ketika melangkahkan kakinya keluar dari perpustakaan.

"APA?"

Suara teriakan seorang gadis berhasil memecahkan keheningan di kediaman utama.

"Kau tidak perlu berteriak seperti itu, Sakura," omel Gaara pada Imoutonya.

"T-tapi... Sakura pikir yang Tou-sama katakan—" Sakura tergagap saat berusaha menyuarakan pendapatnya. "I-itu... Agak..."

Orochimaru hanya berdeham kecil melihat tingkah laku putrinya. Ia tahu pasti Sakura akan terkejut dengan perkataannya tadi. "Ini untuk kebaikanmu sendiri, Sakura."

Sakura yang mendengar perkataan ayahnya, hanya dapat menunjukkan raut wajah tak suka. "Tapi, Sakura tidak butuh mereka, Tou-sama. Lagipula apa yang menyebabkan tiba-tiba Tou-sama dan Kaa-sama memanggil mereka ke—"

"Ini untuk keselamatan juga kebaikanmu, Sakura. Kau harus tahu itu." Kata-kata Tsunade memotong acara protes Sakura pada orang tuanya.

"Tapi, Kaa-sama..."

"Tak ada pengecualian, Sakura," ucap Orochimaru dengan cukup keras. "Kau harus mematuhi perintah kami. Ini semua untuk dirimu sendiri." Orochimaru menatap Sakura dengan intens. Tatapan Orochimaru membuat Gaara bergidik, tatapan yang mampu membunuh siapapun yang menatapnya.

Sakura yang melihat tatapan serius sang ayah hanya menunduk lemas. Gadis itu tahu, jika sang ayah telah mengatakan "perintah", maka tak ada seorang pun yang bisa menolaknya. Ia hanya mampu menerimanya. Walau dengan berat hati.

"Baiklah, Tou-sama," ucap Sakura lemas.

Mendengar jawaban putrinya, Orochimaru hanya mengangguk pelan. Tsunade menatap Sakura dengan tatapan sendu. Sejujurnya ia tak mau Sakura mengalami hal ini, namun tindakan ini adalah jalan terbaik.

"Baiklah, kalau begitu kau bisa kembali ke kediamanmu, Sakura," ucap Orochimaru, "begitu juga denganmu, Gaara."

Dengan segera, Sakura dan Gaara bangkit berdiri, dan berjalan menuju pintu, sebelum meninggalkan ruangan mereka berdua membungkuk sejenak, dan kemudian berjalan meninggalkan ruangan.

Setelah Orochimaru dan Tsunade tidak dapat menangkap derap langkah kaki kedua anaknya di luar, di sudut ruangan terlihat sesosok orang berdiri. Ia melipat kedua tangannya di depan dadanya.

"Jadi itukah putrimu yang harus kami lindungi?" tanya sosok tersebut pada Orochimaru.

Orochimaru yang menyadari keberadaan orang tersebut, menengokkan kepalanya ke arah asal suara tersebut. Hanya sejenak, lalu ia menganggukkan kepalanya perlahan. "Ya. Dia putriku."

Sosok tersebut berjalan menghampiri Orochimaru dan Tsunade duduk. "Tak kusangka jika sekarang ia sudah berkembang secepat itu. Kupikir hal ini masih akan membutuhkan waktu beberapa tahun lagi. Eh?"

"Ya, aku juga tidak menyangka kalau perkembangannya akan secepat itu," ucap Tsunade, "Aku harap kau mampu melakukan tugas dengan baik, Kakashi." Tsunade menatap Kakashi dengan tajam.

"Tentu, tentu. Aku akan menjalankan tugas ini dengan baik, Tsunade-sama. Kau tak perlu khawatir."

"Kau harus berjanji bahwa kau benar-benar menjamin keselamatan Sakura!" Orochimaru berdiri dan berjalan ke arah Kakashi yang tengah berdiri menyandar di pintu shōji. "Kau mengerti?" Ia menatap Kakashi dengan tatapan yang amat sangat tajam.

Kakashi yang mendapatkan tatapan tajam dari Orochimaru, hanya mengulum senyum dari balik maskernya. Ia mengangkat ke depan kedua tangannya, seakan memberikan artian bahwa ia mengerti. "Wakatta, Wakatta, Orochi-sama. Anda tidak perlu khawatir. Aku sangat mengerti tugasku saat ini."

Tsunade meletakkan tangannya di atas bahu Orochimaru. "Tenanglah. Kakashi sudah berjanji bahwa ia akan menjalankan tugasnya dengan baik, bukan? Sebaiknya kau menenangkan dirimu sejenak, Orochimaru," ucapnya seraya mengelus-elus bahu Orochimaru, agar pria itu merasa tenang.

Mendengar perkataan Tsunade, Orochimaru berjalan menjauh dari Kakashi, dan kembali duduk di tempat awalnya. Ia menutup kedua matanya. Berusaha menenangkan dirinya.

Melihat sang suami duduk menenangkan diri, Tsunade memberikan tanda pada Kakashi untuk meninggalkan ruangan dan mulai menjalankan tugasnya. Kakashi membungkuk sedikit, memberikan penghormatan, kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.

"Kurasa tugas kali ini tidak akan semudah yang aku bayangkan," gumam Kakashi, ia menyunggingkan senyuman misteriusnya kembali.

Sakura POV

Kenapa? Kenapa?

Aku berjalan memutari ruangan tidurku. Aku masih tidak bisa menerima keputusan Tou-sama dan Kaa-sama.

"Melihat kondisimu saat ini, kami memutuskan untuk memanggil mereka lagi untuk mengawasimu. Mereka akan menjadi pengawas sekaligus pengawalmu, Sakura."

Pengawal.

Aku tidak butuh mereka. Sungguh tidak membutuhkan kehadiran mereka. Kenapa Tou-sama dan Kaa-sama sampai melakukan hal ini. Tidak masuk akal. Apa hanya karena mimpiku beberapa hari lalu, sehingga mereka melakukan hal konyol ini kembali.

Memikirkan kata pengawal saja sudah membuatku bergidik ngeri. Keberadaan mereka sama saja dengan tak adanya privasi. Segala sesuatu yang akan kulakukan akan mereka lihat, ke mana aku pergi mereka akan mengikuti.

"Hah..." aku mendengus dengan kesal. "Kenapa semua menjadi sulit begini?"

"Karena kau tidak berkompeten." Sebuah suara tertangkap indra pendengaranku.

Suara itu. Ah, aku mengenal suara itu. Aku mengarahkan kepalaku menuju asal suara tersebut. Di sudut ruangan terlihat seorang gadis berambut pirang yang berdiri dan menyunggingkan senyum mengejek padaku.

"Aku tidak butuh pendapatmu, Ino," timpalku dengan malas. Aku berjalan mengarah ke pintu shoji, menariknya perlahan, dan membiarkan udara sejuk masuk ke dalam ruanganku.

"Kau tetap tidak berubah sejak dulu. Tetap saja menolak semua pendapat yang kulontarkan." Ino berjalan menghampiriku yang sedang berdiri mematung di samping shōji.

Aku menggerakkan bola mataku sekilas ke arah Ino yang juga mengikutiku berdiri menyandar pada shōji. Ino tetap tak berubah, sama seperti terakhir kali bertemu, batinku. Menyadari tatapan sejenakku tadi, ia memandang ke arahku, aku membuang pandangan kembali ke arah taman pemisah antara kediaman utama dengan kediamanku.

"Kau yang bertugas?" Tatapanku tetap tertuju pada taman di depannya. Tatapan yang menyiratkan keengganan akan situasiku saat ini.

Ino mengangguk perlahan. "Ehmm. Ya, aku yang bertugas untuk sekarang ini. Tapi masih ada beberapa orang lagi yang bertugas nantinya," jelasnya.

Beberapa orang lagi. 'kah? Jadi, bukan hanya Ino saja? runtukku dalam hati. Ternyata yang mengawasiku banyak juga. "Hahh..."

Ino memerhatikan perubahan sikapku, ia menghampiri tempatku berdiri. "Tenang saja, Sakura. Aku akan menjamin keselamatanmu," ucapnya dengan percaya diri. Ia meletakkan tangannya di bahuku. "Percayalah pada sahabatmu ini." Ia menyunggingkan senyumnya.

Mau tidak mau aku ikut tersenyum mendengar perkataan Ino. Dasar, ternyata tetap saja tidak berubah, sama berisiknya dengan yang dulu, ujarku dalam hati. "Aku mengerti, Ino. Arigatou."

Ino tersenyum padaku dan memandangku untuk meyakini perkataannya. Aku pun membalas senyumannya. Setidaknya, aku akan mencoba untuk mengikuti perintah Tou-sama kali ini, jika memang ini adalah jalan terbaik.

Normal POV

Gadis berambut indigo itu memasuki hall utama mansion megah tersebut dengan ragu-ragu. Kedua tangannya ia rapatkan di depan dadanya, sedangkan kakinya ia langkahkan dengan perlahan. Walau ia melangkahkan kakinya dengan pelan, namun suara derap langkahnya masih terdengar nyaring di indra pendengarannya.

Ia berjalan menuju tangga besar yang terletak di ujung hall utama tersebut. Dengan perlahan ia menaiki satu persatu anak tangga kayu tersebut. Hingga akhirya ia mencapai lantai kedua dari mansion itu.

Ia mengarahkan kakinya menuju sebuah lorong besar yang berada di sebelah kanannya. Lorong besar tersebut mungkin akan terlihat menyeramkan jika seorang manusia memasukinya, tapi bagi gadis itu, Hinata lorong itu terlihat biasa-biasa saja.

Sepanjang lorong itu terlihat berbagai macam makhluk asing yang bergerombol satu sama lain. Ketika Hinata berjalan melewati makhluk-makhluk itu, makhluk tersebut melihatnya dengan seringai-seringai janggal.

Ia berhenti di persimpangan lorong tersebut, berdiri terdiam sejenak. "Fiuh—" Setelah merasa dirinya tenang, ia melanjutkan langkah kakinya kembali, memasuki lorong lainnya.

Setelah beberapa saat berjalan menyusuri beberapa lorong gelap, ia sampai di ruangan yang ia inginkan. Ia berdiri di depan pintu ruangan yang ia maksud. Dengan perlahan, ia mendorong pintu yang ada di hadapannya.

KRIET.

Dari posisi Hinata berdiri, ia dapat melihat dua siluet pemuda yang sedang berbicara di balik lemari yang berada di tengah ruangan tersebut. Dengan yakin, Hinata melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Ruangan besar yang terlihat cukup simple untuk ukuran mansion itu.

Hinata berjalan mengarah ke dua siluet pemuda tersebut. Menyadari kehadiran Hinata, salah satu pemuda tersebut, mendongakkan kepalanya menuju arah Hinata. Pemuda itu tersenyum lebar. "Hinata-chan, cepat sekali datangnya," ujarnya.

Hinata hanya mengangguk kecil. Ia berjalan mengarah ke pemuda lainnya yang sedari tadi menghiraukan kehadirannya. Ia memutari sofa yang diduduki pemuda tersebut, sehingga sekarang ia berada tepat di depan pemuda tersebut.

"Ehm.. A-ano, Sasuke-san," dengan ragu-ragu ia menyodorkan sejumlah perkamen yang sedari tadi ia genggam di tangannya. "Aku sudah mendapatkan semua informasi yang berkaitan dengan informasi tersebut."

Sasuke mengambil perkamen yang disodorkan untuknya. Ia membaca halaman pertama tumpukan perkamen tersebut dengan wajah datarnya. Perlahan namun pasti, ia mulai membalik satu demi satu perkamen yang ada di tangannya. Semakin perkamen itu ia baca satu persatu, raut wajahnya semakin menunjukkan keseriusan.

Naruto yang melihat perubahan air muka sang sahabat, pada akhirnya mendekati Sasuke, dan ikut membaca perkamen yang dibaca oleh Sasuke. Dan raut wajahnya pun tak kalah serius dengan Sasuke.

Hinata yang sedari tadi berdiri mematung, memperhatikan perubahan raut wajah kedua pemuda tersebut. Ia mengerti kondisi tersebut. Ia sendiri saat mengetahui tentang kebenaran dari kabar tersebut, juga ikut terkejut, bahkan hampir tidak mampu mempercayainya.

Setelah selesai membaca semua perkamen yang disodorkan oleh Hinata, Sasuke hanya menyandarkan kepalanya pada bantalan sofa. Sedangkan Naruto terduduk lemas di atas sofa. Mereka berdua masih terkejut dengan informasi yang baru saja mereka dapatkan.

Hinata yang melihat kondisi tersebut, akhirnya memberanikan dirinya untuk berbicara, "Jadi, kabar itu benar adanya, Sasuke-san." Melihat tak ada respon yang ia dapat, Hinata hanya berdiri terdiam kembali.

Selama beberapa saat, tak ada seorang pun yang bergerak. Secara tiba-tiba, Sasuke bangkit berdiri dari posisi awalnya. Ia berjalan menuju meja kayu yang terletak di ujung ruangannya. Dan tanpa diaba-aba, ia meremas perkamen-perkamen tersebut.

Melihat apa yang dilakukan oleh Sasuke, Naruto segera menghampiri sahabatnya tersebut. "Apa yang kau lakukan, Teme?" ia memegang bahu Sasuke. "Kau sadar dengan apa yang kau—"

Sasuke menghalau tangan Naruto yang berada di bahunya. "Aku tahu dengan apa yang sedang aku lakukan."

Tanpa banyak berbicara ia berjalan melewati Naruto yang terkejut dengan kejadian barusan. Ia segera melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Namun, niatnya terhalangi saat Naruto menangkap lengan kirinya.

"Mau ke mana kau, Teme? Apa yang akan kau lakukan?" desak Naruto.

Sasuke hanya menatap sahabatnya, kemudian ia mengarahkan pandangannya menuju lengannya yang saat ini digenggam kuat oleh Naruto. "Aku akan mencari tahu sendiri."

Pemuda berambut kuning itu terkejut dengan jawaban sahabatnya. "Apa?"

"Aku akan mencari tahu sendiri. Aku akan melihatnya dengan mata kepalaku sendiri," ucap Sasuke.

"Kau yakin?" genggaman tangan Naruto secara perlahan melonggar.

Sasuke tak memandang ke arah Naruto. "Ya, aku yakin." Ia melepaskan cengkeraman tangan Naruto dari lengannya. "Aku harus melihatnya sendiri."

Pemuda berambut gelap itu pun membalikkan badannya, dan berjalan menuju pintu keluar. Meninggalkan sahabatnya serta Hinata sendirian di dalam ruangan, yang masih terkejut dengan keputusannya itu.

Tanpa berpikir panjang, pemuda itu segera keluar meninggalkan mansion dan bertolak menuju tempat yang dituliskan pada perkamen itu.

"Kau mau ke kota?" suara derap langkah kaki terdengar di sela-sela pertanyaan Ino pada Sakura yang sedang berjalan menyusuri lorong menuju kediaman utama.

Sakura hanya mengangguk kecil.

"Untuk apa?" desak Ino pada gadis yang sedang berjalan di sampingnya.

"Untuk membeli beberapa tanaman obat yang kubutuhkan," jawab Sakura dengan singkat. Gadis itu tetap melanjutkan langkahnya menuju ruangan utama.

"Bukankah sudah ada penjual yang akan rajin mengantarkan tanaman obat yang kau inginkan?" tanya Ino kembali.

"Ehm.. Hm.. Memang."

"Lalu, untuk apa lagi kau ke kota kalau ada penjual obat yang akan mengantarkan tanaman tersebut?" rasa penasarannya semakin tergelitik dengan jawaban singkat Sakura.

Sakura memalingkan wajahnya dan menatap indigo milik Ino. "Karena lebih baik kalau aku memilih tanaman obat itu sendiri, memilih yang kualitas terbaik. Karena jika penjual tanaman tersebut datang, aku tidak akan bisa memilih tanaman-tanaman tersebut dengan baik."

Mendengar penjelasan yang dilontarkan Sakura, semakin membuat Ino bingung dengan tingkah gadis itu. "Kau tahu dengan resikonya jika kau keluar dari rumah ini 'kan?" tanyanya dengan ragu.

"Aku tahu." Sakura melanjutkan kembali perjalanannya menuju ruangan utama. Tanpa menghiraukan Ino yang masih berdiri di belakangnya.

"Lalu kau masih nekad untuk ke kota?" Ino menyusul langkah Sakura.

Sakura mengangguk kecil. Dan tak berapa lama, mereka berdua sampai di depan pintu ruangan utama. Sakura menggeser shōji tersebut dengan perlahan, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Di dalam ruangan tersebut, terlihat tiga sosok yang sedang duduk saling menghadap satu sama lain. Antara lain, Orochimaru, Tsunade dan Kakashi.

Menyadari kehadiran dua orang gadis yang sedang berdiri di dekat pintu masuk, Orochimaru mengangkat kepalanya sedikit. Ia melihat Sakura membungkuk dalam padanya. "Sumimasen, Tou-sama, Kaa-sama. Maaf jika mengganggu." Di belakang Sakura, gadis berambut pirang tersebut juga membungkuk sejenak, memberi salam pada ketiga orang yang sekarang meliaht ke arah kedua gadis tersebut.

"Ada apa, putriku?" tanya Orochimaru pada Sakura.

Sakura menegakkan badannya, menatap mata sang ayah. "Sakura meminta izin Tou-sama dan Kaa-sama untuk memperbolehkan Sakura keluar ke kota." Sakura mengucapkan kata-kata tersebut dengan mantap.

Tsunade mengangkat sebelah alisnya, "Untuk apa kau ke sana?"

"Untuk membeli dan memilih tanaman obat yang dijual di kota, Kaa-sama. Sakura ingin agar obat yang Sakura buat merupakan berasal dari tanaman yang terbaik," jawab Sakura dengan lugas. Ia menatap yakin pada Tsunade.

Mendengar penjelasan Sakura, Orochimaru hanya menggangguk kecil. "Baiklah. Kau diizinkan untuk keluar ke kota, Sakura. Jika memang itu tujuanmu sejak awal."

Wajah Sakura tampak berseri-seri, mengetahui sang ayah mengizinkannya untuk keluar ke kota. "Arigatou gozaimasu, Tou-sama, Kaa-sama." Ia mmbungkukkan badannya dalam-dalam.

"Tapi, dengan satu syarat." Ucapan Orochimaru membuat Sakura membelalakkan mata sejenak. "Kau harus mengajak Ino untuk ikut ke kota."

Sakura menegakkan badannya, dan menjawab, "Tentu, Tou-sama. Sakura memang mengajak Ino untuk mengantar Sakura ke kota."

Puas dengan perkataan putrinya, sang ayah hanya tersenyum simpul. "Baiklah kalau begitu. Kau bisa pergi." Ia mengambil cangkir tehnya dan menyesap isinya.

Sakura membungkuk sekali lagi. "Terima kasih, Tou-sama. Kalau begitu, Sakura mohon diri dahulu." Ia berjalan menuju pintu, sebelum ia sepenuhnya keluar, Sakura membalikkan badannya, dan mengucapkan, "Sakura pergi dahulu, Tou-sama, Kaa-sama." Disusul dengan Ino yang mengekor, yang membungkuk sejenak, lalu menutup pintu tersebut.

Melihat tingkah Sakura, membuat Orochimaru tak kuasa menahan senyumnya lagi. Seperti anak kecil saja, gumamnya dalam hati. Tsunade dan Kakashi pun ikut tersenyum melihat kejadian tadi.

.

.

"Terima kasih banyak, nona," ucap seorang pria paruh baya pada seorang gadis berambut pink. Pria tersebut membungkuk singkat. Gadis itu hanya tersenyum.

"Terima kasih kembali, Paman. Saya akan kembali lagi nanti," ujar Sakura seraya membungkukkan badannya sejenak. "Kalau begitu, saya permisi dahulu, Paman." Ia berjalan menuju sebuah pintu yang hanya tertutup oleh selembar kain.

Ia menyibakkan kain tersebut dan melangkahkan kaki mungilnya menuju jalanan luas nan ramai. Di samping pintu tersebut, bersandarlah seorang gadis, yang sedari tadi mengikutinya.

"Sudah selesai?" tanya Ino pada Sakura.

"Ehm.. Hm.. Aku sudah selesai. Memang kalau memilih sendiri tanaman obat, akan lebih puas," jawab Sakura sambil mengeratkan bungkusan besar di depan dadanya.

"Baguslah kalau begitu, kita bisa segera kembali ke rumah." Gadis pirang tersebut berjalan menghampiri Sakura. "Ayo."

Sakura mengangguk kecil. Ia melangkahkan kakinya menuju arah rumahnya. Ino mengikutinya dari belakang.

"Sudah lama, aku tidak berjalan seperti ini di kota," gumam Sakura pada Ino. Gadis yang diajak bicara tersebut hanya bergumam tak jelas. "Hmm.. hmm.."

"Rasanya menyenangkan sekali." Sakura mengangkat sebelah tangannya ke atas. Menarik tubuhnya, merelakskan otot-ototnya. "Seandainya saja, aku bisa setiap saat ke kota," runtuknya. Wajahnya menunjukkan kesedihan.

Ino yang melihat hal tersebut, hanya meletakkan tangannya ke bahu Sakura. "Setidaknya hari ini kau sudah menikmati udara segar sejenak, bukan? Kita nikmati saja." Ia mengerling pada Sakura.

Sakura tersenyum. "Terima kasih, Ino."

Setelah beberapa saat berjalan menyusuri jalanan besar, mereka berdua berbelok menuju sebuah jalanan yang tak terlalu lebar dan cukup sepi. Kedua gadis tersebut berjalan tanpa mengetahui bahwa di tempat itu, terdapat...

"RAWRR!" sebuah suara bergaung di sekitar jalanan tersebut. Kedua gadis tersebut terkejut dengan suara itu. Mereka mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dengan siaga. Sakura menengadahkan kepalanya ke atas langit, mencoba mencari asal suara tersebut.

Secara tiba-tiba, di hadapan Sakura muncul sesosok makhluk raksasa yang berdiri dengan sikap defensif. Melihat sosok tersebut, Sakura hanya mampu memekik tertahan. Ino yang menyadari sosok tersebut segera memosisikan dirinya di antara Sakura dan makhluk tersebut.

"Cepat lari menuju arah jembatan, Sakura," teriak Ino. Sakura yang masih terkejut, hanya mengangguk singkat. Ia membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan Ino yang sekarang sedang berusaha menyerang makhluk tersebut.

Dengan ragu, Sakura menengokkan kepalanya ke belakang. Ia dapat melihat Ino sedang kewalahan melawan makhluk tersebut. Dan..

"INO!" pekik Sakura. Ia melihat Ino mendapat tamparan cukup keras dari makhluk tersebut, sehingga gadis pirang tersebut terpental cukup jauh. Mendengar suara Sakura, makhluk tersebut berbalik arah menuju Sakura berdiri terpaku.

Menyadari bahwa makhluk tersebut berjalan mengarah ke dirinya, ia segera mencoba untuk berlari lagi. Namun, upayanya gagal. Ia tersandung oleh geta-nya sendiri, sehingga ia jatuh tertelungkup.

"Kyaaaa..."

Makhluk tersebut semakin mendekat menuju tempat Sakura terjatuh. Sakura berusaha mengangkat tubuhnya. Kakinya terasa sakit, ia dapat merasakan lututnya berdarah.

Aku harus lari, tapi aku tidak mungkin meninggalkan Ino sendirian di sini, batin Sakura. Makhluk tersebut masih terus mendekat ke arah Sakura. Sakura dengan susah payah mengangkat tubuhnya, berusaha menjauh dari makhluk itu.

Semakin Sakura berusaha menjauh, makhluk itu semakin mendekat. Jarak di antara mereka menjadi semakin sempit. Sakura semakin mempercepat langkah kakinya.

Namun, makhluk itu berhasil mengejar Sakura. Makhluk itu sekarang berada di posisi tepat di belakang Sakura, ia mengangkat tangannya yang gempal ke atas, seakan hendak memukul Sakura.

Sakura yang menyadari hal itu, hanya mampu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kumohon, Kami-sama. Bantu aku.

"Musnah!"

BLARR!

Sebuah suara ledakan terdengar nyaring di indra pendengaran Sakura setelah ia mendengar suara seseorang mengatakan 'musnah'. Dan dirasakannya dii sekitar tubuhnya banyak abu bertebaran.

Dengan perlahan ia membuka wajahnya dan kelopak matanya. Di hadapannya terlihat segunung abu bekas bakaran yang tertiup oleh angin. Abu makhluk itu, batin Sakura.

Setelah abu tersebut secara perlahan menghilang tertiup angin, di seberangnya, tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat sesosok siluet. Siluet seorang pemuda yang sedang berdiri terpaku memandang gadis itu.

Iris viridian-nya bertemu dengan iris onyx milik pemuda itu. Saling memandang satu sama lain. Tanpa mengetahui bahwa takdir telah bergeser.

.

.

.

To Be Continued

.


Yo, minna..

Bagaimana tanggapannya? Apakah semakin tidak jelas atau abal atau sejenisnya? #ngek Atau sudah mulai menemukan titik terang dari cerita pada chapter 1? *senyum-senyum* Yang pasti, Fai-chii banyak ngucapin terima kasih buat yang sudah nyempatin buat ngereview. Dan buat Silent Readers, terima kasih sudah membaca ya :D

Nah, sekarang saatnya balas review X3 (Fai-chii ga bisa balas satu-satu di PM, jadi di fic aja :P)

sasusakuforeverever : terima kasih udah baca, ini sudah update :D review lagi ya..

poetri-chan : ini lanjut kok, kakak :D ehh.. silahkan ditebak saja apakah ini vampfic atau tidak XD #plak

Trancy Anafeloz : yeah, akhirnya bikin juga, trasi xD haha aku sendiri juga kaget pas tau kalo orochi jadi bapak Saku XD #plak sankyuu buat masukannya.. silahkan ditebak apakah ini vampfic atau ga XD sudah update kok ini :D

Ajisai Rie : hai, Rie-san.. ficnya sdh update :D dan ini adalah.. silahkan dinilai sendiri apa ini vamfic atau ga XD *digeplak* makasi buat masukannya hehe. Iya. Fai-chii akan ikut meramaikan genre ini juga.. Ganbatte w

Tsurugi de Lelouch : terima kasih ucapannya, kak X3 masukkan kakak banyak membantu :D terima kasih hehe

Fishy ELF : ini sudah update :D review lagi ya..

Rei Jo : hai, Rei. Kata-kata di bold itu untuk penunjukkan kata-kata asing, tapi lebih tepatnya harus di italic juga :D review lagi ya..

fuchaoife : halo, fuu X3 makasi buat reviewmu ya, banyak masukan yang Fai-chii dapat, sangat membantu lho *senang* untuk masalah Orochi dengan Tsunade, Fai-chii juga tdk tahu kok bisa jadi ortu Saku #plak makasi sekali lagi untuk ucapannya XD semangat juga w

Lucifionne : haha itu memang tujuannya (?) #plak XD mimpi sakura itu... di liat aja deh hehe. Ini sudah update :D

Karikazuka : hai, cen.. makasi buat masukannya ya.. amat membantu Fai-chii hehe. Lanjutannya sudah ada kok, ini XD

Terima kasih banyak buat yang udah review sekali lagi. Review-review itu semangat Fai-chii dalam ngelanjutin fic ini w)9 Jadi kalau mau fic ini lanjut, silahkan di review #modus #eh

Dan akhir kata,

Mind to RnR ? :D